Anda di halaman 1dari 52

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Landasan Teori

2.1.1

Pasar Modal

2.1.1.1 Pengertian Pasar Modal Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Menurut Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal mendifinisikan pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek. Menurut Tandelilin (2010:26) menyebutkan bahwa pasar modal adalah sebagai berikut :

menyebutkan bahwa pasar modal adalah sebagai berikut : "Pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk

"Pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi."

Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2012:1) menyebutkan bahwa pasar modal adalah sebagai berikut :

Pada dasarnya pasar modal (capital market) merupakan tempat diperjualbelikannya instrumen keungan jangka panjang, seperti utang, ekuitas (saham), instrumen derivatif, dan instrumen lainnya. Menurut Widoatmodjo (2012:15) menyebutkan bahwa pasar modal adalah sebagai berikut :

“Pasar modal dapat dikatakan pasar abstrak, dimana yang diperjualbelikan adalah dana-dana jangka panjang, yaitu dana yang keterikatannya dalam investasi lebih dari satu tahun.” Menurut Fahmi (2012:52) menyebutkan bahwa pasar modal adalah sebagai berikut :

"Pada dasaranya pasar modal adalah tempat berbagai pihak, khususnya perusahaan menjual saham (stock) dan obligasi (bond), dengan tujuan dari hasil penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan dana atau untuk memperkuat modal perusahaan."

13

14

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan menghubungkan investor (pemodal) dengan perusahaan atau institusi pemerintah. Investor merupakan pihak yang memiliki kelebihan dana, sedangkan perusahaan atau institusi pemerintah memerlukan dana untuk membiayai berbagai proyek yang dimiliki. Pasar modal Indonesia memiliki peran besar bagi perekonomian negara. Adanya pasar modal (capital market), membuat investor sebagai pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dananya pada berbagai sekuritas dengan harapan memperoleh imbalan (return).

sekuritas dengan harapan memperoleh imbalan ( return ). 2.1.1.2 Fungsi Ekonomi Pasar Modal Menurut Martalena dan

2.1.1.2 Fungsi Ekonomi Pasar Modal Menurut Martalena dan Malinda (2011:3) menyebutkan bahwa pasar modal memiliki peranan yang penting dalam perekonomian suatu negara karena memiliki 4 fungsi yaitu :

1.

Fungsi Saving Pasar modal dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menghindari penurunan mata uang karena inflasi.

2.

Fungsi Kekayaan Masyarakat dapat mengembangkan nilai kekayaan dengan berinvestasi dalam beberapa instrumen pasar modal yang tidak akan mengalami penyusutan nilai sebagaimana yang terjadi pada investasi nyata.

3.

Fungsi Likuiditas Instrumen pasar modal pada umumnya mudah untuk dicairkan sehingga memudahkan masyarakat memperoleh kembali dananya dibandingkan rumah dan tanah.

Fungsi Pinjaman Pasar modal merupakan sumber pinjaman bagi pemerintah maupun perusahaan membiayai kegiatannya.

4.

15

2.1.1.3 Manfaat Pasar Modal

Menurut Jusuf (2010:121) menyebutkan bahwa manfaat dari keberadaan pasar modal diantaranya :

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

2.1.1.4

Memperbaiki struktur permodalan perusahaan

Meningkatkan efisiensi alokasi sumber-sumber dana

Menunjang terciptanya perekonomian yang sehat

Meningkatkan penerimaan negara

Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan Pasar modal sebagai alternative pembiayaan pemerintah Jenis-Jenis
Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan
Pasar modal sebagai alternative pembiayaan pemerintah
Jenis-Jenis Pasar Modal

Mengurangi hutang luar negeri pihak pemrintah maupun swasta

Menurut Tandelilin (2010:1) pasar modal di Indonesia terbagi dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut :

1.

Pasar Perdana Dalam pasar perdana inilah untuk pertama kali perusahaan menjual sekuritasnya,dan proses itu disebut dengan istilah Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum, atau dapat juga dikatakan pasar perdana

terjadi pada perusahaan emiten menjual sekuritasnya kepada investor umum untuk pertama kalinya.

Pasar Sekunder Setelah sekuritas emiten dijual di pasar perdana, selanjutnya sekuritas emiten tersebut kemudian bisa diperjualbelikan oleh dan antara investor di pasar sekunder. Dengan adanya pasar sekunder, investor dapat melakukan perdagangan sekuritas untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, pasar sekunder memberikan likuiditas kepada investor, bukan kepada perusahaan. Perdagangan di pasar sekunder dapat dilakukan di dua jenis pasar, yaitu:

2.

a. Pasar Lelang (auction market)

16

Pasar sekunder yang merupakan pasar lelang adalah pasar sekuritas yang melibatkan proses pelelangan (penawaran) pada sebuah lokasi fisik. Transaksi antara pembeli dan penjual menggunakan perantara (broker) yang mewakili masing-masing pihak pembeli dan penjual.

b. Pasar Negosiasi (negosiasi market) Pasar negosiasi terdiri dari jaringan berbagai dealer yang menciptakan pasar tersendiri di luar lantai bursa bagi sekuritas dengan cara membeli dari investor dan menjual ke investor.

dengan cara membeli dari investor dan menjual ke investor. Menurut Sunariyah (2011:4) menyebutkan bahwa jenis-jenis

Menurut Sunariyah (2011:4) menyebutkan bahwa jenis-jenis pasar modal ada 4, yaitu sebagai berikut :

1.

Pasar Perdana Pasar perdana merupakan pasar modal yang memperdagangkan saham- saham atau sekuritas lainnya yang dijual untuk pertamma kalinya (penawaran umum) sebelum saham tersebut dicatatkan dibursa. Harga

saham di pasar perdana ditentukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang go public (emiten), peranan penjamin emisi pada pasar perdana selain menentukan harga saham, juga melaksanakan penjualan saham kepada masyarakat sebagai calon pemodal.

2.

Pasar Sekunder Pasar sekunder adalah pasar dimana saham dan sekuritas lain diperjual- belikan secara luas, setelah melalui masa penjualan di pasar perdana. Harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh permintaan dan penawaran antara pembeli dan penjual. Besarnya permintaan dan penawaran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

a. Faktor internal perusahaan, yang berhubungan dengan kebijakan internal pada suatu perusahaan beserta kinerja yang telah dicapai.

b. Faktor eksternal perusahaan, yaitu hal-hal di luar kemampuan

perusahaan atau di luar keampuan manajemen untuk mengendalikan.

3.

Pasar Ketiga Pasar ketiga adalah tempat perdagangan saham atau sekuritas lain di luar

bursa. Bursa paralel merupakan suatu sistem perdagangan efek yang

17

terorganisasi di luar bursa efek resmi, dalam bentuk pasar sekunder yang diatur dan dilaksanakan oleh perserikatan pengawas pasar modal lembaga keuangan, jadi dalam pasar ketiga ini tidak memiliki pusat lokasi pusat lokasi perdagangan.

4. Pasar Keempat Pasar keempat merupakan bentuk perdagangan efek antar pemodal atau dengan kata lain pengalihan saham dari satu pemegang saham ke pemegang lainnya tanpa melalui perantara pedagang efek.

2.1.2 Investasi

2.1.2.1

Menurut Tandelilin (2010:2) menyebutkan bahwa pengertian investasi adalah sebagai beriktu :

Pengertian Investasi
Pengertian Investasi

"Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah keuntungan di masa mendatang." Menurut Azis et al (2012:229) menyebutkan bahwa pengertian investasi adalah sebagai beriktu :

“Investasi adalah suatu kegiatan penempatan dana pada satu atau lebih dari suatu asset selama periode tahun tertentu dengan harapan memeroleh penghasilan dan atau peningkatan nilai investasi.Menurut Fahmi (2012:3) menyebutkan bahwa pengertian investasi adalah sebagai beriktu :

"Investasi adalah bentuk pengelolaan dana guna memberikan keuntungan dengan cara menempatkan dana tersebut pada alokasi yang diperkirakan

akan memberikan tambahan keuntungan. Umumnya investasi dibagi menjadi dua yaitu investasi nyata seperti tanah, mesin atau pabrik dan investasi keuangan seperti saham dan obligasi."

2.1.2.2 Tujuan Investasi Menurut Tandelilin (2010:8) ada beberapa alasan mengapa seseorang

melakukan investasi, yaitu sebagai berikut :

18

1.

2.

Dalam meraih masa depan yang layak, seseorang akan berpikir, berusaha dengan keras dan bertindak dengan bijaksana untuk dapat mempertahankan apa yang dimilikinya sekarang dan meningkatkan pendapatan di masa mendatang.

Mengurangi tekanan inflasi. Bagi sebagian orang dan perusahaan, investasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindari diri dari risiko yang mampu menurunkan nilai kekayaan yang diakibatkan dari pengaruh inflasi.

3.

nilai kekayaan yang diakibatkan dari pengaruh inflasi. 3. Terciptanya keberlanjutan (continuity) dalam investasi

Terciptanya keberlanjutan (continuity) dalam investasi tersebut

Dorongan untuk menghemat pajak. Di beberapa negara, terdapat kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang tertentu.

Menurut Azis et al (2012:229) menyebutkan bahwa tujuan investasi adalah sebagai berikut :

“Tujuan investasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor, baik sekarang maupun dimasa yang akan datang.Menurut Fahmi (2012:3) menyebutkan bahwa tujuan investasi yaitu sebagai berikut :

1.

2.

3.

4.

Terciptanya profit yang maksimum atau keuntungan yang diharapkan (profit actual)

Terciptanya kemakmuran bagi para pemegang saham

Turut memberikan andil bagi pembangunan bangsa

2.1.2.3 Jenis-Jenis Investasi Menurut Martalena dan Malinda (2011:2) menyebutkan bahwa investor dapat melakukan investasi dalam berbagai jenis asset, yaitu sebagai berikut :

1. Real Assets Investasi dalam bentuk nyata (dapat dilihat, diukur, disentuh). Contoh:

tanah, bangunan, emas, dan lain-lain.

19

Investasi dalam bentuk surat berharga. Financial assets yang bersifat jangka pendek diperdagangkan di pasar uang, sedangkan yang bersifat jangka panjang diperdagangkan di pasar modal. Contoh: commercial paper, sertifikat deposito, saham, obiligasi, reksadana.

Menurut Azis et al (2015:235) menyebutkan bahwa jenis-jenis investasi yaitu sebagai berikut :

Investasi Kekayaan Riil (Real Property) Investasi yang dilakukan terhadap aset yang bersifat nyata seperti tanah dan bangunan yang secara permanen melekat pada tanah.

1.

dan bangunan yang secara permanen melekat pada tanah. 1. 2. Investasi Kekayaan Pribadi yang Tampak (Tangible

2.

Investasi Kekayaan Pribadi yang Tampak (Tangible Personal Property) Investasi yang dilakukan terhadap benda seperti emas, berlian, barang antik atau benda-benda seni seperti lukisan dan lain-lain.

3.

Investasi Keuangan (Financial Investment) Investasi yang dilakukan terhadap surat berharga baik yang terdapat di pasar uang (money market) seperti deposito, SBI, SBPU maupun surat berharga yang terdapat di pasar modal (capital market) seperti saham, obligasi, dan berbagai bentuk surat berharga pasar modal lainnya.

