Anda di halaman 1dari 31

TEGANGAN LISTRIK

Teknik Elektro

NAMA : M. Naufal Abdurrahman

NIM : 1111825007

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
BANTEN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada saya sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ Tegangan listrik“.

Makalah ini berisikan tentang informasi tegangan listrik dan di susun berdasarkan hasil
pencarian di berbagai sumber. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan
demi perbaikan makalah ini.

Dengan selesainya makalah ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnyakepada Bapak Matsuani selaku Dosen Mata Kuliah Fisika 2. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi pembaca dan penulis padakhususnya, Semoga Allah SWT selalu
meridhai segala usaha kita. Amin.

Banten 30Maret, 2019

M. Naufal Abdurrahman

i
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………...… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………..............................................ii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………….…….....1
1.1. Latar Belakang……………………………………………………………...……..……...… 1
1.2. Rumusan Masalah…………………………………………....…………..……..……………1
1.3. Manfaat Penulisan……………………………………..………………..……..……………. 1
1.4 Tujuan Penulisan…………………………………………………………......…...…………. 2
BAB II LANDASAN TEORI ………………………………………........................................... 3
2.1. Pengertian Tegangan listrik.............…..……………………................................................. 3
2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Tegangan Listrik...……..………............................................. 3
2.2.1 Drop Voltage Rugi Tegangan.………………………….………………...…... 4
2.2.2 Jaringan Listrik Tidak Standar…….............................…………………...…... 7
2.2.3 Pembangkit Listrik..………………………………….……………...…...…... 10
2.3. Sistem Klasifikasi Transmisi Energi Listrik............................................……...…………... 11
2.3.1 Tegangan Rendah.........................………....…………………………………..12
2.3.2 Tegangan Menengah…..……………………………..…...……………...…... 12
2.3.3 Tegangan Tinggi................................................................................................12
2.3.4 Tegangan Ekstra Tinggi.....................................................................................13
2.4. Tegangan AC Dan Tegangan DC...........................................……..…………………….… 14
2.4.1 Tegangan AC.…………………………………………………………………15
2.4.2 Tegangan DC…………………………………………...………….………… 17
BAB III PEMBAHASAN……………………………………………..………………………....19
3.1. Tegangan Listrik …………………………...………..………..…………………………. ...19
3.2. Cara Menghitung Rugi Tegangan (Drop Voltage) .......................…….........…………….. 20
BAB IV PENUTUP……………………………………………………………………………...24
4.1. Kesimpulan…………………………………………………………………...……….…… 24
4.2. Saran……………………………………………………………………...……….……….. 24
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………...………………....…... 25

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era milenium ini hampir semua alat penunjang kebutuhan hidup manusia
menggunakan energi listrik, sebagai energi yang ramah lingkungan dan potensi energi yang
besar energi listrik digunakan sebagai penunjang di beberapa lini sektor, mulai dari sektor yang
mengkonsumsi dalam skala besar seperti factory sampai skala yang kecil di sektor perorangan.
Dalam kehidupan sehari hari pun kita tidak dapat terlepas dari penggunaan energi listrik seperti
menggunakan hand phone sebagai alat untuk berkomunikasi, untuk menerangi malam pun kita
menggunakan lampu dan sebagainya dimana alat tersebut merupakan alat elektronik yang
membutuhkan energi listrik. Dalam dunia elektro energi listrik mempunyai beberapa faktor yang
sangat erat kaitannya yaitu tegangan, arus dan daya listrik.
Terlepas dari contoh dalam makalah ini akan coba dijelaskan bagaimana contoh dari
suatu tegangan listrik bekerja dalam suatu rangkaian listrik dan sistem distribusi listrik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu tegangan listrik?
2. Faktor faktor yang mempengaruhi tegangan listrik?
3. Penggunaan tegangan rendah, menengah, tinggi dan ekstra tinggi?
4. Bagaimana cara menghitung rugi tegangan (drop voltage)?

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat pembuatan makalah ini adalah dapat digunakan pada kehidupan sehari –hari dan
juga bidang pendidikan maupun di bidang penelitian-penelitan.

1
1.4 Tujuan
1. Mengetahui bagaimana definisi tegangan listrik.
2. Mengetahui pemilihan suatu tegangan dalam sistem.
3. Mengetahui tegangan AC dan DC.
4. Dapat menghitung tegangan hilang atau rugi tegangan pada sistem transmisi daya.
5. Mengetahui penggunaan tegangan rendah, menengah, tinggi dan ekstra tingg

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Tegangan Listrik ( Voltase )

Tegangan dalam energi listrik yaitu perbedaan potensial listrik antara potensial positif
dan negatif. Satuan SI tegangan listrik adalah voltbesaran ini mengukur energi potensial dari
sebuah medan listrik yang mengakibatkan adanya aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik.

Tergantung pada perbedaan listriknya, suatu tegangan listrik dapat di klasifikasikan


sebagai tegangan Rendah, menengah, tinggi dan tegangan ekstra tinggi.

Secara definisi tegangan listrik menyebabkan objekbermuatan listrik negatif tertarik dari
tempat bertegangan rendah menuju tempat bertegangan lebih tinggi. Sehingga arah arus listrik
konvensional di dalam suatu konduktor listrik mengalir dari tegangan tinggi ke tegangan rendah.
Terlepas dari hal itu Luigi Galvani dan Alessandro Volta adalah tokoh sejarah orang orang
pertama yang menemukan tegangan listrik dari tahun 1786 sampai dengan 1800. Volta
menunjukan bahwa ketika ada kelembaban antara dua logam yang berbeda, listrik akan muncul.
Hal ini mendorongnya untuk menemukan baterai listrik pertama ,tumpukan volta,yang terbuat
dari lembaran tipis tembaga dan seng di pisah dengan karton lembab pada saat itulah terjadi
perbedaan potensial.

