Anda di halaman 1dari 15

SEMINAR AKUNTANSI

Hubungan Keagenan
(SAP 12)

Oleh Kelompok 11:

Ni Luh Ketut Sugi Lestari (1607531001)


A.A. Sagung Shinta Devi Darmayani (1607531004)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA

2019
1. Pengertian Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan menurut Jensen dan Meckling (1976) adalah “suatu kontrak di
bawah satu atau lebih yang melibatkan agent untuk melaksanakan beberapa layanan
bagi mereka dengan melakukan pendelegasian wewenang pegambilan keputusan
kepada agent”. Bagaimanapun juga, manajer tidak selalu bertindak sesuai dengan
keinginan pemegang saham. Tujuan utama dari teori keagenan (agency theory)
adalah untuk menjelaskan bagaimana pihak – pihak yang melakukan hubungan
kontrak dapat mendesain kontrak yang tujuannya untuk meminimalisasi biaya
sebagai dampak adanya informasi yang tidak simetris dan kondisi ketidakpastian.

Ross (1973) menyatakan bahwa bisa dikatakan hubungan keagenan muncul di


antara dua (atau lebih) bagian dimana salah satu ditunjuk sebagai agen yang
bertindak atas nama atau sebagai perwakilan untuk pihak lain (principal) yang
merupakan pemegang saham dalam perusahaan. Perusahaan yang melakukan
pemisahan fungsi pengelolaan dan fungsi kepemilikan akan mengakibatkan
munculnya perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham.

Menurut Eisenhardt (1989) teori keagenan (agency theory) dilandasi oleh


beberapa asumsi. Asumsi – asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga jenis yaitu,
asumsi tentang sifat manusia, asumsi keorganisasian, dan asumsi informasi. Asumsi
sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat mementingkan sendiri
(self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded rationality) dan tidak
menyukai risiko (risk averse). Asumsi keorganisasian menekankan bahwa adanya
konflik antar anggota organisasi dan adanya asimetri informasi antara principal dan
agent, sedangkan asumsi informasi menekankan bahwa informasi sebagai barang
komoditi yang bisa diperjualbelikan.

2. Penyebab Teori Keagenan (Agency Theory)

Agency Theory menunjukkan bahwa, tenaga kerja tidak sempurna dan pasar
modal, manajer akan berusaha untuk memaksimalkan utilitas mereka sendiri
dengan mengorbankan para pemegang saham perusahaan. Agen memiliki
kemampuan untuk beroperasi sendiri dan mementingkan kepentingan pribadi

1
daripada kepentingan terbaik dari perusahaan hal ini disebabkan oleh informasi
yang bersifat asimetris (misalnya, manajer tahu lebih baik dari pemegang saham
apakah mereka mampu memenuhi tujuan pemegang saham) dan ketidakpastian
(misalnya, berbagai faktor memberikan kontribusi pada hasil-hasil akhir, dan
mungkin tidak jelas apakah agen langsung menyebabkan hasil yang diberikan,
positif atau negatif).

Potensi konflik keagenan muncul setiap kali manajer perusahaan memiliki


kurang dari 100 persen dari saham biasa perusahaan. Jika suatu perusahaan adalah
kepemilikan tunggal yang dikelola oleh pemilik, manager-pemilik akan melakukan
tindakan untuk memaksimalkan kesejahteraan sendiri. Jika pemilik-manajer
meninggalkan sebagian kepemilikan-nya dengan menjual sebagian saham
perusahaan kepada investor luar, maka akan muncul potensi konflik kepentingan,
yang disebut konflik keagenan. Sebagai contoh, pemilik-manajer lebih memilih
gaya hidup yang lebih santai dan tidak bekerja keras untuk memaksimalkan
kesejahteraan pemegang saham, karena kurangnya kekayaan yang akan
ditambahkan ke manajer-pemilik. Selain itu, manajer-pemilik lebih memutuskan
untuk mengkonsumsi perquisites, karena beberapa manfaat dari biaya konsumsi
akan ditanggung oleh para pemegang saham eksternal. Konflik keagenan harus
dikendalikan untuk menghindari permasalahan yang mengganggu kemajuan
perusahaan di masa mendatang.

