Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

DOKTER INTERNSIP RSUD LEUWILIANG

PERIODE JUNI 2017 – JUNI 2018

ELECTRICAL INJURY

Pembimbing :

dr. Andrian Wulur

dr. Muhammad Dzikrifishofa

Disusun oleh :

Bambang Satria

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LEUWILIANG

KABUPATEN BOGOR

2018
BAB I

PENDAHULUAN

Luka bakar listrik disebabkan oleh kontak langsung aliran listrik dengan badan,
dan sering lukanya lebih serius dari apa yang terlihat di permukaan. Tubuh manusia dapat
bertindak sebagai penghantar energi listrik dan mengakibatkan kerusakan jaringan akibat
panas yang ditimbulkannya. Antara 3% dan 5% dari rawat inap unit luka bakar
berhubungan dengan luka bakar listrik.

Luka bakar akibat listrik tegangan tinggi dihadapkan pada mortalitas yang tinggi.
Lewatnya tenaga listrik bervoltase tinggi melalui jaringan menyebabkan perubahannya
menjadi tenaga panas. Ia menimbulkan luka bakar yang tidak hanya mengenai kulit dan
jaringan subkutis, tetapi juga semua jaringan pada jalur arus listrik tersebut. Sedangkan
luka bakar akibat listrik tegangan rendah diikuti oleh kerusakan jaringan dengan
progresivitas yang berjalan lambat, namun memiliki morbiditas dan mortalitas tinggi.
Kerusakan jaringan tubuh dibedakan dalam dua golongan. Pertama, disebabkan oleh arus
listrik melalui jaringan tubuh (electrical shock) dan jenis kedua, disebabkan oleh arc
(percikan, letupan, ledakan, electrical flash) energi listrik.

Setiap luka bakar akibat sengatan listrik harus diperiksa dokter. Luka bakar akibat
listrik mungkin kelihatannya ringan, namun kerusakannya bisa sampai jauh ke dalam
jaringan bawah kulit. Arus listrik dapat menyebabkan cedera dalam tiga cara: Henti
jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik pada jantung; kerusakan otot, saraf, dan
jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh; luka bakar thermal akibat kontak dengan
sumber listrik.

Kadang-kadang sentakan akibat sengatan listrik bisa mengakibatkan orang yang


bersangkutan terlempar atau jatuh, sehingga menimbulkan patah tulang atau cedera
lainnya. Bahaya syok listrik sangat besar; tubuh penderita akan mengalami vebtricular
vibrillation, kemudian diikuti dengan kematian. Kehadiran luka bakar yang parah
(umumnya dalam tegangan tinggi cedera listrik), nekrosis miokard, tingkat cedera sistem
saraf pusat, dan kegagalan sistem organ multiple sekunder menentukan morbiditas
berikutnya dan prognosis jangka panjang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Cedera akibat Listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrikmengalir ke
dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya fungsi
suatu organ dalam. Luka bakar akibat listrik berpotensi menyebabkan kerusakan pada
kulit serta jaringan lainya termasuk saraf, tendon, dan tulang. Luka bakar akibat listrik
dapat dalam beberapa bentuk termasuk luka bakar akibat listrik itu sendiri, flash burn,
flame burn, luka bakar kontak atau kombinasi keduanya. Tubuh manusia adalah
penghantar listrik yang baik. Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat fatal.
Arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat
membakar dan menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun luka bakar listrik tampak
ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama
pada jantung, otot atau otak.
Arus listrik bisa menyebabkan terjadinya cedera melalui 3 cara:
1. Henti jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik terhadap jantung.
2. Perusakan otot, saraf dan jaringan oleh arus listrik yang melewati
tubuh.
3. Luka bakar termal akibat kontak dengan sumber listrik.

