Anda di halaman 1dari 26

Corporate Governance

Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi, Komisaris


Independen, Struktur Pengawasan

OLEH :

Putu Hendra Putra Wahyudi (1515351116)

I Wayan Aditya Paramarta (1607532089)

Dewa Gede Edwin Oktaviansa (1607532091)

I Made Dany Yadnyapawita (1607532095)

Mulya Tantra Gunadi (1607532096)

Ida Bagus Sugita Adi (1607532102)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
1. Fungsi Direksi dan Komisaris

1.1 Fungsi Direksi

Fungsi pengelolaan perusahaan oleh Direksi mencakup 5 tugas utama yaitu


kepengurusan, manajemen risiko, pengendalian internal, komunikasi, dan tanggung jawab sosial.
(1) Kepengurusan
a. Direksi harus menyusun visi, misi, dan nilai-nilai serta program jangka panjang dan
jangka pendek perusahaan untuk dibicarakan dan disetujui oleh Dewan Komisaris
atau RUPS sesuai dengan ketentuan anggaran dasar;
b. Direksi harus dapat mengendalikan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan secara
efektif dan efisien;
c. Direksi harus memperhatikan kepentingan yang wajar dari pemangku kepentingan;
d. Direksi dapat memberikan kuasa kepada komite yang dibentuk untuk mendukung
pelaksanaan tugasnya atau kepada karyawan perusahaan untuk melaksanakan tugas
tertentu, namun tanggung jawab tetap berada pada Direksi;
e. Direksi harus memiliki tata tertib dan pedoman kerja (charter) sehingga pelaksanaan
tugasnya dapat terarah dan efektif serta dapat digunakan sebagai salah satu alat
penilaian kinerja.
(2) Manajemen Risiko
a. Direksi harus menyusun dan melaksanakan sistem manajemen risiko perusahaan yang
mencakup seluruh aspek kegiatan perusahaan;
b. Untuk setiap pengambilan keputusan strategis, termasuk penciptaan produk atau jasa
baru, harus diperhitungkan dengan seksama dampak risikonya, dalam arti adanya
keseimbangan antara hasil dan beban risiko;
c. Untuk memastikan dilaksanakannya manajemen risiko dengan baik, perusahaan perlu
memiliki unit kerja atau penanggungjawab terhadap pengendalian risiko.
(3) Pengendalian Internal
a. Direksi harus menyusun dan melaksanakan sistem pengendalian internal perusahaan
yang handal dalam rangka menjaga kekayaan dan kinerja perusahaan serta memenuhi
peraturan perundang-undangan.
b. Perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan
daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan
yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang
mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, harus memiliki satuan
kerja pengawasan internal.
(4) Komunikasi
a. Direksi harus memastikan kelancaran komunikasi antara perusahaan dengan
pemangku kepentingan dengan memberdayakan fungsi Sekretaris Perusahaan;
b. Fungsi Sekretaris Perusahaan adalah: (i) memastikan kelancaran komunikasi antara
perusahaan dengan pemangku kepentingan; dan (ii) menjamin tersedianya informasi
yang boleh diakses oleh pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan wajar dari
pemangku kepentingan.
(5) Tanggung Jawab Sosial
a. Dalam rangka mempertahankan kesinambungan usaha perusahaan, Direksi harus
dapat memastikan dipenuhinya tanggung jawab sosial perusahaan;
b. Direksi harus mempunyai perencanaan tertulis yang jelas dan fokus dalam
melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.

1.2 Fungsi Dewan Komisaris

Dewan Komisaris perusahaan dalam fungsinya sebagai pengawas, menyampaikan


laporan pertanggungjawaban pengawasan atas pengelolaan perusahaan oleh Direksi. Laporan
pengawasan Dewan Komisaris disampaikan pada RUPS untuk memperoleh persetujuan dari para
pemegang saham. Pertanggungjawaban Dewan Komisaris pada RUPS merupakan perwujudan
akuntabilitas pengawasan atas pengelolaan perusahaan dalam rangka pelaksanaan prinsip Good
Corporate Governance (GCG).
Tugas Dewan Komisaris Perusahaan adalah sebagai pengawas dan penasihat Direksi dan
dilaksanakan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan perusahaan, yang
meliputi antara lain:
a. Melakukan pengawasan terhadap kebijakan Direksi dalam melaksanakan
kepengurusan perusahaan, fungsinya antara lain mencakup tindakan pencegahan,
perbaikan hingga pemberhentian sementara anggota Direksi.
b. Melakukan pengawasan atas risiko usaha perusahaan dan upaya manajemen
melakukan pengendalian internal.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG)
dalam kegiatan usaha perusahaan.
d. Memberikan nasihat kepada Direksi berkaitan dengan tugas dan kewajiban Direksi.
e. Memberikan tanggapan dan rekomendasi atas usulan dan rencana pengembangan
strategis perusahaan yang diajukan Direksi.
f. Memastikan bahwa Direksi telah memperhatikan kepentingan stakeholders.
g. Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Komisaris perusahaan tidak boleh turut serta
dalam pengambilan keputusan operasional. Keputusan Dewan Komisaris mengenai hal
yang diatur dalam Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan dilakukan
dalam fungsinya sebagai pengawas, sehingga keputusan kegiatan operasional tetap
menjadi tanggung jawab Direksi.
2. Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi

Kepengurusan perseroan terbatas di Indonesia menganut sistem dua badan (two-board


system) yaitu Dewan Komisaris dan Direksi yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab
yang jelas sesuai dengan fungsinya masing-masing sebagaimana diamanahkan dalam anggaran
dasar dan peraturan perundang-undangan (fiduciary responsibility). Namun demikian, keduanya
mempunyai tanggung jawab untuk memelihara kesinambungan usaha perusahaan dalam jangka
panjang. Oleh karena itu, Dewan Komisaris dan Direksi harus memiliki kesamaan persepsi
terhadap visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan.

