Anda di halaman 1dari 53

Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.

KEP Universitas Jember 2019

LAPORAN AKHIR PROGRAM PROFESI NERS


STASE KEPERAWATAN GERONTIK
PERIODE 18 – 31 MARET 2019

Diajukan Untuk Memenuhi Laporan Akhir Program Profesi Ners


Stase Keperawatan Gerontik

Oleh
Yuliani Sasmita, S.Kep 182311101103 Restina Septiani, S.Kep 182311101131
Tira Anjeli Rahmah, S.Kep 182311101104 Septiyana MillaArifin, S.Kep 182311101132
Titin Dwimala, S.Kep 182311101106 Asif Kholif Arrahman , S.Kep 182311101134
Joveny Meining Tyas, S.Kep 182311101107 Fairuz In’amil Arsyad , S.Kep 182311101136
Richo Febriyanto, S.Kep 182311101109 Laely Anggraeni, S.Kep 182311101138
Rahmawati L. M., S.Kep 182311101110 Sri Ariani, S.Kep 182311101141
Dwi Umil Hasanah, S.Kep 182311101111 Anggita Setya L., S.Kep 182311101142
Siti Aisyah, S.Kep 182311101112 Dinar Maulida H., S.Kep 182311101143
Regita Prameswari, S.Kep 182311101114 Suswita Ismail, S.Kep 182311101144
Wafda Niswatun N., S.Kep 182311101116 Ayuning Muthia, S.Kep 182311101146
Anggi Sulistiyani, S.Kep 182311101122 Wardhatul Asfiah, S.Kep 182311101147
Dewi Rizki Apriliani, S.Kep 182311101126 Risa Syahbana Badar, S.Kep 182311101151
Indah Asri Lestari, S.Kep 182311101127 Erik Verawati, S.Kep 182311101157

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331) 323450
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Transisi demografis pada populasi lansia ini merupakan tantangan yang
signifikan bagi otoritas kesehatan di seluruh dunia karena semakin bertambahnya
usia beberapa penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus, radang sendi,
penyakit jantung kronis, penyakit ginjal, dll (Dagli & Sharma, 2014). Peningkatan
jumlah lansia terjadi di seluruh dunia yang berdampak pada peningkatan
kesehatan. Statistik menunjukkan bahwa diperkirakan terdapat 35 juta orang
berusia 65 tahun ke atas pada tahun 2000. Jumlah ini diperkirakan meningkat
menjadi 70 juta pada tahun 2030. Kelompok lansia yang lemah adalah yang
paling rentan dan juga paling banyak mengeluarkan biaya untuk perawatan. ,
pengobatan, perawatan jangka panjang dan penyakit medis. Ini juga merupakan
penyebab utama yang mengarahkan banyak peneliti untuk melakukan banyak
penelitian untuk meningkatkan kualitas hidup sehat di kalangan
lansia.(Selvadurai, Prabowo, & Pratiwi, 2017).
Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada tanggal 18-31 bulan
Maret 2019 di UPT PSTW Jember ditemukan banyak lansia yang berasal dari
keluarga kurang mampu dan tidak memiliki keluarga yang bersedia
mengurus lansia, sehingga memerlukan penanganan yang professional
agar terpenuhi kebutuhan hidupnya, baik jasmani, rohani maupun sosial yang
memungkinkan bagi mereka memikirkan masa tua dengan rasa aman tentram dan
sejahtera. Dari 78 lansia terdapat mayoritas lansia masih mandiri dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari maka mayoritas lansia tidak memiliki mobilitas hambatan
fisik. Berdasarkan hasil observasi keseimbangan tubuh didapatkan lansia mandiri
dalam berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga risiko terjadinya
ulkus dekubitus tergolong kecil. Namun, terdapat beberapa lansia yang birisiko
untuk jatuh. Sejumlah 28 lansia masih memiliki fungsi intelektual utuh dan 34
lansia memiliki fungsi mental baik. Tingkat depresi lansia dalam rentang tidak ada
depresi/minimal sampai depresi sedang. Mayoritas tingkat spiritual dan efikasi
diri lansia tergolong tinggi. Sebagian besar lansia mengeluhkan mulai ada rasa
nyeri namun masih dapat ditahan. Kualitas tidur lansia tergolong baik.
Upaya pelayanan kesejahteraan sosial dan rehabilitasi social bagi para
lanjut usia yang terlantar, telah dilaksanakan melalui UPT Pelayanan Sosial
Tresna Werdha Jember yang merupakan UPT Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur.
Adapun pelayanan yang diberikan meliputi Pengasramaan,Pelayanan kesehatan,
Bimbingan Fisik, Bimbingan Mental, Bimbingan Sosial, Ketrampilan,
Resosialisasi,Bimbingan Lanjut sampai dengan terminasi (Pemutusan pelayanan).
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui masalah kesehatan yang terjadi pada lansia yang ada di
UPT PSTW Jember
1.3 Profil UPT PSTW Jember
Pelakasanakan tugas pokok dan fungsi Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 80 Tahun 2008 Tentang Uraian Tugas Sekretariat, Bidang, Sub Bidang
dan Seksi. Nomor 119 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur bahwa UPT Pelayanan Sosial
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Tresna Werdha ( PSTW ) JEMBER mempunyai tugas melaksanakan sebagian


tugas Dinas Sosial di bidang Penyantunan, Rehabilitasi, Bantuan, Bimbingan,
Pengembangan dan Resosialisasi. Sedangkan untuk melaksanakan tugas tersebut
UPT PSTW Jember memiliki fungsi sebagai pelaksana pelayanan dan rehabilitasi,
penyaluran dan pembinaan lanjut, praktek pekerjaan sosial di bidang rehabilitasi
sosial lansia terlantar, ketatausahaan, tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala
dinas.
Syarat-syarat untuk dapat menjadi klien di UPT PSTW Jember yaitu:
1. Pria dan wanita dengan minimal usia 60 tahun;
2. Surat keterangan berbadan sehat atau tidak mengidap penyakit menular
3. Atas kemauan sendiri atau tanpa paksaan
4. Terlantar secara ekonomi yang mendapat rekomendasi dari kepala desa/ lurah
setempat dan dari kantor/ dinas sosial setempat.
Sarana yang diberikan dan langsung dapat dinikmati oleh lansia yaitu:
1. Penyediaan tempat tinggal yang layak
2. Penyediaan tempat tidur yang bersih dan nyaman
3. Pemberian dan menyediakan pakaian yang bersih, nyaman dan mudah
dipakai
4. Pemberian sarana kesehatan
5. Pemberian Makan dengan menu gizi yang seimbang sesuai petunjuk dokter
atau ahli Gizi
6. Pemberian bimbingan lanjutan bagi klien yang diambil / kembali ke Keluarga
7. Menyediakan aksesibilitas lanjut usia (Tongkat Bantu, kursi roda dll)
8. Penyediaan tempat pemakaman dan memakamkan klien yang meninggal
dunia secara layak

Letak UPT PSTW Jember


Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Gambar 2.1 Letak UPT PSTW Jember


Fasilitas yang dimiliki UPT PSTW Jember
Bangunan Yang Dimiliki Oleh Unit Pelayanan Teknis Pelayanan Sosial
Tresna Werdha Jember. UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Jember memiliki
luas tanah 37.500 M2, dengan jumlah bangunan sebagai berikut
a. Kantor A : Luas 160 M2
b. Kantor B : Luas 135 M2
c. Kantor C : Luas 135 M2
d. Rumah Dinas Pimpinan : Luas 218 M2
e. Rumah Dinas Petugas A : Luas 135 M2
f. Rumah Dinas Petugas B : Luas 70 M2
g. Wisma Dahlia : Luas 155 M2
h. Wisma Anggrek : Luas 145 M2
i. Wisma Mawar : Luas 169 M2
j. Wisma Melati : Luas 169 M2
k. Wisma Kenanga : Luas 158 M2
l. Wisma Seruni : Luas 158 M2
m. WismaTeratai : Luas 160 M2
n. Wisma Sakura : Luas 160 M2
o. Wisma Cempaka : Luas 160 M2
p. Ruang Isolasi : Luas 35 M2
q. Dapur / Gudang : Luas 105 M2
r. Masjid : Luas 80 M2
Bangunan Baru :
a. Bangunan Asrama / Wisma Seroja Seluas 153 M2 merupakan bantuan
dari AWF ( Asian Womens Fund ) berdasar Surat Keputusan Direktur
Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Nomor : 16 /PRS-
3/Kep/BLN.C/2004. perihal Bantuan Asian Womens Fund tahap V dan VI
yang dibangun pada bulan Desember 2005.
b. Kapasitas Panti : 140 Orang
c. Sasaran Garapan
 Sasaran pelaksanaan program Kesejahteraan Sosial di UPT
 Pelayanan Sosial Tresna Werdha JEMBER adalah para Lanjut Usia
terlantar
1.4 Visi
Terwujudnya peningkatan Kesejahteraan sosial bagi lanjut usia yang
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui bersama Pemerintah dan
masyarakat.
1.5 Misi
1. Melaksanakan tugas pelayanan dan rehabilitasi bagi lanjut usia dalam
upaya memenuhi kebutuhan jasmani dan rokhani sehingga mereka dapat
menikmati hari tus yang diliputi kebahagaan dan ketemtraman lahir batin;
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

2. Mengembangkan sumber potensi bagi lanjut usia potensial sehingga


sehingga dapat mandiri dan dapat menjalankan fungsi sosialnya secara
wajar;
3. Peningkatan peran serta masyarakat dalam penanganan lanjut usia
terlantar.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

BAB 2. TINJAUAN KONSEP


2.1 Pendahuluan tentang Konsep Community as Partner
Model konseptual adalah sintesis seperangkat konsep dan pernyataan yang
mengintegrasikan konsep-konsep tersebut menjadi suatu kesatuan.
Model keperawatan dapat didefinisikan sebagai kerangka pikir, sebagai satu cara
melihat keperawatan, atau satu gambaran tentang lingkup keperawatan. Model ini
sebagai panduan proses keperawatan dalam pengkajian komunitas; analisa dan
diagnosa; perencanaan; implementasi komunitas yang terdiri dari tiga tingkatan
pencegahan; primer, sekunder, dan tersier, dan program evaluasi. Konsep
Community as Partner diperkenalkan Anderson dan McFarlane.
Model ini merupakan pengembangan dari model Neuman yang
menggunakan pendekatan totalitas manusia untuk menggambarkan status
kesehatan klien. Neuman memandang klien sebagai sistem terbuka dimana klien
dan lingkungannya berada dalam interaksi yang dinamis. Menurut Neuman, untuk
melindungi klien dari berbagai stressor yang dapat mengganggu keseimbangan,
klien memiliki tiga garis pertahanan, yaitu fleksible line of defense, normal line of
defense, dan resistance defense. Agregat klien dalam model Community as
Partner ini meliputi intrasistem dan ekstrasistem. Intrasistem terkait adalah
sekelompok orang-orang yang memiliki satu atau lebih karakteristik. Agregat
ekstrasistem meliputi delapan subsistem yaitu komunikasi, transportasi dan
keselamatan, ekonomi, pendidikan, politik dan pemerintahan, layanan kesehatan
dan sosial, lingkungan fisik dan rekreasi (Anderson & McFarlane, 2006; Allender
& Spradley, 2010).
Delapan subsistem dipisahkan dengan garis putus-putus artinya sistem satu
dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Di dalam komunitas ada lines of
resistance, merupakan mekanisme internal untuk bertahan dari stressor. Rasa
kebersamaan dalam komunitas untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan
contoh dari line of resistance. Anderson dan McFarlane (2006) mengatakan
bahwa dengan menggunakan model Community as Partner terdapat dua
komponen utama yaitu roda pengkajian komunitas dan proses keperawatan. Roda
pengkajian komunitas terdiri dari dua bagian utama yaitu inti dan delapan
subsistem yang mengelilingi inti yang merupakan bagian dari pengkajian
keperawatan, sedangkan proses keperawatan terdiri dari beberapa tahap mulai dari
pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Komunitas sebagai klien/partner berarti kelompok masyarakat tersebut
turut berperan serta secara aktif meningkatkan kesehatan, mencegah dan
mengatasi masalah kesehatannya.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Gambar 2.1 Model Community As Partner Anderson Mc Farlan

2.2 Konsep Model Community As Partner


Model Community As Partner Anderson & McFarlane (2006) merupakan
pengembangan model Betty Newman, dengan fokus komunitas sebagai mitra dan
proses keperawatan sebagai pendekatan. Model ini menekankan partisipasi aktif
masyarakat dalam meningkatkan dan mencegah masalah kesehatan.
Pengkajian pada model ini berdasarkan pada data inti masyarakat, dengan
delapan subsistem lain, seperti lingkungan fisik, pendidikan, komunikasi, layanan
kesehatan dan sosial, keamanan dan transportasi, ekonomi, rekreasi, serta politik
dan pemerintahan. Setelah data dianalisis, ditegakkan diagnosis berdasarkan
tingkat reaksi komunitas terhadap stresor. Fokus intervensi keperawatan yang
dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah disusun, digunakan untuk
menurunkan stressor dengan memperkuat garis pertahanan. Ketiga garis
pertahanan tersebut akan dilalui oleh stresor manusia yang menyebabkan
ketidakseimbangan. Reaksi manusia terhadap stresor digambarkan melalui tiga
garis pertahanan (fleksibel, normal, resistan). Asuhan keperawatan yang bertujuan
mempertahankan keseimbangan berupa intervensi promosi bertujuan
mempertahankan keseimbangan berupa intervensi promosi (intervensi primer)
dilakukan apabila terdapat gangguan pada garis pertahanan fleksibel guna
meningkatkan kesehatan dan menyeimbangkan garis pertahanan normal.
Intervensi yang bersifat prevensi (intervensi sekunder) berupa deteksi dini adanya
gangguan pada garis pertahanan kesehatan normal. Sementara itu, intervensi
kuratif rehabilitasi (intervensi tersier) dilakukan apabila terdapat gangguan pada
garis pertahanan resistan.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

