Anda di halaman 1dari 8

Pengaruh Model Pembelajaran Probem Based Learning

untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa


(Materi Momentum dan Impuls) Kelas XI SMA SMA N 1 Jetis

Daimah
daimimahh@gmail.com

Penelitian ini bertujuan meningkatkan kreativitas siswa dengan menggunakan


model pembelajaran Problem Based Learning pada peserta didik kelas XI.
Materi ajar yang disampaikan adalah momentum dan impuls. Jenis penelitian ini
adalah eksperimen dengan subjek siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Jetis,
Yogyakarta pada tahun pelajaran 2016/2017. Data diambil melalui observasi,
dan wawancara. Pengolahan data menggunakan statistik deskriptif dan dianalisis
secara kualitatif. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa setelah
penerapan pembelajaran dengan model berbasis masalah kreativitas siswa
dalam pelajaran fisika untuk kelas eksperimen mengalami peningkatan dari
rata-rata 2,32 menjadi 3,77, sedangkan untuk kelas control mengalami
peningkatan dari 2,12 menjadi 2,19 . Hasil ini menunjukkan bahwa
pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kreativitas peserta didik
dengan baik.

Kata kunci: kreativitas, Problem Based Learning

I. PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual, mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil prestasi
belajar siswa , ada faktor interrn dari dalam diri siswa sendiri ada factor eksternal dari
luar siswa. Factor eksternal bisa berupa lingkungan, ataupun factor dari guru. Prestasi
belajar tidak hanya ditentukan dari program yang dilakukan di sekolah saja, akan tetapi
banyak sekali program kegiatan diluar sekolah yang dapat dilakukan agar suasana
belajar yang aktif dapat tercapai.
Salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah factor dari guru. Pada
saat mengajar guru, banyak sekali tantangan yang harus didhadapi seorang guru. Guru
harus bisa membuat siswa merasa senang saat pembelajaran. Apalagi untuk pelajaran
fisika, banyak sekali siswa menganggap pelajaran yang sulit. Oleh karena itu seorang
guru khususnya guru fisika harus dapat mengubah pola pikir sebagian besar anak yang
menganggap fisika adalah pelajaran yang sulit.

Momentum impuls dan tumbukan merupakan salah satu materi fisika yang dalam
penyampaiannya memerlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan

1
kreativitas siswa. Banyak konsep-konsep dalam materi ini yang bisa diaplikasikan oleh
peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara untuk mengatasi masalah
tersebut seorang guru harus dapat memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai
dengan materi yang diajarkan. Diantara model pembelajaran yang dapat membuat
siswa lebih aktif kreatif adalah Problem Based Learning (PBL). Pada model
pembelajaran ini siswa tidak hanya sekedar menerima informasi dari guru, akan tetapi
siswa dituntut menemukan solusi dari masalah yang dihadapinya. Disamping itu siswa
harus diberi kesempatan berlatih mengembangkan ketrampilan berpikir,memecahkan
masalah dan meningkatkan kreatifitasnya.

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan di kelas VII B SMP Muhammadiyah 10


Surakarta, dapat didapatkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning berbasis macromedia flash dapat meningkatkan kreativitas belajar
matematika siswa kelas VII B SMP Muhammadiyah 10 Surakarta [1].

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud melakukan penelitian pengaruh


model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan kreatifitas siswa
kelas XI SMA N 1 jetis. Harapan peneliti jika siswa merasa senang dengan penerapan
model pembelajaran ini, kreatifitas siswa meningkat dan akhirnya akan mempengaruhi
hasil prestasi belajar siswa.

II. KAJIAN PUSTAKA


Model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL) merupakan
sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual yang dapat
merangsang peserta didik untuk belajar. Sebuah kelas yang menerapkan pembelajaran
berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia
nyata (real world). Dalam model pembelajaran ini siswa tidak menerima informasi
sebanyak-banyaknya tetapi siswa dilatih mengembangkan ketrampilan berpikir dan
memecahkan sebuah masalah.proses pembelajaran pada model ini menggunakan
pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau meghadapi tantangan yang
nanti akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajarn berbasis masalah, yaitu : (1)
permasalahan sebagai kajian , (2) permasalahan sebagai penjajakan pemahaman, (3)
permasalahan sebagai contoh, (4) permasalahn sebagai bagian yang tak tak terpisahkan
dari proses, (5) permasalahan sebagai stimulus aktivitas autentik (Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan). Ada lima fase dalam model pembelajaran berbasis
masalah ini, yaitu : (1) fase 1 mengorganisasikan masalah, (2) fase 2 mengorganisasika
peserta didik, (3) membimbing penyelidikan individu dan kelompok, (4)

2
mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) menganalisa dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah.

