Anda di halaman 1dari 5

http://jurnal.fk.unand.ac.

id 1

Artikel Penelitian

Gambaran Faktor Risiko Pasien Katarak Senilis di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Tri Furqanawanti1, Kemala Sayuti2, Fitratul Ilahi3

Abstrak
Katarak adalah suatu kelainan mata yang berupa kekeruhan pada lensa, yang disebabkan oleh pemecahan
protein oleh proses oksidasi dan foto-oksidasi yang jika berlangsung lama dapat menyebabkan kebutaan. WHO
memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan didunia, dimana sepertiganya berada di Asia Tenggara. Menurut
hasil suervei Riskesdas 2007, Sumatera Barat merupakan salah satu dari 10 provinsi dengan angka kejadian tertinggi
katarak di Indonesia, yaitu sebesar 2,3%. Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. Katarak senilis
adalah penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan di negara berkembang dan negara maju. Katarak senilis
merupakan kekeruhan pada lensa mata yang ditemukan pada penderita diatas usia 40 tahun karena terjadinya
modifikasi protein lensa yang menyebabkan struktur lensa tidak stabil dan akhirnya mengalami agregasi. Jenis penelitian
ini adalah deskriptif retrospektif. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan jumlah sampel sebanyak
62 responden. Data diperoleh dari observasi rekam medik pasien yang didiagnosis katarak senilis. Pada penelitian ini
didapatkan hasil bahwa kelompok usia tertinggi yang mengalami katarak senilis adalah kelompok usia 60-69 tahun yaitu
sebesar 46,7%, 51,6% berjenis kelamin perempuan, 72,6% berpendidikan rendah, dan 53,2% dengan pekerjaan
Outdoor.
Kata kunci : Katarak, katarak senilis.

Abstract
Cataract is a clouding of the lens in the eye that affects vision, which caused by protein breakdown due to
oxidation and photo-oxidation process and ultimately results in loss of vision. WHO estimating there are 45 millions blind
people in the world, 1/3 of them are in South East Asia. According to a Riskesdas survey in 2007, West Sumatera is one
of the top 10 provinces with cataracts cases in Indonesia by 2.3%. More than 90% cataratcs cases is cataracs senile.
Cataracs senile is the major cause of vision-impairing disease and blindness in develop and developing countries.
Cataracs senile is clouding of the lens in the eyes which develop in people over age 40 due to lens protein modification
that cause the structure of the lens become labil and had agregation. The research used the restropective descriptive
study and occurs in RSUP Dr. M. Djamil Padang. There are 62 responden as a sample. The data of this research was
collected by observing the senile catarac patients’ medical record. The test results show that the highest age group of
patients with senile cataract is 60-69 years old by 46.7%, 51.5% are females, 72.6% are from low level of education and
53.2% are outdoor workers.
Key words: cataract, senile cataract.

Affiliasi penulis : 1. Profesi Dokter FK UNAND (Fakultas Kedokteran Degeneration (AMD) sebesar 5%, kekeruhan kornea
Universitas Andalas Padang), 2. Bagian Ilmu Mata FK UNAND/RSUP Dr.
sebesar 4%, gangguan refraksi sebesar 3%, trachoma
M. Djamil Padang, 3. Bagian Mata FK UNAND/RSUP Dr. M. Djamil
Padang sebesar 3%, retinopati diabetikum sebesar 1%, 4%
Korespondensi :Tri Furqanawanti, email: trifurqanawanti@gmail.com diakibatkan karena gangguan penglihatan sejak kanak-
Telp: 085766006518 kanak dan sebesar 21% penyebab tidak dapat
ditentukan.4 Bila lensa mata kehilangan sifat beningnya
PENDAHULUAN atau kejernihannya maka penglihatan akan berkabut
Katarak merupakan suatu kelainan mata yang atau tidak dapat melihat sama sekali.5
berupa kekeruhan pada lensa, yang disebabkan oleh World Health Organization (WHO)
pemecahan protein oleh proses oksidasi dan foto- memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan
oksidasi.1 Katarak dapat menimbulkan berbagai macam didunia, dimana sepertiganya berada di Asia Tenggara.
risiko dan komplikasi yang salah satunya ialah kebutaan. Indonesia merupakan negara dengan angka kebutaan
Kebutaan masih merupakan salah satu masalah besar tertinggi di Asia Tenggara. Jumlah penderita katarak di
dalam bidang kesehatan di dunia.2 Menurut World Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah
Health Organization (WHO) pada tahun 2010 katarak penduduk usia lanjut.3 Perkiraan insiden katarak adalah
merupakan penyebab kebutaan pertama didunia.3 0,1%/tahun atau setiap tahun diantara 1.000 orang
Estimasi jumlah orang dengan gangguan penglihatan di terdapat satu orang penderita baru katarak. Sumatera
seluruh dunia pada tahun 2010 adalah 285 juta orang, Barat merupakan salah satu dari 10 provinsi dengan
sekitar 45 juta orang menderita kebutaan dan 246 juta angka kejadian tertinggi katarak di Indonesia, yaitu
orang mengalami low vision. Penyebab kebutaan sebesar 2,3%.1
terbanyak di seluruh dunia adalah katarak sebesar 51%, Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan
diikuti oleh glaukoma sebesar 8%, Age related Macular katarak senilis. Katarak senilis adalah penyebab utama

Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(1)


http://jurnal.fk.unand.ac.id 2

gangguan penglihatan dan kebutaan di negara METODE


berkembang dan negara maju.6 Katarak senilis Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan
merupakan kekeruhan pada lensa mata yang ditemukan rancangan retrospektif yaitu subyek penelitian
pada penderita diatas usia 40 tahun karena terjadinya diobservasi dari data sekunder rekam medik. Penelitian
modifikasi protein lensa yang menyebabkan struktur dilakukan dari bulan Januari-Februari 2018 di RSUP Dr.
lensa tidak stabil dan akhirnya mengalami agregasi. 7-8 M. Djamil, Padang, Sumatera Barat.
Perubahan lensa mata banyak terjadi pada usia Populasi penelitian ini adalah penderita katarak
lanjut, antara lain peningkatan masa dan ketebalan senilis yang datang berkunjung untuk berobat ke RSUP
lensa serta penurunan daya akomodasi. Hal tersebut Dr. M. Djamil Padang pada periode 2016-2017.
yang mengakibatkan semakin tingginya kejadian katarak Sampel penelitian yang dipilih adalah penderita
senilis. Pada usia 55-64 tahun didapatkan hampir 40% katarak senilis yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak
mengalami kekeruhan pada lensa, 5% diantaranya memiliki kriteria eksklusi. Kriteria inklusi subjek:
adalah katarak matur, pada usia 65-74 tahun didapatkan penderita yang sudah didiagnosis menderita katarak
70% mengalami kekeruhan pada lensa, 18% di senilis. Kriteria eksklusi subjek: pasien yang didiagnosis
antaranya adalah katarak matur. Pada usia 79-84 tahun katarak senilis yang diakibatkan karna adanya trauma
lebih dari 90% mengalami kekeruhan pada lensa dan mata, penyakit sistemik, penyakit intraokuli, dan
hampir separuhnya katarak matur.3 penggunaan kortikosteroid, dan data yang tidak
Terdapat beberapa faktor yang sangat lengkap.Data diperoleh dengan cara observasi dari data
mempengaruhi terjadinya katarak senilis selain usia sekunder rekam medik pasien yang didiagnosis katarak
penderita, diantaranya adalah jenis kelamin, pendidikan, senilis yang berobat di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
pekerjaan, dan kebiasaan merokok.9 Pekerjaan yang Data dianalisis secara statistik berdasarkan variabel
berisiko untuk terjadinya katarak adalah pekerjaan yang yang dinilai menggunakan analisis univariate. Analisis
dilakukan lebih banyak berada di luar ruangan (outdoor), univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari
sehingga paparan terhadap sinar ultraviolet semakin masing-masing variabel yang diteliti.
meningkat. Radiasi ultraviolet merupakan faktor risiko
yang kuat untuk perkembangan katarak.10 HASIL
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2007 Penelitian ini dilakukan terhadap 134 responden
terlihat bahwa prevalensi katarak dijumpai cukup tinggi yang berobat di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada
pada petani, nelayan, dan buruh yaitu sebesar 17,8%, periode 2016-2017. Selama periode tersebut jumlah
pada wiraswasta sebesar 11,8%, dan pada pegawai responden yang memenuhi kriteria sebanyak 62
sebesar 8,4%. Tingkat pendidikan sangat erat kaitannya responden.
dengan jenis pekerjaan yang dimiliki seseorang. 1. Distribusi Frekuensi Penderita Katarak Senilis
Sebesar 22,0% pada kelompok lama pendidikan ≤ 6 Berdasarkan Usia
tahun, dan lama pendidikan > 12 tahun sekitar 8,8%.
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Penderita Katarak Senilis
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Gricia
Berdasarkan Usia
didapatkan bahwa penderita katarak yang berjenis
kelamin perempuan lebih banyak yaitu sebesar 55,4% Usia f %
daripada yang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 40-49 tahun 6 9,7%
44,6%. Estrogen diyakini merupakan faktor penting 50-59 tahun 11 17,8%
terhadap kejadian katarak.11
60-69 tahun 29 46,7%
Banyak dampak yang diakibatkan karena
>70 tahun 16 25,8%
penyakit katarak senilis, salah satunya berdampak pada
Total 62 100%
keadaan sosio-ekonomi penderita. Banyaknya biaya
yang dibutuhkan untuk menjalani pengobatan katarak
dan terjadinya kehilangan pendapatan akibat kehilangan Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh data bahwa kelompok
pekerjaan akan berdampak pada kehidupan individu, usia yang paling tinggi mengalami katarak senilis adalah pada
keluarga, dan masyarakat.12 kelompok usia 60-69 tahun yaitu sebesar 46,7%.
Katarak senilis diperkirakan akan terus menjadi
masalah kesehatan global yang penting karena 2. Distribusi Frekuensi Penderita Katarak Senilis
meningkatnya usia harapan hidup. Berdasarkan data Berdasarkan Jenis Kelamin
yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Indonesia
bahwa angka harapan hidup penduduk Indonesia
Laki -Laki
dimulai dari tahun 1995 sampai tahun 2015 mengalami 48,4%
peningkatan yaitu dari 66 tahun menjadi 70 tahun. 13 Perempu
Data awal yang didapatkan pada periode 2016- an
2017, terdapat 134 kasus katarak senilis yang berobat 51,6%
ke RSUP Dr. M. Djamil Padang. Berdasarkan ulasan
diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti gambaran
faktor risiko katarak senilis pada pasien yang berobat di Gambar 1 Distribusi frekuensi penderita katarak senilis
RSUP Dr. M. Djamil Padang. berdasarkan jenis kelamin

Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(1)


http://jurnal.fk.unand.ac.id 3

Tanguh juga mendapatkan bahwa kelompok usia


Berdasarkan penelitian ini didapatkan responden tertinggi yang mengalami katarak senilis adalah pada
yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak usia 60-69 tahun, yaitu sebanyak 56,13%. Penelitian
mengalami katarak senilis dibandingkan yang berjenis
yang dilakukan oleh Tana didapatkan hasil bahwa
kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 32 orang (51,6%).
presentase katarak senilis semakin meningkat dengah
3. Distribusi Frekuensi Penderita Katarak Senilis bertambahnya usia dan pada usia diatas 65 tahun
Berdasarkan Tingkat Pendidikan didapatkan presentase katarak senilis sebesar 95,6%. 15
Bertambahnya umur harapan hidup di seluruh
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Penderita Katarak Senilis dunia, khususnya Indonesia yaitu dari 66 tahun menjadi
Berdasarkan Tingkat Pendidikan 70 tahun dapat menimbulkan fenomena pertambahan
Tingkat Pendidikan f % kasus katarak senilis.13 Proses normal dari penuaan
menyebabkan lensa menjadi keras dan keruh.
Tingkat Pendidikan Rendah 45 72,6%
Tidak Sekolah 2 3,2% Kekeruhan pada katarak terjadi karena adanya
SD 21 33,9% degenerasi dari serat-serat normal lensa sehingga
SMP 22 35,5% terganggunya transport air, nutrisi dan antioksidan.
Mekanisme terjadinya degenerasi dari serat – serat
Tingkat Pendidikan Tinggi 17 27,4%
SMA 16 25,8% normal lensa ini masih belum jelas, tetapi diyakini
Akademi 1 1,6% berhubungan dengan perubahan struktur anatomi dan
kimiawi dari protein lensa.3
Total 62 100%
Pada penelitian ini dari 62 responden yang
mengalami katarak senilis 32 responden berjenis
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 62
kelamin perempuan (51,6%) dan 30 responden berjenis
responden yang didiagnosis katarak senilis sebagian
kelamin laki-laki (48,4%). Beberapa penelitian
besar memiliki tingkat pendidikan yang rendah , yaitu
epidemiologi besar telah melaporkan prevalensi
sebanyak 45 responden (72,6%) dan yang memiliki
kekeruhan lensa 24-27% untuk perempuan dan 14-20%
tingkat pendidikan tinggi sebanyak 17 responden
untuk laki-laki berusia 65-74 tahun. Angka harapan
(27,4%).
hidup perempuan lebih lama dibandingkan dengan
4. Distribusi Frekuensi Penderita Katarak Senilis harapan hidup laki-laki, sehinga ini juga menjadi salah
Berdasarkan Jenis Pekerjaan satu faktor penyebab kejadian katarak lebih banyak
terjadi pada perempuan pasca-menopause
Jenis Pekerjaan f % dibandingkan dengan laki-laki. 16
Outdoor 33 53,2% Perbedaan risiko katarak terhadap jenis
Petani 6 9,7% kelamin memberikan perhatian pada peran estrogen
Pedagang 13 20,9% dalam katarak. Beberapa studi epidemiologi
Buruh 14 22,6% menunjukkan efek perlindungan terapi penggantian
Indoor 29 46,8% hormon dengan estrogen pada perempuan pasca-
Ibu Rumah Tangga 17 27,4% menopause. Selain itu, menarche awal dan / atau
Wiraswasta 3 4,8% menopause terlambat, sehingga rentang hidup
PNS 4 6,5% reproduksi yang panjang, telah dikaitkan dengan
Swasta 4 6,5% penurunan resiko katarak.17 Estrogen diyakini memeliki
Pensiunan 1 1,6% sifat protektif terhadap penguraian lensa dan terjadi
pengurangan konsentrasi estrogen yang signifikan pada
Total 62 100%
masa menopause, sehingga menyebabkan peningkatan
Tabel 3 Distribusi frekuensi penderita katarak senilis risiko katarak senilis pada perempuan dibandingkan
berdasarkan tingkat pendidikan
dengan laki-laki. Teori ini didukung oleh data yang
menunjukkan bahwa perempuan pra-menopause dan
Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa responden
laki-laki denan dengan usia yang samamemiliki risiko
dengan pekerjaan Outdoor (53,2%) memiliki risiko lebih
katarak yang sama.16 Tingkat estrogen pada laki-laki
tinggi dibandingkan responden dengan pekerjaan Indoor
yang dihasilkan melalui aromatisasi testosteron tidak
(46,8%).
menunjukkan perubahan terkait usia yang sama seperti
seperti pada perempuan yang berusia lanjut dan laki-laki
PEMBAHASAN lanjut usia memiliki tingkat 17 -estradiol lebih tinggi
Penelitian yang dilakukan ini belum pernah daripada perempuan pasca-menopause.18 Esterogen
dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain. Berdasarkan dianggap sebagai anti-oksidatif yang memiliki efek
data dari 62 responden didapatkan kelompok usia yang perlindungan terhadap kejadian katarak, dimana stress
paling tinggi mengalami katarak senilis adalah pada oksidatif dianggap sebagai jalur patogenik utama.19
kelompok usia 60-69 tahun yaitu sebesar 46,7%. Selain usia dan jenis kelamin ada beberapa faktor
Penelitian yang dilakukan oleh Mo’otapu terhadap 80 risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya katarak
responden didapatkan hasil usia responden katarak senilis, yaitu tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
senilis terbanyak pada kelompok usia 61-70 tahun, yaitu Didapatkan hasil dari 62 responden diperoleh hasil
sebesar 36,25%.14 Penelitian yang dilakukan oleh

Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(1)


http://jurnal.fk.unand.ac.id 4

responden dengan tingkat pendidikan rendah sebanyak KESIMPULAN


45 orang (72,6%) dengan tingkat pendidikan terbanyak Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan
yaitu tamatan SMP sebesar 35,5% dan responden kesimpulan bahwa kejadian katarak senilis banyak
dengan tingkat pendidikan tinggi sebanyak 17 orang terjadi pada rentang usia 60-69 tahun, berjenis kelamin
(27,4%) yang didominasi oleh tamatan SMA yaitu perempuan, tingkat pendidikan rendah dan menekuni
sebesar 25,8%. Hal ini sejalan dengan penilitian yang pekerjaan outdoor.
dilakukan oleh Ulandari didapatan bahwan responden
dengan tingkat pendidikan rendah mempunyai resiko DAFTAR PUSTAKA
sebesar 6,53 kali lebih tinggi untuk terjadi ketarak senilis 1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
yaitu sebesar 87,5%.20 Penelitian yang dilakukan oleh (BPPK). Riset Kesehatan Dasar. Kementrian
Sheila didapatkan hasil dari 14 kelompok yang tanpa Kesehatan Dasar. 2013.
memiliki pendidikan formal memiliki tingkat prevalensi 2. Ho MC, Peng YJ, Chen SJ, Chiou SH. Senile
katarak yang lebih tinggi secara signifikan. Hal ini dapat cataracts and oxidative stress. J Clin Gerontol
diakibatkan karna pola hidup yang kurang baik, Geriatr. 2010;1(1):17–21.
kurangnya pengetahuan mengenai penyakit katarak, 3. World Health Organization. Global Data on Visual
jenis pekerjaan yang banyak berada diluar gedung dan Impairments;2012.http://www.who.int/blindness/GL
tingkat kesadaran responden akan kesehatan yang OBALDATAFINALforweb.pdf. Diakses pada 28
sangat rendah. Banyak dari responden datang kerumah Oktober 2017 .
sakit dengan stadium lanjut dan didapatkan bahwa 4. Kementerian Kesehatan RI. Situasi Gangguan
stadium yang mendominasi adalah stadium katarak Penglihatan dan Kebutaan. Infodatin.Kementerian
matur, dikarenakan hal tersebut sudah mulai Kesehatan RI; 2013.
mengganggu kualitas hidup dari responden.3 5. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi III. Jakarta: Badan
Berdasarkan studi yang dilakukan Hutasoit yang Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
melaporkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan dapat Indonesia; 2006. 210 p.
mempengaruhi sumber daya manusia sehingga akan 6. Fu Y, Dong Y, Gao Q. Age-related cataract and
mempengaruhi jenis pekerjaan dari responden. Dari macular degeneration: Oxygen receptor dysfunction
hasil penelitian 62 responden yang mengalami katarak diseases. Med Hypotheses. 2015;85(3):272–5.
senilis 33 orang (53,2%) diantaranya memiliki pekerjaan 7. Micheal R. The Ageing Lens and Cataract: A Model
Outdoor. Responden yang pekerjaannya ≥4 jam di luar of Normal and Pathological Ageing. Philolsophical