Menurut Demsey da Laber (1993), serta Crutchley dan Hansen (1989),


shareholder dispersion atau penyebaran pemegang saham juga berperan dalam
masalah keagenan. Pemegang saham yang semakin menyebar kurang efektif dalam
monitoring dan sulit untuk melakukan kontrol terhadap perusahaan (Jensen dan
Meckling, 1976). Akibatnya masalah keagenan muncul terutama karena adanya
informasi yang asimetri. Sebaliknya pemegang saham yang semakin terkonsentrasi
pada satu atau beberapa pemegang saham saja akan mempermudah kontrol
terhadap kebijakan yang diambil pengelola perusahaan sehingga dapat mengurangi
asymmetric information dan mengurangi masalah keagenan.

2
3. Akibat Konflik Keagenan

Menurut teori keagenan dari Jensen dan Meckling (1976), permasalahan


keagenan ditandai dengan adanya perbedaan kepentingan dan informasi yang tidak
lengkap (asymetry information) di antara pemilik perusahaan (principal) dengan
agen (agent). Sebagai Hasilnya akan timbul apa yang dinamakan biaya keagenan
(agency cost) yang meliputi monitoring costs, bonding costs, dan residual losses.
Monitoring cost adalah biaya yang timbul dan ditanggung oleh principal untuk
memonitor perilaku agen, yaitu untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol
perilaku agen. Contoh biaya ini adalah biaya audit dan biaya untuk menetapkan
rencana kompensasi manajer, pembatasan anggaran, dan aturan-aturan operasi.
Sementara bonding cost adalah biaya yang ditanggung oleh agen untuk menetapkan
dan mematuhi mekanisme yang menjamin bahwa agen yang bertindak untuk
kepentingan principal, misalnya biaya yang dikeluarkan oleh manajer untuk
menyediakan laporan keuangan kepada pemegang saham. Pemegang saham hanya
akan mengijinkan bonding cost terjadi jika biaya tersebut dapat mengurangi
monitoring cost. Sedangkan residual loss timbul dari kenyataan bahwa agen
kadangkala berbeda dari tindakan yang memaksimumkan kepentingan prinsipal.

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan konsekuensi dari pemisahan fungsi


pengelolaan dengan fungsi kepemilikan adalah pengambil keputusan relatif tidak
menanggung resiko atas kesalahan dalam pengambilan keputusan. Resiko tersebut
sepenuhnya ditanggung oleh prinsipal. Akibatnya manajer sebagai pengambil
keputusan dalam perusahaan cenderung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka
seperti peningkatan gaji dan status.

4. Cara Mengurangi Konflik Keagenan

Teori keagenan mengemukakan beberapa cara untuk mengurangi konflik keagenan,


yaitu

1) Meningkatkan Kepentingan Manajerial


Peningkatan kepentingan manajerial digunakan sebagai cara untuk
mengurangi konflik keagenan. Perusahaan meningkatkan kepemilikan

