Anda di halaman 1dari 22

KEMUDI REM DAN SUSPENSI

EXHAUST BRAKE & AIR SERVO BRAKE SYSTEM

Disusun Oleh :

1. Anggoro Dwipo p (16509134046)


2. Ilham David Rahmana (17509134001)
3. I Kadek Dharma Putra (17509134005)
4. Ari Setiawan (17509134017)

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Sistem rem adalah mekanisme perlambatan kecepatan kendaraan
agar laju kendaraan bisa dikendalikan. Sistem pengereman, menggunakan
prinsip perubahan energi dari energi gerak ke energi panas. Sehingga,
gerakan pada roda kendaraan bisa berkurang. sistem pengereman menjadi
salah satu komponen keselamatan aktif pada mobil dan motor.
Jenis jenis rem sendiri terdapat berbagaimacan mulai dari rem
mekanis, rem hidrolis, rem angin, dan system bantu pengereman seperti
exhaust brake (Rem Gas Buang). Rem gas buang merupakan mekanisme
bentu pengereman yang memanfaatkan tekanan gasbuang sebagai
medianya. Sedangkan rem angin merupakan system rem yang
memanfaatkan tekanan udara dari kompresor sebagai tenaga
pengeremannya biasanya digunakan pada kendaraan-kendaraan besar.
Pada keseempatan kali ini kami akan membahas mengenai dua system
rem tersebut.
1.2. Rumusan masalah
1. Apakah perbedaan rem udara dan rem gas buang dengan system rem
lainnya.?
2. Apa saja komponen dalam system rem gas buang dan rem angin ?
3. Bagaimanakah fungsi dari masing-masing komponen terhadap system
rem
4. Bagaimanakah cara kerja dari system rem gas buang dan system rem
angin.?
5. Bagaimana karakteristik dari rem gasbuang dan rem angin.?

1.3. Tujuan
1. Dapat mengetahui perbedaan dari rem udara dan gas buang dengan
system rem lainnya.
2. Dapat mengetahui apa saja komponen dalam system rem gas buang
dan rem angin ?
3. Dapat mengetahui bagaimana fungsi dari masing-masing komponen
terhadap system rem
4. Dapat mengerti cara kerja dari system rem gas buang dan system rem
angin.?
5. mengetahui karakteristik dari rem gasbuang dan rem angin.?
BAB II
DASAR TEORI

Komponen-komponen dasar yang biasa digunakan pada sistem rem


udara truk dan bus, bekerja dengan cara yang sama seperti dalam gerbong
kereta. Pengoprasiannya menggunakan prinsip katup 3/2, dimana udara
bertekanan di dalam pipa-pipa rem atau jalur udara pada rangkaian sistem
rem diatur untuk pengoprasian rem. Hampir semua kendaraan yang
dilengkapi dengan rem udara memiliki sistem kendali yang berfungsi untuk
menjaga peningkatan dan penurunan tekanan udara pada sistem rem.

Gambar. 1 Rangkaian sistem rem udara


2.1 Komponen-komponen Dasar Sistem Rem Angin :
a. Air compressor : Untuk mengkompresikan udara, sehingga udara tersebut
menjadi bertekanan.

Gambar .2 Kompresor udara


b. Air compressor governor: Untuk mengontrol tekanan udara di dalam
reservoir supaya tidak melebihi batas kemampuan tanki yang telah ditentukan
(150 psi)

Gambar. 3 Governor
c. Air reservoir tank: Tempat untuk menyimpan udara bertekanan yang akan
digunakan oleh sistem pengereman

Gambar. 4 Air reservoir tank


d. Air dryer : Untuk menjamin kebersihan udara supaya udara yang dialirkan
dalam system adalah udara murni (tidak mengandung uap air).

Gambar. 5 Air dryer


e. Foot valve (pedal rem): Katup control untuk mengoprasikan system rem
Ketika udara dilepaskan dari reservoir tank
Gambar. 6 Foot valve (pedal rem)
f. Brake chamber : Menerima tekanan udara dan mendorong mekanisme rem
pada drum brake.

Gambar. 7 Brake chamber


g. Brake room : Sebuah drum brake yang didalamnya terdapat mekanisme rem,
sebuah slack adjuster dan dioprasikan dengan mekanisme cam.

Gambar. 8 Brake room


h. Slack adjuster: Sebuah lengan yang menghubungkan batang pendorong
pada s-cam untuk mengatur jarak antara sepatu rem.

