Anda di halaman 1dari 6

PERUBAHAN PERILAKU PENGGUNA ROKOK TEMBAKAU YANG

BERALIH PADA ROKOK ELEKTRIK (VAPE)

USULAN PENELITIAN

RADHIKA KHARIMA DWI AQSHA


150610050

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
LHOKSEUMAWE
2017
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pengertian rokok menurut Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang
Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi
Kesehatan, rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar
dan dihisap dan/atau dihirup asapnya, termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau
bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabacum, nicotiana rustica, dan
spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau
tanpa bahan tambahan. Sedangkan rokok elektrik adalah rokok yang beroperasi
menggunakan tenaga baterai. Namun tidak membakar tembakau seperti produk rokok
biasa.

Rokok elektrik secara umum memiliki baterai dan perangkat elektronik yang
memproduksi asap atau semacam uap. Kandungannya selalu berisi nikotin tetapi ada
juga yang tidak memiliki kandungan nikotin sama sekali dan berisi propilen glikol.
Asap yang dihasilkan rokok elektrik dihirup sebagaimana layaknya merokok
konvensional dan sejumlah asap dilepaskan tetapi tidak berupa asap rokok. Beberapa
jenis rokok elektrik juga mempunyai sejenis lampu kecil yang akan menyala pada saat
rokok elektrik dihisap, menyerupai pembakaran yang terjadi pada rokok konvensional.
Nikotin tersimpan di dalam beberapa jenis cartridge. Cartridge tersebut juga selalu
memiliki kandungan zat kimia dan rasa tambahan, seperti misalnya rasa buah, coklat,
permen dan kopi sehingga menghasilkan perbedaan rasa pada saat dihisap. Cartridge
dapat selalu diisi ulang dan isi ulang tersebut merupakan bagian dari perangkat rokok
elektrik dan demikian pula halnya dengan baterai yang dimiliki oleh rokok elektrik,
rokok eletrik merupakan suatu baterai yang dapat diisi ulang kembali dan saat
dioperasikan, akan timbul panas yang dihasilkan oleh tenaga baterai yang selanjutnya
akan memanaskan sejumlah cairan yang tersimpan di dalam cartridge untuk
memproduksi asap yang akan dihisap oleh pengguna.
Identifikasi komponen kimia tembakau telah dilakukan secara intensif selama lebih dari
50 tahun atau sejak pernyataan Kozak pada tahun 1954 dalam Adam, 2006 yang
menyebutkan sekitar 100 komponen kimia ada pada asap rokok, dan dinyatakannya
bahwa asap rokok mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan. Dari hasil analisis
terakhir, di-nyatakan bahwa terdapat 2.500 komponen kimia pada tembakau yang siap
dibuat rokok, yaitu tembakau yang telah selesai proses fermentasi (aging) selama 13
tahun. Dari jumlah tersebut 1.100 komponen diturunkan menjadi asap tanpa perubahan
akibat pembakaran. Sebanyak 1.400 lainnya mengalami dekomposisi atau terpecah,
bereaksi dengan komponen lain dan membentuk komponen baru yang seluruhnya
terbentuk sekitar 4.800 komponen kimia didalam asap (Rodgman dan Perfetti,
2006).Merokok pada dasarnya adalah menikmati asap nikotin yang dibakar. Selain
nikotin,didalam rokok juga terdapat senyawa gula,bahan aditif, saus, pemberi rasa,
aroma,dan lain lain sehingga terbentuk rasa yang memenuhi selera konsumen (perokok).
Satu batang rokok terdiri atas berbagai jenis tembakau agar rasa dan aroma yang
diperoleh mempunyai kekhasan tersendiri. Bahan tambahan untuk rasa dan aroma yang
lain berasal dari luar tembakau antara lain cengkeh dan mentol. Merokok tanpa
nikotin,meskipun belum dibuktikan, nampaknya tidak akan terjadi. Apabila tujuannya
adalah menekan bahan berbahaya bagi kesehatan, menghilangkan nikotin belum
menyelesaikan masalah secara keseluruhan.Tar,Gas CO(carbonmonoxide),TSNA
(tobacco specific-nitrosamine), B-a-P (benzo-a-pyrene), residu pestisida,dan lain-lain
yang terkandung dalam asap rokok tidak kalah berbahayanya dibanding nikotin.Usaha
menekan bahan berbahaya, dapat dilakukan dengan menekan kandungan bahan
berbahaya tersebut di dalam tembakau dan bahan campuran lainnya. Pada saat ini
dengan teknologi modern, usaha menekan bahan berbahaya dapat dilakukan melalui
sistem pabrikasi dalam industri rokok.

