Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) (2015), kanker kolorektal
merupakan keganasan ketiga terbanyak di dunia dan penyebab kematian kedua terbanyak di
Amerika Serikat. Kejadian kanker kolorektal di Indonesia adalah 12,8 per 100.000 penduduk
usia dewasa, dengan mortalitas 9,5% dari seluruh kasus kanker.
Di Indonesia, sudah mulai banyak data mengenai angka kejadian Kanker kolorektal.
Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008 berada pada peringkat 9 dari 10 peringkat
utama penyakit kanker pasien rawat inap di seluruh rumah sakit di Indonesia dengan jumlah
kasus sebanyak 1.810 dengan proporsi sebesar 4,92%. Berdasarkan data Rumah Sakit
Kanker Dharmais tahun 2010, kanker kolorektal masuk dalam 10 besar kanker tersering
dimana kanker rektum menempati urutan keenam dan kanker kolon menempati urutan
kedelapan (Tatuhey, 2012). Sekarang ini menempati urutan nomor 3 (KPKN, 2017). Hal
tersebut menunjukkan bahwa kejadian kanker kolorektal tiap tahunnya semakin meningkat.
Banyak faktor yang memengaruhi meningkatnya kanker kolorektal seperti diet yang
kurang serat (makanan westernisasi), selain itu dapat pula peningkatan risiko terjadi karena
pecandu alcohol berat, kurangnya aktivitas fisik, kegemukan, tembakau, colitis ulseratif
kronik, Cronh’s disease, dan kerentanan genetic (Sukandar, 2013).
Penanganan yang merupakan kunci utama keberhasilan kejadian kanker kolorektal adalah
ditemukannya kanker dalam stadium dini sehingga pengobatan atau terapi dapat
disembuhkan (kuratif). Faktanya kebanyakan masyarakat di Indonesia mengetahui penyakit
kanker kolorektalnya dalam stadium lanjut yang terapinya bersifat paliatif (meningkatkan
kualitas hidup pasien) yang biasanya digunakan adalah kemoterapi sitostatika.
Sitostatika merupakan salah satu jenis obat yang digunakan untuk membunuh atau
menekan pertumbuhan sel-sel kanker. Penanganan sitostatika pun menjadi kritikal poin
untuk menyediakan terapi optimal bagi pasien dengan menjaga perlindungan produk dari
kontaminasi mikroorganisme. Penanganan atau preparasi sitostatika berkaitan dengan risiko
yang besar karena dapat menyebabkan ruam kulit, kemandulan, keguguran, kecatatan bayi,
dan kemungkinan timbulnya kanker, dengan demikian sangat perlu memperhatikan
perlindungan terhadap petugas, produk, dan lingkungan (Direktorat Bina Farmasi
Komunitas dan Klinik, 2009).

B. Tujuan
1. Mampu menjelaskan perbedaan prosedur, sarana/prasarana yang diperlukan dalam
proses oncology preparation dan aceptic preparation.
2. Mengetahui alat pelindung diri dan spill kit yang digunakan pada pencampuran obat
kanker.
3. Mampu menghitung dosis, menentukan pelarut dan mendemonstrasikan proses
pencampuran obat kanker.

C. Kegiatan
1. Mereview resep obat kanker dan mengamati secara langsung proses pencampuran obat
kanker dengan menggunakan APD sesuai standar.
2. Studi literature dan penyelesaian kasus (teoritis).

D. Pelaksanaan
Hari : Senin
Tanggal : 19 Februari 2018
Waktu : Pukul 12.30-13.30
Tempat : Ruang Sitostatika RS PKU Muhammadiyah 1 Yogyakarta
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kemoterapi
Kemoterapi dan terapi biologi merupakan penanganan sistemik sehingga cocok untuk
penanganan penyakit metastatik. Terapi metastatik dapat digunakan sebagai terapi ajuvan
untuk membasmi penyakit mikrometastasik yang mengiringi penanganan lokal, atau sebagai
terapi neoajuvan sebelum pembedahan untuk mengecilkan tumor yang besar (Sukandar,
2013).
Sitostatik merupakan pengobatan yang bertujuan untuk mematikan sel-sel secara
fraksional (fraksi tertentu yang mati). Obat yang digunakan dalam kemoterapi sitostatik ini
dapat tunggal maupun kombinasi. Terkait dengan penanganan obat sitostatik perlu perhatian
khusus agar tidak berdampak buruk bagi keselamatan pasien atau petugas.

