Anda di halaman 1dari 22

BUNGA

DI Susun oleh :
Titi Indah Sari mokodompit

PROGRAM STUDI DIII FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MUHAMMADIYAH

MANADO

2019
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum wr wb, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT


karena atas berkat dan rahmatnya sehinggah makalah yg berjudul “ BUNGA “
dapat diselesaikan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Saya selaku penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran guna
meyempurnakaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Manado, 16 januari 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................

1.1 Latar belakang .................................................................................

1.2 Rumusan masalah ............................................................................


1.3 Tujuan ..............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................

2.1 Struktur bunga .................................................................................

2.1.1 Tanaman organ bunga ............................................................

2.1.2 Sistem vascular .......................................................................

2.1.3 Daun kelopak dan daun tajuk .................................................

2.1.4 Benang sari .............................................................................

2.1.5 Dinding kelapa sari .................................................................

2.1.6 Daun buah ...............................................................................

2.1.7 Tangkai putik dan kepala putik ..............................................

2.2 Mikrosporogenesis dan megasporogenesis .....................................

2.3 Jaringan Pembuluh ..........................................................................

BAB III PENUTUP ........................................................................................

3.1 Kesimpulan .....................................................................................

3.2 Saran ................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dari waktu kewaktu, ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan semakin


berkembang dengan pesat. Banyak ilmu yang awalnya hanya memnjadi cabang,
kini telah menjadi ilmu yang berdiri sendiri salah satunya adalah ilmu morfologi
tumbuhan. Morfologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari bentuk dan susunan
tubuh tumbuhan. Morfologi tumbuhan juga menguraikan tentang fungsi masing-
masing bagian dari bentuk dan susunan tumbuhan. Salah satu bagian tumbuhan
yang dipelajari yaitu bunga yang merupakan alat perkembangbiakan (Organum
Reproductivum) bagi tumbuhan.

Pada tumbuhan, bunga hanya muncul pada fase-fase tertentu, yaitu pada fase
di mana tumbuhan akan memulai perkembangbiakan (fase reproduksi). Buah
merupakan organ tumbuhan yang terbentuk setelah bunga mengalami proses
penyerbukan. Dengan demikian, organ bunga dan buah disebut pula sebagai organ
tambahan. Bunga sebenarnya merupakan hasil dari modifikasi batang, sedangkan
buah berasal dari bakal buah yang terdapat pada bunga dan telah mengalami
pembuahan.

Jika kita memperhatikan susunan suatu bunga, mudahlah diketahui bahwa


bunga berasal dari tunas (batang dan daun-daun) yang bentuk, warna dan susunanya
disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan, sehingga pada bunga ini dapat
berlangsung penyerbukan dan pembuahan dan akhirnya dapat dihasilkan alat-alat
perkembangbiakan. Tunas yang mengalami perubahan bentuk menjadi bunga itu
biasanya batangnya terhenti pertumbuhannya, merupakan tangkai (pedicellus) dan
dasar bunga (receptaculum), sedangkan daun-daunnya sebagian tetap bersifat
seperti daun, hanya bentuk dan warnanya berubah, dan sebagian lagi mengalami
metamorfosis menjadi bagian-bagian yang memainkan peranan dalam peristiwa-
peristiwa yang akhirnya akan menghasilkan calon individu baru.

1
Ini disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh
sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan Bunga dengan ketat dikendalikan
secara genetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan lingkungan tertentu,
seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu struktur Bunga?

2. Bagaimana Jumlah dan letak bunga pada suatu tumbuhan?

3. Apa saja bagian-bagian bunga?

4. Apa kelamin bunga?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui fungsi bunga dan bagian-bagian bunga.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 STRUKTUR BUNGA

2.1.1 Tatanan Organ Bunga


Pada kelompok tumbuhan biji tertutup tertentu yang dianggap lebih primitif,
pertumbuhan terbatas kurang nyata dibanding suku yang lebih maju. Pada
kelompok primitif, aktivitas meristem apikal diperpanjang sehingga jumlah bagian-
bagian bunga relatif lebih besar dan banyak. Lagi pula bagian-bagian bunga itu
muncul pada sumbu yang agak memanjang secara akropetal dengan urutan daun
kelopak, daun mahkota, benang sari, dan daun buah. Kesamaan antara bunga dan
pucuk vegetatif tidak begitu sulit untuk menggambarkannya, khususnya bilamana
bagian-bagian bunga tersusun spiral.
Pada tipe bunga yang sangat lebih terspesialisasi, periode pertumbuhan
lebih pendek dan jumlah bagian-bagian bunga lebih kecil dan lebih terbatas. Lagi
pula pemendekan periode aktivitas meristem apikal terkait dengan perkembangan
ciri-ciri pembeda yang makin mengkaburkan dan bahkan menghilangkan bukti-
bukti kesamaan antara bunga dan pucuk vegetatif. Ciri-ciri lebih lanjut spesialisasi
yang meningkat ialah tatanan bagian-bagian bunga makin tersusun secara
berkarang (siklis) dibanding yang spiral, perlekatan antara bagian-bagian pada
lingkaran yang sama, perlekatan antara dua atau lebih dari lingkaran yang berbeda,
kehilangan bagian-bagian, zigomorf (simetri bilateral) disbanding aktinomorf

3
(simetri radial), epigen (bakal buah tenggelam) dibanding hipogen (bakal buah
menumpang).