ETIOLOGI
Cedera listrik bisa terjadi akibat tersambar petir atau menyentuh kabel maupun
sesuatu yang menghantarkan listrik dari kabel yang terpasang.Cedera bisa berupa luka
bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada
1. Jenis dan kekuatan arus listrik
Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan
dengan arus bolak-balik (AC).Efek AC pada tubuh manusia sangat tergantung
kepada kecepatan berubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam satuan
siklus/detik (hertz). Arus frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari arus
frekuensi tinggi dan 3-5kali lebih berbahaya dari DC pada tegangan (voltase) dan
kekuatan ( ampere ) yang sama.DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang
kuat, yang seringkali mendorong jauh/melempar korbannya dari sumber arus. AC
sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku pada posisinya, sehingga korban tidak
dapat melepaskan genggamannya pada sumber listrik.Akibatnya korban terkena
sengatan listrik lebih lama sehingga terjadiluka bakar yang berat. Biasanya semakin
tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin besar kerusakan yang ditimbulkan
oleh kedua jenis arus listrik tersebut. Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1
miliampere (mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Pada arus serendah 60-100 mA
dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz yang mengalir melalui dada
dalam waktu sepersekian detik bisa menyebabkan irama jantung yang tidak
beraturan, yang bisa berakibat fatal. Arus bolak-balik lebih dapat menyebabkan
aritmia jantung dibanding arus searah.Arus dari AC pada100 mA dalam seperlima
detik dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel danhenti jantung. Efek yang sama
ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA. Jika arus langsung mengalir ke jantung,
misalnya melalui sebuah pacemaker, maka bisa terjadi gangguan irama jantung
meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang dari 1 mA)
2. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik.
Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau
memperlambat aliran arus listrik. Kebanyakan resistensi tubuh terpusat pada kulit
dan secara langsung tergantung kepada keadaan kulit. Resistensi kulit yang kering
dan sehat rata-rata adalah 40 kali lebih besar dari resistensi kulit yang tipis dan
lembab. Resistensi kulit yang tertusuk atau tergores atau resistensi selaput lendir
yang lembab (misalnya mulut, rektum atau vagina), hanya separuh dari resistensi
kulit utuh yang lembab. Resistensi dari kulit telapak tangan atau telapak kaki yang
tebal adalah 100 kali lebih besar dari kulit yang lebih tipis. Arus listrik banyak yang
melewati kulit, karena itu energinya banyak yang dilepaskan di permukaan. Jika
resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka bakar yang luas dapat terjadi pada titik
masuk dan keluarnya arus, disertai dengan hangusnya jaringan diantara titik masuk
dan titik keluarnya arus listrik. Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam
juga bisa mengalami luka bakar.
3. Jalur arus listrik ketika masuk ke dalam tubuh
Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala; dan
paling sering keluar dari kaki. Arus listrik yang mengalir dari lengan ke lengan atau
dari lengan ke tungkai bisa melewati jantung, karena itu lebih berbahaya daripada
arus listrik yang mengalir dari tungkai ke tanah.
Arus yang melewati kepala bisa menyebabkan:
a. Kejang.
b. Pendarahan otak.
c. Kelumpuhan pernapasan.
d. perubahan psikis (misalnya gangguan ingatan jangka pendek,
perubahan kepribadian, mudah tersinggung dan gangguan tidur).
e. irama jantung yang tidak beraturan.
f. Kerusakan pada mata bisa menyebabkan katarak.
4. Lamanya terkena arus listrik.
Semakin lama terkena listrik maka semakin banyak jumlah jaringan yang
mengalami kerusakan.Seseorang yang terkena arus listrik bisa mengalami luka
bakar yang berat.Tetapi, jika seseorang tersambar petir, jarang mengalami luka
bakar yang berat (luar maupun dalam) karena kejadiannya berlangsung sangat cepat
sehingga arus listrik cenderung melewati tubuh tanpa menyebabkan kerusakan
jaringan dalam yang luas. Meskipun demikian, sambaran petir bisa menimbulkan
koslet bpada jantung dan paru-paru dan melumpuhkannya serta bisa menyebabkan
kerusakan pada saraf atau otak