2.2 Faktor Faktor yang mempengaruhi tegangan listrik

Tegangan listrik naik turun tidak stabil, hal tersebut tentu pernah anda alami sebelumnya.
Tegangan listrik yang tidak stabil tentu tidak hanya akan mengganggu jalannya arus listrik
namun juga memiliki resiko merusak alat alat elekronik yang anda gunakan di rumah. Oleh
sebab itu, tak heran jika banyak keluhan ketika tegangan listrik di rumah mereka acap kali tidak
stabil.

Penyebab tegangan listrik naik turun bisa disebabkan oleh banyak faktor. Mungkin
karena jaringan listrik rumah anda tidak standard, bisa jadi kabel yang digunakan tidak sesuai
dengan standard yang PLN rekomendasikan atau bisa juga disebabkan karena trafo mengalami
penurunan tegangan langsung dari sistem pembangkit listrik PLN yang tidak stabil. Meski
3
demikian faktor paling umum yang acap kali terjadi adalah terjadinya kelebihan beban yang
memungkinkan terjadinya listrik hidup mati di beberapa daerah di suatu wilayah. Hal tersebut
sering dirasakan di negara indonesia yang umumnya negara berkembang dengan pasokan listrik
yang tidak stabil dan tidak merata sehingga naik turunya tegangan listrik sejatinya merupakan
hal yang sudah sering terjadi dan sudah sering dianggap wajar, terlepas dari hal itu ini beberapa
contoh yang mempengaruhi tegangan listrik.

2.2.1 Faktor pembangkit listrik

Seperti yang sudah kita ketahui tegangan listrik merupakan output dari konversi energi
yang ada pada alam. Bagaimana lisrik bisa mengalir kerumah – rumah, perkantoran, rumah sakit,
sekolah dan lainnya merupakan proses distribusi dari sebuah Pembangkit Tenaga Listrik.
Pembangkit Tenaga Listrik adalah salah satu bagian dari sistem tenaga listrik. Pembangkit
Tenaga Listrik terdapat peralatan elektrikal, mekanikal, dan bangunan kerja. Terdapat juga
komponen - komponen utama pembangkitan yaitu generator, turbin yang berfungsi untuk
mengkonversi energi (potensi) mekanik menjadi energi (potensi) listrik.
Untuk mengahsilkan daya, Pembangkit Tenaga Listrik memiliki beberapa komponen -
komponen yang memiliki fungsi masing – masing. Berikut adalah komponen – komponen yang
dimaksud.

Komponen Mekanik (Prime Mover)

 Mesin Diesel

Pembangkit Listrik Tenaga Diesel PLTD ialah Pembangkit listrik yang menggunakan
mesin diesel sebagai penggerak mula (Prime Mover). Prime mover merupakan peralatan yang
mempunyai fungsi menghasilkan energi mekanis yang diperlukan untuk memutar rotor
generator. Mesin diesel sebagai penggerak mula PLTD berfungsi menghasilkan tenaga mekanis
yang dipergunakan untuk memutar rotor generator. Pada PLT lain juga digunakan Prime Over
lain dalam hal ini Turbin.

 Turbin

4
Turbin adalah suatu alat atau mesin penggerak mula, di mana energi fluida kerja yang
langsung dipergunakan untuk memutar roda turbin melalui nosel diteruskan kesudu-sudunya.
Jadi, berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak, pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang
bergerak translasi. Bagian turbin yang berputar dinamai rotor atau roda turbin, sedangkan bagian
yang tidak berputar dinamai stator atau rumah turbin. Roda turbin terletak di dalam rumah turbin
dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator
listrik, pompa, kompresor, baling-baling atau mesin lainnya).

Komponen Listrik

 Generator Dan Perlengkapannya.

Generator merupakan alat yang mampu menghasilkan energi listrik yang bersumber
kepada energi mekanik dan umumnya menggunakan induksi elektromagnetik.Sumber energi
mekanik sendiri bisa berasal dari resiprokat ataupun turbin.Prinsip kerja generator sangatlah
sederhana yaitu kumparan jangkar yang memotong medan pada magnet yang dihasilkan
kumparan medan akan menimbulkan gerak gaya listrik terhadap kumparan jangkar. Cara kerja
generator yang utama adalah adanya medan magnet dan pemotong medan magnet.

 Transformator Dan Perlengkapannya

Transformator atau sering disingkat dengan istilah Trafo adalah suatu alat listrik yang
dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain. Maksud dari pengubahan taraf
tersebut diantaranya seperti menurunkan Tegangan AC dari 220VAC ke 12 VAC ataupun
menaikkan Tegangan dari 110VAC ke 220 VAC. Transformator atau Trafo ini bekerja
berdasarkan prinsip Induksi Elektromagnet dan hanya dapat bekerja pada tegangan yang berarus
bolak balik (AC).Transformator (Trafo) memegang peranan yang sangat penting dalam
pendistribusian tenaga listrik. Transformator menaikan listrik yang berasal dari pembangkit
listrik PLN hingga ratusan kilo Volt untuk di distribusikan, dan kemudian Transformator lainnya
menurunkan tegangan listrik tersebut ke tegangan yang diperlukan oleh setiap rumah tangga
maupun perkantoran yang pada umumnya menggunakan Tegangan AC 220Volt.