B. Penanganan dan Standard Kerja Sediaan Sitostatik


Penanganan sediaan sitostatika yang aman perlu dilakukan secara disiplin dan hati-hati
untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan, karena sebagian besar sediaan sitostatika
bersifat :
 Karsinogenik yang berarti dapat menyebabkan kanker.
 Mutagenik yang berarti dapat menyebabkan mutasi genetik.
 Teratogenik yang berarti dapat membahayakan janin
Kemungkinan pemaparan yang berulang terhadap sejumlah kecil obat-obat kanker akan
mempunyai efek karsinogenik, mutagenik dan teratogenik yang tertunda lama di terhadap
petugas yang menyiapkan dan memberikan obat obat ini. Risiko yang tidak diinginkan dapat
terjadi dalam transportasi, penyimpanan, pendistribusian, rekonstitusi dan pemberian
sediaan sitostatika.
Proses penyiapan sediaan sitostatik sama dengan proses penyiapan pencampuran obat
suntik. Proses pencampuran sediaan sitostatika menurut Direktorat Bina Farmasi Komunitas
dan Klinik (2009) memiliki tahapan sebagai berikut:
1. Memakai APD

2. Mencuci tangan sesuai prosedur


3. Menghidupkan biological safety cabinet (BSC) 5 menit sebelum digunakan.
4. Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC
5. Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas sediaan sitostatika.
6. Menyiapkan tempat buangan sampah khusus bekas sediaan sitostatika.
7. Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan menyemprot alkohol 70%.
8. Mengambil alat kesehatan dan bahan obat dari pass box.
9. Meletakkan alat kesehatan dan bahan obat yang akan dilarutkan di atas meja BSC.
10. Melakukan pencampuran sediaan sitostatika secara aseptis.
11. Memberi label yang sesuai pada setiap infus dan spuit yang sudah berisi sediaan
sitostatika
12. Membungkus dengan kantong hitam atau aluminium foil untuk obat-obat yang harus
terlindung cahaya.
13. Membuang semua bekas pencampuran obat kedalam wadah pembuangan khusus.
14. Memasukan infus untuk spuit yang telah berisi sediaan sitostatika ke dalam wadah untuk
pengiriman.
15. Mengeluarkan wadah untuk pengiriman yang telah berisi sediaan jadi melalui pass box.
16. Menanggalkan APD sesuai prosedur
C. Kanker Kolorektal
1. Definisi
Kanker kolorektal melibatkan kolon, rectum, dan anal anus. Penyakit ini
merupakan salah satu kanker yang paling umum pada orang dewasa yang merupakan
kanker penyebab kematian urutan ketiga di Amerika (Sukandar,2013).
2. Etiologi
Penyebab kanker kolorektal belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa
penelitian menunjukkan bahwa diet, faktor genetik, dan faktor disposisi lain dapat
berperan besar dalam perkembangan penyakit ini.
Faktor risiko dibagi menjadi 2 yakni faktor yang dapat dimodifikasi dan yang
tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifkasi antara lain inaktivitas, obesitas,
konsumsi tinggi daging merah, merokok, dan konsumsi alcohol sedang-sering sedangkan
faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain riwayat kanker kolorektal atau polip
adenoma individu dan keluarga serta riwayat individu penyakit inflamasi kronis pada
usus (KPKN, 2015).
3. Patofisiologi
Perkembangan suatu neoplasmakolorektal merupakan proses multitahap dari
perubahan genetic dan fenotip struktur dan fungsi epitel usus normal. Mutasi berurutan
di dalam epitel kolon berakibat pada replikasi selular atau peningkatan daya tembus.
Perubahan genetic termasuk aktovasi mutasi dari onkogen (K-ras dan N-ras) dan
inaktivasi gen superior tumor (contohnya APC, p53, DCC) (Sukandar, 2013).
4. Klasifikasi dan Stadium
Penentuan stadium kanker kolorektal pada saat diagnosis digunakan untuk
memprediksi prognosis dan perkembangan pengobatan. Stadium didasarkan pada ukuran
tumor primer (T1-4), keterlibatan kelenjar getah bening regional (N0-2), dan metastasis
jauh (M) sehingga staging akan dinilai berdasarkan T, N, dan M.
a. Stadium I
Melibatkan invasi tumor submukosa (T1) atau muscularis propia (T2) dan
kelenjar getah bening negative.
b. Stadium II
Melibatkan invasi tumor melalui muscularis propia pada jaringan perikolorektal
(T3), atau penetrasi ke visceral peritoneum (T4a), atau secara langsung
menyerang atau melekat pada organ atau struktur lain (T4b), dan kelenjar getah
bening negative.
c. Stadium III
Meliputi T1-4 dan kelenjar getah bening positive.
d. Stadium IV
Mencakup T,N, dan metastasis jauh
5. Gejala dan Tanda
Tanda dan gejala kanker kolorektal dapat sangat beragam, tidak jelas, serta non
spesifik. Pasien yang menderita kanker kolorektal tahap awal sering tanpa gejala. Tanda
yang paling umum adalah pendarahan rectum dan perubahan kebiasaan buang air besar
yang persisten akan tetapi setiap perubahan kebiasaan buang air besar dan
ketidaknyamanan pada perut tanpa sebab atau distensi perut dapat menjadi peringatan.
Kurang lebih 20% dari penderita kanker kolorektal memiliki penyakit metastasis yang
paling umum seperti liver, diikuti paru-paru kemudian tulang (Dipiro, 2015).