Gambar. 9 Slack adjuster


i. Brake S-cam: Cam berbentuk S yang mendorong sepatu rem sehingga
bersinggungan dengan drum brake.

Gambar. 10 S-cam
j. Brake shoes : Sepatu dengan lapisan yang menyebabkan gesekan terhadap
drum rem.

Gambar. 11 Brake shoes (sepatu rem)


k. Return spring : Sebuah pegas kaku terhubung ke masing-masing sepatu rem
yang mengembalikan sepatu ke posisi semula.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Sistem Rem Udara
Rem udara adalah sistem rem yang pengoperasiannya menggunakan
udara yang bertekanan dimana rem ini memanfaatkan energi udara bertekanan
untuk menjalankan sistem pengereman. Awalnya sistem rem ini
dikembangkan dan digunakan pada kereta api, untuk menggantikan sistem
rem mekanik secara individu, yang artinya satu tuas hanya untuk mengerem
satu roda.
Dengan diciptakannya sistem rem udara ini kita hanya perlu menekan
satu tombol atau pedal untuk membuka katup-katup agar udara bertekanan
mengalir pada sistem rem ini sehingga brake chamber mengaktifkan brake
house, sampai terjadi proses pengereman. Intinya dengan menggunakan energi
sekecil mungkin kita dapat melakukan pengereman untuk daya besar dengan
bantuan udara bertekanan
Supaya saat pengereman tidak mengeluarkan tenaga yang besar, maka
dibuatlah suatu sistem pengereman yang memakai tenaga tekanan
udara,sistem ini disebut sistem rem tekanan udara atau lebih dikenal rem udara
atau rem pneumatik. Sistem rem udara dilengkapi dengan sebuah kompresor,
gunanya untuk menghasilkan udara kompresi. Kompresor itu digerakkan oleh
mesin kendaraan. Tiap-tiap roda dilengkapi dengan pesawat rem mekanik,
poros rem dilengkapi dengan tuas yang berhubungan dengan batang torak dari
silinder-silinder udara. Didalam silinder udara tidak diperkenankan ada
kebocoran, kebocoran udara dapat mengakibatkan berkurangnya daya
pengereman.
Ada dua jenis rem angin
1. Combine air brake
Sistem ini menggunakan tenaga hidraulis untuk menekan
kampas rem, tapi terdapat tenaga angin yang menekan hidaulis itu.
2. Full air brake
Pada FAB rem tidak lagi menyertakan komponen hidaulik pada
pengoperasiannya. Sistem ini langsung menggunakan udara
bertekanan tinggi.
B. Cara Kerja
1. Cara Kerja Saat Pengereman
Udara dipompa / dikompresikan oleh kompresor kemudian
disalurkan ke tangki udara yang dilengkapi dengan katup pengaman
tekanan lebih. Governor mengontrol tekanan tekanan dalam tangki
dengan mengontrol kompresor. Udara bertekanan dari tangki disalurkan
melalui foot valve dan selalu terjaga sampai pengereman terjadi.
Ketika pedal rem diinjak, foot valve akan terbuka dan
mengalirkan udara bertekanan ke brake chamber depan dan belakang.
Push rod brake chamber akan terdorong dan menggerakkan slack
adjuster. Slack adjuster akan memutarkan cam “S” dan mengembangkan
kanvas rem sehingga bergesekan dengan tromol. Karena gesekan ini lah
putaran roda dapat dihentikan. Ketika peda rem dibebaskan, udara dari
brake chamber akan dibebaskan melalui katup pada foot valve.
2. Cara kerja rem parkir
Rem parkir tipe pegas disertakan dalam mekanisme rem angin
untuk menjamin rem parkir bekerja dengan aman. Pada saat
pengereman, rem ditahan oleh pegas pengembali dan tekanan udara. Rem
parkir tipe pegas diaplikasikan tanpa tekanan udara. Parking brake
chamber diaplikasikan bersama dengan brake chamber dan
pengoperasiannya menggunakan penghubung yang sama. Oleh karena
ituk, efektifitas rrem parkir tergantung juga pada penyetelan rem.
Sebuah kontrol valve dengan dioperasikan oleh tombol pada kabin
memungkinkan pengemudi untuk membebaskan rem parkir atau
mengoperasikan rem parkir. Sistem ini juga berperan sebagai rem
darurat. Kehilangan udara dari sistem utama secara otomatis akan
mengaktifkan rem tergantung bagaimana sistem pemipaan yang
digunakan.
Selama pengendaraan normal, tekanan udara berada mengelilingi
pegas, menahan pegas lainya sebagai tenaga darurat ketika terjadi kondisi
darurat.