4.

Investasi Komoditas (Commodity Investment) Investasi yang dilakukan terhadap komoditas atau biasa disebut sebagai perdagangan berjangka. Contoh investasi komoditas seperti investasi yang dilakukan terhadap barang misalnya kopi, kelapa sawit dan lain-lain.

2.1.3 Saham 2.1.3.1 Pengertian Saham Menurut Martalena dan Malinda (2011:12) menyebutkan bahwa saham adalah sebagai berikut :

"Saham adalah tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas." Menurut Fahmi (2012:81) menyebutkan bahwa saham adalah sebagai berikut :

20

"Saham adalah kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang telah dijelaskan kepada setiap pemegangnya."

Menurut Azis et al (2012:76) menyebutkan bahwa saham adalah sebagai berikut :

“Saham didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan investor individual atau investor institusional atau trader atas investasi mereka atau sejumlah dana yang diinvestasikan dalam suatu perusahaan.Menurut Widoatmodjo (2012:55) menyebutkan bahwa saham adalah sebagai berikut :

(2012:55) menyebutkan bahwa saham adalah sebagai berikut : “Tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan

“Tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik (berapapun porsinya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut, sesuai porsi kepemilikannya yang tertera pada saham.

Menurut Syahyunan (2013:200)menyebutkan bahwa saham adalah sebagai berikut :

“Saham (stock) merupakan surat berharga yang menunjukkan kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan.Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa saham merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perusahaan, dimana dengan dimilikinya saham tersebut maka investor akan mendapatkan keuntungan.

2.1.3.2 Jenis-Jenis Saham Menurut Fahmi (2012:86) menyebutkan bahwa jenis-jenis saham yang umum dikenal publik yaitu sebagai berikut :

1. Saham Biasa

21

Saham biasa (Common Stock) adalah surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dollar, yen, dan sebagainnya) dimana pemegangnya diberi hak untuk mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham (RUSP) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) serta berhak untuk menentukan membeli right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak. Pemegang saham ini diakhir tahun akan mendapatkan dividen.

Pemegang saham ini diakhir tahun akan mendapatkan dividen. 2. Saham preferen Saham istimewa (preferen stock) adalah

2.

Saham preferen Saham istimewa (preferen stock) adalah surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominalnya (rupiah, dollar, yen, dan sebagainnya) dimana pemegangnya akan memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk dividen yang akan diterima setiap kuartal (3 bulan). Menurut Azis et al (2012:77) menyebutkan bahwa jenis-jenis saham yang

umum dikenal publik yaitu sebagai berikut :

1.

Saham biasa (common stock) Saham biasa merupakan jenis saham yang memiliki hak klaim berdasarkan laba atau rugi yang diperoleh perusahaan. Apabila terjadi likuidasi terhadap perusahaan, maka para pemegang saham biasa akan mendapatkan prioritas paling akhir dalam pembagian dividen dari penjualan asset perusahaan. Ciri-ciri dari saham biasa adalah sebagai berikut:

a. Dividen dibayarkan adalah dividen yang diperoleh dari laba perusahaan.

b. Memiliki hak suara (one share one vote).

2.

c. Para pemegang saham dapat memperoleh kekayaan perusahaan apabila semua kewajiban perusahaan telah dilunasi.

Saham preferen (preffered stock) Saham preferen merupakan jenis saham yang sifat pembagian hasilnya tetap dan apabila perusahaan mengalami kerugian maka pemegang saham

22

preferen akan mendapat prioritas utama dalam pembagian hasil atas penjualan asset. Adapun ciri-ciri dari saham preferen adalah :

a. Memiliki hak utama dalam perolehan dividen.

b. Tidak memiliki hak suara.

c. Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus.

d. Apabila perusahaan dilikuidasi, maka para pemegang saham memiliki hak prioritas dalam memperoleh pembayaran sesuai nominal saham

a. b.
a.
b.

setelah kreditur. Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2011:6) menyebutkan bahwa ada

beberapa sudut pandang untuk membedakan saham yaitu sebagai berikut :

1.

Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham terbagi atas :

Saham biasa (common stock) Merupakan saham yang mewakili klaim kepemilikan terhadap penghasilan dan kekayaan yang dimiliki perusahaan. Para pemegang saham biasa memiliki kewajiban yang terbatas, artinya apabila perusahaan mengalami kebangkrutan, maka kerugian maksimum yang ditanggung oleh pemegang saham adalah sebesar investasi pada saham tersebut. Saham preferen (preferred stocks) Merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa pendapatan yang dihasilkan tetap (seperti bunga obligasi). Saham preferen memiliki kesamaan

dengan saham biasa karena sahamnya dapat mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut dan membayar dividen.

Ditinjau dari cara peralihannya saham dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

2.

a. Saham atas unjuk (bearer stocks)

23

Merupakan saham yang tidak menulis siapa nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya. Secara hukum, bagi yang memegang saham tersebut, maka akan diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS. Saham atas nama (registered stocks) Merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu, yaitu dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku perusahaan yang khusus memuat nama pemegang saham. Apabila sertifikat ini hilang, maka pemilik dapat meminta

b.

a. b.
a.
b.

penggantian. 3. Ditinjau dari kinerja perdagangan maka saham dapat dikategorikan sebagai berikut:

Blue-chip stocks Saham biasa dari suatu emiten yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen. Income stocks Saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan dalam membayar dividen yang lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen secara tunai. Emiten ini tidak suka menekan laba dan tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham.

c. Growth stocks (well-known) Saham-saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi dan sebagai leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi. Selain itu terdapat juga growth stock (lesser-known), yaitu saham dari emiten yang tidak menjadi leader dalam industri namun memiliki ciri-ciri growth stock. Umumnya saham ini berasal dari daerah yang kurang popular di kalangan emiten.

24

d. Speculative stocks Saham suatu perusahaan yang tidak bisa memperoleh penghasilan secara konsisten dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan untuk memberikan penghasilan yang tinggi di masa mendatang meskipun belum pasti.

e. Counter cyclical stocks Saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, dimana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagai dampak dari emiten yang memberikan penghasilan tinggi pada masa resesi. Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam poduk yang sangat dan selalu dibutuhkan masyarakat seperti rokok dan barang-barang kebutuhan sehari-hari (consumer goods).

Saham biasa memiliki karakteristik a. b. c.
Saham biasa memiliki karakteristik
a.
b.
c.

2.1.3.3 Karakteristik Saham Menurut Martalena dan Malinda (2011:12) menyebutkan bahwa saham memiliki karakteristik yaitu sebagai berikut:

1.

Hak klaim terakhir atas aktiva perusahaan jika perusahaan dilikuidasi.

Hak suara proposional pada pemilihan direksi serta keputusan lain yang ditetapkan pada rapat umum pemegang saham.

Dividen, jika perusahaan memperoleh laba dan disetujui di dalam rapat umum pemegang saham.

d. Hak memesan efek terlebih dulu sebelum efek tersebut ditawarkan kepada masyarakat.

2.

Saham preferen memiliki karakteristik

a. Pembayaran dividen dalam jumlah yang tetap.

b. Hak klaim lebih dahulu dibandingka saham biasa jika perusahaan dilikuidasi.

c. Dapat dikonversikan menjadi saham biasa.

25

2.1.4.1 Pengertian Harga Saham Menurut Brigham dan Houston (2010:7) menyebutkan bahwa harga saham adalah sebagai berikut:

“Harga saham menentukan kekayaan pemegang saham. Maksimalisasi kekayaan pemegang saham diterjemahkan menjadi maksimalkan harga saham perusahaan. Harga saham pada satu waktu tertentu akan bergantung pada arus kas yang diharapkan diterima di masa depan oleh investor “ratarata” jika investor membeli saham”.

investor “ratarata” jika investor membeli saham”. Menurut Takarini dan Hendrarini (2011:93) menyebutkan bahwa

Menurut Takarini dan Hendrarini (2011:93) menyebutkan bahwa harga saham adalah sebagai berikut:

"Harga saham merupakan salah satu indikator suatu perusahaan dalam mencapai keberhasilan." Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2012:102) menyebutkan bahwa harga saham adalah sebagai berikut:

“Harga saham merupakan harga yang terjadi di bursa pada waktu tertentu. Harga saham bisa berubah naik ataupun turun dalam hitungan waktu yang begitu cepat. Ia dapat berubah dalam hitungan menit bahkan dapat berubah dalam hitungan detik. Hal tersebut dimungkinkan karena tergantung dengan permintaan dan penawaran antara pembeli saham dengan penjual saham”.

Menurut Hadi (2013:179) menyebutkan bahwa harga saham adalah sebagai berikut:

“Harga saham adalah nilai saham dalam rupiah yang terbentuk akibat terjadinya aksi pembelian dan penawaran saham di bursa efek oleh sesama anggota bursa.”

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa harga saham merupakan harga jual beli yang sedang berlaku dipasar bursa yang ditentukan kekuatan pasar artinya ditentukan oleh permintaan dan penawaran.

26

2.1.4.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham Menurut Fahmi (2012:87) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor

yang mempengaruhi naik turunnya harga saham yaitu sebagai berikut :

1.

2.

Kondisi mikro dan makro ekonomi.

Keputusan perusahaan untuk memperluas usaha seperti membuka kantor cabang, kantor cabang pembantu baik yang dibuka di dalam negeri maupun yang di luar negeri.

Pergantian direksi secara tiba-tiba.

3.

4.

5.

6.

7.

Faktor internal a.
Faktor internal
a.

Adanya pihak komisaris atau direksi yang terlibat dalam tindak pidana dan kasusnya sudah masuk ke pengadilan.

Kinerja perusahaan yang terus mengalami penurunan dalam setiap waktunya.

Risko sistematis, yaitu risiko yang terjadi secara menyeluruh dan telah ikut menyebabkan perusahaan terlibat.

Efek psikologi pasar yang ternyata mampu menekan kondisi teknikal jual beli saham. Menurut Brigham dan Houston (2010:33) menyebutkan bahwa terdapat

beberapa faktor yang mempengaruhi naik turunnya harga saham yaitu sebagai berikut :

1.

Pengumuman tentang pemasaran produksi penjualan seperti pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan, dan laporan penjualan.

b. Pengumuman pendanaan, seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.

c. Pengumuman badan direksi manajemen (management board of director ann nouncements) seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen dan struktur organisasi.

d. Pengumuman pengambilalihan diverifikasi seperti laporan merger investasi, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan investasi dan lainnya.

27

e. Pengumuman investasi seperti melakukan ekspansi pabrik pengembangan riset dan penutupan usah lainnya.

f. Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negosiasi baru, kotrak baru, pemogokan dan lainnya.

g. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalaba sebelum akhir tahun viscal dan setelah akhir tahun vicscal earning per share, dividen per shere, price earning ratio, net profit margin, return on assets dan lain-lain.

2.

Faktor eksternal a. b. c.
Faktor eksternal
a.
b.
c.

Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan regulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Penguman hukum seperti tuntutan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.

Pengumuman industri sekuritas, seperti laporan pertemuan tahunan insider trading, volume atau harga saham perdagangan pembatasan atau penundaan trading.