KANDUNGAN KIMIA TEMBAKAU


Berlainan dengan tanaman lain, tanaman tembakau diusahakan terutama dimanfaatkan
untuk dirokok. Asap yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan kenikmatan bagi
perokok. Dari 2.500 komponen kimia yang sudah teridentifikasi, beberapa komponen
berpengaruh terhadap mutu asap. Tembakau yang bermutu tinggi adalah aromanya
harum, rasa isap-nya enteng,dan menyegarkan; dan tidak memiliki ciri-ciri negatif
misalnya rasa pahit, pedas,dan menggigit. Zat-zat yang berpengaruh terhadap mutu
tembakau dan asap antara lain (Hiroe et al.,1975; Tso, 1999):
1.Persenyawaan nitrogen (nikotin, protein).Nikotin (β-pyridil-α-N-methyl pyrrolidine)
merupakan senyawa organik spesifik yang terkandung dalam daun tembakau. Apabila
diisap senyawa ini akan menimbulkan rangsangan psikologis bagi perokok dan
membuatnya menjadi ketagihan. Dalam asap,nikotin berpengaruh terhadap beratnya
rasa isap. Semakin tinggi kadar nikotin rasa isapnya semakin berat, sebaliknya
tembakau yang berkadar nikotin rendah rasanya
enteng (hambar). Protein membuat rasa isap amat pedas dan menggigit, sehingga
selama prosesing (curing) senyawa ini harus dirombak menjadi senyawa lain seperti
amida dan asam amino.
2.Senyawa karbohidrat (pati, pektin, selulose, gula). Pati, pektin, dan selulose
merupakan senyawa bertenaga tinggi yang merugikan aroma dan rasa isap, sehingga
selama prosesing harus dirombak menjadi gula. Gula mempunyai peranan dalam
meringankan rasa berat dalam pengisapan rokok, tetapi bila terlalu tinggi menyebabkan
panas dan iritasi kerongkongan, dan menyebabkan tembakau mudah menyerap
lengas(air) sehingga lembap. Dalam asap keseimbangan gula dan nikotin akan
menentukan kenikmatan dalam merokok.

3.Resin dan minyak atsiri.Getah daun yang berada dalam bulu-bulu daun mengandung
resin dan minyak atsiri,dalam pembakaran akan menimbulkan bau harum pada asap
rokok.

4.Asam organik.Asam-asam organik seperti asam oksalat, asam sitrat,dan asam malat
membantu daya pijar dan memberikan kesegaran dalam rasa isap.

5.Zat warna: klorofil (hijau), santofil (kuning), karotin (merah). Apabila klorofil masih
ada pada daun tembakau,maka dalam pijaran rokok akan menimbulkan bau tidak enak
(“apek”), sedang santofil dan karotin tidak berpengaruh terhadap aroma dan rasa isap.

Vaporizer adalah alat sederhana yang dapat menyalurkan nikotin melalui sistem kerja
baterai ke dalam tubuh manusia. Nikotin dalam berbagai macam dosis dihisap oleh
pengguna melalui tabung. Kebanyakan vaporizer terdiri dari beberapa konten: sebuah
baterai litium yang dapat diisi ulang, sebuah atomizer (yang memanaskan cairan
sehingga tercipta uap), dan sebuah tabung. Produk standar cairan mengandung nikotin,
propyleneglycol, perasa, dan air (Salmon, 2009).Beberapa studi telah dilakukan untuk
mengetahui hubungan antara penggunaan vaporizer dan rokok tradisional. Didapatkan
hasil bahwa pengguna vaporizer mengatakan bahwa vaporizer membantu mereka untuk
berhenti atau mengurangi kebiasaan merokok mereka (Brown, 2014). Penelitian
Lawrence (2009) yang berjudul “Smoking and mental illness: results from population
surveys in Australia and the United States” diketahui bahwa di Amerika Serikat dan
Australia, orang dewasa yang dikelompokkan 12 bulan sebelum survei dilakukan yang
mempunyai kriteria gangguan psikologis seperti skizofrenia, kecemasan, dan depresi,
memiliki resiko hampir 2 kali lipat karena merokok dari orang dewasa yang tanpa
gangguan psikologis. Wanita yang merokok memiliki tingkat lebih tinggi terhadap
gangguan mental dibandingkan dengan laki-laki yang merokok, dan remaja yang
merokok memiliki tingkat jauh lebih tinggi daripada orang tua yang merokok.Mayoritas
perokok yang mengalami gangguan psikologis tidak bersentuhan dengan pelayanan
kesehatan mental, tetapi tingkat mereka merokok tidak berbeda dari perokok yang
mengalami gangguan psikologis yang telah mendapatkan pelayanan masalah kesehatan
mental. Perokok dengan tingkat tekanan psikologis yang tinggi merokok rata-rata lebih
dari sebatang per hari.Ketika seseorang telah kecanduan merokok, nikotin yang
terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepaskan zat yang memberi rasa
nyaman (dopamine),sehingga menyebabkan rasa ketergantungan.Seseorang yang telah
candu merokok dan tidak mendapatkan rokok akan mengalami gangguan psikologis
berupa rasa tidak nyaman, kesulitan berkonsentrasi, dan mudah marah.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang, peneliti ingin mengetahui perubahan yang terjadi
pada perilaku pengguna rokok tembakau yang beralih pada vape
1.3 PERTANYAAN PENELITIAN
1. apakah ada pengaruh perubahan perilaku candu antara rokok tembakau
dengan vape
2. adakah perbedaan tingkat emosi pengguna yang telah beralih dari perokok
tembakau dengan vape
3. bagaimana perbedaan perasaan yang dialami pengguna setelah merokok
dengan rokok tembakau dan vape

1.4 TUJUAN PENELITIAN


1. Untuk mengetahui perbedaan dampak perilaku pada peralihan rokok yang
digunakan
2. Untuk mengetahui tingkat emosi yang dirasakan pengguna setelah beralih
3. Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh vape pada keinginan secara
perlahan agar dapat berhenti merokok
1.5 MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat bagi pengguna
Sebagai pemahaman untuk pemberhentian merokok secara permanen
2. Manfaat bagi peneliti
Sebagai pengetahuan untuk menyalurkan edukasi langsung terhadap perokok
tembakau dan vape
Sebagai pemahaman alasan pengguna memilih peralihan untuk
pemberhentian candu