Gambar. 12 Kondisi sebelum tertekan


Selama operasi normal, pegas rem tidak dimanfaatkan. Tekanan
udara menjaga kedudukan pegas tetap tertekan.

Gambar. 13 Kondisi saat tertekan


Aplikasi dash control valve mengeluarkan udara dari ruang pegas
brake chamber sehingga mengakitakan gaya dari pegas aktif dan
melakukan operasi pengereman darurat.
C. Keuntungan pemakaian rem udara :
1. Merupakan media/fluida kerja yang mudah didapat dan mudah
diangkut.
a. Udara tersedia dimana saja dalam jumlah yang tak terhingga.
b. Saluran-saluran balik tidak diperlukan karena udara bekas dapat
dibuang bebas ke atmosfer, sistem elektrik dan hidrolik
memerlukan saluran balik.
c. Udara bertekanan dapat dialirkan dengan mudah melalui saluran-
saluran dengan jarak yang panjang, jadi pembuangan udara
bertekanan dapat dipusatkan. Dalam satu sumber tekanan, udara
pada setiap cabang yang belum melalui penampang mempunyai
tekanan udara yang sama. Melalui saluran-saluran cabang dan
pipa-pipa selang, energi udara bertekanan dapat disalurkan
kemana saja dalam sistem rem tersebut.
2. Dapat disimpan dengan mudah
Sumber udara bertekanan ( kompresor ) hanya menyalurkan udara
bertekanan sewaktu udara bertekanan ini perlu digunakan. Jadi
kompresor tidak perlu bekerja seperti halnya pada pompa peralatan
hidrolik.
3. Bersih dan kering
a. Udara bertekanan yang digunakan adalah udara bersih. Kalau
ada kebocoran pada saluran pipa, benda-benda kerja maupun
bahan-bahan disekelilingnya tidak akan menjadi kotor.
b. Udara bertekanan yang digunakan juga merupakan udara
kering, sehingga tidak menimbulkan korosi pada saluran-
saluran yang terbuat dari logam
4. Tidak peka terhadap suhu
a. Udara bersih ( tanpa uap air ) dapat digunakan sepenuhnya
pada suhu-suhu yang tinggi atau pada suhu rendah, jauh di
bawah titik beku
b. Udara bertekanan juga dapat digunakan pada tempat-tempat
yang sangat panas, misalnya untuk digunakan pada tempa
tekan, pintu-pintu dapur pijar, dapur pengerasan atau dapur
lumer.
c. Peralatan-peralatan atau saluran-saluran pipa dapat digunakan
secara aman dalam lingkungan yang panas sekali, misalnya
pada industri-industri baja atau bengkel-bengkel tuang ( cor ).
5. Aman terhadap kebakaran dan ledakan
a. Keamanan kerja serta produksi besar dari udara bertekanan
tidak mengandung bahaya kebakaran maupun ledakan.
b. Dalam ruang-ruang dengan resiko timbulnya kebakaran atau
ledakan atau gas-gas yang dapat meledak dapat dibebaskan,
alat-alat pneumatik dapat digunakan tanpa dibutuhkan
pengamanan yang mahal dan luas. Dalam ruang seperti itu
kendali elektrik dalam banyak hal tidak diinginkan.
6. Tidak diperlukan pendinginan fluida kerja
Pembawa energi ( udara bertekanan ) tidak perlu diganti
sehingga untuk ini tidak dibutuhkan biaya. Minyak setidak-tidaknya
harus diganti setelah 100 sampai 125 jam kerja.
7. Mudah Pemeliharan
a. Karena konstruksi sederhana, peralatan-peralatan udara
bertekanan hampir tidak peka gangguan.
b. Gerakan-gerakan lurus dilaksanakan secara sederhana tanpa
komponen mekanik, seperti tuas-tuas, eksentrik, cakera
bubungan , pegas, poros sekrup dan roda gigi.
8. Dapat dibebani lebih
a. Alat-alat udara bertekanan dan komponen-komponen berfungsi
dapat ditahan sedemikian rupa hingga berhenti. Dengan cara
ini komponen-komponen akan aman terhadap pembebanan
lebih. Komponen-komponen ini juga dapat di rem sampai
keadaan berhenti tanpa kerugian.
b. Pada pembebanan lebih alat-alat udara bertekanan memang
akan berhenti, tetapi tidak akan mengalami kerusakan. Alat-
alat listrik terbakar pada pembebanan lebih.
c. Suatu jaringan udara bertekanan dapat diberi beban lebih tanpa
rusak.
D. Kekurangan sistem Rem Angin
1. Rentan terhadap cuaca
Saat suhu udara cukup dingin atau di bawah titik beku, udara
yang ada pada sistem rem bisa saja berembun atau bahkan membeku
dan membuat sistem rem terganggu.
Namun sistem rem angin teknologi terbaru sudah
mengantisipasi hal ini dengan melengkapi heated air dryers untuk
mengatasi hal ini. Dan pada daerah tropis, tentu ini bukanlah menjadi
masalah serius.
2. Sulit mendeteksi kebocoran
Saat terjadi kebocoran pada sistem, akan sulit mendeteksinya
karena kebocoran angin tidak meninggalkan bekas atau sedikit sekali
jejak yang bisa di tandai.
Tidak seperti pada sistem hidrolik, kebocoran minyak rem pada
sistem tentu akan mudah di deteksi karena bisa terlihat dengan kasat
mata rembesan minyak rem di sekitar area yang bocor.
3. Berisik
Pada saat pengereman, pedal rem di tekan dan angin pun
bersirkulasi ke roda untuk mengerem, setelah pedal dilepas maka
maka angin yang mengerah ke roda tadi akan keluar ke udara bebas
melalui exhaust valve, dan proses kerja ini akan menimbulkan suara
bising.
E. Perawatan Pada Rem Angin
1. Pastikan kondisi dryer dalam kondisi normal. Kandungan air dalam
dapat mengganggu sistem. Cek selalu check valve untuk
mengetahui adanya sumbatan.
2. Lumasi seal pada brake valve dan bagian yang bergesekan lainnya
dengan grease.
3. Pastikan celah antara kampas rem dan tromol rem normal. Hal ini
akan mempengaruhi respon sistem rem.
F. Rem Gas Buang (Exhaust Brake)
Exhaust brake adalah rem bantuan yang diaplikasikan pada
beberapa kendaraan diesel medium seperti dan kendaraan besar seperti bus
dan truk. Pengereman jenis ini sangat membantu sekali dalam
memperlambat kendaraan, namun tidak bisa sampai kendaraan benar-
benar berhenti. Karena sistem rem jenis ini bekerja dengan menahan
putaran mesin, tidak melalui kampas rem yang menekan pada ban seperti
umumnya rem, jadi rem jenis ini berfungsi sesuai besar kecilnya rpm atau
putaran mesin, apabila rpm tinggi maka rem jenis ini
ketika diaktifkan akan menahan laju kendaraan dengan efek pengereman
yang bisa dirasakan oleh pengendaranya, semakin sedikit demi
sedikit rpm berkurang maka efek dari rem jenis ini pun berkurang.

