Anda di halaman 1dari 3

AKUNTASI MANAJEMEN

Kasus 4

Pabrik ABC mempunyai beberapa devisi operasi. Divisi Y meminta kepada devisi X
untuk memasok 5.00 unit komponen β100 untuk digunakan dalam salah satu produknya.
Divisi β telah menerima tawaran dari pemasok internal untuk komponen tersebut seharga
Rp. 19.000 per unit.

Divisi X mempunyai kapasitas untuk memproduksi 25.000 unit komponen β100


setiap tahun dan berharap dapat menjual 21.000 unit komponen β100 ke konsumen luar
setahun pada harga Rp.18.000 per unit. Dalam rangka memenuhi pesanan devisi Y, devisi
X harus memotong atau mengurangi penjualan ke konsumen luar.

Biaya variabel untuk memproduksi β100 di devisi X sebesar Rp.12.000 per unit.
Biaya pengemasan dan pengiriman konsumen ke luar kota sebesar Rp.2000 per unit. Biaya
pengemasan dan pengiriman tidak akan terjadi apabila devisi X menjual produknya ke
devisi Y.

Saudara diminta untuk menghitung :

a. Devisi X
Contributions Margins (penjualan-biaya variabel)
Alternatif :
1. 21.000 x (18.000-12.000)
21.000 x 6.000 = 126.000,00
2. 5.000 x (19.000) = 95.000,00

Negosiasi devisi X dan Y

Devisi Y menhendaki 5000 unit dengan harga 126.000 per unit berarti contribution
margin per unit adalah 126.000 : 5.000 = 25,2

Dilain pihak, Divisi I dapat mentransfer 5.000 unit ke Divisi II dengan Harga
Transfer = Rp 19.000 per unit sehingga total Contribution Marginnya = 5.000 x
(Rp.19.000) = Rp 95.000 yang memang cenderung menguntungkan dirinya (Divisi
I). Karena itu, jika Divisi I diminta menjual sebanyak 5.000 unit, maka Contribution
Margin yang diharapkan Rp 95.000 atau Rp 25,2 per unit, yang berarti Harga
Transfernya (HT):

HT – Rp 100 = Rp 25,2

HT= Rp 25,2

Dengan demikian terdapat peluang Negosiasi yang kondusif bagi Divisi I dan II
jika manajemen menghendaki usulan bagian Litbang diterima, yaitu:

Divisi I menetapkan Harga Transfer – minimum = Rp25,2

Seadainya diputuskan besarnya harga Transfer Rp. 25,2, maka hal ini cukup
kondusif bagi Divisi X dan Y.

b. Harga Transfer Berdasarkan Biaya


Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka Harga Transfer dapat ditentukan
dengan jalan menetapkan harga berdasarkan biaya ditambah dengan tingkat
keuntungan tertentu, walaupun cara ini mungkin agak rumit penetapannya dan
hasilnya kurang memuaskan. Ada dua keputusan yang harus diambil dalam system
penentuan Harga Transfer berdasarkan biaya:

1. Basis Biaya (bagaimana cara menetapkan biaya-biaya)


Dasar yang umum digunakan adalah Biaya Standar. Biaya actual tidak boleh
digunakan karena ketidak efisienan pabrik akan membebani pusat laba pembeli.
Jika Biaya Standar digunakan, maka tidak perlu untuk mengembangkan insentif
untuk menetapkan standar yang ketat atau memperbaiki standar dengan
menambah fasilitas baru.

2. Tingkat laba (bagaimana cara menghitung tingkat keuntungan – Profit Mark Up).
Merupakan cara untuk memutuskan bagaimana menghitung tingkat laba.
Dasar perhitungan yang paling sederhana adalah persentase biaya. Tetapi, cara ini
memperhitungkan modal yang diperlukan. Dasar yang lebih baik adalah dengan
menghitung besarnya investasi, tetapi ada kesulitan besar dalam menghitung
besarnya investasi ini. Jika menggunakan dasar biaya historis suatu aktiva, maka
fasilitas baru yang dirancang untuk mengurangi harga secara actual dapat
meningkatkan biaya karena aktiva yang lama menjadi dinyatakan terlalu rendah
(Undervalued).
c. Jelaskan kerugian dan penetapan harga transfer dengan menggunakan negosiasi
dalam kaitannya dengan perilaku manajemen dalam organisasi dengan banyak devisi,
kekurangan :
a. Tidak dapat berjalan tanpa adanya kesepakatan dari keduabelah pihak;
b. Tidak efektif jika dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang mengambil
b. kesepakatan;
c. Sulit berjalan apabila posisi para pihak tidak seimbang;
d. Memungkinkan diadakan untuk menunda penyelesaian untuk mengetahui
informasi yang dirahasiakan lawan;
e. Dapat membuka kekuatan dan kelemahan salahsatu pihak;
f. Dapat membuat kesepakan yang kurang menguntungkan.