Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang atas izin dan
kuasaNya makalah dengan judul ”Asuhan Keperawatan Komunitas Dengan Gout
Arthritis (Asam Urat)” dapat diselesaikan.

Penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah komuitas program studi ilmu keperawatan. Penyusunan makalah terlaksana
dengan baik berkat dukungan dari banyak pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini
kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang bersangkutan.

Kesalahan bukan untuk dibiarkan tetapi kesalahan untuk diperbaiki.


Walaupun demikian, dalam makalah ini kami menyadari masih belum sempurna.
Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan tugas
makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kami dan dapat dijadikan
acuan bagi pembaca terutama bagi ilmu keperawatan.

Gorontalo April 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................


DAFTAR ISI ....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ............................................................................................
1.2 Rumusan masalah.......................................................................................
1.3 Tujuan ........................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Komunitas...........................................................................
2.2 Konsep Dasar Gout Arthritis......................................................................
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
3.1 Pengkajian ..................................................................................................
3.2 diagnosa Keperawatan ...............................................................................
3.3 Rencana keperawatan .................................................................................
3.4 Implementasi ..............................................................................................
3.5 Evaluasi ......................................................................................................
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN PADA KOMUNITAS DENGAN
GOUT ARTHRITIS
4.1 Pengkajian ..................................................................................................
4.2 Analisa Data ...............................................................................................
4.3 Diagnosa keperawatan ...............................................................................
4.4 Penapisan Masalah .....................................................................................
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ...............................................................................................
5.1 Saran ...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