Karena sistem rem jenis ini bekerja dengan menutup saluran


knalpot, maka kadang rem jenis ini disebut juga dengan rem knalpot, maka
gas buang akan tertahan dalam mesin yang dengan otomatis menahan
mesin untuk bekerja dan mencegah mesin untuk melakukan pembakaran
solar, sehingga putaran mesin akan tertahan dan berefek pada pelambatan
putaran ban, apabila rpm tinggi maka gas buang yang ketika itu ditahan
didalam mesin tinggi juga berdampak pada efek pengereman yang tinggi
juga, jika rpm merendah maka gas buang pun sedikit yang ditahan
berdampak pada kecilnya efek pengereman yang terjadi.

Cara mengoperasikan

1. Dengan tuas

Menarik tuas yang ada disebelah kiri steer keatas dengan tangan
kiri pengemudi, maka rem jenis ini akan berfungsi dengan syarat
posisi transmisi bukan Netral dan pedal gas tidak diinjak, dan
menonaktifkanya dengan menarik tuas kedua kalinya
sampai indikator rem exhaust brake tidak menyala, menandakan rem tidak
berfungsi.
Gambar. 14 Tuas Exhaust brake pada Hino
2. Dengan tombol
Terletak pada Dashboard, pengoprasinya pun ada dua pilihan, yang
pertama tanda I adalah apabila pengemudi menekan tanda tersebut
maka Exhaust brake selalu berfungsi secara otomatis ketika pengemudi
melepas pedal gas dan transmisi tidak netral, sedangkan tanda II adalah
apabila pengemudi mengaktifkanya maka Exhaust brake akan bekerja
bersamaan dengan diinjaknya pedal rem dibawah pengemudi
dan transmisi tidak netral.