Tanggung jawab bersama Dewan Komisaris dan Direksi dalam menjaga kelangsungan
usaha perusahaan dalam jangka panjang tercermin pada:
(1) Terlaksananya dengan baik kontrol internal dan manajemen risiko;
(2) Tercapainya imbal hasil (return) yang optimal bagi pemegang saham;
(3) Terlindunginya kepentingan pemangku kepentingan secara wajar;
(4) Terlaksananya suksesi kepemimpinan yang wajar demi kesinambungan manajemen di
semua lini organisasi.

Sesuai dengan visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan, Dewan Komisaris dan Direksi perlu
bersama-sama menyepakati hal-hal tersebut di bawah ini:
(1) Rencana jangka panjang, strategi, maupun rencana kerja dan anggaran tahunan;
(2) Kebijakan dalam memastikan pemenuhan peraturan perundang-undangan dan anggaran
dasar perusahaan serta dalam menghindari segala bentuk benturan kepentingan;
(3) Kebijakan dan metode penilaian perusahaan, unit dalam perusahaan dan personalianya;
(4) Struktur organisasi sampai satu tingkat di bawah Direksi yang dapat mendukung
tercapainya visi, misi dan nilai-nilai perusahaan.

2.1 Pertanggungjawaban Dewan Komisaris

(1) Dewan Komisaris dalam fungsinya sebagai pengawas, menyampaikan laporan


pertanggungjawaban pengawasan atas pengelolaan perusahaan oleh Direksi. Laporan
pengawasan Dewan Komisaris merupakan bagian dari laporan tahunan yang disampaikan
kepada RUPS untuk memperoleh persetujuan.
(2) Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian
Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya.
(3) Pertanggungjawaban Dewan Komisaris kepada RUPS merupakan perwujudan
akuntabilitas pengawasan atas pengelolaan perusahaan dalam rangka pelaksanaan asas
GCG.

2.2 Pertanggungjawaban Direksi

(1) Direksi harus menyusun pertanggungjawaban pengelolaan perusahaan dalam bentuk


laporan tahunan yang memuat antara lain laporan keuangan, laporan kegiatan perusahaan,
dan laporan pelaksanaan GCG.
(2) Laporan tahunan harus memperoleh persetujuan RUPS, dan khusus untuk laporan
keuangan harus memperoleh pengesahan RUPS.
(3) Laporan tahunan harus telah tersedia sebelum RUPS diselenggarakan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku untuk memungkinkan pemegang saham melakukan penilaian.
(4) Pertanggungjawaban Direksi kepada RUPS merupakan perwujudan akuntabilitas
pengelolaan perusahaan dalam rangka pelaksanaan asas GCG.
(5) Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan
apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan
ketentuan.
(6) Dalam hal Direksi terdiri atas 2 (dua) anggota Direksi atau lebih, tanggung jawab berlaku
secara tanggung renteng bagi setiap anggota Direksi.

3. Regulasi Direksi

Ada bebrapa hal yang diatur dalam peraturan atau regulasi yang mengatur dewan direksi
yaitu:

 Rapat

 Transparansi

 Masa jabatan

 Hubungan dengan stakeholders

 Etika kerja

 Waktu Kerja

 Pelatihan

3.1 Rapat

Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh dewan direksi yaitu:

1. Direksi wajib mengadakan rapat Direksi secara berkala paling kurang 1 kali dalam setiap
bulan.

2. Rapat Direksi dapat dilangsungkan apabila dihadiri atau diwakili mayoritas dari seluruh
anggota Direksi.

3. Direksi wajib mengadakan rapat Direksi bersama Dewan Komisaris secara berkala paling
kurang 1 (satu) kali dalam 4 (empat) bulan.

4. Direksi harus menjadwalkan rapat untuk tahun berikutnya sebelum berakhirnya tahun buku.

5. Pada rapat yang telah dijadwalkan, bahan rapat disampaikan kepada peserta paling lambat 5
(lima) hari sebelum rapat diselenggarakan.
6. Dalam hal terdapat rapat yang diselenggarakan di luar jadwal yang telah disusun
sebagaimana dimaksud, bahan rapat disampaikan kepada peserta rapat paling lambat sebelum
rapat diselenggarakan.

7. Setiap kebijakan dan keputusan strategis wajib diputuskan melalui rapat Direksi dengan
memperhatikan ketentuan yang berlaku.

8. Rapat Direksi dipimpin oleh Direktur Utama, atau dalam hal berhalangan oleh Direktur lain
yang ditunjuk didalam Rapat tersebut yang tidak perlu dibuktikan pada pihak ke-3.

9. Pengambilan keputusan rapat Direksi dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.

10. Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat, pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan
suara terbanyak.

11. Segala keputusan yang diputuskan secara sah didalam Rapat Direksi bersifat mengikat bagi
seluruh anggota Direksi.

12. Perbedaan pendapat yang terjadi dalam rapat Direksi, wajib dicantumkan secara jelas dalam
risalah rapat berserta alasan perbedaan pendapat tersebut.

13. Hasil Rapat Direksi wajib dituangkan dalam Risalah Rapat dan didokumentasikan secara
baik.

a. Risalah Rapat Direksi dicatat oleh Sekretaris Perusahaan atau pihak yang ditunjuk
oleh Rapat untuk mencatat, dengan ketentuan harus didistribusikan kepada semua
anggota Direksi yang hadir dalam jangka waktu selambat lambatnya 2 (dua) hari
kerja setelah meeting untuk memperoleh masukan. Anggota Direksi harus dalam
jangka waktu selambat lambatnya 2 (dua) hari kerja setelah menerima Risalah Rapat
harus memberikan masukannya. Risalah Rapat dianggap disetujui oleh semua
anggota Direksi yang hadir setelah lewatnya jangka waktu tersebut.

b. Risalah Rapat Direksi dibuat oleh Sekretaris Perusahaan atau pihak yang ditunjuk
didalam rapat serta ditandatangani oleh seluruh anggota Direksi yang hadir.

14. Risalah rapat disimpan oleh Sekretaris Perusahaan dan didistribusikan kepada seluruh
anggota Direksi, berdasarkan permintaan dari anggota Direksi.
15. Rapat Direksi adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila lebih dari
1⁄2 (satu per dua) dari jumlah anggota Direksi hadir atau diwakili dalam rapat.