WHO mendata penderita gangguan sendi di Indonesia mencapai
81% dari populasi, hanya 24% yang pergi ke dokter, sedangkan 71% nya
cenderung langsung mengkonsumsi obat-obatan pereda nyeri yang dijual
bebas. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling
tinggi menderita gangguan sendi jika dibandingkan dengan negara di Asia
lainnya seperti Hongkong, Malaysia, Singapura dan Taiwan. Penyakit
sendi secara nasional prevalensinya berdasarkan wawancara sebesar
30,3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%
(Riskesdas 2007-2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit sendi
adalah umur, jenis kelamin, genetik, obesitas dan penyakit metabolik,
cedera sendi, pekerjaan dan olah raga. (Brunner & Suddarth. 2001)
Penyakit gout arthritis merupakan salah satu penyakit degeneratif.
Salah satu tanda dari penyakit gout arthritis adalah adanya kenaikan kadar
asam urat dalam darah (hiperurisemia). Faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian hiperurisemia adalah jenis kelamin, IMT, asupan
karbohidrat dan asupan purin. Asupan purin merupakan faktor risiko
paling kuat yang berhubungan dengan kejadian hiperurisemia.
(Setyoningsih, 2009)
Gejala dari gout arthritis berupa serangan nyeri sendi yang bersifat
akut, biasanya menyerang satu sendi disertai demam, kemudian keluhan
membaik dan disusul masa tanpa keluhan yang mungkin berlanjut dengan
nyeri sendi kronis. Hampir 85-90% penderita yang mengalami serangan
pertama biasanya mengenai satu persendian dan umumnya pada sendi
antara ruas tulang telapak kaki dengan jari kaki. (Yatim, 2006)
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep komunitas ?
2. Bagaimana asuhan keperawatan komunitas dengan Gout Arthritis ?
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran umum tentang asuhan keperawatan
komunitas dengan Gout Arthritis.
2. Tujuan Khusus
Mahas iswa mampu :
a) Dapat melakukan pengkajian keperawatan komunitas dengan Gout
Arthritis.
b) Dapat merencanakan tindakan keperawatan komunitas dengan
Gout Arthritis.
c) Dapat melaksanakan tindakan keperawatan komunitas dengan
Gout Arthritis.
d) Dapat melakukan evaluasi keperawatan komunitas dengan Gout
Arthritis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Komunitas
1. Pengertian Komunitas
Menurut Kontjaraningrat, komunitas adalah sekumpulan manusia
yang saling bergaul, atau dengan istilah lain saling berinteraksi (Mubarak,
2007).Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu
tempat, saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta
mempunyai minat dan interest yang sama. Komunitas adalah kelompok
dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama dengan dibawah
pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana mereka
tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama (Riyadi,
2007).
Keperawatan komunitas adalah bidang khusus dari keperawatan
yang merupakan gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan
masyarakat dan ilmu sosial yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat baik yang sehat atau yang sakit secara komprehensif
melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta
resosialitatif dengan melibatkan peran serta aktif dari masyarakat. Peran
serta aktif masyarakat bersama tim kesahatan diharapkan dapat mengenal
masalah kesehatan yang dihadapi serta memecahkan masalah tersebut
(Elisabeth, 2007).
Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat adalah individu,
keluarga/ kelompok dan masyarakat dengan fokus upaya kesehatan
primer, sekunder dan tersier. Oleh karenanya pendidikan masyarakat
tentang kesehatan dan perkembangan sosial akan membantu masyarakat
dalam mendorong semangat untuk merawat diri sendiri, hidup mandiri dan
menentukan nasibnya sendiri dalam menciptakan derajat kesehatan yang
optimal (Elisabeth, 2007).
2.2 Konsep Dasar Gout Arthritis
1. Pengertian Gouth Arthritis
Penyakit asam urat atau dalam dunia medis disebut penyakit gout/
penyakit pirai (arthritis pirai) adalah senyawa nitrogen yang dihasilkan
dari proses katabolisme (pemecahan) purin baik dari diet maupun dari
asam nukleat endogen (asam deoksiribonukleat DNA). Asam urat
sebagian besar dieksresi melalu ginjal dan hanya sebagian kecil
melalui saluran cerna(Syukri, 2007).
Purin adalah zat alami yang merupakan salah satu kelompok
struktur kimia pembentuk DNA dan RNA. Ada dua sumber utama
purin, yaitu purin yang diproduksi sendiri oleh tubuh dan purin yang
didapatkan dari asupan makanan. Zat purin yang diproduksi oleh tubuh
jumlahnya mencapai 85%. Untuk mencapai 100%, tubuh manusia
hanya memerlukan asupan purin dari luar tubuh (makanan) sebesar
15%. Ketika asupan purin masuk kedalam tubuh melebihi 15%, akan
terjadi penumpukan zat purin. Akibatnya, asam urat akan ikut
menumpuk. Hal ini menimbulka risiko penyakit asam urat (Noviyanti,
2015).
Asam urat sebenarnya memiliki fungsi dalam tubuh, yaitu sebagai
antioksidan dan bermanfaat dalam regenerasi sel. Setiap peremajaan
sel, kita membutuhkan asam urat. Jika tubuh kekurangan asam urat
sebagai antioksidan maka akan banyak oksidasi atau radikal bebas
yang bisa membunuh sel-sel kita. Metabolisme tubuh secara alami
menghasilkan asam urat. Makanan yang dikonsumsi juga
menghasilkan asam urat. Asam urat menjadi masalah ketika kadar di
dalam tubuh melewati batas normal.
Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi
karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. Gout
terjadi sebagai akibat dari hiperurisemia yang berlangsung lama (asam
urat serum meningkat) disebabkan karena penumpukan purin atau
eksresi asam urat yang kurang dari ginjal. Artritis pirai adalah suatu
sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis
akut. Artritis akut disebabkan karena reaksi inflamasi jaringan
terhadap pembentukan kristal monosodium urat monohidrat (Arya,
2013).
2. Klasifikasi
Klasifikasi gout dibagi dua yaitu:
1. Gout Primer
Gout primer dipengaruhi oleh factor genetic. Terdapat
produksi/sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui
penyebabnya.
2. Gout Sekunder
Gout sekunder dapat disebabkan oleh dua hal yaitu;
a. Produksi asam urat yang berlebihan, misalnya pada:
Kelainan mieloproliferatif (polisitemia, leukemia, myeloma
retikulasi)Sindroma Lesch-Nyhan yaitu kelainan akibat
defisiensi hipoxantin guanine fosforibosil transferase yang
terjadi pada anak-anak dan pada sebagian orang dewasa
Gangguan penyimpanan glikoge. Pada pengobatan anemia
pernisiosa oleh karena maturasi sel megaloblastik menstimulasi
pengeluaran asam urat.
b. Sekresi asam urat yang berkurang misalnya pada: Kegagalan
ginjal kronik, pemakaian obat-obat salisilat, tiazid, beberapa
macam diuretic dan sulfonamide Keadaan-keadaan alkoholik,
asidosis laktik, hiperparatiroidisme dan pada miksedema
c. Obesitas (kegemukan)
d. Intoksikasi (keracunan timbal)
3. Etiologi Gout Arthritis
Menurut (Ahmad, 2011) penyebab asam urat yaitu :
a. Faktor dari luar
Penyebab asam urat yang paling utama adalah makanan atau factor
dari luar. Asam urat dapat meningkat dengan cepat antara lain
disebabkan karena nutrisi dan konsumsi makanan dengan kadar purin
tinggi.
b. Faktor dari dalam
Adapun faktor dari dalam adalah terjadinya proses penyimpangan
metabolisme yang umumnya berkaitan dengan faktor usia, dimana usia
diatas 40 tahun atau manula beresiko besar terkena asam urat. Selain
itu, asam urat bisa disebabkan oleh penyakit darah, penyakit sumsum
tulang dan polisitemia, konsumsi obat-obatan, alkohol, obesitas,
diabetes mellitus juga bisa menyebabkan asam urat.
4. Patofisiologi
Hiperurisemia (konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih
besar dari 7,0 mg/dl) dapat (tetapi tidak selalu) menyebabkan
penumpukan kristal monosodium urat. Serangan gout tampaknya
berhubungan dengan peningkatan atau penurunan mendadak kadar
asam urat serum. Kalau kristal urat mengendap dalam sebuah sendi,
respons inflamasi akan terjadi dan serangan gout dimulai. Dengan
serangan yang berulang – ulang, penumpukan kristal natrium urat yang
dinamakan tofus akan mengendap di bagian perifer tubuh seperti ibu
jari kaki, tangan dan telinga. Nefrolitiasis urat (batu ginjal) dengan
penyakit renal kronis yang terjadi sekunder akibat penumpukan urat
dapat timbul (Smeltzer, 2002).
Gambaran kristal urat dalam cairan sinovial sendi yang
asimtomatik menunjukkan bahwa faktor – faktor non-kristal mungkin
berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal monosodium urat yang
ditemukan tersalut dengan imunoglobulin yang terutama berupa IgG.
IgG akan meningkatkan fagositosis kristal dan dengan demikian
memperlihatkan aktivitas imunologik (Smeltzer, 2002).
Pada keadaan normal kadar urat serum pada laki-laki mulai
meningkat setelah pubertas. Pada perempuan kadar urat tidak
meningkat sampai setelah menopause karena estrogen meningkatkan
