Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ILMU DAKWAH
“Fungsi, tujuan, dan prinsip dakwah”

Disusun Oleh:

Mieke Safitri

Komunikasi dan Penyiaran Islam


Semester 1 C

FAKULTAS USHULUDDIN ADAB dan DAKWAH


Bab I
Pendahuluan

A. Latar belakang

Dakwah sendiri yang kita ketahui artinya mengajak, menyeru umat untuk ke jalan kebenaran
beramal nelaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar menjadi masyarakat yang
madani.

Kegiatan dakwah merupakan kewajiban untuk semua umat muslim di dunia. Kegiatan
berdakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah saja. Tapi banyak cara untuk melakukan
dakwah, bahkan media elektronik on-line seperti internet sekalipun bisa dijadikan untuk media
dakwah bagi kaum muslim sekarang ini. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia dari hari
ke hari semakin tidak menentu keadaanya baik itu segi moralitas keagamaan maupun kehidupan
sosial, ekonomi atau politik. Jadi sudah sepantasnya masyarakat muslim ini untuk banyak
melakukan dakwah baik secara lisan, tulisan, melalui media, dan alat yang menunjang untuk
berdakwah lainnya. Sehingga dengan dilakukannya dakwah setidaknya dapat memperbaiki
keimanan individu, kelompok ataupun masyarakat pada umumnya

B. Rumusan masalah

1. .Apa tujuan dari dakwah?


2. Apa saja fungsi dakwah?
3. Apa prinsi-prinsip dakwah?

C. Tujuan kepenulisan

1. Mengetahui tujuan dari dakwah


2. Mengetahui fungsi dari dakwah
3. Mengetahui prinsip-prinsip dalam dakwah
Bab 2

Pembahasan

A. FUNGSI DAKWAH

Pada dasarnya dakwah memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi risalah dan fungsi
kerahmatan. Secara kerisalahan, dakwah dapat dipahami sebagai proses pembangunan dan
perubahan sosial menuju kehidupan yang lebih baik. Sedangkan dakwah dalam fungsi
kerahmatan adalah upaya menjadikan islam sebagai konsep bagi manusia dalam menjalankan
kehidupannya.
Berdasarkan fungsi tersebut, dikembangkan beberapa fungsi lain diantaranya :
a. Fungsi Informatif
Menyampaikan suatu informasi kepada objek yang diinginkan
b. Fungsi Tabyin
Tabyin merupakan fungsi kedua setelah syari’at al-Qur’an itu diinformasikan kepada publik.
Para da’i harus bertindak sebagai narasumber yang berfungsi menjelaskan hakikat islam kepada
audien. Karena itu tabyin merupakan salah satu konsep dakwah yang diperkenalkan oleh al-
Qur’an
c. Fungsi Tabsyir
Tabsyir dan tanzil merupakan dua pendekatan dakwah yang barfungsi memberikan berita
gembira bagi para penerima dakwah dan sebaliknya menginformasikan tentang ancaman yang
akan menimpa orang-orang yang menolak kehadiran dakwah islam.
d. Sebagai sebuah petunjuk, dakwah islam mutlak dilakukan agar islam menjadi rahmat
penyejuk bagi kehidupan manusia.
e. Menjaga orisinal pesan dakwah dari Nabi SAW.dan menyeberkannya kepada lintas generasi.
f. Mencegah laknat Allah, yakni siksaan untuk keseluruhan manusia di dunia

