Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bangsa adalah sekelompok orang yang memiliki kehendak untuk bersatu yang
memiliki persatuan senasib dan tinggal di wilayah tertentu, beberapa budaya
yang sama, mitos leluhur bersama.

Negara berasal dari kata state (Inggris), Staat (Belanda, Jerman), E`tat
(Prancis), Status, Statum (Latin) yang berarti meletakkan dalam keadaan berdiri,
menempatkan, atau membuat berdiri.Kata Negara yang dipakai di Indonesia
berasal dari bahasa Sansekerta yanitu Negara atau nagari yang artinya wilayah,
kota, atau penguasa.

Perkataan “konstitusi” berasal dari bahasa Perancis Constituer dan


Constitution, kata pertama berarti membentuk, mendirikan atau menyusun, dan
kata kedua berarti susunan atau pranata (masyarakat).Dengan demikian konstitusi
memiliki arti; permulaan dari segala peraturan mengenai suatu Negara. Pada
umumnya langkah awal untuk mempelajari hukum tata negara dari suatu negara
dimulai dari konstitusi negara bersangkutan. Mempelajari konstitusi berarti juga
mempelajari hukum tata negara dari suatu negara, sehingga hukum tata negara
disebut juga dengan constitutional law. Istilah Constitutional Law di Inggris
menunjukkan arti yang sama dengan hukum tata negara. Penggunaan istilah
Constitutional Law didasarkan atas alasan bahwa dalam hukum tata Negara unsur
konstitusi lebih menonjol.

Dengan demikian suatu konstitusi memuat aturan atau sendi-sendi pokok yang
bersifat fundamental untuk menegakkan bangunan besar yang bernama
“Negara”.Karena sifatnya yang fundamental ini maka aturan ini harus kuat dan
tidak boleh mudah berubah-ubah. Dengan kata lain aturan fundamental itu harus
tahan uji terhadap kemungkinan untuk diubah-ubah berdasarkan kepentingan
jangka pendek yang bersifat sesaat.

Bangsa Indonesia tidak ada keraguan sedikitpun mengenai kebenaran dan


ketepatan Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Dalam Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dapat menelusuri sejarah kita di masa
lalu dan coba untuk melihat tugas-tugas yang kita emban ke masa depan, yang
keduanya menyadarkan kita akan perlunya menghayati dan mengamalkan
Pancasila. Sejarah di belakang telah dilalui dengan berbagai cobaan terhadap
Pancasila, namun sejarah menunjukkan dengan jelas bahwa Pancasila yang
berakar dia bumi Indonesia senantiasa mampu mengatasi percobaan nasional di
masa lampau. Dari sejarah itu, kita mendapat pelajaran sangat berharga bahwa
selama ini Pancasila belum kita hayati dan juga belum kita amalkan secara
semestinya. Penghayatan adalah suatu proses batin yang sebelum dihayati

1
memerlukan pengenalan dan pengertian tentang apa yang akan dihayati itu.
Selanjutnya setelah meresap di dalam hati, maka pengamalannya akan terasa
sebagai sesuatu yang keluar dari kesadaran sendiri, akan terasa sebagai sesuatu
yang menjadi bagian dan sekaligus tujuan hidup. Sementara itu, Pengamatan
terhadap tugas-tugas sejarah yang kita emban ke masa depan yang penuh dengan
segala kemungkinan itu, juga menyadarkan kita akan perlunya penghayatan dan
pengamalan Pancasila.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian bangsa ?
2. Apa pengertian negara ?
3. Unsur apa saja terbentuknya bangsa dan negara?
4. Teori apa saja terbentuknya bangsa dan negara ?
5. Apakah landasan filosofis pancasila bagi bangsa Indonesia?
6. Apakah fungsi utama pancasila sebagai landasan filosofis bagi bangsa
Indonesia?
7. Apa yang dimaksud pancasila sebagai suatu sistem?
8. Apa bukti bahwa falsafah Pancasila dijadikan sebagai dasar falsafah negara
Indonesia?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Membantu mahasiswa memahami tentang pengertian bangsa dan negara
2. Membantu mahasiswa memahami tentang unsur – unsur pembentukan bangsa
dan negara
3. Membantu mahasiswa memahami tentang teori-teori pembentukan bangsa dan
negara.
4. Untuk mengetahui landasan filosofis pancasila bagi bangsa Indonesia
5. Untuk mengetahui fungsi utama pancasila sebagai landasan filosofis bagi
bangsa Indonesia.
6. Untuk mengetahui maksud pancasila sebagai suatu system
7. Untuk mengetahui bukti bahwa falsafah Pancasila dijadikan sebagai dasar
falsafah negara Indonesia.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bangsa dan Negara serta Unsurnya