5
Sebuah Transformator yang sederhana pada dasarnya terdiri dari 2 lilitan atau kumparan
kawat yang terisolasi yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder. Pada kebanyakan
Transformator, kumparan kawat terisolasi ini dililitkan pada sebuah besi yang dinamakan dengan
Inti Besi (Core). Ketika kumparan primer dialiri arus AC (bolak-balik) maka akan menimbulkan
medan magnet atau fluks magnetik disekitarnya. Kekuatan Medan magnet (densitas Fluks
Magnet) tersebut dipengaruhi oleh besarnya arus listrik yang dialirinya. Semakin besar arus
listriknya semakin besar pula medan magnetnya. Fluktuasi medan magnet yang terjadi di sekitar
kumparan pertama (primer) akan menginduksi GGL (Gaya Gerak Listrik) dalam kumparan.

Kedua (sekunder) dan akan terjadi pelimpahan daya dari kumparan primer ke kumparan
sekunder. Dengan demikian, terjadilah pengubahan taraf tegangan listrik baik dari tegangan
rendah menjadi tegangan yang lebih tinggi maupun dari tegangan tinggi menjadi tegangan yang
rendah.

Sedangkan Inti besi pada Transformator atau Trafo pada umumnya adalah kumpulan
lempengan-lempengan besi tipis yang terisolasi dan ditempel berlapis-lapis dengan kegunaanya
untuk mempermudah jalannya Fluks Magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik kumparan serta
untuk mengurangi suhu panas yang ditimbulkan. Beberapa bentuk lempengan besi yang
membentuk Inti Transformator tersebut diantaranya seperti :
 E – I Lamination
 E – E Lamination
 L – L Lamination
 U – I Lamination

Dibawah ini adalah Flukspada Transformator :

6
Fluks Yang Terbentuk Pada Transformator

Rasio lilitan pada kumparan sekunder terhadap kumparan primer menentukan


rasio tegangan pada kedua kumparan tersebut. Sebagai contoh, 1 lilitan pada kumparan primer
dan 10 lilitan pada kumparan sekunder akan menghasilkan tegangan 10 kali lipat dari tegangan
input pada kumparan primer. Jenis Transformator ini biasanya disebut dengan Transformator
Step Up. Sebaliknya, jika terdapat 10 lilitan pada kumparan primer dan 1 lilitan pada kumparan
sekunder, maka tegangan yang dihasilkan oleh Kumparan Sekunder adalah 1/10 dari tegangan
input pada Kumparan Primer. Transformator jenis ini disebut dengan Transformator Step Down.
Dari beberapa komponen tersebut jika salah satu mengalami penurunan fungsi kerja atau
kerusakan akan mempengaruhi output tenaga listrik yang dihasilkan dari sistem tersebut dan
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tegangan listrik.

2.2.2 Faktor Jaringan Listrik Tidak Standar

Faktor jaringan listrik tidak standard atau instalasi listrik rumah yang tidak memenuhi
persyaratan hal ini lah yang paling sering di temukan di sekitar kita. Hal ini selain dapat
mempengaruhi tegangan menjadi tidak stabil dan akan berdampak bahaya menimbulkan
konsleting listrik yang tidak diinginkan. Perlu di pahami, PLN hanya bertanggung jawab
terhadap suplai listrik hingga box meter. Box ini sudah di sertai Papan Hubung Bagi (PHB)
dilengkapi sekering atau Mini Circuit Breaker (MCB) untuk pengaman arus, serta Alat Pengukur

7
dan Pembatas (APP) untuk mengetahui penggunaan daya listrik. Sedangkan aliran listrik dari
box meteran ke dalam rumah menjadi tanggung jawab pemilik rumah.dalam sistem jaringan
lisrtik yang baik seharusnya mengacu pada peraturan umum instalasi listrik (PUIL)

Kabel Memenuhi Standar

Berkaitan dengan itu penggunaan kabelnya berbeda-beda. Misalnya, untuk rumah di


bawah 70 m2 yang berisi 2-3 kamar tidur, instalasinya harus menggunakan kabel berdiameter 2,5
mm yang cukup kuat dialiri daya hingga 5.000 watt.

Kabel sebaiknya dibungkus pipa conduit yang lentur sehingga makin aman dan mudah
dicek atau diganti. Dengan pipa conduit, bila kabel tergencet atau digigit tikus, masih ada
perlindungan yang menjamin arus di kabel tetap baik.
Jenis kabelnya bisa NYM atau NYY (tergantung daya listrik terpasang di rumah) dan
sudah berstandar SNI.

Penyalurannya ke perangkat listrik seperti titik lampu, bisa dengan kabel 1,5 mm. Kabel
ukuran ini aman untuk jalur stop-kontak (colokan) atau lampu dengan daya di bawah 100 watt.
Kabel yang memenuhi standar (SNI) tidak mudah digigit tikus, terkikis atau terkelupas
selubungnya akibat terkena panas. untuk rumah tipe di bawah 70 m2 instalasi atau perkabelannya
setidaknya dibagi dalam delapan grup.

8
Masing-masing satu jalur untuk pompa air, dua untuk AC dan water heater, dan masing-
masing satu jalur untuk lampu dan stop-kontak. Satu jalur bisa digunakan untuk maksimal 12
titik lampu dan delapan titik stop kontak. Kemudian dua jalur dengan MCB tersendiri untuk
cadangan.

MCB Standard

MCB adalah alat pemutus aliran listrik saat terjadi korsleting atau pemakaian berlebih
(overload). Aplikasi grup saluran listrik itu di rumah biasanya dikelompokkan dalam blok-blok
pembagi daya. Setiap blok grup itu ada MCB-nya sendiri. Jadi, bila terjadi korsleting, yang putus
hanya daya di grupnya. Pembagian grup bisa dilakukan per 500 watt daya atau 1 amphere.