2.1.4.3 Jenis-Jenis Harga Saham Menurut Widoatmojo (2011:164) Adapun jenis-jenis harga saham adalah sebagai berikut:

1.

Harga Nominal Harga yang tecantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena dividen minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.

Harga Perdana Harga ini merupakan pada waktu harga saham tersebut dicatat dibursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa

2.

28

3.

4.

5.

6.

harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untk menentukan harga perdana.

Harga Pasar Kalau harga perdana merupakan harga jual dari perjanjian emisi kepada investor, maka harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatat dibursa. Transaksi di sini tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi harga ini yang disebut sebagai harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili harga perusahaan penerbitnya, karena pada transaksi di pasar sekunder, kecil sekali terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media lain adalah harga pasar.

diumumkan di surat kabar atau media lain adalah harga pasar. Harga pembukaan Harga pembukuan adalah harga

Harga pembukaan Harga pembukuan adalah harga yang diminta oleh penjual atau pembeli pada saat jam bursa dibuka. Bisa saja terjadi pada saat dimulainya hari nursa itu sudah terjadi transaksi atas suatu saham, dan harga sesuai dengan yang diminta oleh penjual dan pembeli. Dalam keadaan demikian, harga pembukuan bisa menjadi harga pasar, begitu juga sebaliknya harga pasar mungkin juga akan menjadi harga pembukaan. Namun tidak selalu terjadi.

Harga Penutupan Harga penutupan adalah harga yang diminta oleh penjual atau pembeli pada saat akhir hari bursa. Pada keadaan demikian, bisa saja terjadi pada saat akhir hari bursa tiba-tiba terjadi transaksi atas suatu saham, karena ada kesepakatan antar penjual dan pembeli. Kalau ini yang terjadi maka harga penutupan itu telah menjadi harga pasar. Namun demikian, harga ini tetap menjadi harga penutupan pada hari bursa tersebut.

Harga Tertinggi

29

7.

Harga tertinggi suatu saham adalah harga yang paling tinggi yang terjadi pada hari bursa. Harga ini dapat terjadi transaksi atas suatu saham lebih dari satu kali tidak pada harga yang sama.

Harga Terendah Harga terendah suatu saham adalah harga yang paling rendah yang terjadi pada hari bursa. Harga ini dapat terjadi apabila terjadi transaksi atas suatu saham lebih dari satu kali tidak pada harga yang sama. Dengan kata lain, harga terendah merupakan lawan dari harga tertiggi.

8.

lain, harga terendah merupakan lawan dari harga tertiggi. 8. Harga Rata-Rata Harga rata-rata merupakan perataan dari

Harga Rata-Rata Harga rata-rata merupakan perataan dari harga tertinggi dan terendah.

2.1.4.4 Analasis Harga Saham Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012:149) menyebutkan bahwa analisis harga saham terdiri dari analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental memiliki pengertian yaitu salah satu cara untuk melakukan penilaian saham dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator yang terkait dengan kondisi makro ekonomi dan kondisi industri suatu perusahaan hingga berbagai indikator keuangan dan manajemen perusahaan. Analisis fundamental ini menitikberatkan pada data-data kunci dalam laporan keuangan untuk memperhitungkan apakah harga saham sudah diapresiasi secara akurat. Data-data dalam laporan keuangan yang mendukung untuk melihat pergerakan harga saham ini dapat dicerminkan dalam rasio-rasio keuangan (Darmadji dan Fakhruddin, 2012:149). Analisis teknikal adalah salah satu metode yang digunakan untuk penilaian saham, dimana dengan metode ini para analis melakukan evaluasi saham berbasis pada datadata statistik yang dihasilkan dari aktivitas perdagangan saham, seperti harga saham dan volume transaksi. Analisis teknikal merupakan jenis analisis yang lebih mengutamakan pada perilaku pasar, perubahan harga saham di waktu lalu, volume perdagangan, dan indeks harga saham gabungan dari saham tersebut (Darmadji dan Fakhruddin, 2012:160).

30

2.1.5.1 Pengertian Return Sahamn

Konsep risiko selalu berkaitan dengan return karena investor selalu

mengharapkan tingkat return yang sesuai atas setiap risiko investasi yang

dihadapinya. Menurut Hartono (2010:205) menyebutkan bahwa return saham

adalah sebagai berikut :

"Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasian yang sudah terjadi atau return ekspektasian yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi dimasa yang mendatang."

diinvestasikan." institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukannya." ditambah dengan perubahan harga
diinvestasikan."
institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukannya."
ditambah dengan perubahan harga pasar yang biasanya."

Menurut Brigham dan Houston (2011:215) menyebutkan bahwa return

saham adalah sebagai berikut :

"Return merupakan tingkat pengembalian merupakan selisih antara jumlah

yang diterima dan jumlah yang diinvestasikan, dibagi dengan jumlah yang

Menurut Fahmi (2012:189) menyebutkan bahwa return saham adalah

sebagai berikut :

"Return adalah keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan, individu, dan

Menurut Horne dan Wachowicz (2012:116) menyebutkan bahwa return

saham adalah sebagai berikut :

"Return merupakan penghasilan yang diterima dari suatu investasi

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa return

saham adalah tingkat pengembalian atas suatu saham biasa yang secara aktual

diterima oleh pemegang saham dalam periode di masa lalu.

2.1.5.2 Jenis-Jenis Return Saham

Menurut Jogiyanto (2010:205) menyebutkan bahwa return saham dapat

dibagi menjadi dua yaitu:

1. Return realisasian

Return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis

merupakan return realisasian. Dalam hal ini return realisasian (realized

31

return) merupakan return yang telah terjadi. Return realisasian penting karena digunakan sebagai salah sau pengukur kinerja perusahaan.

2. Return ekspektasian Return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor dimasa mendatang. Berbeda dengan return realisasian yang sifatnya sudah terjadi, return ekspektasian sifatnya belum terjadi. Return merupakan selisih antara harga jual dengan harga beli (dalam persentase) ditambah kas lain (misalnya dividen).

(dalam persentase) ditambah kas lain (misalnya dividen). 2.1.5.3 Bentuk Return Saham Menurut Simatupang (2010:39)

2.1.5.3 Bentuk Return Saham Menurut Simatupang (2010:39) terdapat dua bentuk return yang diterima oleh investor dari kegiatan investasi saham, yaitu :

1.

Dividen Dividen adalah keutungan bersih setelah dikurangi pajak yang diberikan perusahaan penerbit saham kepada para pemegang saham. Sering dijumpai perusahaan tidak membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya.

Hal ini didasarkan pada pertimbangan kebutuhan dana untuk pengembangan usaha, memprioritaskan pembayaran utang perusahaan, dan pertimbangan lainnya. Oleh sebab itu, investor harus dapat mengamati dan mempertimbangkannya sebelum melakukan investasi

2.

Capital Gain Capital gain merupakan keutungan yang diperoleh oleh para investor di pasar modal, yang berasal dari selisih antara harga beli dan harga jual. Data-data transaksi di Bursa Efek menunjukkan bahwa banyak para investor di pasar modalmelakukan investasi saham lebih memprioritaskan mendapatkan capital gain daripada dividen. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya investor melakukan investasi bersifat jangka pendek dengan membeli saham pada pagi hari dan kemudian akan menjualnya lagi pada sore hari atau satu dua hari kemudian setelah harganya naik.

32

Menurut Riadi (2013:21) investor yang memilih untuk berinvestasi di pasar modal dalam bentuk sekuritas saham akan memperoleh keutungan (return) atas kepelilikannya terhadap sekuritas dalam hal berikut ini:

1. Memperoleh deviden, selama mereka tetap memegang saham

2. Memperoleh capital gain, jika harga jual melebihi harga beli saham tersebut. Di samping mendapatkan keuntungan para investor juga di hadapkan oleh resiko yaitu:

a. b. Tidak ada pembagian dividen Capital loss, jika harga beli saham lebih besar daripada
a.
b.
Tidak ada pembagian dividen
Capital loss, jika harga beli saham lebih besar daripada harga jual
saham
c.
Risiko likuidasi, jika emiten bangkrut atau dilikuidasi
d.
Saham delisting dari Bursa jika saham dihapus pencatatannya di Bursa
Pengukuran Return Saham
Menurut Horne dan Wachowicz (2012:116) menyebutkan bahwa return
Rt = (Pt - Pt-1)
Pt-1
Keterangan :

R t = Return saham periode t P t = Return saham periode t P t-1 = Return saham periode t

2.1.5.4

saham dapat diukur dengan rumus sebagai berikut :

2.1.6 Inflasi

2.1.6.1 Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga barang-barang secara umum yang disebabkan oleh turunnya nilai mata uang pada suatu periode tertentu. Menurut Sukirno (2012:314) menyebutkan bahwa inflasi adalah sebagai berikut :

"Inflasi sebagai proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian."

33

Menurut Nopirin (2012:25) menyebutkan bahwa inflasi adalah sebagai berikut :

"Inflasi adalah sebagai proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus-menerus." Menurut Prasetyo (2012:195) menyebutkan bahwa inflasi adalah sebagai berikut :

"Inflasi secara umum dapat diartikan sebagai kenaikan harga-harga umum secara terus menerus selama dalam suatu periode tertentu." Menurut Prasetyo (2012:195) beberapa unsur dalam pengertian inflasi perlu diketahui bahwa :

unsur dalam pengertian inflasi perlu diketahui bahwa : 1. 2. Inflasi merupakan proses kecenderungan kenaikan

1.

2.

Inflasi merupakan proses kecenderungan kenaikan harga-harga umum barang-barang dan jasa secara terus menerus.

Kenaikan harga-harga ini tidak berarti harus naik dengan presentase yang sama, yang penting terdapat kenaikan harga-harga umum barang secara terus menerus selama periode tertentu (satu bulan atau satu tahun).

3.

Jika kenaikan harga yang terjadi hanya sekali saja dan bersifat sementara

atau secara temporer (sekalipun dalam presentase yang besar) tetapi, tidak berdampak meluas bukanlah merupakan inflasi. Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus, akan tetapi bila kenaikan harga hanya dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau menyebabkan kenaikan sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan harga-harga barang itu tidaklah harus dengan persentase yang sama.

2.1.6.2 Jenis-Jenis Inflasi Menurut Prasetyo (2012:198) menyebutkan bahwa Jenis-jenis inflasi dapat

dikategorikan berdasarkan tingkat keparahan, sebab, menurut sifatnya, dan lainnya sebagaimana diterangkan sebagai berikut :

1. Berdasarkan tingkat keparahan penggolongan inflasi berdasarkan tingkat parah dan tidaknya dapat dilihat dari berbagai tingkatan berikut :

34

a. Inflasi ringan (kurang dari 10% per tahun)

b. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% per tahun)

c. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% per tahun)

d. Hiperinflasi atau hyperinflation (lebih dari 100% per tahun)

2. Berdasarkan penyebabnya

a.