16. Seorang anggota Direksi dapat diwakili dalam Rapat Direksi hanya oleh anggota Direksi
lainnya berdasarkan surat kuasa. Seorang anggota Direksi hanya dapat mewakili 1 (satu)
anggota Direksi lainnya.

17. Anggota Direksi dapat turut serta dalam Rapat Direksi melalui telepon konferensi, video
konferensi atau sistem komunikasi sejenis yang penggunaannya dapat membuat semua
anggota Direksi yang hadir dalam rapat –mendengar dan berbicara satu sama lain dan keturut
sertaan anggota Direksi yang bersangkutan dengan cara demikian harus dianggap merupakan
kehadiran langsung dari anggota Direksi tersebut dalam Rapat Direksi, dengan ketentuan
keputusan yang diambil dalam Rapat Direksi tersebut dibuat secara tertulis dan
ditandatangani oleh Ketua Rapat dan salah seorang anggota Direksi lainnya yang hadir dan

18. Keputusan yang diambil dengan cara demikian mempunyai kekuatan yang sama dengan
keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Direksi.

19. Jika selama berlangsungnya Rapat terjadi kerusakan atau kegagalan dalam telepon konferensi
atau sarana komunikasi sejenis, maka hal tersebut tidak mempengaruhi korum Rapat yang
telah tercapai sebelum terjadinya kerusakan atau kegagalan dalam telepon konferensi atau
sarana komunikasi sejenis dari anggota Direksi yang berpartisipasi dalam Rapat Direksi
dengan cara demikian dianggap tidak memberikan suara mengenai usul yang diajukan dalam
rapat tersebut setelah terjadinya kerusakan atau kegagalan dalam telepon konferensi atau
sarana komunikasi yang sejenis.

20. Risalah dari Rapat yang menggunakan telepon konferensi atau peralatan komunikasi yang
sejenis akan dibuat secara tertulis dan diedarkan diantara semua anggota Direksi yang
berpartisipasi dalam Rapat untuk ditandatangani.

21. Direksi dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat Direksi, dengan
ketentuan semua anggota Direksi telah diberitahu secara tertulis dan semua anggota Direksi
memberikan persetujuan sirkular mengenai usul yang diajukan secara tertulis dengan
menandatangani persetujuan sirkular tersebut. Keputusan yang diambil dengan cara demikian
mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat
Direksi.

22. Anggota Direksi tidak dapat mengambil keputusan didalam Rapat Direksi mengenai hal
dimana anggota Direksi tersebut mempunyai benturan kepentingan dengan Bank, kecuali
ditentukan lain didalam Rapat Direksi tersebut.

3.2 Transparansi/Keterbukaan

Anggota Direksi wajib mengungkapkan dalam laporan pelaksanaan GCG:

 Kepemilikan sahamnya pada Bank

 Kepemilikan sahamnya yang mencapai 5% (lima persen) pada perusahaan lain, yang
berkedudukan di dalam dan di luar negeri

 Hubungan keuangan dan hubungan keluarga dengan anggota BOC lain, anggota Direksi
dan/atau pemegang saham Bank

 Remunerasi dan fasilitas dari Bank.

3.3 Masa Jabatan

1. Anggota Direksi dapat diangkat untuk masa jangka waktu 3 tahun dan dapat diangkat
kembali.

2. Jabatan anggota Direksi dengan sendirinya berakhir, jika anggota Direksi: \

 Mengundurkan diri; atau

 Meninggal dunia; atau

 Diberhentikan berdasarkan RUPS; atau

 Tidak lagi memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku.

3. Dalam hal terdapat anggota Direksi yang mengundurkan diri, anggota Direksi yang
bersangkutan wajib menyampaikan permohonan pengunduran diri kepada Bank.
4. Bank wajib menyelenggarakan RUPS untuk memutuskan permohonan pengunduran diri
anggota Direksi paling lambat 90 (sembilan puluh) hari setelah diterimanya permohonan
pengunduran diri dimaksud.

5. Anggota Direksi wajib menyampaikan pengunduran diri sebagai anggota Direksi kepada
Bank apabila terlibat dalam kejahatan keuangan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
yang berlaku.

6. Anggota Direksi yang telah menyampaikan pemberitahuan tertulis mengenai


pengunduran dirinya tidak dapat membuat keputusan yang secara hukum mengikat dan
mempengaruhi kondisi keuangan Bank

7. Anggota Direksi tidak berwenang mewakili Bank apabila:

 Terdapat perkara di pengadilan antara Bank dengan anggota Direksi yang


bersangkutan

 Anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai kepentingan yang berbenturan


dengan kepentingan Bank.

8. Dalam hal terdapat keadaan sebagaimana dimaksud pada poin g, yang berhak mewakili
Bank adalah:

 Anggota Direksi lainnya yang tidak mempunyai benturan kepentingan dengan


Bank.

 Dewan Komisaris dalam hal seluruh anggota Direksi mempunyai benturan


kepentingan dengan Bank

 Pihak lain yang ditunjuk oleh RUPS dalam hal seluruh anggota Direksi atau
Dewan Komisaris mempunyai benturan kepentingan dengan Bank.

3.4 Hubungan dengan Stakeholders

1. Direktur Utama mewakili Direksi dalam hubungan dengan stakeholders.


2. Anggota Direksi lain dapat mewakili Direksi dalam hubungan dengan stakeholders,
sepanjang hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab anggota Direksi tersebut,
dan dengan sepengetahuan Direktur Utama.

3. Terkait hubungan dengan media, anggota Direksi hanya dapat mewakili Direksi dan atau
Bank, setelah mendapatkan persetujuan dari Direktur Utama atau Corporate Secretary.

4. Anggota Direksi tidak dapat secara individu memberikan tanggapan atas tuntutan,
teguran dan/atau komplain yang diterimanya selaku anggota Direksi terkait permasalahan
Bank, dan harus segera meneruskan korespondensi tersebut kepada Corporate Secretary.