Jalur Tersendiri
Perkakas elektronik seperti pompa air, AC, kulkas, dan pemanas air, masing-masing
harus menggunakan jalur sendiri supaya lebih aman. Perangkat listrik berdaya besar itu perlu
dibuatkan jalur tersendiri, karena bila disatukan dengan jalur lain seperti penerangan, lampu akan
berkelip-kelip saat pompa atau AC bekerja. Dengan dibagi dalam grup-grup dan jalur tersendiri,
kabel sebagai media penghantar arus listrik pun menjadi lebih awet karena beban arusnya tidak
berlebihan.

9
Kapasitas Daya
Sementara cadangan diperlukan untuk mengantisipasi penambahan perangkat listrik. Jadi,
kita tinggal mengambil dari jalur yang sudah ada, tidak perlu membuat baru. “Untuk rumah tipe
di bawah 70 m2 daya 1300 VA (voltase amper) sudah mencukupi. Tapi, supaya lebih aman
sebaiknya ditingkatkan menjadi 2200 VA. Dengan daya lebih besar, tidak perlu khawatir bila ada
penambahan perangkat listrik di rumah.

Grounding
Agar penggunaan listrik lebih aman lagi, harus ada juga mekanisme pembumian
(grounding) arus ke dalam tanah bila tiba-tiba daya membesar, karena misalnya ada perawatan
PLN di jaringan dan gardu, atau ada sambaran petir. Grounding atau earth leakage circuit breaker
(ELCB) memastikan perangkat listrik tetap aman karena daya besar itu disalurkan ke dalam
tanah dan tidak meledak di salah satu saluran listrik di rumah.
“Grounding disalurkan dari blok MCB ke dalam tanah dengan kedalaman 1,5 meter.
Ukuran kabel grounding 4-6 mm dan harus dipastikan menancap ke dalam tanah. Bahkan, bila
ada kabel yang terkelupas dan tersentuh seseorang, dengan ELCB arus listrik langsung terputus
dalam 0,1 detik dan dilepaskan ke dalam tanah sehingga si orang selamat dari sengatan listrik.

2.2.3 Faktor Rugi tegangan (drop voltage)

Besar tegangan listrik yang mengalir pada suatu kabel penghantar akan mengalami
penurunan atau bisa disebut dengan tegangan jatuh (drop voltage) saat melalui suatu penghantar
dan mendapatkan beban listrik.
Tegangan jatuh atau drop voltage adalah seberapa besar penurunan atau kehilangan nilai
tegangan listrik yang mengalir pada suatu kabel penghantar dari nilai tegangan normal. Atau bisa
juga disebut bahwa tegangan jatuh adalah selisih antara besar tegangan pangkal (sumber) dengan
tegangan ujung (beban) dari suatu instalasi listrik.
Sebagai contoh, besar tegangan listrik terukur dari suatu sumber listrik adalah 380 volt,
kemudian tegangan listrik tersebut dialirkan melalui suatu kabel penghantar menuju berbagai
beben peralatan listrik, maka besar tegangan listrik yang di terima berbagai peralatan listrik
tersebut akan mengalami penurunan atau menjadi kurang dari 380 volt.

10
Penurunan nilai tegangan ini disebut dengan kerugian tegangan atau tegangan jatuh
(drop voltage).
Adapun faktor faktor penyebab kerugian tegangan (drop voltage) besarr kerugian
tegangan atau tegangan jatuh (drop voltage) yang terjadi pada suatu instalasi listrik,di pengaruhi
oleh beberapa faktor ,antara lain:
 Panjang kabel penghantar
Semakin panjang kabel penghantar yang digunakan, maka semakin besar
kerugian tegangan atau tegangan jatuh terjadi.
 Besar arus
Semakin besar arus listrik yang mengalir pada penghantar, maka semakin besar
kerugian tegangan atau tegangan drop terjadi.
 Tahanan jenis (Rho)
Semakin besar tahanan jenis dari bahan penghntar yang digunakan, maka
semakin besar kerugian tegangan atau tegangan jatuh yang terjadi.besar kecilnya
tahanan jenis penghantar tergantung pada bahan penghantar yang digunakan.
 Luas penampan penghantar
Semakin besar ukuran luas penampang penghantar yang digunakan, maka
semakin kecil kerugian tegangan atau tegangan jatuh yang terjadi.

2.3 Sistem Klasifikasi Transmisi Energi Listrik

BerdasarkanStandar Perusahaan Listrik Negara atau SPLN 1:1995,


teganganlistrikdapatdiklasifikasikanberdasarkanbesarnya.

KlasifikasiTegangan SPLN 1:1995


11
2.3.1 Tegangan Rendah

Tegangan Rendah (TR) ; Low Voltage (LV)


Tegangan rendah atau low voltage merupakan tegangan dengan range tegangan dari 50 volt
sampai dengan 1.000 volt. Tegangan ini digunakan untuk pemakaian listrik konsumen untuk
kehidupan sehari-hari yang pada umumnya menggunakan tegagan 230/400 volt. Dalam
penyalurannya, tegangan rendah menggunakan kabel pilin (twisted cable) dan dihubungkan
kerumah-rumah konsumen dengan menggunakan kabel Sambungan Rumah (SR). Dampak yang
terjadi ketika terjadi sengatan listrik dengan tegangan rendah yaitu dapat menyebabkan kejut
listrik (electrical shock), cidera dan bahkan kematian korbannya.

