Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN PENDAHULUAN

TINJAUAN TEORI

1. BAYI BARU LAHIR


A. Pengertian Bayi Baru Lahir (Neonatus)
Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi yang berusia 0-28 hari
(Kementerian Kesehatan RI, 2010). Bayi baru lahir adalah bayi berusia satu
jam yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badannya
2.500-4000 gram, merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru
saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian
diri dari kehidupan intrauterin ke ke hidupan ekstrauterin (Dewi, 2010).
B. Ciri – ciri Bayi Baru Lahir (Neonatus)
Bayi baru lahir normal mempunyai ciri-ciri berat badan lahir 2500-
4000 gram, umur kehamilan 37-40 minggu, bayi segera menangis, bergerak
aktif, kulit kemerahan, menghisap ASI dengan baik, dan tidak ada cacat
bawaan (Kementerian Kesehatan RI,2010).
Bayi baru lahir normal memiliki panjang badan 48-52 cm, lingkar
dada 30-38 cm, lingkar lengan 11-12 cm, frekuensi denyut jantung 120-160
x/menit, pernapasan 40-60 x/menit, kulit kemerahmerahan dan licin karena
jaringan subkutan yang cukup, lanugo tidak terlihat dan rambut kepala
tumbuh sempurna, kuku agak panjang dan lemas, nilai APGAR >7, gerakan
aktif, bayi lahir langsung menangis, refleks-refleks sudah terbentuk dengan
baik rooting (mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan
daerah mulut), sucking (hisap dan menelan), morro (gerakan memeluk bila
dikagetkan), grasping (menggenggam), organ genitalia pada bayi laki-laki
testis sudah berada pada skrotum dan penis berlubang, pada bayi
perempuan vagina dan uretra berlubang serta adanya labia minora dan
mayora, mekonium sudah keluar dalam 24 jam pertama berwarna hitam
kecoklatan (Dewi, 2010).

1
2

C. Klasifikasi Bayi Baru Lahir (Neonatus)


Bayi baru lahir atau neonatus di bagi dalam beberapa kasifikasi
menurut Marmi (2015) , yaitu :
1. Neonatus menurut masa gestasinya :
a) Kurang bulan (preterm infant) : < 259 hari (37 minggu)
b) Cukup bulan (term infant) : 259-294 hari (37-42 minggu)
c) Lebih bulan (postterm infant) : > 294 hari (42 minggu atau lebih)
2. Neonatus menurut berat badan lahir :
a) Berat lahir rendah : < 2500 gram
b) Berat lahir cukup : 2500-4000 gram
c) Berat lahir lebih : > 4000 gram
3. Neonatus menurut berat lahir terhadap masa gestasi (masa gestasi dan
ukuran berat lahir yang sesuai untuk masa kehamilan) :
a) Nenonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB)
b) Sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan (SMK/KMK/BMK)
D. Perubahan Fisiologis
Adaptasi neonatal atau bayi baru lahir adalah proses penyesuaian
fungsional neonatus dari kehidupan didalam uterus kekehidupan diluar
uterus. Kemampuan adaptasi fisiologis ini disebut juga homeostatis, bila
terdapat gangguan adaptasi maka bayi akan sakit (Muslihatun, 2010).
1. Sistem Pernapasan
Menurut Sulistyawati (2010), pernapasan pertama pada bayi
normal dalam waktu 30 menit pertama sesudah lahir. Usaha bayi
pertama kali untuk mempertahankan tekanan alveoli, selain karena
adanya surfaktan juga karena adanya tarikan napas dan pengeluaran
napas dengan merintih sehingga udara bisa tertahan di dalam. Cara
neonatus bernapas dengan cara bernapas diafragmatik dan abdominal,
sedangkan untuk frekuensi dan dalamnya bernapas belum teratur.
Apabila surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru-paru
kaku sehingga terjadi atelektasis.
3

Pernapasan pertama pada bayi baru lahir terjadi dengan normal


dalam waktu 30 detik setelah kelahiran. Tekanan pada rongga dada bayi
melalui jalan lahir per vaginam mengakibatkan cairan paru yang
jumlahnya 80-100 ml, berkurang sepertiganya sehingga volume yang
hilang ini digantikan dengan udara. Paru mengembang sehingga rongga
dada kembali kebentuk semula, pernapasan pada neonatus terutama
pernapasan diapragmatik dan abdominal biasanya frekuensi dan
kedalaman pernapasan masih belum teratur. Upaya pernapasan pertama
berfugsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru dan mengembangkan
jaringan alveolus paru utuk pertama kali, agar alveolus dapat berfungsi
harus terdapat surfaktan dalam jumlah yang cukup dan aliran darah ke
paru (Rochmah. 2012)
2. Sistem Termoregulasi
Mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru
lahir kelingkungannya melalui cara pertama evaporasi yaitu kehilangan
panas melalui proses penguapan atau perpindahan panas dengan cara
merubah cairan menjadi uap. Pencegahannya, setelah bayi lahir segera
mengeringkan bayi secara seksama dan menyelimuti bayi dengan
selimut atau kain bersih dan kering serta menutup bagian kepala bayi.
Cara kedua konduksi yaitu kehilangan panas dari tubuh bayi kebenda
sekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi, misalnya
menimbang bayi tanpa mengalasi timbangan bayi dan menggunakan
stetoskop untuk pemeriksaan bayi baru lahir (Muslihatun. 2010)
Cara ketiga konveksi yaitu kehilangan panas tubuh yang terjadi
saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin, misalnya aliran udara
dingin dari kipas angin, dan hembusan udara dingin melalului ventilasi.
Cara keempat radiasi yaitu kehilangan panas yang terjadi karena bayi
ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah
dari suhu tubuh bayi, misalnya bayi terlalu dekat ke dinding tanpa
memakai penutup kepala atau topi (JNPK-KR, 2012).
4

3. Sistem Kardiovaskuler
Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk
mengambil oksigen dan bersirkulasi keseluruh tubuh guna
menghantarkan oksigen ke jaringan. Agar terbentuk sirkulasi yang baik
guna mendukung kehidupan diluar rahim, terjadi dua perubahan beasar
yaitu penutupan foramen ovale pada atrium paru dan aorta, kemudian
penutupan duktus arteriosus antara arteri paru dan aorta. Perubahan
sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem
pembuluh darah tubuh. Jadi, perubahan tekanan tersebut langsung
berpengaruh pada aliran darah. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh
darah mengubah tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan
resistensinya sehingga mengubah aliran darah. Vena umbilikus, duktus
venosus, dan arteri hipogastrika pada tali pusat menutup secara
fungsional dalam beberapa menit setelah bayi lahir dan setelah talipusat
di klem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung dalam 2-3
bulan (Rochmah, 2012)
Maryanti, dkk (2011) mengatakan perubahan sistem
kardiovaskuler yaitu oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah
tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya
sehingga mengubah aliran darah. Perubahan sistem kardiovaskuler yang
terjadi tiga tahap yaitu pertama penutupan foramen ovale, dengan proses
pemotongan tali pusat yang menyebabkan terjadinya penurunan
sirkulasi darah. Hal ini merangsan timbulnya pernapasan pertama kali
dan menyebabkan paru berkembang.
Kedua penutupan duktus arteriosus botali, ini merupakan
pembuluh darah yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta,
pulmonalis menghubungkan ventrikel kanan ke paru untuk memberikan
nutrisi dan pemeliharaan organ paru (pada masa janin), bukan untuk
proses pernapasan. Pada proses pernapasan terjadi perubahan tekanan
pada atriun kanan karena foramen ovale telah menutup, darah akan
dialirkan melalui arteri pulmonalis menuju paru proses ini berfungsi
5

setelah janin lahir. Dan yang ketiga yaitu vena dan arteri umbilikalis,
duktus venosus dan arteri hipogastrika dari talipusat menutup secara
fungsional dalam beberpa menit setelah lahir dan setelah tali pusat di
klem.
4. Metabolisme Glukosa
Otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada saat
kelahiran, setelah talipusat diklem, seorang bayi harus mulai
mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru
lahir kadar glukosa darah akan turun dalam waktu 1-2 jam. Bayi baru
lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup
akan membuat glukosa dari glikogen. Hal ini hanya terjadi jika bayi
mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat
akan menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama dalam hati, selama
bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Bayi yang mengalami
hipotermi saat lahir, kemudian mengakibatkan hipoksia akan
menggunakan persediaan glikogen dalam satu jam pertama kelahiran.
Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam
pertama pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua persediaan
digunakan dalam satu jam pertama, otak bayi akan mengalami risiko.
Bayi baru lahir kurang bulan, IUGR, dan gawat janin merupakan
kelompok yang paling berisiko, karena simpanan energi mereka
berkuang atau digunakan sebelum lahir (Rochmah, 2012)
5. Adaptasi Ginjal
Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama
setelah lahir, dan dua sampai enam kali sehari pada 1-2 hari pertama,
setelah itu mereka berkemih 5 sampai 20 kali dalam 24 jam. Urine dapat
keruh karena lendir dan garam asam urat, noda kemerahan dapat diamati
pada popok karena kristal asam urat (Stright, 2005)
Menurut Muslihatun (2010) fungsi ginjal belum sempurna karena
jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa, ketidak
6

seimbangan luas permukaan glomerulus dan volume tubulus froksimal,


serta renal blood flow relatif kurang bila dibandingkan orang dewasa.
6. Adaptasi Gastrointestinal
Secara fungsional, saluran gastrointestinal bayi belum matur
dibandingkan orang dewasa, membran mukosa pada mulut berwarna
merah jambu dan basah. Gigi tertanam didalam gusi dan sekresi ptialin
sedikit. Sebelum lahir janin cukup bulan akan mulai mengisap dan
menelan. Kapasitas lambung sangat terbatas, kurang dari 30 ml untuk
bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah
secara perlahan, seiring dengan pertumbuhan bayi. Pengaturan makan
yang sering oleh bayi sendiri sangat penting, contohnya memberikan
makan sesuai keinginan bayi (ASI on demand) (Rochmah, 2012)
Refleks gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk dengan
baik pada saat lahir. Kemampuan neonatus cukup bulan untuk menelan
dan mencerna makanan selain susu masih terbatas, hubungan antara
esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna sehingga
mengakibatkan gumoh pada neonatus (Maryanti. 2011)
7. Adaptasi Hati
Fungsi hati janin dalam kandungan dan segera setelah lahir masih
dalam keadaan matur (belum matang), hal ini dibuktikan dengan
ketidakseimbangan hepar untuk menghilangkan bekas penghancuran
dalam peredaran darah (Marmi, 2015).
Setelah segera lahir, hati menunjukkan perubahan kimia dan
morfologis, yaitu kenaikan kadar protein dan penurunan kadar lemak
dan glikogen. Sel hemopoetik juga mulai berkurang walaupun memakan
waktu yang lama. Enzim hati belum aktif benar pada waktu bayi baru
lahir, daya detoksifikasihati pada neonatus juga belum sempurna,
contohnya peberian obat kloramfenikol dengan dosis lebih dari 50
mg/kgBB/hari dapat menimbulkan grey baby syndrome (Indrayani,
2013).
7

