Anda di halaman 1dari 7

Terimakasih atas waktu dan kesempatan

yang diberikan kepada kami dalam Rangka

Lomba Dhama Wacana Tingkat SMA dalam

Menyambut Perayaan PIODALAN Pura

SEGARA KENJERAN yang Jatuh Pada

Purnamaning Kapat Hari ………, Tanggal

………… 2017 dengan Judul / Tema


Dinamika Pluralisme Dalam Hindu

Om Swastyastu

Om Avighnam Astu Namo Sidham


Om Anno Bhadrah Krattovo Yantu Visvattah

Sebelumnya, marilah kita sama-sama menghaturkan sembah sujud bhakti kita


terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kerta Wara
Nugraha Beliaulah kita dapat berkumpul bersama-sama dalam acara ini dengan
tiada kekurangan satu apapun.

Kehidupan sosial masyarakat tentunya tidak terlepas dengan perkembangan


kehidupan beragama. Hal ini menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan
satu dengan yang lain. Agama menjadi keyakinan setiap individu sehingga melekat
di dalam diri, bahkan ketika mereka hidup dalam sosial masyarakat yang beragam.
Khususnya Agama Hindu, perkembanganya tidak akan pernah meninggalkan sisi
kehidupan pribadi, sosial, ekonomi, pengetahuan, pemahaman serta pola pikir
individu yang menganut keyakinan Hindu itu sendiri. Penganut umat Hindu pun
beragam dari latar belakang suku yang berbeda, misalnya: Suku Jawa, Bali, Batak,
Dayak, Banjar, sunda, dll. Di Indonesia, umat Hindu mayoritas dianut oleh
keturunan suku Bali, sisanya Jawa dan suku-suku lain yang masih memegang
teguh ajaran dharma ini. Berdasarkan satu sisi penganut saja Hindu sudah jelas
sekali mengajarkan adanya kebegaraman atau pluralism , bagaimanapun juga,
dalam pluralisme terkandung konsep bahwa setiap orang tetap memiliki etnik
tertentu dan tetap mempraktikkan etnisitas sebagai suatu yang sentral dalam
menentukan relasi mereka dengan orang lain dari kebudayaan dominan. Akhirnya,
pluralisme sebagai sebuah ideologi berasumsi bahwa semua ”isme” (rasisme,
reksisme, kelasisme) merupkan pendekatan bagi kehidupan yang harmonis satu
sama lain. Bagaimanapun juga, konsep pluralisme budaya memang sangat
bertentangan dengan fokus etnisitas yang tunggal . Pluralisme merupakan gerakan
yang berdampak terhadap perubahan struktur sosial masyarakat, dimulai dari
perubahan struktur sosial individu dan kelompok

Pada dasarnya pluralisme mendorong perubahan cara berpikir dan bersifat


universal, untuk mencegah klaim pandangan bahwa ada kebudayaan yang paling
benar , semua kebudayaan itu penting sehingga tidak ada satu kebudayaan pun
yang mengklaim bahwa apa yang dikatakan oleh kebudayaan itu menjadi
rasionalisasi atas semua kebudayaan lain. Inilah argumentasi paling penting dari
pluralisme. Jadi, seorang pluralis-dengan kata lain –harus dan selalu akan
mengatakan bahwa meskipun setiap kebudayaan memiliki norma-norma universal,
dan norma-norma tersebut dapat diberlakukan kapan dan dimana saja, harus
diingat bahwa norma-norma universal itu tidak lebih baik daripada validitas
kearifan budaya sendiri.
Berdasarkan penjabaran makna pluralisme atau keberagaman tersebut, umat
Hindu telah mampu hidup berdampingan dengan masyarakat lain yang berbeda
keyakinan. Misalnya: umat Hindu yang berasal dari keturunan suku Jawa, sangat
erat sekali hubungan sosial masyarakat dengan sesama suku Jawa yang berbeda
keyakinan.

Orang dayak yang tetap hidup berdampingan dengan tradisi dan budayanya sesama
dayak di kalimantan walaupun sudah berbeda keyakinan. Umat Hindu etnis Bali
yang mampu hidup berdampingan diseluruh pelosok Nusantara sampai saat ini.
Ciri khas umat Hindu adalah damai, cinta, kasih, tidak menyakiti, dan beragam
sehingga mampu menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.