2.3.2 Tegangan Menengah

Tegangan Menengah (TM) ; Medium Voltage (MV)


Tegangan menengah atau medium voltage merupakan tegangan dengan range tegangan dari
1.000 volt (1 kV) sampai dengan 35.000 volt (35 kV). Tegangan menengah menghubungkan
antara Gardu Induk dengan Gardu Distribusi (Pusat Beban). Pada umumnya tegangan menengah
juga dapat langsung disalurkan ke para konsumen terutama pabrik-pabrik yang menggunakan
banyak motor-motor listrik dalam memproduksi sebuah barang. Penyaluran tegangan menengah
menggunakan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) yang dapat berupa Saluran Udara Tegangan
Menengah (SUTM), Saluran Kabel Udara Tegangan Menengah (SKUTM) maupun Saluran
Kabel Tegangan Menengah (SKTM) sesuai dengan kebutuhan dilapangan dan kehandalan yang
diinginkan.

2.3.3 Tegangan Tinggi

Tegangan Tinggi (TT) ; High Voltage (HV)


Tegangan tinggi atau high voltage merupakan tegangan dengan range tegangan dari 35.000 volt
(35 kV) sampai dengan 245.000 volt (245 kV). Tegangan tinggi menghubungkan antara gardu
induk dengan gardu induk lainnya yang dapat membentuk suatu interkoneksi. Sama seperti
Tegangan Menengah, Tegangan Tinggi juga pada umumnya juga dapat langsung disalurkan ke
para konsumen terutama pabrik-pabrik yang menggunakan banyak motor-motor listrik atau

12
Peralatan lainnya yang membutuhkan daya yang besar. Dalam penyalurannya, umumnya
tegangan tinggi menggunakan Saluran Transmisi yang mungkin sering kita jumpai yang dikenal
dengan Tower Transmisi atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan dapat pula berupa
Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT).

2.3.4 Tegangan Ekstra Tinggi

Tegangan Ekstra Tinggi (TET) ; Extra High Voltage (EHV)


Tegangan ekstra tinggi atau extra high voltage merupakan tegangan dengan nilai tegangan lebih
dari 245.000 volt (245 kV). Tegangan ini umumnya berasal dari Pusat Beban dengan skala besar
yang dikhusukan untuk menyuplai banyak daerah atau lokasi. Tegangan ekstra tinggi disuplai
dari keluaran transformator dari Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) yang kemudian
disalurkan ke Gardu Induk lainnya melalui Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).
Klasifikasi di atas merupakan klasifikasi yang digunakan di Indonesia sesuai dengan
Standar Perusahan Listrik Negara (SPLN) 1:1995. Sedangkan menurut International
Electrotechnical Commission (IEC) dan Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000 adalah
sebagai berikut :
KlasifikasiTegangan Versi IEC 60083

KlasifikasiTegangan IEC 60083

KlasifikasiTegangan Versi PUIL 2000

KlasifikasiTegangan PUIL 2000

13
Sedangkan jika diklasifikasikan menurut kabel atau distribusi nya maka akan terbagi menjadi 3
jenis :
 Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 200kV-500kV, Pada umumnya
saluran transmisi di Indonesia digunakan pada pembangkit dengan kapasitas 500
kV. Dimana tujuannya adalah agar drop tegangan dari penampang kawat dapat
direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif dan
efisien.
 SaluranUdaraTeganganTinggi (SUTT) 30kV-150kV, Pada saluran transmisi ini
memiliki tegangan operasi antara 30kV sampai 150kV. Konfigurasi jaringan pada
umumnya single atau doble sirkuit, dimana 1 sirkuit terdiri dari 3 phasa dengan 3
atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar netralnya diganti oleh
tanah sebagai saluran kembali. Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar,
maka penghantar pada masing-masing phasa terdiri dari dua atau empat kawat
(Double atau Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle Conductor.
 Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 30kV-150kV, Saluran kabel bawah
tanah (underground cable), saluran transmisi yang menyalurkan energy listrik
melalui kabel yang dipendam di dalam tanah. Kategori saluran ini biasa
digunakan untuk pemasangan system transmisi didalam kota, karena berada
didalam tanah maka tidak mengganggu keindahan kota dan juga tidak mudah
terjadi gangguan akibat kondisi cuaca atau kondisi alam.

2.4 Tegangan listrik AC dan DC

Seperti kita tahu bahwa setiap penggunaan alat listrik memiliki spesifikasinya masing
masing. Dalam hal ini sebagai engineer kita harus mengetahui tegangan apa yang di butuhkan
oleh alat tersebut, karena jika seorang engginer tidak memahami kebutuhan tegangan daripada
alat listrik tersebut akan berdampak kerugian yang ditimbulkan merusak alat tersebut. tegangan
listrik AC maupun DC di bangkitkan oieh sebuah alat yaitu Generator
Generator listrik mempunyai 2 macam jenis yaitu generator listrik AC dan generator
listrik DC. Generator listrik AC mempunyai dua kutub stator sehingga apabila kutub-kutub
magnet yang berlawanan dihadapkan maka akan menimbulkan sebuah medan magnet.

14
Sedangkan generator listrik DC mempunyai komulator sehingga arus listrik yang akan
dihasilkan berupa arus listrik DC sekalipun sumbernya berupa arus listrik AC. Adapun alat yang
mampu mengkonverter arus listrik searah (DC) menjadi arus listrik AC yaitu inverter listrik.

Generator AC Dan Generator DC

2.4.1 Tegangan AC (VAC)

Berdasarkan istilahnya, Tegangan AC adalah singkatan dari kata dalam bahasa inggris
yaitu Alternating danCurrentdimana Alternatingdapat berarti bergantian ( bolak balik) dan
current berarti arus. Jadi tegangan AC adalah tegangan bolak balik yang menyebabkan arus
bolak balik.