Menurut Maryanti, dkk (2011) setelah lahir hati menunjukkan


perubahan biokimia dan morfolofis berupa kenaikan kadar protein dan
penurunan kadar lemak dan glikogen. Enzim hepar belum aktif benar,
seperti enzim dehidrogenas dan transferase glukoronil sering kurang
sehingga neonatus memperlihatkan gejala ikterus neonatorum fisiologis.
8. Immunoglobulin
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga
menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi.
Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami
maupun yang didapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan
tubuh yang berfungsi mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut
beberapa contoh kekebalan alami:
 Perlindungan dari membran mukosa,
 Fungsi saringan saluran nafas,
 Pembentukan koloni mikroba dikulit dan usus,
 Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung (Walyani dan
Purwoastuti, 2015).
9. Traktus Digestivenus
Truktus digestivenus relatif lebih berat dan lebih panjang
dibandingkan dengan orang dewasa. Pada neonatus traktus digestivenus
mengandung zat yang berwarna hitam kehijauan yang terdiri dari
mukopolisakarida dan disebut meconium. Pengeluaran mekonium
biasanya dalam 10 jam pertama dan 4 hari biasanya tinja sudah
berbentuk dan berwarna biasa. Enzim dalam traktus digestivenus
biasanya sudah terdapat pada neonatus kecuali amilase pankreas. Bayi
sudah ada refleks hisap dan menelan, sehingga pada bayi lahir sudah
bisa minum ASI. Gumoh sering terjadi akibat dari hubungan oesofagus
bawah dengan lambung belum sempurna, dan kapasitas dari lambung
juga terbatas yaitu < 30 cc (Indrayani,2013).
8

E. Pemeriksaan Penunjang
1. APGAR Score
a. Nilai 1-3 : asfiksia berat
b. Nilai 4-6 : asfiksia sedang
c. Nilai 7-10 : asfiksia ringan (normal)

Tanda APGAR
Skor 0 1 2 Angka
A: Appearance Pucat Badan Seluruh
color (warna Merah, tubuh
kulit). ekstremitas kemerah-
biru merahan
P: Pulse (heart Tidak ada Kurang dari Di atas 100
rate) (frekuensi 100
denyut jantung)
G: Grimace Tidak ada Sedikit Menangis,
(reaksi terhadap gerakan batu/ bersin
rangsangan) mimic
A: Activity Lumpuh Ekstremitas Gerakan
(tonus otot) sedikit fleksi Aktif
R: Respiration Tidak ada Lemah, tidak Menangis
(usaha bernapas) teratur kuat
Jumlah
(Mochtar, 2011).
d. Pengukuran Antropometri
Macam-macam pengukuran antropometri yang dilakukan pada bayi baru
lahir yaitu lingkar kepala, lingkar dada, panjang badan dan berat badan.
e. Reflex pada Bayi Baru Lahir
a) Reflek Moro
Reflek ini terjadi karena adanya reaksi miring terhadap rangsangan
mendadak. Refleksnya simetris dan terjadi pada 8 minggu pertama
setelah lahir. Tidak adanya refleks moro menandakan terjadinya
kerusakan atau ketidakmatangan otak.
b) Refleks Rooting / Refleks Dasar
Dalam memberikan reaksi terhadap belaian di pipi atau sisi mulut,
bayi akan menoleh ke arah sumber rangsangan dan membuka
mulutnya siap untuk menghisap.
9

c) Refleks Menyedot dan Menelan / Refleks Sucking


Berkembang dengan baik pada bayi normal dan dikoordinasikan
dengan pernafasan. Ini penting untuk pemberian makan yang aman
dan gizi yang memadai.
d) Refleks Mengedip dan Refleks Mata
Melindungi mata dari trauma.
e) Refleks Graphs / Plantar
Genggaman tangan diperoleh dengan menempatkan jari atau pensil di
dalam telapak tangan bayi yang akan menggenggam dengan erat.
Reaksi yang sama dapat ditunjukkan dengan membelai bagian bawah
tumit (genggam telapak kaki).
f) Refleks Walking / Berjalan dan Melangkah
Jika disangga secara tegak dengan kaki menyentuh permukaan yang
rata, bayi akan terangsang untuk berjalan.
g) Refleks Tonik Neck
Pada posisi terlentang lengan disamping tubuh tempat kepala menoleh
kearah itu terulur sedangkan lengan sebelah terkulai.
h) Refleks Tarik
Jika didudukkan tegak, kepala bayi pada awalnya akan terkulai ke
belakang lalu bergerak ke kanan sesaat sebelum akhirnya tertunduk ke
arah depan
F. Tahapan Bayi Baru Lahir
Beberapa tahapan bayi baru lahir menurut Dewi (2010), yaitu :
1. Tahap 1
Terjadi segera setelah lahir, selama menit-menit pertama kelahiran.
Pada tahap ini digunakan system scoring apgar untuk fisik dan scoring
gray untuk interaksi bayi dan ibu.
2. Tahap II
Disebut tahap transisional reaktifitas. Pada tahap II dilakukan
pengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya perubahan
perilaku.
10

3. Tahap III
Disebut tahap priodik, pengkajian dilakukan setelah 24 jam
pertama yang meliputi pemeriksaan seluruh tubuh
G. Program Kunjungan Neonatus
Pada Kemenkes RI tahun 2013 tentang standar pelayanan minimal KN
dibagi menjadi 3, yaitu:
a. KN1 adalah kunjungan pada 0-2 hari. Asuhan yang diberikan yaitu
pemberian vitamin K1 injeksi dan imunisasi hepatitis B0 bila belum
diberikan pada saat lahir, perawatan tali pusat, pencegahan hipotermi,
pencegahan infeksi.
b. KN2 adalah kunjungan 2-7 hari. Asuhan yang diberikan yaitu konseling
perawatan bayi baru lahir termasuk ASI eksklusif dan perawatan tali
pusat, periksa tanda bahaya infeksi, pencegahan hipotermi.
c. KN3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari. Asuhan yang diberikan yaitu
imunisasi bayi 1 bulan meliputi BCG dan Polio 1, memastikan tidak
terdapat tanda-tanda infeksi, memastikan pemberian ASI ekslusif.
H. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir (Neonatus)
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
kelainan pada bayi. Resiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam
pertama kehidupan, sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat
dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama.

Waktu pemeriksaan bayi baru lahir yaitu :

 Baru lahir sebelum usia 6 jam


 Usia 6-48 jam
 Usia 3-7 hari
 Minggu ke-2 pasca lahir
Langkah-langkah pemeriksaan:
 Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis)
 Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernafasan dan
tarikan dinding dada bawah, denyut jantung serta perut
11

 Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan
sesudah memegang bayi
Tabel Pemeriksaan Fisik yang Dilakukan pada Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan Fisik yang
Keadaan Normal
Dilakukan
Lihat postur, tonus dan aktivitas  Posisi tungkai dengan lengan fleksi
 Bayi sehat dan bergerak aktif
Lihat kulit  Wajah, bibir dan selaput lender,
dada harus berwarna merah muda,
tanpa adanya kemerahan atau bisul
Hitung pernapasan dan lihat  Frekuensi normal 40-60x/menit
tarikan dinding dada bawah  Tidak ada tarikan dinding dada
ketika bayi sedang tidak bawah yang dalam
menangis
Hitung denyut jantung dengan  Frekuensi denyut jantung normal
meletakkan stetoskop di dada 120-160x/menit
kiri setinggi apeks kordis
Lakukan pengukuran suhu  Suhu normal adalah 36,5-37,5°C
ketiak dengan thermometer
Lihat dan raba bagian kepala  Bentuk kepala terkadang asimetris
karena penyesuaian pada saat proses
persalinan, umumnya hilang dalam
48 jam
 Ubun-ubun besar rata atau tidak
menonjol, dapat sedikit menonjol
saat bayi menangis
Lihat mata  Tidak ada kotoran/secret
Lihat bagian dalam mulut  Bibir, gusi, langit-langit utuh dan
tidak ada bagian terbelah
Masukkan satu jari yang  Nilai kekuatan isap bayi. Bayi akan
menggunakan sarung tangan ke mengisap kuat jari pemeriksa
dalam mulut, raba langit-langit
Lihat dan raba perut  Perut bayi datar, teraba lemas
Lihat tali pusat  Tidak ada perdarahan,
pembengkakan, nanah, bau yang
tidak enak pada tali pusat, atau
kemerahan sekitar tali pusat
Lihat punggung dan raba tulang  Kulit terlihat utuh, tidak terdapat
belakang lubang dan benjolan pada tulang
belakang
Pemeriksaan ekstremitas atas  Tidak terdapat sindaktili,
dan bawah polidaktili, siemenline, dan kelainan
kaki (pes equino varus da vagus)
12

Lihat lubang anus 


 Hindari memasukkan alat atau  Terlihat lubang anus dan periksa
jari dalam memeriksa anus apakah mekonium sudah keluar
 Tanyakan pada ibu apakah  Biasanya mekonium keluar dalam
bayi sudah BAB 24 jam setelah lahir
Lihat dan raba alat kelamin luar  Bayi perempuan kadang terlihat
Tanyakan kepada ibu apakah cairan vagina berwarna putih atau
bayi sudah BAK kemerahan
 Bayi laki-laki terdapat lubang uretra
pada ujung penis. Teraba testis di
skrotum
 Pastikan bayi sudah BAK dalam 24
jam setelah lahir
 Yakinkan tidak ada kelainan alat
kelamin, missal.hipospadia,
rudimenter, kelamin ganda
Timbang bayi  Berat lahir 2,5-4 kg
Timbang bayi dengan  Dalam minggu pertama, BB
menggunakan selimut, hasil mungkin turun dahulu (tidak
peimbangan dikurangi berat melebihi 10% dalam waktu 3-7 hari)
selimut baru kemudian naik kembali
Mengukur panjang dan lingkar  Panjang lahir normal 48-52 cm
kepala bayi  Lingkar kepala normal 33-37 cm

I. Penatalaksanaan
Semua bayi diperiksa segera setelah lahir untuk mengetahui apakah
transisi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine berjalan dengan lancar
dan tidak ada kelainan. Pemeriksaan medis komprehensif dilakukan dalam
24 jam pertama kehidupan. Pemeriksaan rutin pada bayi baru lahir harus
dilakukan, tujuannya untuk mendeteksi kelainan atau anomali kongenital
yang muncul pada setiap kelahiran dalam 10-20 per 1000 kelahiran,
pengelolaan lebih lanjut dari setiap kelainan yang terdeteksi pada saat
antenatal, mempertimbangkan masalah potensial terkait riwayat kehamilan
ibu dan kelainan yang diturunkan, dan memberikan promosi kesehatan,
terutama pencegahan terhadap sudden infant death syndrome (SIDS)
(Lissauer, 2013).
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah untuk
membersihkan jalan napas, memotong dan merawat tali pusat,
13

mempertahankan suhu tubuh bayi, identifikasi, dan pencegahan infeksi


(Saifuddin, 2008).

