Anda di halaman 1dari 19

Laporan Kasus Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin

RS Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto Kramatjati Jakarta

Periode Kepaniteraan : tgl 6 Agt - 8 Sep 2018


Tanggal Pemeriksaan : 29 Agustus 2018
I. IDENTITAS Fakultas Kedokteran : Yarsi
a. No. Rekam Medis (RM) : 830269 Nama/NPM : Dwinta Anggraini
Nilai:
b. Nama/Jenis Kelamin : Ny. Septiyana/ Perempuan
Tanda Tangan Pengampu:
c. Tanggal Lahir : 22 September 1997
d. Umur : 21 Tahun
e. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pengampu Laporan Kasus: dr. Herlien, Sp.KK
f. Alamat Rumah : Jl. Nusa I RT 1/3 Kramatjati

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Nyeri pada tangan kanan sejak 2 hari SMRS

Keluhan Tambahan :
Gatal pada kedua tangan, paha dan badan

Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :


Seorang wanita 21 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RS Polri dengan keluhan
gatal pada kedua tangan, paha dan badan sejak 2 bulan SMRS. Pada daerah yang gatal timbul
bintik kemerahan yang semakin lama menjadi kehitaman. Gatal lebih berat dirasakan pada
malam hari. Pasien mengatakan pada tangan kanan terasa lebih gatal dan sering digaruk oleh
pasien. Pada sela-sela jari tangan kanan muncul benjolan berisi nanah sejak 4 hari SMRS,
kemudian pasien berulang kali memecahkan benjolan tersebut menggunakan jarum sehingga
benjolan pecah dan meluas diikuti nanah yang keluar menjadi kering. Pasien juga
mengatakan tangan kanan terasa nyeri dan bengkak kemerahan sejak 2 hari SMRS. Pasien
mengaku bahwa suami, anak, dan keponakannya yang tinggal serumah memiliki keluhan
yang sama yaitu gatal yang lebih berat dirasakan pada malam hari. Pasien tidak memiliki
riwayat alergi terhadap makanan dan obat.
Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) :

 Riwayat penyakit serupa disangkal


 Alergi makanan dan obat tidak ada
 Asma dan rhinitis tidak ada

1
Riwayat Penyakit Keluarga :
 Pada keluarga terdapat keluhan serupa yaitu pada suami, anak, dan keponakan pasien
 Alergi makanan dan obat tidak ada
 Asma dan rhinitis tidak ada

III. PEMERIKSAAN FISIK DAN DERMATOLOGIK


Kulit (Status Dermatologik) :
1. Pada interdigitalis digiti I sampai V manus dextra terdapat ulkus superfisialis dengan
krusta pada permukaannya dengan ukuran bervariasi, ukuran terbesar ± 5 cm.
2. Pada kedua manus, femoralis anterior dan lumbalis terdapat multiple papul eritem dengan
ukuran < 0,5 cm.

IV. RESUME
Seorang wanita 21 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RS Polri dengan keluhan
gatal pada kedua tangan, paha dan badan sejak 2 bulan SMRS. Pada daerah yang gatal timbul
bintik kemerahan yang semakin lama menjadi kehitaman. Gatal lebih berat dirasakan pada
malam hari. Pada sela-sela jari tangan kanan muncul benjolan berisi nanah yang kemudian
pecah dan meluas diikuti nanah yang keluar menjadi kering disertai nyeri dan bengkak
kemerahan. Pasien mengaku bahwa suami, anak, dan keponakannya yang tinggal serumah
memiliki keluhan yang sama. Status dermatologisnya adalah pada interdigitalis digiti I
sampai V manus dextra terdapat ulkus superfisialis dengan krusta pada permukaannya

2
dengan ukuran bervariasi, ukuran terbesar ± 5 cm dan pada kedua manus, femoralis anterior,
lumbalis terdapat multiple papul eritem dengan ukuran < 0,5 cm.