D. Algoritma Terapi
Penatalaksanaan rekomendasi terapi tergantung beberapa faktor seperti stadium kanker,
histopatologi kemungkinan efek samping, kondisi pasien dan praferensi pasien. Terapi
bedah merupakan modal utama untuk kanker stadium dini dengan tujuan kuratif.
Kemoterapi adalah pilihan pertama pada kanker stadium lanjut dengan tujuan paliatif.
Radioterapi merupakan salah satu modal utama terapi kanker rektum. Saat ini, terapi
biologis (targeted therapy) dengan antibodi monoklonal telah berkembang pesat dan dapat
diberikan dalam berbagai situasi klinis, baik sebagai obat tunggal maupun kombinasi dengan
modal terapi lainnya.
1. Terapi endoskopi
Dilakukan untuk polip kolorektal. Metode yang digunakan untuk polipektomi yang
bergantung pada ukuran, bentuk, dan tipe histopatologinya
2. Terapi bedah
Sebagian besar pasien kolorektal menjalani pembedahan
3. Terapi sistemik
- Kemoterapi untuk kanker ini dipertimbangkan berdasarkan stadium penyakit, risiko
kekambuhan, dan performance status. Dengan demikian, kemoterapi pada terapi kanker
kolorektal dapat dilakukan sebagai terapi adjuvan (direkomendasikan untuk kanker
kolorektal stadium III dan II yang memiliki risiko tinggi, neoadjuvan atau paliatif).
a. 5-Flurourasil (5-FU)
b. Leucovorin/Ca folinat
c. Capetabine
d. Oxaliplatin
e. Irinotecan
- Terapi biologis
a. Bevacizumab
b. Cetuximab
c. Ziv-aflibercept
d. Panitumumab, regorafenib, BIBF 1120, cediranib
- Regimen terapi
1. Kemoterapi tunggal :
a. Capecitabine 850-1250 mg/m2, 2 kali sehari, hari 1-14, setiap 3minggu x 24
minggu
b. 5-FU/leucovorine (Roswell Park, simplified, de grammont)
i. Roswell Park regimen: Leucovorin 500 mg/m2 IV selama 2 jam, hari 1, 8,
15, 22, 29, dan 36; 5-FU 500 mg/m2 bolus IV 1 jam setelah dimulai
leucovorin, hari 1, 8, 15, 22, 29 dan 36, diulang setiap 8 minggu.
ii. Simplified biweekly infusional: 5-FU/LV (sLV5FU2): Leucovorin 400
mg/m2 IV selama 2 jam pada hari 1, diikuti dengan 5-FU bolus /m2 dan
kemudian 1200 mg/m2/hari x 2 hari (total 2400 mg/m2 selama 46-48 jam)
infus continuous, diulang setiap 2 minggu.
iii. Mingguan: Leucovorin 20 mg/m2 IV selama 2 jam pada hari 1, 5- FU 500
mg/m2 bolus injeksi IV 1 jam setelah dimulai leucovorin, diulang setiap
minggu; 5-FU 2600 mg/m2 dalam infus 24 jam ditambah leucovorin 500
mg/m2 , diulang setiap minggu.
2. Kemoterapi doublet
a. mFOLFOX6
Oxaliplatin 85 mg/m2 IV selama 2 jam, hari ke-1
Leucovorin 400 mg/m2 IV selama 2 jam, hari ke-1
5-FU 400 mg/m2 IV bolus pada hari ke-1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2 hari
(total 2400 mg/m2 selama 46-48 jam) secara IV infus kontinyu, ulangi setiap 2
minggu.
b. CapeOX
Oxaliplatin 130 mg/m2 selama 2 jam, hari ke-1.
Capecitabine 1000 mg/m2, 2 kali sehari, per oral hari ke-1 sampai ke-14, ulangi
setiap 3 minggu x 24 minggu.
c. FOFIRI
a. Irinotecan 180 mg/m2 IV selama 30–90 menit, hari ke-1
b. Leucovorin 400 mg/m2 IV selama 2 jam, hari ke-15-FU 400 mg/m2 IV bolus
pada hari ke-1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2 hari (total 2400 mg/m2
selama 46-48 jam) secara IV infus kontinyu, ulangi setiap 2 minggu.
d. IROX
Oxaliplatin 85 mg/m2 IV selama 2 jam, diikuti irinotecan 200 mg/m2 selama 30
atau 90 menit setiap 3 minggu.
- Regimen kemoterapi dan targeted therapy
1. mFOLFOX6 + Bevacizumab
a. Oxaliplatin 85 mg/m2 IV selama 2 jam, hari ke-1
b. Leucovorin 400 mg/m2 IV selama 2 jam, hari ke-1
c. 5-FU 400 mg/m2 IV bolus pada hari ke-1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2 hari
(total 2400 mg/m2 selama 46-48 jam) secara IV infus kontinyu.
d. Bevacizumab 5 mg/kg IV, hari ke-1, ulangi setiap 2 minggu
