Anda di halaman 1dari 7

MEMBUAT ARTIKEL MENGGUNAKAN ENDNOTE DENGAN CHEMISTRY STYLE

Watin Dehistora, S.Pd, Rahardian, M.Si., P.hD


Program Pascasarjana Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Padang
ABSTRAK
Perkembangan ilmu pengetahan dan teknologi menjadi suatu hal yang tidak bisa dibendung lagi dan tentunya
memudahkan semua kalangan dalam berbagai bidang, salah satunya bagi mahasiswa yaitu dalam pembuatatan karya
ilmiah berupa artikel. Ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan dalam pembuatan artikel ini contohnya aplikasi
Endnote. Endnote ini merupakan sebuah aplikasi yang dapat memudahkan dalam penyusunan literasi dan pencarian
daftar pustaka. Dalam produknya akan tergambar pendahuluan, eksperimental, kesimpulan dan referensi yang
disajikan dengan Chemistry tyle.
Kata Kunci: Artikel, Endnote, Chemistry Style

PENDAHULUAN
Artikel merupakan sebuah karangan atau prosa yang dimuat dalam media massa yang membahas isu
tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat.[1] Artikel merupakan karya tulis atau
karangan, karangan non fiksi, karangan tak tentu panjangnya, karangan yang bertujuan untuk meyakinkan,
mendidik, atau menghibur, sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan lainnya.[2]
Keberadaan artikel jurnal mulai menjadi salah satu alternatif untuk dijadikan referensi dan sumber
pustaka bagi mahasiswa. Artikel jurnal memiliki berbagai kemudahan bagi pengguna untuk mengaksesnya.
Publikasi jurnal merupakan salah satu faktor yang mendukung untuk dijadikan sebuah referensi dan sumber
pustaka.[3] Tulisan ilmiah adalah tulisan yang dibentuk dari hasil pengamatan atau penelitian dalam bidang
tertentu, yang disusun dengan metode dan sistematika penulisan tertentu, serta kebenaran isinya
(keilmiahannya) dapat dipertanggungjawabkan.[4] Ciri-ciri tulisan ilmiah adalah logis, sistematis, objektif,
tuntas dan menyeluruh, seksama, jelas, kebenarannya dapat teruji, terbuka, berlaku umum, dan
penyajiannya memperhatikan santun bahasa dan tata tulis yang sudah baku.[5]
Artikel yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal ilmiah, selain ditulis dengan tata cara ilmiah, juga
harus mengikuti pedoman yang dipersyaratkan oleh jurnal ilmiah yang dituju. Agar artikel yang akan
dikirimkan sesuai kriteria dan diterima jurnal, setidaknya harus memenuhi tiga unsur yaitu kesesuaian
bidang ilmu, tata bahasa yang baku, serta gaya khusus (gaya selingkung) yang dipersyaratkan oleh jurnal
di mana artikel akan dikirim.[6] Gaya selingkung tiap jurnal kebanyakaan berbeda-beda mulai dari jenis
huruf yang digunakan, penulisan abstrak hingga penulisan daftar pustaka atau referensi. Ada beberapa jenis
karya tulis ilmiah, antara lain laporan hasil penelitian, makalah berupa tinjauan ilmiah, tulisan ilmiah
populer, artikel ilmiah, buku pelajaran dan sebagainya.
