Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran lokasi penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Doris Sylvanus merupakan rumah sakit milik

Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah yang memiliki kapasitas 210 tempat tidur

dan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari diatur dengan Peraturan Daerah

Propinsi Kalimantan Tengah Nomor 11 Tahun 1999. Untuk melaksanakan

tugasnya Rumah Sakit mempunyai fungsi menyelenggarakan pelayanan medis,

menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis, menyelenggarakan

pengembangan dan penelitian, menyelenggarakan administrasi umum dan

keuangan organisasi Rumah Sakit.

Lokasi penelitian dilakukan di ruang kebidanan RSUD Doris Sylvanus

tepatnya di Ruang C, sedangkan untuk pengambilan data dilakukan di Ruang

Rekam Medik RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya.

B. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Ruang Kebidanan RSUD

d. Doris Sylvanus Palangka Raya pada bulan Januari 2018 sampai bulan Desember

2018 dengan mengumpulkan data sekunder dengan menggunakan daftar isian

tabel, kemudian data tersebut diolah, maka didapatkan hasil penelitian yang

27
28

ditampilkan dalam bentuk tabel. Sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan

diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Usia Ibu

Gambaran usia ibu yang mengalami kejadian perdarahan post partum

berdasarkan umur dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4. 1 Distribusi berdasarkan usia


No Kategori Frequensi Persen %
1 <20 tahun 7 16,3
2 20-35 tahun 28 65,1
3 >35 tahun 8 18,6
Total 43 100.0

Berdasarkan data pada tabel 4.1 telah didapatkan usia ibu ialah <20 tahun 7

orang (16,3%), multigravida 28 orang (65,1%) dan grandemultigravida 8 orang

(18,6%).

2. Paritas

Gambaran paritas ibu yang mengalami kejadian perdarahan post partum

berdasarkan paritas dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4.2 Distribusi berdasarkan Paritas


No Paritas Frequensi Persen %
1 Primigravida 13 30,2
2 Multigravida 27 62,8
3 Grandemultigravida 3 7
Total 43 100.0
29

Berdasarkan data pada tabel 4.2 telah didapatkan paritas ibu ialah

primigravida 13 orang (30,2%), multigravida 27 orang (62,8%) dan

grandemultigravida 3 orang (7%).

3. Kadar Hb
Gambaran kadar Hb ibu yang mengalami kejadian perdarahan post partum

di Ruang Kebidanan RSUD dr. Doris Sylvanus berdasarkan kadar Hb dapat

dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4.3 Distribusi responden berdasarkan Kadar Hb


No Kadar Hb Frequensi Persen %
1 <11 gr/dl
25 58,1
2 >11 gr/dl
18 41,9

Total 43 100.0
Berdasarkan data pada tabel 4.3 telah didapatkan kadar Hb ibu ialah

<11 gr/dl ada 25 orang (58,1%) dan >11 gr/dl ada 18 orang (41,9%).

4. Spasing (Jarak Kehamilan)

Gambaran spasing/jarak kehamilan ibu yang mengalami kejadian

perdarahan post partum di Ruang Kebidanan RSUD dr. Doris Sylvanus

berdasarkan spasing dapat dilihat dari tabel dibawah ini:


30

Tabel 4.4 Distribusi responden berdasarkan Spasing


No Spasing Frequensi Persen %
1 <2 tahun
1 2,3
2 >2 tahun
29 67,4
3 Tidak ada
13 30,2

Total 43 100.0
Berdasarkan data pada tabel 4.5 telah didapatkan spasing yaitu <2 tahun

terdapat 1 orang (2,3%), >2 tahun terdapat 29 orang (67,4%), dan yang

tergolong mempunyai anak pertama (primigravida) terdapat 13 orang

(30,2%).