3.5 Etika Kerja

1. Anggota Direksi dilarang memanfaatkan Bank untuk kepentingan pribadi, keluarga,


dan/atau pihak lain yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan bank.

2. Anggota Direksi dilarang mengambil dan/atau menerima keuntungan pribadi dari Bank
selain remunerasi dan fasilitas lainnya yang ditetapkan Rapat Umum Pemegang Saham.

3. Setiap anggota Direksi wajib memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku,


Anggaran Dasar Perseroan, Kebijakan Good Corporate Governance dan Kebijakan lain
yang berlaku

4. Setiap anggota Direksi harus tunduk pada Nilai Nilai dan Kode Etik yang berlaku di
Bank.

3.6 Waktu Kerja

Waktu kerja adalah waktu dimana anggota Direksi hadir di tempat kerja dan
melaksanakan fungsi kepengurusan.

3.7 Pelatihan

Untuk meningkatkan kompetensi dan mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Direksi, anggota Direksi turut serta dalam Induction Program khusus untuk anggota Direksi baru
dan Refreshment Program yang terdiri dari :

 Regular Update yaitu update terkait peraturan/ regulasi baru.


 Macro Update yaitu update kondisi makro ekonomi atau issue lain yang relevan.

 Development yaitu pelatihan untuk masing-masing anggota Direksi.

 Program Refreshment lainnya yang diwajibkan oleh peraturan yang berlaku.

4. Regulasi Dewan Komisaris

4.1 Gambaran Umum Dewan Komisaris

Dewan Komisaris memiliki beberapa istilah lain, seperti Board of Directors atau
Supervisory Board. Dewan Komisaris, yang memiliki lebih dari 1 (satu) anggota, dipimpin oleh
Komisaris Utama (Chairman). Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas, Perseroan Terbatas (PT) memiliki tiga Organ Perseroan, yaitu Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS), Direksi, dan Dewan Komisaris. Dewan Komisaris sendiri
didefinisikan sebagai Organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum
dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada Direksi. Jadi, tugas
Dewan Direksi menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 jelaslah bukan untuk
melaksanakan kegiatan operasional PT. Secara lebih rincinya, Dewan Komisaris melakukan
pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai
Perseroan maupun usaha Perseroan, dan memberi nasihat kepada Direksi. Pengawasan dan
pemberian nasihat sdilakukan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan
tujuan Perseroan.

Sementara itu, dalam perusahaan yang berbentuk badan hukum Koperasi, fungsi Dewan
Komisaris dilakukan oleh Pengawas. Untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
berbentuk Perusahaan Umum (Perum), pihak yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan
memberikan nasihat kepada Direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan Persero adalah
Dewan Pengawas.

Dewan Komisaris terdiri atas 1 (satu) orang anggota atau lebih. Dewan Komisaris yang
terdiri atas lebih dari 1 (satu) orang anggota merupakan majelis dan setiap anggota Dewan
Komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri, melainkan berdasarkan keputusan Dewan
Komisaris. Perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan menghimpun dan/atau
mengelola dana masyarakat, Perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada
masyarakat atau Perseroan Terbuka wajib mempunyai paling sedikit 2 (dua) orang anggota
Dewan Komisaris. Dewan Komisaris dipimpin oleh Komisaris Utama atau Presiden Komisaris.

Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain


mempunyai Dewan Komisaris wajib mempunyai Dewan Pengawas Syariah. Dewan Pengawas
Syariah terdiri atas seorang ahli syariah atau lebih yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi
Majelis Ulama Indonesia. Dewan Pengawas Syariah bertugas memberikan nasihat dan saran
kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah.

4.2 Pengangkatan Dewan Komisaris


Anggota Dewan Komisaris diangkat oleh RUPS dan dapat diberhentikan sewaktu-waktu
berdasarkan keputusan RUPS dengan menyebutkan alasannya. Ketentuan tentang besarnya gaji
atau honorarium dan tunjangan bagi anggota Dewan Komisaris ditetapkan oleh RUPS. Anggota
Dewan Komisaris diangkat untuk jangka waktu tertentu dan dapat diangkat kembali. Untuk
BUMN, Masa jabatan anggota Komisaris ditetapkan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali
untuk 1 (satu) kali masa jabatan. Yang dapat diangkat menjadi anggota Dewan Komisaris adalah
orang perseorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu 5 (lima)
tahun sebelum pengangkatannya pernah:
1. dinyatakan pailit;
2. menjadi anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah
menyebabkan suatu Perseroan dinyatakan pailit; atau
dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan/atau yang
berkaitan dengan sektor keuangan.

4.3 Kewajiban, Larangan, dan Kewenangan Dewan Komisaris

Dewan Komisaris wajib:

1. membuat risalah rapat Dewan Komisaris dan menyimpan salinannya;

2. melaporkan kepada Perseroan mengenai kepemilikan sahamnya dan/atau keluarganya pada


Perseroan tersebut dan Perseroan lain; dan

3. memberikan laporan tentang tugas pengawasan yang telah dilakukan selama tahun buku yang
baru lampau kepada RUPS.
Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan pemberian wewenang kepada Dewan Komisaris
untuk memberikan persetujuan atau bantuan kepada Direksi dalam melakukan perbuatan hukum
tertentu. Selain itu, berdasarkan anggaran dasar atau keputusan RUPS, Dewan Komisaris dapat
melakukan tindakan pengurusan Perseroan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu.
Dewan Komisaris yang dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu melakukan tindakan
pengurusan berlaku semua ketentuan mengenai hak, wewenang, dan kewajiban Direksi terhadap
Perseroan dan pihak ketiga.