BAB 3. APLIKASI KONSEP CAP

3.1 Pengkajian
1. Data Inti
a. Demografi
Lansia yang berada di UPT PSTW Jember terdapat 140 lansia, namun yang
dilakukan pengkajian sebanyak 68 lansia. Lansia tersebut bertempat di 9
wisma yaitu wisma sedap malam, wisma mawar, wisma melati, wisma dahlia,
wisma teratai, wisma saroja, wisma cempaka, wisma anggrek dan wisma
seruni.
b. Nilai dan kepercayaan
1. Agama
Mayoritas lansia penghuni UPT PSTW Jember menganut agama islam,
dengan 56 lansia menganut agama islam dan 4 lansia menganut agama
Kristen
2. Adat-istiadat (kebiasaan) yang ada di UPT PSTW Banyuwangi:
Lansia penghuni UPT PSTW Jember setiap hari Rabu pagi jam 08.00-
10.00 ada acara keagamaan dengan mengundang kyai di daerah UPT
PSTW Jember. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin mingguan di
UPT PSTW Jember. Setiap sholat 5 waktu ada beberapa lansia yang
melakukan sholat di Masjid di UPT PSTW Jember. Dan setiap hari jumat
lansia laki-laki beserta masyarakat disekitar panti melakukan sholat Jumat
di Masjid yang berada di UPT PSTW Jember. Selain itu pada hari jumat
pagi juga lansia memiliki jadwal untuk olahraga senam bersama dan pada
hari kamis terdapat jadwal kegiatan rekreatif bagi lansia.
c. Karakteristik penduduk
1. Fisik: lansia yang berada di UPT PSTW Jember mayoritas mengalami
hipertensi, asam urat atau mengalami kelemahan otot khususnya pada
ekstermitas bawah, dan penurunana daya ingat.
2. Psikologis: lansia yang berada di UPT PSTW Jember memiliki risiko
mengalami kesepian dan kesedihan yang dapat menyebabkan depresi. Hal
tersebut disebabkan karena lansia ditinggalkan oleh keluarga dan sanak
saudara. Akan tetapi depresi tersebut juga dapat dikurangi dengan adanya
kegiatan-kegiatan yang ada di UPT PSTW Jember
3. Sosial : proses sosialisasi lansia yang ada di UPT PSTW Jember cukup
baik karena disini diberikan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan
proses sosial lansia. Seperti ditanamkannya saling senyum dan menyapa
ketika bertemu dengan seseorang. Akan tetapi sering juga terjadi
pertengkaran antar lansia karena adanya kesalah pahaman. Lansia sering
sekali antusias jika ada mahasiswa yang memberikan informasi mengenai
kesehatan dan sering bertanya kepada mahasiswa tentang latihan- latihan
yang diberikan mahasiswa.
4. Perilaku : perilaku kesehtana lansia yang ada di UPT PSTW Jember
beraneka ragam. Terdapat lansia yang memiliki perilaku kesehatan baik
seperti istirahat tidur, mencuci tangan, makan teratur, minum cukup, dan
perawatan diri juga baik. Akan tetapi masih ada juga lansia yang malas
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

mandi, dan juga masih ada yang merokok walaupun sudah diingatkan
oleh pengurus.

2. Sub sistem
a) Lingkungan fisik
Lingkungan yang berada di sekitar UPT PSTW Jember memiliki lahan dengan
luas tanah 37.500m2 dan memiliki bangunan seperti kantor, rumah dinas, 10
wisma, dapur, dan masjid yang semuanya berada di dalam lingkungan UPT
PSTW. Kualitas air yang ada di lingkungan UPT PSTW Jember menggunakan
sumur bersih dan melalui penampungan air. Setiap wisma masing- masing
memiliki kamar mandi dan toilet yang dapat digunakan untuk mandi,cuci,BAB,
dan BAK. Saluran air pembuangan juga terdapat setiap di depan wisma dan
memiliki tempat cuci tangan di setiap depan wisma. Halaman di depan setiap
wisma memiliki pepohonan yang rindang dan terdapat perkebunan yang dapat
dimanfaatkan untuk lansia dapat beraktifitas berkebun dan bergotong royong
untuk membersihkan lingkungan sekitar. Bangunan yang ada di PSTW terdiri dari
semen dan batu bata permanen dan memiliki vetilasi yang cukup. Setiap lansia
memiliki tanggung jawab untuk membersihkan wismanya masing- masing kecuali
untuk ruang perawatan khusus yang memerlukan bantuan untuk perawatan
lingkungannya.
b) Sistem kesehatan
UPT PSTW Jember memiliki klinik disetiap wismanya dan terdapat stok obat-
obatan yang dapat digunakan untuk lansia yang memiliki masalah kesehatan dan
jika lansia sedang kambuh sakitnya atau terserang penyakit yang belum
memerlukan untuk perawatan khusus di rumah sakit. Lansia sering mendapatkan
edukasi tentang kesehatan dari para pengurus dan pegawai PSTW. Lansia juga
sering untuk dimonitor tekanan darahnya oleh mahasiswa untuk mengetahui
tekanan darah lansia. UPT PSTW juga terletak di tepi jalan yang tidak jauh dari
sistem pelayanan kesehatan dan mudah untuk dijangkau oleh pelayanan kesehatan
kabupaten.
c) Ekonomi
Lansia yang tinggal di UPT PSTW Jember ini tidak memiliki pekerjaan dan
keuangannya tergantung dari manajemen dari pengurus panti. Lansia bisa
mendapatkan uang jika ada donatur yang memberikan bantuan kepada mereka,
dan segala kebutuhan sandang, pangan, dan papan sudah tergantung penuh dari
pihak UPT PSTW Jember. Beberapa lansia juga ada yang memiliki pekerjaan
diluar lingkungan PSTW untuk sebagai penghasilan tambahan. Lansia terkadang
juga memiliki kerajinan tangan membuat kemoceng dan keset untuk dapat dijual
diluar lingkungan PSTW.
d) Keamanan dan transportasi
Kemanan yang diterapkan di UPT PSTW Jember ini memiliki pos satpam di
bagian depan gerbang dan terdapat satpam yang menjaga keamanan setiap hari.
Tidak ada transportasi yang digunakan oleh lansia didalam lingkungan PSTW,
namun pihak PSTW memiliki mobil ambulance untuk kepentingan kesehatan
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

lansia dan motor pengurus yang dapat digunakan untuk transportasi keluar dari
lingkugan PSTW
e) Kebijakan dan pemerintahan
Kebijakan yang ada di lingkungan PSTW dirumuskan oleh pengurus, seperti
perencanaan kegiatan lansia setiap harinya ditentukan oleh pengurus seperti
senam, pengajian, kreativitas, dan gotong royong maupun kegiatan tambahan lain
ditentukan oleh pengurus. Setiap wisma memiliki penanggung jawab yang dipilih
dari lansia yang tinggal di wisma tersebut.
f) Komunikasi
a. Jumlah TV/ radio di setiap wisma
Di setiap wisma disediakan satu TV untuk sarana informsi untuk lansia dan
radio tidak ada.
b. Apa saja sarana komunikasi formal dan informal yang ada di UPT PSTW
Jember.
Terdapat dua telepon kantor di UPT PSTW Jember.
Terdapat alarm yang disediakan untuk mengingatkan lansia melakukan
kegiatan seperti mengingatkan lansia untuk minum air putih, mandi, cuci
tangan sebelum makan dan lain sebagainya.
c. Apakah ada surat kabar (koran/ majalah) yang terdapat di stan tidap wisma?
Tidak terdapat stan untuk surat kabar ditiap wisma, namun ada stan surat
kabar di kantor dan karyawan kantor untuk membaca.
d. Apakah lansia diberikan kebebasan membawa alat komunikasi dari luar?
Iya, Lansia diberi kebebasan untuk membawa alat komunikasi dari luar.
e. Tempat yang digunakan lansia untuk berkumpul?
Tempat yang sering digunakan untuk berkumpul ada di aula, segala kegiatan
seluruh wisma berpusat di aula. Namun, terdapat gazebo yang biasanya
menjadi tempat untuk lansia berkumpul dan berbincang-bincang. Sedangkan
untuk lansia parsial care tempat berkumpul untuk kegiatan seperti rekreatif
maupun keagamaan, lansia berkumpul di gazebo dekat dengan wisma
mereka.
g) Pendidikan
a. Tingkat pendidikan lansia di UPT PSTW Jember
Lansia yang menempati UPT PSTW Jember mayoritas tidak lulus SD
namun ada beberapa ada yang lulus SMP maupun SMA.
b. Kegiatan pendidikan formal
Di UPT PSTW Jember tidak terdapat program pendidikan formal untuk
lansia.
c. Aktivitas-aktivitas lain yang mengasah keterampilan dan ketelatenan lansia
di UPT PSTW Jember
Lansia yang berada di UPT PSTW Jember memiliki kegiatan keterampilan
setiap hari kamis. Pelayanan keterampilan dan bimbingan yang diberikan
terhadap lansia di UPT PSTW Jember meliputi:
- Kerajinan tangan yang dapat dilakukan lansia seperti membuat
kemoceng, sapu lidi, serbet dan lain sebagainya.
-Bimbingan fisik dan kesehatan dengan melakukan senam pagi setiap hari
selasa dan jumat, serta kerja bakti bersama setiap pagi.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

- Bimbingan spiritual dan psikologi berupa dengan bimbingan spiritual


dengan mendatangkan ustadz di sekitar wilayah UPT PSTW Jember, serta
pengajian.
- Bimbingan sosial dengan hiburan rekreatif dengan cara memfasilitasi
lansia untuk dapat menyalurkan bakatnya seperti menyanyi, menari dan
membaca puisi.

h) Rekreasi
a. Bentuk rekreasi yang sering dilakukan oleh lansia
Lansia sering mendapatkan acara rekreasi dengan kegiatan menyalurkan
bakat seperti bernyanyi, menari maupun membaca puisi setiap hari kamis.
b. Bentuk kegiatan yang menghibur bagi lansia.
Kegiatan rekreatif setiap hari kamis, senam yang dilakukan setiap hari
selasa dan jumat, dan pengajian setiap hari rabu.
c. Bentuk kegiatan di waktu senggang lansia
Banyak dari lansia di waktu senggang digunakan untuk berkumpul
bersama, berkomunikasi dengan sesama lansia.
d. Apakah ada program kegiatan rutin terkait rekreasi kepada lansia di UPT
PSTW Jember?
Hiburan rekreatif yang dilaksanakan hari kamis yaitu karaokean bersama,
menyalurkan bakat seperti bernyanyi, menari maupun membaca puisi.

3. Persepsi
Lansia di UPT PSTW Jember memiliki semangat yang tinggi untuk
meningkatkan kesehatan. Terlihat dari lansia yang sangat berantusias mengikuti
tari molong kopi yang diadakan oleh mahasiwa profesi ners universitas jember.
Selain itu lansia juga rutin melakukan pemeriksaan kesehatan apabila dirasa
kurang sehat dan selalu meminum obat secara rutin yang diberikan petugas
kesehatan.

3.2 Hasil Tabulasi Data


Tabel 1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di UPT PSTW
Jember;(N=78)

Variabel Mean (SD) Median (Min-Maks)

Umur 69.04(7,494) 68(50-88)

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)


Dari Tabel 1.1 di atas, di dapatkan data yang menunjukkan rata-rata usia
responden dalam penelitian ini adalah 69,04 tahun, dengan nilai minimum usia
responden dalam penelitian adalah 50 tahun dan nilai maksimum usia responden
yaitu 88 tahun.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Tabel 1.2 Karakteristik Responden meliputi Jenis Kelamin, Status Pernikahan,


Pendidikan dan Wisma di UPT PSTW Jember Kabupaten Jember; (N=78)

Variabel Jumlah (n) Presentase (%)


1. Jenis Kelamin
a. Laki-laki 33 42,3
b. Perempuan 45 57,7
Total 78 100
2. Status Pernikahan
a. Menikah 11 14,1
b. Belum Menikah 11 14,1
c. Cerai 11 14,1
d. Cerai mati 45 57,7
Total 78 100
3. Pendidikan
a. Tidak tamat SD 36 46,2
b. SD 28 35,9
c. SLTP/SMP 5 6,4
d. SLTA SMA 9 11,5
Total 78 100
4. Wisma
a. Mawar 13 16,7
b. Melati 6 7,7
c. Sedap malam 9 11,5
d. Saroja 6 7,7
e. Teratai 10 12,8
f. Cempaka 10 12,8
g. Sakura 9 11,5
h. Seruni 6 7,7
i. Dahlia 9 11,5
Total 78 100
Sumber : (Data Primer, Maret 2019)
Tabel 1.2 , di dapatkan data bahwa dari total 78 responden yaitu : 33 orang
(42,3%) Laki laki, dan 45 orang (57,7%). Responden berstatus menikah sebanyak
11 orang (14,1%), belum menikah sebanyak 11 orang (14’1%), cerai sebanyak 11
orang (14,1%) dan cerai mati sebanyak 45 orang (57,7%). Tingkat pendidikan
responden tidak SD sebanyak 36 orang (46,2%), tamat SD sebanyak 28 orang
(35,9%), tamat SLTP/SMP sebanyak 5 orang (6,4%), dan Tamat SLTA/SMP
sebanyak 9 orang (11,5%). Distribusi responden di wisma Mawar sebanyak 13
orang (16,7%), wisma melati sebanyak 6 orang (7,7%). Wisma sedap malam
sebanyak 9 orang (11,5%), wisma saroja sebanyak 6 orang 7,7%), wisma teratai
sebanyak 10 orang (12,8%), wisma cempaka sebnyak 10 orang (12,8%), wisma
sakura sebanyak 9 orang (11,5%), wisma seruni sebanyak 6 orang (7,7%) dan
wisma dahlia sebanyak 9 orang (11,5%).
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Tabel 1.3 Tekanan Darah , Denyut Nadi, Pernafasan dan Suhu Lansia di UPT
PSTW Jember Kabupaten Jember; (N=78)

Variabel Mean (SD) Median (Min-Maks)

Tekanan Darah Diastolik 79,49(12,680) 80(60-120)


Tekanan Darah Sistolik 129,76(23,515) 130(90-210)
Denyut Nadi 76,42(6,235) 78(60-94)
Pernafasan 20,15(2,045) 20(15-25)
Suhu 36,73(0,399) 37(36-37)

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)


Dari Tabel 1.3 di atas, di dapatkan data yang menunjukkan rata-rata
tekanan darah Diastolik responden dalam penelitian ini adalah 79,49 mmHg
dengan nilai minimum tekanan darah diastolik responden dalam penelitian adalah
60mmHg dan nilai maksimum tekanan darah diastolik responden yaitu 120
mmHg. Sedangkan rata-rata tekanan darah sistolik responden dalam penelitian ini
adalah 79,49 mmHg dengan nilai minimum tekanan darah sistolik responden
dalam penelitian adalah 60 mmHg, nilai maksimum tekanan darah diastolic
responden yaitu 210 mmHg. Rata-rata denyut nadi responden dalam penelitian ini
adalah 76,42x/ menit dengan nilai minimum denyut nadi responden dalam
penelitian adalah 60x/ menit, nilai maksimum denyut nadi responden yaitu
94x/menit. Rata-rata pernafasan responden dalam penelitian ini adalah
20,15x/menit dengan nilai minimum pernafasan responden dalam penelitian
adalah 15x/menit, nilai maksimum pernafasan responden yaitu 25x/menit, dan
rata-rata suhu responden dalam penelitian ini adalah 36,7 oC dengan nilai
minimum suhu responden dalam penelitian adalah 36 oC, nilai maksimum
pernafasan responden yaitu 37 oC.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Gambar 1.1 Diagram Tingkat Kemandirian (KATZ) pada Lansia di UPT PSTW
Jember Kabupaten Jember (N=78).