2.1.2 Sistem Vaskular


Sistem vaskular bunga yang relatif tidak terspesialisasi dengan bakal buah
menumpang sebanding dengan yang terdapat pada pucuk vegetatif, yaitu berkas-
berkas vaskular membelok ke organ lateral dari sistem berkas sumbu. Apabila dasar
bunga memanjang, bagian-bagian bunga dapat teratur menurut pola filotaksis yang
dihubungkan dengan keteraturan yang lazim dan terdapat saling hubungan dengan
adanya lacak vaskular, sedangkan pemendekan ruas yang merupakan ciri khas
banyak bunga, penyatuan bagian-bagian bunga, bunga epigen (bakal buah
tenggelam), dan berbagai modifikasi saling hubungan antara bagian-bagian bunga,
menyebabkan sistem vaskular bunga menjadi kurang teratur dibanding yang ada
pada pucuk vegetatif dan hubungan antara sistem vaskular pada sumbu dan pada
bagian-bagian bunga kurang jelas.
Pada bunga hipogen dengan penyatuan bagian-bagian bunga yang kurang,
sistem vaskular lebih jelas yaitu ada lacak vaskular. Tangkai bunga menampilkan
daerah vaskular silindris yang mengelilingi empulur dan di sebelah luar dibatasi
korteks. Pada dasar bunga di tingkat tempat daun kelopak melekat, lacak vaskular
membelok menuju ke daun kelopak. Setiap daun kelopak mempunyai jumlah lacak
vaskular sama dengan yang terdapat di daun pucuk vegetatif pada tumbuhan yang
sama. Di atas tingkat tersebut, lacak vaskular membelok ke daun mahkota bunga,
satu atau lebih ke setiap daun tajuk pada tumbuhan dikotil, satu sampai banyak ke
setiap daun perhiasan bunga pada tumbuhan monokotil. Kemudian pada tingkat
yang lebih tinggi lagi, lacak vaskular menuju ke benang sari menjadi jelas dan
umumnya satu berkas untuk setiap benang sari, dan akhirnya adalah lacak vaskular
yang menuju ke daun buah. Jumlah lacak yang ke daun buah seringkali tiga lacak
ke setiap daun buah, satu di tengah dan dua di samping (lateral), namun ada juga
yang lebih dari tiga lacak (misalnya pada Gentianaceae). Cabang-cabang kecil
berkas vaskular daun buah sering diturunkan dari lacak lateral, cabang vaskular
kecil tersebut menghubungkan sistem vaskular pada daun buah dengan bakal biji.

4
Berkas-berkas pada tembuni mungkin juga hasil percabangan dari berkas dorsal,
seperti yang ada pada beberapa Ranales, atau independen dari lacak daun buah.
Sistem vaskular dilanjutkan ke dalam tangkai putik.
Beberapa modifikasi yang umum dalam tatanan sistem vaskular terkait
dengan fusi (peleburan) bagian-bagian bunga. Pada banyak bunga, berkas-berkas
lateral daun buah yang berdekatan melebur antara yang yang satu dengan lainnya.
Peleburan yang sama juga terjadi pada organ-organ bunga lainnya. Pereduksian
jumlah lacak dan berkas dapat juga terjadi bila beberapa diantaranya tidak
berkembang.
Sistem vaskular bunga epigen menunjukkan kerumitan tambahan
sehubungan dengan posisi dasar ginoesium. Ada anggapan bahwa ginoesium
diselubungi oleh jaringan tambahan yang tersusun dari bagian-bagian dasar daun
kelopak, daun tajuk, dan benang sari yang mengalami pertumbuhan bersama
dengan evolusi bunga. Sistem vaskular dianggap sebagai gambaran struktur
tersebut dan di tempat ini berkas-berkas vaskular yang berkenaan dengan bagian-
bagian pada lingkaran-lingkaran yang berbeda melebur secara beragam, namun
semuanya menunjukkan orientasi xilem dan floem sebagaimana lazimnya. Namun
pada beberapa bunga epigen (Calycanthaceae, Santalaceae, dan mungkin juga
Juglandaceae) sebagian bakal buah diselubungi oleh jaringan dasar bunga. Berkas
vaskular pada sumbu tidak langsung menuju ke daun buah, melainkan menjulur
dulu (dengan posisi xilem disebelah dalam floem) sampai ke tataran di bawah
pelekatan bagian-bagian bunga, dan di tempat ini lacak-lacak vaskular memisah
menuju ke bagian-bagian bunga tersebut. Berkas vaskular pokok tidak berakhir di
tempat ini, melainkan melanjutkan “perjalanannya” turun (jauh dari tepi sumbu)
dengan posisi xilem dan floem berkebalikan (yaitu xilem menjadi di sebelah luar
floem) sampai pada tataran bawah, kemudian bercabang-cabang menuju ke daun
buah. Orientasi sistem vaskular ini diinterpretasi sebagai akibat invaginasi sumbu
(sebenarnya adalah pertumbuhan interkalar jaringan yang membungkus
ginoesium).
Umumnya unsur-unsur vaskular pada berkas vaskular bunga sebanding
dengan yang ada pada daun. Jaringan terutama primer, meskipun beberapa

