Anda di halaman 1dari 7

NAMA : NADILLA AULYA

KELAS : 4D
JURUSAN: FKIP BAHASA INGGRIS

A. Piaget Memandang Perkembangan Kognisi


Jean Piaget, yang lahir di Swiss pada tahun 1896, adalah pakar psikologi perkembangan
yang paling berpengaruh dalam sejarah psikologi. Setelah memperoleh gelar doktornya dalam
biologi, dia menjadi lebih tertarik dengan psikologi, dengan mendasarkan teori-teorinya yang
paling awal pada pengamatan yang seksama terhadap ketiga anaknya sendiri. Piaget menggap
dirinya menerapkan prinsip-prinsip dan metode-metode biologi pada studi perkembangan
manusia, dan banyak istilah yang dia perkenalkan pada psikologi diambil langsung dari biologi.
Bagi Piaget, perkembangan bergantung sebagian besar pada manipulasi anak terhadap
dan interaksi aktif dengan lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan berasal dari
tindakan. Teori perkembangan kognisi Piaget menyatakan bahwa kecerdasan atau kemampuan
kognisi seorang anak mengalami kemajuan melalui empat tahap yang jelas. Masing-masing
tahap dicirikan oleh kemunculan kemampuan-kemampuan baru dan cara mengolah informasi.

1. Bagaimana Perkembangan Terjadi


Skema Piaget percaya bahwa semua anak dilahirkan dengan kecenderungan bawaan untuk
berinteraksi dengan lingkungan mereka dan memahaminya. Ia merujuk pada cara-cara dasar
mengorganisasikan dan mengolah informasi sebagai struktur kognisi. Anak-anak yang masih
muda memperlihatkan pola-pola perilaku dan pemikiran, yang disebut skema, yang juga
digunakan anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa dalam berhadapan dengan objek-objek
di dunia ini.
Misalnya, kebanyakan bayi yang masih kecil akan menemukan bahwa satu hal yang dapat
ia lakukan dengan objek tersebut adalah memukul permukaan. Bayi juga belajar tentang objek
dengan mengigitnya, mengisapnya, dan melemparnya.

2. Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget


a. Tahap Sensorimotor (pada saat lahir hingga usia 2 tahun)
Piaget percaya bahwa semua anak dilahirkan dengan kecenderungan bawaan untuk
berinteraksi dengan lingkungan mereka dan memahaminya. Perubahan dramatis terjadi ketika
bayi melewati periode sensorimotor. Pada awalnya, semua bayi mempunyai perilaku bawaan
yang disebut gerakan refleks (reflex). Sentuhlah bibir anak yang baru lahir, dan bayi itu pun
akan mulai mengisap; letakkan jari anda ke dalam telapak tangan bayi, dan bayi tersebut akan
mengengamnya. Perilaku ini dan perilaku lainnya adalah bawaan dan merupakan landasan
yang menjadi muasal skema pertama bayi tersebut terbentuk.
Bayi lahir dengan refleks bawaan, dimodifikasi dan di gabungkan untuk membentuk
tingkah laku yang telah lebih kompleks. Pada masa ini anak belum mempunyai konsepsi
tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya.
b. Tahap Praoperasional (Usia 2-7 Tahun)
Anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat
dijumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada menjelang akhir tahun ke-2 anak
telah mengenal simbol/nama.[5]
Selama tahap praoperasional, bahasa dan konsep anak-anak berkembang dengan kecepatan
yang luar biasa. Namun, banyak pemikiran mereka sangan primitif. Salah satu penemuan
Piaget yang paling awal dan terpenting ialah bahwa anak-anak kecil tidak mempunyai
pemahaman tentang prinsip konservasi. Misalnya, kalau anda menuangkan susu dari wadah
yang tinggi dan sempit kedalam wadah yang pendek dan lebar di hadapan seorang anak
praoperasional, anak itu akan benar-benar yakin bahwa gelas yang tinggi tadi berisi lebih
banyak susu.
c. Tahap Operasional Konkret (Usia 7-11 Tahun)
Selama masa-masa sekolah dasar, kemampuan kognitif anak-anak mengalami perubahan-
perubahan dramatis. Anak-anak sekolah dasar tidak lagi mengalami kesulitan dengan masalah
konservasi, karena mereka telah memperoleh konsep reversibilitas. Misalnya, mereka kini
dapat melihat bahwa jumlah susu dalam wadah yang tinggi dan sempit karena, andaikata susu
tersebut dituang kembali kedalam wadah yang tinggi tersebut, tingginya akan sama dengan
yang sebelumnya. Anak tersebut sanggup membayangkan susu yang dituang kembali dan dapat
mengenali konsekuensi-konsekuensinya dua kemampuan yang tidak tampak jelas dalam diri
anak praoperasional.
d. Tahap Operasional Formal (Usia 11 hungga dewasa)
Kadang-kadang di sekitar awal pubertas, pemikiran anak-anak mulai berkembang menjadi
bentuk yang merupakan ciri khas orang dewasa. Orang pra-remaja mulai sanggup berpikir
abstrak dan melihat kemungkinan-kemungkinan melampaui di sini dan sekarang.
Kemampuan-kemampuan ini terus berkembang hingga masa dewasa. Bersama tahap
operasional formal muncul kemampuan menghadapi situasi potensial atau hipotesis; bentuk
kini terpisah dari isi.
Kondisi Hipotesis kemampuan lain yang dikenali Piaget dan orang-orang lain dalam usia
remaja muda ialah kemampuan bernalar tentang situasi dan kondisi yang belum pernah
dialami.
Menurut Piaget, tahap operasional formal mengakhiri perkembangan kognitif. Namun,
pertumbuhan intelektual dapat saja terus berlangsung melampaui usia remaja. Menurut Piaget,
fondasinya telah diletakkan dan tidak satu pun struktur baru perlu dikembangkan satu-satunya
yang diperlukan adalah penambahan pengetahuan dan pengembangan skema yang rumit.
3. Faktor-faktor yang Berpengaruh Dalam Perkembangan Kognitif
a. Lingkungan Fisik
Artinya kontak dengan lingkungan fisik perlu karena interaksi antara individu dan dunia luar
merupakan sumber pengetahuan baru.
b. Kematangan
Artinya membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan
membatasi secara luas prestasi kognitif.
c. Lingkungan sosial
Artinya termasuk penanaman bahasa dan pendidikan prntingnya limgkungan sosial adalah
bahwa pengalaman seperti iti, seperti halnya pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat
perkembangan struktur kognitif.
d. Equlibrasi
Artinya proses pengaturan bukannya “penambah” pada ketiga faktor yang lain. Equilibrasi
menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun dengan baik.
4. Kekuatan dan Kelemahan Teori Perkembangan Kognitif
a. Kekuatan
 Teori ini mengarahkan guru untuk mengenal struktur kognitif siswa secara individu sehingga
dapat lebih mengembangkan kemampuan siswa.
 Teori ini juga menjelaskan tingkat perkembangan kognitif manusia mulai bayi hingga dewasa
sehingga memudahkan untuk memilih pelajaran yang tepat bagi anak di usia tertentu.
 Teori ini cocok untuk mempelajari materi pelajaran yang lebih rumit yang membutuhkan
pemahaman, untuk memecahkan dan untuk berkreasi menciptakan sesuatu bentuk ide baru.
b. Kelemahan
 Teori ini dianggap lebih dekat kepada psikologi belajar dari pada teori belajar, sehingga
aplikasinya dalam proses belajar menjadi tidak mudah.
 Teori ini dianggap sukar dipraktekkan secara murni sebab sering kali kita tidak mungkin
memahami struktur kognitif tersebut menjadi bagian-bagian yang jelas batasannya.
B. Perkembangan Bahasa
Tahapan perkembangan bahasa berkaitan dengan usia anak. Kemampuan bahasa terdiri
dari sejumlah tahapan, yaitu infancy (bayi), early childhood (anak-anak kecil), middle and late
childhood (anak-anak usia sekolah menjelang remaja), dan remaja.
1. Tahapan Perkembangan Bahasa
a. Bayi
Usia enam bulan melakukan babbling (suku kata, ba...ba...ba)
 Usia 10-13 bulan sudah mengucapkan satu kata berbentuk parentese (motherese), yaitu satu
suku kata yang dicontohkan orang tuanya secara lebih tinggi dan lebih lambat dari kata yang
seharusnya di ucapkan.
 Usia 18-24 bulan sudah mulai mengucapkan dua kata sekaligus. Anak-anak belajar dalam
tahapan belajar kalimat dan frasa dalam dua suku kata: “sayang mama”, “sayang papa”, “dede
makan”, dengan kosa kata kurang lebih 50 kata.
b. Anak-anak Kecil
Perkembangan dua suku kata, tiga suku kata, dan seterusnya. Usia 2-3 tahun sudah dapat
menggunakan kalimat sederhana berlanjut ke usia taman kanak-kanak. Mereka sudah dapat
belajar rime, puisi, dan membuat istilah dengan kata sendiri mengabungkan kata-kata tertentu.
Mereka sudah menggunakan aturan-aturan bahasa yang sederhana. Mereka dapat berkembang
cepat dalam karakteristik bahasa (displacement).
c. Anak-anak Usia Sekolah dan Remaja
Anak sudah masuk kesekolah dasar. Mereka sudah dapat membaca dan menulis, yang
memungkinkan mereka untuk melatih penalaran logika dan keahlian analitik untuk memahami
pengandaian dan perbandingan. Yang khas pada usia ini:
 Metaliguistik awareness adalah pengetahuan tentang bahasa seperti pengetahuan tentang kata,
definisi kata, dan kata depan dalam kalimat.
 Telegraphic speech merupakan pola tertentu pembicaraan yang memperbolehkan anak-anak
menggunakan artikel, kata depan, dan sebagian kata kerja, “small words”.
 Overgeneralization berarti mengaplikasikan aturan grammer yang seharusnya tidak boleh
dipergunakan.
d. Remaja
Pemahaman tentang metafora, satire, karikatur, ironi, bahkan literasi yang kompleks (15-20
tahun).

