Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

SATUAN OPERASI

Disusun oleh :

1. Alifah Rizky Hefyani (061540411905)


2. Depera Agustin (061540411908)
3. Herlin Linia (061540411912)
4. Muhammad Sadikin (061540411919)
5. Susilo Eko Febrianto (061540411925)
6. Zhelin Restiana (061540411592)

Instruktur : Ir. Mustain Zamhari, M. Si


Judul Percobaan : Distilasi Sederhana
Jurusan : Teknik Kimia Prodi D4 Terapan Teknik Energi
Kelas/Kelompok : 4 EGB/ 3

PROGRAM STUDI (DIV) TEKNIK ENERGI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2018
DISTILASI SEDERHANA

I.TUJUAN:
 Memisahkan komponen-komponen dari campuran etanol-air sebaik
mungkin dengan menggunakan destilasi sederhana.
 Menghitung komposisi umpan (feed) , destilat, dan residu.

II.ALAT DAN BAHAN:


2.1. Alat Yang Digunakan:
 Alat destilasi Single (system batch)
 Etanol meter
 Refractometer
 Piknometer
 Labu semprot
 Gelas kimia 100 ml, 600 ml, dan 1000 ml
 Gelas ukur plastic 2000 ml
 Gelas ukur
 Erlenmeyer 50 ml
 Pipet ukur 25 ml
 Bola isap
 Timbangan analitik
 Baskom

2.2. Bahan Yang Digunakan:


 Aquades
 Larutan etanol murni
III. DASAR TEORI:
3.1 Pengertian Distilasi
Distilasi adalah unit operasi yang sudah ratusan tahun diaplikasikan
secara luas. Di sperempat abad pertama dari abad ke-20 ini, aplikasi unit distilasi
berkembang pesat dari yang hanya terbatas pada upaya pemekatan alcohol kepada
berbagai aplikasi di hampir seluruh industri kimia. Distilasi pada dasarnya adalah
proses pemisahan suatu campuran menjadi dua atau lebih produk lewat eksploitasi
perbedaan kemampuan menguap komponen-komponen dalam campuran. Operasi
ini biasanya dilaksanakan dalam suatu klom baki (tray column) atau kolom
dengan isian (packing column) untuk mendapatkan kontak antar fasa seintim
mungkin sehingga diperoleh unjuk kerja pemisahan yang lebih baik.
Salah satu modus operasi distilasi adalah distilasi curah (batch
distillation). Pada operasi ini, umpan dimasukkan hanya pada awal operasi,
sedangkan produknya dikeluarkan secara kontinu. Operasi ini memiliki beberapa
keuntungan sebagai berikut :
1. Kapasitas operasi terlalu kecil jika dilaksanakan secara kontinu. Beberapa
peralatan pendukung seperti pompa, tungku/boiler, perapian atau
instrumentasi biasanya memiliki kapasitas atau ukuran minimum agar dapat
digunakan pada skala industrial. Di bawah batas minimum tersebut, harga
peralatan akan lebih mahal dan tingkat kesulitan operasinya akan semakin
tinggi.
2. Karakteristik umpan maupun laju operasi berfluktuasi sehingga jika
dilaksanakan secara kontinu akan membutuhkan fasilitas pendukung yang
mampu menangani fluktuasi tersebut. Fasilitas ini tentunya sulit diperoleh
dan mahal harganya. Peralatan distilasi curah dapat dipandang memiliki
fleksibilitas operasi dibandingkan peralatan distilasi kontinu. Hal ini
merupakan salah satu alasan mengapa peralatan distilasi curah sangat cocok
digunakan sebagai alat serbaguna untuk memperoleh kembali pelarut maupun
digunakan pada pabrik skala pilot.
Perangkat praktikum distilasi batch membawa para pengguna untuk
mempelajari prinsip-prinsip dasar pemisahan dengan operasi distilasi, seperti
kesetimbangan uap cair dan pemisahan lewat multi tahap kesetimbangan.
Perangkat ini dapat juga dimanfaatkan untuk mempelajari dasar-dasar penilaian
untuk kerja kolom distilasi pacing dan mempelajari perpindahan massa dalam
kolom distilasi packing.
Distilasi merupakan metode operasi pemisahan suatu campuran homogen
(cairancairan saling melarutkan), berdasarkan perbedaan titik didih atau perbedaan
tekanan uap murni (masing-masing komponen yang terdapat dalam campuran)
dengan menggunakan sejumlah panas sebagai tenaga pemisah atau Energy
Separating Agent (ESA). Distilasi termasuk proses pemisahan menurut dasar
operasi difusi. Secara difusi, proses pemisahan terjadi karena adanya perpindahan
massa secara lawan arah, dari fasa uap ke fasa cairan atau sebaliknya, sebagai
akibat adanya beda potensial diantara dua fasa yang saling kontak, sehingga pada
suatu saat pada suhu dari tekanan tertentu system berada dalam keseimbangan.
Secara sederhana, proses distilasi dapat digambarkan sesuai dengan skema
berikut ini:

Gambar.1 langkah proses pemisahan secara distiliasi

Dalam bentuk lain, pengertian distilasi dinyatakan sebagai berikut: [XA]D>


[XA]W dan [XB]D< [XB]w
Dimana :
XA, XB = Komposisi Komponen A, B
A, B = Komponen yang mempunyai tekanan uap tinggi, rendah
D = Hasil puncak (distilat)
W = Hasil bawah (residu)

Diagram sederhana gambar 1 menunjukkan bahwa operasi distilasi terdiri dari


tiga langkah dasar, yaitu:
1. Penambahan sejumlah panas (ESA) kepada larutan yang akan dipisahkan.
2. Pembentukan fasa uap yang bisa jadi diikuti dengan terjadinya
keseimbangan.
3. Langkah pemisahan.

Pada operasi pemisahan secara distilasi, fasa uap akan segera terbentuk
setelah campuran dipanaskan. Uap dan sisa cairannya dibiarkan saling kontak
sedemikian hingga pada suatu saat semua komponen terjadi dalam campuran
akan terdistilasi dalam kedua fasa membentuk keseimbangan. Setelah
keseimbangan tercapai, uap segera dipisaahkan dari cairannya, kemudian
dikondensasikan membentuk distilat.
Dalam keadaan seimbang, komposisi distilat tidak sama dengan komposisi
residunya:
1. Komponen dengan tekanan uap murni tinggi lebih banyak terdapat dalam
distilat.
2. Komponen dengan tekanan uap murni rendah sebagian besar terdapat dalam
residu.

3.2 Kesetimbangan Uap-Cair


Seperti telah disampaikan terdahulu, operasi distilasi mengekspoitasi
perbedaan kemampuan menguap (volatillitas) komponen-komponen dalam
campuran untuk melaksanakan proses pemisahan. Berkaitan dengan hal ini, dasar-
dasar keseimbangan uap-cair perlu dipahami terlebih dahulu. Berikut akan diulas
secara singkat pokok-pokok penting tentang kesetimbangan uap-cair guna
melandasi pemahaman tentang operasi distilasi.

Harga-K dan Volatillitas Relatif


Harga-K (K-Value) adalah ukuran tendensi suatu komponen untuk
menguap. Jika harga-K suatu komponen tinggi, maka komponen tersebut
cenderung untuk terkonsentrasi di fasa uap, sebaliknya jika harganya rendah,
maka komponen cenderung untuk terkonsentrasi di fasa cair. Persamaan (1) di
bawah ini menampilkan cara menyatakan harga-K.
𝑦
𝐾𝑖 = 𝑥𝑖 ….(1)
𝑖

Dengan yi adalah fraksi mol komponen i di fasa uap dan xi adalah fraksi
mol komponen i di fasa cair.
Harga-K adalah fungsi dari temperatur, tekanan, dan komposisi. Dalam
kesetimbangan, jika dua di antara variable-variabel tersebut telah ditetapkan,
maka variable ketiga akan tertentu harganya. Dengan demikian, harga-K dapat
ditampilkan sebagai fungsi dari tekanan dan komposisi, temperature dan
komposisi, atau tekanan dan temperatur.
Volatillitas relative (relative volatility) antara komponen i dan j
didefinisikan sebagai:
K
α𝑖,𝑓 = K 𝑖 ….(2)
𝑗

Dengan Ki adalah harga-K untuk komponen i dan Kj adalah harga-K


untuk komponen j. Volatillitas relatif ini adalah ukuran kemudahan terpisahkan
lewat eksploitasi perbedaan volatillitas. Menurut konsensus, volatillitas relative
ditulis sebagai perbandingan harga-K dari komponen lebih mudah menguap (MVC
= more-volatile component) terhadap harga-K komponen yang lebih sulit
menguap. Dengan demikian, harga α mendekati satu atau bahkan satu, maka
kedua komponen sangat sulit bahkan tidak mungkin dipisahkan lewat operasi
distilasi.
Sebagai contoh untuk system biner, misalkan suatu cairan yang dapat
menguap terdiri dari dua komponen, A dan B. Cairan ini dididihkan sehingga
terbentuk fasa uap dan fasa cair, maka fasa uap akan kaya dengan komponen yang
lebih mudah menguap, misalkan A, sedangkan fasa cair akan diperkaya oleh
komponen yang lebih sukar menguap, misalkan B. Berdasarkan persamaan (1)
dan (2), volatillitas relative, αAB, dapat dinyatakan sebagai :
𝑦 ⁄𝑥
𝛼𝐴𝐵 = 𝑦𝐴⁄𝑥𝐴 ….(3)
𝐵 𝐵