2.1.1 Pengertian Bangsa


Bangsa adalah sekelompok orang yang memiliki kehendak untuk bersatu
yang memiliki persatuan senasib dan tinggal di wilayah tertentu, beberapa
budaya yang sama, mitos leluhur bersama. Pengertian bangsa menurut para
ahli :
a. Ernest Renant, bangsa adalah suatu nyawa, suatu akal yang terjadi dari
dua hal yaitu rakyat yang harus menjalankan satu riwayat, dan rakyat
yang kemudian harus memilikim kemauan, keinginan untuk hidup
menjadi satu.
b. Otto Bauer, bangsa adalah kelompok manusia yang memiliki kesamaan
karakter yang tumbuh karena kesamaan nasib.
2.1.2 Unsur-unsur Terbentuknya Bangsa
Menurut Hans Kohn, kebanyakan bangsa terbentuk karena unsur atau
faktor objektif tertentu yang membedakannya dengan bangsa lain, seperti:
a. Unsur nasionalisme yaitu kesamaan keturunan.
b. Wilayah.
c. Bahasa.
d. Adat-istiadat
e. Kesamaan politik.
f. Perasaan.
g. Agama.

Menurut Joseph Stalin, unsur terbentuknya bangsa adalah adanya:

a. Persamaan sejarah.
b. Persamaan cita-cita.
c. Kondisi objektif seperti bahasa, ras, agama, dan adat-istiadat.
2.1.3 Pengertian Negara
Secara etimologi kata Negara berasal dari kata state (Inggris), Staat
(Belanda, Jerman), E`tat (Prancis), Status, Statum (Latin) yang berarti
meletakkan dalam keadaan berdiri, menempatkan, atau membuat berdiri.Kata
Negara yang dipakai di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yanitu
Negara atau nagari yang artinya wilayah, kota, atau penguasa.
Menurut George Jellinek, Negara adalah organisasi kekuasaan dari
sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu. Menurut R.
Djokosoentono, Negara adalah organisasi manusia atau kumpulan manusia
yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.

3
2.1.4 Unsur-unsur terbentuknya Negara
Unsur terbentuknya Negara dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu
unsur konstitutif dan unsur deklaratif.
a. Unsur kinstitutif adalah unsur yang mutlak harus ada di saat Negara
tersebut didirikan seperti rakyat, wilayah, dan pemerintahan yang
berdaulat.
b. Unsur deklaratif adalah unsur yang tidak harus ada di saat Negara tersebut
berdiri tetapi boleh dipenuhi setelah Negara tersebut berdiri, misalnya
pengakuan dari Negara lain.

Unsur Rakyat, Rakyat adalah semua orang yang secara nyata berada dalam
wilayah suatu Negara yang tunduk dan patuh terhadap peraturan Negara
tersebut. Rakyat dibedakan menjadi dua macam yaitu penduduk dan bukan
penduduk :

a) Penduduk adalah orang yang berdomisili secara tetap dalam wilayah suatu
Negara dalam jangka waktu yang lama. Penduduk terdiri dari WNI dan
WNA (pekerja asing yang tinggal menetap di Indonesia). Penduduk juga
dibedakan menjadi warga Negara dan bukan warga Negara. Warga
Negara adalah orang yang secara syah menurut hukum menjadi warga
Negara, yaitu penduduk asli dan WNI keturunan asing.Bukan warga
Negara adalah orang yang menurut hukum tidak menjadi warga suatu
Negara atau WNA.
b) Bukan penduduk adalah mereka yang berada di wilayah suatu Negara
tidak secara menetap atau tionggal untuk sementara waktu. Contoh: turis
asing yang sedang berlibur.

Unsur Wilayah , Wilayah adalah unsurr mutlak suatu Negara yang terdiri
dari daratan, lautan, dan udara dan terkadang suatu Negara hanya memiliki
daratan dan udara saja karena Negara tersebtu terletak di tengah benua jadi
tidak memiliki lautan atau pantai. Indonesia memiliki ketiga wilayah tersebut.

Batas wilayah daratan suatu Negara dengan Negara lain dapat berupa :

1. Batas alamiah (gunung, sungai, hutan)


2. Batas buatan (pagar tembok, kawat berduri, patok, pos penjagaan.
3. Batas secara geografis yaitu batas berdasarkan garis lontang dan garis
bujur. Mkisalnya Indonesia terletak antara 6o LU – 11o LS, 95o BT– 141o
BT.

Ada dua konsep dasar mengenai batas wilayah lautan, yaitu :

1. Res nullius, yaitu laut dapat diambil dan dimiliki oleh setiap Negara.
2. Res communis adalah laut adalah milik masyarakat dunia, sehingga tidak
dapat diambil atau dimilliki oleh suatu Negara.

