Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) 2005-

2025 adalah suatu upaya penyelenggaraan kesehatan yang dilakukan

oleh bangsa Indonesia. Berdasarkan visi departemen kesehatan republik

Indonesia (2007) yaitu masyarakat mandiri untuk hidup sehat dan sesuai

misinya yaitu membuat rakyat sehat maka menyatakan dan menetapkan

bahwa salah satu upaya penyelenggaraan kesehatan adalah dilakukan

program pencegahan dan pengobatan terhadap berbagai penyakit

diantaranya adalah penangulangan penyakit diare guna menggerakan

dan memberdayakan masyarakat indonesia yang mandiri hidup sehat.

Diare adalah buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari

biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) per hari dengan konsistensi

cair dan berlangsung kurang dari 7 hari (Kemenkes, 2011).

Kejadian diare menurut data World Health Organization (WHO)

pada tahun 2009 merupakan penyebab utama kematian balita dan anak

usia pra sekolah di dunia, dan UNICEF melaporkan setiap detik satu anak

meninggal karena diare. Hal ini banyak terjadi di negara-negara

berkembang seperti Indonesia karena buruknya perilaku hygiene

perorangan dan sanitasi masyarakat yang dipengaruhi oleh rendahnya

tingkat sosial, ekonomi dan pendidikan (Kemenkes RI, 2011).

Kementerian Kesehatan RI tahun 2011 menyebutkan bahwa diare

merupakan penyakit yang masih menjadi masalah utama penaganan

kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan karena morbiditas

1
2

dan mortalitasnya yang masih tinggi. Pada tahun 2000 sampai tahun

2010 survei mordibitas yang dilakukan oleh subdit Diare Departemen

Kesehatan didapatkan Insiden diare meningkat. Pada tahun 2000 insiden

diare yaitu 301/1000 penduduk, tahun 2003 insiden diare naik menjadi

347/1000 penduduk, tahun 2006 insiden diare naik menjadi 423/1000

penduduk dan tahun 2010 insiden diare menjadi 411/1000 penduduk (Alif

Nurul Rosidah, 2014).

Berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare

merupakan penyebab kematian peringkat ke 13 dengan proporsi

kematian 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare

merupakan penyebab kematian peringkat ke 3 setelah Tuberculosis dan

Pneumonia (Kemenkes RI, 2011).

Salah satu langkah yang dibuat pemerintah untuk menanggulangi

tingginya angka kejadian diare diatas pemerintah ikut mencangakan dan

berkomitmen terhadap program lanjutan kesehatan yaitu SDG’S

(suitanable development Goal’s) point ke 3 berupa menjamin kehidupan

sehat serta mendorong kesejahtraan bagi semua orang disemua usia.

Program ini adalah program lanjutan MDG’s mulai dilaksanakan dari

tahun 2015 sampai tahun 2030.

Menurut subagyo B & Nurcahyo BS tahun 2010 tingginya angka

kejadian diare disebabkan beberapa faktor, diantaranya sumber air yang

buruk, pengunaan jamban yang tidak sehat, kebiasaan jajan

sembarangan, kebiasaan atau perilaku tidak mencuci tangan (sebelum

dan sesudah makan, sesudah BAK dan BAB).


3

Diare dapat menyebabkan dehidrasi berat, walaupun kondisi ini

dapat diatasi dengan pengobatan rehidrasi oral. Namun tanpa disadari

diare terjadi berulang dan memperparah diagnosis ditimbulkan dari

kebiasaan atau perilaku yang buruk terhadap kebiasan hidup sehat dan

bersih, salah satunya kebiasan mencuci tangan sebelum atau sesudah

makan, sesudah membersihkan popok atau menceboki anak, sebelum

mengelola makanan dan setelah batuk atau bersih. Kebiasaan ini menjadi

hal yang sulit dilakukan sehari- hari oleh masyarakat Indonesia.

Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh factor - faktor seperti

pengetahuan, sikap, motivasi dan lingkungan (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris

khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Sikap adalah respon

tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek, baik yang bersifat intern

maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat,

tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup

tersebut (Sunaryo, 2014).

Salah satu bentuk perilaku hidup sehat adalah dengan menjaga

kebersihan diri. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Zuraidah pada tahun

2013 menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku

mencuci tangan. Penelitian yang dilakukan oleh Asfan pada tahun 2013

juga menunjukkan ada hubungan signifikan yang sangat kuat antara

pengetahuan dan sikap terhadap cuci tangan serta penelitian Rafri dan

Endang tahun 2016 menunjukan adanya hubungan antara perilaku

mencuci tangan dengan kejadian diare pada anak usia sekolah.


4

Cuci tangan merupakan salah satu cara untuk menghindari

penyakit yang ditularkan melalui makanan. Kebiasaan mencuci tangan

secara teratur perlu dilatih pada anak. Jika sudah terbiasa mencuci

tangan sehabis bermain atau ketika akan makan ,maka diharapkan

kebiasaan tersebut akan terbawa sampai tua (Samsuridjal, 2009).

Berdasarkan kejadian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui

hubungan perilaku mencuci tangan dengan kejadian diare

B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak pada uraian latar belakang masalah di atas, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Pengaruh

Perilaku Mencuci Tangan Dengan Insiden Diare?’’

C. Tujuan Penelitian

“Untuk Mengetahui Bagaimana Pengaruh Perilaku Mencuci Tangan

Dengan Insiden Diare”.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi

bagi penelitian selanjutnya serta dapat bermanfaat untuk pengembangan

teori analisis kesehatan yang lainnya.

2. Manfaat Praktis

Dalam penelitian ini diharapkan dapat hasil yang bermanfaat untuk

bebagai pihak yang membutuhkan diantaranya:


5

a. Bagi penulis

Meningkatkan pemahaman penulis tentang Diare dan

mengembangkan kemampuan penulis dalam menyusun suatu laporan

penelitian.