Dalam dunia pendidikan, membuat artikel ilmiah atau karya tulis ilmiah merupakan salah satu
subunsur pengembangan profesi yang mempunyai nilai kredit besar dan menentukan kenaikan jabatan
fungsional pendidik. Artikel bersifat informatif dan faktual, mengungkapkan informasi berdasarkan suatu
penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebuah artikel dapat mengandung opini dan analisis, namun
harus berdasarkan teori dan data yang valid.[7] Penulisan artikel menggunakan bahasa baku atau resmi, serta
kalimat yang lugas, logis, denotatif, dan efektif. Metode penulisan artikel dibuat secara sistematis sehingga
pembaca dapat mengerti isinya dengan mudah.[8]
Artikel adalah karangan faktual secara lengkap dengan panjang tertentu yang dibuat
untuk dipublikasikan di media online maupun cetak (melalui koran, majalah, buletin, dsb) dan bertujuan
menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan menghibur. Tulisan/karangan
yang bersifat utuh dalam surat kabar, majalah atau bentuk publikasi yang lain.[9]
Menurut KBBI, arti artikel adalah suatu karya tulis yang dibuat secara lengkap, seperti esai pada
majalah atau laporan surat kabar, dan lain sebagainya, sedangkan menurut Cambridge Dictionary,
pengertian artikel adalah sebuah tulisan yang membahas subjek tertentu dan dipublish di berbagai media,
seperti; koran, majalah, atau di internet.[10]
Komponen utamanya adalah judul, nama penulis, abstrak, bodi, simpulan, dan daftar pustaka. Tidak
ada patokan dalam cara penyajian artikel ilmiah. Kita harus menyesuaikan diri dengan gaya
selingkung jurnal yang hendak dituju. Misalnya, gaya penulisan untuk jurnal filsafat berbeda dengan gaya
penulisan jurnal teknik. Dengan demikian, menyesuaikan diri dengan pedoman penulisan suatu jurnal
berarti kita sedang melakukan strategi pembingkaian. Strategi tersebut digunakan untuk mengkonstruksi
suatu fakta, realitas, atau peristiwa yang berdasarkan ideologi, persepsi, abstraksi, dan kategorisasinya.
Strategi pembingkaian itu dilakukan penulis artikel ilmiah untuk bisa menembus jurnal terakreditasi.
Penulis artikel ilmiah menekankan pada tiga titik fokus untuk menonjolkan fakta atau objek
penelitiannya.[11] Pertama, perumusan masalah harus memberikan fokus pada objek material penelitian
berdasarkan jenis-jenis pertanyaan ilmiah yang menjadi pilihan si penulis artikel
ilmiah. Kedua, mengevaluasi nilai-nilai moral atau penilaian atas perumusan masalah. Ketiga,
penggarisbawahan solusi dengan tujuan mengatasi masalah. Dalam struktur artikel ilmiah, ketiga titik
pembingkai ini dapat dimunculkan melalui komponen-komponen artikel ilmiah sebagai berikut.
Jadi, tujuan penulisan artikel ilmiah selain untuk menawarkan pemecahan masalah atau
memaparkan hasil penelitian, berguna pula untuk memperoleh angka kredit sebagai syarat naik jabatan.Dan
juga penulisan artikel, biasanya bertujuan untuk menawarkan pemecahan masalah, mendidik, menghibur
dan memengaruhi pembaca.[12] Tujuan utama penulisan artikel jurnal ilmiah adalah untuk menciptakan
kompetensi menulis di kalangan pendidik. Sebab, mental para dosen kita enggan menulis dan melakukan
penelitian, walaupun perguruan tingginya sudah menyiapkan dana.
EKSPERIMENTAL
BAHAN DAN PROSEDURAL
Software yang digunakan Microsoft Word, Endnote X7 Thomson Reuters, Google Translator,
Google Scholaar, dan aplikasi lainnya.
Proses yang dilakukan adalah instalasi dan koneksi internet, Microsoft Word digunakan dalam
penulisan artikel sebagai wadah penuangan dari hasil pikiran, Endnote dan Google Schoolar dapat
digunakan sebagai pemcarian literature sedangkan Google Translator digunakan untuk mentranslet kata
yang diperlukan.[13]
Penelusuran dengan End Note X7 dapat dimulai setelah penginstalan software selesai, software ini
perlu koneksi dengan internet. Penggunaan software End Note X7 lebih efisien dibandingkan dengan
google scholar dikarenakan software ini lebih spesifik.