5. Jenis Persalinan
Gambaran jenis persalinan ibu yang mengalami kejadian perdarahan post

partum di Ruang Kebidanan RSUD dr. Doris Sylvanus berdasarkan spasing

dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4.6 Distribusi responden berdasarkan Jenis Persalinan


No Jenis Persalinan Frequensi Persen %
1 P. dengan Tindakan
21 48,8
2 P. Spontan PV
22 51,2

Total 43 100,0
Berdasarkan Data pada tabel 4.5 telah didapatkan jenis persalinan ibu

yaitu persalinan dengan tindakan sebanyak 21 Orang (48,8%) dan persalinan

spontan per vaginam 22 orang (51,2%).


6. Penolong Persalinan
31

Gambaran penolong persalinan ibu yang mengalami kejadian perdarahan

post partum di Ruang Kebidanan RSUD dr. Doris Sylvanus berdasarkan

spasing dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4.6 Distribusi responden berdasarkan Penolong Persalinan


No Penolong Persalinan Frequensi Persen %
1 Nakes
42 97,7
2 Non Nakes
1 2,3

Total 43 100,0
Berdasarkan Data pada tabel 4.6 telah didapatkan penolong persalinan

ibu yaitu nakes sebanyak 42 Orang (97,7%) dan non nakes 1 orang (2,3%).
7. Penyulit/Penyakit selama Kehamilan
Gambaran penyulit/penyakit selama kehamilan ibu yang mengalami

kejadian perdarahan post partum di Ruang Kebidanan RSUD dr. Doris

Sylvanus berdasarkan spasing dapat dilihat dari tabel dibawah ini:


32

Tabel 4.7 Distribusi berdasarkan Penyulit/Penyakit selama Kehamilan


Penyulit/Penyakit Selama
No Frequensi Persen %
Kehamilan
1 Anemia 4 9
2 HT 2 5
3 Gemeli 1 2
4 IUFD 2 5
5 KPD 1 2
6 BO/CPD 2 5
7 Oligohidramnion 2 5
8 PEB 7 16
9 Serotinus 3 7
10 Tidak ada 17 40
Total 43 100,0
Berdasarkan Data pada tabel 4.7 telah didapatkan penyulit/penyakit

selama kehamilan ibu yaitu anemia sebanyak 4 Orang (14,7%), HT sebanyak

2 orang (5%), gemeli sebanyak 1 orang (2%), IUFD sebanyak 2 orang (5%),

KPD sebanyak 1 orang (2%), BO/CPD sebanyak 2 orang (5%),

Oligohidramnion sebanyak 2 orang (5%), PEB sebanyak 7 orang (16%),

serotinus 3 orang (7%), dan tidak mempunyai penyulit sebanyak 17 orang

(40%).

8. Penyebab
Gambaran penyebab ibu yang mengalami kejadian perdarahan post

partum di Ruang Kebidanan RSUD dr. Doris Sylvanus berdasarkan spasing

dapat dilihat dari tabel dibawah ini:


33

Tabel 4.7 Distribusi berdasarkan Penyebab


No Penyebab Frequensi Persen %
1 Atonia Uteri 17 39,5
2 Laserasi Jalan Lahir 8 18,6
3 Plasenta Previa 3 7
4 Retensio Plasenta 3 7
5 Ruptur Uteri 2 4,7
6 Sisa Plasenta 6 14
7 Inversio Uteri 1 2,3
8 Tidak ada 3 7
Total 43 100,0
Berdasarkan Data pada tabel 4.8 telah didapatkan penyebab

perdarahan post partum pada ibu yaitu atonia uteri sebanyak 17 Orang

(39,5%), laserasi jalan lahir sebanyak 8 Orang (18,6%), plasenta previa

sebanyak 3 Orang (7%), retensio plasenta sebanyak 3 Orang (7%), rupture

uteri sebanyak 2 Orang (4,7%), sisa plasenta sebanyak 6 Orang (14%),

inversion uteri sebanyak 1 Orang (2,3%), dan yang tidak mengalami

perdarahan sebanyak 3 orang (7%).


