Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan disekolah atau Madrasah pada dasarnya

dilaksanakan dengan kegiatan yang kompeherensif, yaitu kegiatan

peningkatan kesehatan (promotif), berupa penyuluhan kesehatan dan

pelatihan keterampilan memberikan pelayanan kesehatan, kegiatan

pencegahan (preventif), berupa kegiatan peningkatan daya tahan tubuh,

pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Kegiatan ini dilakukan

secara serasi dan terpadu terhadap peserta didik pada khususnya dan warga

sekolah pada umumnya dibawah koordinasi guru pembina UKS (Unit

Kesehatan Sekolah) dengan bimbingan teknis dan pengawasan Puskesmas

setempat (Effendi, 2009).

Pelatihan keterampilan memberikan pertolongan pertama di sekolah

bertujuan untuk mengurangi resiko komplikasi dengan penyakit lain. Bantuan

hidup dasar biasanya diberikan oleh orang-orang disekitar korban,

diantaranya akan menghubungi petugas kesehatan terdekat. Pertolongan ini

harus diberikan secara cepat dan tepat, sebab penanganan yang salah dapat

berakibat buruk, cacat, bahkan kematian pada korban kecelakaan

(PUSBANKES 188 DIY, 2014).

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) (2014)

mengklasifikasikan kegawatdaruratan dalam beberapa kriteria, adalah salah

1
satunya adalah kegawatdaruratan kardiovaskuler yang didalamnya ada

pingsan. Sinkop berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata syn dan

koptein yang berarti memutuskan, sehingga sinkop dapat didefiniskan

kehilangan kesadaran dan kekuatan postural tubuh yang tiba-tiba dan bersifat

sementara, dengan konsekuensi terjadi pemulihan spontan (Rasjid &

Nasution, 2010).

Disamping itu, pertolongan pertama pada kecelakaan di sekolah sangat

berpengaruh dalam keselamatan siswa, siswa yang cenderung dan sering

mengalami kecelakaan ringan perlu mengetahui bahwa pentingnya

pendidikan kesehatan tentang pertolongan pertama pada kecelakaan guna

menambah pengetahuan dan dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari

(Nurhalifah, 2017).

Selanjutnya, pertolongan pertama atau perawatan segera yang

diberikan kepada orang yang cidera atau sakit tiba-tiba. Pertolongan pertama

yaitu menyediakan bantuan sementara sampai didapatkan perawatan medis

jika diperlukan. Sebenarnya kebanyakan cidera dan penyakit yang tiba-tiba

sangat memerlukan pertolongan pertama. Pertolongan pertama yang benar

juga bisa membuat perbedaan antara hidup dan mati, pemulihan yang cepat

atau lambat, dan cacat yang sementara dan juga bisa sampai permanen

(Boston, 2007).

Pertolongan pada orang yang mengalami pingsan harus dilakukan

secara cepat dan tepat. Orang yang mengalami pingsan harus segera dibawa

ke tempat yang teduh dan ditidurkan terlentang dengan posisi kaki diangkat
20 sampai 30 cm, diusahakan tidak mengerumuni pasien pingsan karena

udara segar dibutuhkan oleh pasien pingsan, melonggarkan pakaian,

mengusap muka dengan kain yang dibasahi air atau bisa dengan bau-bauan

agar cepat sadar. Apabila sudah sadar, pasien diberikan minuman manis

untuk meningkatkan glukosa darah. Penting juga dilakukan pemeriksaan fisik

untuk mengetahui apakah terjadi cedera atau tidak (Dinas Kesehatan Bone,

2014).

Potensi bahaya yang terdapat dilingkungan kerja dan mendapat

perhatian khusus adalah tekanan panas. Tekanan panas terlebih ditubuh

berakibat proses metabolisme tubuh maupun paparan panas dari lingkungan

kerja dapat menimbulkan masalah kesehatan (heat strain) dari yang sangat

ringan seperti heat rash, heat syncop, heat cramps, heat exhaustion hingga

yang serius yaitu stroke (Yenita, 2017).