Daya tarik permintaan (demand pull inflation) Demand pull inflation, atau sering disebut sebagai (demand-side inflation) atau goncangan permintaan (demand shock inflation), yaitu inflasi yang disebabkan karena adanya daya tarik dari permintaan masyarakat akan berbagai barang yang terlalu kuat. Inflasi jenis ini biasa dikenal juga sebagai philips curve inflation, yaitu merupakan inflasi yang dipicu oleh interaksi permintaan dan penawaran akan barang dan jasa domestik dalam jangka panjang yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Daya dorong penawaran (cost push inflation) Cost push inflation, atau (supply-side inflation) atau sering disebut juga sebagai goncangan penawaran (supply shock inflation), yaitu inflasi yang disebabkan karena adanya goncangan atau dorongan kenaikan biaya faktorfaktor produksi secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu.

b. c.
b.
c.

Inflasi campuran (mixed inflation) Inflasi campuran yang dimaksud dalam hal ini adalah jenis inflasi yang terjadi karena disebabkan oleh kenaikan permintaan dan kenaikan penawaran. Inflasi ini sering terjadi karena ketika para pelaku permintaan dan penawaran tidak seimbang, yaitu jika permintaan akan barang bertambah banyak, menyebabkan faktor- faktor produksi dan penyediaan barang menjadi berkurang, padahal substitusi barang tersebut lemah, akibatnya harga faktor produksi naik, yang selanjutnya harga barang juga ikut naik. Inflasi jenis ini akan semakin parah dan sulit untuk diatasi, jika kenaikan dari sisi supply lebih tinggi sama dengan kenaikan dari sisi demand.

35

3.

4.

d. Ekspektasi inflasi (expected inflation)

Inflasi jenis ini disebabkan adanya perilaku masyarakat secara umum yang bersifat adaptif atau forward looking, karena masyarakat melihat harapan di masa datang akan semakin lebih baik dari masa sebelumnya. Harapan masyarakat di masa datang yang lebih baik ini dapat menyebabkan demand pull inflation maupun cost push inflation tergantung dari harapan masyarakat yang mana yang lebih baik dan bagaimana kondisi persediaan barang dan faktor produksi di saat itu dan di masa datang.

Menurut asalnya a. b.
Menurut asalnya
a.
b.

Inflasi dari dalam negeri (domestic inflation) Domestic inflation, yaitu jenis inflasi yang berasal dari dalam negeri di suatu negara itu sendiri. Inflasi jenis ini terjadi dapat disebabkan karena perilaku konsumtif masyarakat atau “shock” pamer kekayaan,

sehingga harga-harga barang menjadi naik. Inflasi dari luar negeri (imported inflation) Imported inflation, yaitu inflasi yang berasal dari luar negeri ini pada umumnya dapat terjadi karena adanya kelangkaan sumber daya secara umum di luar negeri (di berbagai negara, misalnya kelangkaan minyak bumi di tahun 2007-2008 kemarin) sehingga menimbulkan permintaan pasar terhadap barang tersebut meningkat hingga sampai ke beberapa negeri seberang, akibatnya secara umum harga barang-barang tersebut meningkat.

Jenis inflasi menurut sifatnya

Jenis inflasi menurut sifatnya sebenarnya sulit untuk dikategorikan sebagai jenis inflasi yang benar-benar dapat diukur dengan pasti. Karena sifat dari inflasi ini dapat melekat pada jenis inflasi yang lain. Pada umumnya jenis inflasi menurut sifatnya ini dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu :

a. Jenis inflasi merayap (creeping inflation) atau sering disebut inflasi jenis ringan, karena kenaikan harga-harga barang bersifat sangat

36

lambat dan sifat besarannya tergolong ringan yakni kurang dari 10 persen.

b. Jenis inflasi menengah atau sedang (moderate inflation), jenis inflasi ini dikatakan bersifat moderat atau sedang karena kenaikan harga- harga barang bersifat masih lambat, sehingga tidak menimbulkan distorsi pada pendapatan, dan kenaikan harga masih bersifat relatif ringan yakni sekitar 10-30 persen.

c. Jenis inflasi ganas (galloping inflation), inflasi ini dikatakan ganas

5.

d. a.
d.
a.

karena dampaknya sudah semakin meluas dan semakin sulit untuk dikendalikan. Besaran inflasi jenis ini umumnya sekitar 30 persen100 persen atau bahkan besarannya sering dapat dikatakan sudah mencapai dua sampai tiga digit.

Jenis sangat parah (hyperinflation), yaitu jenis inflasi yang sifatnya sangat berat dan sangat parah, sehingga besarannya dapat mencapai ratusan bahkan ribuan persen atau milyaran persen per tahun, dan inflasi jenis ini sifatnya sangat mematikan.

Jenis inflasi lainnya Jenis-jenis inflasi lainnya yang dimaksud dalam pembahasan ini

sebenarnya merupakan derivative atau merupakan disagregasi dari berbagai jenis dan akibat terjadinya inflasi yang telah dijelaskan di atas. Beberapa jenis inflasi yang perlu dikenali tersebut adalah sebagai berikut:

Inflasi inti (core inflation) Inflasi inti yaitu jenis inflasi yang dipengaruhi oleh perkembangan faktorfaktor fundamental dalam perekonomian suatu negara seperti; interaksi permintaan dan penawaran, lingkungan eksternal (nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang), dan ekspektasi inflasi dri perdagangan dan konsumen, yang akan berdampak pada perubahan hargaharga secara umum dan lebih bersifat permanen dan persistent, yang akan berdampak pada perubahan harga-harga secara umum dan lebih bersifat permanen dan persistent.

b. Inflasi struktural (structural inflation)

37

Inflasi jenis ini terjadi sebagai akibat dari adanya berbagai kendala atau kekauan struktural yang menyebabkan penawaran di dalam suatu perekonomian menjadi kurang responsif terhadap permintaan yang meningkat.

Target inflasi (targeting inflation) Target inflasi, inflasi administrasi, dan inflasi bergejolak serta seigniorage sebenarnya bukan merupakan jenis inflasi inti, tetapi tergolong jenis inflasi non inti atau merupakan disagregasi inflasi. Jadi targeting inflation adalah tingkat inflasi yang ditargetkan pemerintah melalui kebijakan moneter.

c.

d. e.
d.
e.

Inflasi administrasi (administered price inflation) Administered price inflation, yaitu jenis inflasi yang banyak dipengaruhi oleh shocks yang berupa kebijakan dalam mengatur harga seperti pada harga BBM, tarif listrik, tarif angkutan, SPP mahasiswa, dan sebagainya. Dimana, administered prices merupakan harga atau biaya administrasi yang sering ditentukan sepihak oleh pemerintah atau oleh BUMN, sehingga biaya atau harga tersebut sering memicu inflasi di masyarakat.

Inflasi bergejolak (volatile goods prices inflation) Inflasi bergejolak adalah inflasi barang/jasa yang perkembangan harganya sangat bergejolak, umumnya dipengaruhi oleh shocks yang bersifat temporer seperti musim panen, gangguan alam, gangguan penyakit, dan gangguan distribusi. Jadi inflasi ini merupakan inflasi turunan (disagregasi inflasi) dan tidak bersifat inti.

f. Pajak inflasi (tax inflation) Ketika masalah inflasi ditandai dengan banyaknya jumlah uang beredar (JUB), maka inflasi ini terjadi karena disebabkan pemerintah mencetak uang terlalu banyak untuk membiayai kegiatan perekonomiannya. Karena masalah perekonomian yang sangat

38

kompleks seperti: defisit neraca pembayaran, defisit APBN, pembiayaan kredit yang terlalu bnaya melalui bank pemerintah sehingga permasalahan tersebut harus dapat diatasi, dan salah satu cara termudah untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah mencetak uang baru.

Inersia inflasi (inflation inertia) Inflasi inersia, terjadi karena adanya inflasi di masa lalu yang mempengaruhi ekspektasi inflasi masa depan, sebab ekspektasi ini mempengaruhi upah serta harga yang ditetapkan.

g.

ini mempengaruhi upah serta harga yang ditetapkan. g. Menurut Sukirno (2012:333) menjelaskan terdapat tiga bentuk

Menurut Sukirno (2012:333) menjelaskan terdapat tiga bentuk inflasi berdasarkan sumber atau penyebab kenaikan harga-harga yang berlaku, yaitu sebagai berikut :

1. Inflasi Tarikan Permintaan Inflasi tarikan biaya ini biasanya terjadi pada negara yang mengalami kemajuan perekonomian yang pesat. Kesempatan kerja yang tinggi akan menambah pendapatan masyarakat sehingga menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi untuk memproduksi suatu barang dan jasa, pengeluaran yang berlebihan inilah yang menyebabkan terjadinya inflasi. Selain terjadi pada masa kemajuan perekonomian yang pesat, inflasi tarikan permintaan juga dapat terjadi pada masa perang dan ketidakstabilan politik.

2. Inflasi Desakan Biaya Inflasi ini juga terjadi pada perekonomian yang mengalami kemajuan yang pesat ketika pengangguran sangat rendah. Apabila perusahaan mengalami kenaikan permintaan yang berkelanjutan maka perusahaan tersebut akan menambah produksinya dan mengeluarkan banyak biaya produksi untuk bayaran tenaga kerja tambahan demi pemenuhan permintaan, langkah ini menyebabkan kenaikan harga-harga di berbagai barang.

39

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan barang-barang impor yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan pengeluaran perusahaan- perusahaan salah satunya adalah kenaikan minyak impor yang merupakan faktor produksi disuatu perusahaan. Kenaikan minyak impor akan menyebabkan biaya produksi suatu perusahaan akan mengalami peningkatan, dan menyebabkan harga-harga produk juga mengalami kenaikan.

dan menyebabkan harga-harga produk juga mengalami kenaikan. 2.1.6.3 Teori Inflasi Dalam ilmu ekonomi pembangunan teori

2.1.6.3 Teori Inflasi Dalam ilmu ekonomi pembangunan teori inflasi dapat digolongkan menjadi dua kelompok yakni teori monetaris dan non-monetaris karena pada

dasarnya inflasi adalah masalah moneter. Menurut Prasetyo (2012:215) menyebutkan bahwa kajian teori inflasi dilihat dari sudut pandang teori Kuantitas, teori Keynes, teori Strukturalis yaitu sebagai berikut :

1.

Teori Kuantitas Teori kuantitas ini merupakan teori inflasi yang paling tua, dan merupakan teori yang mendekati inflasi dari segi permintaan, teori ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh kelompok ekonom dari Universitas Chicago yang juga dikenal sebagai kelompok monetaris. Menurut para ekonom dari Chicago ini, inflasi hanya dapat terjadi jika ada kenaikan dalam jumlah uang beredar. Menurut teori kuantitas, penyebab utama terjadinya inflasi adalah masalah penambahan jumlah uang beredar dan faktor “psikologi” masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa datang. Menurut teori Kuantitas ini, nilai uang ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan uang di pasar uang, dan JUB ditentukan oleh bank sentral.

Teori Keynes Menurut pandangan teori Keynes, JUB (MS) hanyalah sebagai salah satu faktor penentu tingkat harga (inflasi). Inflasi terjadi karena masyarakat

2.

40

hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya. Teori ini menyoroti bagaimana perebutan rizki antara golongan-golongan masyarakat bisa menimbulkan permintaan agregatif yang lebih besar daripada jumlah barang yang tersedia (yaitu jika terjadi inflationary gap).