V. DIAGNOSIS BANDING
Prurigo, Ektima

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG / ANJURAN


 Kerokan Kulit
 Kuretase Terowongan
 Ink Burrow Test

VII. DIAGNOSIS PASTI / DIAGNOSIS KERJA


Skabies dengan infeksi sekunder

VIII. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
 Memutus rantai penularan dengan rajin membersihkan peralatan yang sering dipakai dan
tidak bertukar pakaian, handuk, sprei, dan peralatan tidur dengan orang lain
 Pakaian, sprei, handuk, dan alat tidur direndam air panas selama 15 menit sebelum
dicuci
 Mandi dengan bersih dan teratur
 Menjemur kasur, bantal, dan guling secara rutin
 Obati anggota keluarga yang berkontak/serumah dengan pasien jika terdapat keluhan
yang sama
 Jika gatal sebaiknya tidak menggaruk terlalu keras karena dapat menyebabkan luka dan
resiko infeksi

Medikamentosa
Topikal :
Scabimite Krim (Permethrin 5%)
Mupirocin Krim

Sistemik :
Klindamisin capsul 150 mg 4x1

Penulisan Resep :

R/ Scabimite cr tub No. I


3
S 1 dd ue (malam)
(Dihabiskan hanya pada 1 malam saja)
IX. PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanactionam : ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Skabies

4
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
tungau Sarcoptes scabiei varian hominis beserta produknya. Sinonim atau nama lain skabies
adalah kudis, the itch, gudik, budukan, dan gatal agogo.

B. Epidemiologi Skabies
Saat ini diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia menderita scabies. Angka
kejadian scabies tinggi di negara dengan iklim panas dan tropis. Scabies menyerang semua
kelas sosial ekonomi. Scabies endemik terutama di lingkungan padat penduduk dan sosial
ekonomi yang rendah. Pondok pesantren, penjara, asmara, panti-panti banyak sekali
ditemukan kasus ini, hal ini karena kepadatan penghuni sehingga mudah terjadi kontak satu
dengan lainnya. Faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: hygiene
buruk, salah diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologi. Penyakit ini dapat
termasuk PHS (Penyakit Hubungan Seksual). Di Indonesia scabies merupakan masalah
kesehatan, namun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kondisi saat ini sudah ada
perbaikan.

C. Etiologi Skabies

Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.

jantan

betina

Gambar 1. Tungau skabies jantan dan betina

Siklus hidup tungau ini adalah: Setelah kopulasi (perkawinan) di atas kulit, tungau jantan
akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali
oleh tungau betina. Tungau betina dapat bertahan hidup selama 1 sampai 2 bulan. Tungau
betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan
2-3 milimeter sehari, sambil meletakkan terlurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai 40-

5
50 telur. Selama itu tungau betina tidak meninggalkan terowongan. Setelah 3-4 hari, larva
berkaki enam akan muncul dari telur dan keluar dari terowongan dengan memotong atapnya.
Larva kemudian menggali terowongan pendek (moulting pockets) tempat mereka berubah
menjadi nimfa. Setelah itu nimfa berkembang menjadi tungau jantan dan betina dewasa.
Seluruh siklus hidup mulai dari telur sampai bentuk dewasa antara 8-12 hari. Tungau scabies
lebih memilih area tertentu untuk membuat terowongan dan menghindari area yang memiliki
banyak folikel pilosebaceus. Biasanya, pada satu individu terdapat 5-15 tungau, kecuali
Norwegian scabies- individu bisa didiami lebih dari sejuta tungau ini.

Gambar 2. Siklus Hidup Tungau Skabies

D. Patogenesis Scabies
Aktivitas S. scabiei di dalam kulit menyebabkan rasa gatal dan menimbulkan respons
imunitas selular dan humoral serta mampu meningkatkan IgE baik di serum maupun di kulit.
Masa inkubasi berlangsung lama 4-6 minggu. Skabies sangat menular, transmisi melalui
kontak langsung dari kulit ke kulit, dan tidak langsung melalui berbagai benda yang

6
terkontaminasi (sprei, sarung bantal, handuk, dsb). Tungau scabies dapat hidup di luar tubuh
manusia selama 24-36 jam. Tungau dapat ditransmisi melalui kontak seksual, walaupun
menggunakan kondom, karena melalui kulit di luar kondom.