Prosedur yang dilakukan adalah instalasi dan koneksi jaringan internet sehingga
memungkinkannya ‘surfing’ data berjalan lebih cepat. Proses instalasi dilakukan dengan cara membuka file
aplikasi (EXE) dan seterusnya mengikuti proses instalasi sebagaimana biasanya, yakni tekan NEXT dan
pilih sesuai petunjuk dan perintahnya.[14] Apabila proses instalasi selesai, maka software atau aplikasi sudah
bisa dijalankan. Pada aplikasi pembantu, seperti Google Translate, google map, google cendikia, dan
snipping tool sudah tersedia pada komponen bawaan pada Google dan Windows, untuk mengaktifkannya
sesuai dengan pilihan sebagaimana mestinya seperti terlihat pada gambar 1.
Gambar 1. Tampilan awal software endNote
Setelah instalasi selesai, maka langkah awal dalam proses literasi adalah memutuskan ide dan
persoalan yang akan dibahas melalui kata kunci (keywords). Tanpa keywords, penggunaan internet akan
mengambang dan tidak efisien. Dengan penggunaan Endnote X7, proses identifikasi keyword
membutuhkan waktu 1 detik, tidak jauh beda dengan menggunakan penjelajah google. Misalnya, pada
proses pencarian keyword “ARTICLE” dengan google Scholar, membutuhkan waktu 0.03 detik dengan
jumlah temuan 2.160.000.000.[15] Sementara, bila menggunakan ENDNOTE X7, memerlukan waktu 0.4
detik dengan temuan 27.741.576 literatur pada Pustaka Dunia PubMed (NLM).[16]

Gambar 2. Gambar penelusuran EndNoteX7


Gambar 3. Gambar penelusuran Google Scholar
Penjelajahan Google Cendikia lebih bersifat umum, sementara penjelajahan menggunakan
Endnote7 lebih spesifik. Pada kasus di atas, endnote digunakan untuk menjelajah pada Web Pubmed(NLM)
yang menyediakan lebih dari 26 juta citation untuk bidang biomedik, baik berupa jurnal maupun buku. Ada
ribuan perpustakaan di dunia yang terintegrasi pada endnote X7, tetapi tidak semua bisa diakses.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Langkah awal pembuatan artikel yaitu menentukan dahulu topik apa yang akan dipilih. Kemudian
memulai penelususraan literatur menggunakan EndNote X7. Mencari literatur artikel menggunakan
endNote X7 dapat dimulai dengan menginstal endNote X7 di PC, kemudian membuat Library dan memberi
nama library sesuai yang diinginkan.[17]

Gambar 4. Pembuatan nama Library


Keunggulan dalam penggunaan EndNote 7X sebagai aplikasi untuk penelusuran REFERENSI
artikel yaitu aplikasi ini sudah terintegrasi dengan Microsoft Word sehingga tidak perlu lagi menggunakan
cara konvesional dalam penulisan referensi di aplikasi Microsoft Word melainkan dapat diinntegrasikan
secara otomatis.[18]
Nama Library telah dibuat, maka kemudian buatlah Group library sesuai dengan artikel yang ingin
dibuat, misalkan disini dibuatkan kantongnya dengan nama IMRAD (Introduction, Metode, Research,
Analisys, Discussion.[19]
Gambar 5. Pembuatan Grup dan Grup Kecil Library
Group Library tersebut juga dapat dibuatkan lagi Grup kecilnya, sehingga nanti hanya perlu
mencari referensi berdasarkan grup yang telah dibuat, jika sudah ditemukan maka masukan pada grup yang
sesuai.
Dalam pembuatan artikel juga perlu diperhatikan metode pembuatan daftar pustaka atau
referensinya, disini kita menjelaskan metode Havard dimana penyusunan referensi menggunakan metode
Havard itu dapat dilakukan sebagai berikut:[20]
1. Sumber kutipan yang dinyatakan dalam karya ilmiah harus ada dalam Daftar Pustaka, dan
sebaliknya.
2. Daftar pustaka tidak dibagi-bagi menjadi bagian-bagian berdasarkan jenis pustaka, misalnya buku,
jurnal, internet dan sebagainya.