Lebih lanjut, kebanyakan individu pernah mengalami pingsan

setidaknya sekali dalam hidupnya, hal ini dipicu dari berbagai faktor

diantaranya yaitu kondisi yang panas disertai dehidrasi, berdiri terlalu lama,

kemudian posisi tubuh yang naik secara mendadak seperti dari jongkok ke

berdiri, dan bisa juga dipengaruhi oleh tekanan emosi, sakit perut, kehilangan

darah, batuk-batuk, buang air kecil biasanya disertai sakit, serta merosotnya

kadar gula darah dan gangguan jantung (Nugroho, 2017).

Biasanya sinkop sering terjadi pada saat pelaksanaan upacara bendera

hari senin dan pada saat kegiatan belajar mengajar dikelas, kurang lebih

kejadian sinkop sebanyak 6-8 orang dalam 1 bulan, biasanya siswa sinkop
disebabkan karena siswa belum sarapan, ditambah pelaksanaan upacara

bendera hari senin yang terpapar oleh sinar matahari langsung, siswa yang

sinkop juga disebabkan oleh beban masalah pribadi, mayoritas yang

mengalami pingsan adalah wanita (Nugroho, 2017).

Pingsan biasa terjadi di sekolah-sekolah seperti SD, SMP dan SMA

atau sekolah lainnya yang mengadakan upacara bendera rutin setiap hari

Senin. Kejadian pingsan pada siswa di sekolah dapat terjadi sewaktu-waktu.

Oleh karena itu, sebaiknya semua guru dan siswa mampu menguasai

penatalaksanaan siswa yang mengalami pingsan di sekolah (Gunarsa, 2010).

Sincope ditandai dengan kehilangan kesadaran (pingsan sebentar) atau

terjadi pengurangan penglihatan dan berkunang-kunang, merasa tidak

terkendali, berkeringat serta bingung. Gejala-gejala ini berhubungan dengan

pengurangan aliran darah. Banyak orang yang mengalami sincope sewaktu

berdiri dengan cepat dari berbaring atau duduk (Anies, 2016).

Beberapa orang pingsan ketika mereka berdiri sesudah duduk atau

berbaring lama, tubuh mereka tidak membuat penyesuaian internal yang

diperlukan saat bergerak dari posisi berbaring ke berdiri. Banyak obat uang

diminum oleh orang lanjut usia memperburuk masalah ini, atau bahkan

menjadi penyebabnya, terutama sekali obat tekanan darah rendah (Mckhan,

2010).

Pemicu umum untuk sinkop dalam beberapa posisi penurunan

frekuensi berdiri adalah rasa sakit (12,77%), bau (10,64%), ketakutan

(8,52%), dan melihat darah (4,26%). Sementara di terlentang dan posisi


duduk, bau (50% dan 18,75%, masing-masing), dan rasa sakit (16,67% dan

12,50%, masing-masing) adalah pemicu umum. Sinkop situasional terlihat

pada berdiri (17,12%) dan posisi duduk (4,5%). Micturation (16,22%) adalah

pemicu umum diantara berbagai penyebab sinkop situasional, sedangkan

batuk (12,50%), tertawa (6,25%), dan buang air besar (6,25%) yang ditemui

dalam posisi duduk. Pemicu lain seperti gerakan kepala, kurang tidur,

keracunan alkohol, angkat berat, membaca, konsentrasi, gelisah, bermain, dan

membersihkan telinga yang jarang, berdiri terlalu lama (35,59%) adalah

keadaan umum (Khadilkar, 2013).