ekskresi asam urat melalui ginjal. Setelah menopause, kadar urat
serum meningkat seperti pada laki-laki.
Ada prevalensi familial dalam penyakit gout yang mengesankan
suatu dasar genetik dari penyakit ini. Namun, ada sejumlah faktor yang
agaknya memengaruhi timbulnya penyakit ini termasuk diet, berat
badan, dan gaya hidup.
Terdapat empat tahap perjalanan klinis dari penyakit gout yang
tidak dionati. Tahap pertama adalah hiperurisemia asimtomatik. Nilai
normal asam urat serum pada laki-laki adalah 5,1 ± 1,0 mg/dl, dan
pada perempuan adalah 4,0 ± 1,0 mg/dl. Nilai-nilai ini meningkat
sampai 9-10 mg/dl pada seseorang dengan gout. Dalam tahapan ini
pasien tidak menunjukan gejala-gejala selain dari peningkatan asam
urat serum. Hanya 20% dari pasien hiperurisemia asimtomatik yang
berlanjut menjadi serangan gout akut. Tahap kedua adalah artritis gout
akut. Pada tahap ini terjadi awitan mendadak pembengkakan dan nyeri
yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan sendi
metatarsofalangeal. Artritis bersifat monoartikular dan menunjukkan
tanda-tanda peradangan lokal. Mungkin terdapat demam dan
peningkatan jumlah leukosit. Serangan dapat dipicu oleh pembedahan,
trauma, obat-obatan (diuretik), alkohol, atu stres emosional. Tahap ini
biasanya mendorong pasien untuk mencari pengobatan segera. Sendi-
sendi lainnya juga dapat terserang, termasuk sendi jari-jari tangan,
lutut, mata kaki, pergelangan tangan, dan siku. Serangan gout akut
biasanya pulih tanpa pengobatan, tetapi dapat memakan waktu 10-14
hari.
Tahap ketiga setelah serangan gout akut, adalah tahap interktiris.
Tidak dapat gejala-gejala pada masa ini, yang dapat berlangsung dari
beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan
gout berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
Tahap keempat adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam
urat yang terus bertambah dalam beberapa tahun jika pengobatan tidak
dimulai. Peradangan kronik akibat kristal-kristal asam urat
mengakibatkan nyeri, sakit, dan kaku, pembesaran dan penonjolan
sendi yang bengkak. Serangan akut artritis gout dapat terjadi dalam
tahap ini.
Gout dapat merusak ginjal, sehingga ekskresi asam urat akan
bertambah buruk. Kristal-kristal asam urat dapat terbentuk dalam
interstitum medula, papila, dan piramid, sehingga timbul proteinuria
dan hipertensi ringan. Batu ginjal asma urat juga dapat terbentuk
sebagai akibat sekunder dari gout. Batu biasanya berukuran kecil,
bulat, dan tidak terlihat pada pemeriksaan radiografi (Kowalak, 2002).
5. Manifestasi Klinis Gout Arthritis
Gejala klinis dari gout athritist meliputi :
1. Akut
Serangan awal gout berupa nyeri yang berat, bengkak dan
berlangsung cepat, lebih sering di jumpai pada ibu jari kaki dan
biasanya bersifat monoartikular. Ada kalanya serangannyeri di sertai
kelelahan, sakit kepala dan demam ( Junaidi, 2006 dalam Dianati,
2015).
Serangan akut ini dilukiskan sebagai sembuh beberapa hari sampai
beberapa minggu, bila tidak terobati, rekuren yang multipel, interval
antara serangan singkat dan dapat mengenai beberapa sendi
(Tehupeiory, 2006 dalam Widyanto, 2014 ). Ketika serangan artritis
gout terjadi eritema yang luas di sekitar area sendi yang terkena dapat
terjadi. Meskipun serangan bersifat sangat nyeri biasanya dapat
sembuh sendiri dan hanya beberapa hari. Setelah serangan terdapat
interval waktu yang sifatnya asimptomatik dan disebut juga stadium
interkritikal (Sunkureddi et al, 2006 dalam Widyanto, 2014).
b. Interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana terjadi
periode interkritikal asimtomatik. Secara klinik tidak dapat ditemukan
tanda-tanda radang akut ( Junaidi, 2006 dalam Dianati, 2015). Namun
pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan
bahwa proses peradangan tetap berlanjut, walaupun tanpa keluhan.
Keadaan ini dapat terjadi satu atau beberapa kali pertahun, atau dapat
sampai 10 tahun tanpa serangan akut. Apabila tanpa penanganan yang
baik dan pengaturan asam urat yang tidak benar, maka dapat timbul
serangan akut lebih sering yang dapat mengenai beberapa sendi dan
biasanya lebih berat (Tehupeiory, 2006 dalam Widyanto, 2014)
c. Kronis
Pada gout kronis terjadi penumpukan tofi (monosodium urat)
dalam jaringan yaitu di telinga, pangkal jari dan ibu jari kaki ( Junaidi,
2006 dalam Dianati, 2015). Tofus terbentuk pada masa artritis gout
kronis akibat insolubilitas relatif asam urat. Awitan dan ukuran tofus
secara proporsional mungkin berkaitan dengan kadar asam urat serum.
Bursa olekranon, tendon achilles, permukaan ekstensor lengan bawah,
bursa infrapatelar, dan heliks telinga adalah tempat-tempat yang
sering dihinggapi tofus. Secara klinis tofus ini mungkin sulit
dibedakan dengan nodul rematik. Pada masa kini tofus jarang terlihat
dan akan menghilang dengan terapi yang tepat (Carter, 2006 dalam
Widyanto 2014).
6. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan yang paling utama untuk gout arthritis yaitu
pemeriksaan cairan sinovial. Pada pemeriksaan ini menunjukkan
adanya kristal monosodium urate (MSU). Identifikasi kristal MSU
dianggap sebagai standar emas untuk diagnosis (Saigal & Abhishek,
2015). Diagnosis dapat dikonfirmasi melalui aspirasi persendian yang
mengalami inflamasi akut atau dicurigai topus (Sholikah, 2014).
Diagnosis artritis gout dilakukan sesuai dengan kriteria dari The
American College of Rheumatology (ACR) yaitu terdapat kristal urat
dalam cairan sendi atau tofus dan/atau bila ditemukan 6 dari 12 kriteria
yaitu, Inflamasi maksimum pada hari pertama, serangan akut lebih dari
satu kali, artritis monoartikuler, sendi yang terkena berwarna
kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada sendi metatarsofalangeal,
serangan pada sendi metatarsofalangeal unilateral, adanya tofus,
hiperurisemia (kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/dl) ,
pada foto sinar-X tampak pembengkakan sendi asimetris dan kista
subkortikal tanpa erosi, dan kultur bakteri cairan sendi negatif
(Widyanto, 2014).
7. Penatalaksanaan Gout Arthritis
Penatalaksanaan keperawatan adalah kombinasi pengistirahatan
sendi dan terapi makanan/diet. Pengistirahatan sendi meliputi pasien
harus disuruh umtuk meninggikan bagian yang sakit untuk
menghindari penahanan beban dan tekanan yang berasal dari alas
tempat tidur dan memberikan kompres dingin untuk mengurangi rasa
sakit.
Terapi makanan mencakup pembatasan makanan dengan
kandungan purin yang tinggi, alkohol serta pengaturan berat badan.
Perawat harus mendorong pasien untuk minum 3 liter cairan setiap hari
untuk menghindari pembentukan calculi ginjal dan perintahkan untuk
menghindari salisilat.
Pola diet yang harus diperhatikan adalah :
1. Golongan A ( 150 - 1000 mg purin/ 100g ) :
Hati, ginjal, otak, jantung, paru, lain-lain jerohan, udang, remis,
kerang, sardin, herring, ekstrak daging, ragi (tape), alkohol,
makanan dalam kaleng.
2. Golongan B ( 50 - 100 mg purin/ 100g ) :
Ikan yang tidak termasuk gol.A, daging sapi, kacang-kacangan
kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun
singkong, daun pepaya, kangkung.
3. Golongan C ( < 50mg purin/ 100g ) :
Keju, susu, telur, sayuran lain, buah-buahan.
4. Bahan makanan yang diperbolehkan :
a. Semua bahan makanan sumber karbohidrat, kecuali havermout (
dalam jumlah terbatas).
b. Semua jenis buah-buahan.
c. Semua jenis minuman, kecuali yang mengandung alkohol.
d. Semua macam bumbu.
5. Bila kadar asam urat darah >7mg/dL dilarang mengkonsumsi bahan
makanan gol.A, sedangkan konsumsi gol.B dibatasi.
6. Batasi konsumsi lemak.
7. Banyak minum air putih.
Obat – obat penurun kadar asam urat terdiri dari :
a. Kelompok urikosurik yaitu probenesid, sulfinpirazon,
bensbromaron, azapropazon.
b. Kelompok xanthine oxydase yaitu : allopurinol. (Pudiyono, 2011).
8. Komplikasi Gout Arthritis
Menurut Rotschild (2013), komplikasi dari artritis gout meliputi
severe degenerative arthritis, infeksi sekunder, batu ginjal dan
fraktur pada sendi. Sitokin, kemokin, protease, dan oksidan yang
berperan dalam proses inflamasi akut juga berperan pada proses
inflamasi kronis sehingga menyebabkan sinovitis kronis, dekstruksi
kartilago, dan erosi tulang.
Arthritis gout telah lama diasosiasikan dengan peningkatan resiko
terjadinya batu ginjal. Penderita dengan artritis gout membentuk batu
ginjal karena urin memilki pH rendah yang mendukung terjadinya
asam urat yang tidak terlarut (Liebman et al, 2007). Terdapat tiga hal
yang signifikan kelainan pada urin yang digambarkan pada penderita
dengan uric acid nephrolithiasis yaitu hiperurikosuria (disebabkan
karena peningkatan kandungan asam urat dalam urin), rendahnya pH
(yang mana menurunkan kelarutan asam urat), dan rendahnya volume
urin (menyebabkan peningkatan konsentrasi asam urat pada urin)
(Sakhaee dan Maalouf, 2008).
BAB III
PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS

3.1 Pengkajian
1. Core/ inti komunitas
a. Histori
Histori merupakan suatu gambaran terkait sejarah yang berkaitan dengan
kondisi perkembangan suatu wilayah tertentu yang mencakup semua
komponen yang terdapat dalam wilayah tersebut termasuk di dalamnya
adalah perbatasan wilayah.
b. Demographic
Demografi berasal dari kata demos yang berarti rakyat atau penduduk dan
grafein yang berarti menulia. Jadi, demografi adalah tulisan-tulisan atau
karangan-karangan mengenai penduduk.(Mubarak Wahit dan Nurul
Chayatin 2009).
Menurut A. Guillard (1985), demografi adalah elements de statistique
humaine on demographic compares. Defenisi demografi antara lain.
1) Demografi merupakan studi ilmiah yang menyangkut masalah
kependudukan, terutama dalam kaitannya dengan jumlah, struktur dan
perkembangan suatu penduduk.
2) Demografi merupakan studi statistik dan matematis tentang besar,
komposisi, dan distribusi penduduk, serta peruban-perubahannya
sepanjang masa melalui komponen demografi, yaitu kelahiran,
kematian, perkawinan, dan mobilitas sosial.
3) Demografi merupakan studi tentang jumlah, penyebaran teritorial dan
komponen penduduk, serta perubahan-perubahan dan sebab-sebabnya.
c. Ethnicitic
Etnik adalah seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh kelompok
tertentu (kelompok etnik). Sekelompok etnik adalah sekumpulan individu
yang mempunyai budaya dan sosial yang unik serta menurunkannya
kepada generasi berikutnya. Etnik berbeda dengan ras. Ras merupakan
sistim pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik visik,
pegmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh, dan bentuk
kepala. Sedangkan budaya merupakan keyakinan dan perilaku yang
diturunkan atau yang diajarkan manusia kepada generasi berikutnya.
(Efendi ferry dan Makhfudli ,2009).
d. Values and beliefs
Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenal
apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Nilai budaya adalah
sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya baik atau
buruk. Sedangkan, norma budaya adalah aturan sosial atau patokan
perilaku yang dianggap pantas. Norma budaya merupakan sesuatu kaidah
yang memiliki sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Nilai
dan norma yang diyakini oleh individu tampak di dalam masyarakat
sebagai gaya hidup sehari-hari. (Efendi ferry dan Makhfudli ,2009).
2. Subsistem
a. Lingkungan Fisik
Perumahan : rumah yang dihuni oleh penduduk, penerangan, sirkulasi, dan
kepadatan.
b. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan yang tersedia untuk melakukan deteksi dini gangguan
atau merawat atau memantau apabila gangguan sudah terjadi
c. Ekonomi
Tingkat social ekonomi komunitas secara keseluruhan apakah sesuai
dengan upah minimum regional (UMR), dibawah UMR atau diatas UMR
sehingga upaya kesehatan yang diberikan dapat terjangkau, misalnya
anjuaran untuk konsumsi jenis makanan sesuai status ekonomi tersebut.
d. Transportasi dan Keamanan
Keamanan dan keselamatan lingkungan tempat tinggal : apakah tidak
menimbulkan stress.
e. Politik dan pemerintahan
Politik dan kebijakan pemerintah terkait dengan kesehatan : apakah cukup
menunjang sehingga memudahkan komunitas mendapat pelayanan
diberbagai bidang termasuk kesehatan.
f. Komunikasi
Sarana komunikasi apa saja yang dimanfaatkan di komuitas tersebut untuk
meningkatkan pengetahuan terkait dengan gangguan nutrisi misalnya
televisi, radio, koran atau leaf let yang diberikan kepada komunitas.
g. Education
Apakah ada sarana pendidikan yang dapat digunakan untuk meingkatkan
pengetahuan?
h. Rekreasi
Apakah tersedia sarananya, kapan saja dibuka dan apakah biayanya
terjangkau oleh komunitas. Rekreasi ini hendaknya dapat digunakan
komunitas untuk megurangi stress. ( R. Fallen & R Budi Dwi K, 2010 ).
3.2 Diagnosa Keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian yang sesuai dengan data-data yang dicari,
makakemudian dikelompokkan dan dianalisa seberapa besar stressor yang
mengancam masyarakat dan seberapa berat reaksi yang imbul pada
masyarakat tersebut. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disusun diagnose
keperawatan komunitas dimana terdiri dari : masalah kesehatan, karakteristik
populasi, dan karakteristik lingkungan. ( R. Fallen & R Budi Dwi K, 2010 ).
3.3 Rencana Keperawatan
Tahap kedua dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan
apa yang harus dilakukan untuk membantu sasaran dalam upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Langkah pertama dalam tahap
perencanaan adalah menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi
masalah yang telah ditetapkan sesuai dengan diagnose keperawatan. Dalam
menentukan tahap berikutnya yaitu rencana pelaksanaan kegiatan maka ada 2
faktor yang mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun rencana
tersebut yaitu sifat masalah dan sumber atau potensi masyarakat seperti dana,
sarana, tenaga yang tersedia.
Dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat dilakukan melalui tahapan
sebagai berikut :
a. Tahap persiapan
Dengan dilakukan pemilihan daerah yang menjadi prioritas menentukan cara
untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan bekerjasama dengan
masyarakat.
b. Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukan kelompok kerja kesehatan untuk
menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan dalam masyarakat. Kelompok
kerja kesehatan (Pokjakes) adalah suatu wadah kegiatan yang dibentuk oleh
masyarakat secara bergotong royong untuk menolong diri mereka sendiri
dalam mengenal dan memecahkan masalah atau kebutuhan kesehatan dan
kesejahteraan, meningkatkan kemampuan masyarakat berperan serta dalam
pembangunan kesehatan di wilayahya.
c. Tahap pendidikan dan latihan
1) Kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat
2) Melakukan pengkajian
3) Membuat program berdasarkan masalah atau diagnose keperawatan
4) Melatih kader
5) Keperawatan langsung terhadap individu, keluarga, dan masyarakat
d. Tahap formasi dan kepemimpinan
e. Tahap koordinasi intersektoral
f. Tahap ahkir
Dengan melakukan supervise atau kunjungan bertahap untuk mengevaluasi
serta memberikan umpan balik untuk perbaikan kegiatan kelompok kerja
kesehatan lebih lanjut. Untuk lebih singkatnya perencanaan dapat diperoleh
dengan tahapan sebagai berikut :
1) Pendidikan kesehatan tentang gangguan nutrisi
2) Demonstrasi pengolahan dan pemilihan yang baik
3) Melakukan deteksi dini tanda-tanda gangguan kurang gizi melalui
pemeriksaan fisik dan laboratorium
4) Bekerja dengan aparat Pemda setempat untuk mengamankan lingkungan
atau komunitas bila stressor dari lingkungan.
5) Rujukan ke rumah sakit bila diperlukan
3.4 Implementasi
Pada tahap ini rencana yang telah disusun dilaksanakan dengan
melibatkan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sepenuhnya dalam
mengatasi masalah kesehatan dan keperawat yang dihadapi. Hal-hal yang
yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksaan kegiatan keperawatan kesehatan
masyarakat adalah:
a. Melaksanakan kerja sama lintas program dan linytas sektoral dengan instansi
terkait
b. Mengikut sertakan partisipasi aktif individu, keluarga, masyarakat dan
kelompok dan kelompok masyarakat dalam menghatasi masalah kesehatannya.
c. Memanfaatkan potensi dan sumbar daya yang ada di masyarakat
Level pencagahan dalam pelaksanaan praktek keperawatan komunitas terdiri
atas:
1) Pencegahan primer
Pencegahan yang terjadi sebelum sakit atau ketidak fungsian dan
diaplikasikannya kedalam populasi sehat pada umumnya dan perlindungan
khusus terhadap penyakit
2) Pencegahan sekunder
Pencagahan sekunder menekankan diagnosa diri dan intervensi yang tepat
untuk menghambat proses patologis, sehingga memperpendek waktu sakit
dan tingkatb keparahan.
3) Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau terjadi ketidak mampuan
sambil stabil atau menetap, atau tidak dapat diperbaiki sama sekali.
Rehabilitasi sebagai pencegahan primer lebih dari upaya penghambat proses
penyakit sendiri, yaitu mengembalikan individu pada tingkat berfungsi yang
optoimal dari ketidak mampuannya.
3.5 Evaluasi
Evaluasi di dilakukan atas respons komunitas terhadap program
kesehatan. Hal-hal yang dievaluasi adalah masukan (input),pelaksanaan
(proses),dan akhir akhir (output).
Penilaian yang dilakukan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai
sesuai dengan perencanaan yang telah disusun semula .Ada 4 deminsi yang
perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan penilaian ,yaitu :Daya guna
,hasil guna , kelayakan ,kecukupan
Adapun dalam evaluasi difokuskan dalam :
a. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan pelaksanaan
b. Perkembangan atau kemajuan proses
c. Efensiensi biaya
d. Efektifitas kerja
e. Dampak : apakah status kesehatan meningkat/ menurun , dalam rangka waktu
berapa ?
Perubahan ini dapat diamati seperti gambar dibawah ini :