2. mFOLFOX 6 + Panitumumab
a. Oxaliplatin 85 mg/m2 IV selama 2 jam, hari 1
b. Leucovorin 400 mg/m2 IV selama 2 jam, hari 15-FU 400 mg/m2 IV bolus pada
hari 1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2 hari (total 2400 mg/m2 selama 46-48
jam) infus IV continuous
c. Panitumumab 6 mg/kg IV selama 60 menit, hari 1, diulang setiap 2 minggu
3. CapeOX + Bevacizumab
a. Oxaliplatin 130 mg/m2 selama 2 jam, hari ke-1.
b. Capecitabine 850-1000 mg/m2, dua kali sehari, per oral selama 14 hari
c. Bevacizumab 7,5 mg/kg IV, hari ke-1, ulangi setiap 3 minggu.
4. FOLFIRI + Bevacizumab
a. Irinotecan 180 mg/m2 IV selama 30-90 menit, hari 1
b. Leucovorin 400 mg/m2 infus IV, durasi disesuaikan dengan infus
c. Irinotecan, 5-FU 400 mg/m2 bolus IV hari 1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2
hari (total 2400 mg/m2 selama 46-48 jam infus continuous
d. Bevacizumab 5 mg/kg IV, hari 1, diulang setiap 2 minggu
5. FOLFIRI + Cetuximab79 (KRAS/NRAS/BRAF wild type)
a. Irinotecan 180 mg/m2 IV selama 30–90 menit, hari ke-1
b. Leucovorin 400 mg/m2 IV selama 2 jam, hari ke-1
c. 5-FU 400 mg/m2 IV bolus pada hari ke-1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2 hari
(total 2400 mg/m2 selama 46-48 jam) secara IV infus kontinyu.
d. Cetuximab 500 mg/m2 IV selama 2 jam hari ke-1, ulangi setiap 2 minggu
6. FOLFIRI + Panitumumab
a. Irinotecan 180 mg/m2 IV selama 30-90 menit, hari 1.
b. Leucovorin 400 mg/m2, infus IV, durasi disesuaikan dengan infus
c. Irinotecan, 5-FU 400 mg/m2 bolus IV hari 1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2
hari (total 2400 mg/m2) selama 46-48 jam infus continuous.
d. Panitumumab 6 mg/kg IV, selama 60 menit, hari 1, diulang setiap 2 minggu.
7. FOLFIRI + ziv-aflibercept
a. Irinotecan 180 mg/m2 IV selama 30-90 menit, hari 1.
b. Leucovorin 400 mg/m2 infus IV, durasi disesuaikan dengan infus Irinotecan;
5-FU 400 mg/m2 bolus IV hari 1, kemudian 1200 mg/m2/hari x 2 hari (total
2400 mg/m2) selama 46-48 jam infus continuous
c. Ziv-aflibercept 4 mg/kg IV, diulang setiap 2 minggu.
8. Capecitabine + Bevacizumab
a. 850-1250 mg/m2 PO 2 x sehari, hari 1-14.
b. Bevacizumab 7,5 mg/kg IV, hari 1, diulang setiap 3 minggu.
9. Irinotecan
a. Irinotecan 125mg/m2 IV selama 30-90 menit, hari 1 dan 8. Diulang setiap 3
minggu.
b. Irinotecan 300-350 mg/m2 IV selama 30-90 menit, hari 1. Diulang setiap 3
minggu.
c. Cetuximab (hanya KRAS WT + irinotecan)
d. Cetuximab 400 mg/m2 infus pertama, selanjutnya 250 mg/m2 IV setiap
minggu
e. Atau Cetuximab 500 mg/m2 IV setiap 2 minggu
f. +/-
- Irinotecan 300-350 mg/m2 IV setiap 3 minggu
- Atau Irinotecan 180 mg/m2 IV setiap 2 minggu
- Atau Irinotecan 125 mg/m2 pada hari 1 dan 8, diulang setiap 3 minggu
- Regimen targeted therapy
1. Cetuximab (hanya KRAS WT)
a. Cetuximab 400 mg/m2 infus pertama, selanjutnya 250 mg/m2 IVsetiap minggu
b. Atau Cetuximab 500 mg/m2 selam 2 jam, hari 1, setiap 2 minggu
2. Panitumumab (hanya KRAS WT)Panitumumab 6 mg/kg IV selama 60 menit setiap 2
minggu
3. Regorafenib
Regorafenib 160 mg PO setiap hari, hari 1-21 Diulang setiap 28 hari
Algoritme terapi menurut Komite Penanggulangan Kanker Nasional adalah sebagai
berikut:
Sedangkan menurut NCCN (2016):
BAB III
PEMBAHASAN
A. Data Pasien
Nama Pasien : Ny. S
No RM : 681928
Umur/BB/TB : 41 th/64 kg/160 cm
LBP : 1,67 m2
Jenis Kelamin : Perempuan
Diagnosa : Ca. Colorectal
Seri ke :7
Siklus pemberian : 14 hari
Tanggal Kemoterapi : 19 Februari 2018
Obat : Erbitux 500/m2, Irinotecan 180/m2
Data Obyektif lain :
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Eritrosit 4,07 4,4-5,9
HB 1,3 12-16
Hematokrit 33 32-45
MCV 80,2 82-98
MPV 4,1 7-11