Asuhan bayi baru lahir meliputi :

1. Pencegahan Infeksi (PI)


Pencegahan infeksi adalah suatu penatalaksanaan awal yang
harus dilakukan pada bayi baru lahir, karena bayi baru lahir sangat
rentan terhadap infeksi. Saat melakukan penanganan bayi baru lahir
pastikan melakukan tindakan pencegahan infeksi dengan cara mencuci
tangan sebelum dan setelah melakukan penanganan pada bayi baru
lahir, kemudian memakai sarung tangan bersih pada saat menangani
bayi baru lahir yang belum dimandikan, dan memastikan semua
peralatan yang dipakai atau digunakan untuk menangani bayi baru lahir
adalah steril, serta memastikan semua pakaian yang digunakan bayi
baru lahir dalam keadaan bersih (Maryanti.dkk. 2011)
Menurut Muslihatun (2010) ada beberapa upaya lain yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pada bayi baru lahir yaitu
dengan cara merawat tali pusat, agar luka bekas pemotongan tali pusat
tetap bersih dan tidak terkena air kencing atau kotoran bayi. Tali pusat
dibungkus dengan kassa tipis yang steril dan kering, kemudian dilarang
membubuhkan atau mengoleskan ramuan pada luka talipusat karena
dapat menyebabkan infeksi dan tetanus yang dapat berakhir dengan
kematian neonatal.
2. Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
Untuk menilai apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak
dilakukan penilaian sepintas setelah seluruh tubuh bayi lahir dengan
tiga pertanyaan :
a) Apakah kehamilan cukup bulan?
b) Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-megap?
c) Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif?
14

Jika ada jawaban “tidak” kemungkinan bayi mengalami asfiksia


sehingga harus segera dilakukan resusitasi. Penghisapan lendir pada
jalan napas bayi tidak dilakukan secara rutin (Kementerian Kesehatan
RI, 2013).

3. Pemotongan dan perawatan tali pusat


Setelah penilaian sepintas dan tidak ada tanda asfiksia pada bayi,
dilakukan manajemen bayi baru lahir normal dengan mengeringkan
bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian
tangan tanpa membersihkan verniks, kemudian bayi diletakkan di atas
dada atau perut ibu. Setelah pemberian oksitosin pada ibu, lakukan
pemotongan tali pusat dengan cara menjepit tali pusat dengan klem
pada sekitar 3 cm dari pusat (umbilikus) bayi. Mendorong isi tali pusat
ke arah distal (ibu) dan melakukan penjepitan kedua pada 2 cm distal
dari klem pertama. Kemudian melakukan pemotongan dan pengikatan
tali pusat dengan cara mengangkat tali pusat yang telah di jepit
kemudian melakukan pemotongan tali pusat (melindungi perut bayi) di
antara 2 klem tersebut. Selanjutnya mengikat tali pusat dengan
umbilical cord.
Perawatan tali pusat dilakukan dengan tidak membungkus tali
pusat atau mengoleskan cairan/bahan apa pun pada tali pusat
(Kementerian Kesehatan RI, 2013). Sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Asiyah dkk (2017) tentang perawatan tali pusat terbuka
sebagai upaya mempercepat pelepasan tali pusat menunjukkan bahwa
waktu lepasnya tali pusat yang dirawat terbuka rata-rata 5-7 hari
sebanyak 15 bayi (75 %), lebih cepat dibandingkan dengan perawatan
tali pusat tertutup.
4. Inisiasi Menyusui Dini
Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya segera
setelah lahir selama paling sedikit satu jam. Prinsip menyusu/
15

pemberian ASI adalah dimulai sedini mungkin dan secara eksklusif


(JNPK-KR, 2012).
Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi
tengkurap di dada ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk
melaksanakan proses IMD selama 1 jam. Biarkan bayi mencari,
menemukan puting, dan mulai menyusu. Sebagian besar bayi akan
berhasil melakukan IMD dalam waktu 60-90 menit, menyusu pertama
biasanya berlangsung pada menit ke- 45-60 dan berlangsung selama 10-
20 menit dan bayi cukup menyusu dari satu payudara. Jika bayi belum
menemukan puting ibu dalam waktu 1 jam, posisikan bayi lebih dekat
dengan puting ibu dan biarkan kontak kulit dengan kulit selama 30-60
menit berikutnya. Jika bayi masih belum melakukan IMD dalam waktu
2 jam, lanjutkan asuhan perawatan neonatal esensial lainnya kemudian
dikembalikan lagi kepada ibu untuk belajar menyusu (Kementerian
Kesehatan RI, 2013).
5. Pencegahan kehilangan panas (menjaga kehangatan)
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara
evaporasi, konduksi, konveksi dan radiasi. Mencegah terjadinya
kehilangan panas dapat dilakukan dengan cara mengeringkan tubuh
bayi tanpa membersihkan verniks, meletakkan bayi agar terjadi kontak
kulit ibu ke kulit bayi, menyelimuti bayi dan ibu dan pakaikan topi di
kepala bayi, tidak segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
(BBL dimandikan 6 jam setelah lahir), dan menempatkan bayi di
lingkungan yang hangat (JNPK-KR, 2012).
6. Memberikan salep mata tetrasiklin 1% pada kedua mata
Salep mata untuk mencegah infeksi mata diberikan setelah 1 jam
kontak kulit dan bayi selesai menyusu. Pencegahan infeksi tersebut
mengandung antibiotika tetrasiklin 1%. Salep antibiotika harus tepat
diberikan pada waktu satu jam setelah kelahiran. Upaya pencegahan
infeksi mata tidak efektif bila diberikan lebih dari satu jam setelah
kelahiran (JNPK-KR, 2012).
16

7. Memberikan suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, di paha kiri


anterolateral setelah Inisiasi Menyusu Dini
Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K1
(Phytomenadione) injeksi 1 mg IM di paha kiri, setelah 1 jam kontak
kulit ke kulit dan bayi selesai menyusu untuk mencegah perdarahan
BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL
(Kemenkes Kesehatan RI, 2013).
Pemberian vitamin K sebagai profilaksis melawan hemorragic
disease of the newborn dapat diberikan dalam suntikan yang
memberikan pencegahan lebih terpercaya, atau secara oral yang
membutuhkan beberapa dosis untuk mengatasi absorbsi yang bervariasi
dan proteksi yang kurang pasti pada bayi (Lissauer, 2013).
8. Memberikan imunisasi Hb 0
Imunisasi hepatitis B 0,5 ml diberikan secara intramuskular, di
paha kanan anterolateral, diberikan kira-kira 1-2 jam setelah pemberian
vitamin K1 atau batas maksimal 7 hari (JNPK-KR, 2012). Menurut
Varney (2007) apabila HB0 belum diberikan pada saat lahir, maka
diberikan sebelum bayi berumur 7 hari.
9. Pemeriksaan Bayi baru Lahir
Pemeriksaan BBL untuk mengetahui sedini mungkin adanya
kelainan pada bayi. Bayi yang lahir di fasilitas kesehatan dianjurkan
tetap berada di fasilitas tersebut selama 24 jam karena risiko terbesar
kematian BBL, saat kunjungan tindak lanjut (KN) yaitu 1 kali pada
umur 1-3 hari, 1 kali pada umur 4-7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari
(Kementerian Kesehatan RI, 2010).
10. Defeksi dan miksi
Keluarnya segera mekonium dan air kencing segera setelah lahir
merupakan tanda bahwa saluran pencernaan dan saluran kencing
baik,sebaliknya bila tidak keluar dengan segera kemungkinan terdapat
kelainan bawaan (Wirakusumah, dkk, 2016).
11. Kehilangan Berat Badan
17

Selama 3 atau 4 hari pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak


kemasukan cairan produksi ASI belum lancar), sdeangkan bayi
mengeluarkan feses, urine dan keringat cukup banyak, tidak heran
apabila berat badannya turun sampai diimbangi oleh air susu yang
cukup.
Kehilangan berta ini ±7 % dari berat badan dan tidak boleh
melebihi 10 % dari berat badannya. Bayi bertambah ±25 gr sehari untuk
bulan-bulan pertama dan pada bulan ke-5 dua kali berat lahir
(Wirakusumah, dkk, 2016).
12. Pemberian ASI Eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan
minuman tambahan lain pada bayi berusia 0-6 bulan dan jika
memungkinkan dilanjutkan dengan pemberian ASI dan makanan
pendamping sampai usia 2 tahun. Pemberian ASI ekslusif mempunyai
dasar hukum yang diatur dalam SK Menkes Nomor
450/Menkes/SK/IV/2004 tentang pemberian ASI Eksklusif pada bayi
0-6 bulan. Setiap bayi mempunyai hak untuk dipenuhi kebutuhan
dasarnya seperti Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Ekslusif, dan
imunisasi serta pengamanan dan perlindungan bayi baru lahir dari
upaya penculikan dan perdagangan bayi.
Waktu awal kelahiran bayi belum membentuk kkekebalan daya
tahan tubuh secara sempurna, sehingga ASI dapat memberikan zat-zat
kekebalan yang belum dapat dibuat oleh bayi tersebut, sehingga bayi
yang minum ASI lebih jarang sakit, terutama pada awal dari
kehidupannya. Komponen zat anti infeksi yang banyak dalam ASI akan
melindungi bayi dari berbagai macam infeksi, baik yang disebabkan
oleh bakteri, virus, dan antigen lainnya (Suraatmaja, 2007).
Maryanti,dkk (2011) menguraikan dalam bukunya perencanaan
asuhan dalam perawatan dasar bayi meliputi pemberian nutrisi yaitu
dengan memberikan ASI sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi
setiap 2-3 jam, sampai bayi berumur 6 bulan (ASI Eksklusif). Secara
18

alamiah menyusui bayi adalah cara yang terbaik dalam memenuhi


kebutuhan gizi bayi, hal ini menimbulkan hubungan yang sangat
penting untuk pertumbuhan psikologis bayi yang sehat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmadhani, Lubis
dan Edison ( 2013) tentang hubungan pemberian ASI eksklusif dengan
angka kejadian diare akut pada bayi usia 0-12 bulan di Puskesmas
Kuranji Kota Padang didapatkan hasil bahwa kejadian diare pada bayi
yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan dengan
bayi yang mendapat ASI eksklusif. Hasil ini menunjukkan bahwa bayi
yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih rentan terhadap diare. Hal ini
dapat dibuktikan bahwa bayi usia 0-5 bulan 29 hari yang masih
mendapat ASI saja sebanyak 41 bayi (30,4%) dan yang sudah mendapat
campuran lain selain ASI sebanyak 28 bayi (20,7%). Jumlah bayi usia
6-12 bulan dengan ASI eksklusif sebanyak 34 bayi (25,2%) dan 32 bayi
lainnya (23,7%) non ASI eksklusif. Sebanyak 57 bayi (42,2%) pernah
diare dan 78 bayi lainnya (57,8%) tidak pernah. Analisis chi square
mendapatkan p=0,001 dan hasil ini signifikan (p<0,5). Pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan harus ditingkatkan karena mempunyai
hubungan dengan angka kejadian diare akut.
13. Melakukan rawat gabung dengan ibu
Rawat gabung ialah penempatan bayi dalam satu kamar dengan
ibunya, biasanya disamping ibu atau tempat tidur ibunya. Rawat
gabung juga merupakan lanjutan dari ambulasi dini supaya ibu mampu
merawat anaknya karena hubungan kasih sayang antara ibu dan anak
akan terjalin. Dan ibu akan lebih pandai memelihara anaknya setelah
keluar dari rumah sakit (Wirakusumah, dkk, 2016).

2. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


A. Definisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat
badan kurang dari 2.500 gram pada saat lahir (Mitayani, 2011). Bayi
19

BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram
tanpa memandang masa kehamilan (Proverawati, 2010).
Bayi BBLR ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram) (Saifuddin, 2009).
BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir rendah pada saat
kelahiran kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2.449 gram)
(Prawirohardjo, 2010).
Dari berbagai definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa bayi
BBLR adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram tanpa
memandang masa kehamilan.
B. Penyebab Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
1. Persalinan kurang bulan / prematur
Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu
disebut bayi prematur / kurang bulan. Pada umumnya bayi kurang
bulan disebabkan tidak mempunyai uterus untuk menahan janin,
gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat dari
waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi
uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai
organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan
hidup diluar Rahim. Semakin muda usia kehamilan, fungsi organ
tubuh semakin kurang sempurna dan prognosisnya semakin kurang
baik. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau
komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang
kurang (prematur) (Proverawati, 2010).
2. Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan
Yang dimaksud dengan bayi lahir kecil masa kehamilan
(KMK) adalah bayi dengan berat badannya tidak sesuai atau kurang
dari berat badan yang seharusnya atau kurang dari normal. Hal ini
dapat disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta,
kurang baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan
pertumbuhan yang berasal dari janin itu sendiri (Winkjosastro, 2008).
20

C. Klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


Menurut Proverawati dan Ismawati (2010), ada beberapa cara
dalam mengelompokkan bayi BBLR yaitu :
1. Menurut harapan hidupnya
a) Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) berat lahir 1.500 – 2.500
gram
b) Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) berat lahir 1.000
– 1.500 gram
c) Bayi berat badan lahir ekstrim rendah (BBLER) berat lahir
kurang dari 1.000 gram
2. Menurut masa gestasinya
a) Prematuritas murni
Yaitu bayi lahir dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu
dan berat badan bayi sesuai dengan berat badan untuk masa
kehamilan (SMK) atau biasa disebut neonatus kurang bulan
sesuai untuk masa kehamilan.
b) Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa kehamilan. Berat bayi mengalami retradasi
pertumbuhan intrauteri dan merupakan bayi kecil untuk masa
kehamilan (KMK).
D. Faktor Risiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Menurut Manuaba (2008), berikut adalah faktor – faktor risiko secara
umum yaitu :
1. Faktor ibu
a) Usia ibu
Pada usia kurang dari 20 tahun organ-organ reproduksi
belum berfungsi dengan sempurna. Rahim dan panggul ibu belum
tumbuh dewasa sehingga saat menjalani kehamilan dan
persalinan menjadi mudah mengalami komplikasi. Sedangkan
pada usia di atas 35 tahun telah terjadi penurunan kesehatan
21

reproduktif karena proses degeneratif sudah mulai muncul. Salah


satu proses degeneratif adalah sclerosis pembuluh darah arteri
kecil dan arteriole myometrium menyebabkan aliran darah ke
endometrium tidak merata dan maksimal sehingga
mempengaruhi penyaluran nutrisi dari ibu ke janin dan membuat
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (Prawirohardjo, 2008).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSUD dr. H.
Abdul Moelok Lampung pada tahun 2010 menunjukkan adanya
hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan kejadian BBLR,
dimana ibu dengan usia berisiko mempunyai risiko 4,2 kali lebih
besar untuk terjadi BBLR (Indrasari, 2012).
b) Paritas
Paritas terbagi menjadi paritas satu tidak aman, paritas 2
– 3 aman untuk hamil dan bersalin serta paritas lebih dari 3 tidak
aman. Hal ini disebabkan bayi dengan BBLR paling banyak
terjadi pada paritas di atas lima karena sudah mengalami
kemunduran fungsi pada alat-alat reproduksi. Paritas yang tinggi
berdampak timbulnya masalah kesehatan bagi ibu maupun bayi.
Salah satu dampak yang mungkin timbul adalah kejadian BBLR
(Manuaba, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan di Puskesmas Undaan
pada tahun 2015 menunjukan bahwa persentase ibu dengan
paritas >3 yang melahirkan bayi BBLR (31,8%) lebih besar
dibanding dengan ibu yang memiliki paritas ≤ 2 yang melahirkan
bayi dengan berat badan normal (11,4%) (H, Fatimah, &
Rahfiludin, 2017).
c) Anemia
Sebagian besar penyebab anemia pada ibu hamil adalah
kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan
hemoglobin. Anemia gizi besi terjadi karena tidak cukupnya zat
gizi besi yang diserap dari makanan sehari-hari guna
22

pembentukan sel darah merah sehingga menyebabkan


ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat besi
dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan distribusi oksigen ke
jaringan berkurang yang akan menurunkan metabolism jaringan
sehingga pertumbuhan janin akan terhambat dan berakibat bayi
lahir dengan BBLR (Trihardiani, 2011).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. M.
Jamil Padang pada tahun 2015 dengan 72 sampel didapatkan
sebanyak 56,8% menunjukkan bukti bahwa salah satu dampak
anemia pada ibu hamil adalah melahirkan bayi BBLR prematur
(Mahayana, Chundrayetti, & Yulistin, 2015).
d) Kekurangan energi kronik (KEK)
Kekurangan zat gizi yang diperlukan saat pertumbuhan
dapat mengakibatkan makin tingginya kehamilan prematur,
BBLR atau cacat bawaan. Kebutuhan gizi pada masa kehamilan
akan meningkat sebesar 15% dibandingkan dengan kebutuhan
wanita normal. Peningkatan gizi ini dibutuhkan untuk
pertumbuhan rahim, payudara, volume darah, plasenta, air
ketuban dan pertumbuhan janin. Makanan yang dikonsumsi ibu
hamil akan digunakan untuk pertumbuhan janin sebesar 40% dan
sisanya 60% digunakan untuk pertumbuhan ibunya. Secara
normal, ibu hamil akan mengalami kenaikan berat badan sebesar
11-13 kg. Hal ini terjadi karena kebutuhan asupan makanan ibu
hamil meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan (Festy,
2010).
e) Jarak kehamilan yang terlalu dekat
Jarak kehamilan yang pendek akan menyebabkan seorang
ibu belum cukup waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya
setelah melahirkan sebelumnya. Ibu hamil dalam kondisi tubuh
kurang sehat inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab
kejadian kematian ibu dan bayi yang dilahirkan serta risiko
23

terganggunya sistem reproduksi. Sistem reproduksi yang


terganggu akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan
janin yang dikandungnya sehingga berpengaruh terhadap berat
badan lahir (Trihardiani, 2011)
f) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya
Riwayat BBLR berulang dapat terjadi biasanya pada
kelainan anatomis uterus, seperti septum uterus, biasanya septum
uterus avascular dan terjadi kegagalan vaskularisasi yang
menyebabkan gangguan pada perkembangan plasenta. Septum
akan mengurangi kapasitas dari endometrim sehingga dapat
menghambat pertumbuhan janin. Selain itu dapat menyebabkan
perdarahan pada kehamilan trimester dua dan prematuritas
(Prawirohardjo, 2010).
g) Komplikasi kehamilan
Beberapa komplikasi langsung dari kehamilan seperti
penyakit infeksi, perdarahan, preeklamsia/eklamsia, hipertensi,
ketuban pecah dini, dan kelainan lainnya. Keadaan tersebut
mengganggu kesejahteraan ibu dan juga pertumbuhan janin
dalam kandungan sehingga meningkatkan resiko kelahiran bayi
dengan berat badan lahir rendah (Manuaba, 2007).
2. Faktor janin
a) Cacat bawaan (Kelainan Kongenital)
Kelainan kongenital merupakan kelianan dalam
pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil
konsepsi sel telur (Winkjosastro, 2009). Bayi yang dilahirkan
dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai
bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi kecil
untuk masa kehamilannya. Bayi BBLR dengan kelainan
kongenital yang mempunyai berat kira-kira 20% meninggal
dalam minggu pertama kehidupannya (Winkjosastro, 2008).
24

b) Kehamilan ganda
Pada kehamilan ganda distensi uterus berlebihan,
sehingga melewati batas toleransi dan sering terjadi partus
prematur. Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan
ganda bertambah yang dapat menyebabkan anemia dan penyakit
difesiensi lain, sehingga sering lahir bayi yang kecil. Kematian
perinatal anak kembar lebih tinggi daripada anak dengan
kehamilan tunggal dan prematuritas merupakan penyebab utama
(Winkjosastro, 2009).
3. Faktor plasenta
Faktor plasenta juga mempengaruhi pertumbuhan plasenta,
tempat melekat plasenta pada uterus, tempat insersi tali pusat, dan
kelainan plasenta. Kelainan plasenta dapat terjadi karena tidak
berfungsinya plasenta dengan baik sehingga menyebabkan gangguan
sirkulasi oksigen dalam plasenta. Lepasnya plasenta dari tempat
perlekatannya dan posisi tali pusat yang tidak sesuai dangan lokasi
pembuluh darah yang ada di plasenta dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan aliran darah plasenta ke janin sehingga pertumbuhan janin
terhambat (Maryunani, 2013).
4. Faktor lingkungan
Lingkungan juga menjadi faktor yang menimbulkan resiko
untuk melahirkan bayi BBLR. Faktor lingkungan yaitu jika ibu
bertempat tinggal di datran tinggi seperti pegunungan. Hal tersebut
menyebabkan rendahnya kadar oksigen sehingga suplai oksigen
terhadap janin terganggu. Ibu yang tempat tinggalnya di dataran tinggi
beresiko untuk mengalami hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia
neonatorum. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap janin oleh
karena gangguan oksigenasi atau kadar oksigen udara lebih rendah
dan menyebabkan lahirnya bayi BBLR. Radiasi dan paparan zat-zat
beracun juga berpengaruh, kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan
25

mutasi gen sehingga dapat menyebabkan kelainan kongenital pada


janin (Sistiarani, 2008).
E. Diagnosa dan gejala klinis
Diagnosa dan gejala kllinik bayi dengan berat badan lahir rendah
(BBLR) berdasarkan Maryunani (2013) dijelaskan di bawah ini :
1. Sebelum bayi lahir
a) Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus
prematurus dan lahir mati
b) Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan
c) Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat,
gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak
lanjut
d) Pertumbuhan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut
seharusnya
e) Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa
pula dengan hidramnion, hyperemesis gravidarum dan pada
hamil lanjut dengan toksemia gravidarum atau perdarahan
antepartum.
2. Setelah bayi lahir
a) Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterine (bayi yang lahir
dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan umur
kehamilan) secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan atau
kurang gizi. Yanda-tanda bayi ini adlah tengkorak kepala keras,
gerakan bayi terbatas, verniks kaseosa sedikit atau tidak ada, kulit
tipis, kering, berlipat dan mudah diangkat.
b) Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu. Verniks
kaseosa ada, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tulang tengkorak
lunak mudah bergerak, nuka seperti boneka (doll-like), abdomen
buncit, tali pusat tebal dan segar, menangis lemas, tonus otot
hipotoni dan kulit tipis, merah dan transparan.
26

c) Bayi small for date (kecil untuk masa kehamilan) sama denngan
bayi retradasi pertumbuhan intrauterin.
d) Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan organ-organ dalam
tubuhnya, karena itu sangat peka terhadap gangguan pernapasan,
infeksi, trauma kelahiran, hipotermi dan sebagainya. Pada bayi
kecil untuk masa kehamilan (small for date) alat-alat dalam tubuh
lebih berkembang dibandingkan dengan bayi prematur berat
badan sama, karena itu akan lebih mudah hidup di luar rahim,
namun tetap lebih peka terhadap infeksi dan hipotermi
dibandingkan bayi matur dengan berat badan normal.
F. Komplikasi Berat Badan Lahir Rendah
Komplikasi yang dapat terjadi karena berat badan lahir rendah
antara lain :
1. Hipotermi
Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan
mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh beberapa
penguapan yang bertambah akibat berkurangnya jaringan lemak di
bawah kulit, permukaan tubuh yang relative luas dibandingkan berat
badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang karena
adanya lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat
pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya
(Winkjosastro, 2008).
2. Hipoglikemia
Hipoglikemia berarti konsentrasi gula darah yang rendah.
Hipoglikemia sendiri bukanlah kondisi medis tetapi merupakan gejala
penyakit atau kegagalan untuk beradaptasi dan keadaan janin yang terus
menerus mendapatkan konsumsi glukosa dari transplasenta ke pola
suplei nutrient yang intermitten di ekstrauteri (Maryunani, 2013).
Gula darah berfungsi untuk membawa makanan ke otak dan
membawa oksigen ke otak. Jika asupan glukosa ini kurang, akibatnya
sel-sel syaraf mati dan mempengaruhi kecerdasan bayi kelak. Bayi
27

