Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan dan genetik. Diantara faktor–faktor
tersebut pengaruh perilaku terhadap status kesehatan, baik kesehatan individu
maupun kelompok sangatlah besar. Salah satu usaha yang sangat penting di
dalam upaya merubah perilaku adalah dengan melakukan kegiatan pendidikan
kesehatan atau yang biasa dikenal dengan penyuluhan. Sejauh mana kegiatan
tersebut bisa merubah perilaku masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh
faktor– faktor lain yang ikut berperan dan saling berkaitan dalam proses
perubahan perilaku itu sendiri.
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau
aktifitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya
adalah suatu aktivitas dari manusia itusendiri. Oleh sebab itu perilaku manusia
mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara,

berpakaian dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir,

persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Perilaku kesehatan pada
dasarnyaadalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit,sistem pelayanan kesehatan, makanan serta
lingkungan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Perilaku?
2. Apa saja Bentuk-bentuk dari Perilaku?
3. Apa saja Jenis-jenis Perilaku?
4. Bagaimana Metode Pembentukan Perilaku?
5. Bagaimana Proses Pembentukan Perilaku?
6. Bagaimana Terjadinya Perubahan Perilaku?
7. Apa yang dimaksud dengan Perilaku Kesehatan?

1
8. Apa saja Aspek Sosio-psikologi Perilaku Kesehatan?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui apa yang dimakud dengan Perilaku
2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk dari Perilaku
3. Untuk mengetahui jenis-jenis Perilaku
4. Untuk mengetahui metode pembentukan Perilaku
5. 5.Untuk mengetahui proses pembentukan Perilaku
6. Untuk mengetahui perubahan Perilaku
7. Untuk mengetahui apa itu Perilaku Keehatan
8. Untuk mengetahui aspek sosio-psikologi Perilaku Kesehatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perilaku
Didalam mayarakat, terdapat konsep yang dinamakan pola pola
perilaku atau pattern of behavior . pola perilaku adalah cara mayarakat
bertindak atau berkelakuan yang amayang harus diikuti oleh semua
anggota masyarakat (Maulana dalam Induniasi dan Wahyu Ratna , 2018)
Dari sudut biologis,. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis
semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai
dengan manusia itu berpilaku, karena mereka mempunyai aktifitas
masing-masing.
Secara operasional, perilaku dapat diartikan sebagai suatu respons
organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut
(Soekidjo dalam Nova Maulana, 2014).
Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi
organisme tehadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada
sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut
rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau
perilaku tertentu (Notoatmodjo dalam Nova Maulana, 2014).
Seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan
respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap
organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori
Skinner disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon
( Skinner dalam Nova Maulana, 2014)
Skinner membedakan adanya dua proses, yaitu:
1. Respondent respon atau reflexsive

3
Yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan
(stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation
karena menimbulkan respon – respon yang relative tetap.
Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan,
cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya.
Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosional misalnya
mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian
meluapkan kegembiraannya dengan mengadakan pesta, dan
sebagainya.
2. Operant respon atau instrumental respon
Yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti
oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut
reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon.
Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya
dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi)
kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya (stimulus baru),
maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam
melaksanakan tugasnya.
B. Bentuk-Bentuk Perilaku
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat
dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo dalam Nova Maulana, 2014):
1. Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus
dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi
terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,
pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang
menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh
orang lain.
2. Perilaku terbuka (overt behavior)
Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus
dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus

4
tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice),
yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

C. Jenis Perilaku
1. Perilaku Refleksif
Perilaku refleksif adalah perilaku yang terjadi atas reaksi secara
spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut.
Misalnya kedip mata bila kena sinar, gerak lutut bila kena sentuhan
palu, menarik tangan apabila menyentuh api dan lain sebagainya.
Perilaku refleksif terjadi dengan sendirinya, secara otomatis. Stimulus
yang diterima organisme tidak sampai ke pusat susunan syaraf atau
otak sebagai pusat kesadaran yang mengendalikan perilaku manusia.
Dalam perilaku yang refleksif, respon langsung timbul begitu
menerima stimulus. Dengan kata lain, begitu stimulus diterima oleh
reseptor, begitu langsung respons timbul melalui afektor, tanpa melalui
pusat kesadaran atau otak. Perilaku ini pada dasarnya tidak dapat
dikendalikan. Hal ini karena perilaku refleksif merupakan perilaku
yang alami, bukan perilaku yang dibentuk oleh pribadi yang
bersangkutan.
2. Perilaku Non-Refleksif
Perilaku non-refleksif adalah perilaku yang dikendalikan atau
diatur oleh pusat kesadaran/otak. Dalam kaitan ini, stimulus setelah
diterimaoleh reseptor langsung diteruskan ke otak sebagai pusat syaraf,
pusat kesadaran, dan kemudian terjadi respon melalui afektor. Proses
yang terjadi didalam otak atau pusat kesadaran inilah yang disebut
proses psikologis. Perilaku atau aktivitas dasar proses psikologis inilah
yang disebut aktivitas psikologis atau perilaku psikologis (Branca
dalam Nova Maulana, 2014).
Pada perilaku manusia, perilaku psikologgis inilah yang
dominan, merupakan perilaku yang dominan dalm pribadi manusia.