5
pertumbuhan sekunder dapat terjadi kemudian, selama perkembangan buah,
teristimewa di tangkai bunga. Sistem vaskular daun kelopak, daun tajuk, dan daun
buah kurang lebih seperti jarring-jaring. Benang sari jarang yang menampilkan
sistem vaskular bercabang. Ciri umum penulangan bagian-bagian perhiasan bunga
tumbuhan monokotil dan dikotil menunjukkan ciri khas yang sama sebagai yang
ada pada daun kedua kelompok tumbuhan tersebut. Bagian-bagian perhiasan bunga
pada banyak bunga menampilkan penulangan terbuka.

2.1.3 Daun Kelopak dan Daun Tajuk

Daun kelopak dan daun tajuk dalam hal bentuk dan anatominya pada dasarnya
sama dengan yang ada pada daun, namun lebih sederhana, tersusun dari parenkima
dasar (sering disebut mesofil), sistem vaskular berada di jaringan dasar, dan lapisan
epidermis pada sisi abaksial dan adaksial. Sel-sel yang mengandung kristal,
idioblas, dan latisifer mungkin terdapat pada jaringan dasar atau berhimpun dengan
unsur-unsur vaskular. Daun kelopak Geraniaceae mempunyai hipodermis
berdinding tebal dengan druse di dalam setiap selnya.
Daun kelopak biasanya berwarna hijau. Penyebaran kloroplas dalam daun
kelopak tergantung pada posisinya. Apabila daun kelopak tegak dan menempel erat
dengan daun tajuk, sebagian besar kloroplas terdapat di sebelah abaksial, apabila
daun kelopak melengkung, kloroplas paling banyak di sebelah adaksial. Mesofil
jarang berdiferensiasi menjadi parenkima palisade dan sponsa, umumnya mesofil
mempunyai struktur yang sederhana dan tersusun dari sel-sel yang kurang lebih
isodiametris yang teratur longgar menjadi jaringan lakunosa. Epidermis daun

6
kelopak memperlihatkan penimbunan kutin dan perkembangan stomata serta
trikoma yang sama dengan yang terdapat pada daun. Sistem vaskular mirip dengan
yang ada di daun namun keluasannya kurang.
Daun tajuk lebih luas keragaman bangunhya dibanding daun kelopak dan
biasanya berbeda dengan daun kelopak dalam hal warna. Sistem vaskular dapat
terdiri atas satu atau beberapa tulang besar dan sistem urat daun, biasanya urat daun
ini bercabang menggarpu. Mesofil mempunyai ketebalan beberapa sel, kecuali pada
bunga yang mempunyai mahkota bunga berdaging. Jaringan mesofil parenkimatis
dengan sel-sel yang teratur rapat atau longgar.
Epidermis daun tajuk memperlihatkan keistimewaan tertentu dalam hal
bangun sel dan struktur kutikula. Dinding antiklinal sel mungkin lurus atau
bergelombang atau berusuk secara internal. Tingkat tampilan kelokan dinding dan
rusuk dinding sangat bervariasi pada tumbuhan yang berbeda. Pada beberapa
tumbuhan dinding antiklinal bergelombang sedikit saja, sedangkan pada tumbuhan
lainnya mempunyai kelokan yang dalam sehingga sel-selnya tampak berbentuk
bintang bila diamati dari permukaan. Rusuk yang terbentuk karena pertumbuhan
dinding sel secara sentripetal yang terlokalisasi, dapat Nampak seperti kenop kecil
pada tampang irisan, atau seperti palang panjang yang lurus atau membengkok,
padat atau berongga. Tingkat penggelombangan atau perusukan dapat beragam
pada daun tajuk yang sama. Sebagai contoh, dinding antiklinal biasanya lurus pada
pangkal daun tajuk dan sepanjang tulang daun, meskipun ada yang bergelombang
di tempat lainnya. Seringkali dinding yang bergelombang terbatas pada atau lebih
nyata pada sebelah bawah.
Ruang antarsel dapat berkembang di epidermis sehubungan dengan
diferensiasi rusuk. Pada beberapa spesies kedua lapisan dinding sel yang menyusun
rusuk memisah dan ruang di antara kedua lapisan itu menjadi terisi udara. Ruang
ini terbuka ke arah dalam daun tajuk, sedangkan ke arah luar Nampak tertutup
kutikula. Dinding berusuk terdapat terutama pada tumbuhan dikotil, walaupun
dinding berusuk juga ditemukan pada beberapa anggota Liliaceae.
Dinding tangensial epidermis mungkin horizontal atau cembung. Dinding
tangensial dalam biasanyasedikit cembung, dinding luar sering sangat cembung,