Gambar. 15 Tombol Exhaust brake pada Bus Mercedes Benz


Prinsip kerja

Exhaust Brake bekerja dengan mengurangi kecepatan putaran


mesin dengan menutup saluran pembuangan, hal ini mengakibatkan gas
buang akan terkompresi di exhaust manifold dan ruang silinder. Secara
konstruksi, rem gas buang cukup sederhana, hanya terdapat sebuah katup
kupu-kupu yang umumnya digerakan oleh tabung selenoid bertenaga
listrik ataupun udara tekan.
Gambar. 16 Katup kupu-kupu exhaust brake

Saat rem knalpot di terapkan maka katup kupu-kupu yang


terpasang di Exhaust Manifold akan menutup saluran buang sehingga gas
sisa pembakaran tidak bisa mengalir keluar. Karena gas buang
termampatkan di saluran buang dan tidak bisa keluar maka putaran mesin
akan terhambat karena piston mendapatkan tekanan balik saat berusaha
mendorong gas sisa pembakaran keluar dari ruang silinder. Jadi prinsipnya
Exhaust Brake menciptakan Back-pressure di saluran pembuangan melalui
penambahan katup di saluran pembendung gas buang. Akhirnya mobil
kehilangan daya dorongnya dan lajunya pun berkurang. Ini seperti Engine
Brake hanya saja dengan metode yang berbeda.

Komponen rem gas buang

Untuk system bukaan rem gas buang dibagi menjadi dua jenis yautu bukaan
dengan memanfaatka kevakuman dan bukaan dengan solenoid.

1. Komponen rem gas buang tipe vakum

Gambar.17 Komponen rem gas buang tipe vakum


 Saklar utama
Untuk mengaktif dan menonaktifkan system exhaust brake.
 Exhaust brake relay
Kerja dari relay ini dipengaruhi oleh kecepatan kendaraan yang
dikirimkan dari sensor kecepatan yang dipasangkan pada
speedometer.bila kecepatan kendaraan mencapai 15km/jam
memungkinkan relay bekerja. Namun bila kecepatan kendaraan kurang
dari 10 km/jammaka exhaust brake akan bebas.
 Silinder vakum
Silinder ini berfungsi menambah tekanan balik dalam mesin dengan
cara menutup katup kupu-kupu yang terpasang pada exhause pipe, agar
exhaust brake bekerja. Bila silinder dalam keadaan vakum, maka akan
menutup katup kupu-kupu. Bila tekanan pada silinder vakum sama
dengan udara luar maka exhaust brake tidak bekerja.
 Katup solenoid
Katup solenoid bekerja berdasarkan sinyal dari exhaust brake relay.
Katup solenoid merubah kondisi kevakuman di dalam silinder dengan
cara membuka dan menutup saluran dari udara luar (tekanan atmosfer)
 Saklar akselerator
Saklar ini dipasang pada pedal gas, dan apabila saklar/pedal gas ini
ditekan maka exhaust brake tidak akan bekerja.
 Saklar kopling
Saklar ini dipasang pada pedal kopling, dan apbila saklar/pedal kopling
di tekan maka exhaust brake tidak akan bekerja.
 Saklar netral
Saklar ini dipasangkan pada transmisi, yang pada posisi netral. Apabila
transmisi pada posisi netral maka exhaust brake tidak akan bekerja.
 Exhaust brake relay & pengatur bahan bakar
Berfungsi menerima inputan dari masing-masing switch dan
mengendalikan kerja dari katup solenoid, dan menentukan pengiriman
bahan bakar yang sesuai dengan kondisi kerja kendaraan dan
mengirimkan tanda-tanda penting ke EDIC.
 lampu indicator
memberikan tanda (menyala) pada saat saklar utama ditekan pada
posisi ON.
2. Komponen rem gas buang tipe selenoid