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Gambar 1.1 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat


kemandirian (KATZ) jumlah terbanyak terdapat pada kemandirian 6 fungsi
sebanyak 52 orang (66,7%).

Gambar 1.2 Diagram Tingkat Status Intelektual (SPMSQ) pada Lansia di UPT
PSTW Jember Kabupaten Jember (N=78).

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)


Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Gambar 1.2 menunjukkan bahwa pada variabel Status Intelektual lebih


banyak intelektual utuh sebanyak 28 orang (35,9%).

Tabel 1.4 Tingkat Status Mental (MMSE) pada Lansia di UPT PSTW Jember
Kabupaten Jember (N=78).

Variabel Jumlah (n) Presentase (%)


Mental
a. Kerusakan mental berat 20 25,6
b. Kerusakan mental ringan 24 30,8
c. Fungsi mental baik 34 43,6

Total 78 100,0
Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Tabel 1.4 menunjukkan bahwa pada variabel Status mental lebih banyak
pada fungsi mental baik sebanyak 34 orang (43,6%).

Gambar 1.3 Tingkat Depresi (Becks Scale) pada Lansia di UPT PSTW Jember
Kabupaten Jember (N=78).

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Gambar 1.3 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat depresi lebih


banyak pada depresi minimal sebanyak 26 orang (33,3%).
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Gambar 1.5 Tingkat Spriritual (Daily Spiritual Experience Scale) pada Lansia di
UPT PSTW Jember Kabupaten Jember (N=78).

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Gambar 1.5 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat spiritual lebih


banyak pada tingkat spiritual tinggi sebanyak 54 orang (69,2%).

Tabel 1.5 Tingkat efikasi diri pada Lansia di UPT PSTW Jember Kabupaten
Jember (N=78).

Variabel Jumlah (n) Presentase (%)


Efikasi diri
a. Kurang baik 21 26,9
b. Baik 57 73,1

Total 78 100,0
Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Tabel 1.5 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat efikasi diri lebih
banyak pada tingkat efikasi diri sebanyak 57 orang (73,1%).

Tabel 1.6 Distribusi Tingkat Nyeri pada Lansia di UPT PSTW Jember
Kabupaten Jember (N=78).

Variabel Jumlah (n) Presentase (%)


Nyeri
a. 0 5 6,4
b. Tidak ada keluhan nyeri 20 25,6
c. Ada rasa nyeri, mulai terasa dan 32 41,0
masih dapat di tahan
d. Ada rasa nyeri, terasa 18 23,1
mengganggu dengan usaha yang
cukup kuat untuk menahannya.
e. Ada nyeri, terasa sangat 3 3,8
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

mengganggu/ tidak tertahankan


sehingga harus meringis,
menjerit, bahkan berteriak
Total 78 100,0
Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Tabel 1.6 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat nyeri lebih banyak
pada keadaan ada rasa nyeri, mulai teras dan masih dapat di tahan sebanyak 32
orang (41%).

Gambar 1.6 Tingkat Mobilitas (The Time Up and Go) pada Lansia di UPT PSTW
Jember Kabupaten Jember (N=78).

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Gambar 1.6 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat mobilitas lebih


banyak pada tingkat free mobility sebanyak 29 orang (37,2%).

Tabel 1.7 Norton Scale pada Lansia di UPT PSTW Jember Kabupaten Jember
(N=78).

Variabel Jumlah (n) Presentase (%)

a. Resiko kecil terjadinya ulkus 67 85,9


dekubitus
b. Resiko sedang terjadinya ulkus 5 6,4
dekubitus
c. Peningkatan risiko 50% 1 1,3
terjadinya ulkus dekubitus
d. Risiko tinggi terjadinya ulkus 5 6,4
decubitus
Total 78 100,0
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Tabel 1.7 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat Norton scale lebih
banyak pada resiko kecil terjadinya ulkus decubitus sebanyak 67 orang (85,9%).

Gambar 1.7 Tingkat Resiko Jatuh (Morse Fall Scale) pada Lansia di UPT PSTW
Jember Kabupaten Jember (N=78).

Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Tabel 1.17 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat resiko jatuh lebih
banyak pada tingkat resiko tinggi sebanyak 29 orang (37,2%).

Tabel 1.8 Distribudi Tingkat Kualitas tidur pada Lansia di UPT PSTW Jember
Kabupaten Jember (N=78).

Variabel Jumlah (n) Presentase (%)


Kualitas tidur
a. Baik 56 71,8
b. Buruk 22 28,2

Total 78 100,0
Sumber : (Data Primer, Maret 2019)

Tabel 1.8 menunjukkan bahwa pada variabel tingkat kualitas tidur lebih
banyak pada tingkat baik sebanyak 56 orang (71,8%).
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

3.3 Analisa Data Keperawatan Komunitas


NO KELOMPOK DATA KEMUNGKINAN MASALAH
PENYEBAB
1 DO: Lansia masih ada yang terlihat merokok walaupun
sudah diingatkan oleh pengurus Kurang sumber informasi Ketidakefektifan
DS: pemeliharaan kesehatan
Hasil dari wawancara dengan pengurus UPT PSTW Jember Kurang dukungan sosial (hipertensi)
mengatakan bahwa:
a. Lansia mendapatkan informasi kesehatan Strategi koping tidak efektif
hanya dari mahasiswa.
b. Pengurus jarang memberikan informasi Stres terhadap perubahan
kesehatan kecuali untuk bimbingan mental lingkungan
dan spiritual
c. Banyak lansia yang mengeluh terhadap Ketidakmampuan melakukan
lingkungan di wisma tempat mereka tinggal. perilaku sehat

Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan
(hipertensi)

2 DO: Berdasarkan pengkajian kuesioner SPMSQ didapatkan


rata-rata lansia mengalami kerusakan intelektual utuh, Insiden masalah komunitas Ketidakmampuan koping
kemudian masih banyak lansia yang mengalami kerusakan tinggi komunitas (kognitif)
intelektual sedang.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

DS: Konflik komunitas berlebihan


Hasil dari wawancara dengan pengurus UPT PSTW Jember
mengatakan bahwa:
a. Terkadang terjadi konflik antar lansia Peningkatan angka kesakitan
b. Masih banyak lansia yang tidak menggubris saran
dari pengurus. Kurang sumber informasi
c. Banyak lansia yang mengeluh nyeri di tengkuk leher.
d. Lansia mendapatkan informasi kesehatan hanya dari Stres berlebihan
mahasiswa.
Ketidakmampuan koping
komunitas (kognitif)

3 DO:
a. lansia terlihat antusias saat ada mahasiswa Mengungkapkan keinginan Kesiapan meningkatkan
memberikan implementasi (tari molong kopi) terhadap penanganan gejala manajemen kesehatan.
b. Lansia terlihat mengikuti setiap gerakan yang di
contohkan mahasiswa Mengungkapkan keinginan
c. Lansia sering bertanya kepada mahasiswa untuk menangani penyakit
DS : hipertensi
Hasil dari wawancara dengan lansia di UPT PSTW Jember
mengatakan bahwa: Mengungkapkan keinginan
a. Lansia senang jika ada mahasiswa praktik untuk untuk melakukan penanganan
memberikan informasi kesehatan kepada mereka. terhadap program yang telah
b. Lansia sering meminta kembali untuk melakukan
dibuat
latihan atau senam kesehatan pada kegiatan
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

selanjutnya. Kesiapan meningkatkan


manajemen kesehatan.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

3.4 Diagnosis Keperawatan Komunitas


1. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan (hipertensi) berhubungan dengan
stres terhadap perubahan lingkungan dan ketidakmampuan melakukan
perilaku sehat ditandai dengan lansia masih ada yang terlihat merokok
walaupun sudah diingatkan oleh pengurus, pengurus UPT PSTW Jember
mengatakan bahwa:
a. Lansia mendapatkan informasi kesehatan hanya dari mahasiswa.
b. Pengurus jarang memberikan informasi kesehatan kecuali untuk
bimbingan mental dan spiritual
c. Banyak lansia yang mengeluh terhadap lingkungan di wisma
tempat mereka tinggal.
2. Ketidakmampuan koping komunitas (kognitif) berhubungan dengan stres
berlebihan ditandai dengan berdasarkan pengkajian kuesioner SPMSQ
didapatkan rata-rata lansia mengalami kerusakan intelektual utuh,
kemudian masih banyak lansia yang mengalami kerusakan intelektual
sedang, hasil dari wawancara dengan pengurus UPT PSTW Jember
mengatakan bahwa:
a. Terkadang terjadi konflik antar lansia
b. Masih banyak lansia yang tidak menggubris saran dari pengurus.
c. Banyak lansia yang mengeluh nyeri di tengkuk leher.
d. Lansia mendapatkan informasi kesehatan hanya dari mahasiswa.
3. Kesiapan meningkatkan manajemen kesehatan berhubungan dengan
Mengungkapkan keinginan untuk melakukan penanganan terhadap
program yang telah dibuat ditandai dengan lansia terlihat antusias saat ada
mahasiswa memberikan implementasi (tari molong kopi), lansia terlihat
mengikuti setiap gerakan yang di contohkan mahasiswa, lansia sering
bertanya kepada mahasiswa, Hasil dari wawancara dengan lansia di UPT
PSTW Jember mengatakan bahwa:
a. Lansia senang jika ada mahasiswa praktik untuk memberikan
informasi kesehatan kepada mereka.
b. Lansia sering meminta kembali untuk melakukan latihan atau senam
kesehatan pada kegiatan selanjutnya.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

3.5 Perencanaan
3.5.1 Perencanaan Masalah Keperawatan Komunitas
Diagnosa Tujuan Jangka
Tujuan Jangka Pendek Rencana Intervensi Kegiatan
Keperawatan Panjang

Ketidakefektifan Lansia mampu Lansia akan dapat: Pendidikan kesehatan Pendidikan kesehatan (5590)
pemeliharaan memahami dan 1. Tekanan darah (5590)
melakukan sistolik dalam  Menargetkan sasaran pada
kesehatan
penanganan dan rentang normal  Targetkan sasaran kelompok beresiko tinggi dan
(hipertensi)
pencegahan hipertensi (Skala target pada kelompok rentang usia yang akan
dengan outcome dari tidak beresiko tinggi dan mendapat manfaat besar dari
mempertahankan ada pengetahuan (1) rentang usia yang akan pendidikan kesehatan
kondisi kesehatan dipertahankan pada mendapat manfaat  Menekankan manfaat
dengan pola hidup pengetahuan sangat besar dari pendidikan kesehatan positif yang lansung
sehat banyak (5)). kesehatan atau jangka pendek yang bisa
2. Tekanan darah  Tekankan manfaat diterima
diastolik dalam kesehatan positif yang  Menekankan pentingnya gaya
rentang normal
lansung atau jangka hidup yang sehat, seperti : pola
(Skala target
pendek yang bisa makan yang sehat, tidur yang
outcome dari tidak
ada pengetahuan (1) diterima cukup, berolahraga, dan tidak
dipertahankan pada  Tekankan pentingnya merokok
pengetahuan sangat gaya hidup yang sehat,
Fasilitasi pembelajaran untuk
banyak (5)). seperti : pola makan
mengatasi hiprtensi : Tari
3. Target tekanan darah yang sehat, tidur yang
Molong kopi (5520)
(Skala target cukup, berolahraga,
outcome dari tidak dan tidak merokok  Memberikan informasi sesuai
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

ada pengetahuan (1) Fasilitasi pembelajaran dengan tingkat perkembangan


dipertahankan pada untuk mengatasi lansia
pengetahuan sangat hiprtensi : Tari Molong  Menyesuaikan informasi dan
banyak (5)). kopi (5520) media yang tepat dengan gaya
4. Manfaat pengobatan hidup dan rutinitas lansia,
jangka panjang  Berikan informasi sehingga dapat dippatuhi oleh
(Skala target sesuai dengan tingkat lansia
outcome dari tidak perkembangan lansia  Mendorong lansia untuk
ada pengetahuan (1)  Sesuaikan informasi berpartisipasi aktif dalam
dipertahankan pada dan media yang tepat
pengetahuan sangat pembelajaran untuk mengatasi
dengan gaya hidup hiprtensi : Tari Molong kopi
banyak (5)). dan rutinitas lansia,
5. Pentingnya Pengajaran : proses penyakit
sehingga dapat
mematuhi hipertensi (5602)
dippatuhi oleh lansia
pengobatan (Skala
 Dorong lansia untuk
target outcome dari  Mengkaji tingkat pengetahuan
tidak ada berpartisipasi aktif
pasien terkait hipertensi
pengetahuan (1) dalam pembelajaran
 Menjelaskan tanda gejala yang
dipertahankan pada untuk mengatasi
umum dari penyakit sesuai
pengetahuan sangat hiprtensi : Tari
kebutuhan
banyak (5)). Molong kopi
 Menginstruksikan pasien
6. Manfaat pemantauan
sendiri secara terus- Pengajaran : proses mengenai tindakan untuk
menerus (Skala penyakit hipertensi mencegah atau meminimalkan
target outcome dari (5602) efek samping penanganan dari
tidak ada hipertensi
 Kaji tingkat  Mengedukasi pasien menenai
pengetahuan (1)
dipertahankan pada pengetahuan pasien tindakan untuk mengontrol
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

pengetahuan sangat terkait hipertensi atau meminimalkan gejala


banyak (5)).  Jelaskan tanda gejala
7. Manfaat olahraga yang umum dari
teratur dapat (Skala penyakit sesuai
target outcome dari kebutuhan
tidak ada  Instruksikan pasien
pengetahuan (1) mengenai tindakan
dipertahankan pada
untuk mencegah atau
pengetahuan sangat
meminimalkan efek
banyak (5)).
samping penanganan
dari hipertensi
 Edukasi pasien
menenai tindakan
untuk mengontrol atau
meminimalkan gejala