4
Pada tanggal 10 Desember 1982, PBB menyeenggarakan konferensi
Hukum Laut Internasional III di Montigo Bay (Jamaika) yang bernama
UNCLOS (United Nations Conference on The Law of The Sea)
ditandatangani 119 negara peserta, menetapkan tentang batas lautan suatu
Negara, yang terdiri dari :
a. Laut teritorial, adalah lebarnya 12 mil yang diukur dari pulau terluar
suatu Negara disaat air laut surut.
b. Zona bersebelahan, adalah wilayah laut yang lebarnya 12 mil dari laut
teritorial suatu Negara berarti lebarnya 24 mil laut dari pantai.
c. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), adalah wilayah laut suatu Negara yang
lebarnya 200 mil ke laut bebas, di zona ini negar tersebut berhak
mengelola, dan menggali segala kekayaan alam untuk kegiatan ekonomi
Negara tersebut. Di wilayah ini Negara tersebut berhak menangkap
nelayan asing yang menangkap ikan.
d. Landas kontinen, adalah daratan di bawah permukaan laut di luar laut
teritorial dengan kedalaman 200 m atau lebih.
e. Landas benua, adalah wilayah laut suatu Negara yang lebarnya lebih
200 mil. Di zona ini Negara boleh mengelola kekayaan dengan syarat
membagi keuntungan dengan masyarakat internasional

Wilayah udara, Menurut UU No. 20 tahun 1982, dinyatakan bahwa


batas wilayah kedaulatan dirgantara suatu Negara yang termasuk orbit
geostasioner adalah 35.761 km. Menurut konvensi paris tahun 1919 Negara
merdeka dan berdaulat berhak mengadakan eksplorasi di wilayah udaranya
untuk kepentingan radio, satelit, dan penerbangan. Pemerintahan yang
berdaulat, Menurut Jean Bodin sifat kedaulatan ada empat :

1. Asli artinya kedaulatan tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih tinggi.
2. Permanen artinya kekuasaan itu tetap ada selama Negara tetap berdiri.
3. kekuasaan tertinggi dalam Negara yang tidak dibagi-bagi kelembaga
Negara lainnya.
4. Tidak terbatas artinya kekuasaan itu tidak dibatasi oleh kekuasaan lain.
Bila ada yang membatasi maka kekuasaan itu akan lenyap.

Pemerintah suatu Negara berdaulat keluar dan kedalam :

1. Berdaulat keluar artinya memiliki kedudukan sederajat dengan Negara-


negara lain, sehingga bebas dari campur tangan Negara-lain.
2. Berdaulat ke dalam artinya berwibawa, berwenang menentukan dan
menegakkan hokum atas warga dan wilayah negaranya.
Pengakuan dari Negara lain, Pengakuan dari negara lain ada dua jenis
yaitu secara de facto dan de jure.
a. De facto adalah pengakuan atas fakta adanya suatu Negara telah terbentuk
berdasarkan adanya rakyat, wilayah, dan pemerintahan yang berdaulat.
Contoh pertama Belanda tidak mengakui Indonesia merdeka 17 Agustus

5
1945, seharusnya Indonesia diserahkan kepada Belanda karena
kemerdekaan Indonesia bertentangan dengan hokum Internasional menurut
Belanda, namun dalam usaha ini Belanda mengadakan perundingan
dengan pihak Indonesia, itu artinya Belanda telah mengakui keberadaan
Negara Indonesia secara de facto.
Contoh kedua disaat Inggris mau melucuti sisa tentara Jepang yang ada di
Indonesia pada akhir perang Dunia ke II pemerintah Inggris mengadakan
perundingan dan kerjasama dengan Republik Indonesia.
Pengakuan de facto ada dua macam :
1) De facto bersifat tetap adalah pengakuan dari Negara lain terhadap
suatu Negara yang hanya menimbulkan hubungan di bidang
perdagangan dan ekonomi.
2) De facto bersifat sementara adalah pengakuan dari Negara lain tanpa
melihat perkembangan Negara tersebut. Bila Negara tersebut bubar
maka Negara lain akan menarik pengakuannya.
b. De jure adalah pengakuan berdasarkan pernyataan resmi menurut hukum
internasional, sehingga suatu Negara mendapatkan hak-hak dan
kewajibannya sebagai anggota keluarga nagsa-bangsa di dunia.
Contoh Belanda mengakui Republik Indonesia secara de jure pada tanggal
27 Desember 1947, Mesir mengakui Indonesia secara de jure tanggal 10
Juni 1947. Pengakuan de jure ada dua macam :
1) De jure bersifat tetap adalah pengakuan dari Negara lain yang berlaku
selamanya karena kenyataan menunjukkan pemerintahan yang stabil.
2) De jure bersifat penuh adalah terjadinya hubungan antar Negara yang
mengakui dan diakui dalam hubungan dagang, ekonomi, dan
diplomatik. Negara yang mengakui berhak membuka konsulat,
kedutaan di Negara yang diakui.
2.1.5 Teori Terbentuknya Suatu Negara

Negara adalah suatu organisasi dr sekelompok atau beberapa kelompok


manusia yang bersama-sama mendiami satu wilayah tertentu dan mengakui
adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan
sekelompok atau beberapa kelompok manusia.