Keterangan:

= peran dari masyarakat

= Peran perawat

Pada gambar diatas dapat dijelaskan alih peran untuk mendirikan klien
dalam menanggulangi masalah kesehatan ,pada awalnya peran perawat lebih
beser dari pada klien dan berangsur-angsur peran klien lebih besar dari pada
perawat.

Tujuan akhir perawat komunitas adalah kemandirian keluarga yang terkait


lima tugas kesehatan yaitu :mengenal masalah kesehatan ,mengambil keputusan
tindakan kesehatan ,merawat anggota keluarga ,menciptakan lingkungan yang
dapat mendukung upaya peningkatan kesehatan keluarga serta menfaatkan
fasilitas pelayanaan kesehatan yang tersedia ,sedangkan pendekatan yang
digunakan adalah pemecahan masalah keperawatan yaitu melalui proses
keperawatan .
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KOMUNITAS
DENGAN GOUT ARTHRITIS

Asuhan keperawatan yang dilakukan di desa bumijaya khususnya RW 07


dengan tiga pedukuhan yang terdiri dari pedukuhan gupakan,germadang,dan
tembelang,yang dibagi menjadi 5 RT. Menggunakan pendekatan proses
keperawatan community as partner yang meliputi pengkajian status kesehatan
masyarakat, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi. Pemberian asuhan keperawatan melibatakan kader kesehatan, tokoh
masyarakat, tokoh agama, pimpinan wilayah tersebut.
4.1 PENGKAJIAN
Data inti komunitas meliputi :
1. Data Geografi
a. Lokasi
Propinsi daerah tingkat 1 : kalimantan selatan
Kabupaten / kotamadya : tanah laut
Kecamatan : pelaihari
Kelurahan : bumijaya
b. Luas Wilayah : 8,00 km2
c. Batas daerah/wilayah
Utara : kecamatan tambang ulang
Selatan : kecamatan batu amper
Barat : kecamatan takisung
Timur : kabupaten banjar
d. Keadaan tanah menurut pemanfaatannya
Semua tanah digunakan untuk pemukiman dan lingkungannya
keadaannya agak kotor
2. Data Demografi
Jumlah Penduduk : 614 jiwa
a. Berdasarkan jenis kelamin
No Jenis Kelamin Bumijaya %
1 Laki-laki 280 46
2 Perempuan 334 54
Total 614 100