Teori Strukturalis Menurut teori strukturalis (structural inflation) inflasi jenis ini terjadi sebagai akibat dari adanya berbagai kendala atau kekakuan struktural yang menyebabkan kekakuan penawaran dalam perekonomian suatu negara, sehingga kurva penawaran menjadi kurang atau tidak responsif terhadap permintaan yang meningkat. Menurut pandangan kelompok strukturalis ini, sebab-sebab kekakuan struktural terjadi karena adanya kendala penawaran bagan pangan yang bersifat inelastic, kendala devisa yang terbatas, dan kendala fiskal.

3.

kendala devisa yang terbatas, dan kendala fiskal. 3. 2.1.6.4 Dampak Inflasi Inflasi sebenarnya mengandung dampak

2.1.6.4 Dampak Inflasi Inflasi sebenarnya mengandung dampak negatif dan positif, namun sering

menimbulkan dampak negatif. Secara umum dampak inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan, alokasi faktor produksi, dan produk nasional. Menurut Prasetyo (2012:221) menyebutkan bahwa dampak positif dapat meningkatkan gairah produksi dan kesempatan kerja baru. Adapun dampak negatif dari inflasi yang dimaksud secara umum yaitu sebagai berikut :

1.

2.

Inflasi menurunkan daya beli, terutama terhadap masyarakat miskin atau masyarakat yang berpendapatan tetap atau rendah.

Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, termasuk masyarakat menjadi tidak suka menabung, sehingga investasi tetap rendah dan pada gilirannya menghambat pertumbuhan perekonomian baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Semakin melebarkan kesenjangan pendapatan antara si miskin dan kaya.

Inflasi yang tinggi menghambat investasi produktif karena tingginya ketidakpastian.

3.

4.

41

5.

Bagi pemerintah, inflasi sering menyulitkan karena kebijakan pemerintah menjadi tidak efektif dan dapat menimbulkan biaya sosial inflasi yang makin besar.

2.1.6.5

Pengukuran Inflasi

Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang dibeli konsumen dalam suatu periode tertentu. Berikut ini adalah rumus untuk menghitung tingkat

inflasi, yaitu :

It = (IHKt - IHKt-1) IHKt-1 Keterangan : I t = Tingkat inflasi periode t
It = (IHKt - IHKt-1)
IHKt-1
Keterangan :
I t = Tingkat inflasi periode t
IHK t = Indeks Harga Konsumen periode t
IHK t-1 = Indeks Harga Konsumen periode t-1
Nilai Tukar
Pengertian Nilai Tukar

2.1.7

2.1.7.1

Nilai tukar atau kurs merupakan sejumlah uang dari suatu mata uang tertentu yang dapat dipertukarkan dengan satuan unit mata uang negara lain. Menurut Peraturan Mentri Keuangan No 114/PMK.04/2007 Pasal 1 yang

dimaksud dengan nilai tukar adalah Sebagai berikut :

“Harga mata uang rupiah terhadap mata uang asing.” Menurut Arifin dan Hadi (2009:82) menyebutkan bahwa pengertian nilai tukar adalah sebagai berikut :

"Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya." Menurut Manurung (2009:95) menyebutkan bahwa pengertian nilai tukar adalah sebagai berikut :

"Nilai tukar merupakan harga satu mata uang dalam satuan mata uang lain yang ditentukan dalam pasar valuta asing." Menurut Hasibuan (2009:14) menyebutkan bahwa pengertian nilai tukar adalah sebagai berikut :

42

"Kurs adalah perbandingan nilai tukar mata uang suatu negara dengan mata uang negara asing atau perbandingan nilai tukar valuta antarnegara." Berdasarkan pengertian-poengertian di atas bahwa nilai tukar adalah suatu mata uang sebenarnya adalah ‘harga’ mata uang suatu negara terhadap negara asing lainnya, sedangkan nilai tukar Rupiah adalah harga Rupiah terhadap mata uang negara lain.

2.1.7.2 Jenis-Jenis Nilai Tukar

Menurut Dornbusch, et.al (2008:46) menyebutkan bahwa nilai tukar atau lazim juga disebut kurs valuta dalam berbagai transaksi ataupun jual beli valuta asing, dikenal ada empat jenis yakni :

jual beli valuta asing, dikenal ada empat jenis yakni : 1. 2. Selling Rate (kurs jual)

1.

2.

Selling Rate (kurs jual) yakni kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk penjualan valuta asing tertentu pada saat tertentu.

Middle Rate (kurs tengah) adalah kurs tengah antara kurs jual dan kurs beli valuta asing terhadap mata uang nasional, yang ditetapkan oleh bank sentral pada suatu saat tertentu.

3.

4.

Buying Rate (kurs beli) adalah kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk pembelian valuta asing tertentu pada saat tertentu.

Flat Rate (kurs flat) adalah kurs yang berlaku dalam transaksi jual beli bank notes dan traveller chaque, dimana dalam kurs tersebut sudah diperhitungkan promosi dan biaya-biaya lainya.

2.1.7.3

Manfaat Nilai Tukar Menurut Hasibuan (2009:14) nilai tukar atau kurs memeiliki manfaat yang

penting yaitu sebagai berikut :

1. Dengan adanya kurs maka perdagangan internasional (ekspor-impor)

dapat dilakukan

2. Dengan adanya kurs maka pembayaran transaksi komersial dan finansial antar negara dapat terlaksana

3. Dengan adanya kurs maka kerjasama lalu lintas pembayaran (LLP) antarbank devisa di dunia dapat terlaksana

43

4. Dengan adanya kurs maka transaksi jual beli valuta asing (valas) dapat dilakukan

5. Dengan adanya kurs maka uang kartal berfungsi juga sebagai barang komoditi yang dapat diperjual belikan

6. Dengan adanya kurs maka cek perjalanan valas dapat diterbitkan dan diedarkan oleh bank-bank devisa di dunia.

7. Dengan adanya kurs, orang dapat berpergian antar Negara.

2.1.7.4 FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar Menurut Arifin dan Hadi (2009:84) menyebutkan bahwa ada dua faktor penyebab perubahan nilai tukar yaitu sebagai berikut :

1.

Faktor penyebab nilai tukar secara langsung sebagai berikut : a. b. a.
Faktor penyebab nilai tukar secara langsung sebagai berikut :
a.
b.
a.

Pemintaan valas akan ditentukan oleh impor barang dan jasa yang memerlukan dolar atau valas dan ekspor modal dari dalam ke luar negeri.

Penawaran valas ditentukan oleh ekspor barang dan jasa yang

menghasilkan dollar atau valas dan impor modal dari luar negeri ke dalam negeri.

2.

Faktor penyebab nilai tukar secara tidak langsung sebagai berikut:

Posisi neraca pembayaran Saldo neraca pembayaran memiliki konsekuensi terhadap nilai tukar rupiah. Jika saldo neraca pembayaran defisit, permintaan terhadap valas akan meningkat.Hal ini menyebabkan nilai tukar melemah (depresiasi). Sebaliknya jika saldo neraca pembayaran surplus, permintaan terhadap valas akan menurun, dan hal ini menyebabkan nilai rupiah menguat (terapresiasi)

b. Tingkat inflasi Dengan asumsi faktor lainnya tetap (ceteris paribus), kenaikan harga akan mempengaruhi nilai tukar mata uang suatu negara. Sesuai dengan teori paritas daya beli (purchasing power parity) atau PPP, yang mengartikan bahwa pergerakan kurs antara mata uang dua

44

negara berasal dari tingkat harga di kedua negara itu sendiri. Dengan demikian, menurut teori ini penurunan daya beli mata uang (yang ditunjukan oleh kenaikan harga di negara yang berkaitan) akan diikuti dengan depresiasi mata uang secara proporsional dalam pasar valuta asing. Sebaliknya, kenaikan daya beli mata uang domestik (misalnya rupiah) akan mengakibatkan apresiasi (penguatan mata uang) secara proporsional.

Tingkat bunga Dengan asumsi ceteris paribus adanya kenaikan suku bunga dari simpanan mata uang domestik, akan mengakibatkan mata uang domestik itu mengalami apresiasi (penguatan) terhadap nilai mata uang negara lain. Hal ini mudah dimengerti karena peningkatkan suku bunga deposito, misalnya orang yang menyimpan aset di lembaga perbankan dalam bentuk rupiah akan mendapatkan pendapatan bunga yang lebih besar sehingga mengakibatkan nilai rupiah terapresiasi.

c.

d.
d.

Tingkat pendapatan nasional Seperti pada tingkat bunga, tingkat pendapatan nasional hanya mempengaruhi nilai tukar melalui tingkat permintaan dolar atau valas lainnya. Kenaikan pendapatan nasional( yang identik dengan meningkatnya kegiatan transaksi ekonomi) melalui kenaikan impor akan menigkatkan permintaan terhadap dolar atau valas lainnya sehingga menyebabkan nilai rupiah terdepresiasi dibandingkan dengan valas lainnya.

e. Kebijakan Moneter Kebijakan dari pemerintah yang bertujuan untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi dapat mempengaruhi suatu pergerakan kurs. Misalnya, kebijakan Bank Indonesia yang besifat ekspansif (dengan menambah jumlah uang beredar) kemudian mendorong kenaikan harga atau inflasi. Kemudian menyebabkan rupiah mengalami depresiasi karena menurunkan daya beli rupiah terhadap barang dan jasa dibandingkan dolar atau valas lainnya.

45

Ekspektasi dan Spekulasi Untuk sistem nilai tukar yang diberikan kepada mekanisme pasar secara bebas, seperti halnya rupiah dan sebagian besar nilai mata uang negara di dunia, perubahan nilai tukar rupiah dapat disebabkan oleh faktor non-ekonomi (misalnya karena ledakan bom atau gangguan keamanan) akan berpengaruh kepada kondisi perekonomian di dalam negeri. Menurut Madura (2009:128) menyebutkan bahwa ada faktor penyebab perubahan nilai tukar yaitu sebagai berikut :

1.

2.

3.

4.

5.

f.

nilai tukar yaitu sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. f. Tingkat Inflasi Relatif Perubahan

Tingkat Inflasi Relatif Perubahan pada tingkat inflasi dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan internasional yang akan mempengaruhi permintaan dan penawaran suatu mata uang dan karenanya mempengaruhi kurs nilai tukar.

Suku Bunga Relatif Perubahan pada suku bunga dapat mempengaruhi investasi pada sekuritas asing, yang akan mempengaruhi permintaan dan penawaran suatu mata uang dan karenanya mempengaruhi kurs nilai tukar.

Tingkat Pendapatan Relatif Pendapatan mempengaruhi jumlah permintaan barang impor, maka pendapatan dapat mempengaruhi kurs mata uang.

Pengendalian Pemerintah Pemerintah negara asing dapat mempengaruhi kurs keseimbangan dengan berbagai cara yaitu mengenakan batasan atas pertukaran mata uang asing, mengenakan batasan perdagangan asing, mencampuri pasar uang asing

(dengan membeli dan menjual mata uang) dan mempengaruhi variabel makro seperti inflasi, suku bunga, dan tingkat pendapatan.

Predikasi Pasar Harapan pasar mengenai kurs mata uang di masa depan. Seperti pasar keuangan lain, pasar mata uang asing juga bereaksi terhadap berita yang memiliki dampak di masa depan.

