Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL PENELITIAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN

FENOMENA PLAGIARISME MAHASISWA UNIVERSITAS


SEBELAS MARET

Oleh :

Sri Widhawati

D0316063

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan manusia pasti ada yang namanya masalah -
masalah yang terjadi baik secara sengaja ataupun secara tidak sengaja . Sama
halnya dalam mahasiswa ketika mereka mendapatkan tugas dari dosen yang
begitu banyak dan memiliki deadline yang sama. Sehingga tidak sedikit
mahasiswa melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah
semestinya dengan menggunakan cara instan untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh dosen. Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah
penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang
lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiarisme
merupakan sebuah realitas yang sering terjadi di kalangan akademis,
mahasiswa, dosen bahkan guru besarpun ternyata pernah melakukan
plagiarisme yang menjadi awal ketertarikan untuk mendalami lebih lanjut
persoalan plagiarisme.
Felicia Utorodewo dkk (2007) menggolongkan hal-hal berikut
sebagai tindakan plagiarisme: mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan
sendiri, mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri, mengakui
temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri, mengakui karya kelompok
sebagai kepunyaan atau hasil sendiri, menyajikan tulisan yang sama dalam
kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal usulnya, meringkas dan
memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya,
dan meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi
rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.
Yang digolongkan sebagai plagiarisme: menggunakan tulisan orang lain
secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan
tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis
dari tulisan lain, mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi
yang cukup tentang sumbernya. Yang tidak tergolong plagiarisme:
menggunakan informasi yang berupa fakta umum, menuliskan kembali
(dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan
memberikan sumber jelas, mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan
memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.
Di media elektronik ramai di beritakan mengenai kasus plagiarisme
yang di lakukan oleh dosen dan guru besar di beberapa Universitas di
Indonesia. Salah satunya yaitu di website indonesiabuku.com yang
memberitakan beberapa kasus plagiarisme seperti kasus plagiarisme oleh
guru besar Universitas Tirtayasa pada bulan Februari 2010, kasus
plagiarisme yang di lakukan oleh mahasiswa S3 Institut Teknologi Bandung
pada tahun 2009, kasus plagiarisme yang terjadi di Universitas Riau yang
melibatkan seorang guru besar dan dekan dari Fakultas Keguruan Ilmu
Pendidikan, kasus plagiat yang di lakukan oleh tiga dosen Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) pada bulan Maret 2012. Banyak kalangan
mahasiswa melakukan plagiarisme dalam penyelesaian tugas makalahnya
baik tugas secara individu maupun tugas secara kelompok. Kurangnya
ketegasan dari sebahagian pihak dosen tentang plagiarisme sehingga
plagiarisme di anggap biasa dan menjadi sangat fenomena di Universitas
Sebelas Maret (UNS) yang tidak sesuai dengan Visi dan Misi dari kampus itu
sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana fenomena plagiarisme mahasiswa Universitas Sebelas
Maret Surakarta?
2. Apa bentuk-bentuk plagiarisme?
3. Apa faktor penyebab mahasiswa melakukan plagiarisme?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui fenomena plagiarisme mahasiswa Universitas Sebelas
Maret
2. Mengetahui bentuk-bentuk plagiarisme
3. Mengetahui penyebab mahasiswa melakukan plagiarisme
1.4 Manfaat Penelitian
1) Memberikan pemahaman tentang plagiarisme
2) Memberikan gambaran tentang plagiarisme di Universitas Sebelas
Maret
3) Menambah wawasan bagi para pembaca
4) Untuk melengkapi tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Plagiarisme

Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan


karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah
karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana
karena mencuri hak cipta orang lain. Singkat kata, plagiat
adalah pencurian karangan milik orang lain. Dapat juga diartikan sebagai
pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain yang kemudian
dijadikan seolah-olah miliknya sendiri. Setiap karangan yang asli dianggap
sebagai hak milik si pengarang dan tidak boleh dicetak ulang tanpa izin yang
mempunyai hak atau penerbit karangan tersebut.