Kelainan kulit dapat tidak hanya disebabkan oleh tungau scabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap
sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah investasi. Pada
saat itu, kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika,
dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.

E. Gejala Klinis
Terdapat 4 tanda utama atau cardinal sign pada infestasi scabies, yaitu: pruritus nocturna,
mengenai sekelompok orang, adanya terowongan, dan ditemukan Sarcoptes scabiei.
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada kemampuannya
meletakkan telur, larva, dan nimfa di dalam stratum korneum, oleh karena itu parasit sangat
menyukai bagian kulit yang memiliki statrum korneum relatif lebih longgar dan tipis.

Gambar 3. Lesi pada skabies

Lesi berupa eritema, krusta, ekskoriasi papul, dan nodul yang sering ditemukan di daerah
sela-sela jari, aspek volar pergelangan tangan dan lateral telapak tangan, siku, aksilar,
skrotum, penis, labia, dan areola wanita. Jika ada infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi
polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain). Erupsi eritematous dapat tersebar di badan

7
sebagai reaksi hipersensitivitas terhadap antigen tungau. Lesi patognomonik adalah
terowongan tipis dan kecil seperti benang, linear kurang lebih 1 hingga 10 mm, berwarna
putih abu-abu, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel yang merupakan hasil
pergerakan tungau di dalam stratum korneum. Terowongan terlihat jelas di sela-sela jari,
pegelangan tangan, dan daerah siku.

Selain skabies dengan manifestasi klinis yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk
khusus skabies sebagai berikut:
a. Skabies pada orang bersih
Secara klinis ditandai dengan lesi berupa papula dan kanalikuli dengan jumlah yang
sangat sedikit, kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur, lesi jarang ditemukan
dan sulit mendapatkan terowongan tungau.

Gambar 4. Skabies pada orang bersih

b. Skabies Nodular
Bentuk ini sangat jarang dijumpai dan merupakan suatu bentuk hipersensitivitas terhadap
tungau skabies, di mana pada lesi tidak ditemukan Sarcoptes scabiei. Lesi berupa nodul
merah kecokelatan berukuran 2-20 mm yang gatal. Umumnya terdapat pada daerah yang
tertutup terutama pada genitalia, inguinal, dan ketiak. Biasanya sering terjadi pada bayi,
anak, atau pada pasien dengan imunokompremais.

8
Gambar 5. Skabies nodular

c. Skabies Norwegia
Skabies Norwegia disebut juga skabies berkrusta yang memiliki karakteristik lesi
berskuama tebal yang penuh dengan infestasi tungau lebih dari sejuta tungau. Kadar IgE
yang tinggi, eosinofil perifer, dan perkembangan krusta di kulit yang hiperkeratotik
dengan skuama dan penebalan menjadi karakteristik penyakit ini. Plak hiperkeratotik
tersebar pada daerah palmar dan plantar dengan penebalan dan distrofi kuku jari kaki dan
tangan. Lesi tersebut menyebar secara generalisata, seperti daerah leher, kepala, telinga,
bokong, siku, dan lutut. Kulit yang lain biasanya terlihat xerotik. Pruritus dapat bervariasi
dan dapat pula tidak ditemukan pada bentuk penyakit ini.
Penyakit ini dikaitkan dengan penderita yang memiliki defek imunologis
misalnya usia tua, HIV/AIDS, lepra, dan leukemia tipe I; debilitas; disabilitas
pertumbuhan; seperti sindrom Down dan retardasi mental; penderita yang mendapat
terapi imunosupresan, penderita gangguan neurologis.

9
Gambar 6. Skabies berkrusta

d. Skabies pada bayi dan anak


Lesi dapat mengenai seluruh tubuh termasuk kepala, leher, telapak tangan, dan kaki. Pada
anak seringkali timbul vesikel yang menyebar dengan gambaran suatu impetigo atau
infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus yang menyulitkan penemuan terowongan.
Nodul pruritus eritematous keunguan dapat ditemukan pada aksila dan daerah lateral
badan anak. Nodul-nodul ini bias timbul terutama pada telapak tangan dan jari.