Hal ini menandakan bahwa Umat Hindu sebagian besar telah mampu menjabarkan
arti dari keberagaman melalui ajarannya dan perilaku kesehariannya. Namun,
belum keseluruhan umat Hindu mampu menjabarkan konsep keberagaman atau
Puralisme ini dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya umat Hindu
yang ada di daerah-daerah pelosok ataupun daerah transmigrasi yang jauh sekali
dengan sentuhan pembainaan mental maupun spiritual. Walaupun secara ekonomi
mampu dan mencukupi namun terkadang kebutuhan mental dan spiritual belum
tercukupi dengan baik. Hal ini yang kemudian menyebabkan sikap-sikap eksklusif
dalam bermasyarakat. kebanyakan hanya dilihat darimana dia berasal, suku apa,
agamanya apa, kaya atau miskin.

Hubungan baik dengan masyarakat lain yang beragam suku dan agama, serta
kemampuan sosial ekonomi yang tidak sama belum dapat terwujud, hubungan baik
tersebut terkadang belum terjadi. Masih sering terjadi benturan baik interen
maupun eksteren, hal ini disebabkan karena masih banyaknya umat Hindu yang
belum memahami pentingnya hubungan yang harmonis internal maupun antar
umat beragama, terutama di kantong-kantong umat Hindu yang berada di daerah-
daerah pelosok dan jarang sekali memperoleh pembinaan tersebut.

Berawal dari hal-hal tersebut aspek agama terkadang menjadi hal pokok serta tidak
jarang kemudian menimbulkan polemik dalam kerukunan umat beragama baik
intern maupun ekstern. Seperti pada tahun politik misalnya, banyak para elit politik
yang mengatasnamakan agama tertentu untuk naik ke kursi legislatif maupun
sebagai pemimpin daerah dalam pilkada maupun pemilu legislatif. Jika seseorang
memahami pluralisme dari sisi politik tentunya tidak akan membawa agama pada
ranah ini.

Seharusnya para elit politik terlebih dahulu memahami makna pluralisme atau
keberagaman, sehingga tidak hanya memanfaatkan satu keyakinan untuk
memperoleh dukungan dari masyarakat dengan iming-iming dan janji palsu.

Pluralisme (political)-pluralisme politik-merupakan koesistensi atau pengakuan


terhadap kesetaraan dalam distribusi kekuasaan kepada berbagai kelompok
interest, kelompok penekan, kelompok etnik dan ras, organisasi dan lembaga
politik dalam masyarakat;Struktur kekuasaan yang pluralistik (pluralistic power
structure) merupakan sebuah system yang mengatur pembagian hak kepada semua
kelompok yang beragam dalam suatu masyarakat untuk berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan.
Hindu adalah sebuah agama yang sangat menghargai pluralisme berkembang
melalui pluralisme itu, Hindu tidak seperti kepercayaan lain yang nampak cemas
dengan munculnya berbagai paradigma plularis, Hindu tidak pernah mempatenkan
suatu kebudayaan, bahasa atau ritual sebagai lambang atau tanda resmi dari agama
tersebut. Pluralisme sesungguhnya merupakan identitas, ciri khas, atau karakter
Hinduisme.

Hindu tidak pernah tampil sebagai sosok yang arogan. Doktrin Hinduisme yang
pluralisme itu sangat menghargai berbagai theisme atau paham keketuhanan.
Doktrin Hinduisme yang pluralis itu tidak pernah mengklaim suatu kebenaran
sebagai kebenaran yang hanya menjadi milikinya sendiri.

Hinduisme tidak pernah mengadili atau menghina kebenaran lain. Hinduisme tidak
pernah melihat orang yang berada di luarnya sebagai orang yang dipandang
sebelah mata oleh Tuhan. Hinduisme berpandangan bahwa setiap orang dan
kelompok orang bergerak maju dari kebenaran yang sederhana menuju kebenaran
yang lebih tinggi hingga kebenaran tertinggi. Untuk sampai pada anak tangga yang
teratas seseorang mesti menginjakkan kakinya terlebih dahulu pada anak tangga
pertama. Mustahil bagi seseorang untuk sampai pada tangga teratas tanpa melalui
anak tangga pertama. Setiap orang akan memperoleh kesempatan yang sama dalam
waktu yang berbeda-beda sesuai dengan karma wesana yang nantinya akan
menentukan tingkat kemampuan mereka dalam mencari kebenaran.