1. Teori terbentuknya Negara:


2. Teori hukum alam. Pemikiran pada masa plato dan aristoteles kondisi alam
tumbuhnya manusia berkembangnya Negara.
3. Teori ketuhanan (islam + Kristen) segala sesuatu adalah ciptaan tuhan.
4. Teori perjanjian. Manusia menghadapi kondisi alam dan timbullah
kekerasan. Manusia akan musnah bila ia tidak mengubah cara-caranya.
Manusia pun bersatu untuk mengatasi tantangan dan menggunakan
persatuan dalam gerak tunggal untuk kebutuhan bersama.

6
Proses terbentuknya Negara di zaman modern. Proses tersebut dapat
berupa penaklukan, peleburan, pemisahan diri, dan pendudukan atas
Negara atau wilayah yang belum ada pemerintahan sebelumnya.
Unsur Negara :
a) Bersifat konstitutif. Berarti bahwa dalam Negara tersebut terdapat wilayah
yg meliputi udara, darat dan perairan (dalam hal ini unsur perairan tidak
mutlak), rakyat atau masyarakat dan pemerintahan yg berdaulat.
b) Bersifat deklaratif. Sifat ini ditunjukan oleh adanya tujuan Negara, UUD,
pengakuan dari Negara lain baik secara de jure maupun de facto dan
masuknya Negara dalam perhimpunan bangsa2 mis PBB.
Bentuk Negara:
Sebuah Negara dapat berbentuk Negara kesatuan dan Negara serikat.
Bangsa Indonesia beranggapan bahwa terjadinya Negara merupakan suatu
proses yang berkesinambungan. Secara ringkas, proses tersebut adalah
sebagai berikut:
a) perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia
b) proklamasi atau pintu gerbang kemerdekaan
c) keadaan bernegara yg nilai2 dasarnya ialah merdeka, bersatu, berdaulat,
adil, dan makmur.
Teori tentang asal mula atau teori terbentuknya Negara dapat dilihat
dari dua segi, yakni:
a) teori yang bersifat spekulatif
b) teori yang bersifat evolusi.
c) Teori yang Bersifat Spekulatif

Teori yang bersifat spekulatif, meliputi antara lain : teori teokratis,


teori perjanjian masyarakat, dan teori kekuatan/ kekuasaan.

1. Teori Teokrasi (ketuhanan)


Menurut teori ketuhanan, segala sesuatu di dunia ini adanya atas kehendak
Allah Swt., sehingga negara pada hakekatnya ada atas kehendak Allah.
Penganut teori ini adalah Fiedrich Julius Stah, yang menyatakan bahwa
negara tumbuh secara berangsur-angsur melalui proses bertahap mulai dari
keluarga menjadi bangsa dan negara.
2. Teori perjanjian masyarakat.
Dalam teori ini tampi tiga tokoh yang paling terkenal, yaitu Thomas
Hobbes, John Locke dan J.J. Rousseau. Menurut teori ini negara itu timbul
karena perjanjian yang dibuat antara orang-orang yang tadinya hidup
bebas merdeka, terlepas satu sama lain tanpa ikatan kenegaraan. Perjanjian
ini diadakan agar kepentingan bersama dapat terpelihara dan terjamin,
supaya ”orang yang satu tidak merupakan binatang buas bagi orang lain”
(homo homini lupus, menurut Hobbes). Perjanjian itu disebut perjanjian
masyarakat (contract social menurut ajaran Rousseau). Dapat pula terjadi

7
suatu perjanjian antara daerah jajahan, misalnya : Kemerdekaan Filipina
pada tahun 1946 dan India pada tahun 1947.
3. Teori kekuasaan/ kekuatan.
Menurut teori kekuasaan/kekuatan, terbentuknya negara didasarkan atas
kekuasaan/kekuatan, misalnya melalui pendudukan dan penaklukan.
Ditinjau dari teori kekuatan, munculnya negara yang pertama kali, atau
bermula dari adanya beberapa kelompok dalam suatu suku yang masing-
masing dipimpin oleh kepala suku (datuk).Kemudian berbagai kelompok
tersebut hidup dalam suatu persaingan untuk memperebutkan
lahan/wilayah, sumber tempat mereka mendapatkan makanan.Akibat lebih
jauh mereka kemudian berusaha untuk bisa mengalahkan kelompok
saingannya. Adagium thomas Hobbes yang menyatakan ”Bellum Omnium
Contra Omnes” semua berperang melawan semua, kiranya tepat sekali
untuk memotret kondisi mereka dalam persaingan untuk memperebutkan
sesuatu. Kelompok yang terkalahkan kemudian harus tunduk serta wilayah
yang dimilikinya diduduki dan dikuasai oleh sang penakluk, dan demikian
seterusnya.