Khusus untuk BUMN, anggota Dewan Komisaris dilarang memangku jabatan rangkap
sebagai:

1. anggota Direksi pada BUMN, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta, dan
jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan; dan/atau

2. jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sementara untuk perseroan terbuka, sebagaimana diatur dalam Berdasarkan Peraturan


Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten
atau Perusahaan Publik, anggota Dewan Komisaris dapat merangkap jabatan sebagai anggota
Direksi paling banyak pada 2 (dua) Emiten atau Perusahaan Publik lain; dan anggota Dewan
Komisaris paling banyak pada 2 (dua) Emiten atau Perusahaan Publik lain. Dalam hal anggota
Dewan Komisaris tidak merangkap jabatan sebagai anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris
yang bersangkutan dapat merangkap jabatan sebagai anggota Dewan Komisaris paling banyak
pada 4 (empat) Emiten atau Perusahaan Publik lain. Anggota Dewan Komisaris dapat merangkap
sebagai anggota komite paling banyak pada 5 (lima) komite di Emiten atau Perusahaan Publik
dimana yang bersangkutan juga menjabat sebagai anggota Direksi atau anggota Dewan
Komisaris. Rangkap jabatan sebagai anggota komite sebagaimana dimaksud di atas hanya dapat
dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lainnya.

Setiap anggota Dewan Komisaris dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian
nasihat kepada Direksi wajib dengan itikad baik, kehati-hatian, dan bertanggung jawab. Setiap
anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian Perseroan
apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya. Dalam hal Dewan
Komisaris terdiri atas 2 (dua) anggota Dewan Komisaris atau lebih, tanggung jawab tersebut
berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota Dewan Komisaris. Anggota Dewan
Komisaris tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian apabila dapat membuktikan:

1. telah melakukan pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan
Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;

2. tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan
pengurusan Direksi yang mengakibatkan kerugian; dan

3. telah memberikan nasihat kepada Direksi untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian
tersebut.

Atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu
persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat menggugat anggota
Dewan Komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada
Perseroan ke pengadilan negeri. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud berlaku juga bagi
anggota Dewan Komisaris yang sudah tidak menjabat 5 (lima) tahun sebelum putusan
pernyataan pailit diucapkan. Anggota Dewan Komisaris tidak dapat dimintai
pertanggungjawaban atas kepailitan Perseroan apabila dapat membuktikan:

1. kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;

2. telah melakukan tugas pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan
Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;

3. tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan
pengurusan oleh Direksi yang mengakibatkan kepailitan; dan

4. telah memberikan nasihat kepada Direksi untuk mencegah terjadinya kepailitan.

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014, Dewan


Komisaris berwenang memberhentikan sementara anggota Direksi dengan menyebutkan
alasannya. Selain itu, Direksi dan Dewan Komisaris, selain berwenang, juga wajib menyusun
pedoman yang mengikat setiap anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris.
4.4 Susunan Dewan Komisaris
Anggaran dasar Perseroan dapat mengatur adanya 1 (satu) orang atau lebih Komisaris
Independen dan 1 (satu) orang Komisaris Utusan. Komisaris Independen diangkat berdasarkan
keputusan RUPS dari pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota
Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris lainnya. Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014, jumlah Komisaris Independen wajib paling kurang 30%
(tiga puluh persen) dari jumlah seluruh anggota Dewan Komisaris. Dalam hal Dewan Komisaris
terdiri dari 2 (dua) orang anggota Dewan Komisaris, 1 (satu) di antaranya adalah Komisaris
Independen. Lebih rincinya, Komisaris Independen wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan tanggung
jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau mengawasi kegiatan
Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir, kecuali
untuk pengangkatan kembali sebagai Komisaris Independen Emiten atau Perusahaan
Publik pada periode berikutnya;
b. tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut; tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Emiten atau
Perusahaan Publik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau pemegang
saham utama Emiten atau Perusahaan Publik tersebut; dan
c. tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang
berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
Komisaris Independen yang telah menjabat selama 2 (dua) periode masa jabatan dapat
diangkat kembali pada periode selanjutnya sepanjang Komisaris Independen tersebut
menyatakan dirinya tetap independen kepada RUPS. Pernyataan independensi Komisaris
Independen tersebut wajib diungkapkan dalam laporan tahunan. Dalam hal Komisaris
Independen menjabat pada Komite Audit, Komisaris Independen yang bersangkutan hanya dapat
diangkat kembali pada Komite Audit untuk 1 (satu) periode masa jabatan Komite Audit
berikutnya.
Sementara itu, Komisaris Utusan merupakan anggota Dewan Komisaris yang ditunjuk
berdasarkan keputusan rapat Dewan Komisaris. Tugas dan wewenang komisaris utusan
ditetapkan dalam anggaran dasar Perseroan dengan ketentuan tidak bertentangan dengan tugas
dan wewenang Dewan Komisaris dan tidak mengurangi tugas pengurusan yang dilakukan
Direksi.
Dalam menjalankan tugas pengawasan, Dewan Komisaris dapat membentuk komite,
yang anggotanya seorang atau lebih adalah anggota Dewan Komisaris. Komite sebagaimana
dimaksud bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris. Berdasarkan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, Komisaris dan Dewan
Pengawas BUMN wajib membentuk Komite Audit yang bekerja secara kolektif dan berfungsi
membantu Komisaris dan Dewan Pengawas dalam melaksanakan tugasnya. Komite audit
dipimpin oleh seorang ketua yang bertanggung jawab kepada Komisaris atau Dewan Pengawas.
Selain Komite Audit, Komisaris atau Dewan Pengawas dapat membentuk komite lain yang
ditetapkan oleh Menteri yang yang ditunjuk dan/atau diberi kuasa untuk mewakili pemerintah
selaku pemegang saham negara pada Persero dan pemilik modal pada Perum. Pada pembahasan
ini, penulis akan membahas dua jenis komite yang dapat dibentuk oleh Dewan Komisaris, yaitu
Komite Audit serta Komite Nominasi dan Remunerasi.
5. Komisaris Independen
Dalam rangka memberdayakan fungsi pengawasan Dewan Komisaris, keberadaan
Komisaris Independen adalah sangat diperlukan. Secara langsung keberadaan Komisaris
Independen menjadi penting, karena didalam praktek sering ditemukan transaksi yang
mengandung benturan kepentingan yang mengabaikan kepentingan pemegang saham publik
(pemegang saham minoritas) serta stakeholder lainnya, terutama pada perusahaan di Indonesia
yang menggunakan dana masyarakat didalam pembiayaan usahanya.
Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan
Direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari
hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
bertindak independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan.
Misi Komisaris Independen adalah mendorong terciptanya iklim yang lebih objektif dan
menempatkan kesetaraan (fairness) di antara berbagai kepentingan termasuk kepentingan
perusahaan dan kepentingan stakeholder sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan
oleh Dewan Komisaris.Komisaris Independen harus mendorong diterapkannya prinsip dan
praktek tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) pada perusahaan di
Indonesia.
5.1 Tanggung Jawab Komisaris Independen
Komisaris Independen memiliki tanggung jawab pokok untuk mendorong diterapkannya
prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di dalam perusahaan
melalui pemberdayaan Dewan Komisaris agar dapat melakukan tugas pengawasan dan
pemberian nasihat kepada Direksi secara efektif dan lebih memberikan nilai tambah bagi
perusahaan.
Dalam upaya untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik maka Komisaris
Independen harus secara proaktif mengupayakan agar Dewan Komisaris melakukan pengawasan
dan memberikan nasehat kepada Direksi yang terkait dengan, namun tidak terbatas pada hal-hal
sebagai berikut:
a. Memastikan bahwa perusahaan memiliki strategi bisnis yang efektif, termasuk di
dalamnya memantau jadwal, anggaran dan efektifitas strategi tersebut.
b. Memastikan bahwa perusahaan mengangkat eksekutif dan manajer-manajer profesional.
c. Memastikan bahwa perusahaan memiliki informasi, sistem pengendalian, dan sistem
audit yang bekerja dengan baik.
d. Memastikan bahwa perusahaan mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku maupun
nilai-nilai yang ditetapkan perusahaan dalam menjalankan operasinya.
e. Memastikan resiko dan potensi krisis selalu diidentifikasikan dan dikelola dengan baik.
f. Memastikan prinsip-prinsip dan praktek Good Corporate Governance dipatuhi dan
diterapkan dengan baik.