B. TUJUAN DAKWAH

1. Tujuan umum
Sebenarnya tujuan dakwah adalah tujuan yang diturunkannya agama islam bagi ummat
manusia itu sendiri, yaitu untuk membuat manusia yang memiliki kualitas aqidah, ibadah, serta
akhlak yang tinggi.
Bisri Affandi mengatakan bahwa yang diharapkan oleh dakwah adalah terjadinya
perubahan dalam diri manusia, baik kelakuan adil maupun aktual, baik pribadi maupun keluarga
masyarakat, cara berfikir berubah, cara hidupnya berubah menjadi lebih baik ditinjau dari segi
kualitas maupun kuantitas. Yang dimaksud adalah nilai-nilai agama sedangkan kualitas adalah
bahwa kebaikan yang bernilai agama itu semakin dimiliki banyak orang dalam segala situasi dan
kondisi.
Amrul Ahmad mengatakan tujuan dakwah adalah untuk memengaruhi cara merasa,
berfikir, bersikap, dan bertindak manusia pada dataran individual dan sosio kultural dalam
rangka terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan.
Kedua pendapat diatas menekankan bahwa dakwah bertujuan untuk mengubah sikap
mental dan tingkah laku manusia yang kurang baik atau meningkatkan kualitas iman dan islam
seseorang secara sadar dan timbul kemaunnya sendiri tanpa merasa terpaksa oleh apa dan
siapapun.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus dakwah merupakan perumusan tujuan sebagai perincian dari pada tujuan
umum dakwah. Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh aktivitas dakwah dapat
jelas diketahui kemana arahnya, ataupun jenis kegiatan apa yang kehendak dikerjakan, kepada
siapa berdakwah, dengan cara menjelaskan informasi yang berwibawa dan terperinci. Sehingga
tidak terjadi overlaping antara juru dakwah yang satu dengan yang lainnya yang hanya
disebabkan karena masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.
Oleh karena itu di bawah ini disajikan beberapa tujuan khusus dakwah sebagai :
1) Mengajak ummat manusia yang sudah memeluk agama Islam untuk selalu meningkatkan
taqwanya kepada Allah swt. Artinya mereka diharapkan agar senantiasa mengerjakan
segala perintah Allah dan selalu mencegah atau meninggalkan perkara yang dilarangya.
2) Membina mental agama (Islam) bagi kaum yang mualaf. Muallaf artinya bagi mereka
yang masih mengkhawatirkan tentang keislaman dan keimananya (baru beriman(
3) Mengajak ummat manusia yang belum beriman agar beriman kepada Allah (Memeluk
Agama Islam.
4) Mendidik dan mengajar anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya. Dalam Al-
Qur’an telah disebutkan bahwa manusia sejak lahir telah membawa fitrahnya yakni
beragama islam (agama tauhid).