7
atau mempunyai papilla satu atau lebih. Struktur papilla lebih umum pada
epidermis adaksial dibanding yang abaksial dan tidak berkembang pada pangkal
daun tajuk. Berbagai trikoma mungkin terdapat pada daun tajuk, biasanya sama
dengan yang terdapat di daun pada tumbuhan yang sama. Stomata yang terdapat
pada daun tajuk mungkin mirip dengan yang ada pada daun atau terdiferensiasi
kurang sempurna.
Kutikula pada mahkota bunga jarang halus. Umumnya bergaris-garis, dan
garis-garis itu membentuk berbagai pola pada tumbuhan yang berbeda.
Perkembangan pola-pola garis tersebut diperkirakan sebagai akibat dari dua
fenomena, yaitu pertama, suatu produksi kutin yang berlebihan untuk sementara
waktu dan penambahan ikutan dalam hal permukaan dan pelipatan kutikula, kedua,
tarikan kutikula dan orientasi lipatan-lipatan semula oleh peluasan sel.
Warna daun tajuk disebabkan oleh kromoplas atau pigmen dalam cairan sel.
Warna pigmen bisanya dimodifikasi oleh kesamaan atau komponen lain cairan sel.
Tepung sering dibentuk di dalam daun tajuk muda. Minyak yang mudah menguap
(volatil) yang menimbulkan bau harum khas suatu bunga biasanya terdapat dalam
sel-sel epidermis daun tajuk, kadang-kadang pada bagian-bagian bunga
terdiferensiasi sebagai osmofora.

2.1.4 Benang Sari

8
Tipe terkenal benang sari dengan tangkai sari berurat tulang yang ujungnya
membawa kepala sari, beruang sari empat yang berada dalam dua lobus, secara
filogenik adalah struktur yang maju. Benang sari ada yang seperti daun, misalnya
terdapat diantara tumbuhan Ranales. Tipe benang sari yang sangat primitif terdapat
misalnya pada Degeneria. Benang sari Degeneria lebar seperti daun, dan
mempunyai tiga berkas vaskular, tidak dapat dibedakan menjadi bagian-bagian
yang disebut tangkai sari, kepala sari, atau penghubung ruang sari. Keempat
kantung sari (mikrosporangium) tenggelam secara dalam di sisi abaksial benang
sari. Kantung polen terdapat diantara berkas vaskular, lateral dan median. Benang
sari seperti itu juga terdapat pada marga lainnya, misalnya Austrobaileya,
Himantandra, dan marga tertentu Magnoliaceae. Pada Magnoliaceae ditemukan
tingkat-tingkat antara dari benang sari lebar dengan tiga berkas vaskular dan
kantung polen di helaian, yaitu letak kantung polen berjarak dari tepi (seperti yang
terdapat pada Degeneria tersebut), sampai benang sari dengan kantung polen
marginal dan tangkai sari serta kepala sari yang nyata.
Pereduksian tiga berkas vaskular menjadi satu berkas vaskular nampaknya
seiring dengan pereduksian lebar sporofil, dan teristimewa modifikasi pangkal
sporofil menjadi tangkai sari. Berkas vaskular tunggal pada benang sari tersebar
luas pada tumbuhan biji tertutup. Berkas vaskular ini melintasi tangkai sari dan
dapat berakhir di pangkal kepala sari atau mungkin berlanjut ke dalam penghubung
ruang sari dan berakhir di dekat apeks. Di antara berkas vaskular dan jaringan
sporogen tidak ada unsur-unsur vaskular yang menghubungkannya, namun apabila
parenkima dasar kepala sari mengembangkan penebalan sekunder, sel-sel di sekitar
jaringan sporogen tetap berdinding tipis dan juga pita vertikal sel-sel berdinding
tipis yang disisipkan di antara berkas vaskular dan lobus kepala sari. Berkas
vaskular kepala sari dapat amfikribral pada tumbuhan dikotil, dan hanya kolateral
pada tumbuhan monokotil. Kepala sari beragam dalam bangun dan jumlah
lokulnya.
Epidermis tangkai sari mempunyai kutikula, dan pada spesies tertentu
mempunyai trikoma dan stomata yang tetap terbuka sep;erti pada hidatoda. Tangkai
sari tersusun dari parenkima dengan vakuola dan ruang antar sel yang berkembang

