Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dengan mengetahui cara pandang seseorang tentang sains merupakan satu


faktor penting yang menentukan arah pembelajaran sains. Berbda pandangan juga
akan memberikan hasil pandangan yang berbeda pula. Orang awam akan
memandang sains sebagai susunan informasi-informasi ilmiah, sedangkan filsuf
akan memandang sains sebagai cara yang berisi rangkaian tanya-jawab akan
kebenaran dari apa yang telah diketahui manusia.
Dalam rangka meningkatkan pengembangan “sumber daya manusia” di
dunia pendidikan memiliki re-orientasi program melalui peningkatan kemampuan
dalam pembobotan kurikulim, mutu tenaga kependidikan dan peningkatan kualitas
hasil belajar, sehingga diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang
memiliki sikap pengetahuan dan keterampilan uang memadai.
Menurut American Association of Physics Teacher (1988:3) “ Pemegang
peranan penting mutu pendidikan adalah guru”. Artinya guru sebagai kunci dari
mutu pendidikan. Bagi bangsa Indonesia mutu pendidikan terus diusahakan
pengembangan dan peningkatan seperti juga aspek kehidupan lain .
Mundilarto (2001:3) Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
kecenderungan rendahnya mutu pendidikan terutama pada mata pelajaran IPA
( Science / Sains ) semakin terlihat jelas pada jenjang pendidikan yang lebih
tinggi. Mutu pendidikan disuatu tingkat ditentukan oleh mutu pendidikan di
tingkat sebelumnya dan yang menjadi inti penentu mutu pendidikan tersebut
adalah mutu guru. Oleh karena itu langkah strategis kearah peningkatan mutu
pendidikan harus ditujukan pada upaya peningkatan mutu guru sekolah .

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Sains?


2. Karakteristik apa saja dalam pembelajaran sains?
3. Prinsip pembelajaran apa saja yang dimiliki sains?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian sains.
2. Untuk mengetahu karateristik dalam pembelajaran sains.
3. Untuk mengetahui prinsip pembelajaran yang digunakan dalam sains.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakekat Sains

Ilmuwan memandang atau mendefinisikan sains sebagai metode yang dengannya


hipotesis diuji. James B Conant, mendeskripsikan sains sebagai rangkaian konsep dan
pola konseptual yang saling berkaitan yang dihasilkan dari eksperimen dan observasi.
Hasil-hasil eksperimen dan observasi yang dieroleh sebelumnya menjadi bekal bagi
eksperimen dan observasi selanjutnya, sehingga memungkinkan ilmu pengetahuan
tersebut untuk terus berkembang.

Sound (1989) adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta melalui
observasi dan eksperimen yang terkontrol. The Harper Encyclopedia of Science
mendefiniskan sains sebagai suatu pengetahuan dan pendapat yang tersusun dan
didukung secara sistematis oleh bukti-bukti yang dapat diamati. Sains harus
dipandang sebagai cara berpikir (a way of thinking), cara untuk menyelidiki (a way of
investigating) dan sebagai batang tubuh pengetahuan (a body of knowledge), yang
masing-masing memiliki penjelasan yaitu:

1) Sains sebagai cara untuk berpikir (a way of thinking)

Sains merupakan aktivitas manusia yang didirikan oleh adanya


proses berpikir yang terjadi di dalam pikiran siapapun yang terlibat di
dalamnya.

2) Sains sebagai cara untuk menyelidiki (a way of investigating)

Sains apa saja yang berkeinginan memahami alam dan menyelidiki


hukum-hukumnya harus mempelajari gejala alam/peristiwa alam dan segala
hal yang terlibat di dalamnya. Petunjuk-petunjuk yang ada pada gejala alam
pada kenyataannya telah tertanam di alam itu sendiri. Sains terbentuk dari
proses penyelidikan yang terus-menerus. Hal yang menentukan sesuatu
dinamakan sebagai sains adalah adanya pengamatan empiris.

