Anda di halaman 1dari 4

KALUNG BULAN DAN BINTANG

Namaku Candy, aku tinggal di panti asuhan sejak kecil. Aku tak tau siapa dan dimana orang
tuaku berada, kadang aku merasa iri dengan anak lain yang masih mempunyai orang tua lengkap,
aku juga pernah putus asa ingin sekali rasanya mengakhiri hidup, namun bunda (orang yang
merawatku di panti asuhan) selalu menguatkan dan memberikan semangat kepadaku. Di panti
asuhan aku juga mempunyai seseorang yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri
namanya Herlin, dia juga dititipkan dipanti asuhan sejak kecil bebarengan denganku.

Suatu malam kami berdua duduk termenung didekat cendela dan memandangi indah nya langit
malam dengan hiasan bintang-bintang dan kebetulan malam itu adalah malam bulan purnama
yang menambah indah langit malam itu,

“Can, jika suatu hari nanti kita diadopsi oleh orang yang berbeda dan kita berpisah
kamu jangan pernah lupain aku ya...” Herlin mengawali pembicaraan.

“Ha, kamu ngomong apa sih her, kita itu tak akan pernah terpisahkan kita harus ngejaga
satu sama lain, kalo ada orang yang mau adopsi salah satu dari kita ya harus adopsi dua-
duanya, aku dan kamu.” Jawabku sambil memandang herlin dengan mata yang berkaca-
kaca.

Malam itu menjadi malam yang sangat terkesan dalam hidup ku, karena aku dan herlin berjanji
untuk saling menjaga satu sama lain, aku merasa punya keluarga yang kenyataannya tak ku
miliki selama ini. Malam sudah larut namun aku tak kunjung terlelap, ku ambil sebuah buku dan
kubaca sambil berbaring berharap aku akan segera tertidur, tiba-tiba....

“jdyarrrrrrrrr............”

Aku mendengar ada suara seperti ledakan dari samping jendela kamarku, oh ya kamarku
itu lumayan luas dan dihuni oleh 6 orang anak, kebetulan tempat tidurku berada disamping
jendela, jadi jika gorden jendela aku buka maka pemandangan luar akan nampak sangat jelas.
Dalam hati ku bergumam, “Suara apa itu tadi, seperti ada yang jatuh dan meledak”. Aku takut
untuk membuka gorden jendelaku pikiranku macam-macam, tapi aku memberanikan diri
membuka gorden dan melihat apa yang sebenarnya terjadi diluar, dan ....

“Candy...” ada yang memanggilku dan menaruh tangannya dipundakku.

“Eh, kamu herlin kirain siapa??? Her sini deh, aku tadi denger ada yang jatuh dan
meledak di luar sana.”

“Beneran can, kok aku jadi takut gini sih, kita liat bareng-bareng aja yuk.” Ajak Herlin

Aku dan Herlin pun keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, tak ku sangka dan tak
kuduga ada sebuah meteor yang jatuh disana, aku dan herlin mendekat kearah meteor itu, tiba-
tiba herlin menarikku dan mengajakku kesebuah pohon disamping meteor itu jatuh. Aku dan
herlin sangat terkejut karena ada dua buah kalung yang bergandul bulan dan bintang yang
menggantung diranting pohon itu.

“Wah her... lihat kalung itu indah banget.” ucapku sambil ternganga melihat kalung yang
sangat indah itu.

“Iya can, bagus banget ya ada dua lagi, kok bisa pas gini ya sama kita, jangan-jangan...”
Jawab Herlin.

“Hush, jangan-jangan apa her kamu ada-ada aja.” Kataku

“Kita ambil yuk can, aku yakin deh ini itu kiriman dari Tuhan untuk kita, buktinya kok
bisa pas gini ada dua kalungnya.” Saut si Herlin lagi.

Kita berdua masih diam dan memandangi kalung yang menggantung diranting pohon itu.

“Ambillah kalung itu anak cantik.” Ucap seorang perempuan cantik dari samping pohon
tetapi agak jauh

Aku dan Herlin kaget ketika mendengar ucapan itu,


“Anda siapa?.” Tanyaku dan Herlin bersamaan

“Kalian tak perlu tau siapa saya, yang pasti saya disini untuk menyampaikan kalung itu
untuk kalian, ambillah.” Ucap seorang perempuan cantik bak bidadari itu.

Aku dan herlin pun mengambil kalung itu.

“Terimakasih.” Ucapku dan Herlin

Namun perempuan cantik tadi sudah tidak ada dan menghilang begitu saja.

Aku dan Herlin kembali ke panti dan masuk kamar kita, aku memakai kalung yang bergandul
bintang sedangkan Herlin memakai kalung yang bergandul bulan. Aku berinisiatif untuk
menyatukan gandul kalung bulan dan bintang itu,

“Her kita satuin yuk gandulnya.”

“Ha, emang bisa can?.” Tanya Herlin

“Bisa, yuk kita coba.” Timpaku balik

Ketika gandul kalungku dan kalungnya Herlin disatukan, ada cahaya kuat yang bersinar dan
menyilaukan mataku, aku pun mendengar suara bunda memanggil-manggil namaku

“Candy, Candy.... ayo bangun nak, ini sudah siang.”

Aku pun terbangun dan melihat bunda membuka gorden cendelaku cahaya matahari pun
menyilaukan mataku, aku terduduk sejenak dipelipis tempat tidurku.

“Wah... Ternyata aku hanya bermimpi.” Ucapku dalam hati.

“Selamat pagi Candy, nih aku punya hadiah buat kamu.” Sapa Herlin dan dia
menyodorkan sebuah kotak kepadaku.
“Apa ini her, aku buka ya...” Ucapku sambil membuka kotak yang dikasih Herlin padaku.

Dan ternyata kotak itu berisikan dua buah kalung yang bergandul bulan dan bintang, persis
seperti dalam mimpiku semalam.

“Bagus banget her, Terimakasih...” Kataku sambil kupeluk Herlin

“Iya sama-sama Candy, kalung ini satu buat kamu dan yang satunya buat aku, aku harap
dengan kamu pakai kalung dari aku ini kamu akan terus ingat sama aku, meskipun ketika
kita pisah nanti...Promis”.

Selesai 