Eropa dan Jepang kejadian sinkop adalah 1-3,5% pertahun. Sinkop

vascular merupakan penyebab sinkop yang terbanyak, kemudian diikuti oleh

sinkop kardiak (Alimurdianis 2010). Menurut Gaggioli, et al (2014) puncak

prevalensi pingsan terjadi pada remaja yang berusia 15 tahun. Diperkuat oleh

penelitian Saedi et al (2013) di Tehran, prevalensi angka kejadian pingsan di

Iran sebanyak 9%. Angka kejadian pingsan pada anak usia 5-14 tahun

sebanyak 4,14%, usia 5-44 tahun sebanyak 44,8 %, usia 45-64 tahun

sebanyak 31%, dan usia 65 tahun keatas sebanyak 20%.

Sinkop merupakan penyakit yang umum terjadi di masyarakat. Sekitar

20% orang pernah mengalami sedikitnya sekali pingsan dalam hidupnya dan

10% orang pernah mengalami pingsan lebih dari 1 kali. Sebagian besar

penyebab sinkop yang tidak diketahui penyebabnya merupakan jenis

vasovagal sinkop. Kunjungan pasien dengan sinkop murni adalah sebesar

1,1% dari seluruh kunjungan ke instalasi emergensi atau gawat darurat.


Prevalensi 19% penduduk menderita sinkop, dengan karakteristik usia > 75

tahun (21%) dan 45-54 tahun (20%), dan laki-laki dibanding perempuan

(15% : 22%) (Kemenkes RI, 2016).

Dari hasil pengambilan data awal secara wawancara bersama guru di

SMA Negeri 9 Takengon diketahui hasil dari wawancara guru piket

didapatkan penderita sinkop sebanayak 4 – 5 orang dan paling sering terjadi

pada hari senin pada setiap minggunya , yaitu saat siswa–siswi sedang

melaksanakan upacara bendera dan pelaksanaan kultum pada hari jum’at.

Selanjutnya, dari hasil wawancara bersama 10 siswa didapatkan hasil

penderita sinkop dapat mencapai 3 – 4 orang. Dari kejadian tersebut, selain

siswa yang mengikuti organisasi PMR (Palang Merah Remaja) atau pelatihan

tentang penanganan singkop, siswa lain hanya membawa penderita sinkop ke

ruangan yang terdekat baik itu ruangan siswa maupun ruangan kantor dan

terkadang di bawa langsung oleh siswa ke UKS (Unit Kesehatan Sekolah)

dan melaporkanya kepada guru piket (Wawancara, 03 Maret 2019).

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin mempelajari dan

dijadikan bahan analisa dengan membuat penelitian untuk mengetahui

hubungan pengetahuan siswa dengan pertolongan pertama pada penderita

sinkop di SMA Negeri 9 Takengon Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh

Tengah Tahun 2018.


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan

masalah adalah apakah ada hubungan antara pengetahuan siswa dengan

pertolongan pertama pada penderita sinkop di SMA Negeri 9 Takengon

Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara hubungan pengetahuan

siswa dengan pertolongan pertama pada penderita sinkop di SMA

Negeri 9 Takengon Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah Tahun

2018.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang pertolongan pertama

pada penderita sinkop di SMA Negeri 9 Takengon Kecamatan

Ketol Kabupaten Aceh Tengah.

b. Untuk mengetahui Kejadian Sinkop di SMA Negeri 9 Takengon

Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah..

c. Untuk mengetahui hubungan hubungan pengetahuan siswa dengan

pertolongan pertama pada penderita sinkop di SMA Negeri 9

Takengon Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah.


D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Pendidikan

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan para

mahasiwa/i tentang pertolongan pertama pada penderita sinkop.

2. Bagi pemerintah

Sebagai bahan pertimbangan pemerintah untuk memberikan

media promosi/ penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.

3. Bagi responden

Dapat meningkatkan pemahaman serta pengetahuan

responden tentang penanganan sinkop.

4. Bagi peneliti

Sebagai tambahan ilmu pengetahuan tentang cara

memberikan pertolongan pertama pada penderita sinkop.

5. Bagi tempat penelitian

Sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk memberikan

pertolongan pertama bagi siswa yang menjadi penderita sinkop

serta mengurangi dan mencegah kejadian sinkop selanjutnya.