Gambar 7. Skabies pada anak

e. Skabies pada penderita HIV/AIDS

10
Skabies pada penderita AIDS biasanya menyerang wajah, kulit, dan kuku dimana hal ini
jarang didapatkan pada penderita status imunologi yang normal. Skabies juga harus
dipikirkan sebagai diagnosis banding penderita AIDS dengan lesi psoriasiform, yang
terkadang didiagnosis sebagai ekzema. Pada penderita dengan status imunologi yang
normal, pruritus merupakan tanda khas, sedangkan pada beberapa penderita AIDS,
pruritus tidak terlalu dirasakan. Hal ini mungkin disebabkan status imun yang berkurang
dan kondisi ini berhubungan dengan konversi penyakit menjadi bentuk lesi berkrusta.
Seperti pada penderita umumnya, lesi skabies berkrusta pada penderita AIDS
mengandung tungau dalam jumlah besar dan sangat menular. Pada penderita AIDS,
skabies berkrusta juga berhubungan dengan bakteremia, yang biasanya disebabkan oleh
S. aureus, dan Streptococcus grup A, Streptococcus grup lain bakteri gram negatif seperti
Enterobacter cloacae dan Pseudomonas aeroginosa. Sebagian ahli menyarankan
pemberian antibiotika profilaksis pada penderita AIDS dengan skabies untuk mencegah
sepsis sedangkan sebagian lain menganjurkan tindakan yang tepat ada dengan
pengawasan ketat.

F. Diagnosis Skabies
Jika gejala klinis spesifik , diagnosis scabies mudah ditegakkan. Penderita sering datang
dengan lesi bervariasi. Pada umumnya diagnosis klinis ditegakkan jika ditemukan dua dari
empat cardinal signs, yaitu: pruritus nocturna, mengenai sekelompok orang, menemukan
terowongan ataupun Sarcoptes scabiei.

Beberapa cara untuk menemukan tungau:


1. Kerokan kulit
Papul atau terowongan yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH 10%, lalu
dilakukan kerokan kulit dengan mengangkat papul atau atap terowongan menggunakan
scalpel steril nomor 15. Kerokan diletakkan pada kaca objek, diberi minyak mineral atau
minyak imersi, diberi kaca penutup, lalu diperiksa di bawah mikroskop pembesaran 20X
atau 100X dapat dilihat tungau, telur, atau fecal pellet.

2. Mengambil tungau dengan jarum

11
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan ke dalam
terowongan yang utuh (pada titik yang gelap, kecuali pada orang kulit hitam pada titik
yang putih), digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya, kemudian dikeluarkan.
Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar. Tungau terlihat pada
ujung jarum sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan.

3. Tes tinta pada terowongan (burrow ink test)


Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan 20-30 menit, kemudian dihapus
dengan kapas alkohol, maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis gelap yang
karakteristik, berbelok-belok, karena akumulasi tinta di dalam terowongan. Tes ini tidak
sakit dan dapat dikerjakan pada anak dan pada penderita yang nonkooperatif.

4. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)


Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai antara ibu jari dan jari telunjuk,
dengan menjepit lesi menggunakan ibu jari dan telunjuk, puncak lesi diiris dengan scalpel
steril nomor 15 dilakukan sejajar dengan permukaan kulit. Biopsi dilakukan sangat
superfisial sehingga tidak terjadi perdarahan dan tidak perlu anestesi. Spesimen
diletakkan pada gelas objek lalu ditetesi minyak mineral dan diperiksa dengan
mikroskop. Dapat pula diperiksa dilakukan pewarnaan HE pada sediaan.

5. Biopsy irisan dengan pewarnaan HE.

G. Diagnosis Banding Skabies


1. Urtikaria akut, berupa erupsi pada papul-papul yang gatal, dan selalu sistemik.
2. Prurigo, biasanya berupa papul-papul yang gatal, predileksi pada bagian ekstensor
ekstremitas.
3. Gigitan serangga, biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan, efloresensiya urtikaria
papuler.
4. Folikulitis berupa pustule miliar dikelilingi daerah eritem.