9. Kondisi Ibu
Gambaran kondisi ibu yang mengalami kejadian perdarahan post

partum di Ruang Kebidanan RSUD dr. Doris Sylvanus berdasarkan spasing

dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4.9 Distribusi berdasarkan Kondisi Ibu


No Penyebab Frequensi Persen %
1 Tertangani 42 97,7
2 Tidak Tertangani 1 2,3
Total 43 100,0
34

Berdasarkan Data pada tabel 4.9 telah didapatkan kondisi ibu yang

tertangani dari kejadian perdarahan post partum sebanyak 42 orang (97,7%)

dan yang tidak tertangani sebanyak 1 orang (2,3%).

C. Pembahasan

1. Usia Ibu

Gambaran usia ibu berdasarkan data yang telah didapatkan dari

responden berjumlah 43 orang didapatkan usia ibu ialah <20 tahun 7 orang

(16,3%), multigravida 28 orang (65,1%) dan grandemultigravida 8 orang

(18,6%).

Hal ini sejalan dengan penelitian Vina Anggrani (2013) yang

menunjukan hubungan usia dengan kejadian perdarahan post partum. Dapat

disimpulkan bahwa ibu yang mengalami perdarahan post partum rata-rata

berusia antara 20-35 tahun. Yang berarti usia tidak menjadi factor langsung

penyebab terjadinya perdarahan post partum.

Dalam penelitian (Karlin dkk 2016) ditulis bahwa Umur merupakan

salah satu faktor penting yang ikut menentukan prognosa kehamilan. Secara

global komplikasi kehamilan dan persalinan merupakan penyebab kedua

kematian pada wanita di usia 15 sampai 19 tahun. Kematian maternal pada

wanita hamil dan melahirkan di usia di bawah 20 tahun diperkirakan 2-5 kali

lebih tinggi dari pada di usia 20 sampai 29 tahun dan meningkat kembali di usia
35

30-35 tahun dan Sekitar 20-30% wanita yang berusia dibawah 20 tahun

terutama pada primipara berisiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan

lahir rendah (BBLR) serta mengalami malformasi janin yang merupakan

penyebab kematian perinatal juga kejadian perdarahan post partum.

2. Paritas

Gambaran paritas ibu ialah primigravida 13 orang (30,2%), multigravida

27 orang (62,8%) dan grandemultigravida 3 orang (7%). Berdasarkan penelitian

yang didapatkan sesuai dengan penelitian Febti Kuswanti (2016) yang

menyatakan bahwa paritas beresiko seperti primipara dan grandemultipara

mempunyai resiko yang besar untuk terjadi perdarahan post partum. Hal ini

terjadi disebabkan oleh atonia uteri yang merupakan dampak dari paritas

beresiko.

Sesuai dengan teori Winkjosastro (2010) yang menyatakan bahwa pada

paritas sedang, sudah masuk kategori rawan terutama pada kasus-kasus

obstetric yang jelek, serta interval kehamilan yang terlalu dekat <2 tahun.

Paritas tinggi merupakan paritas rawan oleh karena paritas tinggi banyak

kejadian-kejadian obstetric patologi yang bersumber pada paritas tinggi, antara

lain plasenta previa, perdarahan post partum, dan lebih memungkinkan lagi

terjadinya atonia uteri.

3. Kadar Hb
36

Gambaran kadar Hb ibu yang didapat dari hasil penelitian ialah <11 gr/dl

ada 25 orang (58,1%) dan >11 gr/dl ada 18 orang (41,9%). Hampir sebagian

besar ibu yang mengalami perdarahan post partum termasuk dalam kategori

anemia.

Anemia merupakan kadar Hb yang rendah sehingga hal ini dapat

mempengaruhi keadaan system maternal untuk memindahkan nutrisi pada

janin. Bukan hanya itu namun juga anemia merupakan salah satu factor

terjadinya perdarahan post partum seperti atonia uteri. Atonia uteri terjadi

karena kontraksi serat myometrium terutama saat berada di sekitar pembuluh

darah yang mensuplai darah pada tempat perlekatan plasenta tidak dapat

berkontraksi dengan baik. (Franser, 2009)

Angka kejadian anemia dalam kehamilan di Indonesia yaitu 46% tergolong

cukup besar sehingga dikhawatirkan dapat meningkatkan angka kejadian

perdarahan postpartum. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) pada tahun

2010 menunjukkan bahwa ibu hamil yang terkena anemia mencapai 40%-50%.