Felicia Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan


plagiarisme:

 mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,


 mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri,
 mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri,
 mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
 menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa
menyebutkan asal usulnya,
 meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan
sumbernya, dan
 meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi
rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.
Yang digolongkan sebagai plagiarisme:

 menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas
(misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda)
bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain
 mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang
sumbernya

Yang tidak tergolong plagiarisme:

 menggunakan informasi yang berupa fakta umum.


 menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang
lain dengan memberikan sumber jelas.
 mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas
bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Plagiarisme terjadi ketika seseorang mengaku atau memberi kesan bahwa ia


adalah penulis asli suatu naskah yang ditulis orang lain, atau mengambil mentah-
mentah dari tulisan atau karya orang lain atau karya sendiri (swaplagiarisme)
secara keseluruhan atau sebagian, tanpa memberi sumber. Selain masalah
plagiarisme biasa, swaplagiarisme juga sering terjadi di dunia akademis.
Swaplagiarisme adalah penggunaan kembali sebagian atau seluruh karya penulis
itu sendiri tanpa memberikan sumber aslinya. Beberapa tokoh Indonesia yang
pernah diduga menjadi plagiat di antaranya adalah Chairil Anwar (1949). Penyair
ini pernah dituduh telah melakukan penjiplakan suatu karyatulis. Tuduhan
tersebut dikeluarkan oleh Hans Bague Jassin melalui tulisannya yang dimuat di
Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat yang membahas
tentang puisi Kerawang-Bekasi. Adapun Jassin (bergelar Paus Sastra Indonesia)
itu membandingkan puisi Chairil dengan The Dead Young
Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. (Tempo, 2014)
2.2 Landasan Teori

Secara sosiologis, plagiarisme sangat penting untuk dikaji karena plagiarisme


berhubungan dengan masyarakat yang berada dalam lingkungan akademis dimana
tindakan-tindakan mereka merupakan hasil dari interaksi-interaksi sosial dan
proses sosial. Perspektif yang cocok untuk menjelaskan plagiarisme adalah
perspektif perilaku sosial. Dimana sosiologi perilaku memusatkan perhatian pada
hubungan antara pengaruh perilaku seorang aktor terhadap lingkungan dan
dampak lingkungan terhadap perilaku aktor (Ritzer and Goodman, 2011).
Sehingga kunci utama dalam perspektif ini adalah aktor dan lingkungannya.

Teori pertukaran sosial dari George Homans adalah salah satu teori yang
berlandaskan perspektif perilaku sosial. Teori pertukaran Homans bertumpu pada
asumsi bahwa orang terlibat dalam perilaku untuk memperoleh ganjaran atau
menghindari hukuman. Menurut Homans, teori ini “membayangkan perilaku
sosial sebagai pertukaran aktivitas, nyata atau tak nyata, dan kurang lebih sebagai
pertukaran hadiah atau biaya, sekurang-kurangnya antara dua orang.” (Homans
dalam Ritzer, 2011).

Ada beberapa proposisi dari teori Homans dalam buku Teori Sosiologi
Modern karya Ritzer dan Goodman (2011), yaitu: proposisi sukses, untuk semua
tindakan yang dilakukan seseorang, semakin sering tindakan khusus seseorang
diberi hadiah, semakin besar kemungkinan orang melakukan tindakan itu;
proposisi stimulus, bila dalam kejadian di masa lalu dorongan tertentu atau
sekumpulan dorongan telah menyebabkan tindakan orang diberi hadiah, maka
makin serupa dorongan kini dengan dorongan di masa lalu, makin besar
kemungkinan orang melakukan tindakan serupa.; proposisi nilai, makin tinggi
nilai hasil tindakan seseorang bagi dirinya, makin besar kemungkinan ia
melakukan tindakan itu; proposisi deprivasi satiasi, makin sering seseorang
menerima hadiah khusus di masa lalu yang dekat, makin kurang bernilai baginya
setiap unit hadiah berikutnya; proposisi persetujuan agresi, bila tindakan orang tak
mendapatkan hadiah yang ia harapkan atau menerima hukuman yang tidak ia
harapkan, ia akan marah (proposisi A), bila tindakan seseorang menerima hadiah
yang ia harapkan, maka ia akan puas, makin besar kemungkinannya
melaksanakan tindakan yang disetujui dan akibat tindakan seperti itu akan makin
bernilai baginya (proposisi B); proposisi rasionalitas, dalam memilih di antara
berbagai tindakan alternatif, seseorang akan memilih satu diantaranya, yang dia
anggap saat itu memiliki value (v), sebagai hasil, dikalikan dengan probablitas (p),
untuk mendapatkan hasil, yang lebih besar.
BAB III

METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan


kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang prosedur pemecahan
masalah diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek
ataupun objek peneliti pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak
atau sebagaimana adanya yang meliputi interpretasi data dan analisis data
(Nawawi Hadari, 2000). Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2007)
mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
dan perilaku yang diamati dari fenomena yang terjadi. Lebih lanjut Moleong
(2007) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif menekankan pada data berupa
kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka yang disebabkan oleh adanya
penerapan metode kualitatif. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam
penelitian ini berusaha mengkaji, menguraikan dan mendeskripsikan tentang
fenomena plagiarisme di kalangan mahasiswa UNS.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian


dalam rangka mendapatkan data-data penelitian yang akurat. Dalam penentuan
Lokasi penelitian, Moleong (2007) menentukan cara terbaik untuk ditempuh
dengan jalan mempertimbangkan teori substantif dan menjajaki lapangan dan
mencari kesesuaian dengan kenyataan yang ada dilapangan.

Lokasi yang diambil dalam penelitian ini ditentukan dengan sengaja


(purposive), yang dilakukan di Universitas Sebelas Maret. Dengan berbagai
pertimbangan dan alasan antara lain:

1) Diduga mahasiswa UNS masih banyak yang melakukan plagiarisme.


2) Pertimbangan tenaga, biaya dan waktu
Keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti dalam hal tenaga, biaya dan waktu
menjadi salah satu pertimbangan pemilihan lokasi.

3.3 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan


sampel bertujuan (purposive sampling). Menurut Sugiyono (2010) Purposive
sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan pada acuan dan pertimbangan
tertentu. Peneliti tidak memiliki banyak kriteria untuk memilih informan, peneliti
hanya memiliki kriteria bahwa mahasiswa tersebut masih menjadi mahasiswa
aktif di UNS.

3.4 Teknik Pengambilan Data


3.4.1 Sumber Data
Arikunto (2006) menyatakan bahwa, sumber data adalah subjek darimana
data dapat diperoleh dan untuk memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi
sumber data, peneliti telah menggunakan rumus 3P, yaitu:

a. Person, merupakan tempat dimana peneliti bertanya mengenai variabel yang


diteliti
b. Paper, adalah tempat peneliti membaca dan mempelajari segala sesuatu yang
berhubungan dengan penelitian, seperti arsip, angka, gambar, dokumen-
dokumen, simbol-simbol, dan lain sebagainya
c. Place, yaitu tempat berlangsungnya kegiatan yang berhubungan dengan
penelitian

Menurut Lofland dalam Moleong (2007), sumber data utama dalam


penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan yang didapat dari informan
melalui wawancara, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-
lain.

3.4.2 Jenis Data


Data yang dikumpulkan dari penelitian ini berasal dari dua sumber, yaitu:
a. Data primer, adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan baik melalui
observasi maupun melalui wawancara dengan pihak informan. Metode
pengambilan data primer dilakukan dengan cara wawancara langsung.
b. Data sekunder, yaitu berupa dokumen-dokumen atau literatur-literatur dari
Pemerintah, internet, surat kabar, jurnal dan lain sebagainya. Pengumpulan
data sekunder dilakukan dengan mengambil atau menggunakanya
sebagian/seluruhnya dari sekumpulan data yang telah dicatat atau dilaporkan.
Dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis
serta dari studi pustaka (Arikunto, 2010).
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam
penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. menurut
Sugiyono (2007) bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka
teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, angket
dan dokumentasi. Namun dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang
dilakukan oleh peneliti adalah dengan melalui dua metode, yaitu:
1. Wawancara

