Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. M DENGAN FRAKTUR


CLAVICULA DEXTRA
DI ORTOPEDI RSUD SLEMAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Medikal Bedah II
Dosen Pembimbing : Etik Pratiwi, M. Kep

Disusun Oleh :

Vienanda Anggita Sari

(2620152755/2C)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Keperawatan Medikal Bedah II yang berjudul “Fraktur Clavikula


Dextra” di Ortopedi RSUD Sleman, disusun untuk memenuhi tugas individu PKK
KMB II yang disahkan pada :

Hari :
Tanggal :
Tempat :

Praktikan,

(Vienanda Anggita Sari)

Mengetahui,
CI Lahan, Pembimbing Akademik,

(………………………) (…………………….)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dalam taraf
halusinasi menuju industrialisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan
mobilisasi masyarakat /mobilitas masyarakat yang meningkat otomatisasi
terjadi peningkatan penggunaan alat-alat transportasi /kendaraan bermotor
khususnya bagi masyarakat yang tinggal diperkotaan. Sehingga menambah
"kesemrawutan" arus lalu lintas. Arus lalu lintas yang tidak teratur dapat
meningkatkan kecenderungan terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor.
Kecelakaan tersebut sering kali menyebabkan cidera tulang atau disebut
fraktur.
Menurut Smeltzer (2001 : 2357) fraktur adalah terputusnya kontinuitas
tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Penanganan segera pada klien
yang dicurigai terjadinya fraktur adalah dengan mengimobilisasi bagian
fraktur adalah salah satu metode mobilisasi fraktur adalah fiksasi Interna
melalui operasi Orif (Smeltzer, 2001 : 2361). Penanganan tersebut dilakukan
untuk mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi umumnya oleh akibat
tiga fraktur utama yaitu penekanan lokal, traksi yang berlebihan dan infeksi
(Rasjad, 1998 : 363).
Peran perawat pada kasus fraktur meliputi sebagai pemberi asuhan
keperawatan langsung kepada klien yang mengalami fraktur, sebagai
pendidik memberikan pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi,
serta sebagai peneliti yaitu dimana perawat berupaya meneliti asuhan
keperawatan kepada klien fraktur melalui metode ilmiah.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas
pembuatan laporan harian.
2. Tujuan Khusus :
a. Untuk mengetahui definisi tentang penyakit Fraktur Clavikula.
b. Untuk mengetahui etiologi penyakit Fraktur Clavikula.
c. Untuk mengetahui manifestas klinis tentang penyakit Fraktur
Clavikula.
d. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit Fraktur Clavikula.
e. Untuk mengetahui pathway penyakit Fraktur Clavikula.
f. Untuk mengetahui komplikasi penyakit Fraktur Clavikula.
g. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang penyakit Fraktur
Clavikula.
h. Untuk mengetahui penaktalaksanaan penyakit Fraktur Clavikula.
i. Untuk melakukan Asuhan Keperawatan penyakit Fraktur
Clavikula.
j. Untuk mengetahui diagnosa dan intervensi penyakit Fraktur
Clavikula.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves
C.J,Roux G & Lockhart R, 2001).
Menurut Suddarth (2002) fraktur adalah diskontiunitas jaringan tulang
yang banyak disebabkan karena kekerasan yang mendadak atau tidak atau
kecelakaan.
Clavikula (tulang selangka) adalah tulang menonjol di kedua sisi di bagian
depan bahu dan atas dada. Dalam anatomi manusia, tulang selangka atau
clavicula adalah tulang yang membentuk bahu dan menghubungkan lengan
atas pada batang tubuh. serta memberikan perlindungan kepada penting yang
mendasari pembuluh darah dan saraf. Tulang clavicula merupakan tumpuan
beban dari tangan, sehingga jika terdapat beban berlebih akan menyebabkan
beban tulang clavicula berlebih, hal ini bias menyebabkan terputusnta
kontinuitas tulang tersebut (Dokterbujang, 2012).
Fraktur clavicula merupakan 5% dari semua fraktur sehingga tidak jarang
terjadi. Fraktur clavicula juga merupakan cedera umum di bidang olahraga
seperti seni bela diri, menunggang kuda dan balap motor melalui mekanisme
langsung maupun tidak langsung. Tidak menutup kemungkinan fraktur
clavicula yang terjadi disertai dengan trauma yang lain, karena letaknya yang
berdekatan dengan leher, setiap kejadian fraktur clavicula harus dilakukan
pemeriksaan cervical. Fraktur clavicula biasa bersifat terbuka atau tertutup,
tergantung dari mekanisme terjadinya (Dokterbujang, 2012).
Fraktur clavikula merupakan cedera yang sering terjadi akibat jatuh atau
hantaman langsung ke bahu. Lebih dari 80% fraktur ini terjadi pada sepertiga
tengah atau proksimal clavikula (Putra, 2013).
B. Etiologi
Penyebab farktur clavicula biasanya disebabkan oleh trauma pada bahu
akibat kecelakaan apakah itu karena jatuh atau kecelakaan kendaraan
bermotor, namun kadang dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non
traumatik. Berikut beberapa penyebab pada fraktur clavicula yaitu :
1. Fraktur clavicula pada bayi baru lahir akibat tekanan pada bahu oleh
simphisis pubis selama proses melahirkan.
2. Fraktur clavicula akibat kecelakaan termasuk kecelakaan kendaraan
bermotor, jatuh dari ketinggian dan yang lainnya.
3. Fraktur clavicula akibat kompresi pada bahu dalam jangka waktu lama,
misalnya pada pelajar yang menggunakan tas yang terlalu berat.
4. Fraktur clavicula akibat proses patologik, misalnya pada pasien post
radioterapi, keganasan clan lain-lain.