5
Perilaku ini dapat dibentuk, dapat dikendalikan. Karena itu dapat
berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses belajar.

D. Metode Pembentukan Perilaku


Seperti telah dipaparkan diatas, bahwa sebagian besar perilaku
manusia merupakan perilaku yang dibentuk, perilaku yang dipelajari.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka salah satu persoalan ialah bagaimana
cara membentuk perilaku sesuai yang diharapkan.
1. Conditioning (kebiasaan)
Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang
diharapkan, akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut, akhirnya
akan terbentuklah perilaku tersebut. Cara ini didasarkan atas teori
belajar kondisioning oleh Pavlon, Thorndike dan Skinner
(Hergenhanh dalam Nova Maulana, 2014). Contohnya anak
dibiasakan bangun pagi dan gosok gigi. Ini akan menjadi perilakunya
sehari-hari
2. Insight (pengertian)
Teori ini bedasarkan atas teori belajar kognitif yang
dikemukakan oleh Kohler, yaitu belajar dengan disertai pengertian.
Contohnya bila naik motor harus memakai helm karena helm tersebut
untuk keamanan diri.
3. Model (contoh)
Cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social learning
theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh
(Bandura dalam Nova Maulana, 2014). Contohnya klau orang
berbicara bahwa orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya. Hal ini
menunjukkan pembentukan perilaku yang menggunakan model.
E. Proses Pembentukan Perilaku

6
(Roger dalam Nova Maulana, 2014) mengungkapan bahwa
sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), didalam diri
orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:
1. Awareness (kesadaran)
Yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus
(objek) terlebih dahulu.
2. Interest (ketertarikan)
Yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
3. Evaluation (evaluasi)
Menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya. Hal
ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial (mencoba)
Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5. Adoption (menerima)
Dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Apabila penerimaan
perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari
oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka prilaku
tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting)
(Notoatmodjo dalam Nova Maulana, 2014).
F. Perubahan Perilaku
Sesuai dengan hal-hal yang memungkinkan perubahan itu terjadi.
Dalam perkembangannya di kehidupan, perilaku manusia dipengaruhi oleh
beberapa faktor intern dan ekstern yang memungkinkan suatu perilaku
mengalami perilaku. Berikut diuraikan faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan perilaku pada manusia.
1. Faktor Internal
Tingkah laku manusia adalah corak kegiatan yang sangat
dipengaruhi oleh faktor yang adadalam dirinya. Faktor-faktor intern
yang dimaksud antara lain jenis ras/keturunn, jenis kelamin, sifat fisik,

7
kepribadian, bakay, dan intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan
dijelaskan secara lebih rinci seperti dibawah ini.
a. Jenis Ras/ Keturunan
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku
yang khas. Tingkah laku khas ini berbeda pada setiap ras, karena
memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain
bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan
olahraga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang
bergotong-royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan
upacara ritual. Demikan pula beberapa ras lain memiliki ciri
perilakuu yang berbeda pula.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain
cara berpakaian, melakukann pekerjaan sehari-hari, dan
pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan
karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian
tugas. Wanita seringkali berprilaku berdasarkan perasaan,
sedangkan prang laki-laki cenderung berprilaku atau bertindak
atas pertimbangan rasional.
c. Sifat Fisik
Kretschmer Sheldon membuat tipiologi perilaku seseorang
berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya, orang yang pendek, bulat,
gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan ciri
demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak
teman.
d. Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang
terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta
menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik yang datang
dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak
dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas

8
untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian
seseorang jelas sangat berpengaruhi terhadap perilaku sehari-
harinya.
e. Intelegensia
Intelegensia adalah keseluruhan kemampuan individu untuk
berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif. Bertitik tolak
dari pengertian tersebut, tingkah laku individu sangat dipengaruhi
oleh intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi oleh
intelegensia adalah tingkah laku intelegen dimana seseorang
dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam
mengambali keputusan.
f. Bakat
Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang
memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu
kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya
berupa kemampuan memainkan musik, melukis, olehraga, dan
sebagainya.
2. Faktor Eksternal
1. Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar
mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat
perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar
pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang
berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang
berpendidikan rendah.
2. Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai
dengan norma dan nilai yang dianjurkan oleh agama yang
diyakininya.
3. Kebudayaan

9
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau
peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan
tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan
lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku
orang Papua.
4. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan
berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena
lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu
untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukan
lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
5. Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan
tersedianya suatu fasiitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu,
sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku
seseorang.
G. Perilaku Kesehatan
Berdasarkan batasan perilaku dari Skinner tersebut, maka perilaku
kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus
atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, system pelayanan
kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini,
perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok.
1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintenance)
Adalah perilaku atau usaha=usaha seseorang untuk memelihara
atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk
penyembuhan bilamana sakit. Perilaku ini terdiri dari tiga aspek,
yaitu:
a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila
sakit, serta pemulihan kesehatan jika telah sembuh dari penyakit.