BBLR membutuhkan ASI sesegera mungkin setelah lahir dan minum


sangat sering (setiap 2 jam) pada minggu pertama (Proverawati, 2010).
Tanda klinis hipoglikemia adalah gemetar atau tremor, sianosis,
apatis, kejang, apnea intermitten, tangis lemah atau melengking,
kelumpuhan atau letargi, kesulitan minum, terdapat gerakan putar mata,
keringat dingin, hipotermia dan yang paling parah adalah gagal jantung
dan henti jantung (Maryunani, 2013).
3. Sistem gangguan pernapasan hidropatik
Sistem gangguan pernapasan hidropatik disebabkan oleh
kekurangan surfaktan dikarenakan pertumbuhan paru belum sempurna.
Otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah
melengkung. Selain itu, sering timbul pernapasan yang periodic dan
apnea yang disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla belum matur
(Winkjosastro, 2008).
4. Gangguan pencernaan
Saluran pencernaan pada bayi BBLR belum berfungsi sempurna
sehingga proses penyerapan makanan kurang baik. Aktifitas otot
pencernaan masih belum sempurna, sehingga pengosongan lambung
berkurang. Bayi BBLR mudah kembung dan hal ini disebabkan oleh
karena sianosis anorektal, atresia ileum, peritonitis, meconium dan
mega kolon (Proverawati, 2010).
5. Perdarahan intraventrikular
Lebih dari 50 % bayi BBLR menderita perdarahan pada otak.
Hal ini disebabkan karena bayi prematur sering mengalami asfiksia
berat dan gangguan sindrom pernapasan. Akhirnya bayi menjadi
hipoksia dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke
otak bertambah. Penambahan aliran darah ke otak akan lebih banyak
lagi dikarenakan otot regulasi serebral pada bayi prematur. Sehingga
mudah terjadi perdarahan pada pembuluh darah kapiler yang rapuh dan
iskemia yang germinal yang terletak dari dasar ventrikel lateralis antara
nucleus kaudatus dan ependim (Winkjosastro, 2008). Tanda klinis
28

perdarahan intracranial adalah kegagalan umum untuk bergerak


normal, reflex moro menurun atau tidak ada, tonus otot menurun,
letargi, pucat dan sianosis, apnea, kegagalan menyusu dengan baik,
tangisan bernada tinggi dan tajam, muntah yang kuat, kejang,
kelumpuhan dan fontanela mayor mungkin tengang dan cembung
(Maryunani, 2013).
6. Gangguan imunologi
Bayi dengan BBLR mempunyai sistem kekebalan tubuh yang
terbatas. Seringkali memungkinkan bayi tersebut rentan sekali terhadap
infeksi daripada bayi dengan berat normal (Maryunani, 2013).
G. Penatalaksanaan
1. Mempertahankan suhu badan bayi
Untuk mempertahankan suhu bayi BBLR, hal yang dilakukan adalah
dengan perawatan metode kanguru (PMK).
a) Pengertian
Perawatan metode kanguru (PMK) pertama kali
diperkenalkan oleh Ray dan Martinez di Bogota, Colombia pada
tahun 1979 sebagai cara alternative perawatan BBLR ditengah
tingginya angka BBLR dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang
ada.
PMK adalah perawatan bayi baru lahir dengan
melekatkan bayi di dada ibu (kontak kulit bayi dan kulit ibu)
sehingga suhu tubuh bayi tetap hangat. Syarat PMK adalah bayi
BBLR yang sudah stabil (sudah bernafas spontan, gerak tonus
aktif dan tidak memiliki masalah kesehatan serius) (Proverawati,
2010).
PMK dibagi menjadi dua, yaitu : PMK Intermiten dan
PMK kontinu. PMK intermiten adalah PMK dengan jarak waktu
yang pendek (perlekatan lebih dari satu jam per hari) dilakukan
saat ibu berkunjung. PMK ini diperuntukan bagi bayi dalam
proses penyembuhan yang masih memerlukan pengobatan medis
29

(infus dan oksigen). Tujuan PMK intermiten adalah perlindungan


bayi dari infeksi. PMK kontinu adalah PMK dengan jangka waktu
yang lebih lama daripada PMK intermiten. Pada metode ini
perawatan bayi dilakukan selama 24 jam sehari (Proverawati,
2010).
Berdasarkan penelitian sebelumnya PMK Intermitten
bahwa tidak ada perbedaan perubahan yang signifikan berat
badan BBLR yang dilakukan perawatan metode kanguru
inttermiten dan yang dilakukan perawatan inkubator. Kondisi ini
dimungkinkan karena perawatan metode kanguru inttermiten
dilakukan hanya sekali (Heraswati, Rahayu, & Khafidhoh, 2015).
b) Manfaat
Manfaat PMK bagi bayi adalah suhu tubuh bayi lebih
stabil daripada yang dirawat di inkubator, pola pernafasan bayi
menjadi lebih teratur, denyut jantung lebih stabil, pengaturan
perilaku bayi lebih baik misalnya frekuensi menangis bayi
berkurang dan sewaktu bangun bayi lebih waspada, bayi lebih
sering minum ASI dan lama menyusu lebih panjang serta
meningkatkan produksi ASI, pemakaian kalori berkurang,
kenaikan berat badan lebih baik, waktu tidur bayi lebih lama,
hubungan lekat ibu dan bayi lebih baik serta berkurangnya
kejadian infeksi, serta lebih efisien anggaran. Menurut penelitian
yang dilakukan di RS Ambarawa dan Ungaran pada tahun 2015
berdasarkan analisis didapatkan adanya perbedaan yang sangat
signifikan antara tingkat pengetahuan ibu sebelum dan setelah
diberikan pendidikan dan pelatihan metode kanguru pada ibu
yang memiliki bayi BBLR (Rahayu et al., 2016). Selain itu
berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSUD Banjarbaru pada
tahun 2012 ditarik suatu kesimpulan bahwa gambaran berat
badan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) sebelum dilakukan
metode kangaroo mother care (KMC) dengan rata-rata yaitu
30

2006.25 gram dan berat badan bayi BBLR sesudah dilakukan


metode kangaroo mother care (KMC) dengan rata-rata yaitu
2281.25 gram. Gambaran selisih berat badan bayi berat badan
lahir rendah (BBLR) sebelum dan sesudah dilakukan metode
kangaroo mother care (KMC) dengan rata-rata pertambahan
berat badan yaitu 275 gram. Gambaran panjang badan bayi berat
badan lahir rendah (BBLR) sebelum dilakukan metode kangaroo
mother care (KMC) dengan rata-rata yaitu 43 cm dan panjang
badan bayi BBLR sesudah dilakukan metode kangaroo mother
care (KMC) dengan rata-rata yaitu 44.1875 cm. Gambaran selisih
panjang badan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) sebelum dan
sesudah dilakukan metode kangaroo mother care (KMC) dengan
rata-rata pertambahan panjang badan yaitu 1.19 cm (Silvia,
Syahadatina, & Astika, 2013).
c) Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan PMK perlu diperhatikan 4 komponen
PMK yang dikutip dari Pedoman Pelayanan Bayi BBLR
(Departemen Kesehatan RI, 2009), yaitu :
1) Posisi Bayi
Letakkan bayi diantara payudara dengan posisi tegak,
dada bayi menempel ke dada ibu. Posisi bayi dijaga dengan
kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi dipalingkan
ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tenggadah
(ekstensi). Ujung pengikat tepat berada dibawah kuping bayi.
Tungkai bayi haruslah dalam posisi “kodok”, tangan harus
dalam posisi fleksi. Ikatkan kain dengan kuat agar saat ibu
bangun dari duduk, bayi tidak tergelincir. Pastikan juga
bahwa ikatan yang kuat dari kain tersebut menutupi dada si
bayi. Perut bayi jangan sampai tertekan dan sebaiknya berada
disekitar epigastrium ibu. Dengan cara ini bayi dapat
melakukan pernapasan perut.
31

2) Nutrisi dengan pemberian ASI


Dengan melakukan PMK, proses menyusui menjadi
lebih berhasil dengan sebagian besar bayi yang dipulangkan
memperoleh ASI. Bayi kecil mudah lelah, mengisap agak
lemah pada awalnya dan memerlukan waktu istirahat yang
agak lama setelah menghisap. Ibu dianjurkan untuk tidak
menarik bayi dari putting susu terlalu cepat. Biarkan bayi
menempel di dada ibu, dan biarkan bayi menghisap kembali
bila sudah siap.
3) Dukungan (Support)
Setelah bayi lahir ibu memerlukan dukungan dari
berbagai pihak, diantaranya berupa dukungan emosional,
dukungan fisik, dan dukungan edukasi. Dukungan emosional
diperlukan dalam melakukan PMK. Banyak ibu – ibu muda
yang mengalami keraguan yang sangat besar untuk
memenuhi kebutuhan bayi pertamanya sehingga
membutuhkan dukungan emosional dari suami, keluarga,
teman dan petugas kesehatan. Dukungan fisik diperlukan
karena selama beberapa minggu pertama PMK merawat bayi
akan sangat menyita waktu ibu. Istirahat dan tidur yang
cukup sangat penting pada peranannya pada PMK. Oleh
karena itu ibu memerlukan dukungan untuk membantu
menyelesaikan tugas-tugas rumah. Dukungan edukasi sangat
penting karena ibu perlu mendapatkan informasi yang
dibutuhkan dalam memahami seluruh proses PMK dan untuk
mengetahui manfaat PMK. Hal ini membuat PMK menjadi
lebih bermakna dan akan meningkatkan kemungkinan bahwa
ibu akan berhasil menjalankan PMK baik di rumah sakit atau
di rumah. Dukungan bisa diperoleh dari petugas kesehatan,
seluruh anggota keluarga, ibu dan masyarakat. Tanpa adanya
32

dukungan, akan sangat sulit bagi ibu untuk dapat melakukan


PMK dengan berhasil.
4) Pemulangan (discharge)
Pemulangan bayi dilakukan atas persetujuan dokter
berdasarkan laporan perawat dan bidan. Bayi BBLR dapat
dipulangkan dari rumah sakit jika memenuhi kriteria yaitu :
kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik dan
tidak ada henti nafas (apnea) atau infeksi, bayi minum
dengan baik, berat bayi selalu bertambah (sekurang-
kurangnya 15g/kg/hari) untuk sekurang-kurangnya tiga hari
berturut-turut, serta ibu mampu merawat bayi dan dapat
datang secara teratur untuk melakukan follow-up.
2. Pemberian ASI pada bayi BBLR
Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi baru
lahir, baik bayi yang dilahirkan cukup bulan (matur) maupun kurang
bulan (prematur) termasuk bayi BBLR. Berbagai hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian ASI memberikan banyak keuntungan
fisiologis maupun emosional. World Health Organization (WHO)
merekomendasikan pemberian ASI secara eksklusif sekurangnya
selama usia 6 bulan pertama, dan rekomendasi serupa juga didukung
oleh American Academy of Pediatrics (AAP), Academy of
Breastfeeding Medicine, demikian pula oleh Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI). Menurut Maryunani (2013) pemberian ASI pada
bayi BBLR adalah sebagai berikut :
a) Pemberian ASI pada bayi BBLR sehat
Kemampuan bayi untuk menyusu bergantung pada
kematangan fungsi refleks hisap dan menelan. Bayi dengan usia
kehamilan ibu di atas 34 minggu (berat di atas 1800 gram) dapat
disusukan langsung kepada ibu karena refleks hisap dan
menelannya biasanya sudah cukup baik (Proverawati, 2010).
33