gedung mempunyai risiko lebih tinggi dibandingkan Trans R. 2011;1282.
dengan responden yang memiliki pekerjaan <4 jam di 8. Harding JJ. Viewing Molecular Mechanisms of
luar gedung. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa Ageing Through a Lens. Br J Ophthalmol
rata-rata pekerjaan responden yang dilakukan di luar 2002;72:204-8.
gedung adalah sebagai petani, buruh bangunan, dan 9. Puspandari ED, Masduki I. Faktor Risiko Kejadian
pedagang, sedangkan responden yang pekerjaannya di Katarak di Desa Brajan Kabupaten Bantul
dalam gedung sebagian besar bekerja sebagai guru dan Yogyakarta. Disertasi. Yogyakarta: Pascasarjana
ibuu rumah tangga (tidak bekerja). Hasil penelitian ini Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; 11 Mei
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ulandari 2016. h. 1.
diperoleh data responden yang mengalami katarak 10. Taylor HR, West SK, Rosenthal FS, Munoz B,
senilis dengan pekerjaan Outdoor adalah sebesar Newland HS, Abbey EAE. Effect of Ultraviolet
85%.20 Penelitian yang dilakukan oleh Pujiyanto faktor Radiation on Cataract Formation. New Engl J Med;
pekerjaan sangat mempengaruhi kejadian katarak 1988 December 1; 319(22): 1429-33.
sebesar 95% dari responden yang menderita penyakit 11. Riset Kesehatan Dasar. Laporan Nasional Riset
katarak senilis menekuni pekerjaan Outdoor.21 Kesehatan Dasar 2007. Badan Penelitan dan
Pekerjaan di luar gedung erat kaitannya Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan
dengan paparan sinar matahari. Hasil penelitian ini Republik Indonesia; 2008. h. 242.
menunjukkan bahwa paparan sinar matahari merupakan 12. Bolaang K, Utara M. Jurnal Kedokteran Klinik (JKK).
salah satu faktor penting dengan kejadian katarak. Sinar 2016;1(2):37–45.
ultraviolet yang berasal dari matahari akan diserap oleh 13. Badan Pusat Statistik. Angka Harapan Hidup
protein lensa dan kemudian akan menimbulkan reaksi Penduduk Beberapa Negara. Indonesia;2014.
fotokimia sehingga terbentuk radikal bebas atau oksigen https://www.bps.go.id/statictable/2014/09/22/1517
yang bersifat sangat reaktif. Reaksi tersebut akan /angka-harapan-hidup-penduduk-beberapa-
mempengaruhi struktur protein lensa, selanjutnya negara-tahun-1995-2015.html. Diakses pada
menyebabkan kekeruhan lensa yang disebut dengan tanggal 16 September 2017.
katarak.22 Berdasarkan teori diketahui bahwa sinar 14. Mo’otapu, Astria., Rompas, Sefti., dan Bawotong J.
ultraviolet dapat mempercepat derajat kematangan Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
katarak. Dimana seseorang yang bekerja di luar gedung Penyakit Katarak Di Poli Mata RSUP Prof. Dr. R.D
derajat kematangannya lebih cepat dari pada yang Kandou Manado. 2015;3:3.
bekerja didalam gedung.23

Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(1)


http://jurnal.fk.unand.ac.id 5

15. Tana L, Rif’ati L, Kristanto A. Peranan pekerjaan


terhadap katarak di Indonesia. Buletin Penelitian
Kesehatan. 2009;37(3):168–73.
16. B.E. Klein, R. Klein, K.L. Linton, Prevalence of age-
related lens opacities in a population. The Beaver
Dam Eye Study, Ophthalmology.1992; 99(4):546–
52.
17. E.E. Freeman, B. Munoz, O.D. Schein, S.K. West,
Hormone replacement therapy and lens opacities:
the Salisbury Eye Evaluation project, Arch.
Ophthalmology. 2001;119(11):1687–92.
18. E. Barrett-Connor, J.E. Mueller, D.G. von Muhlen,
G.A. Laughlin, D.L. Schneider, D.J. Sartoris, Low
levels of estradiol are associated with vertebral
fractures in older men, but not women: the Rancho
Bernardo Study, J. Clin. Endocrinol. Metabolism.
2000;85(1): 219–23.
19. D.C. Beebe, N.M. Holekamp, Y.B. Shui, Oxidative
damage and the prevention of age-related cataracts,
Ophthalmic. 2010;44(3): 155–65.
20. Hutasoit, H. Prevalensi Kebutaan Akibat Katarak Di
Kabupaten Tapanuli Selatan. Disertasi. Medan:
Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara; 28
Desember 2010. h. 29
21. Pujiyanto, T. I. Faktor-Faktor Risiko yang
Berpengaruh terhadap Kejadian Katarak Senilis.
Disertasi. Semarang: Universitas Diponegoro; 16
Juni 2010. h. 56.
22. Nyoman N, Tri S, Ayu P, Astuti S, Adiputra N.
Pekerjaan dan Pendidikan sebagai Faktor Risiko
Kejadian Katarak pada Pasien yang Berobat di Balai
Kesehatan Mata Masyarakat Kota Mataram Nusa
Tenggara Barat. 2014;2:156–61.
23. Leske MC, Wu SY, Nemesure B. Risk Factors for
Incidence Nuclear Opacities, Opthalmology.
2002;109:1303-8.

Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(1)