Ketidakmampua Lansia mampu Lansia akan dapat: Peningkatan koping Peningkatan koping (5230)
n koping memahami dan (5230)
melakukan 1. Mengetahui konsep  Membantu lansia untuk
komunitas dasar penyakit  Bantu lansia untuk menyelesaikan masalah
penanganan dan
(kognitif) degeneratif menyelesaikan dengan cara yang konstruktif:
pencegahan hipertensi
dengan 2. Mengetahui cara masalah dengan cara pengajaran terapi aktifitas
mempertahankan penanganan penyakit yang konstruktif: kelompok senam otak
kondisi kesehatan degeneratif pengajaran terapi  Memberikan penilaian
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

dengan pola hidup 3. Meminimalkan aktifitas kelompok mengenai pemahaman lansia


sehat faktor resiko senam otak terhadap proses penyakit
terjadinya penyakit  Berikan penilaian hipertensi
degeneratif] mengenai pemahaman  Mendukung aktifitas sosial dan
4. Mampu lansia terhadap proses komunitas agar bisa dilakukan
mengaplikasikan penyakit hipertensi  Menginstruksikan lansia untuk
layanan kesehatan di  Dukung aktifitas menggunakan teknik relaksasi
komunitas. sosial dan komunitas sesuai dengan kebutuhan
agar bisa dilakukan lansia
 Instruksikan lansia
untuk menggunakan
teknik relaksasi sesuai
dengan kebutuhan
lansia
Kesiapan Lansia mampu Lansia akan dapat: Pengembangan Pengembangan program (8700)
meningkatkan memahami dan program (8700)  Memfasilitasi penerapan
manajemen melakukan 1. Merencanakan  Fasilitasi penerapan program oleh kelompok atau
kesehatan. penanganan dan latihan yang tepat program oleh komunitas: Terapi aktivitas
pencegahan hipertensi dengan tenaga kelompok atau kelompok
dengan kesehatan sebelum komunitas: Terapi  Menjelaskan metode,
mempertahankan memulai latihan aktivitas kelompok kegiatan, dan kerangka waktu
kondisi kesehatan (Skala target  Jelaskan metode, untuk [dilaku-kannya]
dengan pola hidup outcome dapat kegiatan, dan implementasi TAK : senam
sehat ditingkatkan dari kerangka waktu untuk rematik, akupresure, rop,
tidak pernah [dilaku-kannya] rentang gerak, terapi tawa,
menunjukkan (1) ke implementasi TAK : hand hygine, musik dan bola,
secara konsisten senam rematik, puzzle
menunjukkan (5)). akupresure, rop,
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

2. Menyeimbangkan rentang gerak, terapi


aktivitas sehari-hari tawa, hand hygine,
dengan olahraga musik dan bola,
(Skala target puzzle
outcome dapat
ditingkatkan dari
tidak pernah
menunjukkan (1) ke
secara konsisten
menunjukkan (5)).
3. Menggunakanstrate
gi untuk
menghadapi
hambatan dalam
olahraga (Skala
target outcome
dapat ditingkatkan
dari tidak pernah
menunjukkan (1) ke
secara konsisten
menunjukkan (5)).
4. Melakukan
pemanasan dengan
tepat (Skala target
outcome dapat
ditingkatkan dari
tidak pernah
menunjukkan (1) ke
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

secara konsisten
menunjukkan (5)).
5. Memantau
tekananan darah
(Skala target
outcome dapat
ditingkatkan dari
tidak pernah
menunjukkan (1) ke
secara konsisten
menunjukkan (5)).
6. Patuh pada program
olahraga (Skala
target outcome
dapat ditingkatkan
dari tidak pernah
menunjukkan (1) ke
secara konsisten
menunjukkan (5)).
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

No. Masalah Evaluasi Waktu Penanggung


kesehatan Jawab
Kriteria Struktur Standar

1. Ketidakef Respon Ketua panitia PJ 80% Lansia di UPT PSTW Jembar Senin, 18 Mahasiswa
ektifan verbal gerontic Mahasiwa mampu menyebutkan bentuk Maret 2019
pemelihar profesi ners angk.23 pemeliharaan kesehatan yang ada dan pukul 07.00-
aan Fak.Keperawatan dilaksanakan di PSTW jember 17.00 WIB
kesehatan Universitas Jember
(hipertens Respon
berkoordinasi dengan
i) afektif 80% lansia dan pegawai UPT PSTW
Kepala UPT PSTW
dan yang ada mampu menyebutkan masalah
psikomot Jember. kesehatan lansia yang terjadi di
or lingkungan PSTW Jember

Respon 80% lansia mampu menyebutkan


afektif tindakan apa yang harus dilakukan
dan ketika salah satu anggota keluarga
kognitif (teman 1 kamar yang mengalami
Respon masalah kesehatan PSTW Jember
afektif 80% lansia mengikuti pemeriksaan
dan kesehatan dan penyuluhan kesehatan
kognitif yang di adakan oleh mahasiswa profesi
keperawatan Universitas Jember

2. Ketidakef Respon Ketua panitia PJ 80% Lansia di UPT PSTW Jembar Senin, 18 Mahasiswa
ektifan verbal gerontic Mahasiwa mampu bersosialisasasi baik /rukuun Maret 2019
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

koping profesi ners angk.23 dengan teman 1 kamar maupun tetangga pukul 07.00-
komunita Fak.Keperawatan kamar 17.00 WIB
s: Universitas Jember
kognitif Respon berkoordinasi dengan
afektif Kepala UPT PSTW 80% lansia bisa bekerja sama dengan
dan pegawai UPT PSTW yang ada mampu
Jember.
psikomot mematuhi peraturan di lingkungan
or PSTW Jember

Respon 80% lansia mengikuti pemeriksaan


afektif kesehatan dan penyuluhan kesehatan
dan yang di adakan oleh mahasiswa profesi
kognitif keperawatan Universitas Jember

3. Kesiapan Respon Ketua panitia PJ 80% lansia mengikuti pemeriksaan Senin, 18 Mahasiswa
meningka verbal gerontic Mahasiwa kesehatan dan penyuluhan kesehatan Maret 2019
tkan profesi ners angk.23 yang di adakan oleh mahasiswa profesi pukul 07.00-
manajem Fak.Keperawatan keperawatan Universitas Jember 17.00 WIB
en Universitas Jember
kesehatan Respon
berkoordinasi dengan
afektif 80% Lansia antusias mengikuti latian
Kepala UPT PSTW
dan tari molongkopi yang di adakan oleh
psikomot Jember. mahasiswa profesi keperawatan
or Universitas Jember
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

RENCANA TINDAK LANJUT

Masalah Tujuan Kegiatan Sasaran Waktu Tempat Tanggung


Kesehatan Jawab
Ketidakefekti Meminimalkan 1. Penyuluhan kesehatan setiap bulan Lansia UPT 1 bulan Aula atau Ka bagian
fan masalah kesehatan dengan materi yang berbeda. PSTW sekali Lapangan UPT Pelayanan dan
pemeliharaan pada lansia, dengan Materi yang diberikan: Jember PSTW Jember Rehabilitasi
kesehatan: kriteria hasil : a. Pengetahuan konsep dasar
hipertensi Pengetahuan lansia hipertensi
tentang hipertensi b. Penanganan hipertensi
dan manajemennya c. Gaya hidup sehat untuk
meningkat mencegah dan mengontrol
hipertensi
2. Terapi untuk mengatasi 2 kali
hipertensi: Tari molong kopi dalam satu
minggu
Ketidakefekti Meminimalkan Terapi untuk meningkatkan status Semua lansia 2 minggu Aula UPT Ka bagian
fan koping masalah kesehatan kognitif: Senam otak UPT PSTW sekali PSTW Jember Pelayanan dan
komunitas: pada lansia, dengan Jember dan Halaman Rehabilitasi
kognitif kriteria hasil : lansia Wisma untuk
dapat lansia total dan
mempraktekkan parsial
senam otak

Kesiapan Meningkatkan status Terapi aktivitas kelompok Semua lansia Satu bulan Aula UPT Ka bagian
meningkatka kesehatan lansia (senam rematik, ROP, terapi tawa, UPT PSTW sekali PSTW Jember Pelayanan dan
n manajemen dll) Jember dalam satu dan Halaman Rehabilitasi
kesehatan kali Wisma untuk
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Evaluasi program terkait relevansi, Pegawai UPT pembelaja lansia total dan
efisiensi, dan efektivitas biaya PSTW ran parsial
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Tingkat Kemandirian Lansia UPT PSTW Jember


Hasil dari pengkuran kemandirian melalui kuesioner Indeks Katz
didapatkan hasil yang menunjukan bahwa karakteristik khusus responden terkait
kemandirian terbanyak yaitu responden melakukan enam fungsi kemandirian
(makan, kontinen, pindah, toilet, pakaian, dan mandi) yaitu 52 responden atau
66,7%. Hal ini menunjukkan bahwa lansia di UPT PSTW Jember dapat
melakukan enam fungsi kemandirian yaitu makan, kontinen, berpindah, toilet,
pakaian dan mandi.
Menurut peneliti kemandirian lansia di UPT PSTW Jember dikarenakan
setiap individu lansia saling memiliki satu sama lain dan mereka menggangap
teman sekamarnya adalah keluarga sehingga mereka merasa memiliki keluarga
yang memperhatikan dan peduli, hal ini sesuai dengan penelitian dari Ahsan
(2018) yang menyebutkan bahwa lansia yang mandiri dalam pemenuhan ADL
disebabkan karena anggota keluarga yang peduli dan memperhatikan kondisi
kesehatan lansia sehingga dapat dapat melakukan 6 fungsi kemandirian.
Pada poin kedua terdapat kemandirian semua aktivitas kecuali 1 dari
fungsi tersebut, dalam hasil pengkajian terdapat 10 lansia yang mana lansia hanya
dapat melakukan 5 fungsi dari 6 fungsi kemandirian. Menurut peneliti lansia
tidak bisa melakukan ke 6 fungsi kemandirian karena faktor proses penuaan
sehingga mempengaruhi tingkat kemandiriannya, penurunan kemampuan fisik
maupun psikologis ini sejalan dengan penelitian Wakhid (2018) yang mana lansia
tidak mampu melakukan salah satu fungsi kemandirian karena faktor proses
penuaan dan penyakit hipertensi.
Penyakit dan imobilitas dapat mempengaruhi kemandirian lansia hal ini
sejalan dengan pernyataan Roedi (2016) yang menyebutkan bahwa faktor yang
mempengaruhi lansia yaitu usia, imobilitas, mudah jatuh dan penyakit. Pada poin
ketiga tentang kemandirian semua aktivitas kecuali mandi dan 1 fungsi tambahan
didapatkan hasil bahwa lansia UPT PSTW Jember terdapat 2 lansia yang tidak
memenuhinya.
Lansia UPT PSTW Jember terdapat 2 lansia yang kemandirian semua
aktivitas hidup kecuali mandi, pakaian dan 1 fungsi lainnya yang tidak terpenuhi.
Menurut peneliti hal ini disebabkan oleh faktor mudah jatuh hal ini sesuai dengan
pernyatan Ediawati (2013) bila seseorang bertambah tua, kemampuan fisik dan
mentalnya perlahan akan menurun, kemampuan fisik dan mental yang menurun
sering menyebabkan jatuh pada lansia, akibatnya akan berdampak pada
menurunnya aktivitas dalam kemandirian lansia.
Kemandirian lansia UPT PSTW Jember terdapat 7 lansia yang tidak dapat
berpindah, tidak dapat mandi, tidak dapat berpakaian, menurut peneliti hal ini
dapat terjadi karena lansia imobilitas, imobilitas adalah keadaan dimana
kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang terbatas,
sehingga tidak dapat melakukan beberapa fungsi kemandirian. Hal ini sejalan
dengan pernyataan dari Roedi (2016) bahwa imobilitas dapat mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk bergerak dan kemandirian lansia.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Ada lansia yang ketergantungan pada 6 fungsi kemandirian, sehingga


lansia tersebut tidak dapat makan sendiri, kontinen sendiri, pindah sendiri,
toileting sendiri, memakai sendiri, dan mandi sendiri. Menurut pengkajian dari
peneliti lansia di UPT PSTW Jember lansia hanya bisa tidur di tempat tidur
karena stroke atau penyakit tertentu sehingga menyebabkan kekauan otot. Hal ini
sesuai dengan pernyataan dari wulandari (2014) bahwa Kemandirian yang kurang
dapat disebabkan karena kurangannya aktivitas pada lansia dalam kehidupan
seharihari, hal ini bisa di karenakan lansia yang jarang melakukan aktivitas dan
cenderung kurang aktif sehingga menimbulkan kekakuan otot.
Pemberian asuhan keperawatan pada lansia yang sakit menjadi prioritas
utama dalam mempertahankan kondisi kesehatan serta kemampuan mereka yang
telah lansia dengan perawatan dan pencegahan. Berdasarkan hal tersebut kondisi
kesehatan lansia yang prima maka kemadirian lansia juga semakin meningkat
sehingga dapat melakukan aktivitas secara mandiri.