Yang di bicarakan dengan membalik balik dalam hal ini adalah dalam suatu rangkaian /
rangkaian listrik, aliran mengalir atau berpindah dari suatu titik potensial rendah ke titik
potensial tinggi dan dari titik potensial tinggi ke potensial rendah dengan dua arah yang sedang
berlangsung terus menerus ( lanjutan ) dalam artian tanpa polaritas.dikarenakan hal tersebut
maka dalam penggunaan dan penempatannya kesalahan kutub positif atau negatif tidak menjadi
masalah.

Tegangan AC umumnya di bangkitkan oleg generator AC dari pusat pusat listrik,


kemudian di distribusikan dengan jaringan 3 fasa atau 1 fasa. Tegangan AC 3 fasa biasanya
digunakan untuk menggerakan mesin mesin dengan kebutuhan daya yang besar seperti motor
15
motor listrik yang ada di pabrik. Sementara tegangan 1 fasa didistribusikan untuk jaringan
tegangan menengah dan tegangan rendah untuk digunakan di rumah tangga.

Tegangan RMS (VRMS) adalah nilai tegangan listrik AC yang akan menghasilkan daya
yang sama dengan daya listrik DC ekuivalen pada suatu beban resistif yang sama. Pengertian
tersebut juga berlaku pada arus RMS. 220 volt tegangan listrik rumah kita adalah tegangan RMS
(tegangan efektif). Secara sederhana, 220 volt tersebut adalah 0,707 bagian dari tegangan
maksimum sinusoidal AC. Berikut adalah rumus sederhana perhitungan tegangan RMS:

𝑉𝑀𝐴𝑋
𝑉𝑅𝑀𝑆 =
√2

Demikian pula dengan rumus perhitungan arus RMS:

𝐼𝑀𝐴𝑋
𝐼𝑅𝑀𝑆 =
√2

Dimana Vmax dan Imax adalah nilai tegangan maupun arus listrik pada titik tertinggi di
grafik gelombang sinusoidal listrik AC.

Nilai Tegangan RMS pada Grafik Sinusoidal Tegangan Listrik AC

16
Pada kondisi beban resistif dimana tidak terjadi pergeseran grafik sinusoidal arus maupun
tegangan, keseluruhan daya total akan tersalurkan ke beban listrik sebagai daya nyata. Dapat
dikatakan jika beban listrik bersifat resistif, maka nilai daya semu (S) adalah sama dengan daya
nyata (P). Lain halnya jika beban jaringan bersifat induktif ataupun kapasitif (beban reaktif),
nilai dari daya nyata akan menjadi sebesar cos Ø dari daya total

P = S cos Ø

P = VRMS IRMS cos Ø

Ø adalah besar sudut pergeseran nilai arus maupun tegangan pada grafik sinusoidal listrik
AC. Øbernilai positif jika grafik arus tertinggal tegangan (beban induktif), dan akan bernilai
negatif jika arus mendahului tegangan (beban kapasitif).

Pada kondisi beban reaktif, sebagian daya nyata juga terkonversi sebagai daya reaktif
untuk mengkompensasi adanya beban reaktif tersebut. Nilai dari dari daya reaktif (Q) adalah
sebesar sin Ødari daya total.

Q = S sin Ø

Q = VRMS IRMS sin

2.4.2 Tegangan DC (VDC)

Berdasarkan istilahnya, Tegangan DC adalah singkatan dari kata dalam bahasa inggris
yaitu Dirrect dan Current dimana Dirrect dapat berarti langsung (searah) dan Current yang
berarti arus. Jadi tegangan DC adalah tegangan searah yang disebabkan karena arus searah.

Satu arah dalam hal ini adalah dalam suatu rangkaian / rangkaian listrik, aliran mengalir
atau berpindah dari suatu titik berpotensial tinggi ke titik berpotensial rendah dengan satu arah
saja dalam artian berpolaritas yang berlangsung terus menerus.

17
Tegangan DC umumnya di butuhkan oleh komponen elektronika, dan tegangan Dc
umumnya terjadi karena proses penyearahan tegaangan AC yang melalui sebuah komponen
elektronika yang bernama dioda dalam suatu adaptor kelebihan tegangan DC disini kemampuan
tegangan nya untuk di simpan dalam suatu alat tampung listrik yang selain juga berfungsi
sebagai sumber, adapun alat tersebut adalah batre dan accu (aki). sementara untuk aplikasi
penggunaan sehari harinya biasa digunakan untuk peralatan peralatan elektronik yang
membutuhkan kebutuhan daya yang kecil seperti handphone, laptop dan lain lainnya.

18
BAB III
PEMBAHASAN

3. 1 Tegangan Listrik

Telah diketahui bahwa tegangan itu ialah perbedaan potensial listrik antara potensial
positif dan negatif ataupun adapat diartikan sebagai potensial atau energi yang tersedia dalam
suatu energi listrik. Satuan SI tegangan listrik adalah voltbesaran ini mengukur energi potensial
dari sebuah medan listrik yang mengakibatkan adanya aliran listrik dalam sebuah konduktor
listrik.

Secara definisi tegangan listrik menyebabkan objek bermuatan listrik negatif tertarik dari tempat
potensial rendah menuju tempat potensial lebih tinggi. Sehingga arah arus listrik konvensional
di dalam suatu konduktor listrik mengalir dari tegangan tinggi ke tegangan rendah. Tegangan
listrik tidak dapat mengalir jika tidak ada beban listrik,maka untuk memperoleh arus listrik
dibutuhkan suatu beban listrik dan suatu kesatuan tersebut disebut daya listrik.