EPIDEMIOLOGI
Perawatan luka bakar mengalami perbaikan/kemajuan dalam dekade terakhir ini,
yang mengakibatkan menurunnya angka kematian akibat luka bakar. Pusat-pusat
perawatan luka bakar telah tersedia cukup baik, dengan anggota tim yang menangani luka
bakar terdiri dari berbagai disiplin yang saling bekerja sama untuk melakukan perawatan
pada klien dan keluarganya.
Di Amerika kurang lebih 2 juta penduduknya memerlukan pertolongan medik
setiap tahunnya untuk cidera yang disebabkan karena luka bakar. 70.000 diantaranya
dirawat di rumah sakit dengan cidera yang berat.Luka bakar merupakan penyebab
kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur. Laki-laki cenderung
lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama pada orang tua atau lanjut
usia ( diatas 70 th).Tiga hingga 5% dari penderita luka bakar diakibatkan oleh luka bakar
listrik. Insiden terjadinya luka bakar juga dipengaruhi oleh pekerjaan yang dimiliki oleh
seseorang.

PATOFISIOLOGI
Luka bakar listrik tidak seperti luka bakar lainnya, dimana area jaringan yang
nekrosis tampak terlihat, namun yang tampak hanyalah sedikit dari jaringan yang rusak.
Arus listrik memasuki tubuh melalui jari atau tangan dan kemudian mengalir melalui
daerah dengan resistensi terendah, seperti saraf, pembuluh darah dan otot. Kulit memiliki
resistensi yang tinggi terhadap arus listrik. Arus listrik meninggalkan tubuh melalui area
tubuh yang menempel ke bumi (grounded), biasanya adalah kaki. Panas dihasilkan
selama perpindahan arus listrik sehingga melukai jaringan. Pada keadaan ini, otot
mengalami kerusakan terparah. Pembuluh darah tetap paten, tetapi dapat mengalami
trombisis progresif dikarenakan kematian sel dan perbaikan kebocoran yang terjadi,
sehingga menyebabkan kematian jaringan akibat iskemia.
Luka bakar listrik dibagi menjadi luka tegangan tinggi dan rendah. Luka tegangan
rendah mirip dengan luka bakar akibat suhu tetapi tanpa transmisi ke jaringan yang lebih
dalam; Zona kerusakan mulai dari permukaan hingga jaringan. Biasanya tegangan yang
biasa digunakan untuk peralatan rumah tangga yang menyebabkan luka ini (110-220 V).
Tegangan ini hanya menyebabkan kerusakan lokal. Cidera yang paling parah pada luka
tegangan rendah adalah apabila anak-anak menggigit pada peralatan rumah tangga yang
beraus listrik sehingga menimbulkan luka pada mulut.
Tanda pada luka bakar listrik tegangan tinggi adalah salah satunya derajat luka
pada luka masuk dan luka keluar (entry & exit wound), serta destruksi pada jaringan
dalam yang tak terlihat. Evaluasi pertama termasuk resusitasi kardiopulmoner jika
terdapat ventrikel fibrilasi. Selanjutnya, jika EKG menunjukan keabnormalan atau
adanya riwayat sakit jantung setelah kejadian, maka monitoring lanjut diperlukan serta
penanganan farmkologi untuk disaritmianya. Monitoring ketat diperlukan selama 24 jam
pertama. Jika penderita tak menunjukkan adanya disaritmia dan EKG menunjukkan tak
ada riwayat sakit jantung, maka monitoring dapat dihentikan.Penderita luka bakar listrik
juga memiliki resiko mengalami cidera yang lain, seperti terlempar akibat kejutan listrik
atau jatuh dari ketinggian setelahmenghindari kejutan listrik. Selain itu, kontaksi otot
tetanik yang berlebihan akibat perubahan arus dapat menyebabkan fraktur atau dislokasi.
Penderita ini juga perlu penanganan cidera akibat benda tumpul.Kerusakan otot
menyebabkan pelepasan hemokromogen (myoglobin), yang kemudian difiltrasi
glomeruli dan mengakibatkan nefropati obstruktif. Oleh karena itu, hidrasi dan infus
natrium bikarbonat 5% dan mannitol (25g tiap 6 jam dewasa) diindikasikan untuk
melarutkan hemokromogen dan agar produksi urin tetap adekuat (2mL/kg/jam).
Efek lanjutan pada luka bakar listrik dapat berupa defisit neurologis dapat muncul.
Efek pada CNS seperti ensefalopati kortikal, hemiplegia, afasia dan disfungsi batang otak
dapat terjadi hingga 9 bulan setelah luka terjadi; lainnya melaporkan lesi saraf perifer
yang ditandai oleh adanya demielinasi dengan vakuolisasi dan gliosis reaktif.Efek jangka
panjang lainnya adalah terbentuknya katarak yang dapat muncul setelah beberapa tahun.
Komplikasi ini dapat muncul pada 30 % penderita dengan luka akibat tegangan tinggi,
dan penderita harus diberitahu tentang kemungkinan terjadi komplikasi walau dengan
penanganan terbaik sekalipun.