3
3) Sains sebagai batang tubuh pengetahuan (a body of knowledge)

Sains merupakan batang tubuh pengetahuan yang terbentuk dari


fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hipotesis-hipotesis, teori-teori,
dan model-model membentuk kandungan(content) sains.

a) Fakta

Fakta merupakan produk paling dasar dari sains (IPA). fakta-fakta


merupakan dasar dari konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori. Dua
buah kriteria berikut ini digunakan untuk mengidentifaksi sebuah fakta, yaitu:
(a) dapat diamati secara langsung, (b) dapat didemonstrasikan kapan saja.

b) Konsep

Konsep adalah abstarksi dari kejadian-kejadian, benda-benda, atau gejala


yang memiliki sifat tertentu atau lambang. Misalnya, ikan yang memiliki
karakteristik tertentu yang membedakannya dengan reptil dan mamalia.
Dikemukakan oleh Collette dan Chiappetta, menurut Bruner, Goodnow, dan
Austin (1956), sebuah konsep setidaknya memiliki 5 unsur; (1) nama, (2)
definis, (3) lambang, (4) nilai, dan (5) contoh. Contoh dari konsep dalam
sains antara lain: hewan berdarah dingin adalah hewan yang
menyesuaikansuhu tubuhnya dengan suhu lingkungannya.

c) Prinsip-prinsip dan hukum-hukum

Prinsip-prinsip dan hukum-hukum merupakan hasil generalisasi dari


konsep-konsep. Prinsip-prinsip dan konsep-konsep lebih umum daripada
fakta-fakta, tetapi juga sering dikaitkan dengan gejala yang dapat diamati
dibawah kondisi-kondisi tertentu. Contoh produk IPA yang merupakan
prinsip ialah: pertama, Logam, bila dipanaskan akan memuai. Kedua,
semakin besar intensitas cahaya, semakin efektif proses fotosintesis. Ketiga,
larutan yang bersifat asam bila dicampur dengan larutan yang bersifat basa
akan membentuk garam dan bersifat netral. Hukum adalah prinsip yang
bersifat spesifik. Kekhasan hukum dapat ditunjukkan dari: bersifat lebih kekal
karena telah berkali-kali mengalami pengujian.

4
d) Teori-teori

Ilmuwan menggunakan teori untuk menjelaskan pola-pola. Teori


merupakan usaha intelektual yang sangat keras karena ilmuwan harus
berhadapan dengan kompleksitas dan kenyataan yang tidak jelas dan
tersembunyi dari pengamatan langsung. Gagasan ini menjadi jelas ketika
orang merujuk teori atom, yang menyatakan bahwa seluruh benda tersusun
atas partikel-partikel yang sangat kecil yang disebut dengan atom. Gambaran
visual ini akan lebih sukar diterima ketika kita meninjau salah satu aspek teori
yang menyatakan bahwa sebuah atom sebenarnya 99,99 % kosong. Teori
memiliki tujuan yang berbeda dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan
hukum-hukum, tetapi ilmuwan menggunakan jenis pengetahuan ini untuk
menyajikan penjelasan-penjelasan dari fenomena-fenomena yang terjadi.
Teori-teori mempunyai hakikat berbeda dan tidak pernah menjadi fakta atau
hukum, tetapi teori tetap berlaku sementara sampai disangkal atau direvisi.

e) Model

Model ilmiah adalah representasi dari sesuatu yang tidak dapat kita
lihat. Model ini menjadi gambaran mental yang digunakan untuk
menunjukkan gajala dan gagasan-gagasan yang abstrak. Model-model
tersebut harus menyertakan hal-hal yang menonjol dan penting dari gagasan
atau teori yang mana ilmuwan mencoba untuk memahamkan nya atau
menjelaskan gagasan atau teori tersebut. Model atom Bohr ,model tata surya,
dan model DNA double helix merupakan representasi konkret dari
gejala-gejala/fenomena-fenomena yang tidak dapat kita amati secara
langsung. Buku teks merupakan referensi utama ketika kita ingin menemukan
model-model untuk membantu kita dalam belajar. Sayangnya, orang
kemudian percaya begitu saja pada model yang dia lihat, tidak tahu bahwa
model hanyalah merupakan alat bantu mengkonseptualisasi fitur yang
menonjol dari prinsip-prinsip dan teori-teori, dan gambaran mental tidaklah
sesuai dengan kenyataannya sebagian atau keseluruhan.

5
B. Pengertian sains

Sains (science) berasal dari kata latin “scientia” yang berarti (1) pengetahuan
tentang, atau tahu tentang; (2) pengetahuan, pengertian, faham yang benar dan
mendalam. Ilmu merujuk ke (1) studi sistematis (systematical study), (2) tubuh
pengetahuan yang terorganisasi ( the organized body of knowledge ), dan (3)
pengetahuan teorietis ( theoretical knowledge ).