C. Manifestasi Klinis
Kemungkinan akan mengalami sakit, nyeri, pembengkakan, memar, atau
benjolan pada daerah bahu atau dada atas. Tulang dapat menyodok melalui
kulit, tidak terlihat normal. Bahu dan lengan bisa terasa lemah, mati rasa, dan
kesemutan. Pergerakan bahu dan lengan juga akan terasa susah. Anda
mungkin perlu untuk membantu pergerakan lengan dengan tangan yang lain
untuk mengurangi rasa sakit atau ketika ingin menggerakan (Medianers,
2011).

D. Patofisiologi
Patah Tulang selangka ( Fraktur klavikula) umumnya disebabkan oleh
cedera atau trauma. Hal ini biasanya terjadi ketika jatuh sementara posisi
tangan ketika terbentur terentang atau mendarat di bahu. Sebuah pukulan
langsung ke bahu juga dapat menyebabkan patah tulang selangka / fraktur
klavikula.
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma
gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan
metabolic, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang
terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan
pendarahan, maka volume darah menurun. COP (Cardiac Out Put) menurun
maka terjadi peubahan perfusi jaringan. Hematoma akan mengeksudasi
plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka penumpukan di dalam tubuh.
Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat
menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai
tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak
sehingga mobilitas fisik terganggau. Disamping itu fraktur terbuka dapat
mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan
kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur
terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan
gangguan rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga
akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga
mobilitas fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai
jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan
udara luar. Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan
dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang
telah dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh. (Sylvia, 1995 :
1183, dalam keperawatansite, 2013).
E. Pathway