3. Ditulis satu spasi, berurutan secara alfabetis tanpa nomor berdasarkan nama akhir pengarang atau
organisasi yang bertanggung jawab. Jika suatu referensi tidak memiliki nama pengarang maka judul
referensi digunakan untuk mengurutkan referensi tersebut diantara referensi lain yang tetap
diurutkan berdasarkan nama belakang pengarang.
4. Jika literatur ditulis oleh satu orang, nama penulis ditulis nama belakangnya lebih dulu, kemudian
diikuti singkatan (inisial) nama depan dan nama tengah, dilanjutkan penulisan tahun, judul dan
identitas lain dari literatur/pustaka yang dirujuk.
5. Apabila ada beberapa karya yang ditulis oleh pengarang yang sama, urutkan berdasarkan tanggal
terbitnya (dimulai dari yang paling lama ke yang paling baru).
6. Jika seorang pengarang mengeluarkan beberapa karya dalam tahun publikasi yang sama, maka
diurutkan berdasarkan huruf kecil yang menyertai tanggal publikasi (contoh: 1988a, 1988b, 1988c,
dst.).
7. Tanggal publikasi dituliskan setelah nama(-nama) pengarang.
8. Judul referensi dituliskan secara italic, jika daftar pustaka ditulis tangan maka judul digarisbawahi.
9. Cara penulisan setiap daftar pustaka berbeda-beda, bergantung pada jenis literatur/ pustaka yang
menjadi referensi.
KESIMPULAN
Penggunaan aplikasi endnote akan memudahkan mahasiswa, dosen atau siapapun dalam menyusun artikel,
karena kita bisa sekaligus memasukkan dan membuat daftar pustaka ketika kita menulis artikel ilmiah.
Endnote akan menyusun daftar pustaka secara otomatis sesuai dengan metode yang dipilih.
REFERENCES
[1] O. S. Belozor, D. A. Yakovleva, I. V. Potapenko, A. N. Shuvaev, M. V. Smolnikova, A. Vasilev, E. A.
Pozhilenkova and A. N. Shuvaev, Brain Sci 2019, 9.
[2] A. R. Bentley, Y. J. Sung, M. R. Brown, T. W. Winkler, A. T. Kraja, I. Ntalla, K. Schwander, D. I.
Chasman, E. Lim, X. Deng, X. Guo, J. Liu, Y. Lu, C. Y. Cheng, X. Sim, D. Vojinovic, J. E. Huffman, S.
K. Musani, C. Li, M. F. Feitosa, M. A. Richard, R. Noordam, J. Baker, G. Chen, H. Aschard, T. M. Bartz,
J. Ding, R. Dorajoo, A. K. Manning, T. Rankinen, A. V. Smith, S. M. Tajuddin, W. Zhao, M. Graff, M.
Alver, M. Boissel, J. F. Chai, X. Chen, J. Divers, E. Evangelou, C. Gao, A. Goel, Y. Hagemeijer, S. E.
Harris, F. P. Hartwig, M. He, A. Horimoto, F. C. Hsu, Y. J. Hung, A. U. Jackson, A. Kasturiratne, P.
Komulainen, B. Kuhnel, K. Leander, K. H. Lin, J. Luan, L. P. Lyytikainen, N. Matoba, I. M. Nolte, M.
Pietzner, B. Prins, M. Riaz, A. Robino, M. A. Said, N. Schupf, R. A. Scott, T. Sofer, A. Stancakova, F.
Takeuchi, B. O. Tayo, P. J. van der Most, T. V. Varga, T. D. Wang, Y. Wang, E. B. Ware, W. Wen, Y. B.
Xiang, L. R. Yanek, W. Zhang, J. H. Zhao, A. Adeyemo, S. Afaq, N. Amin, M. Amini, D. E. Arking, Z.