Teori yang Bersifat Evolusi : Teori yang evolusi atau teori historis ini
merupakan teori yang menyatakan bahwa lembaga – lembaga sosial tidak
dibuat, tetapi tumbuh secara evolusioner sesuai dengan kebutuhan –
kebutuhan manusia. Sebagai lembaga sosial yang diperuntukkan guna
memenuhi kebutuhan – kebutuhan manusia, maka lembaga – lembaga itu
tidak luput dari pengaruh tempat, waktu, dan tuntutan – tuntutan
zaman.Menurut teori yang bersifat evolusi ini terjadinya negara adalah
secara historis-sosio (dari keluarga menjadi negara).

2.2 Kostitusi yang pernah berlaku di Indonesia


2.2.1 UUD 1945 (18 Agustus 1945-27 Desember 1949)
Menurut bentuknya Konstitusi pertama Indonesia (UUD 1945) adalah
konstitusi tertulis, karena UUD 1945 merupakan hukum dasar Negara
Indonesia pada waktu itu yang dituangkan dalam suatu dokumen yang
formal. Di pertegas dalam Risalah Sidang Tahunan MPR Tahun 2002,
diterbitkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 Dalam Satu Naskah, Sebagai Naskah Perbantuan dan Kompilasi
Tanpa Ada Opini. Bukti bahwa UUD 1945 adalah konstitusi tertulis yaitu
bahwa pada naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD
1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan oleh
Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada tanggal 29
Agustus 1945.Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa
Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
(BPUPK). Konstusi ini di tuangkan dalam satu dokumen saja tanpa ada

8
dokumen lainnya yang juga merupakan konstitusi seperti yang ada di
Negara Denmark( 2 dokumen) dan Swedia (4 dokumen).
Menurut sifatnya UUD 1945 termasuk konstitusi yang Rigid (kaku)
karena UUD 1945 hanya dapat diubah dengan cara tertentu secara khusus
dan istimewa tidak seperti mengubah peraturan perundangan biasa. Hal
ini dijelaskan dalam BAB XVI PERUBAHAN UNDANG-UNDANG
DASAR pasal 37 ayat 1” Untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3
dari pada jumlah anggota MPR harus hadir” dan pasal 2 “Putusan
Diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari pada jumlah
anggota yang hadir”.
Menurut kedudukannya UUD 1945 merupan konstitusi derajat tinggi
karena UUD 1945 di jadikan dasar pembuatan suatu peraturan
perundang-undangan yang lain. Karena menjadi dasar bagi peratutan
yang lain maka syarat untuk mengubahnyapun lebih berat jika di
bandingkan dengan yang lain. Mengakibatkan adanya hierarki peraturan
perundangan.Tata urutan peraturan perundang-undangan pertama kali
diatur dalam Ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966, yang kemudian
diperbaharui dengan Ketetapan MPR No. III/MPR/2000, dan terakhir
diatur dengan Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan, dimana dalam Pasal 7 diatur mengenai
jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.
Menurut bentuk Negara, konstitusi (UUD 1945) mejelaskan bahwa
bentuk Negara Indonesia adalan Negara kesatuan. Buktinya terdapat pada
BAB I BENTUK DAN KEDAULATAN pasal 1 ayat 1 “ Negara
Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik”. Menurut
sistem pemerintahan yang dianut, Indonesia menganut sistem
pemerintahan Presidensial. Salah satu ciri sistem pemerintahan
Presidensial adalah”Dalam melakukan kewajibannya Presiden di bantu
oleh satu orang wakil presiden” (Pasal 4 Ayat 2 UUD’45).
2.2.2 Konstitusi Republik Indonesia Serikat.(27 Desember 1949-17 Agustus
1950).
Menurut bentuknya Kosntitusi RIS merupakan kostitusi tertulis karena
dituangkan dalam suatu dokumen. Konstitusi RIS ini terbentuk atas
usulan dari PBB, dengan mempertemukan wakil-wakil dari Indonesia
dengan Belanda , maka terbentuklah suatu persetujuan dan persetujuan
tersebut dituangkan dalam sebuah dokumen pada tanggal 27 Desember
1949, maka terbentuklah konstitusi RIS.
Menurut sifatnya Konstitusi RIS merupakan konstitusi rigid karena
mempersyaratkan prosedur khusus untuk perubahan atau amandemennya.
Tertuang dalam BAB VI Perubahan, ketentuan-ketentuan peralihan dan
ketentuan-ketentuan penutup bagian satu perubahan, pasal 190 ayat (1),
(2), pasal 191 Ayat (1), (2), (3), bagian dua ketentuan-ketentuan peralihan
pasal 192 Ayat (1), (2), pasal 193 Ayat (1),(2).