DIAGNOSA
Elektrik burn dapat dalam beberapa bentuk, termasuk luka dari elektrik burn itu
sendiri, flash burn, flame burn, contact burn, atau kombinasi dari semua. Tegangan dari
luka, ada atau tidak adanya gangguan kesadaran dan timbulnya luka gabungan lainnya
(seperti jatuh) yang di ketahui.
Yang paling penting, ditentukan jika terjadi gagal jantung atau gagal napas.
Evaluasi di ruang gawat darurat, pemeriksan fisik secara cermat, selama jumlah persen
TBSA yang dikalkulasi (jika flame burn) dan status neurovaskular dari luka ekstremitas.
tambahan, semua pasien yang mengalami luka elektrikal harus dilakukan
elektrokardiogram (ECG) di ruang gawat da;;;;;;;;;;;rurat. Pasien dengan luka akibat
tegangan rendah yang tidak mengalami gangguan kesadaran dan tidak mengalami
disritmia dapat dipulangkan. Kecuali anak yang mengalami oral burn dari sengatan kabel
elektrik. Pasien ini membutuhkan pemantauan untuk perdarahan arteri labial.Pemeriksan
mioglobin urin berkala biasanya tidak perlu, karna terapi berdasarkan adanya urin
berwarna teh dan dilanjutkan hingga urin jernih.Alkalinization urin dianjurkan pada luka
elektrikal untuk mencegah presipitasi mioglobin pada tubulus ginjal. Pasien yang
mengalami luka akibat tegangan tinggi di tempatkan pada pemantauan jantung selama
24 jam. Pemeriksaan neurovascular perifer harus di tampilkan di monitor untuk tanda
sindrom kompartemen.
Beberapa pasien dengan kontraktur kompartemen lengan atas dan kaku lengan
bawah, Kehilangan sensoris dan motoris yang progresif, sebanding dengan peningkatan
tekanan kompartemen, merupakan indikator untuk fasciotomiTerkenanya nervus median
dan muskulatur lengan bawah meningkatkan resiko nekrosis jaringan.Penurunan sensasi
dan fungsi motor dapat menimbulkan neurapraxia dari luka langsung ke saraf.Indikasi
klinik untuk pasien kelompok ini termasuk pemeriksaan sensoris dan moteoris progresif,
nyeri berat, hilang tanda dopler dari arteri, dan resusitasi yang tidak adekuat karena
diduga akan menjadi mionekrosis. Terdapat sekuel dari elektrik burn pada pasienDefisit
neurologi, termasuk gangguan sistem saraf pusat dan perifer, dapat berkembang dari
minggu hingga bulan mengikuti luka elektrikal. Katarak dapat timbul mengikuti luka
elektrikal, mekanisme tidak diketahui, tapi pada semua pasien harus di lakukan
pemeriksan oftalmologi pada luka elektrikal tegangan tinggi.Sejumlah komplikasi dapat
timbul pada luka ektremitas, termasuk osifikasi heterotropik, neuroma, nyeri ektremitas.
The rule of nine merupakan metode terbaik kalkulasi luka bakar. Penting untuk dicatat
proporsi bayi dan anak adalah berbeda dengan dewasa.