Berdasarkan tabel diatas distribusi jenis kelamin, menunjukan


bahwa sebagian besar penduduk berjenis kelamin perempuan dengan
jumlah 334 orang (54%), dan laki-laki 280 0rang ( 46%). Hal ini
dikarenakan banyak laki-laki yang bekerja diluar daerah.
b. Berdasarkan kelompok usia
No Umur/ tahun Bumijaya %
1 Bayi / balita (0-5) 25 04
2 Anak – anak 75 12
3 Remaja 110 17
4 Dewasa 350 58
5 Lansia 54 09
Total 614 100
Berdasarkan tabel distribusi umur, menunjukkan bahwa kelompok
umur tertinggi yaitu dewasa berjumlah 350 orang (58%) , sedangkan
kelompok umur yang terendah adalah kelompok umur 0-5 tahun berjumlah
25 orang (04%).
3. Ethnicity
Distribusi keluarga berdasarkan ethnicity atau suku
No Suku Bumijaya %
1 Banjar 250 41
2 Jawa 230 37
3 Bugis 65 10
4 Dayak 69 12
Total 614 100
Berdasarkan hasil wawancara masyarakat bumijaya menunjukkan bahwa
suku banjar 250 orang (41%), Jawa 230 orang (37%), Bugis 65 orang (10%) dan
suku dayak 69 orang (12%).
4. Berdasarkan agama
Distribusi penduduk berdasarkan agama
No Agama Bumijaya %
1 Islam 390 63
2 Kristen 75 12
3 Katolik 57 10
4 Hindu 42 07
5 Budha 50 08
Total 614 100

Berdasarkan hasil wawancara penduduk berdasarkan agama,


menunjukkan bahwa yang beragama islam yaitu 390 orang (63 %)
sedangkan yang beragama kristen 75 orang (12%), Katolik 57 0rang
(10%) , hindu 42 orang (0.7%), budha 50 orang (08%).
5. Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi Persen
%
1 Tidak tamat SD 86 14
2 SD 190 31
3 SMP 105 18
4 SMA 150 24
5 Tidak tamat D1,D2,D3 16 3
6 Tamat S1 35 6
7 >S1 2 1
8 Belum sekolah 25 3
Total 614 100