3
manajerial untuk mensejajarkan kedudukan manajerial dengan pemegang
saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham.
Dengan peningkatan persentase kepemilikan, manajer termotivasi
meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran
pemegang saham.
2) Kepemilikan Institutional Sebagai Agen Pengawas (monitoring agents)
Kepemilikan institusional didefinisikan sebagai proporsi kepemilikan
saham pada akhir tahun yang dimiliki oleh lembaga seperti perbankan,
asuransi atau institusi lain. Peningkatan kepemilikan institusional
menyebabkan kinerja manajer diawasi secara optimal dan terhindar dari
perilaku opportunistik. Dengan melibatkan kepemilikan institusional,
manajer bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham sehingga
mengurangi biaya keagenan.
3) Meningkatkan Pendanaan Melalui Hutang
Penggunaan hutang diharapkan dapat mengurangi konflik keagenan.
Penambahan hutang dalam struktur modal mengurangi penggunaan saham
sehingga mengurangi biaya keagenan ekuitas. Perusahaan memiliki
kewajiban untuk mengembalikan pinjaman dan membayar beban bunga
secara periodik. Kondisi ini menyebabkan manajer bekerja keras untuk
meningkatkan laba sehingga dapat memenuhi kewajiban dari penggunaan
hutang. Sebagai konsekuensinya dari kebijakan ini perusahaan menghadapi
biaya keagenan hutang dan resiko. Untuk mengatasi kelemahan, maka
dibutuhkan suatu mekanisme pengendalian, salah satu mekanisme
pengawasan yang dapat digunakan adalah dengan mengaktifkan monitoring
melalui keterlibatan investor institusional yang akan mendorong munculnya
pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajer.
4) Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen merupakan keputusan yang sangat penting dalam
perusahaan. Kebijakan ini akan melibatkan dua pihak yang mempunyai
kepentingan yang berbeda, yaitu pihak pertama para pemegang saham dan
pihak kedua perusahaan itu sendiri (manajemen). Dividen diartikan sebagai

4
pembayaran kepada pemegang saham oleh perusahaan atas keuntungan
yang diperoleh. Menurut Crutchley dan Hansen (1989), peningkatan
dividen diharapkan dapat mengurangi biaya keagenan. Hal ini disebabkan
DPR (dividen payout ratio) besar menyebabkan rasio laba ditahan kecil dan
perusahaan menambah dana dari sumber eksternal, seperti emisi saham
baru. Penambahan dana menyebabkan kinerja manajer dimonitor oleh
bursa, komisi sekuritas, dan penyedia dana baru. Pengawasan kinerja
menyebabkan manajer bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang
saham sehingga mengurangi biaya keagenan.
5) Tingkat Risiko
Menurut Demsetz dan Lehn (1985), Risiko berpengaruh positif dan negatif
terhadap kepemilikan manajerial. Pada tingkat risiko tinggi perusahaan sulit
mengawasi kondisi eksternal sehingga meningkatkan kepemilikan
manajerial sebagai cara untuk mengawasi kondisi internal. Pada tingkat
risiko yang semakin meningkat, manajer tidak berani untuk menanggung
resiko (risk aversion) sehingga melakukan diversifikasi pada kesempatan
investasi yang menguntungkan. Selanjutnya Crutchley dan Hansen (1989),
Jensen et al (1992), membuktikan hubungan kausal positif antara risiko dan
kepemilikan manajerial dapat mengurangi konflik keagenan. Cara ini
menyebabkan manajer memiliki kekuasaan dalam mengambil keputusan
dan termotivasi untuk meningkatkan kemakmuran pemegang saham.
6) Kebijakan Insentif
Menurut Brigham dan Daves (2001) manajer dapat dimotivasi untuk
bertindak demi kepentingan pemegang saham melalui pemberian insentif
berupa imbalan atas kinerja yang baik dan hukuman untuk kinerja yang
buruk. Beberapa mekanisme khusus yang dapat digunakan untuk
memotivasi manajer agar bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang
saham, yaitu:
(1) Kompensasi Manajerial.
Teori keagenan membagi dua kelompok kompensasi yaitu insurance
dan insentif. Insentif dapat dikatakan sebagai kompensasi tetap,