C. PRINSIP-PRINSIP DAKWAH

1. Mencari titik temu atau sisi kesamaan


Pola dakwah Rasulullah sebelum tiba masanya hijriah, tidak pernah menyeru umatnya sendiri
atau ahli kitab dengan sebutan orang-orang kafir, musyrik atau munafik, melainkan dengan
seruan yang sama dengan dirinya yaa ayyuhan naas “wahai manusia” atau ya qoumii, “wahai
kaumku”. Bahkan untuk orang-orang munafik, sebelum jatuhnya kota Makkah Nabi
SAW.menggunakan panggilan yaa ayyuhal ladziina aamanuu, “hai orang-orang yang
beriman”,dan sama sekali tidak pernah mengungkapkan secara terang-terangan kemunafikan
mereka dengan menggunakan panggilan yaa ayyuhal munafiqun. “Hai orang munafiq”. Akan
tetapi, setelah sekian lama berdakwah dengan kelembutan dan ayat Ilahi sia-sia menjelaskan
kebenaran kepada mereka dan mereka tidak saja menolak kebenaran, tetapi hingga bersepakat
untuk membunuh Rasulullah. Baru Rasulullah menyeru dengan kata-kata tegas dan jelas. “Hai
orang-orang kafir” dan menyatakan berlepas tangan dari mereka dan agama mereka.
“Katakanlah orang-orang kafir… bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” 1
Contoh lain dari model titik temu yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.dengan para
ahli kitab terdapat dalam surah Ali Imran ayat 64:
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak
ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita
persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang
lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
2. Menggembirakan Sebelum Menakut-nakuti
Sudah menjadi fitrah manusia lebih suka pada yang menyenangkan dan benci kepada yang
menakutkan, maka selayaknya bagi para da’i untuk memulai dakwahnya dengan member
harapan yang menarik , dan menggembirakan sebelum memberikan ancaman. Muslim
meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Musa ra. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW. Bersabda
“Serulah manusia! Berilah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari”.
Seorang da’i seharusnya memberikan targhib (kabar gembira) terlebih dahulu sebelum tarhib
(ancaman). Mendorong beramal dan menyebutkan faedahnya sebelum menakut-nakuti dengan
bahaya riya. Memberi tahu keutamaan menyebarkan ilmu sebelum member peringatan kepada
mereka tentang besarnya dosa menyembunyikan ilmu. Memotivasi untuk melaksanakan shalat
tepat pada waktunya sebelum memberikan peringatan tentang besarnya dosa menyepelakan dan
meninggalkan shalat.
Memang tidak dapat menafikan manfaat tarhib, karena beragamnya tabiat manusia. Akan
tetapi, memberi kabar gembira terlebih dahulu sebelum peringatan dapat membuat hati menerima
dengan lebih baik dan lega. Pemberian motivasi ini bisa menumbuhkan harapan dan optimisme
seseorang.
Tahrib (ancaman) diberikan manakala ada perlawanan dan pembangkangan, guna
menyadarkan dan mengembalikannya pada jalan yang benar. Seperti firman Allah SWT sebagai
berikut :
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat
pedih”.(QS.Al-Hijr : 49-50)
Dari Abu Said al-Hudri : Rasulullah SAW bersabda :
“Dahulu para umat sebelum kamu ada seseorang yang membunuh sembilan puluh sembilan
orang. Kemudian ia ingin bertobat , maka ia mencari orang yang alim….. kemudian ia bertanya :
bahwa ia membunuh 99 orang, apakah ada jalan untuk bertaubat? Jawab orang alim itu “tidak”,
maka ia segera membunuh orang alim itu hingga genap menjadi 100 orang apakah ada jalan
taubat jawab si alim itu, ya ada dan siapakah yang dapat menghalanginya untuk bertaubat?
Pergilah ke dusun itu karena disana banyak orang taat kepada Allah maka berbuatlah
sebagaimana perbuatan mereka dan jangan kembali ke negerimu karena tempat penjahat…”
Dalam lanjutan hadis ini diterangkan bahwa pembunuh itu meninggal ditengah perjalanan
dengan jarak lebih dekat kepada dusun yang baik dibandingkan dengan jarak ke dusun yang
jahat, lalu rohnya dipegang oleh malaikat rahmat”.
Betapa Rasulullah memberi peluang untuk mengharap rahmat dan tidak putus asa darinya
meskipun begitu kelam masa lalu seseorang!
3. Memudahkan , Tidak Mempersulit
Diantara prinsip yang menyejukkan yang ditempuh oleh Rasulullah dalam berdakwah adalah
mempermudahkan tidak mempersulit serta meringankan tidak memberatkan. Banyak nash al-
Qur’an maupun as-Sunnah yang memberikan isyarat bahwa memudahkan itu lebih disukai Allah
daripada mempersulit. Allah SWT berfirman :
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.
(QS. An-Nisa : 28)
Dalam Sahih Bukhari disebutkan ketika Rasulullah mengutus sahabatnya (untuk berdakwah)
bersabda :
“Mudahkan jangan kalian mempersulit. Berikan kabar gembira jangan membuat mereka lari”.
Dan pada hadis yang lain disebutkan “Tenangkan jangan kalian takut-takuti”. Abu Hurairah
pernah menggambarkan bahwa pernah seorang Arab kencing di Masjid dengan serta merta orang
di sekelilingnya berdiri dan ingin memukulinya. Kemudian Rasulullah bersabda :
“Tinggalkanlah dia, tuangkanlah air diatas kencingnya atau satu ember air. Sesumgguhnya aku
diutus untuk mempermudah dan aku tidak diutus untuk mempersulit”.
Dari sayyidatian Aisyah ra. beliau berkata : Rasulullah tidak pernah memilih antara dua
perkara sama sekali melainkan memilih yang paling mudah diantara keduanya selama tidak
berdosa. Tetapi, jika ada dosa ketika memilih yang mudah, maka Rasulullah adalah paling jauh
darinya.
Dari keterangan-keterangan diatas, kita lebih banyak membutuhkan pendekatan dakwah yang
memudahkan dan menggembirakan daripada memberatkan dan menyulitkan. Apalagi dakwah itu
ditujukan kepada mad’u yang baru memeluk Islam atau yang melakukan taubat.
Rasulullah pada tahap-tahap awal hanya memperkenalkan ajaran yang bersifat fardhu-fardhu
saja. Bahkan Rasulullah menyayangkan Muadz bin Jabal karena ia memanjangkan shalat
berjamaah. Beliau bertanya “Apakah aku ini pembuat fitnah, hai Muadz? Apakah aku ini
pembuat fitnah, hai Muadz? Apakah kau ini pembuat fitnah, Hai Muadz? (HR. Bukhari).
4. Memperhatikan Penahapan Beban dan Hukum
Untuk menjadikan aktivitas dakwah tidak memberatkan dan menawan hati mad’u, para da’i
harus memperhatikan prinsip hukum penahapan baik dalam amar ma’ruf maupun nahi mungkar.
Dengan mengetahui bahwa manusia tidak senang untuk menghadapi perpindahan sekaligus dari
suatu keadaan kepada keadaaan lain yang asing sama sekali. Maka dari itu al-Quran pun
diturunkan perlahan, surat demi surat dan ayat demi ayat, dan kadang-kadang menurut peristiwa-
peristiwa yang menghendaki diturunkannya, agar dengan cara demikian lebih disenangi oleh
jiwa dan lebih mendorong kearah mentaatinya serta bersiap-siap untuk meninggalkan ketentuan-
ketentuan lama untuk menerima hukum yang baru. Sebagaimana penahapan dalam hukum Islam,
demikian pula aktivitas dakwah dijalankan.
Contoh dalam hal ini diantaranya adalah penerapan terhadap pelarangan khamr. Minum
khamr dan judi pada mulanya belum diharamkan dengan tegas tetapi disebutkan bahwa pada
khamr dan judi terdapat dosa yang besar dan ada kegunaan bagi orang banyak (QS. Al-Baqarah :
219). Kemudian setelah jiwa mereka dapat menerima pertimbangan untung-ruginya minum
khamr dan berjudi, maka turun lagi firman Allah SWT dalam QS. Al- Maidah : 90-91 :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk)
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu
bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran
(meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan
sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”
Penahapan dalam beban yang diperhatikan oleh Islam menjadikan ajarannya lebih bijaksana.
Ini juga terlihat didalam menangani sistem perbudakan yang saat Islam lahir merupakan system
internasional. Jika pengikisan system ini dilakukan secara drastis pasti akan menimbulkan
guncangan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, Islam menggunakan metode penahapan.
5. Memperhatikan Psikologis Mad’u
Mengingat bermacam-macam tipe manusia yang dihadapi da’i dan berbagai jenis antara dia
dengan mereka serta berbagai kondisi psikologis mereka, setiap da’i yang mengharapkan sejuk
dalam aktivitas dakwahnya harus memperhatikan kondisi psikologis mad’u.
Jika kita perhatikan perbedaan gaya dakwah nabi sebelum dan sesudah hijrah, sewaktu di
Makkah ataupun di Madinah tampaknya salah satu faktornya adalah perbedaan kondisi
psikologis kelompok-kelompok yang di dakwahi.
Mohammad Natsir dalam “Fiqh Dakwah”nya mengemukakan pendapat yang berkaitan
dengan kondisi psikologis mad’u ini bahwa : pokok persoalan bagi seorang pembawa dakwah
ialah bagaimana menentukan cara yang tepat dan efektif dalam menghadapi suatu golongan
tertentu dalam suatu keadaan dan suasana tertentu”.
Seorang da’i harus memperhatikan kedudukan sosial penerima dakwah. Jika da’i mencium
adanya sikap memusuhi Islam dalam diri penerima dakwah, maka denga alas an apapun dia
tidak boleh memperburuk situasi. Da’i harus sebisa mungkin menghilangkan sikap permusuhan
tersebut. Selain itu, aspek psikologis juga berkaitan dengan seberapa jauh pengetahuan mad’u
terhadap islam sebelumnya.
BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan

Pada dasarnya dakwah memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi risalah dan fungsi
kerahmatan. Secara kerisalahan, dakwah dapat dipahami sebagai proses pembangunan dan
perubahan sosial menuju kehidupan yang lebih baik. Sedangkan dakwah dalam fungsi
kerahmatan adalah upaya menjadikan islam sebagai konsep bagi manusia dalam menjalankan
kehidupannya. Dapat juga sebagai Pembina, pengarah dan pembentuk manusia seutuhnya.
Tujuan dakwah terbagi menjadi dua yaitu, tujuan umum dan tujuan khusus. Tujan umum
yaitu untuk mengubah sikap mental dan tingkah laku manusia yang kurang baik atau
meningkatkan kualitas iman dan islam seseorang secara sadar dan timbul kemaunnya sendiri
tanpa merasa terpaksa oleh apa dan siapapun. Sedangkan tujuan khususnya yaitu merupakan
perumusan tujuan sebagai perincian dari pada tujuan umum dakwah. Tujuan ini dimaksudkan
agar dalam pelaksanaan seluruh aktivitas dakwah dapat jelas diketahui kemana arahnya, ataupun
jenis kegiatan apa yang kehendak dikerjakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara menjelaskan
informasi yang berwibawa dan terperinci.
Prinsip-prinsip dakwah yaitu mencari titik temu atau sisi kesamaan, menggembirakan
sebelum menakut-nakuti,memudahkan atau tidak mempersulit, memperhatikan penahapa beban
dahukum, dan memperhatikan psikologis mad’u