Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN COLONOSCOPY

DI OK SENTRAL/IBS RSUD ULIN BANJARMASIN

OLEH:

WIJAYANTI WULANDARI

1814901210189

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS B
BANJARMASIN, 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa : Wijayanti Wulandari

Npm : 1814901210189

Judul Lp : Colonoscopy

Banjarmasin, April 2019

Ners Muda,

Wijayanti Wulandari

Mengetahui,

Preseptor Akademik Preseptor Klinik

Solikin, Ns., M. Kep., Sp. KMB KKhairul Islah,S.Kep., Ns


LAPORAN PENDAHULUAN
COLONOSCOPY

A. DEFINISI

Conoloscopy adalah tindakan untuk memeriksa saluran usus besar dengan


menggunakan peralatan yang canggih berupa lensa serat optic yang sangat lentur
yang dimasukan melalui anus (dubur) sampai menjangkau usus besar. Kolonoskopi
saat ini merupakan salah satu alat diagnostik dan teraupetik yangsangat penting
untuk menangani pasien-pasien dengan penyakit saluran pencernaan bagian bawah.
Selain mempunyai kemampuan diagnostik visual, alat kolonoskopi bisa digunakan
untuk pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk konfirmasi histologis dan juga
bisa digunakan sebagai alat terapi pada kasus polip atau reseksi kanker secara dini.
(Gontar Alamsyah, 2009).

Kolonoskopi adalah suatu pemeriksaan kolon (usus besar) mulai dari anus,
rectum,sigmoid, kolon desendens, kolon transversum, kolonasendens,
sampai dengan sekumdan ileum terminale. Selama kolonoskopi dilakukan, tube
kamera teleskop fleksibel yang halus dimasukkan melalui anus dan masuk ke dalam
menuju rektum dan kolon.Kolonoskopi biasanya dilakukan sebagai bagian dari
pemeriksaan rutin untuk kanker kolorektum atau pada pasien yang memiliki riwayat
kolorektal polip. ini juga dilakukan untuk mengevaluasi gejala masalah usus seperti
perubahan kebiasaan buang air besar atau pendarahan.

B. TUJUAN
1. Menilai jika hasil radiologi tidak dapat membantu menegakan diagnosis atau
tidak ditemukannya sesuatu kelainan sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut
2. Melihat suatu penyakit pada mukosa kolon yang disertai penurunan berat badan
dan adanya anemia tanpa tahu penyababnya
3. Menegakan diagnosis suatu keganasan/kanker pada kolon (usus besar)
4. Melakukan tindakan terapeutik dan biopsi mukosa kolon, yaitu mengambil
sampel jaringan dan diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya keganasan
5. Follow up setelah pengangkatan/operasi kanker usus atau adanya kelainan kolon
6. Evaluasi setelah polipektomy (pengambilan polip) atau pengambilan benda
asing
C. INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI
1. Indikasi
a. Menyelidiki penyebab darah dalam tinja
b. Nyeri perut
c. Diare atau adanya perubahan kebiasaan BAB
d. Adanya suatu kelainan yang ditemukan pada sinar-x kolon atau tomografi
terkomputerisasi (CT-Scan)
e. Pasien dengan riwayat polip atau kanker usus besar
f. Riwayat keluarga dengan beberapa jenis masalah kolon yang mungkin
terkait dengan kanker usus besar (seperti ulcerative colitis dan polip kolon).
g. Untuk mendukung hasil diagnosis kelainan yang ditemukan pada foto polos
(rotgen) atau CT-san kolon.
h. Untuk evaluasi setelah pembedahan kolon atau polip
i. Polipektomi, pengambilan benda asing

2. Kontraindikasi
a. Infark jantung dan kardiopulmoner berat
b. Penyakit anal atau perianal
c. Aneurisme aorta abdominal atau aneurisma iliakal
d. Nyeri perut, demam, distensi perut, dan adanya penurunan tekanan darah
sewaktu pembersihan kolon
e. Kehamilan trimester I, penyakit radang panggul