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa


a. Faktor Kesehatan
Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus-menerus, maka anak
tersebut cenderung akan mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan
bahasanya.
b. Intelegensi
Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi
normal.
c. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status sosial
ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami
kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari
keluarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan
atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan
bahasa anaknya) atau kedua-duanya.
d. Jenis Kelamin
Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dengan
wanita. Namun mulai usia dua tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih
cepat dari anak pria.
e. Hubungan Keluarga
Proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama
dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak.
Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak (yang penuh perhatian dan kasih sayang dari
orang tuanya) akan memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak
sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan/kelambatan dalam perkembangan
bahasanya.
f. Umur Anak
Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah
pengalaman, dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan
dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya.
g. Kondisi Lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang cukup besar dalam
berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan lingkungan
pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah
terpencil dan di kelompok sosial yang lain.
h. Kondisi Fisik
Seseorang yang cacat akan terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi seperti bisu,
tuli, gagap atau organ suara tidak sempurna akan menggangu perkembangan berkomunikasi
dan tentu saja akan menggangu perkembangannya dalam berbahasa.
Sedangkan dalam perkembangan berbahasanya, potensi anak untuk berbicara didukung
beberapa hal, diantaranya:
1. Kematangan alat berbicara
2. Kesiapan berbicara
3. Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak
4. Kesempatan berlatih
5. Motivasi untuk belajar dan berlalih
6. Bimbingan
3. Langkah-langkah Untuk Membantu Perkembangan Bahasa Anak
a. Membaca
Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling penting yang dapat dilakukan bersama anak setiap
hari. Ketika orang tua membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku dan sebutkan nama dari
gambar tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk menunjuk gambar yang sama dengan yang
ada sebutkan tadi.
b. Berbicaralah mengenai kegiatan sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan
menggunakan bahasa yang sederhana.
c. Perkenalkan kata-kata baru pada anak setiap hari, dapat berupa nama-nama tanaman, nama
hewan ataupun nama makanan yang disiapkan baginya.
d. Cobalah untuk tidak menyelesaikan kalimat anak.
Berikan kesempatan baginya untuk menemukan sendiri kata yang tepat yang ingin dia
sampaikan.
e. Berbicaralah pada anak setiap hari, dan pandanglah mereka ketika berbicara atau
mendengarkan mereka. Biarkan mereka tahu bahwa mereka sangat penting.

Menurut review saya yaitu perkembangan kognisi bahwa kecerdasan atau


kemampuan kognisi seorang anak mengalami kemajuan melalui empat tahap
yang jelas yaitu pada saat lahir usia 2 – 11 tahun hingga dewasa. Faktornya dari
lingkungan fisik, social, kematangan, equlibrasi. Perkembangan Bahasa dari
tahap bayi hingga berakhir tahap remaja. Penyebab factor diantaranya
kesehatan,intelejensi, dan hubungan keluarga.