46

2.1.7.5 Sistem Nilai Tukar Menurut Sukirno (2011:403) menyebutkan bahwa sistem nilai tukar atau

kurs yang biasa diterapkan oleh negara-negara di dunia adalah sebagai berikut:

1.

2.

3.

4.

2.1.7.6

Sistem nilai tukar tetap (Fixed Exchange Rate System) Yaitu sistem kurs yang mematok nilai kurs mata uang asing terhadap mata uang negara yang bersangkutan dengan nilai tertentu yang selalu sama dalam periode tertentu.

Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (Freely Floating Exchange Rate System) Merupakan nilai satu mata uang yang ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran pada bursa valuta asing.

Pengkuran Nilai tukar
Pengkuran Nilai tukar

Sistem nilai tukar mengambang terendali (Managed Floating Exchange Rate System) Dalam sistem nilai tukar mengambang terkendali, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam mempertahankan nilai mata uangnya.

Sistem nilai tukar terkait (Pegged Exchange Rate System) Sistem nilai tukar terkait dilakukan dengan mengaitkan nilai mata uang satu negara dengan nilai mata

Nilai tukar yang dibahas pada penelitian ini adalah nilai tukar rupiah terhadap nilai tukar negara Amerika Serikat (US$) yang dinyatakan dengan IDR/USD (Indonesia Rupiah/Dollar AS). Data yang digunakan adalah kurs tengah yaitu kurs yang didapatkan berdasarkan hasil data rata-rata kurs beli dan kurs jual per tahun dalam perdagangan valuta asing (Simi dkk, 2015). Data yang diambil

dari Bank Indonesia dengan satuan rupiah per dollar.

2.1.8

Tingkat Suku Bunga

2.1.8.1

Pengertian Suku Bunga

Suku bunga adalah jumlah tertentu yang harus dibayarkan peminjam kepada pemberi pinjaman atas sejumlah uang tertentu untuk membiayai konsumsi dan investasi. suku bunga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran

47

dana di pasar uang. Menurut Tandelilin (2010:213) menyebutkan bahwa pengertian suku bunga adalah sebagai berikut :

“Tingkat suku bunga merupakan salah satu faktor ekonomi makro yang secara empiris telah terbukti mempunyai pengaruh terhadap perkembangan investasi di beberapa negara.” Menurut Brigham dan Houston yang dialih bahasakan oleh Ali Akbar Yulianto (2010:164) menyebutkan bahwa pengertian suku bunga adalah sebagai berikut :

“Suku bunga adalah harga yang dibayarkan untuk meminjam modal utang.” Menurut Sunariyah (2011:82) menyebutkan bahwa pengertian suku bunga adalah sebagai berikut :

bahwa pengertian suku bunga adalah sebagai berikut : "Suku bunga adalah harga dari pinjaman. Suku bunga

"Suku bunga adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur."

Menurut Kasmir (2012:154) menyebutkan bahwa pengertian suku bunga adalah sebagai berikut :

"Suku bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip konversial kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya." Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, suku bunga adalah harga yang harus dibayar atas penggunaan suatu dana tertentu. Kemudian yang dimaksud suku bunga di sini adalah suku bunga yang diberlakukan Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral.

2.1.8.2 Jenis-Jenis Suku Bunga Menurut Kasmir (2012:154) menyebutkan bahwa dalam kegiatan perbankan konvensional ada dua macam bunga yang diberikan bank kepada nasabahnya yaitu sebagai berikut :

48

Bunga simpanan merupakan harga beli yang harus dibayar bank kepada nasabah pemilik simpanan. Bunga simpanan ini diberikan sebagai rangsangan atau balas jasa kepada nasabah yang menyimpan uangnya di bank.

2. Bunga pinjaman Bunga pinjaman merupakan bunga yang dibebankan kepada peminjam (debitur) atau harga jual yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada bank.

Menurut Prasetiantono (2008:101) menyebutkan bahwa suku bunga dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut :

1.

a. b.
a.
b.

Suku bunga nominal Suku bunga niminal adalah suku bunga dalam nilai uang. Suku bunga ini mnerupakan nilai yang dapat dibaca secara umum. Suku bunga ini menunjukan sejumlah rupihak untuk setiap satu rupiah yang diinvestasikan.

2.

Suku bunga riil Suku bunga riil adalah suku bunga yang telah mengalami koreksi akibat inflasi dan didefinisikan sebagai suku bunga nominal dikurangi laju

inflasi, disebutkan bahwa interest (bunga, kepentingan, hak) merupakan :

Beban atas penggunaan uang dalam satu periode. Suatu pemilikan atau bagian kekayaan dalam suatu perusahaan, usaha dagang, atau sumber daya.

2.1.8.3 Fungsi Suku Bunga Menurut Sunariyah (2011:83) menyebutkan bahwa fungsi suku bunga yaitu sebagai berikut :

1. Sebagai daya tarik bagi para penabung baik individu, institusi atau

lembaga yang mempunyai dana lebih untuk diivestasikan.

2. Tingkat bunga dapat digunakan sebagai alat kontrol bagi pemerintah terhadap dana langsung atau investasi pada sektor-sektor ekonomi.

49

3. Tingkat bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian.

4. Pemerintah dapat memanipulasi tingkat bunga untuk meningkatkan produksi, sebagai akibatnya tingkat bunga dapat digunakan untuk mengontrol tingkat inflasi. Ini berarti, pemrintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.

dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian. 2.1.8.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Suku Bunga Menurut

2.1.8.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Suku Bunga Menurut Kasmir (2012:155) menyebutkan bahwa besar kecilnya penetapan suku bunga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut :

1.

Kebutuhan dana Apabila bank mengalami kekurangan dana sedangkan permintaan pinjaman meningkat maka bank akan meningkatkan suku bunga simpanan untuk dapat memenuhi dana tersebut. Dengan kenaikan suku bunga simpanan maka akan suku bunga pinjaman juga akan naik. Namun, apabila dana yang tersedia banyak dan permintaan pinjaman sedikit maka bunga simpanan akan turun.

2.

Persaingan Dalam penetapan suku bunga, bank harus memperhatikan pesaing. Untuk mendapatkan dana cepat maka suku bunga simpanan harus di atas suku bunga yang ditetapkan pesaing sedangkan suku bunga pinjaman harus di bawah suku bunga pinjaman yang ditetapkan pesaing.

3.

4.

5.

Kebijakan pemerintah Meskipun dalam penetapan suku bunga masing- masing bank berbeda tetapi dalam penetapan suku bunga tersebut tidak boleh melebihi suku bunga yang telah ditetapkan pemerintah.

Target laba yang diinginkan Untuk memenuhi target laba yang dinginkan yaitu jika laba yang diinginkan bank besar maka bunga pinjaman juga harus besar.

Jangka waktu Semakin panjang jangka waktu pinjaman maka akan semakin tinggi bunga yang ditetapkan. Hal ini dikarenakan besarnya kemungkinan resiko di masa mendatang.

50

6.

7.

Kualitas jaminan Semakin likuid jaminan yang diberikan maka akan semakin rendah bunga pinjaman yang dibebankan.

Reputasi perusahaan Bonafiditas suatu perusahaan akan berpengaruh terhadap besar kecilnya tingkat suku bunga yang akan diberikan karena perusahaan yang bonafid kemungkinan resiko kredit macet di masa mendatang relatif kecil.

Produk yang kompetitif Untuk pemberian bunga pinjaman, produk yang kompetitif relatif lebih rendah dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif.

8.

rendah dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. 8. 9. Hubungan baik Penentuan suku bunga antara nasabah

9.

Hubungan baik Penentuan suku bunga antara nasabah utama dengan nasabah biasa berbeda. Nasabah utama biasanya mempunyai hubungan yang baik dengan pihak bank sehingga penentuan bunganya pun berbeda.

10.

Jaminan pihak ketiga Ketika pihak yang memberikan jaminan bonafid maka bunga yang akan dibebankan berbeda dibandingkan dengan perusahaan kurang bonafit.

2.1.8.5 Teori Tentang Bunga Menurut Rahmat dan Maya (2011:101) menyebutkan bahwa terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang bunga tersebut yaitu sebagai berikut :

1.

Teori klasik (classical theory of interest) Menurut teori klasik, tingkat suku bunga ditetukan oleh dua faktor yaitu sebagai berikut :

a. Permintaan atas modal (demand for capital) Permintaan atas modal ini timbul karena adanya keinginan dari sebagian anggota masyarakat untuk berinvestasi/menanamkan modalnya dalam suatu usaha atau membeli saham sehingga timbul permintaan atas uang.

b. Penawaran atas modal (supply of capital) Penawaran atas modal ini datang dari sebagian anggota masyarakat yang mengadakan tabungan (saving) dan kemudian menawarkannya untuk dijadikan modal. Dari pendapat di atas maka teori ini

51

menyatakan bahwa tinggi rendahnya tingkat suku bunga akan ditentukan oleh pertemuan/perpotongan kurva investasi dengan kurva saving.

2. Teori non klasik (the loanable fund theory) Menurut teori ini tingkat suku bunga tidak ditentukan oleh permintaan dan penawaran tabungan (demand and supply of saving). Menurut teori ini tingkat suku bunga merupakan harga dari kredit (loan) yang akan ditentukan oleh demand and supply of credit. Permintaan atas loanable fund datang dari adanya keinginan untuk investasi serta adanya keinginan untuk menyimpan kekayaan dalam bentuk uang sedangkan penawaran loanable fund datang dari adanya keinginan sebagian masyarakat untuk menabung (saving) yang kemudian ditawarkan untuk modal, adanya penciptaan uang baru dan mengaktifkan uang yang menganggur (dishoarding idle money). Jadi menurut teori ini tinggi rendahnya suku bunga yang berlaku di masyarakat ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran loanable fund.

keseimbangan antara permintaan dan penawaran loanable fund. 3. Teori modern (J.M. Keynes) Teori ini dikenal sebagai

3. Teori modern (J.M. Keynes) Teori ini dikenal sebagai monetary theory of interest atau liquidity preference yaitu keinginan atau hasrat untuk memegang/menahan uang tunai. Hal ini didasarkan pada tiga motif yaitu motif transaksi (transaction motive), motif berjaga-jaga (precautionary motive) dan motif spekulasi (speculative motive). Dari teori ini disimpulkan bahwa suku bunga dibayarkan karena adanya kesediaan untuk melepaskan kekayaan dalam bentuk uang tuna. Oleh karena itu, dalam teori ini menyebutkan bahwa bunga adalah harga dari uang (interest is the price of money).

4. Teori Hicks Dalam teori ini Hicks berpendapat bahwa tinggi rendahnya tingkat suku bunga ditentukan oleh tabungan (saving), investasi (investment), uang tunai (liquidity preference) dan jumlah uang yang beredar (money supply). Jadi teori ini merupakan gabungan antar teori klasik dengan teori Keynes.

52

2.1.8.6 Pengukuran Tingkat Suku Bunga

Pengukuran tingkat suku bunga di dasarkan pada BI rate. Menurut Bank Indonesia menyebutkan BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik (Bank Indonesia, 2016). Dalam penelitian ini tingkat suku bunga diukur berdasarkan rata-rata BI rate per tahun Bank Indoensia.