Atau dapat dikembangkan menjadi:


𝑥 𝛼𝐴𝐵
𝑦𝐴 = 1+(𝛼𝐴 ….(4)
𝐴𝐵 −1)𝑥𝐴
Jika persamaan (4) tersebut dialurkan terhadap sumbu x-y, maka akan
diperoleh kurva kesetimbangan yang menampilkan hubungan fraksi mol
komponen yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang mudah
menguap di fasa cair dan fasa uap yang dikenal sebagai diagram x-y. perhatikan
gambar 2. Garis bersudut 45° yang dapat diartikan semakin banyaknya komponen
A di fasa uap pada saat kesetimbangan. Ini menandakan bahwa semakin besar
harga αAB, semakin mudah A dan B dipisahkan lewat distilasi

Gambar 2. Diagram x-y sistem biner A-B

Sistem Ideal dan Tak Ideal


Uraian terdahulu berlaku dengan baik untuk campuran-campuran yang
mirip dengan campuran ideal. Yang dimaksud dengan campuran ideal adalah
campuran yang perilaku fasa uapnya mematuhi Hukum Dalton dan perilaku fasa
cairnya mengikuti Hukum Raoult. Hokum Dalton untuk gas ideal, seperti
diperlihatkan pada persamaan (5), menyatakan bahwa tekanan parsial komponen
dalam campuran (pi) sama dengan fraksi mol komponen tersebut (yi) dikalikan
tekanan parsial komponen, sama dengan fraksi mol komponen di fasa cair (Pis)
persamaan (6) menampilkan pernyataan ini.
𝑝𝑖 = 𝑦𝑖 . 𝑃 ….(5)

𝑝𝑖 = 𝑥𝑖 . 𝑃𝑖𝑠 ….(6)
Dari persamaan (5) dan (6), harga-K untuk system ideal dapat dinyatakan sebagai
berikut :
𝑦 𝑃𝑖𝑠
𝐾𝑖 = 𝑥𝑖 = ….(7)
𝑖 𝑃

Pernyataan harga-K untuk system tak ideal tidak seringkas pernyataan


untuk system ideal. Data kesetimbangan uap-cair umumnya diperoleh dari
serangkaian hasil percobaan. Walaupun tidak mudah, upaya penegakan
persamaan-persamaan untuk mengevaluasi system tak ideal telah banyak
dikembangkan dan bahkan telah diaplikasikan. Pustaka seperti Walas (1984) dan
Smith-van Ness (1987) dapat dipelajari untuk mendalami topik tersebut.

Diagram T-x-y
Proses-proses distilasi industrial seringkali diselenggarakan pada tekanan
yang relative konstan. Untuk keperluan ini diagram fasa isobar (pada tekanan
tertentu) paling baik untuk ditampilkan. Diagram yang menempatkan temperatur
dan komposisi dalam ordinat dan absis ini dinamai diagram T-x-y. Bentuk umum
diagram ini diperlihatkan dalam gambar 2 yang mewakili campuran dengan dua
komponen A dan B berada dalam kesetimbangan uap-cairnya. Kurva ABC adalah
titik-titik komposisi cairan jenuh, sedangkan kurva AEC adalah titik-titik
komposisi untuk uap jenuh. Titik C mewakili titik didih komponen A murni dan
Titik A mewakili titik didih komponen B murni.