H. Tatalaksana Skabies

12
Terapi lini pertama pasien dewasa adalah skabisid topical, dapat digunakan permethrin
krim 5%. Dioleskan di seluruh permukaan tubuh, kecuali area wajah dan kulit kepala (daerah
banyak terdapat kelenjar pilosebaceus), dan lebih difokuskan di sela-sela jari, inguinal,
genital area lipatan kulit sekitar kuku, dan area belakang telinga. Pada pasien anak dan
scabies berkrusta, area wajah dan kulit kepala juga harus diolesi. Pasien harus diberitahu
bahwa walaupun telah diberi terapi skabisidal yang adekuat, ruam dan rasa gatal di kulit
dapat tetap menetap hingga 4 minggu.

Steroid topical, anti-histamin, ataupun steroid sistemik jangka pendek dapat diberikan
untuk menghilangkan ruam dan gatal pada pasien yang tidak membaik setelah pemberian
terapi skabisid lengkap.

Penatalaksanaan Umum
Edukasi pasien scabies:
1. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan
serentak selama 4 minggu.
2. Pengobatan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur.
3. Ganti pakaian, handuk, sprei kamar, dan sofa yang sudah digunakan, selalu cuci dengan
teratur, rendam dengan air panas dan disetrika.
4. Jangan ulangi penggunaan skabisid dalam kurang dari seminggu walaupun rasa gatal
mungkin masih timbul selama beberapa hari.

Penatalaksanaan Khusus
1. Permethrin
Merupakan pilihan pertama, tersedia dalam bentuk krim 5%, yang diaplikasikan selama
8-12 jam dan setelah itu dicuci bersih. Apabila belum sembuh bisa dilanjutkan dengan
pemberian kedua setelah 1 minggu, dan pemberian ketiga 1 minggu setelah pembeian
kedua.
Target utama pengobatan adalah membran sel scabies. Obat membuat ion Cl masuk ke
dalam sel secara berlebihan, membuat sel saraf kulit depolarisasi dan parasit akan
paralisis/lumpuh. Obat ini efektif membunuh parasit, tapi tidak efektif untuk telur. Oleh

13
karena itu, penggunaan permethrin hingga 3 kali pemberian sesuai siklus hidup tungau.
Pemberian kedua dan ketiga dapat membunuh tugau yang baru menetas.

Permethrin jarang diberikan pada bayi kurang dari 2 bulan, wanita hamil, dan ibu
menyusui karena keamanannya belum dapat dipastikan. Wanita hamil dapat diberikan
dengan aplikasi yang tidak lama sekitar 2 jam. Efek samping jarang ditemukan, berupa
rasa terbakar, perih, dan gatal, mungkin karena kulit sensitif dan terekskoriasi.

2. Presipitat Sulfur 4-20%


Preparat sulfur tersedia dalam bentuk salep dan krim. Tidak efektif untuk stadium telur.
Pengobatan selama tiga hari berturut-turut, dapat dipakai untuk bayi/anak kurang dari 2
tahun.

3. Benzyl benzoate
Benzyl benzoate bersifat neurotoksik pada tungau scabies. Digunakan dalam bentuk
emulsi 25% dengan periode kontak 24 jam, diberikan setiap malam selama 3 hari. Terapi
ini dikontraindikasikan pada wanita hamil dan menyusui, bayi, dan anak-anak kurang
dari 2 tahun, lebih efektif untuk resistant crusted scabies.

4. Gamma benzene heksaklorida (Gammexane)


Merupakan insektisida yang bekerja pada sistem saraf pusat (SSP) tungau. Tersedia
dalam bentuk 1% krim, lotion, gel, tidak bebau, dan tidak berwarna. Pemakaian secara
tunggal dioleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah selama 12-24 jam. Setelah
pemakaian, cuci bersih, dan dapat diaplikasikan kembali setelah 1 minggu. Hal ini untuk
memusnahkan larva-larva yang menetas dan tidak musnah oleh pengobatan sebelumnya.
Tidak dianjurkan mengulangi pengobatan dalam 7 hari, serta menggunakan konsentrasi
selain 1% karena efek samping neurotoksik SSP (ataksia, tremor, dan kejang) akibat
pemakaian belebihan.