Pertumbuhan Ekonomi Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi
Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

2.1.9

2.1.9.1

Menurut Prasetyo (2009:237) menyebutkan bahwa pengertian pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut :

"Pertumbuhan ekonomi (economic growth) secara paling sederhana dapat diartikan sebagai pertambahan output atau pertambahan pendapatan nasional agregat dalam kurun waktu tertentu misalkan satu tahun." Menurut Arsyad (2010:12) menyebutkan bahwa pengertian pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut :

"Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak." Menurut Sukirno (2011:9) menyebutkan bahwa pengertian pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut :

"Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah." Berdaarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan Produk Domestik Bruto riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil.

53

2.1.9.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Menurut Arsyad (2010:270) menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi

dipengaruhi oleh beberapa faktor penting yaitu sebagai berikut :

Akumulasi Modal Akumulasi Modal adalah seluruh investasi baru yang masuk berwujud tanah (lahan), peralatan fiskal dan sumber daya manusia, akan terjadi bila ada bagian dari pendapatan sekarang yang ditabung dan selanjutnya dinvestasikan yang bertujuan untuk memperbesar output pada masa yang

1.

Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto (PDB)

akan datang. Akumulasi modal akan menambah sumber daya baru dan meningkatkan sumber daya yang telah ada.

2.

Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk dan seluruh hal yang berkaitan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja dianggap sebagai faktor positif dalam memacu pertumbuhan ekonomi, namun kemampuan tersebut tergantung pada kemampuan sistem ekonomi yang berlaku dalam menyerap dan memperkerjakan tenaga kerja secara produktif.

Kemajuan Teknologi Kemajuan teknologi adalah faktor yang paling penting dalam pertumbuhan ekonomi. Dalam bentuknya yang paling sederhana, kemajuan teknologi dipengaruhi oleh cara-cara baru dan cara-cara lama yang dibenahi dalam melakukan pekerjaan tradisional.

2.1.9.3

Menurut Tandelilin (2010:342) menyebutkan bahwa produk domestik bruto adalah sebagai berikut :

"Produk domestik bruto adalah ukuran produksi barang dan jasa total suatu negera." Menurut Sukirno (2011:35) menyebutkan bahwa produk domestik bruto adalah sebagai berikut :

“Produk domestik bruto adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut dan negara asing.”

3.

54

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa produk domestik bruto adalah pendapatan total dan pengeluaran total nasional atas output barang dan jasa dalam periode tertentu. Produk domestik bruto ini dapat mencerminkan kinerja ekonomi, sehingga semakin tinggi produk domestik bruto sebuah negara dapat dikatakan semakin bagus pula kinerja ekonomi di negara tersebut.

2.1.9.4 Pengukuran Pertumbuhan Ekonomi Menurut Imamul dan Gina (2009:11) menyebutkan bahwa indikator yang digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah tingkat produk domestik bruto. Beberapa alasan digunakannya Produk domestik bruto (bukan PNB) sebagai indikator pengukuran pertumbuhan ekonomi, yaitu sebagai berikut :

a.

pengukuran pertumbuhan ekonomi, yaitu sebagai berikut : a. Produk domestik bruto dihitung berdasarkan jumlah nilai

Produk domestik bruto dihitung berdasarkan jumlah nilai tambah (value added) yang dihasilkan seluruh aktivitas produksi di dalam perekonomian. Hal ini, peningkatan produk domestik bruto mencerminkan peningkatan balas jasa kepada faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi.

b.

Produk domestik bruto dihitung atas dasar konsep siklus aliran (circulair flow concept). Artinya, perhitungan produk domestik bruto mencakup nilai produk yang dihasilkan pada suatu periode tertentu. perhitungan ini tidak mencakup perhitungan pada periode sebelumnya. Pemanfaatan konsep aliran dalam menghitung produk domestik bruto memungkinkan seseorang untuk membandingkan jumlah output pada tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Batas wilayah perhitungan produk domestik bruto adalah negara (perekonomian domestik). Hal ini memungkinkan untuk mengukur sampai sejauh mana kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah maupun mendorong aktivitas perekonomian domestik.

c.

55

Berikut ini adalah rumus untuk menghitung laju pertumbuhan ekonomi sutau negara yaitu :

Laju Pertumbuhan = (PDB t - PDB t-1 )

PDB t-1

X 100%

2.2 Kerangka Pemikiran

Pada dasaranya pasar modal adalah tempat berbagai pihak, khususnya perusahaan menjual saham (stock) dan obligasi (bond), dengan tujuan dari hasil penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan dana atau untuk memperkuat modal perusahaan (Fahmi, 2012:52). Pasar modal akan mempertemukan pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dengan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal, maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbal hasil (return), sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Para investor perlu mengadakan analisa yang cermat sebelum mengambil keputusan investasi baru (Darmadji dan Fakhrudin, 2012:1). Investasi adalah bentuk pengelolaan dana guna memberikan keuntungan dengan cara menempatkan dana tersebut pada alokasi yang diperkirakan akan memberikan tambahan keuntungan. Umumnya investasi dibagi menjadi dua yaitu investasi nyata seperti tanah, mesin atau pabrik dan investasi keuangan seperti saham dan obligasi (Fahmi, 2012:3). Saham merupakan salah satu instrument pasar modal yang paling banyak diminati oleh investor, karena mampu memberikan tingkat pengembalian yang menarik. Saham adalah kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang telah dijelaskan kepada setiap pemegangnya (Fahmi, 2012:81). Sedangkan harga saham juga mencerminkan nilai dari suatu perusahaan. Harga saham adalah nilai saham dalam rupiah yang terbentuk akibat terjadinya aksi pembelian dan penawaran saham di bursa efek oleh sesama anggota bursa (Hadi, 2013:179). Di dalam konteks investasi, return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko

salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko

56

yang dihadapinya (Tandelilin, 2010:102). Return merupakan tingkat pengembalian merupakan selisih antara jumlah yang diterima dan jumlah yang diinvestasikan, dibagi dengan jumlah yang diinvestasikan (Brigham dan Houston, 2011:215). Return dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Secara garis besar analisis dalam memprediksi pergerakan harga saham di masa mendatang dibagi menjadi dua cara, yakni analisis teknikal (technical analysis) dan analisis fundamental (fundamental analysis). Analisis fundamental, merupakan salah satu cara untuk melakukan penilaian saham dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator yang terkait dengan kondisi makro ekonomi dan kondisi industri suatu perusahaan hingga berbagai indikator keuangan dan manajemen perusahaan. Dengan demikian, analisis fundamental merupakan analisis yang berbasis pada berbagai data riil untuk mengevaluasi atau memproyeksi nilai suatu saham. Beberapa data atau indikator yang umum digunakan, antara lain: pendapatan laba, pertumbuhan penjualan, imbal hasil atau pengembalian atas ekuitas (return on equity), margin laba (profit margin), dan data keuangan lainnya sebagai sarana untuk menilai kinerja perusahaan dan potensi pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang (Darmadji dan Fakhrudin, 2012:149). Analisis teknikal, merupakan salah satu metode yang digunakan untuk penilaian saham, dimana dengan metode ini para analis melakukan evaluasi saham berbasis pada data yang dihasilkan dari aktivitas perdagangan saham, seperti harga saham dan volume transaksi. Dengan berbagai grafik yang ada serta pola-pola grafik yang terbentuk, analisis teknikal mencoba memprediksi arah pergerakan harga saham ke depan. Analisis teknikal atau sering disebut chartist percaya bahwa perkembangan atau kinerja saham dan pasar di masa lalu merupakan cerminan kinerja ke depan (Darmadji dan Fakhrudin, 2012:160). Hal ini juga sejalan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Tandelilin (2010:341) bahwa harga saham merupakan cerminan dari ekspektasi investor terhadap faktor- faktor earning, aliran kas, dan tingkat return yang disyaratkan investor, yang mana ketiga faktor tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro

return yang disyaratkan investor, yang mana ketiga faktor tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro

57

suatu negara serta kondisi ekonomi global. Tidak hanya faktor internal, kondisi ekonomi makro sebagai faktor eksternal juga dapat mempengaruhi kinerja dan nilai perusahaan. Inflasi merupakan kenaikan harga barang-barang secara umum yang disebabkan oleh turunnya nilai mata uang pada suatu periode tertentu. Laju inflasi yang tinggi akan mendorong kenaikan harga bahan baku dan meningkatkan berbagai biaya operasi perusahaan, menyebabkan harga jual barang meningkat dan menurunkan daya beli masyarakat. Hal ini berdampak pada turunnya penjualan perusahaan, sehingga keuntungan dan kinerja keuangan perusahaan mengalami penurunan. Inflasi adalah sebagai proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus-menerus (Nopirin, 2012:25). Melemahnya nilai tukar nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing dan ekspektasi harga (teori ekspektasi) menyebabkan meningkatnya harga bahan-bahan baku impor, yang pada gilirannya akan menaikkan biaya produksi. Selanjutnya, kenaikan biaya produksi ini mendorong meningkatnya harga jual di tingkat produsen dan harga di tingkat konsumen (inflasi). Nilai tukar merupakan sejumlah uang dari suatu mata uang tertentu yang dapat dipertukarkan dengan satuan unit mata uang negara lain. Nilai tukar rupiah memiliki pengaruh utama terhadap perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor. Pada dasarnya nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya (Arifin dan Hadi, 2009:82). Tingkat suku bunga merupakan instrumen yang digunakan Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai rupiah. Suku bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip konversial kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya (Kasmir, 2012:154). Penentuan tingkat suku bunga mengacu pada BI rate. Menurut Bank Indonesia menyebutkan BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik (Bank Indonesia, 2016). BI rate yang semakin tinggi, menyebabkan investor akan beralih investasi dari sektor pasar modal ke investasi sektor perbankan.

yang semakin tinggi, menyebabkan investor akan beralih investasi dari sektor pasar modal ke investasi sektor perbankan.