9
baik. Sering pigmen ada dalam cairan sel. Ukuran dan bangun luar benang sari
tumbuhan biji tertutup sangat beragam, namun umumnya kepala sari mengandung
empat kantung polen (mikrosporangium), yaitu terdapat sepasang pada dua lobus,
kedua lobus dipisahkan oleh zona jaringan steril, disebut penghubung ruang sari.
Sekat sempurna dan tak sempurna terdapat di kantung sari pada beberapa marga.
Jaringan dasar pada kepala sari dan penghubung ruang sari juga
parenkimatis, namun khususnya yang di sekitar sel-sel sporogen sangat
terspesialisasi. Jaringan terspesialisasi ini membangun lapisan-lapisan dinding atau
lapisan parietal mikrosporangium (microsporangium disebut juga sebagai lokul
kepala sari atau kantung polen).

2.1.5 Dinding Kepala Sari


Lapisan dinding kepala sari beragam dalam jumlah dan dibangun melalui
serangkaian pembelahan yang sejajar dengan tepi ruang sari. Pada Vinca rosea,
suatu ketika setelah daerah kepala sari yang berkembang menjadi nampak pada
primordia benang sari, kepala sari tetap hanya terdiri dari protoderm dan massa
meristem dasar. Semua lapisan subepidermis kepala sari muda adalah sporogen,
namun sebenarnya jaringan sporogen itu berkembang dari empat daerah sel yang
terletak di empat sudut kepala sari yang sedang berkembang. Pada setiap daerah ini
ada sederet inisial hipodermis yang membelah periklinal membventuk dua lapisan.
Lapisan dalam inisial ini membangun sel-sel sporogen primer yang melalui
pembelahan selanjutnya membentuk sel induk polen, sedangkan lapisan luar inisial
tersebut membangun sel-sel parietal primer, dan dari sel parietal primer ini dinding
kantung polen dan bagian besar tapetum berkembang, sebagai hasil pembelahan sel
secara periklinal dan antiklinal. Tapetum nampaknya berperan sebagai pemasok
makanan sel-sel induk polen dan mikrospora (serbuk sari) yang sedang
berkembang. Lapis terluar sel-sel parietal terletak tepat di bawah epidermis kepala
sari. Sebelum pelepasan serbuk ari beberapa penebalan dinding berkembang di
setiap sel lapisan ini. Akan tetapi tidak ada penebalan yang dikembangkan pada
dinding luar yang terdekat dengan epidermis. Setiap penebalan berbentuk seperti
huruf U dengan celah itu menghadap langsung ke arah epidermis. Lapisan sel ini

10
biasanya disebut endotesium dan pembukaan kantung polen dilaksanakan oleh
lapisan ini.
Mekanisme pembukaan kantung polen dapat di jelaskan sebagai berikut.
Selama dehidrasi kepala putik, endotesium kehilangan air. Karena kandungan air
sel-sel ini berkurang maka dinding setiap sel di tarik kearah pusatnya sebagai akibat
daya kohesi antara molekul-molekul air dan daya adhesi antara air dan dinding sel.
Oleh karena ketiadaan penebalan pada dinding periklinal luar maka menjadi lebih
terlipat dibanding dinding periklinal dalam dan dinding antiklinal yang telah
mengalami penebalan, dengan demikian sebagai akibat kehilangan air, sel nampak
berbangun trapesium pada irisan melintang.
Lapisan parietal yang menghadap epidermis secara ontogenetis
berhubungan dengan jaringan sporogen. Sel parietal dan sel induk polen keduanya
berasal dari sel inisial yang sama, yaitu sel arkesporial. Akan tetapi lapisan parietal
yang muncul secara internal pada kantung polen lahir dari jaringan dasar yang
berhubungan dengan sel-sel arkesporial.
Lapisan dinding terluar, yaitu endotasium, terletak di bawah epidermis,
istilah endotasium (endothecium) berasal dari kata Yunani yang berarti “sebelah
dalam” dan “kotak/bungkus”. Pada kepala sari yang terbuka pada saat dewasa
melalui celah longitudinal, endotasium umumnya mengalami penebalan sekunder
pada saat benang sari mendekati kedewasaannya. Penebalan ini terjadi pada dinding
sel antiklinal dan tangensial dalam. Pada dinding antiklinal, penebalan sekunder
sering dalam bentuk pita atau rusuk yang berorientasi tegak lurus terhadap lapisan
epidermis. Dinding sel yang menghadap jaringan sporogen dapat mempunyai
penebalan yang seragam atau tak teratur. Karena penebalan-penebalan ini maka
endotasium sering disebut lapisan berserat. Pola penebalan beragam dan dapat
bermanfaat dalam telaah taksonomi. Endotasium dapat pula mempunyai dinding
tebal yang merata. Protoplas mungkin hilang demikian lapisan sel menyelesaikan
perkembangannya, atau protoplas tetap hidup sampai polen dilepaskan. Penebalan-
penebalan dinding yang sama dengan yang terdapat pada endotasium itu dapat pula
berkembang secara umum di seluruh parenkima dasar kepala sari.