Gambar.3 Tipikal diagram T vs x-y


Bayangkan suatu campuran berfasa cair titik G, bertemperatur To dan
komposisinya xo, dipanaskan hingga mencapai temperatur T1 di kurva ABC yang
berarti campuran berada pada temperatur jenuhnya sedemikian hingga pemanasan
lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya penguapan T1 dapat dianggap sebagai
temperatur terbentuknya uap pertama kali atau dinamai titik didih (bubble point)
campuran cair dengan komposisi xo. Perhatikan bahwa uap yang terbentuk
memiliki komposisi tidak sama dengan xo tetapi yo (diperoleh dari penarikan garis
horizontal dari T1).
Pemanasan lebih lanjut mengakibatkan semakin banyak uap terbentuk dan
sebagai konsekuensinya adalah perubahan komposisi terus menerus di fasa cair
sampai tercapainya titik E. Pada temperatur ini, semua fasa cair telah berubah
menjadi uap. Karena tidak ada massa hilang untuk keseluruhan system, komposisi
uap yang diperoleh akan sama dengan komposisi cairan awal. Penyuplaian panas
berikutnya menghasilkan uap lewat jenuh seperti diwakili oleh titik F.
Sekarang operasi dibalik. Mula-mula campuran fasa uap di titik F
didinginkan dari temperatur T2 hingga mencapai titik E di kurva AEC. Di titik ini,
uap berada dalam keadaan jenuh dan cairan mulai terbentuk. Titik ini kemudian
dinamai titik embun (dew point). Pendinginan lebih lanjut menyebabkan fasa cair
makin banyak terbentuk sampai tercapainya titik H yang mewakili titik jenuh fasa
cair. Diagram T-x-y dengan demikian dapat dibagi menjadi tiga daerah:
1. Daerah di bawah kurva ABC yang mewakili subcooled liquid mixtures
(cairan lewat jenuh),
2. Daerah di atas kurva AEC yang mewakili superheated vapor (uap lewat
jenuh),
3. Daerah yang dibatasi kedua kurva tersebut yang mewakili system dua fasa
dalam kesetimbangan.

Operasi distilasi bekerja di daerah tempat terwujudnya kesetimbangan dua fasa,


uap dan cair.
Azeotrop dan Larutan Tak Campur
Apa yang ditampilkan oleh gambar 3 adalah tipikal untuk sistem normal. Jika
interaksi fisik dan kimiawi yang terjadi di dalam sistem sangat signifikan maka
bentukan kurva T-x-y dan x-y akan mengalami penyimpangan yang berarti.
Perhatikan Gambar.4. Berbagai modifikasi, seperti distilasi ekstraktif, distilasi
kukus, dan sebagainya, perlu dilakukan untuk memisahkan komponen-komponen
dari system yang tak ideal ini. Gambar 4a dan 4b mewakili sistem azeotrop yaitu
sistem yang memiliki perilaku seperti zat murni di suatu komposisi tertentu. Lihat
titik a dengan komposisi xa. Pada titik ini perubahan temperature saat penguapan
terjadi tidak menyebabkan perbedaan komposisi di fasa uap dan cair. Gambar.4a
mewakili sistem maximum boiling azeotrope, sedangkan Gambar. 4b mewakili
sistem minimum boiling azeotrop.

Gambar.4 Diagram T-x-y untuk sistem tak ideal

Interaksi antar komponen yang sangat kuat memungkinkan terbentuknya


dua fasa cairan yang ditunjukkan oleh daerah tak saling larut (immiscible region)
dalam diagram fasa seperti tampak dalam gambar.4c. Diagram x-y untuk sistem-
sistem ini dapat dilihat pada Gambar.5.

Gambar.5 diagram x-y untuk sistem tak ideal


3.3 Persamaan Rayleigh (Distilasi Diferensial)
Kasus distilasi batch (partaian) yang paling sederhana adalah operasi yang
menggunakan peralatan seperti pada Gambar.6

Gambar.6 alat distilasi sederhana

Keterangan:
D = laju alir distilat, mol/jam
yD = komposisi distilat, fraksimol
V = jumlah uap dalam labu
W = jumlah cairan dalam labu

Pada alat ini, cairan dalam labu dipanaskan sehingga sebagian cairan akan
menguap dengan komposisi uap yD yang dianggap berada dalam kesetimbangan
dengan komposisi cairan yang ada di labu, xw. uap keluar labu menuju kondenser
dan diembunkan secara total. Cairan yang keluar dari condenser memiliki
komposisi xD yang besarnya sama dengan yD. Dalam hal ini, distilasi
berlangsung satu tahap.
Uap yang keluar dari labu kaya akan komponen yang lebih sukar menguap
(A), sedangkan cairan yang tertinggal kaya akan komponen yang lebih sukar
menguap (B). Apabila hal ini berlangsung terus, maka komposisi di dalam cairan
akan berubah; komponen A akan semakin sedikit dan komponen B akan semakin
banyak. Hal ini juga berdampak pada komposisi uap yang dihasilkan. Jika
komposisi komponen A di dalam cairan menurun, maka komposisi komponen A
di dalam uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan tadi juga akan
menurun. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa komposisi dalam
operasi ini berubah terhadap waktu. Neraca massa proses distilasi diferensial
dapat dinyatakan sbb :
𝑑(𝑊𝑥𝑤 ) 𝑑𝑥𝑤 𝑑𝑊
− = (−𝑊 − 𝑥𝑤 ) = −𝐷𝑦𝐷 ….(8)
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡

Bentuk integrasi persamaan di atas adalah sebagai berikut :


𝑥 𝑑𝑥𝑤 𝑊 𝑑𝑊
∫0 = ∫𝑊 ….(9)
(𝑦𝐷 −𝑥𝑤 ) 𝑜 𝑊

Dimana x0 dan W0 masing-masing adalah komposisi dan berat cairan di


dalam labu mula-mula. Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Rayleigh.
Jika operasi dilaksanakan pada tekanan tetap, perubahan temperatur cairan
dalam labu tidak terlalu besar, dan konstanta kesetimbangan uap-cair dapat
dinyatakan sebagai : y = Kx, sehingga persamaan (9) dapat dengan mudah
diselesaikan menjadi:
𝑊 1 𝑥
𝑙𝑛 ( 𝑊𝑜 ) = 𝐾−1 𝑙𝑛 ( 𝑥𝑜 ) ….(10)

Untuk campuran biner, hubungan kesetimbangan dapat dinyatakan dengan


koefisien volatillitas relative (α). Jika koefisien volatillitas relatif ini dapat
dianggap tetap selama operasi, maka integrasi persamaan adalah :
𝑊 1 𝑥 1−𝑥
𝑙𝑛 ( 𝑊𝑜 ) = 𝛼−1 [𝑙𝑛 ( 𝑥𝑜 ) + 𝛼 ln (1−𝑥 )] ….(11)
𝐷

3.4 Aplikasi Industri


Distilasi batch lebih dari sekedar proses dalam laboratorium. Distilasi
batch digunakan secara luas pada industri-industri kimia dan farmasi.
Distilasi batch dipakai saat:
a. Kapasitas operasi suatu proses terlalu kecil untuk memungkinkan pengoprsian
secara kontinu yang ekonomis. Pemompaan, pemipaan, instrumentasi dan
peralatan tambahan lainnya biasanya memiliki kapasitas operasi minimum.
Unit-unit skala kecil akan mahal untuk dibuat atau dioperasi.
b. Jumlah ataupun komposis umpan suatu proses sangat berfluasi. Pengoperasian
peralatan batch biasanya lebih fleksibel dari pada peralatan kontinu.
c. Umpan mengandung padatan tersuspensi atau bahan yang korosif. Peralatan
batch biasanya lebih mudah untuk dibersihkan dan dirawat dari pada kolom
distilasi kontinu.

Alasan (1) menjelaskan penggunaan yang luas dari peralatan batch dalam
pabrik-pabrik kecil, sementara alas an (2) dan (3) menjelaskan kenapa proses
batch juga digunakan dalam pabrik-pabrik dengan kapasitas operasi besar,
sedangkan keunggulan peralatan batch dalam proses pengambilan solven multi
guna atau dalam pabrik uji coba (pilot plant) karena fleksibelnya dan
pertimbangan biaya.
Di dalam industri dari suatu distilasi batch sering diambil dalam bentuk
fraksi-fraksi terpisah atau cuts sehingga ketel distilasi atau condenser total sering
kali dilengkapi dengan lebih dari satu tangki pengumpul distilat. Steam yang
mengalir melalui coil dalam ketel atau lewat jaket yang menyelubungi ketel
memberikan suplai panas yang dibutuhkan untuk menguapkan isi ketel. Pada
instalasi-instalasi yang sudah lama atau yang berskala kecil, pemindahan arus
distilat dari satu penampung ke penampung yang lain dilakukan secara manual
dan sebuah kaca penglihat digunakan untuk mengetahui kapan pemindahan harus
dilakukan. Dewasa ini unit-unit distilasi batch menggunakan suhu atau indeks bias
sebagai indicator pemindahan dari tangki penampung satu ke yang lain.
IV.PROSEDUR KERJA

4.1 Membuat Kurva Kalibrasi


 Membuat campuran larutan dengan konsentrasi berbeda yaitu:

Etanol (ml) 30 25 20 15 10 5 0

Aquadest (ml) 0 5 10 15 20 25 30

 Menghitung densitas masisng-masing larutan dengan


menggunakan piknometer

4.2 Destilasi
 Membuat campuran etanol-air sebanyak 5.000 mL.
 Mengukur densitas umpan yang digunakan dengan menggunakan
piknometer. Lalu memasukkan ke dalam labu destilasi.
 Melakukan destilasi dengan alat destilasi secara satu tahap.
 Menyalakan pengaduk, pemanas, dan refluks air pendingin.
 Pada saat suhu mencapai suhu setting 78 oC , suhu pemanas
dikurangi.
 Pada saat tebentuk destilat, mencatat suhu secara pediodik.
 Menampung produk destilat hingga volumenya mencapai 50 ml
,lalu menjaga suhu agar tidak lewat dari 78 oC .
 Mengukur densitas produk destilat yang diperoleh dari proses
destilasi.
 Menghitung volume destilat serta residu yang diperoleh dari hasil
destilasi.
V.DATA PENGAMATAN

 Data Pengamatan

Temperatur (°C) Flowrate


Waktu Indeks (L/h)
(menit) Top Inlet Outlet Bias
Boiler Inlet Outlet
Column condenser condenser
Tetesan
82,6 68,5 17,2 18 1.345 30 40
Pertama
82,8 68,5 17 17,8 1,345 30 40
5
10 83 69,2 16,9 17,7 1,345 30 40
15 83,4 70,1 16,9 17,5 1,345 30 40
20 83,7 71 16,8 17,4 1,344 30 40
25 84,1 71,5 16,7 17,4 1,344 30 40
30 84,4 72 16,7 17,4 1,344 30 40
35 84,9 72,2 16,6 17,3 1,344 30 40
40 85,3 72,4 16,6 17,1 1,344 30 40
45 85,6 72,6 16,6 17,1 1,344 30 40
50 85,9 72,6 16,6 17,2 1,344 30 40
Volume Akhir = 350 ml
Kadar etanol = 96 %
 Kurva Standar

Konsentrasi Etanol (%) η (Indeks Bias) Fraksi Etanol (XA)


94 1.345 0,8809
45 1.341 0,2014

VI.PERHITUNGAN

 96% Etanol 960 ml diencerkan menjadi 45% Etanol


96% x 960 ml = 45% x V2
V2 = 2048 ml
2048 ml (960 ml ethanol + 1088 ml Aquadest)

Fraksi Ethanol (Xa) Standart Baku


Rumus :
 m Ethanol = V Ethanol x ρ Ethanol
𝑚𝐸𝑡ℎ𝑎𝑛𝑜𝑙
 Mol Ethanol = 𝐵𝑚𝐸𝑡ℎ𝑎𝑛𝑜𝑙
𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡ℎ𝑎𝑛𝑜𝑙
 X Ethanol = 𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑡ℎ𝑎𝑛𝑜𝑙+𝑚𝑜𝑙 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡

Ethanol 96% sebanyak 960 ml


 96% Ethanol 960 ml
m = 921,6 ml x 0.7893 gr/ml
= 727,4188 gr
727,4188 𝑔𝑟
Mol = 46.07 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙

= 15,7894 mol
15,7894 𝑚𝑜𝑙
Xethanol = (15,7894+2,1333)𝑚𝑜𝑙

= 0,8809
Aquadest
m = 38,4 ml x 1 gr/ml
= 38,4 gr
38,4 𝑔𝑟
Mol = 18 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙

= 2,1333 mol
Ethanol 45% sebanyak 2048 ml
 45% Ethanol 2048 ml
m = 921,6 ml x 0.7893 gr/ml
= 727,4188 gr
727,4188 𝑔𝑟
Mol = 46.07 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙

= 15,7894 mol
15,7894 𝑚𝑜𝑙
Xethanol = (15,7894+62,5777)𝑚𝑜𝑙

= 0,2014
Aquadest
m = 1126,4 ml x 1 gr/ml
= 1126,4 gr
1126,4 𝑔𝑟
Mol = 18 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙

= 62,5777 mol

 Fraksi – Fraksi (XA) dan Fraksi Aquadest (XB)


Tekanan Uap Beberapa Zat
T (°C) H2O Ethanol
70 0.3075 0.713
80 0.4672 0.107
90 0.6918 1.562

PA⁰
α AB = PB⁰
0,713
70⁰C = 2,3168
0,3075
1,070
80⁰C = 2,2902
0,4672
1,562
90⁰C = 2,2578
0,6918
2,3168+2,2902+2,2578
αrata-rata = = 2,2886
3