14
5. Crotamiton krim (Crotonyl-N-Ethyl-O-Toluidine)
Sebagai krim 10% atau lotion. Tingkat keberhasilan bervariasi antara 50-70%. Hasil
terbaik diperoleh jika diaplikasikan dua kali sehari setelah mandi selama lima hari
berturut-turut. Tidak dapat digunakan untuk wajah, disarankan mengganti semua pakaian
dan sprei serta dicuci dengan air panas setelah penggunaan crotamiton untuk mencegah
kembalinya tungau. Efek samping iritasi bila digunakan jangka panjang, obat ini tidak
mempunyai efek sistemik.

6. Ivermectin
Ivermectin adalah bahan semisintetik yang dihasilkan oleh Streptomyces avermitilis, anti-
parasit yang strukturnya mirip antibiotik makrolid, namun tidak mempunyai aktivitas
antibiotik, diketahui aktif melawan ekto dan endo parasit. Digunakan luas pada
pengobatan hewan, mamalia; pada manusia digunakan untuk pengobatan penyakit filarial
terutama oncocerciasis, dilaporkan efektif untuk scabies.

Diberikan oral, dosis tunggal, 200 ug/kgBB untuk pasien berumur lebih dari 5 tahun.
Formulasi ivermectin topical juga dilaporkan efektif. Efek samping yang sering adalah
dermatitis kontak, dapat juga terjadi hipotensi, edema laring, dan ensefalopati.

Tabel 1. Pengobatan Skabies

15
Pengobatan Komplikasi
Pada infeksi bakteri sekunder dapat digunakan antibiotik oral.

Pengobatan Simptomatik
Obat antipruritus seperti obat anti-histamin dapat mengurangi gatal yang menetap
selama beberapa minggu setelah terapi anti-skabies yang adekuat. Untuk bayi, dapat
diberikan hidrokortison 1% pada lesi kulit yang sangat aktif dan aplikasi pelumas atau
emollient pada lesi yang kurang aktif, pada orang dewasa dapat digunakan triamsinolon
0,1%.

Setelah pengobatan berhasil membunuh tungau scabies, masih terdapat gejala pruritus
selama 6 minggu sebagai reaksi eczematous atau masa penyembuhan. Pasien dapat diobati
dengan emolien dan kortikosteroid topikal; antibiotic topikal tergantung infeksi sekunder
oleh Staphylococcus aureus. Crotamiton antipruritic topical dapat digunakan. Keluhan
pruritus dapat berlanjut selama 2-6 minggu setelah pengobatan berhasil. Hal ini karena
respons kekebalan tubuh terhadap antigen tungau. Jika gejalanya menetap, mungkin karena
salah diagnosis, aplikasi obat salah, sehingga tungau scabies tetap ada. Kebanyakan scabies
kambuh karena infeksi.

I. Pencegahan Skabies
Orang-orang yang kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan
skabisid topikal. Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran karena
seseorang dapat mengandung tungau skabies yang masih dalam periode inkubasi
asimptomatik.

J. Komplikasi Skabies
Komplikasi pada scabies yang sering dijumpai adalah infeksi sekunder, seperti lesi
impetiginosa, ektima, furunkulosis, dan selulitis. Kadang-kadang dapat timbul infeksi
sistemik, yang memberatkan perjalanan penyakit, seperti pielonefritis, abses internal, dan
pneumonia piogenik

16
K. Prognosis Skabies
Dengan memerhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan dan
menghilangkan faktor predisposisi, antara lain hygiene, serta semua orang yang berkontak
erat dengan pasien harus diobati, maka penyakit ini dapat diberantas dan prognosis baik.

Infeksi Sekunder pada Skabies


Penyakit kulit yang diikuti infeksi/pioderma sekunder disebut impetigenisata, salah satu
contohnya adalah scabies impetigenisata. Infeksi sekunder ini disebabkan oleh Staphylococcus,
Streptococcus, atau oleh keduanya. Tanda dari impetigenisata di antaranya adalah pus, pustule,
bula purulen, krusta kuning kehijauan, pembesaran kelenjar getah bening regional dan
leukositosis.