Makna sains atau ilmu biasanya merujuk kepada pengetahuan yang berada
dalam sistem berpikir dan konsep teoritis yang mencakup segala macam pengetahuan
mengenai apapun. Sistem pengetahuan yang dibangun oleh kesadaran kognisi yang
meliputi seluruh kegiatan pengamatan dan analisis ditambah dengan serangkaian
percobaan di laboratorium untuk memperkuat kernagka sistem dan pemahaman yang
lebih komperhensif.

Objek kajian sains adalah alam dan gejala-gejala yang sering disebut sebagai
ilmu alam ( natural science ). Gejala alam yang diamati relative nyata dan terukur hal
ini menyebabkan ilmu alam dikenal sebagai ilmu pasti atau ilmu eksakta. Ciri khas
ilmu alam atau sains dengan ilmu pengetahuan yang lainnya adalah terletak dari cara
mendapatkannya. Ilmu alam didapat secara empiris, yakni pengamatan langsung atas
kejadian di alam. Kumpulan pengamatan tersebut diolah menjadi data yang akurat dan
akan dihasilkan suatu kesimpulan. Metode penarikan kesimpulannya pun berdasarkan
fakta serta premis sebelumnya yang memberikan alur pikir logis.

Berdasarkan penjelasan di atas, disimpulkan bahwa sains atau ilmu


pengetahuan alam adalah sekumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui metode
tertentu. Proses pencarian ini telah diuji oleh kebenarannya secara bersama-sama oleh
beberapa ahli sains. Sains berusaha menjelaskan apa saja yang termasuk bidang
kajiannya dan diperlukan objektifitas dan kejelasan metode. Selain itu juga berusaha
menguasai alam dan memanfaatkan alam untuk kesejahteraan menusia, meningkatkan
taraf hidup, efisiensi dan efektifitas kerja. Ilmu pengetahuan alam atau sains
merupakan terjemahan kata-kata inggris yaitu Natural Science artinya ilmu yang
mempelajari tentang alam. Pengertian sains menurut para ilmuwan diantaranya:

1. Darmojo, 1992 ( Samatowa, 2006: 2 ) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan


alam atau sains adalah pengetahuan yang rasional dan obyektif tentang alam
semesta dengan segala isinya.
6
2. Nash, 1997 ( Samatowa, 2006: 2 ) menyatakan bahwa sains itu adalah suatu
cara atau metode untuk mengamati alam.

3. James, 1997 ( Samatowa, 2006: 1) mendefinisikan sains sebagai suatu deretan


konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain dan yang
tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati
dan diekperimentasikan lebih lanjut.
4. Whitehead, 1999 ( Samatowa, 2006: 1 ) menyatakan bahwa sains dibentuk
karena pertemuan dua orde pengalaman.

5. Vessel (1965: 2) memberikan jawaban yang sangat singkat tetapi bermakna,


yakni “science is what scientists do”. Sains adalah apa yang dikerjakan para
ahli (saintis).

Dua aspek penting dari pengertian-pengertian tersebut mengenai konsep


sains yakni langkah-langkah yang ditempuh dalam memahami alam (proses sains) dan
pengetahuan yang dihasilkan berupa fakta, prinsip, konsep, dan teori (produk sains).
Kedua aspek tersebut harus didukung oleh sikap sains (sikap ilmiah) berupa
keyakinan akan nilai yang harus dipertahankan ketika mencari atau mengembangkan
pengetahuan baru.

Sains ditinjau dari beberapa aspek:

1. Aspek Antologi

Sains (Science) diantaranya mempunyai objek dan tujuan, disusun secara


sistematik, berkembang dengan metode ilmiah dan berlaku universal, dapat
diuji kebenarannya (diverifikasi), serta memuat klarifikasi ilmu (ilmu dasar dan
ilmu terapan).

2. Aspek Aksiologi

Sains (Science) memiliki tujuan umum, yakni yang berkaitan dengan


kajian ilmu tertentu (biologi, fisika, kimia, bumi, dan antariksa). Memiliki
tujuan khusus, yakni untuk mencari atau mendapatkan kebenaran (truth),
pengetahuan (knowledge), pemahaman (understanding), penjelasan
(explanation), klarifikasi (classification), peramalan (prediction), pengendalian

7
(control), penerapan (application), penemuan (indention), produksi (production).
Memiliki nilai etis.