(Riskesdas tahun 2010)

4. Spasing

Gambaran spasing pada ibu yang mengalami kejadian perdarahan post

partum pada Januari 2018-Desember 2018 yaitu <2 tahun terdapat 1 orang

(2,3%), >2 tahun terdapat 29 orang (67,4%), dan yang tergolong mempunyai

anak pertama (primigravida) terdapat 13 orang (30,2%).


37

Sesuai dengan teori yaitu jarak kehamilan adalah jarak interval waktu antara

dua kehamilan yang berurutan dari seorang wanita. Jarak kehamilan yang pendek

secara langsung akan memberikan efek pada kesehatan wanita maupun janin

yang dikandung. Wanita setelah melahirkan membutuhkan waktu 2 sampai 3

tahun untuk memulihkan tubuhnya dan mempersiapkan diri untuk kehamilan dan

persalinan selanjutnya. Bila jarak kehamilan terlalu dekat maka cenderung

menimbulkan kerusakan pada sistem reproduksi wanita baik secara fisiologis

ataupun patologis sehingga memberi kemungkinan terjadi anemia pada ibu

bahkan sampai dapat menimbulkan kematian (Sawitri dkk, 2014).

5. Jenis Persalinan

Gambaran jenis persalinan ibu yaitu persalinan dengan tindakan

sebanyak 21 Orang (48,8%) dan persalinan spontan per vaginam 22 orang

(51,2%).

Menurut penelitian Fika Nurul (2017), sebagian besar ibu yang

mengalami perdarahan post partum adalah pada ibu dengan persalinan tanpa

tindakan. Persalinan tindakan merupakan salah satu factor resiko terjadinya

perdarahan post partum. Persalinan tindakan pervaginam seperti dengan vakum,

forsep, sedangkan tindakan per abdominal adalah SC. Tindakan pada persalinan

baik vaginam atau abdominal dapat menyebabkan trauma baik pada ibu

maupun pada bayinya. (Manuaba,2008).


38

Perdarahan post partum merupakan penyebab utama kematian ibu

(40%-60% dari kematian ibu di Indonesia). Insiden dari perdarahan post partum

berkisar 10%-15%, yaitu 4% setelah persalinan pervaginam dan 6-8% setelah

persalinan dengan bedah sesar (Norwitz, 2008).

6. Penolong Persalinan

Gambaran penolong persalinan pada penelitian ini ialah oleh nakes sebanyak 42

Orang (97,7%) dan non nakes 1 orang (2,3%). Penolong persalinan merupakan

factor penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses persalinan. Persalinan akan

aman dan lancar jika dilaksanakan oleh tenaga terlatih. Pembagian tenaga

kesehatan di Indonesia dibagi menjadi tenaga professional (dokter SpOG, dokter

umum, bidan dan perawat kesehatan) serta tenaga non professional (dukun bayi

terlatih dan tidak terlatih (Amalia 2012).

Peningkatan cakupan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan yang terampil

dengan pelaksanaan program kemitraan bidan-paraji dan manajemen aktif kala

III persalinan sangat penting untuk pencegahan perdarahan post partum

Pelaksanaan manajemen aktif kala III persalinan oleh tenaga kesehatan dapat

menurunkan resiko perdarahan post partum sebesar 52% dengan kata lain tidak

dilakukannya manajemen aktif kala III persalinan dapat meningkatkan resiko

perdarahan post partum pada ibu 2,08 kali lebih besar. (Sosa et al, 2009).

7. Penyulit/Penyakit selama Kehamilan


39

Gambaran penyulit/penyakit selama kehamilan yaitu anemia sebanyak 4

Orang (14,7%), HT sebanyak 2 orang (5%), gemeli sebanyak 1 orang (2%),

IUFD sebanyak 2 orang (5%), KPD sebanyak 1 orang (2%), BO/CPD sebanyak

2 orang (5%), Oligohidramnion sebanyak 2 orang (5%), PEB sebanyak 7 orang

(16%), serotinus 3 orang (7%), dan tidak mempunyai penyulit sebanyak 17

orang (40%).