Demikian juga setiap orang akan memiliki kesempatan yang sama dalam waktu
yang berbeda-beda untuk sampai pada anak tangga teratas dari sebuah kebenaran.
Oleh sebab itu antara kebenaran-kebenaran itu tidak harus saling intervensi, sebab
kebenaran itu selalu bergerak maju dari yang sederhana (rendah) ke yang lebih
tinggi. Oleh sebab itu pula Hinduisme tak pernah, cemas, gelisah, atau berburuk
sangka terhadap berbagai wacana ataupun penampilan dari berbagai macam
keyakinan. Hinduisme sebagai kepercayaan spiritual yang paling tua di dunia dan
sangat dewasa dalam melihat pluralisme kebenaran. Lain halnya dengan yang lain
sangat cemas dan ragu menerima hembusan angin pluralisme, sebab mereka amat
takut jika kepercayaannya tidak lagi dianggap sebagai suatu kebenaran utama.
Namun harus diingat pluralisme dalam Hindu bukan berarti menyamakan ratakan
Hindu dengan yang lain, tapi dalam artian bahwa Hindu tidak pernah menyatakan
konsep kepercayaan yang lain sebagai suatu yang salah atau sesat. Hindu tidak
pernah menolak kebenaran lain.

Lalu pertanyaannya, apakah perbedaan itu baik atau buruk? Pohon-pohon di taman
berbeda, dan itu membuat taman menjadi indah. Binatang-binatang liar di hutan
berbeda, dan mereka saling bunuh satu sama lain. Manusia berada antara
keduanya. Ia bukan pohon di taman atau binatang liar di hutan. Karena itu manusia
harus merumuskan hubungan yang satu dengan yang lain, aku dengan kamu atau
aku dengan dia. Dalam ajaran agama Hindu mengenal sebuah istilah atau slogan
yang dipetik dari sastra suci veda yang berbunyi “ Tat Tvam Asi” yang berarti,
“ Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku, Aku adalah Engkau (Tuhan).
Berdasarkan kutipan tersebut dapat diartikan bahwa umat Hindu menganggap
bahwa kita semua pada dasarnya adalah sama bersumber dari satu Tuhan, dari
pengertian itu juga umat Hindu sangat menghargai sesama manusia dan semua
makhluk ciptaan Tuhan. Berkaitan dengan pluralisme dalam ajaran agama Hindu
juga mempunyai slogan yang dikutip dari sastra suci yang berbuyi “ Vasu Daiva
Kutumbaka” yang berarti, “ Kita Semua Bersaudara” , jadi umat hindu
menganggap bahwa kita semua adalah saudara tanpa membeda-bedakan suku, ras,
antar golongan maupun agama (Pluralisme).

Dalam Bhagavadgita IX.29, dijelaskan:

samo ‘haṁ sarva-bhūteṣu


na me dveṣyo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu māṁ bhaktyā
mayi te teṣu cāpy aham
Yang artinya : Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap
semua makhluk. Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak
ada yang paling Aku kasi i. Tetapi yang berbakti kepada-Ku , dengan
penuh pengabdian, mereka berada pada-Ku dan Aku bersamanya
pula.
Melalui satra suci Bhagavadgita, Tuhan telah mengajarkan sebuah laku yang mulia
dan penuh dengan kebijaksanaan, tentang hakikat terlahir, hidup, serta berkarma
dan membawa sang Jiwa yang bersemayam di dalam badan untuk tidak
membedakan mana yang lebih dikasihi ataupun yang dibenci, hanya saja
bagaimana sang ciptaan mampu menempatkan diri serta, melakukan apa yang
seharusnya dilakukan sebagai ciptaan.

Namun yang terjadi saat ini, baik di internal sering kali kurangnya pemahaman
tersebut menjadi akar dari permasalahan yang kemudian mudah sekali tersulut
ketika tersangkut masalah dengan pihak-pihak eksternal. Misalnya yang sejak dulu
sampai sekarang kemunculan kelompok-kelompok sampradaya, disatu sisi
merupakan interpretasi dari adanya sebuah kemajemukan dalam berkeyakinan atau
pluralisme keyakinan. Tetapi bagi sebagian orang menganalisis dan memberikan
persepsi yang berbeda dengan segenap kemampuan serta pemahamannya,
terkadang laku hidup manusia Hindu seolah-olah hanya dibatasi dan dikaitkan
dengan adat, tradisi dan budaya yang kemudian menjadi beban tersendiri bagi umat
Hindu untuk mebedakan mana yang ajaran benar-benar Hindu bersumber Dharma,
ataukah kelompok tertentu tersebut yang dianggap bukan berdasarkan dharma
sehinga mudah sekali berpendapat bahwa yang dilakukan tersebut tidak
mengaktualisasikan warisan leluhur di Nusantara.
Sebenarnya hal ini kemudian berkaitan dengan kemajemukan berbagai aspek yang
saling berpengaruh satu dengan yang lain, seperti hubungan antar umat beragama,
sosial, politik maupun budaya yang dari hal-hal tersebut belum sepenuhnya
berjalan harmonis. Salah satu aspek pokok yang menjadi tumpuan dalam berbagai
aspek lainya adalah Agama, Dengan keberagaman agama yang ada di Indonesia
yang terdiri dari Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu. Ke-enam
agama tersebut khususnya sampai saat ini mampu berjalan harmonis dan
senantiasa saling menghormati.