Klasifikasi luka bakar :


1. Superficial burn meliputi hanya epidermis, eritema dan nyeri, udem ringan
2. Partial-thickness burns meliputi seluruh epidermis dan sebagian dermis, biasanya
pink, lembab dan nyeri
3. Deep partial-thickness burns meliputi seluruh epidermis dan meluas kedalam
reticular dermis, luka bakar ini kering dan pink dan putih dan mempunyai sensasi
berbeda.
4. Full-thickness burns meliputi epidermis dan seluruh dermis. Luka ini coklat

kehitaman, keras, dan tidak mempunyai sensasi.

Elektrikal burn
1. Luka tegangan tinggi
Luka tegangan tinggi merupakan terpapar dengan tegangan lebih dari 1000 volt
 Bunga api listrik atau cahaya dari sumber elektrikal dapat menyebabkan
luka bakar
 Ledakan dan jatuh dapat menyebabkan trauma tumpul
 Terjadi gangguan jantung, neurologi dan lainnya.
Sumber tekanan tinggi biasanya menyebabkan kerusakan jaringan dengan
karakteristik yang dilihat sepanjang jalur arus listrik.
2. Luka tegangan rendah
Tegangan rendah kurang dari 500 volt
 Arus listrik tidak cukup untuk menyebabkan kerusakan jaringan
 Masalah jantung umumnya fibrilasi ventrikel.

Titik kontak dari luka (Contact Points of Injury)


Umumnya digunakan “entrance dan exit”untuk menjelaskan kerusakan titik
kontak dengan listrik.Luka tegangan tinggi melalui belakang dan seterusnya antara
kontak dengan listrik dan tubuh bagian bawah. Luka tegangan rendah Low biasanya
hanya mempunyai luka bakar kecil (atau tidak ada kerusakan) pada titik kontak.
Titik kontak biasa pada bagian terendah (Contact Point usually at grounding site)
Luka ini disebut bagian exit adalah dimana arus listrik timbul di permukaan.
Lubang kecil atau defek luas dapat ada tergantung ukuran arus listrik dan resistensi
jaringan. Luka dapat tampak kecil tapi kerusakan dari dalam dan kerusakan dapat sangat
dalam.
Jalur arus listrik
Jalur arus listrik masuk melalui tubuh ke bagian terendah, sumber tegangan tinggi
biasanya keluar pada beberapa daerah pada bagian ledakan. Arus listrik yang melewati
dari tangan ke tangan atau tangan ke thorax mempunyai resiko tinggi untuk fibrilasi
jantung, jalur yang melewati kepala biasanya menyebabkan gagal napas dan gangguan
neurologi.