3. Aspek Epistemologi

Memuat keinginan untuk mencari kebenaran ilmiah, hubungan kausalitas


(sebab-akibat), adanya pemikiran dan pengkajian ilmiah/hasil ilmiah yang
disusun secara sistematik dengan metode ilmiah untuk mendapatkan kebenaran
tentang fenomena alam yang sedang terjadi yang berkaitan dengan kajian ilmu
tertentu yang sedang ditekuni.

Sains (science) dapat mencakup untuk mempelajari:

1. Objek materi (manusia, kehidupan, benda mati, dan alam semesta) dan
objek formal (objek yang menjadi pusat perhatian atau bidang studi, seperti:
bidang kesehatan, pertanian, dan ekonomi).
2. Gejala alam, persoalan, cara mempelajari, dan perkembangannya.

Aspek yang dipelajari dalam ilmu pengetahuan alam/sains adalah:

1. Fisika
2. Kimia
3. Biologi
4. Bumi dan antariksa

Sikap ilmiah diantaranya: bisa membedakan fakta dan opini, berani dan
santun dalam berargumentasi, mengmbangkan keingintahuan, kepedulian
terhadap lingkungan, berpendapat secara ilmiah dan kritis, bertanggung jawab,
jujur dan tekun. Metode ilmiah adalah cara untuk mendapatkan atau
menemukan pengetahuan yang benar dan bersikap ilmiah. Metode ilmiah
mensyaratkan asas dan prosedur tertentu yang disebut kegiatan ilmiah. Adapun
langkah-langkah metode ilmiah secara garis besar adalah:

1. Menemukan masalah dan merumuskan masalah


2. Mengumpulkan keterangan untuk memecahkan masalah
3. Menyusun dugaan atau hipotesa
4. Menguji dugaan dengan melakukan percobaan atau eksperimen
5. Menarik kesimpulan

8
6. Menguji kesimpulan dengan mengulang percobaan. Menghasilkan
produk-produk ilmiah (konsep, prinsip, dan teori).
C. Karakteristik sains

Sains memiliki beberapa karakteristik, berikut karakteristik itu.

1. Rasional, artinya sains merupakan hasil kegiatan berpikir secara logis


dengan menggunakan nalar (rasio) yang hasilnya dapat diterima nalar
manusia. Sains bukan takhayul.
2. Objektif, sains merupakan kebenaran apa adanya karena didasarkan atas
data-data dan tanpa pengaruh pendapat atau pandangan pribadi.
3. Empiris, sains dapat dibuktikan dengan pengamatan, penelitian, atau
eksperimen.
4. Akumulatif, sains dapat dibentuk berdasarkan teori lama yang
disempurnakan, ditambah, atau diperbaiki sehingga makin sempurna.