B. Kesesuaian Pemilihan Regimen


Catatan Pemberian Obat

Tanggal Nama Obat Dosis


Obat yang dibawa 19/02/2018 Ondansetron 8 mg 2x1
pulang Neurodex 2x1
Premedication 19/02/2018 Dexamethasone 2 Ampul
Diphenhidramin 2 Ampul
Ondansetron inj 8 mg 1 Ampul
Postmedication 19/02/2018 Ondansetron inj 8 mg 1 Ampul
Khemoterapi seri VII 19/02/2018 Erbitux 835 mg
Irinotecan 300,6 mg

Regimen kemoterapi yang diberikan Ny. S :


Nama Obat Dosis Dosis yang Rute Pemberian Pengulangan Siklus
Diberikan
Erbitux 500 mg /m2 835 mg IV infus
14 hari
2
Irinotecan 180 mg /m 300,6 mg IV infus

(Dipiro, 2015)
(NCCN, 2016)
Pemberian regiman dosis obat Ny. S yakni Erbitux 500/m2 dan Irinotecan 180/m2 sudah
sesuai dengan regimen dosis yang ada pada Dipiro (2015) dan NCCN (2016). Terapi
tersebut merupakan terapi sistemik kemoterapi berdasarkan target therapy yang digunakan
untuk KARS wild-type tumor. Pengobatan tersebut dilakukan setiap 2 minggu (14 hari).
Terapi premedication dengan dexamethasone dan 5-HT3 bloker direkomendasikan untuk
diberikan 30 menit sebelum pemberian terapi IV infus kemoterapi (Lacy, 2011). Adapun
menurut Komite Penanggulangan Kanker Nasional (2015), Erbitux (Cetuximab) mempunyai
efek emetogenik lemah sehingga pemberian dexamethasone 8 mg sudah cukup.
Diphenhydramine juga dapat diberikan untuk premedication karena dapat menurunkan
risiko Infusion Reaction (IRs) dari cetuximab seperti urticaria, respiratory distress, hypoxia,
hipotensi, dan angioedema (Touma, 2014). Diphenhydramine juga direkomendasikan
sebagai premedication I.V. 30-60 sebelum cetuximab diberikan (Lacy, 2011). Dengan
demikian, terapi premedication yang diberikan Ny. S dapat dikatakan sudah sesuai dengan
literatur.
Ondansetron juga diberikan sebagai obat pulang pasien juga digunakan untuk Highly atau
Moderately emetogenic agents yang biasanya digunakan secara terus-menerus setelah 1-2
hari kemoterapi (Lacy, 2011). Sedangkan neurodex diberikan sebagai suplemen vitamin B1,
B6, dan B12.

C. Informasi Obat
1. Irinotecan

Mekanisme kerja :Mengikat secara terbalik ke kompleks topoisomerase I- DNA


yang mencegah terjadinya relasi untai DNA yang membelah. Hal
ini menyebabkan akumulasi kompleks cleavable dan double-strand
DNA berhenti yang menyebabkan penghentian replikasi seluler.
Indikasi :Kanker kolorektal
Efek samping :Panas, diare, nyeri, insomnia, peningkatan air liur, kram perut,
dehidrasi, ketidakseimbangan
Interaksi :Agen antifungi (Azole Derivatives), atanazafir, bevacizumab
(DIH)
2. Erbitux (Cetuximab)