4.2 Tingkat Intelektual Lansia UPT PSTW Jember


Proses menua merupakan proses yang terus menerus dan berkelanjutan
yang dialami oleh semua mahluk hidup. Secara umum proses menua didefinisikan
sebagai perubahan yang terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, progresif, dan
detrimental. Proses menua dapat menyebabkan penurunan fungsi fisik, mental,
psikoksosial, dan spiritual. Perubahan fungsi mental meliputi penurunan fungsi
kognitif dan intelektual. Fungsi intelektual berkaitan dengan memori. Seseorang
dikatakan mengalami penurunan fungsi intelektual bila menunjukkan tiga atau
lebih dari gejala-gejala di antaranya perhatian (atensi), daya ingat (memori),
orientasi tempat dan waktu, kemampuan konstruksi dan eksekusi (seperti
mengambil keputusan, memecahkan masalah) tanpa adanya gangguan kesadaran.
Individu yang bermasalah dengan proses berpikir atau mengingat
jumlahnya semakin meningkat lima kali lipat setelah seorang individu mencapai
usia 60 tahun. Hingga mencapai usia awal 80 tahun, perubahan fungsi intelektual
rata-rata mengalami sedikit perubahan. Lanjut usia mengalami penurunan fungsi
dalam kemampuan untuk mengingat. Kecepatan untuk memproses informasi akan
menurun pada dewasa akhir. Pada lanjut usia yang berusia 67-74 terdapat
penurunan kemampuan intelektual yang meliputi penurunan fungsi kemampuan
penalaran dan spasial. Pada usia 67-74 tahun lansia laki-laki memiliki
kemampuan penalaran lebih baik dibandingkan lansia perempuan. Sedangkan
kemampuan spasial lanjut usia perempuan lebih baik dibandingkan lanjut usia
laki-laki.
Ketika lansia memperlihatkan kemunduran memori atau penurunan daya
ingat, kemunduran tersebut cenderung sebatas pada keterbatasan tipe-tipe memori
tertentu. Misalnya kemunduran cenderung terjadi pada keterbatasan memori
episodik. (episodic memories) yaitu memori yang berhubungan dengan
pengalaman-pengalaman tertentu di sekitar kehidupan kita. Sementara memori
lain seperti memori semantik (semantic memories) yaitu memori yang
berhubungan dengan pengetahuan dan fakta-fakta umum, dan memori implisit
(implicit memories) yaitu memori bawah sadar kita, secara umum tidak
mengalami kemunduran karena pengaruh ketuaan (Dewi, 2013).
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Dari hasil pengkajian SPMSQ didapatkan data dari 78 lansia di UPT PSTW
Jember terbanyak yaitu dengan hasil fungsi intelektual utuh sebanyak 28 (35,9%)
lansia sedangkan untuk kerusakan intelektual ringan sebanyak 16 (20,5%) lansia,
kerusakan intelektual sedang sebanyak 17 (21,8%) lansia dan kerusakan
intelektual berat 14 (17,9%) lansia. Disimpulkan bahwa fungsi intelektual pada
lansia di UPT PSTW Jember berada pada fungsi intelektual utuh. Hal ini sejalan
dengan. Sebagian besar lansia di UPT PSTW Jember masih mampu untuk
mengingat dan menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti untuk menggali
fungsi kognitif. Hal ini kebanyakan lansia masih mempunyai keinginan belajar
ketika ada mahasiswa keperawatan yang sedang profesi di UPT PSTW Jember.

4.3 Risiko terjadinya Ulkus Dekubitus pada Lansia UPT PSTW Jember
Nilai mean Norton Score pada lansia yang berada di UPT PSTW Jember
di dapat data sebesar Lansia di PSTW Jember Kabupaten Jember banyak yang
tidak beriko terjadinya ulkus dekubitus dengan jumlah 65 orang (83,3%).
Dekubitus adalah kerusakan jaringan setempat pada kulit dan atau jaringan
dibawahnya akibat tekanan atau kombinasi antara tekanan dengan pergeseran
(shear), pada bagian tubuh (tulang) yang menonjol. Ulkus dekubitus menandakan
telah terjadi nekrosis jaringan lokal, sering terjadi pada bagian tubuh yang
menonjol, misalnya sakrum, tuberositas iskialdial, trocarter, tumit (Abdullah et al.
2016). Hal tersebut dikarenakan lansia yang berada di PSTW Jember Kabupaten
Jember memiliki kondisi fisik yang baik, kesadaran composmentis, aktivitas:
ambulasi, mobilitas: bergerak bebas, dan pola eliminasi urin normal. Penelitian ini
tidak selaras dengan peneliian yang dilakukan oleh Revis (2015), usia merupakan
faktor intrinsik penyebab dekubitus karena pada usia lanjut telah terjadi
penurunan elastisitas dan vaskularisasi sehingga meningkatkan resiko terjadi luka
tekan. Akibat proses penuaan umumnya lansia mengalami kehilangan elastisitas
otot, penurunan kadar serum albumin, penurunan respon inflamatori, serta
penurunan kohesi antara epidermis dan dermis. Risiko tersebut semakin
meningkat karena pada lansia terjadi penurunan kemampuan fisiologis tubuh
antara lain berkurangnya toleransi terhadap tekanan dan gesekan, berkurangnya
jaringan lemak subkutan, berkurangnya jaringan kolagen dan elastin, serta
menurunnya efisiensi kolateral kapiler pada kulit. Kemampuan lansia untuk
merasakan sensasi nyeri akibat tekanan berkurang sebagai dampak penurunan
persepsi sensori.
Dekubitus dapat terjadi pada semua kelompok usia, tetapi akan
menjadi masalah yang khusus bila terjadi pada seorang lanjut usia (lansia).
Kekhususannya terletak pada insiden kejadiannya yang erat kaitannya dengan
imobilisasi (Martono, 2014).

4.4 Pembahasan MMSE


Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang
dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali
menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian
(behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu
(nondisruptive) (Voliver et al). Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa,
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi


tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku (Grayson et al).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan daya ingat salah satunya
adalah aktivitas fisik. Seseorang yang banyak beraktivitas fisik termasuk
berolahraga cenderung memiliki memori yang lebih tinggi daripada yang jarang
beraktivitas (Carvaheiro, 2009). Misalnya kegiatan yang harus melibatkan fungsi
kognitif seperti bermain tenis, bersepeda, berjalan kaki atau mengerjakan
pekerjaan rumah tangga.
Pada penelitian ini digunakan instrumen penelitian utama berupa kuisioner
MMSE (Mini Mental Sateex amination) yang berfungsi untuk mengukur tingkat
demensia responden. MMSE sebagai alat ukur yang terdiri atas 11 pertanyaan dan
tiap pertanyaan memiliki bobot tersendiri dengan nilai maksimal 30. Untuk
MMSE Tidak Demensia 27-30, kemungkinan demensia 22-26 , pasti demensia
Dari hasil pengkajian pada lansia di PSTW Jember Kabupaten Jember didapatkan
nilai rata-rata 2,18. Lansia di PSTW Jember Kabupaten jember memiliki fungsi
mental baik dengan jumlah 34 (43,6%), jerusakan mental ringan 24 (30,8%),
keruskan mental berat 20 (25,6%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Aminuddin (2015) pada 10 orang lansia didapatkan hasil bahwa terdapat 6
lansia yang memiki mental baik yaitu sebesar 6 orang (60%).

4.5 Tingkat Spiritual Lansia UPT PSTW Jember


Pada penelitian ini sebagian besar lansia berada pada tingkat spiritual
tinggi (62,2%). Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Muhtar (2018)
bahwa sebagian besar kategori spiritualitas lansia baik (53,5%). Penelitian
sebelumnya juga menyebutkan bahwa 52,6% memiliki spiritual yang tinggi
(Yuzefo dkk., 2015).
Berdasarkan jenis kelamin perempuan mempunyai nilai spiritualitas lebih
tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan lebih menunjukkan ketertarikan
pada spiritualitas dengan mengakui pengalaman spiritualitas, mencari jawaban
spiritualitas dalam hidup dan percaya terhadap perubahan positif dalam agama
mereka. Perempuan juga cenderung lebih terlibat dalam aktivitas amal dan peduli
dengan aktivisme sosial dibandingkan dengan laki-laki (Bryant, 2007). Penelitian
lain juga menyebutkan bahwa perempuan memiliki spiritualitas tinggi daripada
laki-laki. Perempuan lebih menekankan pada penyelesaian masalah, penyerahan,
kelembutan, pengasuhan, dan nilai ekspresif lainnya yang sesuai dengan
penekanan agama. Hal tersebut menjadi alasan bahwa perempuan mempunyai
sifat spiritualitas yang tinggi (Luqman et al, 2015). Kehadiran Tuhan merupakan
sebuah pengalaman spiritual yang dijadikan sebagai pelajaran untuk
meningkatkan kesadaran yang lebih kondusif (Pretorius, 2008). Hubungan dengan
Tuhan dapat berupa doa atau sembahyang dan mengikuti aktivitas keagamaan
(Hamid, 2008).
Lansia yang mengidap suatu penyakit dapat mengalami penurunan fungsi
kesehatan dan kekuatan fisik, spiritualitas dipercaya memilki berbagai efek
terhadap kesehatan dengan berbagai mekanisme. Ekstensial dan kepercayaan
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

beragama dapat memberikan penjabaran, harapan dan kenyamanan untuk bertahan


dalam situasi yang ekstrim dengan memberikan penjelasan dan penerimaan
terhadap penyakit yang diderita dan membantu lansia untuk berpegang teguh
dengan nilai-nilai mereka (Davison and Jhangri, 2010). Selain itu spiritualitas
telah diidentifikasi sebagai hal yang penting pada lansia karena berpengaruh
positif terhadap kesehatan diri lansia.
Spiritualitas pada lansia adalah aspek yang paling penting dalam
perawatan, karena merupakan obat yang baik untuk setiap permasalahan dan
kekecewaan akibat dari penuaan yang dialami lansia seperti penurunan fungsi
fisik dan kesehatan. Menurut Health Association of Niagara Country, Inc
(HANCI), fisik yang optimal, emosi yang stabil dan kesejahteraan spiritual adalah
tujuan dari perawatan pada lansia (Carson and Koenig, 2008). Seiring
bertambahnya tahap perkembangan individu diikuti dengan berkembangnya
spiritualitas yang dimulai dari bayi hingga lansia (Carson dan Koenig, 2008).
Tahap perkembangan mempunyai hubungan yang erat dengan pertumbuhan fisik
dan spiritualitas individu dimana memasuki usia dewasalah individu mengalami
kematangan spiritual (Jalaluddin, 2015).

4.6 Gambaran Tekanan Darah Lansia UPT PSTW Jember


Berdasarkan data yang didapatkan dari hasil penelitian tekanan darah
lansia di UPT PSTW jember sebagian besar adalah sistole<120 mmHg dan
diastole <80 mmHg. Hasil ini berarti lansia di UPT PSTW Jember sebagian besar
memiliki tekanan darah normal. Namun terdapat 9 lansia yang tekanan darah
sistole mencapai >160 mmHg dan diastole >100 mmHg. Hasil ini tidak relevan
dengan hasil penelitian oleh Agustina dkk. (2014) yang menyatakan bahwa
sebagian besar lansia berada pada kondisi hipertensi ringan-sedang.
Proses penuaan mempengaruhi perubahan fisik dan mental yang
mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh sehingga mengakibatkan timbulnya
berbagai macam penyakit, dan yang paling sering ditemukan pada lansia adalah
penyakit hipertensi (Tamher dan Noorkasiani 2009). Hipertensi pada lansia
disebabkan oleh kebiasaan buruk lansia seperti merokok, lansia mengalami stres
dan lansia yang jarang berolahraga (Agustina dkk., 2014). Faktor penyebab
seperti keturunan, jenis kelamin, usia, ras, obesitas, konsumsi garam berlebih,
konsumsi alkohol dan stress psikososial berpengaruh pada perubahan struktur dan
fungsi arteri yang mengalami penuaan seperti penumpukan kolestrol pada
pembuluh darah (Sari, 2014).
Berbagai upaya penatalaksanaan hipertensi yaitu dengan farmakologis atau
nonfarmakologis. Terapi non farmakologis untuk penderita hipertensi salah
satunya dengan latihan yang dapat dilakukan untuk mengurangi tekanan darah
adalah latihan kardiovaskular ringan hingga sedang, seperti berjalan atau menari.
Olahraga teratur membantu mengurangi tekanan darah dengan mendukung
pelebaran pembuluh darah, yang membantu jantung memompa darah secara lebih
efisien. Hal ini dapat mengurangi tekanan pada arteri, sehingga tekanan darah
dapat menurun (Sinatra, 2019).
Menari adalah bentuk latihan yang sangat baik karena tidak hanya
membakar kalori dan membangun otot, tetapi juga berkontribusi terhadap rasa
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

kebahagiaan secara keseluruhan. Tentu saja, semua latihan melepaskan endorfin,


tetapi menari memiliki efek yang meningkat di bidang ini karena bukan hanya
aktivitas fisik, tetapi juga musik, yang memengaruhi pikiran. Endorfin dilepaskan
ketika tubuh dipaksa untuk mengerahkan diri pada tingkat tertentu. Selain
aktivitas fisik menari, ketika menari juga merupakan pertunjukan, adrenalin dan
endorfin bekerja sama untuk menciptakan kebahagian dan gerakan yang tersruktur
(Hanson, 2019). Endorfin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat
relaks/tenang. Endorfin dihailkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang.
Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi otak
yang melahirkan rasa nyaman dan meningkatkan kadar endorfin dalam tubuh
untuk mengurangi tekanan darah tinggi. Olahraga terbukti dapat meningkatkan
kadar endorfin empat sampai lima kali dalam darah. Salah satu olahraga yang
dapat dilakukan dan dapat membuat orang yang melakukan bahagia yaitu menari.
Pada penelitian ini peneliti ingin melihat efek dari tari molong kopi
Bondowoso terhadap tekanan darah. Tari “Molong Kopi” memiliki arti panen
kopi, judul molong kopi mengambarkan betapa kayanya kopi di Kabupaten
Bondowoso maka tak heran jikalau Bondowoso mendapat julukan Republik Kopi
(Cermee, 2017). Tarian ini menggambarkan kebahagian petani kopi dalam
memanen biji kopi yang berlimpah. Kebahagian muncul akibat peningkatan
hormon endorfin. Menari merupakan salah satu aktivitas olah raga dengan iringan
musik dan gerakan yang ritmis.