11
Bagian terdalam lapisan parietal adalah tapetum (dari bahasa Yunani yang
berarti permadani atau karpet). Sel-sel tapetum mempunyai ciri protoplas pekat dan
inti nyata. Inti tapetum memperlihatkan tingkah laku yang beragam pada tumbuhan
yang berbeda. Pada beberapa sel, inti tidak melakukan pembelahan setelah semua
sel tapetum terbentuk, pada lainnya, pembelahan inti terjadi satu kali atau lebih
tanpa diikuti oleh sitokinesis sehingga selnya menjadi berinti dua atau banyak
(Lactuca, Taraxantum). Kadang-kadang pembelahan inti tidak dilaksanakan sampai
sempurna, yaitu kromosom membelah tetapi tidak membentuk inti yang terpisah,
tingkah laku demikian ini menghasilakn inti tapetum poliploid. Lapisan tapetum
mencapai perkembangannya yang maksimum di saat pembentukan mikrospora
pada tingkat tetrad. Pada beberapa tumbuhan biji tertutup tapetum tetap sebagai
lapisan yang tidak bersambungan sampai polen masak, nampaknya berfungsi
sebagai jaringan sekretori. Namun pada kebanyakan lainnya, dinding sel
mengalami disintegrasi dan sel-sel ini kemudian tampil sebagai massa plasmodium
yang kemudian secara berangsur massa plasmodium ini mengalami disintegrasi
demikian polen berkembang.
Tapetum nampaknya terkait dengan nutrisi sel induk polen dan mikrospora
muda. Berdasar telaah ultrastruktur diduga bahwa bahan dinding luar polen (eksin)
disintesiskan di tapetum. Lapisan parietal yang berada di antara endotasium dan
tapetum sering terkoyak dan rusak, sehingga setelah pemasakan polen dan tapetum
mengalami disintegrasi maka ruang sari di sebelah luar hanya dibatasi oleh
epidermis dan endotasium saja.
Pada banyak tumbuhan pelepasan polen terjadi melalui perekahan, yaitu
pembukaan secara spontan kepala sari. Pembukaan atau stomium mungkin suatu
celah longitudinal yang terletak diantara kedua lokul polen masing-masing belahan
kepala sari. Sebelum perekahan, sekat antara kedua lokul pada lobus kepala sari
yang sama hancur. Setelah peristiwa ini maka hanya satu lapis sel, yaitu epidermis
yang memisahkan lokul dari lingkungan luar di daerah perekahan. Epidermis di
bagian tersebut terdiri atas sel-sel kecil yang istimewa dan mudah pecah apabila
polen masak. Tipe stomium yang umum lainnya berorientasi melintang di dekat
apeks lobus kepala sari. Apabila tipe stomium ini yang dibentuk, apeks masing-

12
masing lobus kepala sari memisah seperti tudung dan meninggalkan suatu pori
(perekahan porisidal, pada banyak Ericaceae, Solanum). Pori dapat juga dibentuk
di sisi lateral. Stomium yang seperti celah panjang dianggap lebih primitif
dibanding stomium yang berbentuk seperti pori. Pada spesies Senna, kepala sari
mempunyai sutura lateral yang tidak berperan sebagai stomium. Sel-sel epidermis
di sepanjang sutura ini membelah dan nampaknya berlaku sebagai sumbat.
Perekahan terjadi di puncak steril kepala sari di tempat munculnya stomium lurus
pendek. Jaringan yang terletak di antara kedua stomium dan kantung polen hancur
dan polen muncul melalui stomium itu. Pada beberapa tumbuhan, kepala sari tidak
merekah melainkan membuka melalui penyobekan-penyobekan tak teratur dan
mananggalkan fragmen-fragmen jaringan.
2.1.6 Daun Buah
Daun buah mungkin tidak layu atau tidak berlekatan dengan daun buah
lainnya dan masing-masing daun buah menjadi penyusun satu putik, suatu putik
yang tersusun dari satu daun buah saja disebut putik (ginoesium) apokarp,
sedangkan putik yang tersusun dari penyatuan lebih dari satu daun buah disebut
senokarp. Selanjutnya putik senokarp dibedakan menjadi dua tipe, yaitu putik
parakarp (apabila hanya memiliki satu ruang bakal buah) dan putik sinkarp (apabila
jumlah ruang bakal buah sebanyak daun buah penyusun putiknya). Bagian-bagian
putik terdiri atas bakal buah, tangkai putik dan kepala putik.
Dinding bakal buah kurang terdiferensiasi pada waktu sebelum dan selama
pembuahan. Dinding bakal buah terdiri atas sebagian besar parenkima dan jaringan
vaskular, epidermis berkutikula. Pada Compositae, Kristal kalsium oksalat yang
terdapat pada sel-sel dinding bakal buah berbeda-beda tergantung pada spesiesnya.
Dinding bakal buah mengalami perubahan-perubahan yang nyata selama
perkembangan buah dan kemudian dapat memperlihatkan spesialisasi yang nyata.