5.2 Tugas Komisaris Independen


a) Menjamin transparansi dan keterbukaaan laporan keuangan perusahaan.
b) Perlakuan yang adil terhadap pemegang saham minoritas dan stakeholder yang lain.
c) Diungkapkannya transaksi yang mengandung benturan kepentingan secara wajar dan
adil.
d) Kepatuhan perusahaan pada perundangan dan peraturan yang berlaku.
e) Menjamin akuntabilitas organ perseroan.

5.3 Wewenang Komisaris Independen


a. Komisaris independen mengetuai komite audit dan komite nominasi.
b. Komisaris independen berdasarkan pertimbangan yang rasional dan kehati-hatian berhak
menyampaikan pendapat yang berbeda dengan anggota dewan komisaris lainnya yang
wajib dicatat dalam Berita Acara Rapat Dewan Komisaris dan pendapat yang berbeda
yang bersifat material, wajib dimasukkan dalam laporan tahunan.

6. Struktur Pengawasan
Struktur pengawas atau pengurus memiliki Tugas dan Tanggungjawab yang spesifik
antara lain :
1. Menyusun Rencana Strategis (Renstra).
2. Memastikan organisasi kepengurusan berjalan dengan baik sesuai tanggung jawab dan
otoritas masing-masing anggotanya.
3. Mengangkat manajer dan menetapkan uraian tugasnya, menerima rencana kerja dan
mengevaluasi kinerjanya, dan memutuskan remunerasi serta perkembangan kariernya
(UU No. 25/92 ps 31).
4. Menyusun struktur serta kebijakan organisasi pengelolaan CU.
5. Membuat rencana-rencana yang komprehensif dalam hal pelayanan dan pengembangan
fasilitas.
6. Menetapkan indikator kinerja utama (key performance indikator) dengan mengacu pada
komponen uang, orang dan pertumbuhan.
7. Menganalisa dan mengevaluasi perkembangan CU dalam menuju pada target mau pun
sasarannya.
8. Menjaga struktur pengawasan CU yang demokratis dan tingkat partisipasi anggotanya.
Hal ini antara lain dilakukan dengan:
9. menyelenggarakan Rapat Anggota
10. Memastikan kegiatan operasional berjalan secara efektif dan menghasilkan dengan
melakukan evaluasi terhadap tim kerja maupun rencana kerja anggotanya.
11. Mempertahankan hubungan yang efektif dengan CU lain, masyarakat sekitar dan
pemerintah.
12. Memberikan kepemimpinan yang mampu mendukung dan mengembangkan CU
KASUS BANK CENTURY

1. Profil Bank Century


Bank Century (sebelumnya dikenal dengan Bank CIC) didirikan pada Mei 1989. Pada 6
Desember 2004 Bank Pikko dan Bank Danpac menggabungkan diri ke Bank CIC. Pada 28
Desember 2004, Bank CIC berganti nama menjadi Bank Century. Sejak 21 November 2008
diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan berubah nama menjadi PT Bank
Mutiara Tbk. Hasil merger tiga bank yaitu Bank Pikko, Bank Danpac, dan Bank CIC menjadi
Bank Century yang sebelum merger ketiga bank tersebut didahului dengan adanya akuisisi
Chinkara Capital Ltd yang berdomisili hukum di Kepulauan Bahama dengan pemegang saham
mayoritas adalah Rafat Ali Rizvi.

2. Kronologi Permasalahan
Bank Century merupakan bank publik yang tercatat di BEI yang mulai beroperasi tanggal
15 Desember 2004, merupakan hasil marger antara Bank CIC (Surviving Entity), Bank Danpac
dan Bank Pikko.Kasus Bank Century merupakan kasus yang terhangat di Indonesia yang banyak
menyeret para pejabat. Awal mulai terjadinya kasus Bank Century adalah Bank Century
mengalami kalah kliring pada tanggal18 November 2008.
Masalah yang terjadi di Bank Century merupakan masalah internal yang dilakukan oleh
pihak manajemen bank yang berhubungan dengan klien mereka, meliputi:
a. Penyimpangan dana untuk peminjam $2,8 milyar (Rp 1,4 triliun Bank Century
pelanggan dan pelanggan Delta Antaboga Securities Indonesia adalahRp 1,4 triliun).
b. Penjualan produk-produk investasifiktif Antaboga Delta Securities Indonesia. Jika
produk tidak perlu mendaftar BI dan Bapepam-LK.
c. Kedua point tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi Nasabah Bank
Century dan uang para nasabah pun yang ada di Bank Century tidak bisa dicairkan
dan tidak ada uang tidak dibayar oleh pelanggan.