9
Menurut kedudukannya konstitusi RIS merupakan konstitusi derajat
tinggi karena persyaratan untuk mengubah lebih berat jika dibandingkan
merubah peraturan perundangan yang lain.
Menurut bentuk negara konstitusi RIS serikat/federal karena negara
didalamnya terdiri dari negara-negara bagian yang masing masing negara
bagian memiliki kedaulatan sendiri untuk mengurus urusan dalam
negerinya.Terdapat BAB I negara Republik Indonesia Serikat bagian I
bentuk negara dan kedaulatan pasal 1, Ayat (1).
Menurut bentuk pemerintahannya konstitusi RIS, berbentuk
parlementer karena kepala negara dan kepala pemerintahan,di jabat oleh
orang yang berbeda. Kepala negaranya adalah presiden, dan kepala
pemerintahannya perdana menteri.Terdapat pada pasal 69 ayat 1, pasal 72
ayat 1.
2.2.3 UUDS 1950 (17 Agustus 1950-5 Juli 1959).
Menurut bentuknya UUDS’50 merupakan konstitusi tertulis karena
dituangkan dalam suatu dokumen yang formal. Dimana dengan
berlakunya UUDS 1950 maka konstitusi RIS tidak berlaku.
Menurut sifatnya UUDS’50 merupakan konstitusi rigid karena dalam
perubahannya mempersyaratkan prosedur khusus sehingga tidak semudah
seperti merubah peraturan perundang-undangan biasa. Diatur dalam pasal
140 UUDS 1950 ayat 1-4.
Menurut kedudukannya UUDS’50 merupakan konstitusi derajat tinggi
karena persyaratan merubahnya tidak semudah peraturan perundangan
biasa. Dan kedudukan UUDS ’50 merupakan peraturan tertinggi dalam
perundang-undangan diatas UU dan UU Darurat.
Menurut bentuk negara UUDS’50, Indonesia berbentuk kesatuan
karena pada asasnya seluruh kekuasaan dalam negara berada ditangan
pemerintah pusat.
Menurut sistem pemerintahannya UUDS’50, Indonesia menganut
sistem pemerintahan parlementer dimana kepala negara dijabat oleh
seorang presiden dan kepala pemerintah di jabat oleh perdana mentri.
2.2.4 UUD’45 setelah amandemen I-IV
Menurut bentuknya UUD ’45 amandemen termasuk konstitusi tertulis
karena dituangkan dalam satu bentuk dokumen formal.
Menurut sifatnya UUD ’45 merupakan konstitusi rigid karena dalam
perbahannya memperhatikan syarat-syarat tertentu seperti tertera dalam
pasal 37 ayat 1-5 UUD ’45, bahwa pengajuan perubahan minimal
dilakuakan oleh 1/3 dari anggota MPR, dan dalam sidangnya dihadiri
oleh 2/3 dari anggota MPR, dan putusan disetujui oleh lima puluh persen
ditambah satu dari seluruh jumlah anggota MPR, dan syarat lain adalah
dalam ayat 5 bahwa “Khusus mengenai bentuk negara kesatuan Republik
Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan”.
Menurut kedudukannya UUD ’45 termasuk konstitusi derajat tinggi
karena UUD ’45 berkedudukan sebagai hukum dasar dan pedoman

