Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PEMENUHAN AKTIFITAS

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metedologi Keperawatan

Oleh Darmayanti ,S.Kep.,Ners

Disusun oleh :

Tingkat 2A

Kelompok 5

Fina Novia (17.014)

Mirna Octavia N (17.024)

Riska Puji Astuti (17.038)

Silvatira N (17.041)

Yogi Zaenal (17.050)

AKADEMI KEPERAWATAN RUMAH SAKIT DUSTIRA

TAHUN AJARAN 2017/2018


BAB I

KONSEP DASAR GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR


AKTIFITAS

A. Pengertian
Aktifitas fisik (mekanik tubuh) merupakan irama sirkadian manusia. Tiap
individu mempunyai irama atau pola tertsendiri dalam kehidupan sehari – hari
untuk melakukan kerja, rekreasi, makan, istirahat dan lain-lain.
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah
dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi
diperlukan untuk meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit
khususnya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan
perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi
gastrointestinal normal, dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah
sesegera mungkin, biasanya dalam waktu 12 jam (Mubarak, 2008).
Mobilitas fisik yaitu keadaan keika tseseorang mengalami atau bahkan
beresiko mengalami keterbatasan fisik dan bukan merupakan immobile (Doenges,
M.E, 2000)
Immobilisasi adalah ketidakmampuan untuk bergerak bebas yang disebabkan
oleh kondisi dimana gerakan terganggu atau dibatasi secara terapeutik (potter &
perry 2006). Dalam hubungannya dengan perawatan klien, maka immobilisasi
adalah keadaan dimana klien berbaring lama di tempat tidur. Immobilisasi pada
klien tersebut dapat disebabkan oleh penyakit yang dideritanya trauma atau
menderita kecacatan.
B. Anatomi Fisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem
otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur
gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang
bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan
isometrik.
Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang.
Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang:
panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi
dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan
kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah.
Sendi adalah hubungan di antara tulang, diklasifikasikan menjadi:
1. Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang mendukung kekuatan dan
stabilitas
2. Sendi kartilaginous/sinkondrodial, memiliki sedikit pergerakan, tetapi elastis
dan menggunakan kartilago untuk menyatukan permukaannya.
3. Sendi fribrosa/sindesmodial, adalah sendi di mana kedua permukaan tulang
disatukan dengan ligamen atau membran.
4. Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat digerakkan
secara bebas dimana permukaan tulang yang berdekatan dilapisi oleh kartilago
artikular dan dihubungkan oleh ligamen oleh membran sinovial.
5. Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat,
fleksibel mengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang
dan kartilago.
6. Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat, yang
menghubungkan otot dengan tulang.
7. Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak mempunyai
vaskuler.
8. Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh
9. Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian tubuh
tertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi
tubuh secara berkesinambungan.
a. Koordinasi Pergerakan tubuh
Otot ialah Jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu
berkontraksi, dan dengan jalan demikian maka gerakan terlaksana. Otot
terdiri atas serabut silindris yang mempunyai sifat yang sama dengan sel
dari jaringan yang lain, semua ini di ikat menjadi berkas – berkas serabut
kecil oleh sejenis jaringan ikat yang mengandung unsure kontraktil