Berdasarkan table distribusi tingkat pendidikan terakhir diketahui bahwa


tingkat pendidikan terakhir tertinggi yaitu SD sebanyak 190 orang (31%),
sedangkan yang terendah yaitu >S1 sebanyak 2 orang (0.1%).
DS = dari hasil wawancara ternyata warga masyarakat sering mengeluh pegal-
pegal, kesemutan pada area kaki, dan warga sering mengomsumsi
makanan yang mengandung protein seperti daging, jeroan dan sayuran
seperti kacang-kacangan buncis, bersantan dan mengkomsumsi gorengan
seperti tempe goreng dan tahu goreng.
DO = Pada daerah tersebut lingkungan terlihat kumuh dan kotor ventilasi
dirumah warga terlihat kurang memadai. Terlihat saat warga membuang
sampah tidak pada tempatnya, terlihat peternakan dekat pemukiman warga
terlihat saluran pembuangan untuk BAB tidak mengalir dengan lancar
6. Data status kesehatan
a. Kesehatan ibu dan anak
Jumlah ibu hamil : 5 orang
a. Pemeriksaan kehamilan
Teratur :5 orang (100%)
Tidak teratur : - orang (0%)
b. Kelengkapan imunisasi TT
Lengkap : 23 orang ( 92%)
Belum lengkap : 2 orang (8 %)
Jumlah balita : 25 orang
c. Pemeriksaan balita ke posyandu/puskesmas
Teratur :22 orang (92%)
Tidak teratur : 3 orang (8%)
d. Kelengkapan imunisasi sesuai usia balita
Lengkap : 22 orang (92%)
Belum lengkap : 3 orang (8 %)
DS= Hasil wawancara dengan orang tua balita menyatakan imunisasi
anaknya belum lengkap (pada usia yang seharusnya sudah lengkap)
dan tidak teratur karena takut dengan efek imunisasi yaitu demam dan
merasa rumit untuk mengurus semuanya
e. Status gizi balita berdasar KMS
Garis hijau : 23 orang (92 %)
Garis kuning : 2 orang (8 %)
Garis merah : - orang (0%)
DS=Dari hasil wawancara dengan orang tua balita , mengatakan tidak
ada balita yang pernah berada di garis merah pada status gizinya
b. Keluarga berencana
2) Jumlah PUS : 110 orang
3) Keikutsertaan PUS pada program KB
Ikut program KB : 75 orang (69 %)
Belum ikut program KB : 35 orang (31 %)
4) Jenis kontrasepsi yang diikuti
IUD : 2 orang (1%)
PIL : 15 orang (14%)
Kondom : 6 orang (5%)
Suntik : 60 orang (55%)
Tdak KB : 27 orang (25%)
DS= dari hasil wawancara dengan warga, mayoritas dari PUS tidak
ikut KB karena takut dengn efek/dampak dari kontrasepsi itu sendiri.
Alasan lain karena ingin memiliki anak lagi, serta malas melakukn KB
karena merasa rumit
DO= Dari jumlah PUS tersebut 75 % kurang mengerti tentang KB dan
25 % cukup mengerti tentang KB
c. Kesehatan remaja
1) Jumlah penduduk remaja : 110 orang ( 17 %)
2) Jenis kegiatan penduduk remaja mengisi waktu luang
Kumpul-kumpul : 50 orang ( 45 %)
Kursus : 10 orang ( 11 %)
Olahraga : 20 orang ( 19%)
Remaja masjid/gereja : 15 orang (14 %)
Lain-lain { di rumah } : 10 orang ( 11 %)
d. Kesehatan lansia
1) Jumlah penduduk lansia :54 orang (0,9 %)
2) Keadaan kesehatan lansia
Ada masalah : 25 orang (46%)
HT,Gout Atritis,Jantung,
RPD : Strok,Paru-Paru
Tidak ada masalah :29 orang (53%)
e. Distribusi penyakit di masyarakat
1) Asam Urat : 23 orang (43,5%)
2) ISPA : 5 orang (11,3%)
3) Hipertensi : 21 orang (47,7%)
4) DM : 8 orang (18,18%)
5) Asma : 2 orang (4,5%)
6) Vertigo : 1 orang (2,27%)
7) Gastritis : 2 orang (4,5%)
8) Otot Dan Tulang : 11 orang (25%)
9) Hipotensi : 1 Orang (2,27%)
10) Faringitis : 1 Orang (2,27%)
11) Batu Ginjal : 2 orang (4,5%)
DS= Masyarakat yang menderita asam urat sering mengonsumsi makanan yang
mengandung protein seperti daging,jeroan,dan sayur seperti kacang-kacangan,
buncis, bersantan. Mengonsumsi gorengan seperti tempe goreng dan tahu
goreng.
D0= warga yang memiliki pengetahuan tentang asam urat sebanyak 25%
Warga yang tidak memilki cukup pengetahuan tentang asam urat
sebanyak 75%
Data Subsystem meliputi
1. Lingkungan Fisik
a. Sumber air dan air minum
a. Penyediaan air bersih
i. PAM : 137 KK(99,3%)
ii. Sumur : 1 KK(0,7%)
b. Penyediaan air minum
i. PAM : 74 KK(54,7%)
ii. Aqua : 63 KK(45,3%)
c. Pemanfaatan air minum
i. PAM :76KK (54,7%)
ii. Air minum steril :61 KK (45,3%)
d. Pengelolaan air minum
i. Selalu dimasak : 116 KK (86,1%)
ii. Kadang dimasak dimasak :15 KK (10,2%)
iii. Tidak pernah dimasak : 6 KK (3,6%)
b. Saluran pembuangan air/ sampah
1) Kebiasaan membuang sampah
Diangkut petugas : 136 KK (100%)
2) Pembuangan air limbah
Got :136 KK (100%)
3) Keadaan pembuangan air limbah
a) Meluber kemana – mana : 1 KK (0,73%)
b) Lancar : 135 KK (99,27%)
c. Kandang ternak
1) Kepemilikan kandang ternak
a) Ya : 130 KK (94,9%)
b) Tidak : 7 KK (5,1%)
2) Letak kandang ternak
Diluar rumah : 10 KK (100%)
d. Jamban
1) Kepemilikan jamban
Memiliki jamban : 136 KK (100%)
2) Macam jamban yang dimiliki
a) Septi tank :130 KK (94,2%)
b) Sumur cemplung :6 KK(5,9%)
3) Keadaan jamban
a) Bersih : 86 KK (96,4%)
b) Kotor : 50 KK (3,6%)
DS: sebagian warga membersihkan jambannya tiap seminggu sekali
4) Bila tidak mempunyai jamban berak di
a) WC umum : -KK (%)
b) Jamban tetangga : -KK (%)
c) Sungai : -KK (%)
d) Sawah : -KK (%)
e. Keadaan rumah
1) Type rumah
a) Type A (tembok) : 134 KK (97,8%)
b) Type B ( ½ tembok) : 3 KK (2,2%)
2) Status rumah
a) MIlik Rumah sendiri : 135 KK (98,5%)
b) Kontrak : 2 KK (1,5%)
3) Lantai Rumah
Tegel / semen : 137 KK (100%)
4) Ventilasi
a) Ada : 90 KK (65,69%)
b) Tidak ada : 47 KK (34,31%)
DS=hasil wawancara menunjukan bahwa sebanyak 60 % dari warga
yang memiliki ventilasi, tidak pernah membuka jendela nya
5) Luas kamar tidur
a) Memenuhi syarat :115 KK (83,9%)
b) Tidak memenuhi syarat :22 KK (16,1%)
6) Penerangan rumah oleh matahari
a) Baik : 70 KK (51,1%)
b) Cukup : 23 KK (16,79%)
c) Kurang : 44 KK (32,10%)
DO= hasil survey menunjukan bahwa sekitar 32% rumah warga
kurang pencahayaan sehingga tampak gelap dn ruangan di dalam
rumah tampak gelap
7) Halaman rumah
a) Kepemilikan pekarangan
1. Memiliki : 18 KK(13,1%)
2. Tidak memiliki : 119 KK(86,9%)
b) Pemanfaatan pekarangan
Ya : 18 KK(100%)
c) Jenis pemanfaatan pekarangan rumah
Tanaman : 18 KK(100%)
d) Keadaan pekarangan
Bersih :18 KK (100%)
2. Fasilitas Umum Dan Kesehatan
a. Fasilitas umum
1) Sarana Pendidikan Formal
a) jumlah TK : 1 Buah
b) Jumlah SD/sederajat : 1 Buah
c) Jumlah SLTP/sederajat : 1 Buah
d) Jumlah SMU/sederajat : 1 Buah
e) Jumlah PT/sederajat :1Buah
b. Fasilitas kegiatan kelompok
1) Karang taruna : 1 Kelompok
2) Pengajian : 1 Kelompok
3) Ceramah Agama : 2 X/Bulan
4) PKK : 2 X / Bulan
c. Sarana ibadah
1) Jumlah masjid :2 Buah
2) Mushola :1 Buah
3) Gereja : 1 Buah
4) Pura/vihara : 1 Buah
d. Sarana olahraga
1) Lapangan sepak bola : 3 Buah
2) Lapangan bola voli : 1 Buah
3) Lapangan bulu tangkis : 2 Buah
4) Lain-lain : - Buah
e. Fasilitas kesehatan
Jenis fasilitas kesehatan
1) Puskesmas pembantu :1 buah
Jarak dari desa : 2 Km
Puskesmas : 1 Buah
Jarak dari desa : 3 Km
Rumah sakit : 1 buah
Jarak dari desa : 5 Km
Praktek Dokter Swasta : - Buah
Praktek Bidan : 1 Buah
Praktek Kesehtan Lain : - Buah
Tukang gigi : - Buah
2) Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Puskesmas pembantu :1 Buah
Puskesmas :Buah
Rumah Sakit :Buah
Praktek Dokterwasta :Buah
Praktek Bidan :Buah
Praktek Kesehtan Lain :Buah
Tukang Gigi :Buah
3. Sosial ekonomi
a. Karakteristik pekerjaan
1) Jenis pekerjaan
a) PNS / ABRI : 11 jiwa (4,1%)
b) Pegawai swasta : 28 jiwa (12,8%)
c) Wiraswasta : 18 jiwa (7,8%)
d) Buruh tani/ pabrik : 163 jiwa (74,3%)
e) Pensiun : 4 jiwa (0,9%)
2) Status pekerjaan penduduk > 18 tahun < 65 tahun
a) Penduduk bekerja : 400 jiwa (52,9%)
b) Penduduk tidak bekerja : 214 jiwa (47,08%)
3) Pusat kegiatan ekonomi
a) pasar tradisional : 1 buah
b) Pasar swalayan : - buah
c) Pasar kelontong : - buah
4) Penghasilan rata – rata perbulan
a) <dari 450.000/bulan :7 KK(4,8%)
b) Rp450.000-Rp 600.000 :28 KK(19,0%)
c) Rp 600.000-Rp 800.000 :60 KK(40,8%)
d) >Rp 800.000/bulan :52 KK(35,4%)
5) Pengeluaran rata – rata perbulan
a) Rp150.000-Rp 300.000 :6 KK(4,5%)
b) 300.000-500.000 :23 KK(17,3%)
c) >Rp 500.000/bulan :104 KK(78,2%)
b. Kepemilikian industry
Ada
c. Jenis industri kecil
Makanan
4. Keamanan dan transportrasi
a. Keamanan
1) Sarana keamanan
a) Poskamling : 1 Buah
b) Pemadam Kebakaran : Buah
c) Instansi Polisi : 1 Buah
b. Transportasi
1) Fasilitas Tranportasi
a) Jalan raya :1000 m
b) Jalan tol :-m
c) Jalan setapak : 300 m
2) Alat transportasi yang dimiliki
a) Tidak Punya : 14 jiwa (9%)
b) Sepeda Pancal : 32 Jiwa (21,7%)
c) Mobil : 12 Jiwa (6,9%)
d) Sepeda Motor : 85 Jiwa (59,4 % )
e) Becak : 4 Jiwa (2,8%)
3) Penggunaan sarana transportasi oleh masyarakat
a) Angkutan / kendaraan umum : 13 jiwa (9,5%)
b) Kendaraan pribadi : 124 jiwa (90,5%)
5. Politik dan Pemerintahan
a. Stuktur organisasi pemerintahan
Ada
b. Kelompok pelayanan kepada masyarakat ( PKK, karang taruna, panti,
LKMD, posyandu)
Ada
c. Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan
Ada
d. Peran serta partai politik dalam pelayanan kesehatan
Tidak ada
6. Komunikasi
a. Fasilitas komunikasi yang ada di masyarakat
1) Radio : 54 jiwa (39,4%)
2) TV : 223 jiwa (94,2%)
3) Telepon :137 jiwa (100%)
4) Majalah / Koran : 35 jiwa (22,6%)
b. Teknik penyampaian komunikasi kepada masyarakat
Papan pengumuman (100%)
7. Rekreasi
a. Tempat Wisata Alam :- Buah
b. Kolam Renang :- Buah
c. Taman Kota :- Buah
d. Bioskop :- Buah