Arzumanyan, T. Aung, C. Ballantyne, R. G. Barr, L. F. Bielak, E. Boerwinkle, E. P. Bottinger, U. Broeckel,
M. Brown, B. E. Cade, A. Campbell, M. Canouil, S. Charumathi, Y. I. Chen, K. Christensen, C. O.-K.
Consortium, M. P. Concas, J. M. Connell, L. de Las Fuentes, H. J. de Silva, P. S. de Vries, A. Doumatey,
Q. Duan, C. B. Eaton, R. N. Eppinga, J. D. Faul, J. S. Floyd, N. G. Forouhi, T. Forrester, Y. Friedlander, I.
Gandin, H. Gao, M. Ghanbari, S. A. Gharib, B. Gigante, F. Giulianini, H. J. Grabe, C. C. Gu, T. B. Harris,
S. Heikkinen, C. K. Heng, M. Hirata, J. E. Hixson, M. A. Ikram, E. P.-I. Consortium, Y. Jia, R. Joehanes,
C. Johnson, J. B. Jonas, A. E. Justice, T. Katsuya, C. C. Khor, T. O. Kilpelainen, W. P. Koh, I. Kolcic, C.
Kooperberg, J. E. Krieger, S. B. Kritchevsky, M. Kubo, J. Kuusisto, T. A. Lakka, C. D. Langefeld, C.
Langenberg, L. J. Launer, B. Lehne, C. E. Lewis, Y. Li, J. Liang, S. Lin, C. T. Liu, J. Liu, K. Liu, M. Loh,
K. K. Lohman, T. Louie, A. Luzzi, R. Magi, A. Mahajan, A. W. Manichaikul, C. A. McKenzie, T.
Meitinger, A. Metspalu, Y. Milaneschi, L. Milani, K. L. Mohlke, Y. Momozawa, A. P. Morris, A. D.
Murray, M. A. Nalls, M. Nauck, C. P. Nelson, K. E. North, J. R. O'Connell, N. D. Palmer, G. J. Papanicolau,
N. L. Pedersen, A. Peters, P. A. Peyser, O. Polasek, N. Poulter, O. T. Raitakari, A. P. Reiner, F. Renstrom,
T. K. Rice, S. S. Rich, J. G. Robinson, L. M. Rose, F. R. Rosendaal, I. Rudan, C. O. Schmidt, P. J. Schreiner,
W. R. Scott, P. Sever, Y. Shi, S. Sidney, M. Sims, J. A. Smith, H. Snieder, J. M. Starr, K. Strauch, H. M.
Stringham, N. Y. Q. Tan, H. Tang, K. D. Taylor, Y. Y. Teo, Y. C. Tham, H. Tiemeier, S. T. Turner, A. G.
Uitterlinden, G. Understanding Society Scientific, D. van Heemst, M. Waldenberger, H. Wang, L. Wang,
L. Wang, W. B. Wei, C. A. Williams, G. Wilson, Sr., M. K. Wojczynski, J. Yao, K. Young, C. Yu, J. M.
Yuan, J. Zhou, A. B. Zonderman, D. M. Becker, M. Boehnke, D. W. Bowden, J. C. Chambers, R. S. Cooper,
U. de Faire, I. J. Deary, P. Elliott, T. Esko, M. Farrall, P. W. Franks, B. I. Freedman, P. Froguel, P.
Gasparini, C. Gieger, B. L. Horta, J. J. Juang, Y. Kamatani, C. M. Kammerer, N. Kato, J. S. Kooner, M.
Laakso, C. C. Laurie, I. T. Lee, T. Lehtimaki, C. Lifelines, P. K. E. Magnusson, A. J. Oldehinkel, B.
Penninx, A. C. Pereira, R. Rauramaa, S. Redline, N. J. Samani, J. Scott, X. O. Shu, P. van der Harst, L. E.
Wagenknecht, J. S. Wang, Y. X. Wang, N. J. Wareham, H. Watkins, D. R. Weir, A. R. Wickremasinghe,
T. Wu, E. Zeggini, W. Zheng, C. Bouchard, M. K. Evans, V. Gudnason, S. L. R. Kardia, Y. Liu, B. M.
Psaty, P. M. Ridker, R. M. van Dam, D. O. Mook-Kanamori, M. Fornage, M. A. Province, T. N. Kelly, E.