Tergantung pada perbedaan listriknya, suatu tegangan listrik dapat di klasifikasikan


sebagai tegangan Rendah, menengah, tinggi dan tegangan ekstra tinggi. Hal itu di klasifikasi kan
untuk mengoptimalkan sistem transmisi energi listrik dan sebagai perhitungan pemilihan bahan
dan alat yang tepat untuk pendistribusian energi listrik,selain itu untuk meminimalisir faktor
faktor yang dapat merugikan dalam pendistribusian energi listrik. Berikut cotoh gambar
perjalanan pendistribusian energi listrik dari pembangkit sampai ke konsumen

19
Adapun rumus rumus untuk menghitung tegangan dalam suatu rangkaian listrikialah:

V=R × I

P
V= I

V = √P × R

 V= Tegangan listrik (Volt)


 R= Beban listri / resistansi (Ω Ohm)
 I = Arus listrik / intensifity /impluse (Ampere)
 P = Daya listrik / Power (watt)

3.2 Cara Menghitung Rugi Tegangan Atau Tegangan Jatuh (Drop Voltage)

Bagaimanakah cara menghitung rugi tegangan (drop voltage ) yang terjadi pada suatu
penghantar listrik ?

20
Besar tegangan listrik yang mengalir pada suatu kabel penghantar akan mengalami
penurunan atau bisa disebut dengan tegangan jatuh (drop voltage) saat melalui suatu penghantar
dan mendapatkan beban listrik.
Tegangan jatuh atau drop voltage adalah seberapa besar penurunan atau kehilangan nilai
tegangan listrik yang mengalir pada suatu kabel penghantar dari nilai tegangan normal. Atau bisa
juga disebut bahwa tegangan jatuh adalah selisih antara besar tegangan pangkal (sumber) dengan
tegangan ujung (beban) dari suatu instalasi listrik.
Sebagai contoh, besar tegangan listrik terukur dari suatu sumber listrik adalah 380 volt,
kemudian tegangan listrik tersebut dialirkan melalui suatu kabel penghantar menuju berbagai
beben peralatan listrik, maka besar tegangan listrik yang di terima berbagai peralatan listrik
tersebut akan mengalami penurunan atau menjadi kurang dari 380 volt.
Penurunan nilai tegangan ini disebut dengan kerugian tegangan atau tegangan jatuh (drop
voltage).
Adapun faktor faktor penyebab kerugian tegangan (drop voltage) besarr kerugian
tegangan atau tegangan jatuh (drop voltage) yang terjadi pada suatu instalasi listrik,di pengaruhi
oleh beberapa faktor ,antara lain:
 Panjang kabel penghantar
Semakin panjang kabel penghantar yang digunakan, maka semakin besar
kerugian tegangan atau tegangan jatuh terjadi.
 Besar arus
Semakin besar arus listrik yang mengalir pada penghantar, maka semakin besar
kerugian tegangan atau tegangan drop terjadi.
 Tahanan jenis (Rho)
Semakin besar tahanan jenis dari bahan penghntar yang digunakan, maka
semakin besar kerugian tegangan atau tegangan jatuh yang terjadi.besar kecilnya
tahanan jenis penghantar tergantung pada bahan penghantar yang digunakan.
 Luas penampan penghantar
Semakin besar ukuran luas penampang penghantar yang digunakan, maka
semakin kecil kerugian tegangan atau tegangan jatuh yang terjadi.

Rumus menghitung kerugian tegangan ( drop voltage ) pada instalasi 3 fase


22
Vr = (√3 × 𝜌 × 𝐿 × 𝐼 × 𝐶𝑜𝑠 𝑝ℎ𝑖): 𝐴
o Vr : Tegangan jatuh (Drop Voltage)
o 𝜌 : Tahanan jenis (Rho)
o L : Panjang kabel Penghantar
o Cos phi : Faktor Daya
o A : luas penampang
 Contoh 1
Contoh perhitungan kerugian tegangan ( tegangan drop) pada ujung kabel
tersebut,

 Vr :Rugi tegangan atau tegangan jatuh (Drop Voltage)


 𝜌 : tahanan jenis kabel bahan tembaga 0,0000000172 Ohm.mm2 / Meter
 𝐿 : panjang kabel penghantar (500 Meter)
 𝐼 :besar arus (200 ampere)
 𝐶𝑜𝑠 𝑝ℎ𝑖 : faktor daya (0,80)
 𝐴 : Luas penampang (95 mm2 atau 0,000095 m2)

Vr = (√3 × 𝜌 × 𝐿 × 𝐼 × 𝐶𝑜𝑠 𝑝ℎ𝑖): 𝐴


 Vr = (1,732 × 0,0000000172 Ω mm2 / m× 500 𝑚 × 200 𝑎𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒 ×
0,80) ∶ 0,000095 m2
 Vr = 0,002383232 : 0,000095 m2
 Vr = 25,08 Volt

Rugi tegangan
Kerugian tegangan ( Drop Voltage) pada ujung kabel instalasi listrik sebesar : 25,08 Volt

Besar Tegangan Akhir


Maka, besar tegangan listrik yang sampai pada ujung kabel penghantar adalah sebesar :
380 Volt – 25,08 Volt = 354,92 Volt.