2.1.7 Tangkai Putik dan Kepala Putik


Tangkai putik dan kepala putik mempunyai keistimewaan secara struktural
dan fisiologis yang memungkinkan perkecambahan polen dan pertumbuhan buluh
serbuk dari kepala putik ke bakal biji. Pada kepala putik protoderm mengalami

13
diferensiasi menjadi epidermis glandular dengan sel-sel yang kaya sitoplasma,
sering berbentuk papilla dan dilapisi kutikula. Epidermis ini mengeluarkan cairan
bergula, karena itu kepala putik mempunyai struktur dan fungsi mirip kelenjar
madu. Sel-sel di bawah epidermis dapat kaya sitoplasma sebagai halnya epidermis,
dan kemudian menjadi bagian jaringan glandular tersebut. Pada banyak tumbuhan
sel-sel epidermis kepala putik berkembang menjadi rambut-rambut pendek yang
rimbun rapat (misalnya pada kacang) atau menjadi rambut-rambut panjang
bercabang-cabang (misalnya pada rerumputan dan tumbuhan lain yang
persariannya dengan bantuan angin).
Tampilan luar biasa organisasi daun buah ialah kepala putik dihubungkan
secara internal dengan bakal buah oleh suatu jaringan yang secara sitologis sama
dengan jaringan kepala putik yang glandular. Jaringan ini diinterprestasi sebagai
medium yang member kemudahan gerak maju buluh serbuk melalui tangkai putik
dan memasok makanan kepada buluh serbuk yang berkembang. Jaringan itu
biasanya disebut jaringan pengangkut, namun istilah ini mudah rancu dengan
jaringan yang mengacu pada jaringan vaskular, ada yang menggunakan nama
jaringan penerus/pengantar atau daerah pengantar polen, jaringan tersebut juga
dikenal sebagai jaringan stigmatoid, penamaan ini didasarkan pada kesamaannya
secara sitologis dan fisiologis yang mirip dengan jaringan kepala putik.
Daun buah tumbuhan dikotil yang lebih primitif tidak menunjukkan
diferensiasi menjadi jaringan kepala putik dan jaringan stigmatoid, karena
permukaan dalam daun buah terbuka dilapisi dengan rambut-rambut glandular
stigmatik. Seiring dengan peningkatan spesialisasi daun buah, yang ditandai oleh
penutupannya secara berangsur dan perkembangan tangkai putik, namun
kesinambungan jaringan stigmatik dengan tembuni di pertahankan. Permukaan
glandular internal dimodifikasi menjadi jaringan pengantar polen atau jaringan
stigmatoid.
Jaringan stigmatoid dan berkas vaskular membangun bagian-bagian yang
paling terspesialisasi pada tangkai putik. Jaringan dasar parenkimatis, epidermis
tidak menunjukkan tampilan yang istimewa. Epidermis dilapisi kutikula dan
mungkin juga mempunyai stomata.

14
2.2 Mikrosporogenesis dan megasporogenesis
Pada antera yang sedang berkembang, mikrosporangium terdiri dari sel
sporogen yang ada di dalam rongga kantung polen dan sejumlah lapisan khusus di
sebelah luarnya. Jaringan sporogen juga berasal dari sel parietal primer yang
ditemukan pada awal pembentukan antera. Sel sporogen masih dapat bermitosis
menghasilkan lebih banyak sel sporogen atau langsung menjadi sel induk
mikrospora. Meiosis terjadi dalam sel induk mikrospora, menghasilkan tetrad yang
terdiri dari empat sel mikrospora yang haploid. Di stadium ini mikrospora biasanya
berpisah, meskipun pada beberapa familia tetap bertahan sebagai tetrad. Sebelum
lepasnya polem dari antera, mikrospora mengalami mitosis, menghasilkan sel
vegetatif dan generatif. Kadang-kadang sel generative membelah, menghasilkan 2
gamet jantan.
Sebagaimana dalam mikrosporogenesis, sel sporogen primer dapat langsung, atau
melalui beberapa kali mitosis, menjadi sel induk megaspora. Sel itu mengalami
meiosis yang terdiri dari dua kali pembelahan berturut-turut, menghasilkan 4
megaspora. Pada mayoritas Angiospermae, satu megaspore menghasilkan kantung
embrio dengan mitosis lebih lanjut, sementara 3 megaspora lainnya berdegerasi.