5
sedangkan insurance merupakan kompensasi dari adanya risiko
kehilangan pekerjaan atau kompensasi untuk menjamin kekayaan
pribadi manajemen. Manajer tentu saja harus memperoleh
kompensasi dan struktur paket kompensasi ini dapat dan sebaiknya
dirancang untuk memenuhi dua tujuan utama yakni
 Untuk menarik dan mempertahankan manajer yang cakap
dan
 Untuk mengarahkan tindakan manajer agar mendekati
kepentingan pemegang saham, yang terutama berkeinginan
memaksimalkan harga saham.
(2) Intervensi langsung pemegang saham.
Beberapa tahun yang lalu banyak saham dimiliki oleh individu,
tetapi saat ini sebagian besar dimiliki oleh investor lembaga seperti
perusahaan asuransi, dana pensiun, dan reksadana. Oleh karena itu,
manajer lembaga keuangan memiliki pengaruh, jika mereka
memilih untuk menggunakannya, atas operasi sebagian besar
perusahaan seperti mereka dapat memberikan saran mengenai
bagaimana seharusnya perusahaan dijalankan.
(3) Ancaman Pengambilalihan.
Pengambilalihan secara paksa terjadi bila saham perusahaan dinilai
terlalu rendah dibanding dengan harga potensialnya karena
manajemen yang buruk. Dalam pengambilalihan secara paksa,
manajer yang diambil alih umumnya di PHK, sementara yang tidak
di PHK akan kehilangan status dan otoritasnya.
7) Manajer Memahami Bagaimana Peran-perannya
Manajer mengetahui dan paham bagaimana peran-perannya sebagai
manajer akan dapat mengurangi konflik keagenan. Peran manajer adalah:
(1) Mengambil keputusan keuangan dalam perusahaan antara lain
keputusan pendanaan, investasi, dan pendistribusian keuntungan,
dan

6
(2) Mempertimbangkan risiko dari setiap keputusan yang diambil dan
return yang akan diperoleh dari setiap investasi tersebut.

Oleh karena itu sebagai pengambil keputusan dalam perusahaan yang akan
mensejahterakan para pemilik saham sebaiknya memahami betul
konsepkonsep mengenai risk and return, capital structure, dan capital
budgetting.

8) Good Corporate Governance (GCG)


Masalah utama dalam teori agensi adalah adanya asimetri informasi. GCG
paling tidak bisa mengurangi asimetri informasi, dan membatasi tindakan
manipulasi laporan keuangan oleh manajemen. Dalam menilai kinerja
manajemen, pemegang saham selalu mengandalkan informasi dari laporan
keuangan yang disajikan manajemen. Pemegang saham tidak langsung
percaya terhadap laporan keuangan yang disusun oleh agen. Karena potensi
penyimpangan dan manipulasi laporan keuangan selalu ada. Untuk itu,
manajemen keuangan mewajibkan laporan keuangan tersebut untuk
diperiksa dengan cara Audit. Pemegang saham akan mengeluarkan dana
(agency cost) menyuruh pihak yang independen (auditor) untuk memeriksa
laporan keuangan yang diterbitkan agen. Pemeriksaaan audit ini bertujuan
agar laporan keuangan yang dihasilkan memang benar benar berkualitas
tanpa ada penyimpangan-penyimpangan didalamnya. Audit bukan hanya
dibutuhkan oleh pemegang saham, kreditor bahkan manajemen sendiripun
memerlukan audit. Dengan audit, manajemen bisa memberikan legitimasi
bahwa mereka telah bekerja dengan baik dan jujur. Kreditor juga
membutuhkan laporan hasil audit untuk memastikan kemampuan
perusahaan dalam melunasi piutang dan bunganya. Bisa dikatakan bahwa
auditor menjadi jembatan yang menghubungkan kepentingan pihak yang
terlibat dalam masalah keagenan. Akuntanbilitas dan transparansi pada
proses kinerja perusahaan akan meminimalkan adanya penyimpangan oleh
agen. Sebagai tambahan, laporan keuangan manajemen yang tepat waktu

7
akan mengurangi terjadinya asimetri informasi. Semakin tidak tepat waktu,
maka laporan keuangan bisa tidak relevan dengan kondisi terkini

5. Pembahasan Jurnal yang Berhubungan dengan Hubungan Keagenan

Judul “Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan


Institusional Dan Profitabilitas Terhadap Kebijakan Dividen Dalam
Mengontrol Konflik Keagenan” dengan Penulis Erni Masdupi dan Risma
Ningsih