10
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan
sehat. Perlu dijelaskan di sini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis
dan relatatif, maka dari itu orang yang sehat pun perlu diupayakan
supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.
c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman., dapat memelihara serta
menigkatkan kesehatan seseorang tergantung perilaku orang
terhadap makanan dan minuman tersebut.
2. Perilaku pencarian dan penggunaan system atau fasilitas pelayanan
kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health
seeking behavior)
Perilaku ini adalah mencangkup upaya atau tindakan seseorang
pada saat menderita penyakit atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku
ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment)
3. Perilaku kesehatan lingkungan
Bagaimana seseorang merepon lingkungan, baik lingkungan
fisik maupun social budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan
tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Misalnya, bagaimana
seseorang mengelola pembuangan tinja, air minum, tempat
pembuangan Sampah, pembuangan limbah, dan sebagainya.
Seorang ahli lain (Becker dalam Soekidjo Notoatmodjo, 2012)
membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan.
a. Perilaku hidup sehat (healthy life style)
Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau
kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan
kesehatannya atau pola/gaya hidup sehat. Misalnya, Makan
dengan menu seimbang, olahraga teratur,tidak merokok, tidak
minum minuman keras dan narkoba, istirahat yang cukup,
mengendalikan stress dan perilaku atau gaya hidup yang positif
bagi kesehatan.
b. Perilaku sakit (illness behavior)

11
Perilaku sakit ini mencangkup respons seseorang terhadap
sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan
tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit, dan
sebagainya.
c. Perilaku peran sakit ( the sick role behavior)
Dari segi biologi, orang sakit (mempunyai peran yang
mencangkup hak-hak orang sakit (right) dan kewajiban sebagai
orang sakit (obligation). Hak dan kewajiban ini harus diketahui
oleh orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama
keluarganya), yang selanjutnya disebut perilaku peran orang sakit
(the sick role) Perilaku ini meliputi:
1) Tindakan untuk memperoleh kesembuhan
2) Mengenal atau mengetahui fasilitas dan sarana
pelayanan/penembuhan penyakit yang layak.
3) Mengetahui hak (misalnya: hak memperoleh perawatan,
memperoleh pelayanan kesehatan, dan sebagainya) dan
kewajiban orang sakit (memberitahukan penyakitnya kepada
orang lain terutama kepada dokter atau petugas kesehatan
kesehatan, tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain,
dan sebagainya).
H. Aspek Sosio-Psikologi Perilaku Kesehatan
Di dalam proses pembentukan dan atau perubahan perilaku
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri individu itu
sendiri. Faktor-faktor tersebut diantara lain: susunan saraf pusat, persepsi,
motivasi, emosi, dan belajar. Susunan saraf pusat memegang peranan
penting dalam perilaku manusia, karena perilaku merupakan sebuah
bentuk perpindahan dari rangsang yang masuk ke rangsang yang
dihasilkan. Perubahan-perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat
diketahui melalui persepsi
Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, dan sebagainya. Setiap orang mempunyai

12
persepsi yang berbeda, meskipun objeknya sama. Motivasi diartikan
sebagai dorongan untuk bertindak mencapai suatu tujuan tertentu. Hasil
dari dorongan dan gerakan ini diwujudkan dalam bentuk perilaku. Perilaku
juga dapat timbul karena emosi. Aspek psikologis yang mempengaruhi
emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani. Sedang keadaan jasmani
merupakan hasil keturunan (bawaan). Dalam proses pencapaian
kedewasaan pada manusia semua aspek yang berhubungan dengan
keturunan dan emosi akan berkembang sesuai dengan hokum
perkembangan. Oleh kerena itu, perilaku yang timbul karena emosi
merupakan perilaku bawaan. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan
perilaku yang dihasilkan dari praktik-praktik dalam lingkungan kehidupan.
(Knutson Andi L. dalam Soekidjo Notoatmodjo, 2012) mengatakan
bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku yang dihasilkan dari
perilaku terdahulu. Perilaku sebagai konsepsi, bukanlah hal yang
sederhana. Konsep perilaku yang diterima secara luas ialah yang
memandang perilaku sebagai variabel pencampur (intervening variable),
oleh karena itu mencampuri atau mempengaruhi responsi subjek terhadap
stimulus. Menurut konsep ini maka perilaku adalah pengorganisasian
proses-proses psikologi oleh seseorang yang memberikan predisposisi
untuk melakukan responsi menurut cara tertentu terhadap sesuatu kelas
atau golongan objek-objek.
(Saparinah Sadli dalam Soekidjo Notoatmodjo, 2012)
menggambarkan hubungan individu dengan lingkungan sosial yang saling
mempengaruhi. Setiap individu sejak lahir berada didalam suatu kelompok
terutama kelompok keluarga. Kelompok ini akan membuka kemungkinan
untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kemompok lain.
Oleh karena itu pada setiap kelompok senantiasa berlaku aturan-aturan dan
norma-norma social tertentu, maka perilaku setiap individu anggota
kelompok berlangsung didalam suatu jaringan normative. Demikian pula
perilaku individu tersebut terhadap masalah-masalah kesehatan.

