Anda di halaman 1dari 6

Metodologi

1. Alat
a. Plat TLC 3 cm x 8,8 cm
b. Gelas beker 250 mL
c. Alumunium foil
d. Gelas ukur
e. Syringe
f. Jarum pentul
g. Pengait
h. Gunting
i. Pensil
j. Penggaris
2. Bahan
a. Etanol
b. Kloroform
c. Spidol warna biru, ungu, merah, hijau
d. Sirup Orange
e. Kunyit
f. Pewarna makanan ungu , hijau, dan biru
3. Cara Kerja
a. Persiapan kertas kromatografi dan spotting

Plat TLC

Pemotongan berukuran 6cm x 10cm

Penarikan satu garis lurus sejajar


berjarak 2 cm dari sisi bawah kertas
dengan pensil hitam

Penarikan satu garis lurus sejajar


berjarak 2 cm dari sisi bawah kertas
dengan pensil hitam

bagian
Pemberian penggantungan pada kertas

Pemberian spot sampel pada kertas


Sampel dengan jarak 1,5 cm

Gambar 6.1 Cara Kerja Persiapan Kertas Kromatografi dan Spotting


b. Developing

100 mL pelarut (Kloroform / Etanol)

Pemasukkan dalam beaker glass 500 ml

Penutupan dengan alumunium foil,

Pendiaman selama 30 menit

Pemasukkan kertas kromatografi yang


telah diberi spot sampel

Kertas Pemasukkan kertas kromatografi yang


Kromatografi telah diberi spot sampel

Pengeluaran kertas kromatografi ketika


pelarut mencapai garis batas atas yaitu
6 cm (3/4) dari tinggi kertas diukur
dari garis batas pelarut (garis batas
bawah)
Gambar 6.2 Cara Kerja Developing
Deteksi dan Penentuan Nilai Rf
Kertas Kromatografi

Pemberian tanda pada batas


tertinggi pergerakan sampel

Pengukuran tinggi pergerakan


sampel

Penentuan nilai Rf dengan rumus :

𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑐𝑚)


𝑅𝑓 =
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

Gambar 6.3 Cara Kerja Deteksi dan Penentuan Nilai Rf


Tipus bahan

Etanol mempunyai tingkat polarisasi yang tinggi dari pada kloroform, sehingga
pada penggunaan etanol sebagai pelarut dapat melarutkan beberapa senyawa yang polar
juga, karena adanya prinsip like disolve like pada pelarut.Etanol mempunyai titik didih
yang rendah dan cenderung aman. Etanol juga tidak beracun dan berbahaya.
Kelemahan penggunaan pelarut etanol adalah etanol larut dalam air, dan juga melarutkan
komponen lain seperti karbohidrat, resin dan gum. Larutnya komponen ini
mengakibatkan berkurangnya tingkat kemurnian pelarutnya yang mengakibatkan
terhambatnya pemisahan. Keuntungan menggunakan pelarut etanol dibandingkan
dengan aseton yaitu etanol mempunyai kepolaran lebih tinggi sehingga mudah untuk
melarutkan senyawa resin, lemak, minyak, asam lemak, karbohidrat, dan senyawa
organik lainnya. Selain itu pelarut etanol memiliki dua gugus yang berbeda kepolarannya
yaitu gugus hidroksil yang bersifat polar dan gugus alkilyang bersifat non polar.
Adanya dua gugus tersebut menyebabkansenyawa-senyawa yang memiliki tingkat
kepolaran berbeda dapat terekstrak oleh etanol (Sari, 2013).

Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3), Kloroform dikenal karena
sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut
nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun
mudah menguap sedangkan Aseton, juga dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-
propanon, propan-2-on, dimetilformaldehida, dan β-ketopropana, adalah senyawa berbentuk
cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Ia merupakan keton yang paling sederhana
(Ramadhan 2007).

Pewarna kimia didefinisikan sebagai bahan kimia aktif karena itu memerlukan perhatian yang
lebih besar daripada aditif lunak (bland) seperti emulsifier. Pewarna pangan alami diekstraksi
dan diisolasi dari 277 tanaman dan hewan yang berbeda yang tidak memberikan efek yang
membahayakan sehingga mereka dapat digunakan dalam beberapa pangan dalam jumlah
tertentu. Pewarna ini memiliki kestabilan yang rendah, kurang cerah dan tidak merata, namun
sangat murah. Namun, pewarna sintetik dan produk metabolitnya jika dikonsumsi dalam
jumlah besar memungkinkan toksik dan menyebabkan kanker, deformasi dan lain-lain
(Sumarlin, 2010).
Pewarna sintetik untuk tekstil digunakan untuk mewarnai bahan pangan karena harga zat
pewarna untuk tekstil jauh lebih murah dibandingkan dengan harga zat pewarna untuk
pangan. Selain itu warna dari zat pewarna tekstil biasanya lebih menarik. Penggunaan
pewarna tekstil pada makanan atau minuman jelas merugikan kesehatan. Hal ini dikarenakan
adanya residu logam berat dalam makanan atau minuman tersebut (Liedyawati, 2013).

Pembahasan no 6

Pewarna sintesis memiliki nilai Rf yang lebih besar dibandingkan dengan pewarna alami. Hal
ini dikarenakan pelarut organik naik disepanjang lapisan tipis zat padat diatas lempengan dan
bersamaan dengan pergerakan pelarut tersebut, zat terlarut tersebut dalam fase bergerak dan
interaksinya dengan zat padat. Sehingga didapat nilai Rf pewarna sintesis lebih besar
dibanding pewarna alami (Sumarlin, 2013).

Liedyawati, Wenny. 2013. Penentuan Kelayakan Edar Es Lilin Tidak Bermerk dan Tidak
Berlabel di Kecamatan “X” Kabupaten Banyuwangi Berdasarkan Pemanis dan
Pewarna yang Digunakan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol. 2 No.
1

Ramadhan, A Eka, H Phaza. 2007. Pengaruh Konsentrasi Etanol, Suhu dan Jumlah Stage
pada Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber Officinale Rosc) Secara Batch. Jurnal Teknik
Pertanian, Vol 3, 2011.
Sari, F Kurnia, Nurhayati, Djumarti. 2013. The Extraction of Starch Resistant from Three
Local Varieties Potatoes which are Potential as Prebiotic Candidate. Jurnal Teknologi
Pertanian, vol 1, No 2, hal 38-4.
Sumarlin. 2010. Identifikasi Pewarna Sintetis pada Produk Pangan Yang Beredar di Jakarta
dan Ciputat. Jurnal FST UIN. Jakarta