58

Menurunnya minat investor untuk berinvestasi di pasar modal akan berdampak pada penurunan harga saham dan menyebabkan return untuk investor menurun. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah (Sukirno, 2011:9). Indikator yang digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah tingkat produk domestik bruto (PDB) (Imamul dan Gina, 2009:11). Produk domestik bruto adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut dan negara asing (Sukirno, 2011:35). Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti bermaksud menggambarkan skema kerangka pemikiran dan paradigma pemikiran sebagai bentuk alur pemikiran peneliti, yaitu sebagai berikut :

skema kerangka pemikiran dan paradigma pemikiran sebagai bentuk alur pemikiran peneliti, yaitu sebagai berikut :

59

Pasar Modal

59 Pasar Modal Investasi Informasi kinerja Perusahaan Analisis Harga Saham Analisis Fundamental Analisis Teknikal

Investasi

59 Pasar Modal Investasi Informasi kinerja Perusahaan Analisis Harga Saham Analisis Fundamental Analisis Teknikal

Informasi kinerja

Perusahaan

59 Pasar Modal Investasi Informasi kinerja Perusahaan Analisis Harga Saham Analisis Fundamental Analisis Teknikal

Analisis Harga Saham

Informasi kinerja Perusahaan Analisis Harga Saham Analisis Fundamental Analisis Teknikal Faktor Makro
Analisis Fundamental Analisis Teknikal Faktor Makro Ekonomi Inflasi Tingkat Suku Bunga Pertumbuhan Ekonomi Nilai
Analisis Fundamental
Analisis Teknikal
Faktor Makro Ekonomi
Inflasi
Tingkat Suku Bunga
Pertumbuhan Ekonomi
Nilai Tukar
Harga Saham
Return Saham
Gambar 2.1
Paradigma Pemikiran
Inflasi
(X
1 )
NIlai Tukar Rupiah
(X
2 )
Return Saham
(Y)
Tingkat Suku Bunga
(X
3 )
(X 2 ) Return Saham (Y) Tingkat Suku Bunga (X 3 ) Pertumbuhan Ekonomi (X 4

Pertumbuhan

Ekonomi

(X 4 )

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran

2.2.1 Penelitian Terdahulu

60

Di bawah ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan

penelitian ini yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Nama No Judul Penelitian Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Peneliti 1. Dwialesi dan Pengaruh faktor-
Nama
No
Judul Penelitian
Hasil Penelitian
Persamaan dan Perbedaan
Peneliti
1.
Dwialesi dan
Pengaruh
faktor-
faktor fundamental
Darmayanti
terhadap
return
(2016)
saham
Indeks
Kompas 100
Hasil penelitiannya
menunjukan bahwa DER,
ROA dan tingkat suku bunga
SBI berpengaruh tidak
signifikan terhadap return
saham, sedangkan variabel
PBV dan ukuran perusahaan
berpengaruh signifikan
terhadap return saham.
Persamaannya adalah sama-
sama menggunakan variabel
independen yaitu tingkat
suku bunga. Sedangkan
variabel depeden yaitu return
saham.
Perbedaannya adalah pada
penelitian sebelumnya
menggunakan variabel
independen lain yaitu DER,
ROA, PBV dan ukuran
perusahaan. Sedangkan
dalam penelitian ini
menggunakan variabel
independen lain yaitu ifnlasi,
nilai tukar, dan pertumbuhan
ekonomi.
2
Halim
Pengaruh makro
ekonomi terhadap
(2013)
return saham
kapitalisasi besar di
Bursa
Efek
Indonesia
Hasil penelitiannya
menunjukan bahwa inflasi dan
BI rate tidak berpengaruh
terhadap return saham
kapitalisasi besar, sedangkan
jumlah uang beredar dan nilai
tukar berpengaruh signifikan
terhadap return saham
kapitalisasi besar.
Persamaannya adalah sama-
sama menggunakan variabel
independen yaitu inflasi, nilai
tukar, dan BI rate.
Sedangkan variabel depeden
yaitu return saham.
Perbedaannya adalah pada
penelitian sebelumnya
menggunakan variabel
independen lain yaitu jumlah
uang beredar. Sedangkan
dalam penelitian ini
menggunakan variabel
independen lain yaitu
pertumbuhan ekonomi.
3
Artaya,
Purbawangsa
, dan Artini
(2014)
Pengaruh faktor
ekonomi makro,
risiko investasi dan
kinerja keuangan
terhadap return
saham perusahaan
di Bursa Efek
Indonesia (BEI)
Hasil penelitiannya
menunjukan bahwa tingkat
suku bunga, EPS, PER,
berpengaruh positif signifikan
terhadap return saham dan
kurs rupiah tidak berpengaruh
signifikan terhadap return
saham, risiko investasi
berpengaruh negatif tidak
signifikan terhadap return
Persamaannya adalah sama-
sama menggunakan variabel
independen yaitu tingkat
suku bunga dan kurs rupiah.
Sedangkan variabel depeden
yaitu return saham.
Perbedaannya adalah pada
penelitian sebelumnya
menggunakan variabel
independen lain yaitu EPS,

61

saham. PER, risiko investasi, Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan variabel independen lain yaitu inflasi dan
saham.
PER, risiko investasi,
Sedangkan dalam penelitian
ini menggunakan variabel
independen lain yaitu inflasi
dan pertumbuhan ekonomi.
4
Mahilo dan
Parengkuan
(2015)
Dampak risiko
suku bunga, inflasi,
dan kurs terhadap
return saham
perusahaan
makanan dan
minuman yang go
public di Bursa
Efek Indonesia
Hasil penelitiannya
menunjukan bahwa risiko
suku bunga, inflasi, dan kurs
tidak berpengaruh signifikan
terhadap return saham.
Persamaannya adalah sama-
sama menggunakan variabel
independen yaitu suku
bunga, inflasi, dan kurs.
Sedangkan variabel depeden
yaitu return saham.
Perbedaannya adalah pada
penelitian sebelumnya
menggunakan tidak
menggunakan variabel
independen lain yaitu
pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan dalam penelitian
ini menggunakan variabel
independen lain yaitu
pertumbuhan ekonomi.
5
Luthvi
(2014)
Pengaruh suku
bunga sbi, inflasi,
pertumbuhan
ekonomi,
dan size terhadap
return saham
syariah di Jakarta
Islamic Index (JII)
Hasil penelitiannya
menunjukan bahwa suku
bunga berpengaruh positif
terhadap return saham syariah,
inflasi, pertumbuhan ekonomi,
dan size berpengaruh negatif
terhadap return saham syariah.
Persamaannya adalah sama-
sama menggunakan variabel
independen yaitu suku
bunga, inflasi, dan
pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan variabel depeden
yaitu return saham.
Perbedaannya adalah pada
penelitian sebelumnya
menggunakan variabel
independen lain yaitu size.
Sedangkan dalam penelitian
ini menggunakan variabel
independen lain yaitu nilai
tukar.
2.3
Hipotesis Penelitian
2.3.1
Pengaruh Inflasi Terhadap Return Saham

Inflasi adalah sebagai proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus-menerus (Nopirin, 2012:25). Naiknya harga barang produksi menjadi masalah tersendiri bagi perusahaan. Naiknya harga barang produksi menyebabkan meningkatnya biaya operasional sehingga akan menurunkan laba perusahaan. Menurunnya laba tersebut berpengaruh terhadap dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. Dividen merupakan salah satu aspek yang diperhitungkan dalam pembelian saham. Jika dividen yang dibagikan menurun, harga saham juga akan cenderung menurun (Laila dkk, 2014).

62

Hal ini sejalan dengan penyataan menurut Tandelilin (2010:343) yang mengatakan bahwa secara relatif inflasi berpengaruh negatif terhadap return saham. Inflasi yang tinggi mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat. Inflasi yang terlalu tinggi juga dapat mengakibatkan penurunan pendapatan riil investor dari investasinya. Peningkatan inflasi berdampak pada peningkatan harga jual dan biaya produksi perusahaan. Apabila biaya produksi mengalami peningkatan lebih tinggi daripada peningkatan penjualan perusahan, maka profitabilitas perusahaan mengalami penurunan yang berakibat terhadap penurunan tingkat return saham. Jadi semakin tinggi inflasi, maka semakin rendah return saham. H 1 : Tingkat inflasi berpengaruh terhadap return saham.

Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Return Saham
Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Return Saham

2.3.2

Nilai tukar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi indeks harga saham. Naik turunya harga saham akan terjadi karena apresiasi rupiahh terhadap

mata uang asing yang menyebabkan naik turunya permintaan asaham di masar modal. Nilai tukar merupakan harga satu mata uang dalam satuan mata uang lain yang ditentukan dalam pasar valuta asing (Manurung, 2009:95). Apabila kurs rupiah meningkat artinya rupiah mengalami depresiasi (melemah), sedangkan jika kurs rupiah menurun artinya rupiah mengalami apresiasi (menguat) (Syarif dan Asandimitra, 2015). Menguatnya kurs mata uang domestik terhadap mata uang asing merupakan sinyal positif bagi perekonomian yang sedang mengalami inflasi. Menguatnya kurs mata uang domestik terhadap mata uang asing akan menurunkan biaya impor bahan baku untuk produksi dan akan menurunkan tingkat suku bunga yang berlaku. Hal ini akan mengakibatkan investor untuk membeli saham yang berakibat pada peningkatan harga saham dan return saham (Tandelilin, 2010:344). Jadi semakin tinggi nilai tukar, maka semakin rendah return saham. H 2 : Tingkat nilai tukar berpengaruh terhadap return saham.

63

2.3.3 Pengaruh Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham

Suku bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip konversial kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya (Kasmir, 2012:154). Kenaikan tingkat bunga pinjaman memiliki dampak yang negatif terhadap setiap emiten, karena meningkatkan beban bunga kredit serta menurunkan laba bersih. Penurunan laba bersih akan mengakibatkan menurunnya harga saham di pasar (Samsul, 2006:201). Tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap return saham. Perubahan tingkat suku bunga menyebabkan perubahan pada tingkat suku bunga yang diisyaratkan pada suatu sekuritas. Meningkatnya tingkat suku bunga mengakibatkan investor dapat menarik investasinya di pasar modal dan memindahkan investasinya pada tabungan atau deposito (Tandelilin, 2010:343). Tingkat suku bunga yang tinggi mengurangi nilai kas sekarang dari arus kas masa depan, sehingga mengurangi daya tarik peluang investasi (Bodie dkk, 2014:178). Jadi semakin tinggi tingkat suku bunga, maka semakin rendah return saham. H 3 : Tingkat suku bunga berpengaruh terhadap return saham.

: Tingkat suku bunga berpengaruh terhadap return saham. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Return Saham 2.3.4

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Return Saham

2.3.4

Pertumbuhan ekonomi terjadi ditandai dengan proses kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah (Sukirno, 2011:9) Meningkatnya pertumbuhan ekonomi akan merubah pola investasi suatu negara. Tingkat pendapatan nasional yang tinggi akan memperbesar pendapatan masyarakat, dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi akan memperbesar permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Maka keuntungan perusahaan akan bertambah tinggi dan ini akan mendorong dilakukannya lebih banyak investasi. Dengan kata lain, dalam jangka panjang-apabila pendapatan nasional bertambah tinggi,maka investasi akan bertambah tinggi pula

(Sukirno,2011:130).

64

Produk domestik bruto adalah ukuran produksi barang dan jasa total suatu negera. Pertumbuhan PDB yang cepat merupakan indikasi terjadinya pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi membaik, maka daya beli masyarakat pun akan meningkat, dan ini merupakan kesempatan bagi perusahaan- perusahaan untuk meningkatkan penjualannya. Dengan meningkatnya penjualan perusahaan, maka perusahaan memperoleh keuntungan juga akan semakin meningkat (Tandelilin, 2010:342). Selain itu jika pertumbuhan ekonomi membaik, maka kepercayaan investor untuk menginvestasikan dananya dalam bentuk saham menjadi meningkat. Peningkatan kepercayaan ini menjadikan saham jadi investasi yang menarik dan hal ini akan meningkatkan permintaan akan saham. Permintaan yang tinggi membuat harga saham menjadi naik, kenaikan harga saham akan memberikan nilai positif bagi investor yaitu dengan meningkatnya return saham yang akan diterima oleh investor (Luthvi, 2014). Jadi semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, maka semakin tinggi pula return saham. H 4 : Pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap return saham. H 5 : Inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi, berpengaruh terhadap return saham.

saham. H 5 : Inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi, berpengaruh terhadap return