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang
bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup)
yang bersangkutan.
2. Perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo dalam Nova
Maulana, 2014):
a. Perilaku tertutup (convert behavior)
b. Perilaku terbuka (overt behavior)
3. Jenis Perilaku
a. Perilaku Refleksif
b. Perilaku Non-Refleksif
4. Metode Pembentukan Perilaku
Sebagian besar perilaku manusia merupakan perilaku yang
dibentuk, perilaku yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut, maka
salah satu persoalan ialah bagaimana cara membentuk perilaku sesuai
yang diharapkan.
a. Conditioning (kebiasaan)
b. Insight (pengertian)
c. Model (contoh)

14
5. Proses Pembentukan Perilaku
(Roger dalam Nova Maulana, 2014) mengungkapan bahwa
sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), didalam diri
orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:
a. Awareness (kesadaran)
b. Interest (ketertarikan)
c. Evaluation (evaluasi)
d. Trial (mencoba)
e. Adoption (menerima)
6. Perubahan Perilaku
Dalam perkembangannya di kehidupan, perilaku manusia dipengaruhi oleh
beberapa faktor intern dan ekstern yang memungkinkan suatu perilaku
mengalami perilaku.
a. Faktor Internal
Faktor-faktor intern yang dimaksud antara lain jenis ras/keturunn,
jenis kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakay, dan intelegensia
b. Faktor Eksternal
1) Pendidikan
2) Agama
3) Kebudayaan
4) Lingkungan
5) Sosial Ekonomi
7. Perilaku Kesehatan
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku pada
manusia.
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintenance)
Adalah perilaku atau usaha=usaha seseorang untuk memelihara atau
menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan
bilamana sakit.

15
b. Perilaku pencarian dan penggunaan system atau fasilitas pelayanan
kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health
seeking behavior)
Perilaku ini adalah mencangkup upaya atau tindakan seseorang pada
saat menderita penyakit atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini
dimulai dari mengobati sendiri (self treatment)
c. Perilaku kesehatan lingkungan
Bagaimana seseorang merepon lingkungan, baik lingkungan fisik
maupun social budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut
tidak mempengaruhi kesehatannya. (Becker dalam Soekidjo
Notoatmodjo, 2012) membuat klasifikasi lain tentang perilaku
kesehatan.
1) Perilaku hidup sehat (healthy life style)
2) Perilaku sakit (illness behavior)
3) Perilaku peran sakit ( the sick role behavior)
8. Aspek Sosio-Psikologi Perilaku Kesehatan
Di dalam proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi
oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri.
Faktor-faktor tersebut diantara lain: susunan saraf pusat, persepsi,
motivasi, emosi, dan belajar
B. Saran
Hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat dan saling
berkesinambungan, individu yang sehat akan tercermin dari perilaku yang
sehat pula. Begitu juga perilaku yang sehat akan mencerminkan individu
dengan kualitas hidup yang baik.
Menyadari bahwa penulisan masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya kami akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang
makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya
dapat di pertanggung jawabkan.
Demikianlah makalah yang kami buat ini, semoga bermanfaat dan
menambah pengetahuan para pembaca. Kami juga mengharapkan kritik dan

16
saran dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Sekian penutup
dari kami semoga dapat diterima dan kami ucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Induniasih dan Ratna, Wahyu. 2018. Promosi Kesehatan ( Pendidikan Kesehatan


dalam Keperawatan). Yogyakarta : Pustaka Baru Press.
Maulana, Nova. 2014. Sosiologi dan Antropologi Kesehatan. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta : Rineka Cipta.
Putri, Yulia Eka. Perilaku Kesehatan.
Http://www.academia.edu/11263185/Perilaku_Kesehatan. Diakses
pada tanggal 26 Oktober 2018

17