10
pembentukan peraturan perundangan yang lain. Sehingga terdapat
hierarki perundangan sebagai konsekuensinya, di atur dalam UU No 10
tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundangan.
Menurut bentuk negara UUD ’45, Indonesia menganut konstitusi
dalam negara kesatuan. Merujuk pada pasal 1 ayat 1 yang berbunyi
“ Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik”.
Menurut sistem pemerintahannya, konstitusi yang dianut adalah
konstitusi dalam pemerintahan presidensial. Dimana kepala negara dan
kepala pemerintahan berada ditangan presiden.
2.3 Landasan Filosofis Pancasila
Pengertian menurut arti katanya, kata filsafat dalam Bahasa Indonesia berasal
dari bahasa Yunani “Philosophia” terdiri dari kata Philein artinya Cinta dan
Sophos artinya Hikmah atau Kebijaksanaan. Secara harfiah filsafat mengandung
makna Cinta Kebijaksanaan, cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-
kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya Kebenaran sejati atau
kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang
sungguh-sungguh akan kebenaran sejati. Sedangkan secara etimologi kata
“Pancasila” berasal dari bahasa Sansekerta dari India (bahasa kasta Brahmana)
yaitu panca yang berarti “lima” dan sila yang berarti “dasar”. Jadi pancasila dapat
diartikan sebagai “lima dasar yang digunakan sebagai landasan dari segala
keputusan bangsa dan menjadi ideologi tetap bangsa serta mencerminkan
kepribadian bangsa”.
Pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran
yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan
diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar,
paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.
Kalau dibedakan anatara filsafat yang religius dan non religius, maka filsafat
Pancasila tergolong filsafat yang religius. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila
dalam hal kebijaksanaan dan kebenaran mengenal adanya kebenaran mutlak yang
berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (kebenaran religius) dan sekaligus mengakui
keterbatasan kemampuan manusia, termasuk kemampuan berpikirnya.
Dan kalau dibedakan filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis,
filsafast Pancasila digolongkan dalam arti praktis. Ini berarti bahwa filsafat
Pancasila di dalam mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, tidak hanya
bertujuan mencari kebenaran dan kebijaksanaan, tidak sekedar untuk memenuhi
hasrat ingin tahu dari manusia yang tidak habis-habisnya, tetapi juga dan terutama
hasil pemikiran yang berwujud filsafat Pancasila tersebut dipergunakan sebagai
pedoman hidup sehari-hari (pandangan hidup, filsafat hidup dan sebagainya) agar
hidupnya dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di
akhirat.
2.4 Fungsi Utama Pancasila Sebagai Landasan Filosofis Bagi Bangsa Indonesia
2.4.1 Filsafat Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia.
Sebagaimana yang ditujukan dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1979,
maka Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, pandangan
hidup bangsa Indonesia dan dasar negara kita. Setiap bangsa yang ingin
berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah serta tujuan yang ingin
dicapainya sangat memerlukan nilai-nilai luhur yang dijunjung sebagai
pandangan/filsafat hidup. Dalam pergaulan hidup terkandung konsep
dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan oleh suatu bangsa,

11
terkandung pikiran-pikiran yang terdalam dan gagasan sesuatu bangsa
mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik.
2.4.2 Filsafat Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.
Pancasila dalam kedudukannya ini sering disebut sebagai Dasar
Filsafat atau Dasar Falsafah Negara (Philosofische Grondslag) dari
negara, ideologi negara atau (Staatsidee). Dalam pengertian ini Pancasila
merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan
negara atau dengan kata lain Pancasila merupakan suatu dasar untuk
mengatur penyelenggaraan negara. Pancasila merupakan sumber dari
segala sumber hukum, Pancasila merupakan sumber kaidah hukum
negara yang secara konstitusional mengatur negara Republik Indonesia
beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat, wilayah serta pemerintahan
negara.
2.4.3 Pancasila Sebagai Jiwa Dan Kepribadian Bangsa Indonesia.
Menurut Dewan Perancang Nasional, yang dimaksudkan dengan
kepribadian Indonesia ialah keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia,
yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya.
Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia adalah pencerminan dari
garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.
Keperibadian bangsa tetap berakar dari keperibadian individual dalam
masyarakat yang pancasilais serta gagasan-gagasan besar yang tumbuh
dan sejalan dengan filsafat Pancasila.

2.5 Pancasila Sebagai Suatu Sistem


Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat.
Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang
saling berhubungan, saling berkerjasama untuk satu tujuan tertentu dan
secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh, sistem lazimnya
memiliki ciri sebagai berikut:
1. Suatu kesatuan bagian-bagian
2. Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
3. Saling berhubungan,saling ketergantungan
4. Semuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan
sistem)
5. Terjadi dalam satu lingkungan yang kompleks
Sila-sila Pancasila merupakan suatu sistem filsafat lainnya antara lain
materialisme, idealisme, rasionalisme, liberalisme, sosialisme dan sebagainya.
Berdasarkan kesatuan sila-sila pancasila :