Setelah tanggal 13 November 2008, pelanggan Bank Century tidak dapat melakukan
transaksi dalam bentuk devisa, kliring dan tidak dapat mentransfer juga tidak bisa karena Bank
Century tidak mampu untuk melakukannya. Bank hanya dapat mentransfer uang ketabungan.
Jadi uang itu tidak bisa keluar dari bank. Hal ini terjadi pada semua pelanggan Bank Century.
Nasabah bank yang merasa dirugikan karena banyak menyimpan uang di Bank Century,
tapi sekarang bank tersebut tidak bisa dilikuidasi. Pelanggan mengasumsikan bahwa Bank
Century Memperjual belikan produk investasi ilegal. Alasannya adalah investasi dipasarkan
Antaboga Century Bank tidak terdaftar di Bapepam-LK. Dan benar manajemen Bank Century
tahu bahwa produk adalah ilegal. Kasus ini dapat mempengaruhi bank lain, di mana orang tidak
percaya bahwa mereka lebih terhadap sistem perbankan nasional.
Berdasarkan kasus Bank Century tersebut menimbulkan dampak yang cukup besar
terhadap perekonomian Indonesia sendiri. Sebab, menyeret banyakpejabat-pejabat penting dan
masalah pergerakan harga saham yang terus mengalami penurunan akibat dari dampak sistemik
kasus Bank Century ini.Pemilik Bank Century adalah Robert Tantular juga yang melakukan
tindak kriminal karena melakukan perampokan terhadap banknya sendiri. Oknum-oknum yang
terlibat diantaranya: ada yang menduga oknum POLRI terlibat “menjaga” oknum-oknum yang
terkait Bank Century karena dianggap “proyek kelas kakap”. Beberapa pihak juga mengaitkan
ini dengan ditangkapnya dua petinggi KPK, Bibit dan Chandra beberapa waktu lalu tanpa ada
bukti yang jelas, demi menghambat pengusutan kasus Century.Banyak yang sekarang sudah
menempatkan Sri Mulyanidan Boediono sebagai tersangka tetapi sebenarnya masih ada
kemungkinan bahwa Sri Mulyani dan Boediono adalah bagian dari konspirasi besar semata-mata
demi menyelamatkan dana pihak Century dan orang-orang yang terkait Century.
Sri Mulyani dan Boediono-lah yang telah menyelamatkan ekonomi Indonesia sehingga
saat ini Indonesia tidak terjerumus krisis yang lebih hebat. Yang melakukan tindak
penyelewengan hanyalah segelintir orang, yaitu Robert Tantular, pemilik Bank Century yang
menggondol dana Bank Century, dan beberapa oknum di BI.Adapun pihak-pihak yang terlibat
dalam kemelut Bank tersebut diantaranya adalah delapan orang yakni Komisaris Utama
Sulaiman AB, Komisaris Poerwanto Kamajadi, Komisaris Rusli Prakasa, Direktur Utama
Hermanus Hasan Muslim. Kemudian Wakil Direktur Utama Hamidy, Direktur Pemasaran Lila
K. Gondokusumo, Direktur Kepatuhan Edward M. Situmorang, dan Pemegang Saham Robert
Tantular.
Hancurnya Bank Century sehingga harus diselamatkan oleh pemerintah melalui Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) melalui suntikan dana Rp 6,7 triliun terjadi karena perpaduan
pengurusan bank yang mengarah pada tindak kriminal serta krisis ekonomi global yang terjadi.
Surat-surat berharga bodong yang ada di Century menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi
bank tersebut. Belakangan dilihat ada pengaruh Antaboga, masalah surat bodong itu pasti ada
pengaruhnya dari Bank Century. Tetapi diperburuk karena kondisi krisis global, kalau keadaan
seperti itu tidak dalam krisis global, maka tidak akan meletus seperti itu. PT Bank Century Tbk
(BCIC) pada awalnya ternyata agen penjual produk investasi yang diterbitkan PT Antaboga
Delta Sekuritas. Hal itu diketahui berdasarkan pemeriksaan awal Bank Indonesia (BI) pada 2005.
Menurut Deputi Gubernur BI, Siti Ch Fadjrijah dalam pertemuan dengan Komisi Keuangan
Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan bahwa dari penelusuran BI diketahui produk yang dijual
tidak mempunyai izin dari Bapepam.

3. Analisis Kasus: Penyebab Bangkrutnya Bank Century


Kebangkrutan PT Bank Century, Tbk. tidak mungkin terjadi begitu saja, ada beberapa hal
yang menyebabkan kebangkrutan Bank Century antara lain penyimpangan manajemen dan
pengawasan BI yang tidak efektif yang diduga menjadi penyebab utama bank itu akhirnya
mengalami kebangkrutan.
a. Penyimpangan Manajemen
Modus kejahatan perbankan yang diduga dilakukan manajemen Bank Century adalah
penempatan dana yang sembrono di pasar uang (money market). Hal ini terlihat dari
penyimpangan yang dilakukan manajemen Bank Century yang memiliki kewajiban surat
berharga valas sebesar US$ 210 juta. Kasus itu menunjukkan manajemen Bank Century
tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian perbankan.
b. Pengawasan BI yang Lemah
BI ternyata pernah memberikan kelonggaran aturan kepada Bank Century, yakni
dengan memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang macet ke kategori lancar. Hal itu
dilakukan agar Bank Century tidak perlu menyisihkan provisi (pencadangan) atas SSB
yang macet itu, sehingga tidak menggerus modalnya. Yang harus dipertanyakan
sejauhmana keefektifan Direktorat Pengawasan Perbankan BI karena selama ini
manajemen Bank Century memberikan laporan harian dan mingguan sehingga kesehatan
perbankan pasti terpantau. Di samping itu, Bapepam selaku otoritas pasar modal harusnya
juga bertanggungjawab karena Bank Century merupakan perusahaan publik.
Kasus Bank Century ini menunjukkan ada praktik-praktik yang menyimpang di bank
sentral menyangkut tes kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang tidak akurat.BI
juga dinilai gagal dalam menciptakan tata kelola yang baik (Good Corporate Governance).
Kesehatan merupakan hal yang paling penting di dalam berbagai bidang kehidupan, baik
bagi manusia maupun perusahaan.
c. Kesehatan Bank
Kesehatan bank dapatdiartikan sebagaikemampuan suatu bank untuk melakukan
kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya
dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku, untuk
melaksanakan seluruh kegiatan usaha perbankannya kegiatan tersebut meliputi:
a) Kemampuan menghimpun dana masyarakat dari lembaga lain dan dari modal
sendiri
b) Kemampuan mengolah dana
c) Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat
d) Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal
dan pihak lain
e) Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku

4. Pelanggaran GCG Yang Dilakukan Oleh Bank Century


Prinsip Good Corporate Governance (GCG) merupakan dasar yang penting dalam
praktek pengelolaan perusahaan di Indonesia. Prinsip tersebut dapat dijadikan pedoman oleh
perusahaan-perusahaan di Indonesia guna meningkatkan performa kerja perusahaan pada
setiap sisinya. Dalam hal ini Dewan Direksi dan Dewan Komisaris merupakan
penanggungjawab atas apapun kesalahan yang terjadi dalam sebuah perusahaan sesuai dengan
tata kelola perusahaan dalam Good Corporate Governance. Karena tugas dari Dewan Direksi
itu sendiri mempunyai tugas yaitu memilih sumber daya dengan efektif dan efisien serta
mengelola perusahaan. Sedangkan Dewan Komisaris itu sendiri bertugas mengawasi tugas-
tugas yang dilakukan oleh para anggota Dewan Direksi.
Pada kasus Bank Century inikesalahan terjadi akibat permasalahan internal bank dimana
hal tersebut dilakukan oleh pihak manajemen bank tersebut yang menipu para nasabah. Penipuan
tersebut berupa penyelewengan dana nasabah hingga Rp 2,8 Trilliun dimana dana dari nasabah
Bank Century sebesar Rp 1,4 Triliun dan nasabah Antaboga Deltas Sekuritas Indonesia sebesar
Rp 1,4 Triliiun. Selain itu juga adanya penjualan reksa dana fiktif produk Antaboga Deltas
Sekuritas Indonesia, dimana produk tersebut tidak memiliki izin BI dan Bappepam LK. Dapat
dilihat bahwa dalam hal ini terjadi kelalaian dalam pengawasan internal Bank Century itu sendiri
sehingga mengakibatkan kerugian yang dialami oleh para nasabah.

Modus kejahatan perbankan yang diduga dilakukan manajemen Bank Century adalah
penempatan dana yang sembrono di pasar uang (money market). Hal ini terlihat dari
penyimpangan yang dilakukan manajemen Bank Century yang memiliki kewajiban surat
berharga valas sebesar US$ 210 juta. Kasus itu menunjukkan manajemen Bank Century tidak
mengindahkan prinsip kehati-hatian perbankan.

BI ternyata pernah memberikan kelonggaran aturan kepada Bank Century, yakni dengan
memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang macet ke kategori lancar. Hal itu dilakukan agar
Bank Century tidak perlu menyisihkan provisi (pencadangan) atas SSB yang macet itu, sehingga
tidak menggerus modalnya. Kasus Bank Century ini menunjukkan ada praktik-praktik yang
menyimpang di bank sentral menyangkut tes kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang
tidak akurat. BI juga dinilai gagal dalam menciptakan tata kelola yang baik (Good Corporate
Governance).

5. Kesimpulan
Kegagalan Bank Century diindikasikan terjadi karena tindak kriminal yang dilakukan oleh
pemilik Bank Century sendiri. Keadaan ekonomi juga sedang mengalami krisis global.
Kesimpulan yang diperoleh dari masalah Bank Century ketika munculnya dana bailoutyang
mulai bergulir dan kejanggalan dalam neracanya mulai terungkap. Kelemahan manajemen mulai
terlihat setelah kekacauan reksadana Antaboga Delta sekuritas yang dikeluarkan Bank Century.
Disimpulkan bahwa sebenarnya bailout untuk Century memang diperlukan namun dibalik itu
ternyata banyak fakta bahwa kinerja dan tata kelola Century yang sangat buruk. Kasus buruknya
penerapan Good Corporate Governance (GCG) dalam industri perbankan Indonesia dapat kita
lihat pada kasus Bank Century yang dimana bank tersebut harus diambil alih Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) dan ditetapkan sebagai bank gagal pada tahun 2008 akibat banyaknya kredit
bermasalah yang dimiliki bank tersebut.

6. Saran
Dari kasus diatas kesimpulan yang kami peroleh yaitu bahwa dalam menghadapi kasus
Bank Century diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, DPR-RI dan Bank Indonesia.
Pemerintah sendiri seharusnya bertanggung jawab kepada nasabah Bank Century agar uangnya
bisa dicairkan.
Pihak-pihak yang terbukti bersalah dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus Bank
Century harus segera diproses, diadili, dan dijatuhi hukuman yang sepantasnya. Jika pihak
tersebut masih aktif bekerja di pemerintahan, sebaiknya segera dinon-aktifkan.
DAFTAR PUSTAKA

KNKG, 2006, Pedoman Umum Good Corporate Governance

Prasetyantoko. 2008. Corporate Governance. Jakarta: Gramedia

Sutojo, Siswanto dan John Alridge. 2008. Good Corporate Governance. Jakarta: Damar Mulia
Pustaka

Atika. 2010 Permasalahan Bank Century


danSolusi.http://atikaa08.student.ipb.ac.id/2010/06/18/permasalahan-bank-century-dan-
solusinya/.