A. Faktor Resiko
1. Higienitas yang kurang
2. Menurunnya daya tahan tubuh
3. Telah ada penyakit lain di kulit
Karena terjadi kerusakan di epidermis, maka fungsi kulit sebagai pelindung akan
terganggu sehingga memudahkan terjadinya infeksi.

B. Patogenesis
Kulit merupakan lini pertahanan pertama terhadap infeksi mikroba, dengan mengeluarkan pH
rendah, cairan sebasea dan asam lemak untuk menghambat pertumbuhan pathogen. Selain itu,
flora normal juga berperan dalam mekanisme pertahanan terhadap infeksi dengan cara
menghalangi kolonisasi organisme pathogen lainnya. Organisme pathogen dapat menyebabkan
kerusakan jaringan dan memicu respon inflamasi, jika telah berhasil melakukan penetrasi kulit.
Awalnya bakteri dalam jumlah yang rendah berkolonisasi pada berbagai lapisan kulit seperti
epidermis, dermis, subkutan, jaringan adipose dan otot. Peningkatan jumlah bakteri akan terjadi
saat pertahanan integument terganggu, invasi oleh bakteri tersebut menyebabkan infeksi pada
kulit.

17
C. Tatalaksana
Sistemik :
1. Ampisilin
Dosis 4 x 500 mg, diberikan sejam sebelum makan.
2. Amoksisilin
Dosis yang sama dengan ampisilin, diberikan setelah makan. Amoksisilin lebih cepat
diabsorbsi dibandingkan ampisilin.
3. Golongan obat penisilin resisten-penisilinase
Yang termasuk golongan ini, contohnya: oksasilin, kloksasilin, diklosasilin, fluklosasilin.
Dosis kloksasilin 3 x 250 mg per hari sebelum makan. Golongan obat ini mempunyai
kelebihan karena juga berkhasiat bagi Staphylococcus aureus yang telah membentuk
penisilinase.
4. Klindamisin
Klindamisin diabsorbsi lebih baik karena itu dosisnya lebih kecil, yaitu 4 x 150 mg sehari
per oral. Pada infeksi berat dosisnya 4 x 300-450 mg sehari.
5. Eritromisin
Dosis 4 x 500 mg sehari per oral. Efektivitasnya kurang dibandingkan dengan
klindamisin. Eritromisin sering memberi rasa tidak enak di lambung.
6. Sefalosporin
Apabila pada infeksi yang berat atau tidak memberi respon dengan obat-obat tersebut di
atas, dapat digunakan sefalosporin. Ada empat generasi yang berkhasiat untuk kuman
gram positif yaitu generasi I, juga generasi IV. Contohnya sefadroksil dari generasi I
dengan dosis untuk orang dewasa 2 x 500 mg atau 2 x 1000 mg sehari.

Topical :
Obat topical antimicrobial hendaknya yang tidak dipakai secara sistemik agar kelak tidak
terjadi resisten dan hipersensitivitas, contohnya ialah basitrasin, neomisin, dan mupirosin. Obat-
obat tersebut dalam bentuk salap atau krim. Sebagai obat topical juga kompres terbuka,

18
contohnya: larutan permanganas kalikus 1/5000, larutan rivanol 1% dan yodium povidon 7,5%
yang dilarutkan 10 kali.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Mayang., et al. 2017. Diagnosis dan Regimen Pengobatan Skabies. Bandung: Jurnal
Farmaka. Vol. 15, No. 1: 123-132.

Djuanda, A. Pioderma. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, ed. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, edisi ke-7, cetakan ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2016: 71-72.

Handoko R. Skabies. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, ed. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, edisi ke-7, cetakan ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2016: 137-140.

Miltoin O, Maibach HL. Scabies and Pediculosis. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General
Medicine, 8th ed. USA: McGraw Hill. 2008: 2029-31.

Tan, Sukmawati., et al. 2017. Scabies : Terapi Berdasarkan Siklus Hidup. Jakarta: Jurnal CDK –
254. Vol. 44, No. 7:507-510.

19