4.7 Gambaran Efikasi Diri Lansia UPT PSTW Jember


Berdasarkan jenis kelamin, dari penleitian diperoleh bahwa mayoritas
lansia berjenis kelamin perempuan sebanyak 45 responden (57,7%). Hal ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Okatiranti (2017) yang
mengemukakan bahwa laki-laki dilaporkan memiliki efikasi diri yang lebih tinggi
karena mampu mengatur afeksi negatif, mereka juga memiliki harga diri yang
lebih tinggi dan keseimbangan hedonis. Di sisi lain, perempuan merasa lebih
mampu mengelola emosi positif, yaitu mengekspresikan sukacita dan kepuasan
bagi pencapaian tujuan mereka atau keberhasilan orang lain.
Berdasarkan tingkat pendidikan, dari penelitian diperoleh bahwa mayoritas
lansia tidak tamat SD. Tingkat pendidikan yang rendah akan secara tidak
langsung mempengaruhi terjadinya pola persepsi yang kurang baik. Hal ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wantiyah (2010) mengatakan
bahwa faktor yang lebih berpengaruh dalam self efficacy pasien adalah
pengetahuan pasien. Pengetahuan yang tinggi akan meningkatkan self efficacy
pasien. Seseorang akan memiliki tingkat keyakinan diri lebih tinggi dalam
berperilaku lebih baik bila mempunyai sistem pendukung pendidikan. Pendidikan
merupakan suatu proses untuk membantu seseorang untuk mengembangkan
kemampuannya. Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses yang
direncanakan dengan sadar untuk menciptakan peluang bagi individu agar
senantiasa belajar memperbaiki kesadaran serta meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan demi kepentingan kesehatannya maupun kesehatan orang di
sekitarnya.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 59 lansia (75,6%) memiliki


efikasi diri yang baik dan terdapat 19 (24,4%) lansia memiliki efikasi diri yang
kurang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Okatiranti et al
(2017) yang mengemukakan bahwa lebih dari setengah responden memiliki
efikasi diri yang tinggi. Tingginya efikasi diri dalam diri individu tidak lepas dari
faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan
dan pengalaman.
Efikasi diri memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih baik
dalam proses perubahan perilaku kesehatan sehingga sangat penting untuk
meningkatkan pengetahuan, perilaku dan keterampilan seseorang. Seseorang
dengan efikasi diri yang tinggi akan menganggap bahwa dirinya mampu
menggunakan kemampuan untuk mencapai suatu hasil yang baik sesuai dengan
apa yang diharapkan. Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang dengan efikasi
diri yang rendah akan menganggap bahwa kemampuan yang dimiliki belum tentu
dapat membuat dia mampu untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Lansia
yang memiliki efikasi diri baik akan menunjukkan kemampuan penyelesaian
masalah dan pembuatan keputusan yang baik, motivasi yang tinggi dalam hidup,
penetapan tujuan dan target yang tinggi, tingkat stres dan depresi yang rendah
serta berani untuk melakukan aktivias sulit .

4.7 Tingkat Depresi Lansia UPT PSTW Jember


Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia lansia yang menjadi
responden adalah 70,1 tahun. Menurut Maryam (2011) lansia tidak akan dapat
menghindari proses penuaan yang alami dan bertahap. Fungsi organ-organ tubuh
lansia akan mengalami kemunduran sebab proses menua terjadi kerusakan sel-sel,
akibatnya akan terjadi penurunan imunitas tubuh. Komisi Nasional Lanjut Usia
(2010) juga menyebutkan bahwa kondisi degeneratif tersebut menjadikan lansia
rentan terhadap penyakit, termasuk depresi. Penelitian yang dilakukan di Monroe
County New York oleh Lyness et.al (2009) membuktikan bahwa lansia dengan
usia 65 tahun ke atas mempunyai risiko menderita depresi lebih tinggi jika
dibanding dengan lansia yang berusia 65 tahun. Lansia yang berusia lebih panjang
maka dapat diduga mempunyai mekanisme koping serta kemampuan beradaptasi
terhadap stresor fisik maupun psikis lebih adaptif. Secara psikologis koping yang
sudah terlatih dapat pencegah terjadinya depresi. Berdasarkan konsep
psikoneuroimunologi, kecepatan terkait proses menua lebih banyak dikaitkan
terhadap kerusakan se-sel tubuh. Tingginya stresor serta koping mekanisme yang
kurang adekuat dapat meningkatan hormon cortisol, sehingga berkontribusi
terhadap kecepatan kerusakan sel tubuh. Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa kejadian depresi berbanding lurus terhadap usia lansia.
Berdasarkan hasil penelitian dan beberapa literatur dapat peneliti simpulkan
bahwa lansia yang berusia 60-74tahun rentan mengalami depresi karena proses
menua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih banyak di
banding laki-laki yaitu sebesar 57,7%. Hasil ini selaras dengan riset dari Kim et al
(2009), bahwa lansia perempuan mempunyai kecenderungan 20,9% menderita
depresi dibanding laki-laki (9,2 %). Penelitian yang dilakukan di Kanada oleh
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Danesh dan Landeen (2007) menunjukkan bahwa depresi pada lansia usia 54-64
tahun lebih banyak terjadi dibandingkan lansia perempuan 25,3 %. Hal ini sama
dengan yang dikemukakan Kaplan dan Saddock (2010) dimana perempuanakan
mengalami depresi dua kali lebih berisiko dari pada laki-laki. Kaplan dan Saddock
(2010) menambahkan bahwa walaupun gender mempengaruhi terjadinya depresi,
tetapi kejadian depresi baik laki-laki maupun perempuan adalah sama. Hal
tersebut didukung pula dengan pendapat Ibrahim (2011) tentang kekambuhan
depresi meliputi kecenderungan kekambuhan, frekuensi kambuh, keparahan dan
durasi kambuh, serta jarak waktu kambuh pertama kali antara laki-laki dan
perempuan tidak berbeda secara signifikan. Peneliti dapat mengambil kesimpulan
atas penelitian ini bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap tingkat depresi pada
lansia. Meskipun, laki-laki dan perempuan sama-sama berisiko depresi.
Hasil penelitian menunjukkan pendidikan terakhir lansia yang menjadi
responden adalah tidak tamat SD sebanyak 46,2%, Tamat SD sebanyak 32,1%,
SMP sebanyak 6,4%, SMA sebanyak 11,5%. Hal tersebut menunjukkan bahwa
tingkat pendidikan lansia mayoritas masih rendah.Penelitian ini juga didukung
oleh Kemenkes, RI (2015) dengan data dari Dokumen Rencana Aksi Nasional
(2015), yang memperlihatkan kondisi pendidikan kelompok lansia di Indonesia
yang masih sangat memprihatinkan, karena kecenderungan tingkat pendiikan
yang rendah terjadi pada sebagian besar lansia, lansia berpendidikan Sekolah
Dasar kebawah sekitar. Hal ini menunjukkan kejadian depresi lebih tinggi terjadi
pada lansia yang tidak sekolah. Hasil ini sesuai temuan Danesh dan Landeen
(2007), yaitu lansia yang tidak bersekolah berpeluang menderita depresi 7 kali
dibanding yang bersekolah. Teori Beck et.al (1997) dalam Stewart (2014), secara
umum diketahui bahwa pendidikan menjadi bekal pertama untuk pengembangan
kognitif yang merupakan mediator suatu kejadian dan mood, sehingga pendiikan
yang kurang dapat menjadi penyebab depresi pada lansia (Khan, et al, 2009).
Hasil penelitian menunjukkan status perkawinan lansia yang menjadi
responden meliputi belum menikah, menikah, dan cerai sebesar 14,1%, dan cerai
mati sebanyak 57,7%. Definisi dari keberadaan pasangan hidup yaitu tidak atau
adanya pasangan hidup (disebabkan faktorperceraian, meninggal, ataupun tidak
pernah menikah). Hasil tersebut dapat dikatakan pula bahwa kejadian depresi
lebih tinggi pada kelompok lansia yang tidak mempunyai pasangan. Sejalan
dengan 85 teori menurut Jacoby dan Tom (2008), pada pasangan yang menikah
kecenderungan wanita yang menderita depresi lebih banyak dibanding pria,
namun lansia laki-laki yang tidak mempunyai pasangan akan lebih banyak
mengalami depresi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara psikologis lansia
perempuan lebih mampu menghadapi kesendiriannya dibanding lansia laki-laki.
Hasil ini sesuai dengan Papalia (2008) dimana keberadaan pasangan hidup akan
mempengaruhi kondisi emosional lansia. Hal ini tentunya akan berdampak pada
penilaian lansia terhadap kondisi hidupnya dan berkontribusi tinggi terhadap
depresi pada lansia.Fugsi dari pasangan hidup diantaranya adalah sebagai pemberi
support untuk banyak hal seperti emosi, solusi masalah, finansial, ataupun
perawatan. Kepuasan sebuah pasangan lebih besar pada pasangan dewasa akhir
dari pada dewasa pertengahan.Penelitian ini juga didukung oleh penelitian dari
Ekowati (2008) yang menghasilkan lansia yang tidak mempunyai pasangan
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

cenderung memiliki kepuasan hidup yang rendah apabila tidak mempunyai


kegiatan. Lansia yang tidak mempunyai pasangan akan lebih memiliki kepuasan
hidup yang tinggi apabila mempunyai kegiatan-kegiatan yang positif.
Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa 33,3% lansia tidak depresi atau
depresi minimal. Sedangankan lansia yang mengalami depresi sebanyak 66,7%
dan paling banyak adalah mengalami tingkat depresi sedang sejumlah 32,1 %
lansia. Tingginya prevalensi depresi pada lansia sangat erat dikaitkan dengan
berbagai faktor yang memungkinkan terjadinya depresi, seperti sebagai dampak
proses menua yang alamiah, yang menimbulkan konsekuensi berupa penurunan
seluruh anatomi dan fungsi tubuh maupun konsekuensi negative akibat menua
(Maryam, 2011), sehingga lansia memiliki risiko tinggi mengalami depresi.
Penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
mahendra (2016) bahwa 94.5% lansia mengalami depresi, sedangkan 5,5% tidak
mengalami depresi (normal). Dalam penelitian tersebut Mahendra menjelaskan
bahwa penyebab utama lansia mengalami depresi adalah karena kehilangan
keluarga dan orang yang disayangi. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan
prabaswari dan nil uh (2018) yang menunjukkan hasil bahwa 24,4% lansia
mengalami depresi, sedangkan yang tidak mengalami depresi lebih dari tiga kali
lipatnya yakni sebanyak 68 orang (75,6%). Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang mendasari.
Faktor terjadinya depresi pada lansia disebabkan oleh beberapa alasan.
Salah satunya yang dikemukakan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan
Hadi (2004) menyatakan bahwa kehilangan merupakan faktor paling utama
mendasari terjadinya depresi, karena kehilangan merupakan suatu keadaan
individu yang berpisah dengan suatu yang sebelumnya ada. Hidup yang jauh
dengan anggota keluarga yang sejatinya anggota keluarga masih ada, namun
dengan berbagai argument bahwa anggota keluarga tidak dapat mengasuh secara
baik kepada responden sehingga diputuskan untuk membawa responden ke UPT
PSTW Jember.
Saddock (2010) salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
depresi adalah dukungan keluarga terhadapnya. Dimana dukungan keluarga
sangat penting bagi lansia karena kurangnya dukungan keluarga dapat
mencetuskan depresi, seperti perasaan tidak mendapat perhatian yang memadai
dari keluarga sehingga merasa ditelantarkan (Santoso & Ismail, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian dan beberapa literature dapat peneliti simpulkan
bahwa tingkat depresi lansia di UPT PSTW Jember dalam tingkatan depresi
sedang karena berada jauh dari keluarga kandungnya.

4.8 Kualitas Tidur Lansia UPT PSTW Jember


Pada penelitian ini sebagian besar lansia berada pada kualitas tidur baik
(71,8%). Lansia mengalami fase kemajuan dalam siklus bangun tidur mereka,
menyebabkan mereka merasa mengantuk di awal malam dengan sindrom fase
tidur lanjut biasanya akan tertidur antara jam 7 dan 9 malam dan bangun sekitar 8
jam kemudian yaitu jam 3 - 5 pagi (Simonson dkk., 2007). Hasil penelitian lain
dari Jie Li dkk (2013),menjelaskan bahwa 60,9% dari lansia memiliki kualitas
tidur yang buruk. Hasil penelitian dari Amalia (2017), yang berjudul hubungan
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

kualitas tidurdengan kelelahan fisik di Desa Siswodipuran sebanyak 30 lansia


(66,6%) mengalami penurunan kualitas tidur dilihat dari permasalahan yang
dikeluhkan berdasarkan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).