Panasnya suasana politik akhir-akhir ini, mencerminkan betapa kita perlu kembali
kedlam diri melalui keyakinan atau agama kita. Tentunya masing-masing agama
mengajarkan untuk saling menjaga diri, berperilaku yang baik, tidak saling
menyalahkan, saling menghargai, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan
tentunya melakukan keyakinan dengan baik.

Inilah pentingnya pengetahuan dan pemahaman dalam hidup ber-Pancasila dan


Ber-Bhineka Tunggal Ika, jangan sampai karena perbedaan pandangan politik,
keadaan ekonomi yang sulit, pergaulan, kita sebagai umat Hindu yang memegang
teguh spirit pluralisme salah menempatkan diri serta ikut larut dalam suasana yang
menghancurkan kedaulatan. Kita sebagai umat Hindu seharusnya mampu
membawa angin segar kemajemukan dan ke-Bhinekaan. Apa yang sesungguhnya
diajarkan oleh agama Hindu adalah pluralisme agama, bukan keperluan untuk
membuat semua agama sama, yang adalah intoleran terhadap perbedaan-perbedaan
agama yang sering sama sekali tidak kecil atau tidak penting.

Pluralisme agama, pada sisi lain, adalah toleran atas perbedaan-perbedaan agama.
Ia tidak mereduksi semua agama ke dalam satu model bersama. Ia membiarkan
perbedaan-perbedaan mereka kelihatan dengan jelas sebagaimana mereka adanya
dan tidak berupaya menutupinya dengan satu kerudung kesatuan. Pluralisme
mengatakan bahwa adalah baik bagi kita untuk mempunyai perbedaaan atau
bahkan pandangan-pandangan yang bertentangan mengenai agama dan ini tidak
harus menjadi satu masalah. Satu pandangan agama pluralistik menerima bahwa
ada banyak jalan.

Agama yang berbeda jalan atau cara-cara ini mempunyai berbagai derajat
perbedaan-perbedaan di antara mereka, beberapa mungkin kecil, beberapa
mungkin besar. Jalan yang berbeda akan menarik bagi individu-individu yang
berbeda sesuai dengan berbagai temperamen atau derajat dari perkembangan
mereka, yang akan sangat berbeda dan selalu berubah. Beberapa dari jalan atau
cara-cara ini mungkin baik atau mulia, yang lain mungkin naive atau mungkin
menjijikkan. Beberapa mungkin menarik untuk temperamen agama yang rendah,
yang lain mungkin menarik bagi satu level realisasi spiritual. Agama-agama
memang berbeda sebagai jalan maupun dalam tujuan akhirnya (eskatologi). Tetapi
agama-agama bersama-sama harus berupaya untuk menciptakan kedamaian dan
kesejahteraan di atas muka bumi ini.

Agama-agama harus menghormati hak setiap manusia untuk hidup dan mencari
keselamatan menurut keyakinannya. Tidak ada satu agamapun yang mempunyai
hak untuk merampas hak hidup seseorang semata-mata karena orang tersebut
menganut agama lain.
Dengan kata lain agama-agama harus membangun kemanusiaan, inilah Bhineka
Tunggal Ika dalam beragama. Pluralisme mengatakan bahwa adalah baik bagi kita
untuk mempunyai perbedaaan. Dengan kata lain agama-agama harus membangun
kemanusiaan yang telah nyata tercermin dalam ajaran Hindu. Spirit Tat Twam
Asi, dan Vasudaiwa Kutum Bakam harus menjadi dasar kuat menjalankan
Dharma Agama dan Dharma Negara. Kemajemukan dalam umat beragama
hendaknya senantiasa diawasi dan selalu didukung oleh semua lini baik dari
pemerintah, tokoh-tokoh agama serta masyarakat itu sendiri. pembinaan di masing-
masing agama harus lebih intensif terutama pemahaman mengenai perbedaan serta
kemajemukan dan pluralisme agama yang memang harus terjadi di Indonesia.

Demikianlah sedikit yang bisa saya sampaikan pada pertemuan ini, bila mana ada
kesalahan mohon makluminya, karena saya juga dalam pembelajaran.
Akhir kata saya akhiri dengan salam paramasanti

Om Santih Santih Santih Om.