Mekanisme kerja :Mengikat secara khusus reseptor EGFR (epidermal growth factor
receptor), sehingga secara kompetitif menghambat pengikatan
faktor pertumbuhan epidermal (EGF) dan ligan lainnya. Hal
tersebut dapat menghambat pertumbuhan sel, menginduksi
apoptosis, dan menurunkan matriks metalloproteinase dan
proproduksi EGF vaskular
Indikasi :Terapi untuk pasien dengan epidermal growth receptor (EFGR)-
expressing, kanker kolorektal dengan metastatic dengan KARS
wild-type
Efek samping :Ruam, pusing, hipomagnesemia, lemas, demam, konstipasi, mual,
muntah, nyeri
Interaksi :Obat kemoterapi yang berbahan dasar platina, infus 5-fluorouracil
(DIH)
3. Ondansetron
Mekanisme kerja :Antagonis selektif reseptor 5-HT3, memblok serotonin
Indikasi :Penatalaksanaan mual dan muntah karena kemoterapi, radioterapi,
atau pasca operasi
Efek samping :Sakit kepala, konstipasi, rasa panas, dan kemerahan pada kepala
serta epigastrum, mengantuk, diare
Interaksi :Tramadol, rifampicin, aphomorphine (DIH)
4. Dexametason
Mekanisme kerja :Mengurangi peradangan dengan menekan migrasi neutrophil,
menurunkan produksi mediator inflamasi.
Indikasi :Anti inflamasi, eksaserbasi akut dari multiple sclerosis, profilaksis
dari mual muntah yang terkait dengan terapi kanker
Efek samping :Myopati, lemah otot, osteoporosis, tukak lambung, sakit kepala
Interaksi :Efektivitas berkurang dengan fenitoin, fenobarbital, rifampisin.
Kortikosteroid dapat menurunkan efek salisilat (DIH)
5. Diphenhidramin
Mekanisme kerja :Antagonis reseptor histamine H-1
Indikasi :Reaksi alergi, insomnia, batuk, mual muntah
Efek samping :Sedasi, kebingungan, efek anti kolinergik, takikardi, hipotensi,
palpitasi, konstipasi
Interaksi : Antikolinergik, MAOI, alcohol, depresan SSP

D. Perhitungan Dosis
Perhitungan BSA
Mosteller method
𝑇𝐵 (𝑐𝑚)𝑥 𝐵𝐵 (𝑘𝑔)
BSA (m2) = √ 3600

167 𝑐𝑚 𝑥 64 𝑘𝑔
BSA (m2) = √ = 1,68 m2
3600

Dubois Method
0, 725 0, 425
LPT (m2) = 0,00718 x (TB) (cm)) x (BB (kg))
= 0,00718 x (160 cm) 0, 725 x (64 kg) 0, 425
= 1,67 m2
1. Irinotecan
Dosis (NCCN, 2016):

Dosis yang diberikan: 180/m2 x 1,67 m2 = 300,6 mg IV dalam 30-90 menit, hari
pertama diulangi setiap 2 minggu (tepat dosis).
2. Erbitux (Cetuximab)
Dosis (DIH):

Dosis yang diberikan: 500/m2 x 1,67 m2 = 835mg IV dalam 60 menit, hari pertama
diulangi setiap 2 minggu (tepat dosis)
3. Ondansetron
Dosis (DIH):

Dosis yang diberikan:


Injeksi 8 mg 1 ampul (premedication dan postmedication) (tepat dosis)
Obat pulang 8 mg 2x 1 (tepat dosis)
4. Dexamethason`
Dosis (DIH):

Dosis yang diberikan:


Premedication dexamethasone injeksi 2 A (5 mg x 2 = 10 mg) (tepat dosis)
5. Diphenhidramine
Dosis (DIH):
I.M., I.V.: 10-50 mg per dose; single doses up to 100 mg may be used if needed; not to exceed
400 mg/day
Dosis yang diberikan:
Difenhidramin 10 mg/ml (1 ml) = premedication 2 Ampul (20 mg) (tepat dosis)

E. Kompatibilitas Cairan Infus


1. Irinotecan
Preparasi Irenotecan secara IV infus dapat dilarutkan dalam 250 – 500 ml pelarut
d5W/NS (Natrium Klorida) (DIH). Pada pencampuran sitostatik yang dilakukan,
irenotecan dilarutkan dalam 250 ml pelarut 0,9% NS.

2. Erbitux (Cetuximab)
Preparasi Erbitux secara IV infus dapat dilarutkan sesuai dengan volume yang
dibutuhkan hanya dalam 0,9% NS (Anonim, 2014). Pada pencampuran sitostatik yang
dilakukan, Erbitux dilarutkan dalam 250 ml pelarut 0,9% NS.

F. Perhitungan Konsentrasi Akhir


1. Irinotecan
Sediaan : 100 mg/5 ml, 40 mg/2 ml
Dosis yang Dibutuhkan : 300 mg
Perhitungan :
Irinotecan yang digunakan 40 mg/2 ml
40 𝑚𝑔 20 𝑚𝑔
(7 𝑥 𝑥 2𝑚𝑙 ) + (40 𝑚𝑔 𝑥 2 𝑚𝑙 ) = 7 vial + 1 ml
2 𝑚𝑙