Peneliti menggunakan teknik wawancara untuk mendapatkan informasi


secara langsung dari informan (pemberi informasi) sebagai sumber primer.
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua
pihak, yakni pewawancara sebagai pihak yang mengajukan pertanyaan dan
narasumber sebagai pihak yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang
diajukan. Wawancara dalam penelitian ini digunakan untuk mencari informasi
secara langsung dengan subyek dalam penelitian ini berkaitan dengan
pelaksanaan.

2. Observasi

Metode observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data


yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar (Arikunto,
2010). Observasi merupakan bentuk penerimaan data yang dilakukan dengan cara
pengamatan kejadian dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-
fenomena yang diteliti. Observasi bukan hanya menentukan siapa yang akan
diwawancara melainkan juga menetapkan konteks, kejadian, prosesnya.

3.6 Teknik Analisis Data

Sugiyono (2013) menyatakan bahwa analisis data sebagai proses mencari


dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara dan obsevasi
dengan mengklasifikasikan ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit,
disusun berdasarkan pola dan membuat kesimpulan sehingga diperoleh
kesimpulan yang dapat dipahami oleh diri sendiri dan orang lain. Sugiyono (2013)
menambahkan bahwa data dalam penelitian kualitatif diperoleh dari berbagai
sumber. Teknik analisis data yang dikemukakan Miles dan Huberman (Sugiyono,
2013) terdiri dari tiga tahap yaitu :

1. Reduksi Data (Data Reducition)


Mereduksi data dapat dijelaskan sebagai proses merangkum, memilah milah hal
yang pokok, fokus pada hal-hal yang penting, serta mencari tema dan polanya.
Proses reduksi data akan menghasilkan data yang dapat memberikan gambaran
secara lebih jelas dan mempermudah peneliti dalam pengumpulan data
selanjutnya. Peneliti akan memilah-milah data dari beberapa informan yang telah
diwawancarai ataupun dimintai datanya
2. Penyajian Data (Data Display)
Proses selanjutnya setelah data telah direduksi, adalah penyajian data (data
display). Penyajian data akan mempermudah peneliti dalam memahami apa yang
terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami tersebut.
Dalam penelitian kualitatif display data dapat ditampilkan dalam bentuk uraian
singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya (Sugiyono,
2013). Peneliti akan menyajikan data dalam bentuk teks deskriptif yang
menjabarkan secara lebih jelas tentang data yang sudah direduksi, sehingga
mempermudah pemahaman tentang apa yang terjadi di lapangan dan bagaimana
perencanaan kerja penelitian selanjutnya
3. Penarikan Kesimpulan (Conclusion drawing/ verification)
Menurut Sugiyono (2013) bahwa kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin
dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, namun mungkin
juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif
bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian. Kesimpulan awal
yang masih sementara, apabila didukung oleh bukti-bukti yang valid dan
konsisten saat penelitian, maka kesimpulan tersebut dapat dikatakan kredibel.
Sebaliknya, apabila kesimpulan awal tidak menemui bukti-bukti yang kuat pada
saat penelitian, maka kesimpulan akhir akan berubah. Dalam penelitian kualitatif
prosesnya berlangsung dalam bentuk siklus.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka Cipta.

Hadari Nawawi, 2000. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gajah Mada University


Press.

Moleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja


Karya.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2011. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Kencana.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Utorodewo, Felicia, dkk. 2007. Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan


Ilmiah. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.

Internet

http://www.tempo.co/read/news/2014/02/18/078555420/8-Kasus-Plagiat-yang-
Menghebohkan-Indonesia/1/2 diakses pada hari Senin, 15 April 2019
pukul 19:00 WIB.