 Exhaust brake relay


Relay ini berfungsi mengendalikan kedua solenoid sesuai dengan tanda-
tanda yang diterima dari switch dan generator.bagian utama dari relay ini
terdiri dari 4 transistor,sebuah magnet relay dana deode.
 Solenoid exhaust brake
Solenoid ini terdiri dari sebuah plunger di dalam solenoid yang berfungsi
untuk membuka atau menutup katup kupu-kupuyang diapasang pada
exhaust manifold.
 Solenoid pemutus bahan bakar (fuel cut solenoid)
Solenoid ini berfungsi memutus bahan bakar ke pomps injeksi ketika
exhaust brake bekerja
 Generator
Generator ini berbentuk generator model magnet ysng digerakkan oleh
kabel tachometer untuk mendeteksi kecepatan mesin. Kecepatan mesin di
deteksi dalam perbandingan dari satu putaran generator dengan dua
putaran mesin.
 Switch akselerator
Saklar ini dipasangkan pada pedal akselerator, saklar akan on ketika pedal
akselerator tidak di tekan.
 Saklar kopling.
Saklar ini dipasang pada pedal kopling saklar akan terputus atau posisi
OFF bila pedal kopling di tekan.
Cara kerja
1. Cara kerja rem gas buang tipe vakum

Syarat-syarat exhaust brake dapat bekerja :


 Kecepatan kendaraan harus diatas 15km/jam
 Posisi saklar netral di posisi OFF
 Posisi saklar percepatan pada kondisi ON
 Posisi saklar kopling pada kondisi ON
 Poosisi saklar utama pada kondisi ON
Apabila kelima syarat tersebut telah dipenuhi maka relay akan
memberikan sinyal kepada solenoid agar exhaust brake dapat
bekerja.selain itu relay juga memberi sinyal kepada motor pengontrol
bahan bakar dan EDIC. Namun apabila ada satu syarat saja yang tidak
terpenuhi maka exhaust brake tidak akan bekerja.

2. Cara kerja rem gas buang tipe solenoid


Syarat-syarat exhaust brake dapat bekerja :
 Putaran mesin diatas 800 rpm
 Posisi kunci kontak adalah ON
 Posisi saklar percepatan pada kondisi ON
 Posisi saklar kopling pada kondisi ON
 Poosisi saklar utama pada kondisi ON
Apabila kelima syarat tersebut telah dipenuhi maka relay akan
memberikan sinyal kepada solenoid agar exhaust brake dapat
bekerja.selain itu relay juga memberi sinyal kepada motor pengontrol
bahan bakar dan EDIC. Namun apabila ada satu syarat saja yang tidak
terpenuhi maka exhaust brake tidak akan bekerja. (GROUP, 2006)

Contoh sistem kelistrikan rem gas buang toyota truck DA


BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Rem udara adalah sistem rem yang pengoperasiannya menggunakan udara
yang bertekanan dimana rem ini memanfaatkan energi udara bertekanan
untuk menjalankan sistem pengereman.
Dengan komponen-komponen sebagai berikut :
1. Kompresor
2. Governor
3. Tanki
4. Air dryer
5. Foot valve
6. Brake camber
7. Brake room
8. Slack adjuster
9. Brake s-cam
10. Brake shoes
11. Return spring
Pengembangan sistem rem angin ini digunakan pada rem parkir yang
juga mengalpikasikan udara bertekanan yang dapat menahan push rod
yang akan menggerakan sepatu rem supaya dapat mengunci gerakan roda-
roda kendaraan.

Exhaust brake adalah rem bantuan yang diaplikasikan pada beberapa


kendaraan diesel medium seperti dan kendaraan besar seperti bus dan truk.
Pengereman jenis ini sangat membantu sekali dalam memperlambat
kendaraan, namun tidak bisa sampai kendaraan benar-benar berhenti.
Tipe exhaust brake dibagi menjadi dua, berdasarkan mekanisme
pembukaan katupnya yaitu :
1. Exhaust brake tipe vakum
2. Exhaust brake tipe electric
DAFTAR PUSTAKA
Air Brake Manual, Manitoba Public Insurance.
https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/24008/NTA1NzY=/Alat
-peraga-rem-angin-abstrak
https://www.otonao.com/2017/10/cara-kerja-exhaust-brake.html
https://www.autoexpose.org/2015/09/sistem-rem-angin-deskripsi-
dan-cara.html
Steep 2 Chasis Group [Buku] / pengar. GROUP ASTRA. - Jakarta : PT.TOYOTA-ASTRA
MOTOR, 2006. - Vol. 1.