Bayi yang usia kehamilan ibu 32 minggu hingga 34


minggu (berat badan 1500-1800 gram) seringkali refleks menelan
cukup baik, namun refleks menghisap masih kurang baik, oleh
karena itu, Ibu dapat memerah ASI dan ASI dapat diberikan
dengan menggunakan sendok, cangkir, atau pipet.
Jika bayi lahir dengan usia kehamilan ibu kurang dari 32
minggu (berat badan 1250-1500 gram), bayi belum memiliki
refleks hisap dan menelan yang baik, maka ASI perah diberikan
dengan menggunakan pipa lambung/orogastrik (sonde).
Pemberian minum dengan menggunakan cangkir
merupakan metode alternatif pemberian minum bayi BBLR.
Menyusui dengan menggunakan cangkir atau botol, berhubungan
dengan kejadian tersedak yang cukup tinggi. Namun demikian,
penggunaan cangkir cukup aman. Pemberian ASI dengan cangkir
memerlukan waktu yang lebih lama dengan volume minum yang
lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang menggunakan
botol, tetapi keuntungan yang diperoleh yaitu bayi dapat
melakukan pengaturan atas kebutuhan minum, yang sesuai
dengan perkembangan neurologis bayi BBLR, sehingga tidak
menyebabkan keterpaksaan saat minum.
Gambaran klinis yang dapat dijadikan acuan bahwa bayi
BBLR dapat mulai diberikan asupan nutrisi oral yaitu jika
didapatkan: bayi dapat menoleransi pemberian nutrisi oral bolus,
stabil fisiologinya, fungsi respirasi stabil, terdapat non-nutritive
sucking yang ritmis dan usia kehamilan sekurangnya antara 32-
34 minggu.
b) Pemberian ASI pada bayi BBLR sakit
Bayi BBLR sakit berat mungkin belum dapat minum
(nutrisi enteral) sehingga perlu diberikan nutrisi melalui infus
(nutrisi parenteral). Bayi yang lahir dengan berat lahir di bawah
1250 gram dengan permasalahan medis, mungkin perlu mendapat
34

pemberian nutrisi parenteral selama 24 sampai 48 jam pertama,


kemudian diberikan trophic feeding 10 mL/kgBB/24 jam. Jika
bayi sudah dapat menoleransi pemberian minum, maka jumlah
minum dapat dinaikkan sambil menurunkan pemberian nutrisi
parenteral.
Dilaporkan bahwa terdapat gangguan struktur dan fungsi
gastrointestinal, vili usus yang memendek, hilangnya DNA
mukosa saluran cerna, kandungan protein dan aktivitas enzim
berkurang, meskipun status anabolisme dipertahankan dengan
pemberian nutrisi parenteral. Pada model tikus, atrofi
gastrointestinal terjadi setelah 3 hari tanpa asupan enteral, dan
perbaikan terjadi setelah mulai dilakukan pemberian nutrisi
enteral. Pemberian trophic feeding (minimal enteral feeding,
gastrointestinal priming, early hypocaloric feeding), merupakan
suatu konsep yang diperkenalkan, untuk menghindari efek puasa.
Prinsip trophic feeding yaitu untuk menstimulasi perkembangan
saluran cerna/gastrointestinal, tanpa memperberat derajat
penyakit. Trophic feeding diberikan dengan jumlah 10-20
mL/kg/hari.
Karena bayi prematur seringkali tidak dapat melakukan
koordinasi antara gerakan menghisap, menelan, dan bernafas,
maka perlu digunakan selang orogastrik. Metode yang sering
digunakan yaitu infus susu kontinu dan intermiten (bolus) yang
diberikan setiap 3 jam. Penelitian terkini memberikan hasil bahwa
pemberian nutrisi secara bolus, memperbaiki konsentrasi
hormon-hormon terkait dengan keadaan puasa-minum, sehingga
memperbaiki perkembangan saluran cerna, serta didapatkan
toleransi minum dan pertumbuhan yang lebih baik pada bayi yang
mendapatkan nutrisi enteral secara bolus. Oleh karena itu,
pemberian minum secara bolus lebih menguntungkan daripada
35

pemberian minum kontinu pada bayi prematur dengan saluran


cerna yang relatif lebih sehat.
Rekomendasi pemberian minum pada bayi lahir dengan
usia kehamilan kurang dari 37 minggu harus berdasarkan pada
berat lahir dan tahap perkembangan, yang ditingkatkan sesuai
dengan usia koreksi. Berdasarkan usia koreksi, peningkatan
pemberian minum pada kebanyakan bayi prematur hampir
menyamai bayi cukup bulan.
c) Keuntungan pemberian ASI
Kebutuhan nutrisi untuk optimalisasi pertumbuhan dan
perkembangan menjadikan tata laksana nutrisi bayi baru lahir
menjadi suatu tantangan tersendiri. Pada bayi sakit kritis, hal ini
memerlukan perhatian khusus karena risiko tidak adekuatnya
nutrisi yang diberikan. Dari berbagai penelitian didapatkan bukti
yang menunjukkan keuntungan pemberian ASI jangka pendek
maupun jangka panjang. Keuntungan tersebut di antaranya,
pencernaannya yang lebih mudah, lebih sedikit residu lambung
dan kejadian muntah, menurunkan kejadian infeksi seperti sepsis
dan meningitis, maupun enterokolitis nekrotikans. Peran
nukleotida ASI dalam imunonutrisi khususnya pada bayi
prematur telah menjadi pusat perhatian akhir-akhir ini. Melalui
ASI terjadi transfer hormon dan faktor pertumbuhan, dan pada
ASI terdapat faktor proteksi imunologis serta antimikroba. Selain
itu pemberian ASI mengurangi risiko alergi atau atopi
(Proverawati, 2010).
3. Pencegahan infeksi
Bayi BBLR sangat rentan terhadap infeksi dikarenakan
imunoglonin yang rendah. Aktivitas bakteresidial neutrophil, efek
sitotoksik limfosit juga masih rendah dan fungsi imun juga masih
belum berpengalaman. Bayi akan mudah mendapatkan infeksi
terutama infeksi nosokomial (Manuaba, 2008).
36

Infeksi pada bayi BBLR adalah proses penyakit akibat


masuknya kuman (bakteri, virus, protozoa, parasit) ke dalam tubuh
bayi. Bayi BBLR belum sempurna sistem imunologinya. Bayi BBLR
hanya memiliki immunoglobulin G (IgG) yang didapat dari ibu
melalui plasenta sebagai zat kekebalan sehingga sangat rentan
terhadap infeksi (Proverawati, 2010).
Tanda-tanda infeksi pada bayi BBLR sering kali tidak khas,
namun beberapa perubahan pada bayi dapat dijadikan sebagai tanda
dini dari adanya infeksi menurut Maryunani (2013) yaitu :
1) Perubahan tingkah laku tidak seperti biasanya
2) Malas minum atau menyusu
3) Gelisah dan tampak mengantuk
4) Frekuensi nafas meningkat
5) Berat badan tiba-tiba turun
6) Pergerakan berkurang
7) Suhu badan turun atau meningkat
Untuk mencegah terjadinya infeksi pada bayi BBLR maka
perlu dilakukan upaya yaitu :
1) Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi dengan
sabun antiseptik atau sabun biasa selama 1 menit.
2) Terus menyusui bayi karena ASI mengandung zat yang
melindungi saluran cerna bayi dari masuknya kuman.
3) Membersihkan payudara sebelum menyusui bayi
4) Menjaga kebersihan tubuh bayi dan mengusahakan agar tetap
hangat.
5) Menjaga tali pusat tetap bersih dan kering sampai terlepas sendiri
6) Memakai baju bersih dan memakai masker ketika mengendong
atau menyusui bayi.
7) Tidak boleh mendekati bayi ketika sedang pilek, batuk atau
demam
8) Mencuci bersih segala peralatan yang digunakan bayi.
37

Fungsi perawatan di sini adalah memberi perlindungan


terhadap bayi BBLR terhadap potensi infeksi. Oleh karena itu, bayi
BBLR harus dijaga agar tidak berkontak langsung dengan penderita
infeksi dalam keadaan apapun. Digunakan masker dan baju khusus
untuk merawat bayi, tindakan sepsis dan antiseptik alat-alat yang
digunakan, jumlah pasien dibatasi, mengatur kunjungan, menghindari
perawatan dalam waktu yang lama, dan pemberian antibiotik yang
tepat (Departemen Kesehatan RI, 2010).
4. Penimbangan berat badan
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi
yang erat kaitannya dengan daya tahan tubuh. Oleh sebab itu,
pemantauan dan monitoring harus dilakukan secara tepat
(Departemen Kesehatan RI, 2009).
Biasanya berat badan bayi akan menurun pada 7 – 10 hari
pertama namun akan kembali seperti semula dalam 14 hari. Setelah
berat badan bayi tercapai kembali, kemudian dipantau berat badan
dalam 3 bulan dengan perkiraan :
1) 150 – 200 gram seminggu untuk bayi < 1500 gram (20-30
gram/hari)
2) 200-250 gram seminggu untuk bayi 1500 – 2500 gram (30-35
gram/hari)
5. Pemberian oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah yang serius
bagi bayi preterm, BBLR, akibat tidak adanya surfaktan. Konsentrasi
oksigen yang diberikan sekitar 30-35 % dengan menggunakan head-
box, konsentrasi oksigen yang tinggi dalam masa panjang dapat
menyebabkan kerusakan jaringan retina bayi yang dapat
mengakibatkan kebutaan (Manuaba, 2010).
6. Pengawasan jalan nafas
Terhambatnya jalan nafas dapat menyebabkan asfiksia,
hipoksia, dan akhirnya kematian. Bayi BBLR memeiliki resiko
38

serangan apnea dan defisiensi surfaktan sehingga tidak dapat


memperoleh oksigen yang cukup seperti yang diperoleh dari plasenta
sebelumnya dalam kondisi ini diperlukan pembersihan jalan nafas
segera setelah lahir (aspirasi lender), dibaringkan dalam posisi miring,
merangsang pernafasan dengan menekuk atau menjentik tumit. Bila
tindakan ini gagal dapat dilakukan ventilasi, intubasi endotrakeal,
pijat jantung dan pemberian oksigen, dan selama pemberian intake
dicegah terjadinya aspirasi. Dengan tindkan ini dapat dicegah
sekaligus mengatasi asfiksia sehingga memperkecil kematian bayi
BBLR (Maryunani, 2013).
3. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN
A. Pengertian
Manajemen asuhan kebidanan adalah pendekatan dan kerangka
pikir yang digunakan bidan dalam menerapkan metode pemecahan
masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data,
diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Kemenkes
RI, 2007).
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah kebidanan
yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, ketrampilan dalam rangkaian
atau tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus
pada pasien (Varney,1997 dalam Sulistyawati, 2009).
B. Langkah-langkah Varney
7 langkah manajemen asuhan kebidanan Varney menurut Saminem
(2008) yaitu :
1. Langkah 1 (Pengumpulan Data Dasar)
Pada langkah ini yang dilakukan adalah mengumpulkan data
dasar yang menyeluruh meliputi pengkajian riwayat, pemeriksaan
fisik sesuai dengan kebutuhan, meninjau catatan terbaru, meninjau
data hasil laboratorium, dan membandingkan dengan hasil studi.
39