22
Persentase Rugi Tegangan
Persentase rugi tegangan : (25,08 Volt : 380 Volt) x 100%
Persentase rugi tegangan : 6,6%
 Contoh 2
Diketahui:
panjang kabel : 528 Meter
daya pada gardu disrtibusi: 250 KVA
faktor daya / cos𝜑 : 0,85
kabel TIC yg digunakan : 3x35+N
tahanan jenis untuk almunium : 0,028264 Ω mm2/m
tegangan pd trafo : 380 V
arus pada jaringan / I : 38,069 A
luas penampang / A : 43,969 mm2
perhitungan drop tegangan pada suatu jaringan dari tiang 1 ke tiang 2 adalah sebagai berikut :
√3 × 𝑝 × 𝐿 × 𝐼 × 𝑐𝑜𝑠𝜑
𝑉𝑟 =
𝐴
1,73 × 0,028264 × 528 × 38,069 × 0,85
=
43,969
835,418
=
43,949
Vr = 19,000159 Volt
Vr = 19 V
Jadi drop tegangan pada jaringan sebesar 19 volt.
Untuk mencari rugi tegangan dalam persen sebagai berikut :
19 × 100%
𝐿𝑜𝑠𝑠𝑒𝑠% = = 5%
380
 Contoh 3
Diketahui :
P2 : 22 KW (merupakan daya output yang dihasilkan oleh motor)
Cos 𝜑 : 0,84
Arus / I : 40,5 A
Tegangan : 400 V

23
Dari data tesebut daya input P1 dapat di hitung sebagai berikut:
𝑃 = √3 × 𝑉 × 𝐼 × 𝑐𝑜𝑠𝜑
𝑃 = √3 × 400 × 40,5 × 0,84
𝑃 = 23,59 𝑘𝑤
Sehingga rugi rugi pada motor dapat dihitung sebagai berikut:
P1 – P2
= 23,59 – 22 (KW)
=1,59 KW
Sedangkan nilai efisiensi motor didapat sebagai berikut :
Efisiensi = (P2 / P1) × 100%
= (22 / 23,59) × 100%
= 93%
Berarti nilai rugi rugi nya adalah 7%
 Contoh 4
Sebuah mototor fasa tunggal terletak 250 kaki dari sumber dayanya dan di suplay menggunakan
kabel tembaga 10 AWG. Kemampuan maksimal inputnya adalah 24 ampere. Apakah ada drop
tegangan saat motor beroperasi?.(catatan motor terus beroperasi arus yang digunakan 100%
bukan 125%)
Jawab: menggunakan single phase formula untuk drop voltage, dimana
K : 12,9 Ω cmil/ft
For copper I : 24 amp
D : 250 ft
For 10 AWG : 10,380 cmil
𝐷 25 0
Jadi 𝑉𝐷 = 2 × 𝐾 × 𝐼 × 10𝐴𝑊𝐺 𝑉𝐷 = 2 × 12,9 × 24 × 10,380 = 14,9 𝑣𝑜𝑙𝑡 𝑑𝑟𝑜𝑝

 Contoh 5
Tiga fasa 100 amper load rata rata 208V pada kabel menuju ke panel denngan panjang 80 kaki
menggunakan kabel 1 AWG THHN Alumunium. Berapakah perkiraaan tegangan drop
darikonduktor sirkut pengumpan?
Jawab : menggunakan three phase formula untuk drop voltage, dimana
K: 21,2 Ω cmil/ft

4
For Alumunium; I :100 amp
D :80 ft;cmil =83,690cmil
80
Jadi VD= 1,732 x 21,2 x 100 x 83,690 = 3,51 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑑𝑟𝑜𝑝

dapat disimpulkan untuk meminimalkan kerugian tegangan yang terjadi pada penghantar
listrik, dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan spesifikasi dan ukuran kabel penghantar yang
digunakan, dan teryata perhitungan losses tegangan bukan hanya ada di sistem transmisi saja
pada alat alat yag kita gunakan sehari hari pun terdapat losses tegangan.

4
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasar pembahasan dan penjelasan diatas maka dapat kita tarik kesimpulan sebagai
berikut :
 Tegangan adalah beda potensial listrik antara potensial tinggi dan potensial rendah.
 Prinsip kerja tegangan sebagai potensi energi yang di tersedia atau yang dapat
dihasilkan dari suatu sumber
 Tegangan listrik tidak akan mengalir atau tersalurkan tanpa adanya resistansi yang
membutuhkan energi listrik.
 Tegangan listrik yang mengalir pada suatu rangkaian dinamakan arus listrik yang
menjadi suatu daya listrik (power) untuk memenuhi kebutuhan suatu resistansi.
 Cara menghitung rugi tegangan drop voltage pada sistem transmisi energi listrik

4.2 Saran
Saran saya pada teman teman setelah membaca makalah yang berjudul tegangan lisrtik,
Teman – teman dapat mempelajari prinsip dasar tegangan listrik dan mengetahui secara garis
besar sistem distribusi tenaga listrik melalui proses transmisi tegangan listrik berdasarkan
klasifikasi tegangan mengambil manfaat dan mengetahui perhitungan mengenai drop tegangan
karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi hilangnya tegangan. Ingat hukum kekekalan
energi, bahwa energi tidak dapat dibuat atau dimusnahkan, tapi hanya dapat diubah. Maka dari
itu manfaatkan energi dengan lebih bijaksana lagi tetap aman menggunakan energi listrik salam
safety. Akhir kata jika ada salah penulisan saya selaku penulis minta maaf sebesar besarnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

https://physics.info/voltage/

https://www.physicsclassroom.com/class/energy/Lesson-1/Power

https://en.wikipedia.org/wiki/voltage_(physics)

http://eprints.polsri.ac.id//sistem_distribusi/

https://duniaberbagiilmuuntuksemua.blogspot.com/

http://www.insiyurelektro.com/pengertiantegangan listrik/

https://berbagiilmuuntuksemua.blogspot .commenghitung_tegangan_drop_voltage.html/

25