D. Prinsip pembelajaran Sains


Pembelajaran IPA di SD merupakan interaksi antara siswa dengan
lingkungan sekitanya. Hal ini mengakibatkan pembelajaran IPA perlu
mengutamakan peran siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga
pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan
guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran tersebut. Guru berkewajiban untuk
meningkatkan pengalaman belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran
IPA. Tujuan ini tidak terlepas dari hakikat IPA sebagai produk, proses dan sikap
ilmiah. Oleh sebab itu, pembelajaran IPA perlu menerapkan prinsip-prinsip
pembelajaran yang tepat sebagai berikut:
1. Prinsip keterlibatan siswa secara aktif
Pengetahuan yang diperoleh siswa dengan cara mendengarkan
relatif lebih cepat dilupakan, bahkan memungkinkan mereka tidak
menggunakan logikanya dalam berusaha memahami apa yang disampaikan
gurunya. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal,
baik intelektual, emosional dan fisik jika dibutuhkan. Pandangan mendasar
yang perlu menjadi kerangka pikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya
anak-anak adalah makhluk yang aktif. Individu merupakan manusia belajar
yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara
9
kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif bilamana
lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk tumbuh suburnya
keaktifan itu.
Menurut teori belajar Kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa
yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar
menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.
Implikasi prinsip keaktifan atau aktivitas bagi guru di dalam proses
pembelajaran adalah:
a. Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk
berkreativitas dalam prose pembelajarannya.
b. Memberikan kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan atau
inkuiri dan eksperimen.
c. Memberikan tugas individual dan kelompok melalui kontrol guru.
d. Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang
memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
e. Menggunakan multi metode dan multi media di dalam pembelajaran.
Prinsip ini pada dasarnya merupakan prinsip pembelajaran yang
berorientasi pada siswa aktif untuk melakukan kegiatan baik aktif berfikir
maupun kegiatan yang bersifat motorik.
2. Prinsip berkesinambungan
Seorang guru hendaknya mengetahui apa yang telah diketahui
siswanya, sebab pengetahuan dasar siswa akan dijadikan sebagai jembatan
untuk memberi mereka pengetahuan yang baru. Untuk menyempurnakan
prinsip ini, data minat siswa baik perorangan maupun secara berkelompok
dapat menjadi modal dalam mengatasi hambatan yang dihadapi dalam proses
pembelajaran.
3. Prinsip motivasi
Hamalik (2001), mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu
perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya
afektif (perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan). Perubahan energi di
dalam diri seseorang tersebut kemudian membentuk suatu aktivitas nyata
dalam bebagai bentuk kegiatan. Motivasi terkait erat dengan kebutuhan.
Semakin besar kebutuhan seseorang akan sesuatu yang ingin ia capai, maka
akan semakin kuat motivasi untuk mencapainya. Kebutuhan yang kuat
10
terhadap sesuatu akan mendorong seseorang untuk mencapainya dengan
sekuat tenaga. Hanya dengan motivasilah anak didik dapat tergerak hatinya
untuk belajar bersama teman-temannya yang lain (Djamarah, 2006:148).
Motivasi dalam pembelajaran IPA dapat diartikan sebagai dorongan
untuk belajar IPA.dorongan itu dapat bersumber dari kebutuhan (a)
kebutuhan Fisiologis, (b) kebutuhan rasa aman, (c) kebutuhan rasa cipta, (d)
kebutuhan rasa cinta, (e) kebutuhan akan pengakuan atas kemampuannya
untuk melakukan sesuatu, termasuk kemampuan untuk berhasil dalam
cita-citanya.
Penerapan prinsip-prinsip motivasi dalam proses pembelajaran akan
dapat berlangsung dengan baik, bilamana guru memahami beberapa aspek
yang berkenaan dengan dorongan psikologis sebagai individu dalam diri
siswa sebagai berikut :
a. Setiap individu tidak hanya didorong oleh pemenuhan aspek biologis,
sosial dan emosional, akan tetapi individu perlu juga dorongan untuk
mencapai sesuatu yang lebih dari yang ia miliki saat ini.
b. Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan
mendorong terjadinya peningkatan usaha.
c. Motivasi dipengaruhi oleh unsr-unsur kepribadian.
d. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung
meningkatkan motivasi belajar.
e. Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya
bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
f. Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh
terdapat motivasi dan perilaku.
g. Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas,
memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah
dan bukan karena memang ingin belajar.
h. Kompetisi dan insentif dalam waktu tertentu dapat meningkatkan
motivasi.
i. Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu
dalam suasana belajar yang memuaskan.
j. Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu
dapat mempertinggi motivasi.
11
Berikut ini beberapa alternatif yang dapat dilakukan oleh guru dalam
memotivasi siswanya:
a. Membiasakan siswa untuk bekerja secara mandiri, lalu melaporkan
hasilnya.
b. Memberi tanggung jawab pada seorang atau sekelompok siswa untuk
menjadi penanggung jawab upacara bendera.
c. Memberi penghargaan berupa kesempatan bagi siswa untuk
menampilkan hasil karya, hasil studi wisata, atau hasil eksperimen
mereka di depan kelas atau melalui pameran.
d. Memberi dukungan dana atau pikiran kepada kelompok studi IPA yang
mereka bentuk sendiri untuk melaksanakan kegiatannya.
e. Merancang atau menyiapkan bahan ajar yang menarik.
f. Mengkondisikan proses belajar aktif.
g. Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang menyenangkan.
h. Mengupayakan pemenuhan kebutuhan siswa di dalam belajar (misalnya
kebutuhan untuk dihargai, tidak merasa tertekan, dsb)
i. Meyakinkan siswa bahwa mereka mampu mencapai suatu prestasi.
j. Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin
pula memberitahukan hasilnya kepada siswa.
k. Memberitahukan nilai dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa dan
menghubungkannya dengan kehidupan nyata sehari-hari.
4. Prinsip multi metode
Didasari bahwa daya serap tiap siswa berbeda-beda, demikian
pula jenis metode pembelajaran yang disenangi juga berbeda. Tugas guru
adalah mengorganisasi belajar sedemikian rupa sehingga siswa tidak
merasa bosan dan dapat menangkap materi pelajaran yang diberikan.
5. Prinsip penemuan
Prinsip ini perlu diterapkan dalam pembelajaran IPA karena
pada dasarnya anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, sedang alam
sekitar penuh dengan fakta atau fenomena yang dapat merangsang siswa
ingin tahu lebih banyak. Masnur Muslichah, dalam Istiqomah, Lailatul
(2009:32) berpendapat bahwa penemuan diawali dari pengamatan
terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan bermakna untuk
menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan
12
demikian, pengetahuan dan ketrampilan yang diperolah siswa tidak dari
hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari
fakta yang dihadapinya. Beberapa komponen inqiuri yang terdapat dalam
pembelajaran antara lain: (a) pengetahuan dan ketrampilan akan lebih
lama diingat apabila siswa menemukan sendiri, (b) informasi yang
diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan bukti-bukti
atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa, dan (c) siklus inquiri adalah
observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data dan
penyimpulan.
Menurut J. Bruner (1961) ada empat alasan pentingnya prinsip
penemuan:
a. Dapat mengembangkan kemampuan intelektual siswa
b. Dapat menjadi motivasi intrinksik
c. Menghayati bagaimana ilmu itu diperoleh
d. Memperoleh daya ingat yang lebih lama retensinya.
6. Prinsip totalitas
Prinsip totalitas bertolak dari paham bahwa siswa belajar dengan
segenap kemampuan yang ia miliki sebagai makhluk hidup, yaitu panca
inderanya, perasaan dan pikirannya. Dalam proses belajar siswa tidak hanya
tergantung pada materi yang diajarkan, tetapi semua faktor-faktor atau
kondisi yang berada disekitarnya turut menjadi penentu akan keberhasilan
belajar yang dilakukan. Faktor atau kondisi yang dimaksud termasuk guru,
metode, fasilitas, lingkungan, teman-temannya, pencahayaan, bahkan semua
yang dapat mempengaruhi jiwa raganya ikut mempengaruhi keberhasilannya.
7. Prinsip perbedaan individu
Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri, yang
berbeda-beda satu sama lain. Karena hal inilah setiap siswa belajar menurut
kecepatannya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi
kecepatan belajar. Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa yang lain
akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran belajar bagi
dirinya sendiri. Implikasi adanya prinsip perbedaan individual dalam, bagi
siswa diantaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas dan menyusun
jadwal belajar. Dengan kata lain prinsip ini dapat berpengaruh pada aspek
fisik maupun psikis siswa.
13
Jadi perbedaan individual berpengaruh pada cara dan hasil belajar
siswa. Perbedaan tersebut terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan
sifat-sifatnya. Hal ini bertujuan agar pembelajaran IPA lebih bermakna dan
menyenangkan bagi siswa, sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa
maksimal.