( Evelyn C Pearce, 2002 ).
b. Sistem Skeletal
Osteon merupakan unit fungsional mikroskopis tulang dewasa. Dingah
osteon terdapat kapiler. Disekeliling kapiler tersebut merupakan matriks
tulang yang dinamakan lamela. Tulang diselimuti dibagian luar dan oleh
membran ibrus padat dinamakanperiosteum. Periosteum memberi nutrisi
ke tulang dan memungkinkannya tumbuh, selainsebagai temat pelekatan
tendon dan lugamen ( Brunner & Suddart, 2002).
C. Jenis – Jenis Mobilisasi
1. Mobilisasi
a. Mobilitas penuh
Merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas
b. Mobilitas sebagian
Merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan adanya
suatu batasan dan tidak mampu bergerakan secara bebas
dikerenakan oleh adanya gangguan saraf motorik dan sensorik pada
area tubuh. (A.Aziz Alimul, 2005)
2. Immobilisasi
a. Imobilisasi fisik, Merupakan pembatasan untuk bergerak secara
fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi
pergerakan.
b. Imobilisasi intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami keterbatasan daya pikir.
c. Imobilitas emosional, merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami pembatasan secara emosional karena adanya
perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
d. Imobilitas sosial, merupakan keadaan individu yang mengalami
hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan
penyakitnya, sehingga dapat mempengaruhi perannya dalam
kehidupan sosial.
D. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2004), faktor - faktor yang akan
mempengaruhi mobilitas antara lain:
1. Tingkat perkembangan tubuh
Usia akan mempengaruhi tingkat perkembangan neuromaskuler dan
tubuh secara profesional, postu, pergerakan dan reflek akan berfungsi
secara optimal.
2. Kesehatan fisik
Penyakit, cacat tubuh dan imobilisasi akan mempengaruhi pergerakan
tubuh.
3. Keadaan nutrisi
Kurangnya nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot, dan obsitas
dapat menyababkan pergerakan kurang bebas.
4. Emosi
Rasa aman, nyaman dan gembira, sedih dapat mempengaruhi aktifitas
tubuh seseorang.
5. Kelemahan skeletal dan neuromuskuler
Adanya abnormal postur seperti scoliosis, lordosis, dan kiposis dapat
mempengaruhi pergerakan.
6. Pekerjaan
E. Gangguan Fungsi Mobilitas
1. Gangguan muskuloskeletal
2. Osteoporosis, atropi, kekuatan otot yang menurun.
3. Gangguan kardiovaskuler
4. Beban kerja jantung naik, hipotensi, orthostatic.
5. Gangguan respirasi
6. Penurunan gerak pernafasan (Tarwoto dan Wartonah, 2004)
F. Dampak immobilisasi terhadap fisik
1. Sistem intergumen
Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan kerusakan integritas
kulit,seperti abrasi dan dekubitus. Hal tersebut disebabkan oleh karena
pada immobilisasi terjadi gerakan, tekanan,jaringan bergeser satu
dengan yang lain, dan penurunan sirkulasi darah pada area yang
terkena, sehingga terjadi iskemia pada jaringan yang tertekan. Kondisi
yang ada dapat diperburuk lagi dengan adanya infeksi, trauma,
kegemukan, berkeringat dan nutrisi yang buruk.
2. Sistem kardiovaskuler
a. Penurunan kardiak reserve
Immobilisasi mengakibatkan pengaruh simpatis atau sistem
adrenegik lebih besar daripada sistem kolinergik atau sistem
vagal. Hal ini menyebabkan peningkatan denyut jantug.
Konsekuensi dari peningkatan denyut jantung menyebabkan
waktu pengisian diastolik memendek dan terjadi penurunan
kapasitas jantung untuk merespons terhadap kebutuhan
metbolisme tubuh (kozier dkk. 1995)
b. Peningkatan beban kerja jantung
Pada kondisi bedrest yang lama, jantung bekerja lebih keras dan
kurang efisien, disertai curah kardiak yang turun selanjutnya akan
menurunkan efisiensi jantung dan meningkatkan beban kerja
jantung.
c. Hipotensi ortostatik
Hipotensi ortostatik merupakan manifestasi umum yang terjadi
pada sistem kardiovaskuler sebagai akibat dari bedrest yang lama.