2. Langkah II (Interpretasi Data)


Pada langkah ini yang dilakukan adalah menginterprestasikan
data untuk kemudian diproses menjadi masalah atau diagnosis serta
kebutuhan perawatan kesehatan.
Diagnosis kebidanan yaitu diagnosis yang ditegakkan profesi
(bidan) dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar
nomenklatur (tata nama) diagnosis kebidanan. Standar nomenklatur
diagnosis kebidanan tersebut adalah:
a) Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
b) Berhubungan langsung dengan praktis kebidanan
c) Memiliki ciri khas kebidanan
d) Didukung oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan dapat
diselesaikan dengan pendekatann managemen kebidanan

3. Langkah III (Identifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial)

Pada langkah ini yang dilakukan adalah mengidentifikasi


masalah atau diagnosis potensial berdasarkan masalah dan diagnosis
yang berkenaan dengan tindakan antisipasi, pencegahan, menunggu
dan persiapan terhadap semua keadaan yang mungkin muncul.
4. Langkah IV (Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan
Segera)
Pada langkah ini yang dilakukan adalah mengidentifikasi
perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan
lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan
kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan. Dalam
melakukan tindakan, bidan harus bisa memprioritaskan masalah/
kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah bidan merumuskan tindakan
yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosis/ masalah potensial
pada langkah sebelumnya, bidan juga harus merumuskan tindakan
kedaruratan atau segera untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Tindakan
40

segera bisa dilakukan secara mandiri, kolaborasi, atau bersifat rujukan


terjadi
5. Langkah V (Perencanaan Asuhan yang Menyeluruh)
Pada langkah ini yang dilakukan adalah mengembangkan sebuah
rencana yang menyeluruh berdasarkan hasil yang diperoleh dari
langkah sebelumnya. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya
meliputi hal yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari
masalah yang berkaitan, tetapi dilihat juga dari apa yang akan di
perkirakan terjadi selanjutnya, apakah dibutuhkan konseling dan
apakah merujuk klien.Setiap asuhan yang direncanakan harus
disetujui oleh kedua pihak yaitu pasien dan bidan. Oleh karena itu,
tugas bidan dalam langkah ini adalah merumuskan rencana asuhan sesuai
dengan hasil pembahasan klien yang kemudian membuat kesepakatan
sebelum melaksanakannya terjadi
6. Langkah VI (Pelaksanaan)
Pada langkah yang dilakukan adalah melaksanakan rencana asuhan
secara menyeluruh. Langkah ini dapat dilakukan secara keseluruhan oleh
bidan atau dilakukan secara kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang
lain. Penatalaksanaan yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya
serta meningkatkan mutu dan asuhan klien. Bidan sebaiknya mengkaji
ulang apakah semua rencana asuhan telah dilaksanakan

7. Langkah VII (Evaluasi)

Pada langkah ini yang harus dilakukan adalah memeriksa apakah


rencana asuhan yang diberikan telah benar-benar memenuhi
kebutuhan klien seperti yang diidentifikasi pada diagnosis atau
masalah. Rencana dianggap efektif jika memang benar efektif
pelaksanaannya. Ada kemungkinan sebagian rencana tersebut efektif
sedangkan sebagian belum efektif. Proses penatalaksanaan asuhan ini
merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan sehingga perlu
mengulangi kembali setiap asuhan yang tidak efektif serta melakukan
41

penyesuaian rencana.
4. PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN
Pendokumentasian atau catatan manajemen kebidanan dapat diterapkan
dengan metode SOAP. SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas,
logis dan tertulis. SOAP sebagai suatu metode pendokumentasian asuhan
kebidanan, metode ini disarikan dari proses pemikiran penatalaksanaan
kebidanan. Dipakai untuk mendokumentasikan hasil asuhan klien dalam rekam
medis klien sebagai catatan perkembangan/kemajuan (progress note). SOAP
menurut Asrinah (2010), yaitu :
1. S (Data Subjektif)
Data subjektif adalah data yang diperoleh melalui anamnesis dan
merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Varney
langkah pertama pengkajian data.
2. O (Data Objektif)
Data objektif adalah data yang diperoleh melalui observasi dan hasil
pemeriksaan, pendokumentasian manajemen kebidanan menurut
Varney langkah pertama pengkajian data.
3. A (Analisa/Assesment)
Analisa merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut
Varney langkah kedua, ketiga dan keempat, meliputi diagnosis /
masalah kebidanan, diagnosis / masalah potensial dan kebutuhan
segera yang harus diidentifikasi menurut kewenangan bidan melalui
tindakan mandiri, tindakan kolaborasi dan tindakan merujuk klien.
4. P (Penatalaksanaan/Planning)
Penatalaksanaan yaitu pendokumentasian manajemen kebidanan
menurut Varney langkah kelima, keenam dan ketujuh, meliputi
tindakan. antisipasi, tindakan segera tindakan rutin, penyuluhan,
support, kolaborasi, rujukan dan evaluasi.
Menurut Purwandari (2008) SOAP dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Data subyektif ini berhubungan dengan masalah dari sudut pandang
pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya yang
42

dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan


langsung dengan diagnosis.
b. Data obyektif merupakan pendokumentasian hasil observasi yang jujur,
hasil pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium / pemeriksaan
diagnostik lain. Catatan medik dan informasi dari keluarga atau oranglain
dapat dimasukkan dalam data obyektif ini sebagai data penunjang.
c. Analysis/ Assessment, merupakan pendokumentasian hasil analisis dan
interpretasi (kesimpulan) dari data subyektif dan obyektif. Analisis yang
tepat dan akurat mengikuti perkembangan data pasien akan menjamin
cepat diketahuinya perubahan pada pasien, dapat terus diikuti dan diambil
keputusan/ tindakan yang tepat.
d. Planning/ Perencanaan, adalah membuat rencana asuhan saat ini dan yang
akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil analisis dan
interpretasi data. Meskipun secara istilah, P adalah Planning/ Perencanaan
saja, namun P dalam SOAP ini juga mengandung implementasi dan
evaluasi.
5. Tinjauan Sistem Kolaborasi dan Rujukan
A. Pelayanan Kolaborasi
Kolaborasi adalah hubungan saling berbagi tanggung jawab
(kerjasama) dengan rekan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya dalam
memberi asuhan pada pasien. Dalam praktiknya, kolaborasi dilakukan
dengan mendiskusikan diagnosis pasien serta bekerjasama dalam
penatalaksanaan dan pemberian asuhan. Masing-masing tenaga kesehatan
dapat saling berkonsultasi dengan tatap muka langsung atau melalui alat
komunikasi lainnya dan tidak perlu hadir ketika tindakan dilakukan. Petugas
kesehatan yang ditugaskan menangani pasien bertanggung jawab terhadap
keseluruhan penatalaksanaan asuhan.
Pelayanan kebidanan kolaborasi adalah pelayanan yang dilakukan
oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya di lakukan secara
bersamaan atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan
43

pelayanan kesehatan. Tujuan pelayanan ini adalah berbagi otoritas dalam


pemberian pelayanan berkualitas sesuai ruang lingkup masing-masing.
Elemen kolaborasi mencakup:
a. Harus melibatkan tenaga ahli dengan keahlian yang berbeda, yang
dapat bekerjasama secara timbal balik dengan baik.
b. Anggota kelompok harus bersikap tegas dan mau bekerjasama.
c. Kelompok harus memberi pelayanan yang keunikannya dihasilkan
dari kombinasi pandangan dan keahlian yang di berikan oleh setiap
anggota tim tersebut.
Pelayanan Kolaborasi /kerjasama terdiri dari:
a. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan
sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
b. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil resiko tinggi dan
pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan
kolaborasi.
c. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dan
pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan
kolaborasi.
d. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dan
pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan
kolaborasi.
e. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dan pertolongan
pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
f. Memberikan asuhan kebidanan pada balita resiko tinggi dan
pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan
kolaborasi (Asrinah, 2013).
B. Kolaborasi Dalam Praktik Kebidanan
Dalam praktik pelayanan kebidanan, layanan kolaborasi adalah asuhan
kebidanan yang diberikan kepada klien dengan tanggung jawab bersama
semua pemberi pelayanan yang terlibat. Misalnya: bidan, dokter, dan atau
tenaga kesehatan profesional lainnya. Bidan merupakan anggota tim.
44

Bidan meyakini bahwa dalam memberi asuhan harus tetap menjaga,


mendukung, dan menghargai proses fisiologis manusia. Intervensi dan
penggunaan teknologi dalam asuhan hanya atas indikasi. Rujukan yang
efektif dilakukan untuk menjamin kesejahteraan ibu dan bayinya. Bidan
adalah praktisi yang mandiri. Bidan bekerja sama mengembangkan
kemitraan dengan anggota dan kesehatan lainnya. Dalam melaksanakan
tugasnya, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi, dan perujukan sesuai
dengan kondisi pasien, kewenangan, dan kemampuannya (Asrinah, 2013).
1. Pengertian Sistim Rujukan
Sistem rujukan adalah sistem yang dikelola secara strategis,
proaktif, pragmatif dan koordinatif untuk menjamin pemerataan
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang paripurna dan
komprehensif bagi masyarakat yang membutuhkannya terutama ibu
dan bayi baru lahir, dimanapun mereka bearada dan berasal dari
golongan ekonomi manapun agar dapat dicapai peningkatan derajat
kesehatan dan neonatal di wilayah mereka berada (Depkes RI, 2006)
Rujukan Pelayanan Kebidanan adalah pelayanan yang
dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang
lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh
bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong
persalinan, juga layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat atau
fasilitas pelayanan kesehatan atau fasilitas kesehatan lain secara
horizontal maupun vertical.
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan
fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya
penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik atas masalah yang
timbul baik secara vertikal (komunikasi antara unit yang sederajat)
maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang
lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau,
rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi.
2. Tujuan Sistim Rujukan
45