Dik :
a. noA = 0,96
noA = 0,04
nB = 0,0004
𝑛𝐴
= 0,0004 1/ 2,2886
0,96

nA = 0,0314
0,0314
xA = = 0,9874
0,0314+0,0004

xB = 1- 0,9874
= 0,0126
b. noA = 0,45
noB = 0,55
nB = 0,0055
𝑛𝐴
= 0,55 1/ 2,2886
0,45

nA = 0,3465
0,3465
xA = = 0,9843
0,3465+0,0055

xB = 1- 0,9843
= 0,0157
VII.ANALISA PERCOBAAN

Nama: Alifah Rizky Hefyani


NIM : 061540411905

Pada percobaan ini dilakukan destilasi campuran biner dan menentukan


indeks bias suatu campuran biner. Campuran biner merupakan campuran yang
terdiri dari dua zat yang dapat bercampur atau saling melarut. Pada percobaan ini
zat yang digunakan yaitu campuran biner antara etanol dengan air. Dimana pada
proses destilasi didasarkan pada perbedaan titik didih. Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan lebih cepat menguap. Dimana titik didih etnol lebih
rendah daripada titik didih air, sehingga etanol lebih cepat menguap daripada air.
Titik didih dapat ditentukan pada saat keluar destilat ketika melakukan destilasi.
Titik didih air adalah 100 oC, sedangkan etanol memilki titik didih 78 oC.
karena kedua zat tersebut memiliki perbedaan titik didih yang cukup besar, maka
destilasi yang digunakan adalah destilasi sederhana. Pada saat campuran
dipanaskan, suhu campuran akan meningkat dan akan ditunjukkan oleh
termometer. Ketika temperatur berada di sekitar 78 oC, yakni titik didih etanol,
temperatur tersebut dijaga agar tetap berada pada titik didih etanol. Hal ini
menunjukkan bahwa pada temperatur 78 oC ini, tekanan uap etanol sama dengan
tekanan atmosfer, sehingga etanol akan menguap sedangkan air akan tetap berada
pada labu destilasi karena pada temperatur tersebut belum mencapai titik didih air.
Akibatnya air akan tetap berada pada fasa cair dan tidak ikut menguap bersama
etanol. Hal ini karena tekanan uap air belum mencapai tekanan atmosfer. Uap
etanol akan bergerak ke atas dan melalui kondensor. Pada kondensor dialirkan air
secara terus-menerus yang berfungsi sebagai pendingin, sehingga pada kondensor
ini terjadi peristiwa kondensasi atau pengembunan dimana uap etanol didinginkan
sehingga mengembun dan menjadi cairan kembali. Etanol cair yang meupakan
distilat kemudian akan mengalir dari kondensor melalui adaptor dan selanjutnya
ditampung.
Berdasarkan data pengamatan , terlihat bahwa indeks bias destilat lebih
rendah daripada indeks bias awal campuran . Hal ini dikarenakan etanol telah
melewati proses pemisahan antara etanol dan air, sehingga konsentrasi dari etanol
akan meningkat. Dimana indeks bias berbanding terbalik dengan konsentrasi
etanol, semakin tinggi konsentrasi etanol semakin rendah indeks bias etanol
tersebut.

Nama : Depera Agustin


NIM : 061540411908

Distilasi merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan


perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Distilasi
sederhana dengan cara kontinyu dapat dilakukan untuk memisahkan campuran
dari zat dengan titik didih dan tingkat volatilitas yang berbeda dengan inerval
yang jauh. Untuk mengetahui cara kerja dari distilasi ini, dilakukan pengujian
dengan mencampurkan air dan etanol (sampel artifiksial). Campuran ini memiliki
kadar etanol 45%.
Indeks bias digunakan untuk melakukan pengecekan dari hasil distilat.
Indeks bias dibaca dengan menggunakan alat refraktometer. Sebelum melakukan
percobaan, membuat kurva baku adalah hal yang harus dilakukan. Untuk itu, air
pada keadaan awal di cek indeks biasnya dan etanol pada keadaan awal juga di
cek indeks biasnya. Keadaan awal etanol pada 94%.
Hubungan tingkat kemurnian distilat dengan indeks bias ialah berbanding
lurus. Jika suatu zat semakin pekat maka kecepatan rambat cahaya dalam zat
tersebut akan melambat sehingga indeks biasnya akan membesar.
Praktikum ini dilakukan pada tekanan 1 atm. Temperatur dijaga pada suhu
kurang lebih 75oC. Pemilihan suhu ini didasari oleh titik didih dari etanol yang
berkisar antara 78oC. Sedangkan titik didih air ialah 100oC. Titik didih etanol
dijadikan acuan karena etanol lebih volatil dibandingkan air, sehingga produk
distilat merupakan etanol.
Untuk menjaga suhu digunakan kondenser pada bagian atas dari kolom
distilasi sehingga etanol yang menguap akan mengembun dan mencair lalu
dialirkan ke wadah penampung distilat. Selain itu, setting suhu pada bagian boiler
juga harus dijaga pada 80oC sehingga tidak terjadi lonjakkan suhu. Lonjakkan
suhu akan mengakibatkan masuknya komponen air pada distilat sehingga
kemurnian etanol akan menurun.
Setelah dilakukan praktikum, didapatkan kadar etanol sebesar 96 %. Ini
menunjukkan bahwa praktikum yang dilakukan sudah sesuai karena etanol
tersebut berhasil dimurnikan. Untuk meningkatkan kadar etanol yang dihasilkan,
suhu dari boiler bisa diturunkan lagi. Selain itu, laju alir dari kondenser dapat di
tingkatkan sehingga suhu dari top kolom akan tetap berada di bawah 78oC.