4.2 ANALISA DATA


No Data Etiologi Problem
1. DO = Pada daerah tersebut Kurang pengetahuan Resiko penyakit asam
lingkungan terlihat kumuh tentang penanganan urat di desa bumujaya
dan kotor ventilasi dirumah penyakit asam urat kecamatan pelaihari
warga terlihat kurang provinsi kalimantan
memadai. Terlihat saat selatan
warga membuang sampah
tidak pada tempatnya,
terlihat peternakan dekat
pemukiman warga terlihat
saluran pembuangan untuk
BAB tidak mengalir
dengan lancar

DS: Dari hasil wawancara dengan


warga bahwa Mayoritas
masyarakat tidak tahu tentang
penanganan penyakit asam urat

2. DO= hasil survey menunjukan bahwa Kurang pengetahuan Resiko terjadi


sekitar 32% rumah warga tentang penyakit asam peningkatan penyakit
kurang pencahayaan sehingga urat asam urat di desa
tampak gelap dn ruangan di bumujaya kecamatan
dalam rumah tampak gelap pelaihari provinsi
kalimantan selatan
DS: Dari hasil wawancara dengan
warga bahwa masyarakat yang
menderita asam urat tidak
memeriksakan / mengontrol
kesehatannya ke puskesmas

4.3 Diagnosa Keperawatan


1. Resiko penyakit asam urat di desa bumujaya kecamatan pelaihari provinsi
kalimantan selatan
2. Resiko terjadi peningkatan penyakit asam urat di desa bumujaya kecamatan
pelaihari provinsi kalimantan selatan
4.4 Penapisan Masalah
Kemungkinan
Perhatian Tingkat
Poin untuk
Masalah Kesehatan masyarakat bahaya Skor
prevalensi dikelola

1. Resiko penyakit asam 4 3 4 3 14


urat di desa bumujaya
kecamatan pelaihari
provinsi kalimantan
selatan

2. Resiko terjadi 4 4 4 3 15
peningkatan penyakit
asam urat di desa
bumujaya kecamatan
pelaihari provinsi
kalimantan selatan
BAB IV

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Gout arthitis adalah gangguan metabolisme asam urat yang
ditandai dengan hiperurisemia dan deposit kristal urat dalam jaringan
sendi, menyebabkan serangan akut. (Aru W.Sudoyo. 2009).
Gout terjadi sebagai akibat dari hiperurisemia yang berlangsung
lama (asam urat serum meningkat) disebabkan karena penumpukan purin
atau eksresi asam urat yang kurang dari ginjal. Purin adalah zat alami yang
merupakan salah satu kelompok struktur kimia pembentuk DNA dan
RNA. Ada dua sumber utama purin, yaitu purin yang diproduksi sendiri
oleh tubuh dan purin yang didapatkan dari asupan makanan. Zat purin
yang diproduksi oleh tubuh jumlahnya mencapai 85%. Untuk mencapai
100%, tubuh manusia hanya memerlukan asupan purin dari luar tubuh
(makanan) sebesar 15%. Ketika asupan purin masuk kedalam tubuh
melebihi 15%, akan terjadi penumpukan zat purin. Akibatnya, asam urat
akan ikut menumpuk. Hal ini menimbulka risiko penyakit asam urat.
(Noviyanti, 2015).
5.2 Saran
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan keluarga
melalui penyuluhan mengenai peran anggota keluarga dan perkembangan
keluarga sesuai jenjang merupakan langkah yang tepat dilakukan guna
mencapai kebutuhan kesehatan keluarga yang optimal. Upaya ini perlu
dikembangkan dan ditingkatkan, untuk itu perlu dukungan oleh pihak-pihak
yang peduli terhadap kesehatan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Arya, RK & Jain, V. 2013. Osteoarthritis of the Knee Joint. Journal Indian
Academy of Clinical Medicine. Vol 14. No 2. Page 154-162.
Ahmad, N. (2011). Cara Mencegah Dan Mengobati Asam Urat. Jakarta :
Rineka Cipta.
Clark M.J. 1999.Nursing in the community: Dimensions of community health
nursing. Standford Connecticut: Appleton & Lange.
Efendi F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
Herawati, Neni FS. 2012. Buku Panduan Praktikum Keperawatan Komunitas
I. PSIK FK UNLAM: Banjarbaru.
Hidayat AH. 2004. Pengantar Konsep Keperawatan Dasar. Salemba Medika:
Jakarta.
MubarakIW. 2009.Pengantar dan Teori Ilmu Keperawatan Komunitas 1. CV
Sagung Seto: Jakarta.
Wawan A, Dewi M. 2010. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Manusia. Nuha Medika: Yogyakarta.
Noviyanti. 2015. Hidup Sehat Tanpa Asam Urat. Yogyakarta: Notebook.
Syukri M. 2007. Asam Urat dan Hiperuresemia. Majalah Kedokteran
NusantaraVolume 40 No. 1 Maret 2007.
MK : KEPERAWATAN KOMUNITAS II
DOSEN : Dr. Hj. Rosmin Ilham, S.Kep.Ns.MM

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


DENGAN GOUT ATRHITIS

DISUSUN OLEH
KELOMPOK : IV

1. Novri Asiali
2. Novia Fernanda Moniaga
3. Nuriman Ismail
4. Nofianto
5. Moh. Sudirman Mustapa

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO
2019