280 mg + 20 mg = 7 vial + 1 ml
Cara Preparasi :
 Diambil 7 vial irinotecan 40 mg/2 ml dan dilarutkan dalam pelarut 0,9 % NS
250 ml
 Diambil 1 ml irinotecan 40 mg/2 ml kemudian dilarutkan dalam pelarut yang
sama (satu wadah infus)
 Dicampur sediaan
 Dibungkus dengan plastic hitam agar terlindung dari cahaya langsung
 Diberi etiket dan label sitotoksik
Konsentrasi Obat dalam Pelarut :
Volume total obat yang digunakan (V1) = (7 vial x 2 ml) + 1 ml
= 15 ml
Konsentrasi obat (M1) = 40 mg/2 ml
Volume setelah direkonstitusi (V2) = Volume pelarut + Volume total obat yang
= 250 ml + 15 ml
= 265 ml
Konsentrasi Obat setelah rekonstitusi =
V1 x M1 = V2 x M2
15 ml x 40 mg/2 ml = 265 ml x M2
M2 = 1,13 mg/ ml
2. Erbitux (Cetuximab)
Sediaan : 100 mg/20 ml
Dosis yang Dibutuhkan : 835 mg
Perhitungan :
Erbitux yang digunakan 100 mg/20 ml
100 𝑚𝑔 35 𝑚𝑔
(8 𝑥 𝑥 20 𝑚𝑙 ) + (100 𝑚𝑔 𝑥 20 𝑚𝑙 ) = 8 vial + 7 ml
20 𝑚𝑙

800 mg + 35 mg = 8 vial + 7 ml
Cara Preparasi :
 Diambil 8 vial Erbitux 100 mg/20 ml dan dilarutkan dalam pelarut 0,9 % NS
250 ml
 Diambil 7 ml Erbitux 100 mg/20 ml kemudian dilarutkan dalam pelarut yang
sama (satu wadah infus)
 Dicampur sediaan
 Diberi etiket dan label sitotoksik
Konsentrasi Obat dalam Pelarut :
Volume total obat yang digunakan (V1) = (8 vial x 20 ml) + 7 ml
= 167 ml
Konsentrasi obat (M1) = 100 mg/20 ml
Volume setelah direkonstitusi (V2) = Volume pelarut + Volume total obat yang
= 250 ml + 167 ml
= 417 ml
Konsentrasi Obat setelah rekonstitusi =
V1 x M1 = V2 x M2
167 ml x 100 mg/20 ml = 417 ml x M2
M2 = 2 mg/ ml

G. Stabilitas Penyimpanan

Pelarut Stabilitas setelah dicampur


Nama Obat Catatan khusus
yang cocok 2-8°C 20-25°C 15- 30 °C
Terlindung dari
cahaya langsung
Irinotecan NS/ D5W 48 jam 24 jam
dan tidak boleh
dibekukan
Erbitux Terlindung dari
NS 8 jam 12 jam
(Cetuximab) cahaya langsung
H. Cara Pemberian Obat
1. Irinotecan
Dosis dan cara pemberian (DIH):

Hitungan tetesan per menit :


𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐶𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛 (𝑚𝑙)𝑥 𝐹𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑇𝑒𝑡𝑒𝑠𝑎𝑛
Tetes per menit = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑎𝑛 (𝑗𝑎𝑚)𝑥 60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
265 𝑚𝑙 𝑥 20
Tetes per menit = = 59 𝑡𝑒𝑡𝑒𝑠/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
90 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

2. Erbitux (Cetuximab)
Dosis dan cara pemberian (DIH):

Hitungan tetesan per menit :


𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐶𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛 (𝑚𝑙)𝑥 𝐹𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑇𝑒𝑡𝑒𝑠𝑎𝑛
Tetes per menit = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑎𝑛 (𝑗𝑎𝑚)𝑥 60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
417 𝑚𝑙 𝑥 20
Tetes per menit = 60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 139 𝑡𝑒𝑡𝑒𝑠/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