G. Etiologi
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah,
kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis. Osteoartritis
merupakan penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi
kognitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti
pada depresi juga menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang
berlebihan dapat menyebabkan orangusia lanjut terus menerus berbaring di
tempat tidur baik di rumah maupun dirumah sakit (Setiati dan Roosheroe,
2007).
Penyebab secara umum:
1. Kelainan postur
2. Gangguan perkembangan otot
3. Kerusakan system saraf pusat
4. Trauma yang secara langsung pada system mukuloskeletal dan
neuromuscular
5. Kekakuan otot
Kondisi-kondisi yang menyebabkan immobilisasi antara lain: (Restrick,
2005)
1. Fall
2. Fracture
3. Stroke
4. Postoperative bed rest
5. Dementia and Depression
6. Instability
7. Hipnotic medicine
8. Impairment of vision
9. Polipharmacy
10. Fear of fall

H. Patofisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi
sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot
Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot
berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua
tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik,
peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi
isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi
tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan
klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari
kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak
menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat.
Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan
kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena
latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit
(infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan
Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung
pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan
pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari
otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot
adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan
relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan
posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke
jantung.
Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi
berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat
tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem
skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu
mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah
merah.
BAB II

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PEMENUHAN


KEBUTUHAN DASAR AKTIFITAS

A. Pengkajian
1. Riwayat Keperawatan Sekarang
Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi alasan pasien yang
menyebabkan terjadi keluhan / gangguan dalam mobilitas dan imobilitas.
2. Riwayat Keperawatan Dahulu
Pengkajian riwayat penyakit di masa lalu yang berhubungan dengan
pemenuhan kebutuhan mobilitas.
3. Riwayat Keperawatan Keluarga
Pengkajian riwayat penyakit keluarga, misalnya tentang ada atau tidaknya
riwayat alergi, stroke, penyakit jantung, diabetes melitus.
4. Kemampuan Mobilitas
Tingkat Kategori
Aktifitas/Mobilitas
Tingkat 0 Mampu merawat diri secara penuh
Tingkat 1 Memerlukan penggunaan alat
Tingkat 2 Memerlukan bantuan atau pengawasan
Tingkat 3 orang lain
Memerlukan bantuan, pengawasan orang
Tingkat 4 lain, dan peralatan
Sangat tergantung dan tidak dapat
melakukan atau berpartisipasi dalam
perawatan

5. Kemampuan Rentang Gerak


Pengkajian rentang gerak (ROM) dilakukan pada daerah seperti bahu,
siku, lengan, panggul, dan kaki dengan derajat rentang gerak normal yang
berbeda pada setiap gerakan (Abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi,
hiperekstensi).
6. Perubahan Intoleransi Aktivitas
Pengkajian intoleransi aktivitas dapat berhubungan dengan perubahan
sistem pernapasan dan sistem kardiovaskular.
7. Kekuatan Otot dan Gangguan Koordinasi
Dalam mengkaji kekuatan otot dapat ditentukan kekuatan secara bilateral
atau tidak.
Skala Prosentase Karakteristik
kekuatan
normal
0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat
dipalpasi atau dilihat
2 25
Gerakan otot penuh melawan gravitasi
3 50 dengan topangan
4 75 Gerakan yang normal melawan gravitasi
Gerakanpenuh yang normal melawan
5 100 gravitasi dan melawan tahan minimal
Kekuatan normal, gerakan penuh yang
normal melawan gravitasi dan tahanan
penuh

8. Perubahan psikologis
Pengkajian perubahan psikologis yang disebabkan oleh adanya gangguan
mobilitas dan imobilitas, antara lain perubahan perilaku, peningkatan
emosi, dan sebagainya.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan mobilisasi
2. Hambatan mobilisasi fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
3. Hambatan mobilisasi fisik berhubungan dengan tirah baring
4. Hambatan mobilisasi fisik berhubungan penurunan rentang gerak
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tekanan permukaan kulit
6. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan keterbatasan mobilisasi
7. Risiko cedera berhubungan dengan ketidaktepatan mekanika tubuh
8. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan menurunnya ekspansi
paru