14
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Sains sebagai suatu pengetahuan dan pendapat yang tersusun dan
didukung secara sistematis oleh bukti-bukti yang dapat diamati. Sains harus
dipandang sebagai cara berpikir (a way of thinking), cara untuk menyelidiki
(a way of investigating) dan sebagai batang tubuh pengetahuan (a body of
knowledge). Makna sains atau ilmu biasanya merujuk kepada pengetahuan
yang berada dalam sistem berpikir dan konsep teoritis yang mencakup segala
macam pengetahuan mengenai apapun. Sains memiliki beberapa karakteristik
adalah Rasional, Objektif, Empiris, dan Akumulatif. Pembelajaran IPA perlu
menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang tepat yaitu Prinsip
keterlibatan siswa secara aktif, Prinsip berkesinambungan, Prinsip motivasi,
Prinsip multi metode, Prinsip penemuan, Prinsip totalitas, Prinsip perbedaan
individu.

B. Saran
Kita sebagai manusia sudah seharusnya untuk mencari dan mendapatkan
pengetahuan untuk dapat mengetahui suatu fakta - fakta konkret yang berada
di lingkungan sekitar.

15
DAFTAR PUSTAKA

Muiz. 2017. Karakteristik Sains.

http://kaumbiologi.blogspot.com/2017/03/karakteristik-sains.html. diakses

tanggal 3 April 2019.

Suendarti, Mamik, dkk. 2019.Modul : Konsep-Konsep MIPA. Jakarta : Universitas

Indraprasta PGRI.

16