DIAGNOSA BANDING
1. Chemical burn
2. Thermal burn
3. Lightning injury
4. Gagal napas
5. Fibrilasi ventrikel
6. Sinkop
PENATALAKSANAAN
Pengobatan terdiri dari:
- Putuskan arus listrik
- Resusitasi pernapasan dan peredaran darah
- Diagnosis cedera lain ( neurologic, patah tulang vertebra )
- Pemberian cairan intravena
- Diagnosis luasnya nekrosis
- Eksisi nekrosis bertahap dekompresi
- Penanggulangan mioglobinuria
Cara paling aman untuk memisahkan korban dari sumber listrik adalah segera
mematikan sumber arus listrik. Sebelum sumber listrik dimatikan, penolong sebaiknya
jangan dulu menyentuh korban, apalagi jika sumber listrik memiliki tegangan tinggi. Jika
sumber arus tidak dapat dimatikan, gunakan benda-benda non-konduktor (tidak bersifat
menghantarkan listrik; misalnya sapu, kursi, karpet atau keset yang terbuat dari karet)
untuk mendorong korban dari sumber listrik. Jangan menggunakan benda-benda yang
basah atau terbuat dari logam. Jika memungkinkan, berdirilah di atas sesuatu yang kering
dan bersifat non-konduktor (misalnya keset atau kertas koran yang dilipat). Jangan coba-
coba menolong korban yang berada dekat arus listrik bertegangan tinggi.
Jika korban mengalami luka bakar, buka semua pakaian yang mudah dilepaskan dan
siram bagian yang terbakar dengan air dingin yang mengalir untuk mengurangi nyeri.
Jika korban pingsan, tampak pucat atau menunjukkan tanda-tanda syok, korban
dibaringkan dengan kepala pada posisi yang lebih rendah dari badan dan kedua
tungkainya terangkat, selimuti korban dengan selimut atau jaket hangat.
Cedera listrik seringkali disertai dengan terlontarnya atau terjatuhnya korban
sehingga terjadi cedera traumatik tambahan, baik berupa luka luar yang tampak nyata
maupun luka dalam yang tersembunyi. Jangan memindahkan kepala atau leher korban
jika diduga telah terjadi cedera tulang belakang. Setelah aman dari sumber listrik, segera
dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi pernafasan dan denyut nadi.
Jika terjadi gangguan fungsi pernafasan dan nadinya tidak teraba, segera lakukan
resusitasi. Sebaiknya cari tanda-tanda patah tulang, dislokasi dan cedera tumpul maupun
cedera tulang belakang. Jika terjadi kerusakan otot yang luas, mungkin akan diikuti
dengan kerusakan ginjal, karena itu untuk mencegah kerusakan ginjal, berikan banyak
cairan kepada korban. Jika ada luas kulit terbakar, maka formula Parkland diterapkan dan
pemberian cairan dititrasi untuk mencapai output urin 30 jam/mL. Jika terdapat
myoglobinuria, titrasi cairan intravena untuk output urin 100 mL/jam sampai kencing
bersih. Jika myoglobinuria berlanjut meskipun telah dilakukan resusitasi cairan,
pemberian manitol dapat dilakukan. Alkalinisasi urin juga telah dianjurkan setelah trauma
listrik untuk mencegah pengendapan mioglobin pada tubulus ginjal.
Awal manajemen operasi cedera listrik harus fokus pada kebutuhan untuk rilis
fasiotomi atau kompartemen. Beberapa pasien dengan ekstremitas atas kompartemen
lengan harus menjalani fasiotomi segera dan carpal tunnel release. Jika tidak, kerugian
progresif pada fungsi sensorik dan motorik, tekanan kompartemen meningkat, dan
menjadi indikator kebutuhan fasiotomi. Banyak ahli bedah percaya bahwa semua pasien
harus menjalani operasi segera untuk dekompresi saraf dan debridemen dari nekrotik
jaringan. Di satu sisi, melepaskan carpal tunnel dan fasiotomi adalah operasi yang relatif
dilakukan. Paparan saraf median dan otot-otot lengan meningkatkan risiko dari
pengeringan jaringan dan nekrosis.
Waktu ideal untuk debridement jaringan juga masih kontroversial. Waktu yang
ideal untuk menentukan adanya mionecrosis biasanya 3 sampai 5 hari setelah cedera.
Oleh karena itu, debridemen awal mungkin tidak cukup, karena tidak dapat diubah lagi.
Pada 3 sampai 5 hari, semua jaringan sehat dapat debridement dan definitif penutupan
luka dapat dicapai. Dalam kasus cedera ekstremitas yang luas, bebas transfer jaringan
mungkin diperlukan untuk menyediakan cakupan luka atau untuk melestarikan panjang
ekstremitas dipasang prostesis yang optimal.