Latar Belakang
Tujuan utama perusahaan didirikan adalah meningkatkan kesejahteraan
pemegang saham. Hal ini sejalan dengan tujuan investor yaitu mendapatkan return
dari dana yang ditanamkannya baik itu berupa capital gain maupun dividen.
Pertumbuhan perusahaan dan dividen merupakan dua hal yang diinginkan
perusahaan tapi merupakan suatu tujuan yang berlawanan. Perusahaan
mengharapkan pertumbuhan perusahaan secara terus-menerus, akan tetapi juga
harus memberikan kesejahterahaan yang lebih besar kepada para pemegang
sahamnya. Kedua hal tersebut mendorong manajemen perusahaan untuk
menetapkan kebijakan dividen yang dapat menguntungkan investor sekaligus
perusahaan.
Dalam hal memutuskan tentang kebijakan dividen, hal penting yang harus
diperhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen. Terdapat
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembayaran dividen diantaranya adalah
kepemilkan saham manajerial, kepemilikan institusional dan profitabilitas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, dan profitabilitas terhadap kebijakan dividen.

Perumusan Hipotesis
Kepemilikan manajerial dapat mengurangi konflik keagenan antara manajemen
perusahaan dan investor. Menurut Bambang (2009) dengan kepemilikan manajerial

8
yang tinggi konflik keagenan menjadi rendah antara manajer dengan pemegang
saham. Kemudian, dengan penetapan dividen yang rendah perusahaan memiliki
laba ditahan yang tinggi sehingga memiliki sumber dana internal relatif tinggi untuk
membiayai investasi di masa mendatang (Kartika; 2005). Menurut Han, Lee dan
Suk (1999); Al- Gharaibeh, Zurigat dan Al- Harahsheh (2013) ketika kepemilikan
manajerial meningkat, maka kepentingan mereka sejajar dengan para pemegang
saham luar. Dengan demikian, meningkatnya kepemilikan manajerial akan
menurunkan biaya agensi. Akibatnya, ketika kepemilikan manajerial tinggi,
perusahaan cenderung kurang menggunakan dividen sebagai sarana pengurangan
biaya agensi. Kartika (2005) mengatakan pada tingkat kepemilikan manajerial yang
rendah perusahaan melakukan pembayaran dividen besar. Berdasarkan uraian di
atas maka dapat dirumuskan hipotesis pertama:
H1 : Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen

Menurut Anggie dan Dul (2013) perusahaan yang memiliki tingkat kepemilikan
institusional yang tinggi memiliki masalah agensi yang relatif kecil sehingga
diharapkan untuk membagikan dividen dalam jumlah yang relatif kecil. Han, Lee
dan Suk (1999) mengatakan bahwa dengan adanya pemilik institusional,
perusahaan cenderung kurang menggunakan dividen sebagai alat untuk mengurangi
biaya agensi. Sehingga meningkatnya kepemilikan institusional akan menurunkan
kebijakan dividen. Dimana kepemilikan institusional yang tinggi, maka
stakeholders akan mengatasi masalah keagenan dan mengendalikan masalah
keagenan dengan mengendalikan keputusan pembayaran dividen. Dengan
demikian, maka hipotesis kedua adalah
H2 : Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen

Keown, at al (2005: 216) mengemukakan bahwa perusahaan dengan


pendapatan yang stabil biasanya membayar bagian labanya dengan lebih besar
dalam bentuk dividen. Meskipun rasio dividen terhadap laba stabil, jumlah dolar
deviden biasanya berfluktuasi dari tahun ke tahun sesuai dengan laba. Menurut
Brigham dan Houston (2001: 82) profitabilitas merupakan determinan utama