Penyulit/penyakit selama kehamilan ini memiliki pengaruh terhadap

terjadinya perdarahan post partum seperti kehamilan gemeli yang menyebabkan

distensi uterus yang berlebihan sehingga uterus melewati batas toleransinya

yang menyebabkan bisa terjadinya inersia uteri. Selain itu bila ibu mempunyai

riwayat IUFD ataupun abortus juga akan berpengaruh pada terjadinya

perdarahan post partum seperti gangguan koagulasi (Thrombin). (Maurren,

2008). Penyakit yang pernah diderita ibu seperti riwayat hipertensi yang

beresiko dapat menyebabkan ibu mengalami pre eklampsia/eklampsia saat

proses persalinan dan terjadinya perdarahan, penyakit jantung, diabetes serta

penyakit penyerta lainnya (Manuaba, 2008)

8. Penyebab

Gambaran penyebab perdarahan post partum pada ibu yaitu atonia uteri

sebanyak 17 Orang (39,5%), laserasi jalan lahir sebanyak 8 Orang (18,6%),

plasenta previa sebanyak 3 Orang (7%), retensio plasenta sebanyak 3 Orang

(7%), rupture uteri sebanyak 2 Orang (4,7%), sisa plasenta sebanyak 6 Orang
40

(14%), inversion uteri sebanyak 1 Orang (2,3%), dan yang tidak mengalami

perdarahan sebanyak 3 orang (7%).

Banyak faktor yang dapat menyebabkan perdarahan post partum, antara

lain 4T : Tone Dimished : Atonia uteri suatu keadaan dimana uterus tidak

mampu untuk berkontraksi dengan baik dan mengecil sesudah janin keluar dari

rahim. Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum ; Tissue

(Retensio plasenta, Sisa plasenta, Plasenta acreta dan variasinya), Sisa plasenta

yang tertinggal merupakan penyebab 20 - 25 % dari kasus perdarahan

postpartum; Trauma : Sekitar 20% kasus perdarahan postpartum disebabkan

oleh trauma jalan lahir akibat : Ruptur uterus, Inversi uterus, Perlukaan jalan

lahir, Vaginal hematom. Kelainan tersebut dapat menyebabkan keadaan gawat

dengan angka kematian tinggi ( 15 - 70 % ); serta Thrombin : Kelainan

pembekuan darah. Gejala-gejala kelainan pembekuan darah bisa berupa

penyakit keturunan ataupun didapat, kelainan pembekuan darah bisa berupa :

Hipofibrinogenemia, Trombocitopeni, Idiopathic thrombocytopenic purpura,

HELLP syndrome (hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelet count).

Insidensi perdarahan postpartum pada negara maju sekitar 5% dari persalinan,

sedangkan pada Negara berkembang bisa mencapai 28% dari persalinan dan

menjadi masalah utama dalam kematian ibu. Penyebabnya 90% dari atonia

uteri, 7% robekan jalin lahir, sisanya dikarenakan retensio plasenta dan

gangguan pembekuan darah (Ambar Dwi, 2010)

9. Kondisi Ibu
41

Gambaran ibu yang tertangani dari kejadian perdarahan post partum pada

bulan Januari 2018 sampai dengan Desember 2018 sebanyak 42 orang (97,7%)

dan 1 orang (2,3%) tidak tertangani. Meskipun hal ini terlihat cukup baik, namun

perhatian juga tingkat kewaspadaan para tenaga kesehatan perlu ditingkatkan

agar tingkat kematian ibu dapat diminimalisir.

Hal ini bisa menjadi perbandingan pada tahun 2017 sebanyak 16 ibu (88%)

dari 18 orang. Sedangkan pada tahun 2018 sampai dengan bulan September ibu

yang dapat tertangani (selamat) adalah sebanyak 31 ibu (91%) dari 34 orang

(Register Ruang Kebidanan Tahun 2017-2018).