Nama : Zhelin Restiana


NIM : 061540411592

Pada percobaan kali ini yaitu destilasi sederhana yang menggunakan


sampel campuran antara air dan etanol, dimana destilasi ini merupakan proses
pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan
menguap (volatilitas) bahan berdasarkan titik didihnya. Percobaan ini dilakukan
destilasi campuran biner dan menentukan indeks bias suatu campuran. Campuran
biner merupakan campuran yang terdiri dari du azat yang dapat bercampur atau
saling melarut. Pada percobaan ini zat yang digunakan yaitu campuran biner
antaraetanol dengan air. Dimana pada proses destilasi didasarkan pada perbedaan
titik didih. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan lebih cepat menguap.
Dimana titik didih etanol lebih rendah dari pada titik didih air, sehingga etanol
lebih cepat menguap dari pada air. Titik didih dapat ditentukan pada saat keluar
destilat ketika melakukan destilasi.
Titik didih air adalah 100 oC, sedangkan etanol memiliki titik didih
78 oC.karena kedua zat tersebut memiliki perbedaan titik didih yang cukup besar,
maka destilasi yang digunakan adalah destilasi sederhana. Pada saat campuran
dipanaskan, suhu campuran akan meningkat dan akan ditunjukkan oleh
termometer. Ketika temperature berada di sekitar 78 oC, yakni titik didih etanol,
temperature tersebut dijaga agar tetap berada pada titik didih etanol. Hal ini
menunjukkan bahwa pada temperatur 78 oC ini, tekanan uap etanol sama dengan
tekanan atmosfer, sehingga etanol akan menguap sedangkan air akan tetap berada
pada labu destilasi karena pada temperature tersebut belum mencapai titik didih
air. Akibatnya air akan tetap berada pada fasa cair dan tidak ikut menguap
bersama etanol. Hal ini karena tekanan uap air belum mencapai tekanan atmosfer.
Uap etanol akan bergerak keatas dan melalui kondensor. Pada kondensor dialirkan
air secaraterus-menerus yang berfungsi sebagai pendingin, sehingga pada
kondensor ini terjadi peristiwa kondensasi atau pengembunan dimana uap etanol
didinginkan sehingga mengembun dan menjadi cairan kembali. Etanol cair yang
merupakan distilat kemudian akan mengalir dari kondensor melalui adaptor dan
selanjutnya ditampung.
Berdasarkan data pengamatan, terlihat bahwa indeks bias destilat lebih
rendah dari pada indeks bias awal campuran. Hal ini dikarenakan etanol telah
melewati proses pemisahan antara etanol dan air, sehingga konsentrasi dari etanol
akan meningkat. Dimana indeks bias berbanding terbalik dengan konsentrasi
etanol, semakin tinggi konsentrasi etanol semakin rendah indeks bias etanol
tersebut.
VIII. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat simpulkan bahwa :


1. Pada waktu ke 50 menit destilat pertama menetes dari awal pemanasan
awal dengan suhu boiler sebesar 82,586⁰C.
2. Data yang diperoleh dari praktikum kali ini diantaranya : Distilat dengan
indeks bias 1,344-1,345
3. Volume akhir distilat yang diperoleh 350 ml selama kurang lebih 100
menit praktikum dilakukan.
4. Konsentrasi ethanol berbanding terbalik dengan nilai indeks biasnya
DAFTAR PUSTAKA

- Jobsheet.2014.“Penuntun Praktikum Satuan Operasi 2”. Palembang :


POLSRI
- Treybal.,R.E.Mass transfer operations.Mc.Grew Hillz 1981. Chapter 9
- http://www.academia-edu/5541301/Laporan-praktikum pemisahan kimia-
teknik destilas
GAMBAR ALAT

Seperangkat alat distilasi

Cooler