PROGNOSIS
Gejala sisa luka bakar listrik dapat berupa defisit neorologis, termasuk perifer dan
pusat gangguan sistem saraf, dapat terjadi dalam beberapa minggu sampai bulan setelah
cedera listrik. Akibatnya, semua pasien yang dengan luka listrik bertegangan tinggi harus
menjalani evaluasi neurologis menyeluruh di saat masuk dan sebelum dikeluarkan dari
rumah sakit. Katarak juga bisa terjadi setelah cedera listrik. Mekanisme yang tepat tidak
diketahui, tetapi semua pasien harus menjalani pemeriksaan opthalmologi.
BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Tn. ES
Nomor RM : 185872
Umur : 34 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Petani
Alamat : Kp.Cimanggir Jalan RT 003/006
Agama : Islam
Status : Sudah menikah
Tanggal masuk RS : 16 Maret 2018

ANAMNESIS
Keluhan utama:
Kesetrum listrik.

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke IGD RSUD Leuwiliang dengan keluhan kesetrum listrik kurang
lebih 3 jam yang lalu. Pasien sedang membetulkan pompa air di rumahnya dan tidak
sengaja berpegangan pada kabel listrik dengan tangan kanan. Pasien mengeluh nyeri di
kedua tangan dan kaki kiri, sebagian jari ke-3 dan ke-4 tangan kanannya menghitam, serta
kedua tangan dikeluhkan keram. Tidak ada keluhan sesak nafas dan jantung berdebar-
debar atau penurunan kesadaran.

Riwayat penyakit dahulu


Riawayat Diabetes (-)
Riwayat HT (-)
Riwayat Penyakit Jantung (-)
Riwayat alergi obat (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Diabetes melitus (-), asma bronkial (-), hipertensi (-),

Riwayat Kebiasaan
Merokok (+)
Alkohol (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Komposmentis, GCS 15
Vital Sign : Tekanan darah : 130/90 mmhg
Nadi : 98 x/menit
RR : 22x/menit
T : 36,80C
Berat Badan : 58 Kg
Tinggi Badan : 159 cm
IMT : BB/TB2= 50/(1,65)2=18,5 kg/m2 Kesan: Normal

Pemeriksaan Kepala dan Leher :


 Mata : Edem palpebra (-), konjungtiva tidak anemis , skelera tidak
ikterik.
 Mulut : Gigi palsu (-), Gigi goyang (-), Gigi ompong (-), sianosis (-)
 Mandibula : Fraktur (-), gerakan sendi temporo mandibularis tidak terbatas
 Leher : Pembesaran KGB (-)
 Pemeriksaan Thorak : Paru dan Jantung dalam batas normal, jejas (-)
 Pemeriksaan Abdomen : Dalam batas normal
 Pemeriksaan Kelenjer Limfe : Dalam batas normal
 Pemeriksaan Genitourinarius : Dalam batas normal
Status lokalis
 Terdapat luka bakar pada daerah manus dextra digiti III dan IV dengan luas
±1x1cm, permukaan tidak rata, Dasar sub kutis terlihat jaringan lemak yang
sudah bernanah.
 Terdapat luka bakar di digiti I dan III manus sinistra dengan luas ±1x1 cm
cm dengan permukaan jaringan sub kutis terkelupas. Riwayat bula (+)
sudah pecah, nyeri (+) terasa perih, krusta (+) , pus (+)
 Luka terbuka di kaki kiri

Pemeriksaan Penunjang:
Hb : 14,4 mg/dl
Leukosit : 23,2
Trombosit : 378.000
Ht : 43%
GDS : 132
Ureum darah : 16
Kreatinin : 0,80

EKG

Diagnosis Kerja : Electrical injury

TATALAKSANA
(konsul dr.Denny, Sp.B)
 IVFD RL 20 tpm
 Inj. Ceftriakson 2x1 gram
 Inj. Ketorolac 3x30 mg
 Inj. Ranitidin 2x50 mg
 Rencana debridement di OK besok (17 Maret 2018)