4.9 Gambaran Tingkat Mobilitas Fisik Lansia UPT PSTW Jember


Berdasarkan hasil penelitian, dari 78 lansia sebagai responden, mayoritas lansia
bisa mandiri dalam melakukan mobilitas dan sebagian besar membutuhkan
bantuan banyak untuk mobilitas. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
tingkat mobilitas fisik pada lansia adalah rata-rata usia dari klien adalah 69,04
tahun.keterbatasan dalam mobilitas semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya usia. Di PSTW Jember, dominan adalah perempuan dan paling
banyak mengalami gangguan dalam mobilitas. Mendeteksi jika seseorang berdiri
atau duduk sangat penting untuk memantau dan mengevaluasi seberapa baik
orang tersebut melakukan tugas itu. Misalnya, waktu yang dibutuhkan bagi pasien
untuk melakukan tugas duduk-untuk-berdiri telah berkorelasi dengan risiko jatuh
serta pemulihan fungsional pada lansia yang tinggal di komunitas (Cheng dkk,
1998 dan Jansen dkk, 2010).
Aktivitas fisik akan meningkatkan kekuatan otot yang sangat penting
untuk menjaga postur yang tepat dan keseimbangan setiap individu (Selvadurai,
Prabowo, & S.Pratiwi, 2017). Pengurangan kekuatan otot pada akhirnya akan
terjadi menyebabkan aktivitas hidup sehari-hari yang buruk, penurunan kekuatan
fisik dan gangguan yang menonjol terhadap kualitas hidup lansia. Dengan
demikian, menurunnya kekuatan otot dan masalah pada gaya berjalan dan
keseimbangan serta tidak mandirinya lansia dalam mobilitas dapat berisiko tinggi
jatuh. Selanjutnya, gangguan gaya berjalan dan keseimbangan berkontribusi
sekitar 3 kali risiko jatuh. Waktu yang dibutuhkan untuk pulih dari cedera terkait
jatuh panjang, terutama untuk orang tua yang mau mengalami imobilitas yang
berkepanjangan sehingga lansia mengalami ketergantungan dalam mobilitas
(Rubenstein LZ, 2006).
Gaya berjalan lansia pada dasarnya dipengaruhi oleh kekuatan otot dan alas kaki.
Jenis bahan alas kaki akan mempengaruhi pergerakan kaki. Bahan alas kaki yang
terbuat dari plastik cenderung mudah mengalami perubahan tekstur menjadi licin
ketika terkena air, sedangkan bahan dari karet cenderung lebih memiliki tekstur
yang tetap ketika terkena air sehingga bahan ini lebih aman apabila di pakai oleh
lansia. Sebagian besar lansia di panti tersebut menggunakan alas kaki atau sandal
yang terbuat dari bahan plastik. Hal ini ternyata membuat lansia yang pada
awalnya telah mengalami penurunan kekuatan otot menjadi kehilangan kestabilan
ketika berjalan akibat tekstur alas kaki yang berubah menjadi licin. Alas kaki yang
digunakan lansia selama ini merupakan alas kaki yang sudah disediakan oleh
pihak pengelola panti ketika masuk pertama kali, namun lansia boleh memakai
alas kaki lain selain yang telah diberikan pihak pengelola panti ketika masuk.
Pengaruh kekuatan otot terhadap gaya berjalan akan menyebabkan perubahan
pada kekuatan stepping, kecepatan berjalan, serta frekuensi langkah. Sebagian
besar lansia yang memiliki kekuatan otot rendah memiliki gaya berjalan yang
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

lamban, dengan langkah yang pendek-pendek, kaki tidak dapat menapak dengan
kuat dan cenderung tampak goyah (Hermawan & Rosyid, 2017).

1.10 Gambaran Risiko Jatuh pada Lansia UPT PSTW Jember


Berdasarkan data yang didapatkan. Terdapat 18 (23,1%) lansia tidak
memiliki resiko jatuh sedangkan 31 (38,7%) lansia memiliki resiko jatuh sedang
dan 29 (37,2%) lansia memiliki resiko jatuh tinggi. Hal ini dapat menggambarkan
bahwa sebagian besar lansia yang ada PSTW Jember mempunyai resiko jatuh
yang tinggi. Hal ini juga dapat menggambarkan jenis perawatn dan intervensi
yang harus segera dilakuakan, khususnya bagai lansia yang memiliki resiko jatuh
tinggi. Mengapa hal ini penting akan perlu pemberian intervensi yang segera,
khususnya pada lansia yang memilliki resiko jatuh sedang dan tinggi, hal ini akan
dapat menekan angka kejadian jatuh pada lansia di PSTW Jember. Pemberian
intervensi yang mudah dilakukan secara mandiri, dan tidak menyulitkan lansia
akan lebih mudah dilakuakn oleh para lansia di PSTW Jember dengan mandiri.
Adapun beberapa intervensi yang dapat dilakukan unutk mendukung para lansia
melakukannya secara mandiri.
Aktivitas jasmani yang akan diarahkan pada gaya hidup aktif para lansia
sebenarnya tidak harus terstruktur dengan latihan yang rumit, tetapi bisa melalui
berbagai aktivitas jasmani sehari-hari yang biasa dilakukan oleh para lansia. Hal
ini dikarenakan begitu sensitifnya kondisi fisiologis para lansia. The American
Society on Aging (2002) merekomendasikan Tujuh (7) langkah memulai aktivitas
jasmani para lansia agar tetap aktif secara jasmani, maka para lansia dianjurkan
untuk melakukan cara berikut ini. Pertama, Mengambil tahap pertama ini biasanya
suatu hal yang sulit, tapi akan mendapatkan kemudahan dikemudian hari, yang
dapat dilakukan yaitu ambil beberapa dukungan sosial dari teman-teman, anggota
keluarga, atau orang lain dalam kelompok aktivitas itu, berikan pesan-pesan
positif dan hadiah yang sesuai, sebelum kita tahu bahwa aktivitas jasmani
merupakan rutinitas sehari-hari kita. Kedua, mulailah dengan pelan-pelan. Mulai
dengan 5 – 10 menit aktivitas jasmani dan tingkatkan terus dalam waktu 30 menit
sehari, tetapkan niata dalam hati untuk menuju tujuan jangka panjang sehingga
dapat perasaaan baik mengenai peningkatannya dan jangan patah semangat, saat
melakuakan aktivitas jasmani, lansia dianjurkan untuk menggunakanl sepatu
olahraga. Ketiga, ada cara yang benar dan cara yang salah. Gambarkanlah pilihan
kita, sebagai contoh ada lansia yang lebih senang melakukan aktivitas jasmani di
luar ruangan dari pada di dalam ruangan, kesenangan dan ketidaksenangan pribadi
akan menentukan apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan, dimana harus
dilakukan, dan dengan siapa melakukannya. Kemudian calah berpikir sesuatu
yang baru, dan tetap lakukanlah apa yang disukai. Keempat, hanya 30 menit
sehari aktivitas jasmani dengan intensitas sedang, seperti: jalan cepat, akan
memberikan manfaat kesehatan. Bagilah 30 menit menjadi 10 menit perbagian
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

pada pagi, siang dan malam hari, mulai dengan 10 menit dan kemudian tambah 10
menit lagi jika sudah siap kembali, jalan adalah aktivitas yang paling mudah
dilakuakn, lakukanlah teman atau sahabat, olahraga rekreasi atau menari mungkin
juga akan dapat menambah kesenangan, lakukanlah kerja yang membutuhkan
waktu lama (menggali, mencagkul), mencuci, membersihkan kamar, aktivitas lain
yang ada disekitar lingkungan PSTW Jember yang dapat dilakukan dengan
intensitas sedang, kira-kira sama dengan jalan cepat, jika senang beraktivitas
jasmani di pusat-pusat kebugaran, cari yang fasilitasnya bersahabat dengan lansia.
Kelima, kelebihan waktu dalam rutinitas termasuk aktivitas kekuatan, kelentukan,
keseimbangan, dan daya tahan. Keenam, pahamilah tubuh kita. Membuka
pengalaman-pengalaman baru dengan mempertimbangkan pesan dari tubuh kita
(contohnya: lakukanlah dengan pelan), lakukanlah aktivitas yang memberikan
hubungan antara jiwa dan raga kita mendai sebuah “suka”, misalnya dengan
melakukan aktivitas jasmani seperti tai chi, yoga dll. Ketujuh, kebanyakan para
lansia merasakan lebih baik jika aktif secara jasmani. Periksalah kesehatan
sebelum memulai aktivitas jasmani jika mempunyai penyakit-penyakit kronis
(tekanan darah tinggi, diabetes, arthritis, dan lain-lain). Otot-otot mungkin akan
terasa sakit, tetapi tidak cedera (jika cedera periksalah keadaan ke dokter), latihan
kekuatan dapat membuat persendian bekerja lebih baik dan mengurangi rasa sakit
dari penyakit, seperti ostheoarthritis. Tubuh manusia sudah tercipta untuk
bergerak, jadi gunakanlah tubuh kita sesuai dengan kapaistasnya.
Menurut Sadoso Sumosardjuno (2002) berolahraga memang membantu
menghambat proses menua yang cepat. Lansia biasanya mengalami berbagai
macam penyakit kalau mereka tidak pernah melakukan aktivitas fisik. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa berolahraga teratur dapat meningkatkan kulit yang tidak
cepat keriput, dan membantu usaha mengurangi faktor risiko berbagai penyakit
seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes tipe II, dan kolesterol
tinggi.

1.11 Tingkat Nyeri Lansia UPT PSTW Jember


Pada penelitian ini sebagian besar lansia mengeluh ada rasa nyeri, mulai
terasa dan masih dapat ditahan sebanyak 32 lansia (41%). Keluhan rasa nyeri
yang dirasakan oleh para lansia biasanya bersifat multifactorial dan terkadang
menemui banyak kendala dalam penatalaksanaanya. Akibat penatalaksanaan yang
kurang baik pada keluhan rasa nyeri yang dialami seseorang akan berdampak pada
status kesehatan dan kualitas hidup lansia tersebut. Ketika manusia mengalami
penuaan maka akan terjadi masalah penurunan fisik yang berakibat terjadinya
nyeri. Penurunan fisik yang menyebabkan nyeri ditimbulkan oleh antara lain
penipisan kartilago, kartilago yang semula halus, putih, tembus cahaya, menjadi
buram dan kuning dan tipis sehingga terjadi nyeri, kaku, hilang gerakan, adanya
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

penurunan produksi cairan synovial sehingga menyebabkan peradangan pada


sendi juga menyebabkan nyeri, fraktur yang sering terjadi pada lansia. Kelainan
musculoskeletal paling sering menimbulakan rasa nyeri, Low Back Pain (LBP)
merupakan prevalensi terbesar. LBP merupakan akibat penurunan diskus spinalis .
Pada tahun 2000 jumlah lansia di Indonesia diproyeksikan sebesar 7,28%
dan pada tahun 2020 menjadi sebesar 11,43% (Maryam, 2008). Survey kesehatan
nasional 2001 menunjukkan bahwa pada usia ≥ 55 tahun sebanyak 40% lansia
mengalami nyeri (Depkes RI, 2002). Hampir 8% orang yang berusia 50 tahun
keatas mempunyai keluhan pada sendinya, terutama linu, pegal, dan kadang-
kadang terasa sangat nyeri. Bagian yang terkena biasanya adalah persendian pada
jari-jari, tulang punggung, sendi penahan berat tubuh (lutut dan panggul)
(Nugroho, 2008). Berdasarkan Undang-Undang nomor 13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia dalam Kemenkes (2016) mendefinisikan lansia sebagai
seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Secara global populasi lansia
akan mengalami peningkatan. Populasi lansia di Indonesia akan mengalami
peningkatan lebih pesat dibandingkan negara lain setelah tahun 2100.
Seseorang yang telah mengalami penuaan disebut lansia. Memasuki masa
tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai
dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran
kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat dan figur tubuh
yang tidak proporsional (Kushariyadi, 2008).Proses penuaan akan berdampak
pada berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Ditinjau
dari aspek kesehatan, dengan semakin bertambahnya usia maka lansia lebih rentan
terhadap berbagai keluhan fisik, baik karena faktor alamiah maupun karena
penyakit (Kemenkes, 2014).
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat kerusakan jaringan yang aktual dan potensial (Lestari, 2014). Nyeri yang
terjadi pada lansia akan memiliki dampak fisiologis seperti peningkatan respirasi
rate, vasokostriksi perifer, peningkatatan gula darah, muka pucat, ketegangan otot,
dan menurunnya kontak atau interaksi sosial. Lansia cenderung memendam rasa
nyeri yang dirasakan karena mereka takut mengalami penyakit berat jika
diperiksakan (Potter dan Perry, 2005). Ketika manusia mengalami penuaan maka
akan terjadi masalah penurunan fisik yang berakibat terjadinya nyeri. Penurunan
fisik yang menyebabkan nyeri ditimbulkan oleh antara lain penipisan kartilago,
kartilago yang semula halus, putih, tembus cahaya, menjadi buram dan kuning
dan tipis sehingga terjadi nyeri, kaku, hilang gerakan, adanya penurunan produksi
cairan synovial sehingga menyebabkan peradangan pada sendi juga menyebabkan
nyeri, fraktur yang sering terjadi pada lansia (Suharko, 2006).
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

BAB V. PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa terdapat beberapa


masalah kesehatan pada lansia di UPT PSTW Jember seperti, hipertensi, nyeri,
gangguan pola tidur, risiko jatuh dan depresi. Masalah-masalah tersebut
berhubungan dengan beberapa faktor seperti proses penuaan pada klien, kondisi
lingkungan, dukungan dari pihak PSTW.

1.2 Saran
1.2.1 Untuk PSTW
Adanya masalah kesehatan pada klien di PSTW Jember diharapkan pihak
PSTW lebih memperhatikan kebutuhan klien utamanya untuk menghindari
kondisi yang lebih buruk seperti kejadian jatuh, tingkat depresi semakin buruk,dan
lain sebagainya. Tindakan prevenif seperti pengamanan lingkungan dan
pemberian kegiatan rekreatif yang lebih intensif dapat membuat kondisi lansia
semakin baik.
1.2.2 Untuk Lansia
Lansia diharapkan untuk selalui semangat untuk melakukan aktivitas sehari-
hari utamanya aktivitas atau kegiatan yang telah di jadwalkan oleh pihak PSTW
seperti senam dan kegiatan rekreatif agar kondisi kesehatan tetap terjaga
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,et al. 2016. Proceeding the 7th Aceh Internal Medicine Symposia
(AIMS). Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.

