Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ensefalitis adalah suatu peradangan yang menyerang otak (radang
otak) disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan parasit. Ensefalitis paling
sering disebabkan oleh infeksi virus. Paparan virus dapat terjadi melalui
percikan saluran napas, kontaminasi makanan dan minuman, gigitan nyamuk,
kutu, dan serangga lainnya serta kontak kulit. Ensefalitis adalah penyakit
dengan onset akut, gejala dapat berkembang dengan cepat dan anak-anak yang
sebelumnya sehat menjadi lemah. Selain itu, dokter bahkan mengalami
kesulitan untuk mengetahui penyebab, terapi yang tepat dan prognosis.
Ensefalitis merupakan penyakit menular pada semua umur dengan
persentase 3,2%. Sedangkan proporsi Ensefalitis merupakan penyebab
kematian bayi pada umur 29 hari-11 bulan dengan urutan ketiga yaitu dengan
persentase 9,3% setelah diare 31,4% dan pneumoni 23,8%. Proporsi
Ensefalitis penyebab kematian pada umur 1-4 tahun yaitu 8,8% dan
merupakan urutan ke-4 setelah Necroticans Entero Colitis (NEC) yaitu 10,7%.
Ensefalitis merupakan penyebab kematian pada semua umur dengan urutan
ke-17 dengan persentase 0,8% setelah malaria.
Infeksi Herpes simpleks pada susunan saraf pusat merupakan salah
satu dari infeksi virus paling berat pada otak manusia. Insidennya berkisar
antara 1 dalam 250.000 hingga 500.000 penduduk per tahun. Tanpa pemberian
anti virus yang adekuat angka kematian mencapai 70% dengan hanya 9% dari
pasien yang selamat bisa kembali berfungsi normal setelah sakit.
Manajemen ensefalitis merupakan tantangan tersendiri mengingat
cepatnya progresivitas penyakit dan kebutuhan akan perawatan intensif.
Mengingat fatalnya akibat yang ditimbulkan, berbagai konsensus sepakat
bahwa anak yang dicurigai menderita ensefalitis mesti segera mendapatkan
acyclovir intra vena bila hasil investigasi awal cairan serebro spinal (CSS) dan
pencitraan mendukung ke arah ensefalitis. Bahkan meskipun hasil
pemeriksaan mikroskopi awal CSS maupun pencitraan normal, acyclovir tetap
mesti diberikan dalam 6 jam pertama rawatan bila terdapat kecurigaan klinis
ke arah ensefalitis herpes simpleks sambil menunggu hasil konfirmasi
diagnosis lebih lanjut.
Di luar negeri hal ini tidaklah terlalu menjadi masalah mengingat
pemeriksaan Polimerase Chain Reaction (PRC) virus herpes simpleks pada
CSS yang merupakan buku emas untuk diagnosis tersedia luas. Sementara di
Indonesia, pemeriksaan PRC Herpes simpleks pada CSS belum merupakan
pemeriksaan rutin yang selalu tersedia di rumah sakit. Pemberian terapi anti
virus spesifik tanpa bukti diagnosis yang kuat juga merupakan problem
tersendiri mengingat obat ini sangat mahal.
Tingginya angka kematian pada balita yang disebabkan oleh penyakit
Ensefalitis membuat penulis tertarik untuk lebih mendalami kasus pada pasien
Ensefalitis melalui asuhan keperawatan yang penulis lakukan di Ruang Anak
RSUP Dr. M. Djamil Padang. Asuhan keperawatan yang penulis susun
berjudul “Asuhan Keperawatan Pada An. I Dengan Ensefalitis di Ruang Anak
RSUP Dr. M. Djamil Padang”.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana penatalaksaanaan Asuhan Keperawatan Pada An. I dengan
Ensefalitis di Ruang Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui penatalaksaanaan asuhan keperawatan pada
An. I dengan Ensefalitis di Ruang Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang.
2. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada kasus
Ensefalitis
2. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada kasus
Ensefalitis
3. Mampu menetapkan intervensi keperawatan pada kasus
Ensefalitis
4. Mampu memberikan implementasi keperawatan pada kasus
Ensefalitis
5. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada kasus Ensefalitis