2.5.1 Susunan pancasila bersifat Hierarkhis dan berbentuk piramidial


Maksudnya yaitu bahwa hakikat adanya tuhan adalah ada karena
karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai causa prima. Oleh karena itu segala
sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakan Tuhan atau
manusia ada sebagai akibat adanya Tuhan (sila 1). Adapun manusia
adalah sebagai subjek pendukung pokok Negara, karena Negara adalah
lembaga kemanusiaan Negara adalah sebagaipersekutuan hidup bersama
yang anggotanya adalah manusia (sila 2). Maka Negara adalah sebagai
akibat adanya manusia yang bersatu (sila 3). Sehingga terbentuklah
persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Rakyat adalah
12
sebagai totalitas individu-individu dalam Negara yang bersatu (sila 4).
Keadilan pada hakikatnya merupakan tujuan suatu keadilan dalam hidup
bersama atau dengan lain perkataan keadilan social (sila 5).
2.5.2 Kesatuan sila-sila pancasila yang saling mengisi dan saling
mengkualifikasikan
Sila-sila pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula dalam
hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasikan dalam rangka
hubungan hierarkhis pyramidal tadi. Tiap-tiap sila seperti telah
disebutkan diatas mengandung empat sila lainnya, dikulaifikasikan oleh
empat sila lainnya. Kesatuan sila-sila pancasila pada hakikatnya bukanlah
hanya merupakan kesatuan yang besifat formal logis saja namun juga
meliputi kesatuan dasar antologis, dasar epistemologis serta dasar
aksiologis dari sila-sila pancasila.
a) Antologi : ilmu yang mempelajari tentang asal usul (sejarah)Pancasila.
b) Epistemologi : ilmu yangmembahas tentang suatu kebenaran dan bisa
dipertanggung jawabkan.
c) Aksiologis : suatu bidang yang menyelidiki tentang nilai-nilai dan
manfaatnya. Contoh: nilai kenikmatan, nilai kejiwaan, nilai
kerohanian, nilai material, nilai vital dan lain-lain.
2.6 Bukti Pancasila Sebagai Dasar Falsafah Negara Indonesia
Bukti yang menyatakan Falsafah Pancasila digunakan sebagai dasar falsafah
Negara Indonesia dapat kami temukan dalam dokumen-dokumen historis dan
perundang-undangan negara Indonesia, antara lain :
a) Naskah Pidato Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945.
b) Naskah Politik bersejarah, tanggal 22 Juni 1945 alinea IV yang kemudia
dijadikan naskah rancangan Pembukaan UUD 1945 (Piagam Jakarta).
c) Naskah Pembukaan UUD Proklamasi 1945, alinea IV.
d) Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) tanggal 27 Desember
1945, alinea IV.
e) Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1950.
f) Pembukaan UUD 1945, alinea IV setelah Dekrit Presiden RI tanggal 5 Juli
1959
Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia pada hakikatnya adalah
sebagaimana nilai-nilainya yang bersifat fundamental menjadi suatu sumber dari
segala sumber hukum dalam negara Indonesia, menjadi wadah yang fleksibel bagi
faham-faham positif untuk berkembang dan menjadi dasar ketentuan yang
menolak faham-faham yang bertentangan seperti Atheisme dan segala bentuk
kekafiran tak beragama, Kolonialisme, Diktatorisme, Kapitalis, dan lain-lain.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1) Bangsa adalah sekelompok orang yang memiliki kehendak untuk bersatu yang
memiliki persatuan senasib dan tinggal di wilayah tertentu, beberapa budaya
yang sama, mitos leluhur bersama.
2) Menurut Hans Kohn, bangsa terbentuk karena unsur atau nasionalisme yaitu
kesamaan keturunan, wilayah, bahasa, adat-istiadat, kesamaan politik,
perasaan, agama. Menurut Joseph Stalin, unsur terbentuknya bangsa adalah
adanya persamaan sejarah, persamaan cita-cita, bahasa, ras, agama, dan adat-
istiadat.
3) Negara adalah organisasi yang di dalamnya ada rakyat, wilayah yang
permanena,pemerintahan yang berdaulat kedalam atau keluar.
4) Menurut George Jellinek, Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok
manusia yang mendiami wilayah tertentu. Menurut R. Djokosoentono, Negara
adalah organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu
pemerintahan yang sama.
5) Unsur terbentuknya Negara adalah unsur konstitutif dan unsur deklaratif.
Unsur konstitutif meliputi rakyat, wilayah, pemerintahan yang berdaulat,
deklaratif adalah pengakuan dari Negara lain. Pengakuan dari Negara lain itu
dapat berupa de facto dan de jure.
6) Rakyat adalah semua orang yang secara nyata berada dalam wilayah suatu
Negara yang tunduk dan patuh terhadap peraturan Negara tersebut. Rakyat
terdiri dari penduduk dan bukan penduduk.Penduduk terdiri dari warganegara
dan bukan warganegara.
7) Wilayah suatu Negara dapat berupa daratan, lautan dan udara.Lautan terdiri
dari laut teritorial, zona bersebelahan, landas continental, Zona ekonomi
eksklusif, landas benua.
8) Wilayah ekstrateritorial terdiri dari gedung perwakilan diplomatic dan kapal
asing yang berlayar dilaut bebas dibawah bendera suatu Negara.
9) Pemerintah suatu Negara berdaulat kedalam maupun keluar. Sifat kedaulatan
menurut Jean Bodin adalah asli, permanen, bulat atau tunggal, dan tidak
terbatas.
10) Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari
bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu
(kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling
bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.
Pancasila yang terdiri atas lima sila yang pada hakikatnya merupakan sistem
filsafat. Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian-
bagian yang saling berhubungan, saling berkerjasama untuk satu tujuan
tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh.

14
DAFTAR PUSTAKA

Miriam Budiardjo, Miriam B dkk. Dasar-dasar ilmu politik, Gramedia Pustaka


Utama (2003)

makalah Prof. Jimly Asshiddiqie, Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan


Sosial Menurut UUD 1945 serta Mahkamah Konstitusi

Dahl, Robert A, 1982, Dilemma DemBAB I

15