Agustina, Sri., Sari, Siska., Mayang., dan Savita, Reni. 2014.Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Hipertensi pada Lansia di Atas Umur 65 Tahun.
Jurnal Kesehatan Komunitas. Vol 2 (4). 180-186

Ahsan, Kumboyono, Melida Nur. 2018. Hubungan Pelaksanaan Tugas Keluarga


dalam kesehatan dengan kemandirian lansia dalam pemenuhan aktivitas
sehari-hari. Jurnal. Fakultas Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya Malang.

Allender, Judith et al. 2010. Community Health Nursing: Promoting & Protecting
the Public's Health. China: Wolter Kluwer Health.

Anderson, E.T. & McFarlane, J. 2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas: Teori
dan Praktek. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Amalia, I. N. 2017. Hubungan Antara Kualitas Tidur Dengan Kelelahan Fisik


Pada Lansia. April.

Amalia, I. N. 2017. Hubungan Antara Kualitas Tidur Dengan Kelelahan Fisik


Pada Lansia. April.

Amila, A., Sinaga, J. and Sembiring, E., 2018. Self Efficacy dan Gaya Hidup
Pasien Hipertensi. Jurnal Kesehatan, 9(3), pp.360-365.

Amir. 2007. Gangguan Tidur Pada Lanjut Usia. Jakarta: Cermin Dunia
Kedokteran.

Arsyita, S. 2016. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Self Efficacy Pada


Pasien Dengan Penyakit Stroke di Ruang Rawat Jalan Poli Saraf Rumah
Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.
ProNers, 3(1).

Beck, A.T. 1997. Depression: Causes and Treatment. Philadelphia: University Of


Pennisylvania Press.

Bryant, A. N. 2007. Gender Differences in Spiritual Development During the


College Years. Springer Science+Business Media.
http://www.spirituality.ucla.edu/docs/academic
articles/Gender_Spirituality_SR.pdf [Diakses pada 6 Januari 2018]
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Budiono. 2011. Hubungan Kemampuan Aktifitas Fisik Lansia dengan Pemenuhan


Kebutuhan Activities Of Daily Living (ADL) pada Lansia di Panti Sosial
Tresna Werdha Minaula Kendali. Jurnal Penelitian “Health Information”.
Volume 3:(3).

Buysse, D. J., M. L. Hall, P. J. Strollo, T. W. Kamarck, J. Owens, L. Lee, S. E.


Reis, dan K. A. Matthews. 2008. Relationships between the pittsburgh sleep
quality index (psqi), epworth sleepiness scale (ess), and clinical
polysomnographic measures in a community sample. Journal of Clinical
Sleep Medicine. 4(6):563–571.

Cahyono, Dwi., Aris. 2013. Hubungan Tingkat Kemandirian Lansia dalam


Melakukan Aktifitas Sehari-hari dengan Tingkat Kecemasan.

Carson, V.B dan Koenig, H. 2008. Spirituality : Defining The Indefinable And
Reviewing Its Place in Nursing, in: Spiritual Dimensions of Nursing
Practice. America: Templeton Foundation Pres.

Carvalheiro, Rodrigues. 2009.The unique relation oh physical activity to


executive function in older men and women. Med-Sci Sports and Exercise.

Casey, A., H. Benson. 2006. Menurunkan Tekanan Darah. Jakarta: Bhuana Ilmu
Populer.

Cermee. 2017. Tarian Molong Kopi Khas Bondowoso Ditarikan Secara Serentak
Oleh Seluruh Murid Tk Dan Paud Di Kecamatan Cermee.
http://cermee.desa.id/tarian-molong-kopi-khas-bondowoso-ditarikan-secara-
serentak-oleh-seluruh-murid-tk-dan-paud-di-kecamatan-cermee/. [Diakses
Pada 26 Maret 2019].

Cheng PT, Liaw MY, Wong MK, Tang FT, Lee MY, Lin PS. The sit-to-stand
movement in stroke patients and its correlation with falling. Arch Phys Med
Rehabil. 1998;79(9):1043–6. 16.

Dagli, R. J., & Sharma, A. (2014). Polypharmacy : A Global Risk Factor for
Elderly People, 6(6), 6–7.

Danesh N.A., and Landeen J. (2007). Relation Between


Depression and Sosiodemographic Factors.

Davidson, S. N. dan G. S. Jhangri. 2010. Existential and Religious Dimensions of


Spirituality and Their Relationship with Health-Related Quality of Life in
Chronic Kidney Disease. Clinical Journal of the American Society of
Nephrology. 5: 1969-1976.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

https://pdfs.semanticscholar.org/995b/27772200be71c2e6efb276c338aab87
6b7cf.pdf [Diakses pada 10 Januari 2018]

Departemen Kesehatan RI. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan


Disabilitas. Jakarta. Departemen Kesehatan RI, 2002.

Dewi. 2013. Fungsi Intelektual Dan Pemenuhan ADL (Activity Of Daily Living)
Pada Lansia Di PSLU Kasiyan Jember. Universitas Muhammadiyah Jember

Ekowati.(2008). Penyesuaian Diri Terhadap Hilangnya Pasangan


Hidup pada Lansia.Skripsi Fakultas Psikologi Universitas
Sanata Dharma.Yogyakarta.

Grayson C. All about alzheimer [internet]. [place unknown]: Geriatric Medic;


2010 Available from: http://www.webmd.com/content/htm

Hadi, P. (2004). Depresi dan Solusinya. Yogyakarta: Tugu Publisher.

Hamid, A. Y. S. (2009). Bunga Rampai Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa.


Jakarta: EGC.

Hanifah. 2011. Cara Hidup Sehat. Jakarta Timur: Sarana Bangun Pustaka.

Hanson, R. 2019. How Does Dancing Affect the Mind.


https://dance.lovetoknow.com/How_Does_Dancing_Affect_the_Mind.
[Diakses Pada 26 Maret 2019].

Hasil Survei Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2017.
Jakarta : BPS Jakarta, Indonesia.

Hermawan, T., & Rosyid, F. N. (2017). PENGARUH SENAM HIPERTENSI


LANSIA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH LANSIA
DENGAN HIPERTENSI DI PANTI WREDA DARMA BHAKTI
KELURAHAN PAJANG SURAKARTA, 10(1), 26–31.

Ibrahim, A.S. (2011). Gangguan Alam Perasaan: Depresi.


Jakarta: Dua As-As Dua.

International Journal of Mental Health1:4p1-9 http://www.ijmhs.com/conten

Jacoby, R., Oppenheimer, C., Tom, D. (2008). Oxford


textbook of old age psychiatry. New York. Oxford
University Press.

Jalaluddin. 2015. Tingkat Usia dan Perkembangan Spiritualitas serta Faktor yang
Melatarbelakanginya di Majelis Tamasya Rohani Riyadhul Jannah
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Palembang. Intizar. 21(2): 165-183


http://download.portalgaruda.org/article.php?article=388880&val=7973&titl
e=Tingkat%20Usia%20dan%20Perkembangan%20Spiritualitas%20serta%2
0Faktor%20yang%20Melatarbelakanginya%20di%20Majelis%20Tamasya
%20Rohani%20Riyadhul%20Jannah%20Palembang [Diakses pada 28
November 2017]

Janssen W, Bussmann J, Selles R, Koudstaal P, Ribbers G, Stam H. Recovery of


the sit-to-stand movement after stroke: a longitudinal cohort study.
Neurorehabil Neural Repair. 2010;24(8):763–9.
doi:10.1177/1545968310363584.

Jie, Li., et al. 2013. Characterization and Factors Associated With Sleep Quality
Among Rural Elderly in China.Journal of Clinical Sleep Medicine

Jumita, Rina. 2011. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kemandirian Lansia


di Wilayah Kerja Puskesmas Lampasi Kecamatan Payakumbuh Utara.
Serial Online http://repository.unand.ac.id/16884/1/FAKTOR-
FAKTOR_YANG_BERHUBUNGAN_DENGAN_KEMANDIRIAN_LAN
SIA.pdf diakses pada 24 Maret 2019 pukul 21.36 WIB

Kaplan, H.I, & Saddock, B.J. (2010).Sinopsis Psikiatri Jilid


2. Terjemahan Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa
Aksara.

Kemenkes Republik Indonesia. 2017. Situasi Lanjut Usia (Lansia) Di Indonesia.


Jakarta : Kemenkes RI

Khan, M.T., Sulaiman, A.S., Hassali, M.A., Anwar, M., Wasif,


G. (2009). Community Knowledge, Attitudes and Beliefs
Toward Depression in State of Penang, Malaysia.
Community Mental Health Journal 2010:46:87.

Kim, E, et.al. (2009). Obesity and Depressive Symptoms


in Elderly Koreans: Evidence for the “Jolly
fat” Hypothesis from the Ansan Geriatric (AGE)
study.AGG Journal , 51(2), 2009, 231-234.

Komisi Nasional Lanjut Usia. (2010). Profil Penduduk Lanjut Usia


2009. Jakarta: Komnas Lansia.

Kurniawan, S.T., Andini, I.S. and Agustin, W.R., 2019. Hubungan Self Efficacy
Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Terapi
Hemodialisa Di Rsud Sukoharjo. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, pp.1-
7.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Kushariyadi. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta :


Salemba Medika

Luqman, N., Puri, A., dan Tanwar, K. 2015. Gender Differences in Spiritual
Personality. International Journal of Multidisciplinary and Current
Research. 3: 719-722. http://ijmcr.com/wp-
content/uploads/2015/07/Paper4719-722.pdf

Martono, et al. 2015. Buku Ajar BoedhiDarmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Lanjut). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Maryam, dkk. (2011). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.


Jakarta: Salemba Medika.

Muhtar, T. A, A. A. Ilmi,dan Syisnawati. 2018. Gambaran Tingkat Spiritualitas


Lansia Dengan Diabetes Melitus Di Kec.Panakukang. Journal of Islamic
Nursing. 3 (1): 1-10.

Nabil, Muhammad I dan Wahyu Dewi S., 2013. Perbedaan Kualitas Tidur Lansia
yang Tinggal Bersama Keluarga dengan lansia di PTSW. Journal Ners and
Midwifery Indonesia, 2(1), pp. 21-20.

Nugroho, W. (2008). Keperawatan Lanjut Usia. Jakarta : EGC

Nursalam, & Efendi, F. (2012). Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba


Medika.

Okatiranti, Irawan, E., & Amelia, F. (2017). Hubungan self efficacy dengan
perawatan diri lansia hipertensi, V(2), 130–139.

Papalia, D.E., Olds, S.W. & Feldman, R.D. (2008).Human


development (9th ed). New York: Mc Graw Hill

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses,
Praktik. Edisi 4. Jakarta: ECG.

Pretorius, S. P. 2008. Understanding Spiritual Experience In Christian Spirituality.


Acta Theologica Supplementum. 28(11) : 147-165.
Http://Www.Scielo.Org.Za/Scielo.Php?Script=Sci_Arttext&Pid=S1015-
87582008000400008 [Diakses Pada 15 Januari 2018]

Priyantini, Diah. 2017. Hubungan Aktifitas Fisik Dengan Kualitas Tidur Lansia
Di Panti Werda. Skripsi. Universitas Erlangga : Fakultas Keperawatan.

Pudjiastuti, Surini, Sri dan Utomo, Budi. 2003. Fisioterapi pada Lansia. Jakarta:
EGC.
Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Retnani. 2014. Gambaran Fungsi Intelektual Lanjut Usia Di Posyandu Flamboyan


Desa Bandung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. STIKES Pemkab
Jombang

Revis R et al. (2015). Dekubitus Ulcer. www.healthline.com.

Rezky, A. N. 2018. Gambaran Self Efficacy Lansia Penderita Hipertensi di


Wilayah Kerja Puskesmas Jumpandang Baru. Makasar: Program Studi
Sarjana Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin
Makasar.

Rubenstein LZ. Falls in elderly people: epidemiology, risk factor and Strategic for
prevention. Age Ageing. 2006;35 (Suppl2):ii37–41.

Santoso & Ismail.(2009).Perbedaan Tingkat Kualitas


Hidup pada Wanita Lansia di Komunitas dan Panti. Jurnal
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Malang

Sari. 2014. Perubahan Tekanan Darah pada Lansia dengan Hipertensi Melalui
Therapeutical Gardening di UPT PSLU Magetan. Jurnal.

Sasmita, Y. 2019. Hubungan Kualitas Tidur Dengan Tingkat Kebugaran Pada


Lansia Di Karang Werda Jenggawah Kabupaten Jember. Universitas Jember
: Fakultas Keperawatan.

Selvadurai, T., Prabowo, T., & Pratiwi, Y. S. (2017). Fall Risk Based on Timed
Up and Go Test in Elderly at Nursing Home in West Java , Indonesia,
4(November 2013), 83–86.

Simonson, W., C. A. Bergeron, C. Ltc, C. A. Crecelius, S. Louis, R. Murphy, S.


Falls, S. R. Maguire, D. Osterweil, B. S. Spivack, B. D. Stwalley, dan P. C.
Zee. 2007. Improving sleep management in the elderly. Journal of Clinical
Sleep Medicine

Sinatra, S. 2019. https://www.drsinatra.com/lowering-high-blood-pressure-with-


exercise. [Diakses Pada 26 Maret 2019].

Suharko, (2006). Penatalaksanaan Rasa Nyeri Pada Lanjut Usia. Jurnal Universa
Medicina. Vol 25 No 1

Smith, M., Robinson, L., & Segal, R. 2017b. Sleep tips for older adults;
overcoming insomnia and getting better sleep

Stewart. (2014). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC


Laporan PSP2N Stase Keperawatan Gerontik – F.KEP Universitas Jember 2019

Tamher dan Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan


Asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Taylor, C. R., Lillis, C, LeMone P & Lynn, P. (2011). Fundamentals of nursing:


The art and science of nursing. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.

Volicer L, Hurley AC, Mahoney E. 2009. Behavioral symptom of dementia. New


York: Springer Publishing Company

Wantiyah. 2010. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengarhi Efikasi Diri Pasien


Penyakit Jantung Koroner dalam Konteks Asuhan Keperawatan Di RSUD
dr. Soebanji Jember. [Tesis]. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia.

Yuzefo, M.A., Sabrian, F., Novayelinda, R., 2015. Hubungan Status Spiritual
Dengan Kualitas Hidup Pada Lansia. JOM 2 (1): 1266-1274.