R. Fox, C. Hayward, C. M. van Duijn, E. S. Tai, T. Y. Wong, R. J. F. Loos, N. Franceschini, J. I. Rotter,
X. Zhu, L. J. Bierut, W. J. Gauderman, K. Rice, P. B. Munroe, A. C. Morrison, D. C. Rao, C. N. Rotimi
and L. A. Cupples, Nat Genet 2019, 51, 636-648.
[3] K. P. Cheiran, V. P. Raimundo, V. Manfroi, M. J. Anzanello, A. Kahmann, E. Rodrigues and J. Frazzon,
Food Chem 2019, 286, 113-122.
[4] D. D. Dohrmann, P. Putnik, D. Bursac Kovacevic, J. Simal-Gandara, J. M. Lorenzo and F. J. Barba,
Food Res Int 2019, 120, 464-477.
[5] S. Fernandez-Brime, L. Muggia, S. Maier, M. Grube and M. Wedin, FEMS Microbiol Ecol 2019, 95.
[6] R. Johnson and A. E. Mitchell, J Agric Food Chem 2019, 67, 1546-1553.
[7] J. V. Judy, G. C. Bachman, T. M. Brown-Brandl, S. C. Fernando, K. E. Hales, K. J. Harvatine, P. S.
Miller and P. J. Kononoff, J Dairy Sci 2019, 102, 2085-2093.
[8] P. P. Lin, S. F. Zhang, N. X. Zhang, J. X. Fan, L. F. Ji, J. F. Guo and A. M. Ren, Phys Chem Chem Phys
2019, 21, 3044-3058.
[9] C. Morsiani, M. G. Bacalini, A. Santoro, P. Garagnani, S. Collura, A. D'Errico, M. de Eguileor, G. L.
Grazi, M. Cescon, C. Franceschi and M. Capri, Ageing Res Rev 2019, 51, 24-34.
[10] E. Papadaki and F. T. Mantzouridou, Bioresour Technol 2019, 280, 59-69.
[11] A. Rico, A. Arenas-Sanchez, C. Alonso-Alonso, I. Lopez-Heras, L. Nozal, D. Rivas-Tabares and M.
Vighi, Sci Total Environ 2019, 666, 1058-1070.
[12] M. Perreault, C. J. Moore, G. Fusch, K. K. Teo and S. A. Atkinson, Nutrients 2019, 11.
[13] Y. Sato, Yakugaku Zasshi 2019, 139, 341-347.
[14] R. Segawa, M. Shiraki, S. Sudo, K. Shigeeda, T. Saito, N. Mizuno, T. Moriya, T. Yonezawa, J. T.
Woo, M. Hiratsuka and N. Hirasawa, Eur J Pharmacol 2019, 851, 52-62.
[15] J. R. Shipway, M. A. Altamia, G. Rosenberg, G. P. Concepcion, M. G. Haygood and D. L. Distel,
PeerJ 2019, 7, e6256.
[16] J. Snoj Tratnik, I. Falnoga, D. Mazej, D. Kocman, V. Fajon, M. Jagodic, A. Stajnko, A. Trdin, Z.
Slejkovec, Z. Jeran, J. Osredkar, A. Sesek-Briski, M. Krsnik, A. B. Kobal, L. Kononenko and M. Horvat,
Int J Hyg Environ Health 2019, 222, 563-582.
[17] E. Saeedian Moghadam, E. Hamel, Z. Shahsavari and M. Amini, Daru 2019.
[18] Y. Weng, J. Wang, Z. Yang, M. Xi, J. Duan, C. Guo, Y. Yin, R. Segawa, T. Moriya, T. Yonezawa, B.
Y. Cha, J. T. Woo, A. Wen and N. Hirasawa, Cell Signal 2019, 57, 58-64.
[19] R. Wu, H. Ge, C. Liu, S. Zhang, L. Hao, Q. Zhang, J. Song, G. Tian and J. Lv, Talanta 2019, 196,
191-196.
[20] J. Yu, H. Guo, J. Xie, J. Luo, Y. Li, L. Liu, S. Ou, G. Zhang and X. Peng, J Food Sci 2019, 84, 678-
686.