C. Intervensi
No Dx Keperawatan Tujuan dan Intervensi Rasional
Kriteria Hasil (NIC)
(NOC)
.1 Intoleransi Tupan : 1. atur 1. menejemen energi
aktifitas intoleransi penggunaan untuk mengatasi
berhubungan aktivitas kembali energi pasien atau mecegah
dengan penurunan normal atau keletihan dan
mobilisasi Tupen: setelah manajemen mengoptimalkan
diberikan asuhan energi fungsi.
keperawatan 2. berikan 2. aktivitas fisik
diharapkan promosi yang rutin dapat
pasien mampu latihan fisik mempertahankan
melakukan dengan atau meningkatkan
aktivitas dengan memfasilitasi tingkat kebugaran
kriteria hasil : aktivitas fisik dan kesehatan.
1. kerusakan yang rutin 3. meningkatkan
neuro skeletal 3. anjurkan aliran darah ke otot
tidak bertambah pasien untuk dan tulang untuk
parah akibat melakukan meningkatkan tonus
aktivitas yang latihan pasif otot ,mempertahanka
dipaksakan. dan aktif n mobilitas
2. stress teratasi pada yang sendi ,mencegah
secepat dan cedera kontraktur dan
sedini mungkin maupun yang reabsorsi Ca yang
3. kecemasan tidak. tidak digunakan
terhadap 4. ajarkan 4. meningkatkan
intoleransi pasien kemauan pasien
aktivitas akan tentang untuk sembuh .
berlangsung teknik 5. bedrest,
hilang. perawatan penggunaan
diri analgetika dan
5. auskultasi perubahan diet dapat
bising usus, menyebabkan
monitir peristaltik usus dan
kebiasaan konstipasi.
eliminasi. 6. mempercepat
6. kolaborasi proses
dengan ahli penyembuhan,
gizi dalam mencegah
pmberian penurunan BB
diet tinggi 7. untuk menentukan
protein ,vita program latihan.
min, dan
mineral.
7. konsul
dengan
bagian
fisioterapi.
2. Hambatan Tupan : 1.Kaji 1. ROM aktif dapat
mobilisasi fisik Hambatan tingkat membantu dalam
berhubungan mobilisasi fisik kemampuan mempertahankan
dengan penurunan hilang dan ajarkan atau meningkatkan
kekuatan otot Tupen: latihan kekuatan dan
Setelah ROM aktif kelenturan otot .
diberikan asuhan atau pasif. 2. body mechanic
keperawatan dan ambulasi
diharapkan 2. anjurkan merupakan usaha
pasien mampu pasien untuk koordinasi diri
menggerakan melakukan muskuloskletal dan
bagian tubuh body sistem saraf untuk
yang mengalami mechanic mempertahankan
penurunan dan keseimbangan yang
kekuatan otot, ambulasi . tetap .
dengan kriteria 3.gunakan 3. memberikan
hasil: sabuk sokongan pada
1. pasien mampu penyokong ekstremitas yang
melakukan saat mengalami
ROM aktif, body memberikan penurunan kekuatan
mechanic,dan bantuan otot dapat
ambulasi dengan ambulasi meningkatkan kerja
perlahan atau vena, menurunkan
2. neuro perpindahan. edema , dan
muskuler dan 4. kolaborasi mengurangi rasa
skeletal tidak dengan nyeri .
mengalami fisioterapi 4. penanganan yang
atropi dan dalam tepat dapat
terlatih . penanganan mempercepat waktu
3. pasien mampu traksi yang penyembuhan.
sedini mungkin boleh
melakukan digerakan
mobilisasi dan yang
apabila neuro belum boleh
muskuler dan digerakan .
skeletal berada
dalam tahap
penyembuhan
total.

3 Gangguan Tupan : 1. membantu 1. meningkatkan


integritas kulit Integritas kulit ROM pasif aliran darah ke
berhubungan teratasi 2. ubah semua daerah
dengan Tupen : posisi tiap 2 2. menghindari
keterbatasan Setelah jam tekanan dan
mobilisasi diberikan asuhan 3. jaga meningkatkan aliran
keperawatan kebersihan darah
kerusakan kulit dan 3. mempertahankan
integritas kulit semenimal keutuhan kulit
mengalami mungkin
perbaikan hindari
dengan kriteria gatal ,luka
hasil : tekan dan
1. tidak ada lesi trauma panas
2. pasien tidak pada kulit
merasakan gatal. dengan
3. tidak terdapat pemberian
tanda-tanda bedak dan
infeksi. lotion .

D. Implementasi
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan
yang telah disusun pada tahap perencanaan.
Implementasi merupakan tahap proses keperawatan di mana perawat
memberikan intervensi keperawatan langsung dan tidak langsung terhadap
klien.

E. Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi
gangguan mobilitas adalah :
1. Peningkatan fungsi sistem tubuh
2. Peningkatan kekuatan dan ketahanan otot
3. Peningkatan fleksibilitas sendi
4. Integritas kulit normal tercapai
5. Peningkatan fungsi motorik, perasaan nyaman pada pasien, dan ekspresi
pasien menunjukkan keceriaan.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. A. Aziz Alimul. 2006 . Kebutuhan Dasar Manusia . Jakarta Selatan :


Salemba Medika

Wikinson Juditch M & Ahern Nancy R .2014 . Buku Saku Diagnosis Keperawatan .
Jakarta : Ns. Esty Wahyuningsih,S.Kep

Setiadi (2012), Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Potter & Perry. (2009). Fundamental of Nursing 7 th Edition.