I. Cara Penyiapan
Sebelum melakukan Handling Cytostatic, dilakukan pengkajian resep (meliputi
perhitungan dosis obat, regimen obat, pelarut, cara pemberian), penyiapan etiket, serta
menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan di Instalasi Rawat Inap. Kemudian di ruang khusus
(Handling Cytostatic) dilakukan hal-hal berikut:
1. Mencuci tangan sesuai prosedur;
2. Mamakai Alat Pelindung Diri (APD) sesuai presedur yang terdiri dari memakai baju
pelindung, sarung tangan dua lapis, double masker, pelindung kepala, kacamata
pelindung, dan memakai sepatu boot;
3. Mengambil peralatan dan bahan obat yang diperlukan dalam proses pencampuran
sitostatika melalui pass box;
4. Menyalakan BSC dengan menyalakan saklar kemudian di set untuk proses warming
up selama kurang lebih 3 menit lampu UV akan menyala dan mati secara otomatis
jika proses warming up telah selesai.
5. Kaca penutup dinaikan sampai batas tanda yang tersedia;
6. Dilakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC sesuai dengan prosedur;
7. Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas untuk pencampuran sitostatika, yang
berguna untuk mengurangi penyebaran apabila terjadi tumpahan dari sediaan
sitostatika;
8. Menyiapkan plastik hitam (wadah khusus pembuangan) yang digunakan untuk tempat
sampah bekas sediaan sitostatika.
9. Melakukan pencampuran sediaan sitostatik
a. Irinotecan
- Diambil vial Irenotecan 40 mg/ 2 ml sebanyak 7 vial.
- Semprot dan bersihkan karet vial dengan alkohol 70%.
- Semprot dan bersihkan bagian tutup pelarut NS 0,9% dengan alkohol 70%.
- Masukan 7 vial obat ke dalam pelarut NS 0,9% 250 ml, menggunakan alat
bantu. Mendapatkan 280 mg sementara yang dibutuhkan 300 mg.
- Tambahkan 20 mg yaitu sebanyak 1 ml dari vial penambahan.
- Campur sediaan hingga homogen dan semprot tutup pelarut NS dengan alcohol
70%.
- Lapisi botol infus dengan kantong plastik hitam untuk melindungi dari cahaya
langsung.
- Beri label yaitu tanggal, nama pasien, nama obat, nama pelarut dan cara
pemberian
- Masukkan dalam box.
b. Erbitux (Cetuximab)
- Diambil vial Erbitux 100 mg/ 20 ml sebanyak 8 vial.
- Semprot dan bersihkan karet vial dengan alkohol 70%.
- Semprot dan bersihkan bagian tutup pelarut NS 0,9% dengan alkohol 70%.
- Masukan 8 vial obat ke dalam pelarut NS 0,9% 250 ml, menggunakan alat
bantu. Mendapatkan 800 mg sementara yang dibutuhkan 835 mg.
- Tambahkan 35 mg yaitu sebanyak 7 ml dari vial penambahan.
- Campur sediaan hingga homogen dan semprot tutup pelarut NS dengan alcohol
70%.
- Beri label yaitu tanggal, nama pasien, nama obat, nama pelarut dan cara
pemberian
- Masukkan dalam box.
10. Membersihkan tempat pencampuran dengan alcohol 70%
11. Matikan BSC (lampu akan mati secara otomatis kurang lebih selama 1 menit)
12. Diletakkan peralatan dan obat yang sudah dicampur melalui pass box
13. Diambil obat dari pass box, APD dilepas
14. Petugas mengantarkan obat kanker tersebut ke bangsal dengan ketentuan memakai
APD berupa masker dan sarung tangan.

BAB IV
KESIMPULAN

1. Regimen terapi (Irinotecan dan Erbitux (Cetuximab)) yang diberikan kepada Ny. S di RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta sudah sesuai dengan literatur.
2. Pelarut yang digunakan untuk pencampuran obat (Irinotecan dan Erbitux (Cetuximab))
sudah sesuai yakni NS.
3. Irinotecan stabil disimpan selama 48 jam pada suhu 2-8°C dan 24 jam pada suhu 15-30
°C terlindung dari cahaya langsung dan tidak boleh dibekukan.
4. Erbitux (Cetuximab) stabil disimpan selama 8 jam pada suhu 2-8 °C dan 12 jam pada
suhu 20-25 °C terlindung dari cahaya langsung.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014, Summary of Product Characteristic,


www.medsafe.govt.nz/profs/Datasheet/e/Erbituxinf.pdf
Dipiro, Joseph T., et .al. 2015. Pharmacotheraphy Handbook, Ninth Edition. The Mc Graw Hill
Companies, Inc
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006, Pedoman Dasar Dispensing Sediaan
Steril, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2009, Pedoman Pencampuran Obat Suntik dan
Penanganan Sediaan Sitostatik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015, Panduan Penatalaksanaan Kanker Kolorektal,
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2017, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran
Kanker Kolorektal, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Lacy, C.F., et al, 2009, Drug Information Handbook 17th edition, American Pharmacist
Assosiation, Lexicomp, USA.
Lacy, C.F., et al, 2011, Drug Information Handbook 20th edition, American Pharmacist
Assosiation, Lexicomp, USA.
Sukandar, E.Y., dkk., 2013, Iso Farmakoterapi 2, Penerbit Ikatan Apoteker Indonesia, Jakarta.
Tatuhey, W.S., Nikijuluw, H., & Manaise, J., 2012, Karakteristik Kanker Kolorektal di RSUD dr
M Haulussy Ambon Periode Januari 2012 – Juni 2013, Molucca Medica, ISSN 1979-6358,
Vol 4.
Touma, W., Koro, S.S., Ley, J., Wildes, T.M., Michel, L., Tao, Y., & Adkins, D., 2014, Risk
Faktor for and Pre-Medications to Prevent Cetuximab-Induced Infusion Reaction in Patients
with Squamous Cell Carcinoma of the Head and Neck, HHS Public Access, 50 (9), 895-900.
HANDLING SITOSTATIKA
Colorectal Cancer

LAPORAN

Pembimbing: Istiqomah, S. Farm., Apt.

Disusun Oleh:
Nur Amalina Rozanah (Kel C/UUGM)

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
PERIODE OKTOBER-NOVEMBER
2018