9
sebagai pertimbangan untuk membayarkan dividen. Anggie dan Dul (2013)
mengatakan keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham adalah
keuntungan yang diperoleh setelah bunga dan pajak. Semakin besar keuntungan
yang diperoleh oleh perusahaan maka akan semakin besar kemampuan perusahaan
untuk membayarkan dividennya. Suad dan Enny (1994: 338) menjelaskan bahwa
pembagian dividen dikaitkan dengan laba yang diperoleh oleh perusahaan dan
tersedia bagi pemegang saham. Menurut Han, Lee dan Suk (1999) profitabilitas
merupakan faktor lain yang mempengaruhi dividend payout. Profitabilitas yang
tinggi harus mengarah pada dividen yang tinggi. Hanya perusahaan dengan tingkat
profitabilitas yang tinggi di masa depan yang bisa mengeluarkan
dividen.Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis ketiga diformulasikan sebagai
berikut:
H3 : Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen

Metode Penelitian
Penelitian ini tergolong kedalam penelitian kausatif. Populasi penelitian ini adalah
seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode
penelitian 2009-2013. Untuk penentuan jumlah sampel digunakan purposive
sampling method. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi berganda

Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel


1. Variabel Terikat
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah kebijakan dividen.
Kebijakan dividen merupakan keputusan membagikan laba sebagai dividen
atau ditahan untuk diinvestasikan kembali guna menjalankan aktivitas
perusahaan. Untuk mengukur kebijakan dividen pada penelitian ini
menggunakan Dividend Payout Ratio (DPR). Rumus DPR adalah sebagai
berikut :
devidend per share
𝐷𝑃𝑅 =
𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒

10
2. Variabel Bebas
Kepemilikan manajerial merupakan struktur kepemilikan yang dimiliki oleh
manajemen perusahaan. Rumus untuk mengukur struktur kepemilikan
manajerial yaitu:
jumlah saham yang dimiliki institusi
𝐼𝑁𝑆𝐷𝑅 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛

Kepemilikan institusional adalah struktur kepemilikan saham terbesar yang


dimiliki oleh institusi di luar perusahaan. Kepemilikan institusional dapat
dihitung dengan rumus seperti:
jumlah saham yang dimiliki institusi
𝐼𝑁𝑆𝑇 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛

Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam


menghasilkan keuntungan. Sebelum membuat keputusan mengenai dividen
maka dilihat dulu bagaimana tingkat pengembalian dari modal itu sendiri.
Jadi proksi profitabilitas pada penelitian ini digunakan return on equity
(ROE) karena ROE yaitu rasio rentabilitas modal sendiri. Rasio ini
digunakan untuk mengukur efisiensi modal sendiri. Rumus ROE yaitu :

Laba Bersih
𝑅𝑂𝐸 =
𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑆𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖

Pembahasan
Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Kebijakan Dividen
Hipotesis pertama menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Namun hipotesis (H1) ini ditolak
karena nilai signifikansinya adalah 0,627 besar dari 0,05 (tidak signifikan). Hal ini
menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kebijakan
dividen. Hal ini berarti kepemilikan saham oleh manajerial tidak menentukan besar
kecilnya dividen perusahaan. Kepemilikan manajerial yang tinggi tidak akan
menjamin bahwa kebijakan dividen yang ditetapkan atau jumlah yang akan

11
diterima pemegang saham lebih rendah. Hal ini menunjukkan adanya faktor lain
yang lebih berpengaruh dalam penetapan kebijakan dividen perusahaan selain
kepemilikan manajerial. Hasil penelitian ini berlawanan dengan temuan penelitian
Siska (2008) dan Kartika (2005) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial
dapat mensejajarkan kepentingan manajer dan pemegang saham sehingga dapat
mengurangi konflik keagenan. Dengan demikian, kepemilikan manajerial yang
tinggi dapat menurunkan kebijakan dividen.

Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kebijakan Dividen


Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh
positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan go public
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan nilai signifikansi 0,19 lebih besar
dari 0,05. Artinya semakin tinggi kepemilikan institusional maka tidak menjamin
semakin tinggi pula dividend payout ratio (DPR), dalam artian manajemen
perusahaan tidak mempertimbangkan kepemilikan intitusional dalam menetapkan
kebijakan dividen. Hal ini bisa terjadi karena tidak semua investor institusi hanya
menginginkan keuntugan dari dividen, akan tetapi ada juga pemegang saham yang
menginginkan perluasan (ekspansi) perusahaan. Ekspansi perusahaan akan
meningkatkan kinerja perusahaan sehingga juga akan meningkatkan harga saham.
Dengan demikian maka akan meningkatkan keuntungan investor institusional.
Hasil penelitian ini berlawanan dengan teori yang mengatakan bahwa perusahaan
yang memiliki tingkat kepemilikan intitusional yang tinggi memiliki masalah
agensi yang relatif kecil sehingga diharapkan untuk membagikan dividen dalam
jumlah yang kecil (Obradovich & Gill: 2012). Kepemilikan institusional memiliki
kontrol dan pengaruh yang kuat untuk menekan masalah agensi. Tingkat
kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang
lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi perilaku
oppurtunistic manajer.

12
Pengaruh Profitabilitas Terhadap Kebijakan Dividen
Profitabiltas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan deviden
perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia karena nilai
koefisiennya sebesar -0,70 dan signifikansinya 0,00 lebih kecil dari 1%. Dengan
demikian hipotesis ketiga diterima. Artinya semakin tinggi profitabilitas yang
dihasilkan perusahaan maka semakin rendah kebijakan dividen (DPR) yang
ditetapkan perusahaan tersebut. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa pada
profitabilitas rendah perusahaan tetap membayarkan dividen. Namun saat
profitabilitasnya meningkat, dividen yang dibayarkan semakin sedikit. Hasil
penelitian ini sesuai dengan teori preferensi pajak yang menyatakan investor lebih
menyukai dividen yang rendah daripada dividen yang tinggi. Hasil penelitian ini
berlawanan dengan teori yang menyatakan bahwa profitabilitas merupakan
determinan utama sebagai pertimbangan untuk membayarkan dividen. Pembagian
dividen dikaitkan dengan laba yang diperoleh oleh perusahaan dan tersedia bagi
pemegang saham. Perusahaan dengan pendapatan stabil biasanya membayar bagian
labanya dengan lebih besar dalam bentuk dividen (Brigham: 2001; Suad: 1994;
Keown: 2005). Menurut Anggie dan Dul (2013) semakin besar keuntungan yang
diperoleh oleh perusahaan maka akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk
membayarkan dividennya. Selain itu Vol dan Nguyen (2014) mengatakan bahwa
hanya perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi yang mampu mengeluarkan
dividen di masa yang akan datang. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Sisca (2008) dan Kartika (2005) yang menyatakan
profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen

13
REFERENSI

Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan. (2005). Management Control


Systems. Salemba Empat: Jakarta.

Haryono, Slamet. (2005). Struktur Kepemilikan dalam Bingkai Teori Keagenan. E-


Jurnal Akuntansi & Bisnis Vol. 5, No. 1, hal. 63 – 71.

Robert, T. Kleiman. (2010) Encyclopedia of Business | Agency Theory.

Jensen, M.C. and Meckling, W.H., 1976. The Theory Of The Firm: Managerial

Behaviour, Agency Cost And Ownership Structures. Journal Of Financial

Economics, Vol.3. pp: 305-360.

Irfan A (2002) Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi pada Hubungan


Agensi, Lintasan Ekonomi Vol XIX. No 02 PP 83 – 93

Wirahadi, Afridian dan Septriani, Yossi. (2008). Konflik Keagenan: Tinjauan


Teoritis dan Cara Menguranginya. E-Jurnal Akuntansi & Manajemen Vol 3
No.2 ISSN 1858-3687 hal 47-55

Masdupi, Erni dan Ningsih, Risma. (2015). Pengaruh Struktur Kepemilikan


Manajerial, Kepemilikan Institusional Dan Profitabilitas Terhadap
Kebijakan Dividen Dalam Mengontrol Konflik Keagenan. E-Jurnal Kajian
Manajemen Bisnis Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang Volume
4, Nomor 1, Maret 2015

14