D. PENATALAKSANAAN/JENIS-JENIS TINDAKAN
1. Persiapan yang dilakukan
a. Sehari sebelum tindakan dokter akan memberikan instruksi mengenai jenis
dan jumlah makanan yang boleh dikonsumsi
b. Secara umum, semua makanan padat harus dikosongkan dari saluran
pencernaan.
c. Pada sore hari dan malam hari sebelum pemeriksaan diinstruksikan untuk
minum larutan pencuci perut. Sebuah pencahar atau enema mungkin
diperlukan malam sebelum colonoscopy. Pencahar adalah obat yang
memudahkan pengeluaran tinja dan meningkatkan gerakan usus. Obat
pencahar biasanya ditelan dalam bentuk pil atau sebagai bubuk dilarutkan
dalam air.
d. Kolonoskopi biasanya tidak menyebabkan rasa sakit
e. Dokter memberikan obat suntikan untuk relaksasi untuk mengurangi rasa
tidak nyaman selama tindakan yang kadang-kadang hanya berupa rasa
kembung, tekanan di perut atau kram perut ringan.
2. Prosedur pemeriksaan kolonoskopi
a. Pasien diintruksikan untuk berbaring terlentang atau menghadap ke samping
b. Lensa serat optik akan dimasukan perlahan-lahan kedalam usus besar
melalui anus (dubur) yang sebelumnya diberi jelly bagian luar scope
c. Bagian dalam saluran usus besar akan terpantau secara jelas dan cermat oleh
kamera pada ujung serat optic, yang akan menyalurkan gambar hasil
pemeriksaan ke layar monitor untuk dianalisa oleh dokter dan gambar dapat
direkam dalam rekaman video tape
d. Prosedur ini biasanya memakan waktu ± 20 menit atau bisa lebih bila
dilanjutkan dengan tindakan pengangkatan polip.
e. Bila dalam pemeriksaan ditemukan adanya polip atau bagian usus besar
yang harus diperiksa lebih detail, dokter akan melakukan pengambilan polip
atau contoh jaringan pada bagian yang dicurigai adanya kelainan tersebut,
dengan menggunakan alat yang sama.
f. Contoh jaringan selanjutnya akan diperiksa dilaboratorium patologi anatomi
untuk menentukan ada tidaknya sel-sel ganas.
3. Setelah tindakan kolonoskopi
a. Pasien diistirahatkan/berbaring 1 jam untuk menghilangkan pengaruh obat
penenang yang diberikan.
b. Dianjurkan pasien waktu pulang tidak sendiri (ditemani anggota keluarga
atau orang lain), terutama jangan mengemudikan kendaraan bermotor dalam
waktu 4 jam setelah tindakan
c. Bisa segera makan setelah 2 jam kemudian
d. Aktifitas dan diet diatur, bila saat dilaksanakan tindakan kolonoskopi
dilakukan juga pengangkatan jaringan atau polip (Polipektomi)
e. Dokter akan menerangkan hasil pemeriksaan secara jelas dengan
menggunakan foto atau hasil rekaman video tape.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. CT-Scan
CT scan dapat mengevaluasi abdominal cavity dari pasien kanker kolon pre
operatif
2. Pemeriksaan darah lab (Hb, Ht, lekosit, trombosit)
Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami
pendarahan.
3. EKG
4. Foto Rontgen dada dan kolon
5. Barium enema
Menilai adanya pertumbuhan jaringan (polip) atau adanya pendarahan pada
kolon

F. PATHWAY

Kolonoskopi

Pra operatif Intraoperatif Post operatif

Rencana Prosedur Invasif Prosedur invasif


tindakan operasi padakolon

Dinding usus
luka/robek Reaksi obat
Kurang informasi
hilang

Pendarahan tidak
Kurang terkontrol Hambatan rasa
pengetahuan nyaman

Hb ↓
Koping individu
tidak efektif Ketidakefektifan
Suplai O2 ↓ perfusi jaringan perifer

Ansietas
Sianosis

G. GAMBAR
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN, INTERVENSI DAN RASIONAL
1. Pre operasi
a. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur
tindakan operasi
- Kaji tanda – tanda ansietas verbal dan non verbal
R/ Reaksi verbal / non verbal dapat menujukan rasa agitasi, marah dan
gelisah
- Jelaskan tentang prosedur pembedahan sesuai jenis operasi
- R/ Pasien dapat beradaptasi dengan prosedur pembedahan yang akan
dilaluinya dan akan merasa nyaman
- Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan
kecemasannya
R/Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekewatiran yang tidak di
ekspresikan
- Berikan privasi untuk pasien dengan orang terdekat
R/ Kehadiran keluarga dan teman – teman yang dipilih pasien untuk
menemani aktivitas pengalihan akan menurunkan perasaaan terisolasi
- Beri dukungan emosi
Rasional: memberikan penenangan, penerimaan danbantuan/dukungan
selama masa stres
2. Intra operasi
a. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
konsentrasi Hb dalam darah
Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
- Monitor tanda dan gejala penurunan perfusi jaringan
R/ Klien dipantau terhadap tanda dan gejala yang menandakan
menurunnya perfusi jaringan, yaitu: penurunan tekanan darah: saturasi O2
yang tidak adekuat: pernafasan cepat atau sulit: peningkatan frekuensi
nadi>100x/m: gelisah: respon melambat: kulit dingin; kusam dan
sianosis; denyut perifer tak teraba; salah satu tanda dan gejala ini harus
dilaporkan
- Beri intervensi sesuai dengan penyebab penurunan perfusi perifer
R/ Tindakan dilakuan untuk mempertahankan perfusi jaringan yang
adekuat, tergantung pada penyebab tidak adekuatnya perfusi jaringan.
Tindakan yang dilakukan dapat mencakup penggantian cairan, terapi
komponen darah dan memperbaiki fungsi jantung
- Lakukan percepatan mobilisasi aktvitas
R/ Aktivitas seperti latihan tungkai diakukan untuk menstimulasi sirkulasi
dan klien didorong untuk berbalik dan mengubah posisi dengan perlahan
dan untuk menghindari posisi yang mengganggu arus balik vena.
3. Post operasi
a. Hambatan rasa nyaman berhubungan dengan program pengobatan
Intervensi keperawatan :
- Manajemen lingkungan
R/ Lingkungan yang tenang dapat menyebabkan pasien merasa
nyaman dan mengurangi kecemasan
- Pengaturan posisi senyaman mungkin
R/ Posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri atau perasaan tidak
nyaman
- Terapi relaksasi napas dalam
R/ Mengurangi ketidak nyamanan dan nyeri
- Beri dukungan spiritual
R/ Berdoa atau berzikir dapat menenangkan pikiran dan mengurangi
kecemasan
I. DAFTAR PUSTAKA

Gontar Alamsyah Siregar. (2009). Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Kanker Usus
Besar. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Mutaqqin, A. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif :Konsep, Proses, dan
Aplikasi
NANDA. 2018. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2018-2020.
Jakarta :EGC.
Syam, A. F. (2005). Persiapan dan Pemeriksaan Endoskopi Saluran Cerna Bagian
Bawah/Kolonoskopi. Jakarta: FKUI Salemba.