Benturan Bahu kanan

Trauma akibat diselerasi/


akselerasi

Jaringan tertekan

Fraktur

Operasi

Post Operasi

Adanya Luka

Nyeri Akut Kerusakan Motorik

Penurunan Kerusakan dan


ketahanan Otot

Gangguan Mobilitas
Fisik
F. Komplikasi
1. Komplikasi Akut:
a. Cedera pembuluh darah
b. Pneumouthorax
c. Haemotorax
2. Komplikasi Lambat:
a. Mal Union: Proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi
dalam waktu semestinya namun tidak dengan bentuk aslinya atau
abnormal.
b. Non Union : Kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai 6
bulan.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. CT scan
Sebuah mesin CT scan khusus menggunakan komputer untuk
mengambil gambar dari klavikula Pasien. Pasien mungkin akan diberi
pewarna sebelum gambar diambil. Pewarna biasanya diberikan dalam
pembuluh darah Pasien (Intra Vena). Pewarna ini dapat membantu
petugas melihat foto yang lebih baik. Orang yang alergi terhadap yodium
atau kerang (lobster, kepiting, atau udang) mungkin alergi terhadap
beberapa pewarna. Beritahu petugas jika Pasien alergi terhadap kerang,
atau memiliki alergi atau kondisi medis lainnya.
2. Magnetic resonance imaging scan/ MRI
MRI menggunakan gelombang magnetik untuk mengambil gambar
tulang selangka/ klavikula, tulang dada, dan daerah bahu. Selama MRI,
gambar diambil dari tulang, otot, sendi, atau pembuluh darah. Pasien
perlu berbaring diam selama MRI.
3. X-ray
X-ray digunakan untuk memeriksa patah tulang atau masalah lain.
X-ray dari kedua klavikula Pasien terluka dan terluka dapat diambil.
H. Penatalaksanaan
Pengobatan akan sangat tergantung pada kerusakan dan jenis fraktur yang
terjadi. Kebanyakan klavikula patah sembuh dengan sendiri, hal yang dapat
membantu menyembuhkannya adalah istirahat dan melakukan latihan khusus.
Hal ini sangat penting untuk menjaga lengan dari bergerak untuk
memungkinkan klavikula untuk sembuh total atau perlu salah satu dari
tindakan dibawah berikut:
1. Obat-obatan
Obat-obatan dapat diberikan untuk meringankan rasa sakit. Obat
antibiotik atau suntikan tetanus mungkin diperlukan jika terdapat luka
robek di kulit.
2. Sling atau selempang
Ada beberapa jenis sling yang dapat digunakan untuk mencegah
klavikula patah dari kerusakan lebih lanjut. Sling di ikatkan di lengan dan
digantungkan ke leher untuk kenyamanan dan keamanan.
3. Terapi pendukung
Paket es dapat ditempatkan pada klavikula yang patah untuk mengurangi
pembengkakan, nyeri, dan kemerahan. Latihan yang meningkatkan
jangkauan gerak dapat dilakukan setelah rasa sakit berkurang. Hal ini
membantu untuk membawa kembali kekuatan dan kekuatan bahu dan
lengan.
4. Pembedahan
Mungkin memerlukan pembedahan untuk mengembalikan tulang
kembali ke posisi normal jika patah/ fraktur parah. Pembedahan juga
mungkin diperlukan untuk memperbaiki klavikula yang menonjol keluar
keluar melalui kulit. Pemasangan Plate screw / pen dapat digunakan
untuk menahan tulang lebih stabil. Masalah lebih lanjut, seperti cedera
pada saraf atau pembuluh darah juga dapat diobati dengan operasi.
I. Asuhan Keperawatan
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, alamat,
penanggung jawab dan hubungan dengan klien.
2. Keluhan utama
Tanyakan pada klien keluhan apa yang dirasakan klien pada saat ini
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan bagaimana terjadi kecelakaan,apa yang menyebabkan
kecelakaan, patah tulang
b. Riwayat kesehatan dahulu
Adakah dalam klien pernah mengalami trauma/fraktur sebelumnya
c. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah didalam keluarga yang pernah mengalami trauma atau
fraktur seperti klien atau penyakit yang berhubungan dengan tulang
lainnya.
4. Aktivitas istirahat
Adakah kehilangan fungsi pada bagian yang terkena/fraktur keterbatasan
imobilitas
5. Sirkulasi
a. Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri. Ansietas)
b. Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah ) tachikardi, crt,
lambat, pucat bagian yang terkena.
6. Neurosensori
Adanya kesemutan, deformitas, krepitasi, pemendekkan, kelemahan.
7. Kenyamanan
Nyeri tiba-tiba saat cedera, spasma/ kram otot.
8. Keamanan
Leserasi kulit, pendarahan, perubahan warna, pembengkakkan lokal
J. Diagnosa dan Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
Intervensi:
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif yang meliputi
karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau
beratnya nyeri dan faktor pencetus.
b. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi (teknik nafas dalam)
c. Berikan informasi yang akurat untuk meningkatkan pengetahuan dan
respon keluarga terhadap pengalaman nyeri.
d. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
2. Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot
Intervensi :
a. Kaji derajat mobilitas yang dihasilkan oleh cedera
b. Instruksikan pasien untuk / bantu dalam rentang gerak pasien / aktif
pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.
c. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Penatalaksanaan Patah Tulang Selangka.


http://medianers.blogspot.com/2011/09/penatalaksanaan-patah-tulang-
selangka.html. Diakses 27 Juli 2017.
Anonim. 2012. Fraktur Klavikula.
http://dokterbujang.wordpress.com/2012/09/08/fraktur-klavikula/. Diakses
27 Juli 2017.
Anonim. 2013. Askep Post Fraktur Klavikula.
http://keperawatansite.blogspot.com/2013/06/askep-post-fraktur-
klavikula.html. Diakses 27 Juli 2017.
Difayana, Aditya. 2013. Laporan Pendahuluan Fraktur.
http://adityadifayana.blogspot.com/2013/01/laporan-pendahuluan-
fraktur.html. Diakses 27 Juli 2017.
Putra, Yongke. 2013. Askep Fraktur Clavicula. http://yongke-
putra.blogspot.com/2013/09/askep-fraktur-clavicula.html. Diakses 27 Juli
2017.
Rasjad, Chairudin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Jakarta: PT.
Watapone (anggota IKAPI).
.