Menurut Sanjaya (2006) Problem Based Learning memiliki 3 ciri utama, yakni:
(1) PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya kegiatan yang harus
dilakukan siswa; (2) Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan
masalah, artinya tanpa masalah maka tak mungkin ada proses pembelajaran atau

masalah merupakan kata kunci dari proses pembelajaran; dan (3) Pemecahan
masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir ilmiah. Model
pembelajaran berbasis masalah (PBL) merupakan pola pembelajaran yang
menghadapkan siswa pada masalaah nyata yang dijumpai dalam kehidupan sehari-
hari. Model pembelajaran ini dirancang untuk mengembangkan keterampilan berpikir
dan keterampilan memecahkan masalah . jadi model PBL ini tidak dirancang untuk
membantu siswa menerima informasi sebanyak-banyaknya, sedangkan tahap
pembelajaran model ini adalah sebagai berikut : (1) stimulation (stimulasi/pemberian
rangsangan), (2) problem statemen (pertanyaan/identifikasi masalah), (30 data
collection (pengumpulan data), (4) data processing (pengolahan data), (5) verification
(pembuktian), (6) generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) [4].

Model pembelajaran berbasis masalah memberi pengaruh terhadap keterampilan


berpikir tingkat tinggi siswa. Artinya dalam model pembelajaran memiliki dua
keunggulan yaitu melatih berpikir kritis dan memecahkan masalah [4]. Pencapaian
kecakapan ilmiah mahasiswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah melalui pendekatan inkuiri terbimbing lebih tinggi dibandingkan
dengan mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional [5].

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreativitas adalah kemampuan untuk


mencipta atau daya cipta. Sedangkan secara umum kreativitas dapat diartikan sebagai
kemampuan mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru untuk menyelesaikan dan
menemukan peluang. Kreatifitas merupakan tuntutan pendidikan maupun kehidupan,
karena dengan kreativitas siswa mampu menegnali potensi diriya sendiri dan dapat
memecahkan masalah yang dihadapinya. Kreativitas juga diperlukan agar terlahir
inovasi-inovasi baru dalam pendidikan maupun dalam kehidupan.

Perlu diketahui beberapa hal yang menjadi alasan mengapa kreativitas penting untuk
dikembangkan dalam diri anak, yaitu: (1) Dengan berkreasi orang dapat mewujudkan
dirinya, dan perwujudan diri termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup
manusia. 2) Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam
kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang
sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. 3) Bersibuk

3
diri secara kreatif dapat memberikan kepuasan kepada individu. 3) Kreativitaslah yang
memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.

Untuk membuat siswa jadi kreatif . seorang guru harus bisa menjadi motivator dan
fasilitator bagi siswa yang menolong untuk melakukan refleksi. diri, bermain peran,
berdiskusi kelompok, dan memecahkan masalah dalam pembelajaran.

III. METODE PENELITIAN


Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi dengan mengambil dua kelas
sebagai sampel secara purposive pada sekolah SMA Negeri 1 Jetis. Dua kela tersebut
kelas XI MIPA 1 sebagai kelas control yang diberikan model pembelajaran
konvensioanal dan kelas XI MIPA 2 sebagai kelas eksperimen yang diberikan model
pembelajaran Problem Based Learning. Ruang lingkup penelitian ini hanya dibatasi
pada hasil observasi kreativitas siswa pada materi momentum impuls dan tumbukan.

Data yang diambil dari penelitian ini berupa hasil observasi kreatifitas siswa sebelum
dan menjelang akhir diberikan perlakukan. Disamping itu juga ada angket yang harus
diisi siswa

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Untuk kelas eksperimen maupun kelas control di awal pembelajaran dilakukan
observasi untuk mengetahui tingkat kreatifitas siswa. Dari hasil nilai rata-rata pada
observasi awal kemudian dibandingkan dengan hasil nilai rata-rata dari obervasi
kreativitas di akhir pembelajaran.

Tabel 1. Hasil nilai rata- rata kreatifitas dengan model

pembelajaran Konvensional

Awal Akhir
Pembelajar Pembelajaran
n2,12 2,10

Tabel 2. Hasil nilai rata- rata kreatifitas dengan model

pembelajaran Problem Based Learning

4
Sebelum Perlakuaan Sesudah perlakuan

2.32 3,77

Data dari hasil observasi kreatifitas pada penelitian ini dianalisis secara kualitatif.
Pada kelas control yang terdiri dari 20 siswa, nilai awal observasi kreatifitas sebaesar
2,12 dan nilai akhir pembelajaran menjadi 2,19. Sedangkan untuk kelas eksperimen
yang terdiri dari 32 siswa, nilai obseervasi awal sebelum perlakuan sebesar 2,32 dan
setelah diberi perlakuan naik menjadi 3,77. Artinya dengan model pembelajaran
konvensional, ada peningkatan nilai kreatifitas sebesar 0,07 , dan untuk kelas
eksperimen dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ada
peningkatan nilai kreatifitas sebesar 1,45. Hal ini dapat diartikan bahwa hipotesis
penelitian ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Probles Based Learning
dalam meningkatkan kreatifitas belajar siswa telah terbukti.