Tujuan umum sistem rujukan adalah untuk meningkatkan mutu,


cakupan dan efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu (Kebidanan
Komunitas). Tujuan umum rujukan untuk memberikan petunjuk
kepada petugas puskesmas tentang pelaksanaan rujukan medis dalam
rangka menurunkan IMR dan AMR.
Tujuan khusus sistem rujukan adalah:
1) Meningkatkan kemampuan puskesmas dan peningkatannya
dalam rangka menangani rujukan kasus “resiko tinggi” dan gawat
darurat yang terkait dengan kematian ibu maternal dan bayi.
2) Menyeragamkan dan menyederhanakan prosedur rujukan di
wilayah kerja puskesmas.
3. Jenis Rujukan
Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari :
1) Rujukan Internal
Yaitu rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di
dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas
(puskesmas pembantu) ke puskesmas induk.
2) Rujukan Eksternal
Yaitu rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan
ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke
rumah sakit umum daerah).
Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari:
1) Rujukan Medik
Yaitu rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya
penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya,
merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung
koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum
daerah. Jenis rujukan medik:
a) Transfer of patient.
46

b) Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik,


pengobatan, tindakan operatif dan lain-lain.
c) Transfer of specimen.
d) Pengiriman bahan untuk pemeriksaan laboratorium yang
lebih lengkap.
e) Transfer of knowledge/personel.
f) Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk
meningkatkan mutu layanan pengobatan setempat.
Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah untuk memberikan
pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi
penderita, diskusi kasus dan demonstrasi operasi (transfer of
knowledge). Pengiriman petugas pelayanan kesehatan
daerah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan
mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap atau rumah sakit
pendidikan, juga dengan mengundang tenaga medis dalam
kegiatan ilmiah yang diselenggarakan tingkat provinsi atau
institusi pendidikan (transfer of personel).
2) Rujukan Kesehatan
Yaitu hubungan dalam pengiriman dan pemeriksaan bahan
ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Rujukan ini
umumnya berkaitan dengan upaya peningkatan promosi
kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya,
merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi
(pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan
kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).
C. Alur Sistim Rujukan
Alur rujukan kasus kegawat daruratan:
1) Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke:
1) Puskesmas pembantu
2) Pondok bersalin atau bidan di desa
47

3) Puskesmas rawat inap


4) Rumah sakit swasta / RS pemerintah
2) Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke:
a) Puskesmas pembantu
b) Pondok bersalin atau bidan di desa
D. Mekanisme Rujukan
a. Menentukan kegawadaruratan penderita
1) Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih
Ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh
keluarga atau kader/ dukun bayi, maka segera dirujuk ke fasilitas
pelayanan kesehatan yang terdekat, oleh karena itu mereka belum
tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan.
2) Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas
Tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan
tersebut harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus
yang ditemui, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya,
mereka harus menentukan kasus mana yang boleh ditangani
sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.
3) Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga
Sebaiknya bayi yang akan dirujuk harus sepengatahuan ibu atau
keluarga bayi yang bersangkutan dengan cara petugas kesehatan
menjelaskan kondisi atau masalah bayi yang akan dirujuk dengan
cara yang baik.
4) Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
a) Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk
b) Meminta petunjuk apa yan perlu dilakukan dalam rangka
persiapan dan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan
c) Meminta petunjuk dan cara penanganan untuk menolong
penderita bila penderita tidak mungkin dikirim.
5) Persiapan penderita (BAKSOKUDA)
48

Persiapan yang harus diperhatikan dalam melakukan rujukan


disingkat “BAKSOKUDA” yang diartikan sebagi berikut :
B (Bidan) : Pastikan ibu/ bayi/ klien didampingi oleh tenaga
kesehatan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk
melaksanakan kegawatdaruratan
A (Alat) : Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan
seperti spuit, infus set, tensimeter dan stetoskop
K (keluarga) : Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu
(klien) dan alasan mengapa ia dirujuk. Suami dan anggota
keluarga yang lain harus menerima ibu (klien) ke tempat
rujukan.
S (Surat) : Beri sura ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu
(klien), alasan rujukan, uraian hasil rujuka, asuhan atau obat-
obat yang telah diterima ibu
O (Obat) : Bawa obat-obat esensial yang diperlukan selama
perjalanan merujuk
K (Kendaraan) : Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk
memungkinkan ibu (klien) dalam kondisi yang nyaman dan
dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu cepat.
U (Uang) : Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam
jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan kesehatan
yang diperlukan di tempar rujukan
DA (Darah) : Siapkan darah untuk sewaktu-waktu membutuhkan
transfusi darah apabila terjadi perdarahan
6) Pengiriman Penderita
Untuk mempercepat sampai ke tujuan, perlu diupayakan
kendaraan/ sarana transportasi yang tersedia untuk mengangkut
penderita
7) Tindak lanjut penderita
a) Untuk penderita yang telah dikemalikan
49

b) Harus kunjungan rumah bila penderita yang memerlukan


tindakan lanjut tapi tidak melapor.
50

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati. 2009. Asuhan Kebidanan (Nifas). Jogjakarta: Mitra Cendekia.

Asrinah. 2010. Asuhan Kebidanan Masa Kehamilan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Asiyah, dkk. 2017. Perawatan Tali Pusat Terbuka Sebagai Upaya Mempercepat
Pelepasan Tali Pusat. Indonesia Jurnal Kebidanan Vol. 1 No. I (2017).
Diakses tanggal 21 Januari 2018. Didapatkan dari
fileCUsersuserDownloads112-592-2-PB.pdf

Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC.

Departemen Kesehatan RI. (2009). Pedoman pelayanan kesehatan bayi berat


lahir rendah (BBLR) dengan perawatan metode kanguru di rumah sakit
dan jejaringnya. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan RI. (2010). Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta:


DepKes RI.

Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta:
Salemba Medika.

Festy, P. (2010). Analisis Faktor Resiko pada Kejadian Berat Badan Lahir
Rendah di Kabupaten Sumenep. Surabaya: Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

H, C. P., Fatimah, S., & Rahfiludin, M. Z. (2017). Faktor – Faktor Yang


Berhubungan Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (Bblr) Di
Kabupaten Kudus. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5. Retrieved from
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

Heraswati, Rahayu, S., & Khafidhoh, N. (2015). Efektifitas perawat metode


kanguruintermitten dalam peningkatan berat badan bayi berat lahir rendah
di RSUD Tugurejo Semarang tahun 2013. Kebidanan, 2(4), 10–15.

Indrasari, N. (2012). Faktor Resiko pada Kejadian Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR). Keperawatan, VIII(2), 114–123

Indrayani, Djami M.E.U. 2013. Asuhan Persalinan dan bayi Baru Lahir. Jakarta
: CV. Trans Info Media.
.
JNPK-KR. 2012. Asuhan Persalinan Normal & Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta:
JNPK - KR.
51

Kementrian Kesehatan RI. 2010. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2010.


Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

______________________. 2013. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013.


Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

______________________. 2013. Rencana Aksi Percepatan Penurunan AKI di


Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.

Ladewig, Patricia, Marcia dan Sally. 2006. Buku Saku Asuhan Ibu & Bayi Baru
Lahir. Jakarta: EGC.

Lissauer, Avroy. 2013. Selayang Neonatalogi. Edisi kedua. Jakarta : Indeks.


150- 156

Mahayana, S. A. S., Chundrayetti, E., & Yulistin. (2015). Faktor Risiko Yang
Berpengaruh Terhadap Kejadian Badan Lahir Rendah di RSUP Dr. M.
Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(3), 664–673.

Mandriwati, G.A. 2008. Asuhan Kebidanan Ibu Hamil. Jakarta: EGC.

Manuaba, I.B.G, I.A. Chandranita Manuaba, I.B.G. Fajar Manuaba. 2007.


Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.

Manuaba, I. G. (2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.

(2008). Gawat-Darurat Obstetri Ginekologi & Obstetri


Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC.

(2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga


Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

Marmi K, R. 2015. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Maryanti, dkk. 2011. Buku Ajar Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta : Penerbit
Trans Info Media

Maryunani, A. (2013). Buku Saku Asuhan Bayi Dengan Berat Badan Lahir
Rendah. Jakarta: TIM.

Mitayani. (2011). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.

Muslihatun, WN, 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Yogyakarta :


Fitramaya
52

Prawiroharjo, Sarwono. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

___________________. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.

Proverawati, A. (2010). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Pijat Bayi.
Yogyakarta: Nuha Medika.

Purwandari, Atik. 2008. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC

Rahayu, S., Runjati, Ariyanti, I., Yuliati, N. D., Maisi, Sr., & Kusuma, I. C.
(2016). Kangaroo Mother Care Module and Education Toward The Baby
Growth and Mother Independency At Home. 4th Asian Academic Society
International Conference, (2010), 318–323.

Rahmadhani, Lubis, dan Edison. 2013. Pengaruh Pemberian ASI Ekslusif


dengan Angka Kejadian Diare Akut pada Bayi Usia 0-1 Tahun di
Puskesmas Kuranji Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. Diakses
tanggal 30 Januari 2018 http://jurnal.fk.unand.ac.id

Rochmah, et al. (2012). Panduan Belajar: Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita.
Jakarta: Penerbit Buku Kedoktern EGC.

Saminem. 2008. Asuhan Kebidanan Kehamilan Normal. Jakarta: EGC.

Saifuddin. 2008. Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Silvia, M., Syahadatina, M., & Astika, E. (2013). Pertumbuhan Fisik Bayi Berat
Badan Lahir Rendah (Bblr) Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Metode
Kangaroo Mother Care (Kmc). DK, 1(1), 32–41.

Sistiarani, C. (2008). Faktor Maternal dan Kualitas ANC yang Berisiko


Terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Studi pada Ibu
yang Periksa Hamil ke Tenaga Kesehatan dan Melahirkan di RSUD
Banyumas. FKM Universitas Diponegoro.

Sulistyawati, Ari. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta:


Salemba Medika.

______________. 2010. buku Ajar Suhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta:
Salemba Medika.
53

Suraatmaja, Sudaryat. 2007. Kapita Selekta Gastroenterologi. Jakarta : Sagung


Seto

Stright, R. 2005. Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta : Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

Trihardiani, I. (2011). Faktor Resiko Kejadian Berat BAdan Lahir Rendah di


Wilayah Kerja Puskesmas Singkawang Timur dan Utara Kota
Singkawang. Semarang: Program Sarjana Pendidikan Kedokteran
Universitas Diponegoro.

Varney, Helen. Jan M. Kriebs & Carovln L. Gegor. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan. Ed. 4 Volume 1. Jakarta: EGC

. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Ed. 4 Volume 2.


Jakarta: EGC.

Walyani dan Purwoastuti. 2015. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas dan
Menyusui. Yogyakarta : Pustaka Baru Pres

Winkjosastro. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawihardjo.

Winkjosastro, H. (2009). Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawihardjo.

Wirakusumah, dkk. 2016. Obstetri Fisiologi: Ilmu Kesehatan Reproduksi, Ed.2.


Jakarta: EGC

Wong, Donna L, et al. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.