2.3 Jaringan pembuluh


Pada kebanyakan bunga, berkas pembuluh yang menuju setiap organ
berdivergensi dari silinder pembuluh sentral, di taraf yang berbeda-beda dalam

15
bunga. Jumlah berkas pembuluh sepal dan petal amat beragam dalam berbagai
bunga, tetapi berkas itu dapat bercabang dikotom seperti pada daun. Pada stamen
biasanya hanya ada satu berkas pembuluh, namun beberapa familia memiliki ke
khasan jalan daun, yakni berjumlah 3-4 berkas per stamen, seperti pada Araceae.
Sistem pembuluh pada karpel terbagi menjadi berkas ventral yang berdivergensi ke
bakal biji, dan berkas karpel dorsal yang masuk ke dalam stilus. Jumlah berkas
pembuluh dalam stilus pada ginesium sinkarp sering merupakan indikator jumlah
karpel, meskipun kadang-kadang berkas itu bercabang atau bersatu.
1. Sepal dan petal
Baik sepal maupun petal menyerupai daun. Pada penampang melintang,
kedua bagian bunga itu terdiri dari epidermis abaksial dan adaksial yang membatasi
3 atau 4 atau kladang-kadang hingga 10 lapisan sel isodiamatris yang tak
terdiferensiasi sel memanjang disertai banyak ruang antarsel. Di dalamnya terdapat
berkas pengangkut. Misofil kurang termodifikasi dibandingkan dengan daun hijau,
namun bisa pula terdapat idioblas seperti sel berisi Kristal atau hipodermis. Sepal
biasanya berwarna hijau dan berfotosintesis, sedangkan rambut dan stomata sering
ditemukan pada sepal maupun petal.
Pada tumbuhan yang terpolinasi oleh serangga, fungsi utama korola adalah
untuk menarik serangga dan sebab itu merupakan bagian paling luas dan besar dari
bunga. Pada tumbuhan yang dipolinasi oleh angin, korela sering tereduksi atau
bahkan tak ada. Warna petal adalah akibat kromoplas yang mengandung karotenoid
dan cairan vakuola yang mungkin mengandung flavonoid, terutama antosianin, dan
berbagai kondisi pengubah seperti pH cairan vakuola. Pada Rudbeckia hirta, dasar
petal mengandung glikosida flavonol, yang menyerap cahaya ultra violet dan
membuat tempat itu dapat dibedakan sebagai “tanda nektar” bagi serangga
pollinator yang sesuai. Pada Brassicaceae, yang juga dipolinasi oleh serangga,
bunga menunjukan berbagai pola pemantulan ultra violet. Pola itu membedakan
taksa yang berkerabat dekat dan dapat bernilai diagnosik dalam taksonomi.
Dinding antiklinal dari epidermis petal dapat bergelombang atau beralur
internal. Dinding luar dapat berbentuk konveks atau berupa papila. Pada papilla
Tagetes, lapisan kutikula tebal dan membentuk lipatan.

16
2. Ginesium
Morfologi ginesium serta terminologi mengiringinya masih banyak
dipertentangkan. Yang pertama, apakah karpel suatu ‘phyllom’ berstruktur aksial
atau organ khusus yang tidak berhubungan dengan bagian lain dari bunga. Kedua,
apa makna dari penyatuan kongenital (sebelum muncul) dari sejumlah karpel, yang
dianggap terjadi jika ginesium tumbuh sebagai satu kesatuan sewaktu ontogeni.
Ketiga, yang manakah karpel dalam bunga yang berbekal buah tenggelam (inferus).

17
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Setelah tumbuhan mencapai stadium perkembangan reproduktifnya, maka
beberapa atau semua meristem apeks pucuk pada ranting berhenti
menghasilkan daun dan mulai membentuk bagian bunga.
2. Bunga merupakan bagian tumbuhan yang amat penting karena berfungsi
sebagai alat perkembangbiakan.
3. Bunga terdiri dari sejumlah bagian steril dan bagian reproduktif atau fertil
yang melekat pada sumbu, yakni dasar bunga atau reseptakulum. Bagian
sumbu yang merupakan ruas batang yang diakhiri oleh bunga dinamakan
tangkai bunga atau pedisel. Bagian steril dari bunga terdiri atas sejumlah helai
daun kelopak atau sepal dan sejumlah helai daun mahkota atau petal. Masing-
masing bagian tersebut dapat menjadi karakter khas dari suatu familia ataupun
tingkat takson di bawahnya.
4. Hasil mikrosporogenesis adalah mikrospora atau butir serbuk sari.
5. Pada kebanyakan bunga, berkas pembuluh yang menuju setiap organ
berdivergensi dari silinder pembulih sentral, di taraf yang berbeda-beda dalam
bunga.

3.2. Saran
1. Sebelum mempelajari bunga yang merupakan alat perkembangbiakan
generatif pada tumbuhan, kita harus mempelajari organ-organ utamanya
terlebih dahulu.

18
DAFTAR PUSTAKA

Setjo, Susetyoadi. 2004. Common Text Book : Anatomi Tumbuhan. Jakarta :


IMSTEP
Hidayat, Estiti B. 2005. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : Institut Teknologi
Bandung

19