Sesuai dengan perencanaan penelitian, bahwa pembelajaran dilakukan dalam empat


kali tatap muka. Dalam penelitian ini kelas controlnya kelas XI MIPA 1 yang berjumlah
20 siswa, sedangkan kelas eksperimen kelas XI MIPA 2 yang terdiri dari 32 siswa. Di
awal perlakuan untuk kelas control maupun kelas eksperimen dilakukan observasi
kreatiitas siswa yang dalam hal ini peneliti dibantu oleh seorang observer. Tugas
observer mengamati kreatifitas siswa saat pembelajaran berlangsung. Jumlah item yang
harus diamati observer ada 12 butir item , yang peneliti adopsi dari contoh instrumen
model pembelajaran Think Talk Write .

Model pebelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkankreatifiats siswa


dikarenakan dalam pembelajaran ini siswa diarahkan untuk memecahkan masalah, yang
mana pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan saintifik.

Pada fase pertama pembelajaran ini, yaitu fase orientase peserta didik pada masalah,
peserta didik dihadapkan pada masalah peristiwa tumbukan maupun aplikasi hukum
kekekalan momentum impuls, seperti peristiwa saat bola dijatuhkan dari atas meja, saat
ada sebuah roket yang diluncurkan dan sebagainya.

Pada fase kedua, yaitu mengorganisasikan peserta didik,peserta didik dikelompokkan


secara heterogen. Masing-masing kelompok terdiri atas empat siswa, dan setiap
kelompok mengkaji lembar kegatan tentang materi momentum, impuls dan tumbukan
serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari

Pada fase ketiga, yaitu membimbing penyelidikan individu dan kelompok. Pada fase ini
kegiatan siswa adalah (1) peserta didik diarahkan untuk bekerja kelompok, (2) setiap

5
kelompok melakukan percobaan sesuai dengan prosedur dalam Lembar Kerja ,(3) setiap
kelompok menjawab bernagai masalah yang diajukan dalam lembar kerja, Jika ada
siswa maupun kelompok siswa yang merasa kesulitan, guru membimbing siswa dalam
memecahkan masalah tersebut,baik secara klasikal maupun individual.

Pada Fase keempat, yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya kelompok
dimanfaatkan siswa untuk diskusi tentang karya yang sudah mereka buat/hasilkan.
Siswa saling bekerja sama saling berdiskusi dan memecahkan masalah jika
mendapatkan masalah baru dari hasil karya mereka. Kesempatan ini juga
dimanfaatkan untuk tukar informasi kepada kelompok lain sehingga membuat siswa
lebih aktif dalam proses pembelajaran

Pada fase kelima, yaitu menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Pada fase ini dilakukan diskusi kelas utuk menganalisis hasil pemecahan masalah dan
menyamakan persepsi tentang hukum kekekalan momentum, impuls dan tumbukan.
Pada fase ini diskusi kelas untuk menyatukan pendapat dan mempertegas konsep-
konsep yang benar yang siswa peroleh saat berdiskusi dengan klompok. Dalam fase
inipun juga tidak lepas dari bimbingan dan arahan guru untuk mengarahkan ke
kesimpulan konsep yang benar dan tepat.

Dari pembahasan tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan model Problem
Based Learning ini dapat meningkatkan kreatifitas siswa dibandingkan model
pembelajaran yang konvensioanal. Hal senada juga diungkapkan oleh dalam
penelitiannya bahwa pembelajarn dengan Problem Based Learning memilki kunggulan
positif dibandingkan dengan pembelajran konvensional [3].

V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data kualitatif pada penelitian ini diperoleh nilai rata-rata
kreatifitas untuk kelas control yang mempergunakan pembelajaran konvensional pada
saat awal pembelajaran sebesar 2,12 dan setelah akhir pembelajaran naik menjadi 2,19.
Sedangkan untuk kelas eksperimen yang mempergunakan pembelajaran PBL diperoleh
nilai ratarata kreatifitas sebesar 2,32 saat sebelum ada perlakuan dan naik menjadi 3,77
setelah ada perlakuan. Dari dari hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kreatifitas
belajar siswa kelas XI SMA N 1 Jetis

6
KEPUSTAKAAN

[1] Annisa Widyani. Peningkatan Kreativitas dan Hasil Belajar Matematika dengan
Model Pembelajaran Problem Berbasis Based Learning Berbasis Macromedia
Flash. (PTK pada Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 10 Surakarta Semester
Genap Tahun Ajaran 2014/2015).Skripsi. Universitas Muhammadiyah
Surakarta.2015
[2] BSNP.2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.Balai Pustaka.
[3] M. Ashad. S1* Muhammad Ali dkk. Pengaruh Model Pemelajara Berbasis
Masalah Terhadap Hasil Belajar Fisika Pada Siswa Kelas XI SMA N 5 Palu.
[4] Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia.2014. Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan
[5] Sanjaya W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan
Jakarta: Kencana Prenada Group.
[6] Saraswati, Eka, dkk. 2011. Problem Based Learning, Strategi Metakognisi, dan
Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa. Jurnal Tekno- Pedagogi, Vol 1,
No.2.
[7] Usman.2013.Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui
Pendekatan Inkuiri Terbimbing Dalam Pencapaian Kecakapan Ilmiah
Mahasiswa Tingkat Pertama Program Studi Pendidikan Fisika Universitas
Muhammadiyah Makassar. Jurnal Sainsmat, Halaman 65-78
Vol. II, No. 1

7
8