Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK I

REAKSI – REAKSI ALDEHIDA DAN KETON

Untuk memenuhi tugas yang diampu oleh Bapak

Dr. Aman Santoso, M.Si

Dr. Ikhsan, M.Si

Kelompok 6

Dwiky El Fizar Kustanto (170332614510)**

Ghina Wijayanti (170332614534)

Habib Maulana Azhari (170332614522)

Verdina Dea N. (170332614551)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

2019
TUJUAN PERCOBAAN
Melalui percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami perbedaan sifat
antara aldehida dan keton terhadap pereaksi-pereaksi tertentu.

A. DASAR TEORI
Aldehid dan keton merupakan senyawa organik yang sama-sama memiliki gugus fungsi
karbonil, yakni gugus fungsi yang terdiri dari sebuah atom karbon yang berikatan rangkap
dua dengan sebuah atom oksigen. Bedanya, gugus karbonil pada aldehid terletak pada posisi
terminal, dan pada keton internal.

Karena atom oksigen memiliki keelektronegatifan yang besar, maka gugus karbonil
bersifat polar. Selain itu, keberadaan pasangan elektron bebas pada oksigen membuatnya
dapat beresonansi, sekaligus membuat aldehid dan keton memiliki kemampuan untuk
melakukan ikatan hidrogen.Kebanyakan aldehid dan keton mengalami reaksi pada atom
karbon  (alfa), yaitu atom karbon yang bersebelahan dengan gugus karbonil. Reaksi yang
terjadi pada atom karbon  ini dapat berupa reaksi subtitusi, adisi, maupun eliminasi, yang
dapat berlangsung dengan mekanisme elektrofilik maupun nukleofilik. Sedangkan reaksi
oksidasi dan/atau reduksi biasanya terjadi pada atom karbon dari gugus karbonil itu sendiri.

Meskipun memiliki kesamaan dalam hal gugus karbonil, aldehida berbeda dengan
keton. Aldehida dapat mereduksi larutan garam perak amoniakal, mereduksi larutan Fehling,
bereaksi dengan pereaksi Schiff, dan menghasilkan resin dengan larutan natrium hidroksida.
Sebaliknya, keton tidak memiliki sifat-sifat seperti aldehida tersebut. ( Marfu’ah dkk, 2017)

Aldehid Keton
Ada beberapa perbedaan antara aldehid dan keton pada sifat dan struktur yang
mempengaruhinya:
a. Aldehid sangat mudah untuk beroksidasi, sedangkan keton mengalami kesukaran dalam
beroksidasi.
b. Aldehid biasanya lebih reaktif dari keton, terhadap suatu reagen yang sama. Hal ini
disebabkan karena atom karbonil dari aldehid kurang dilindungi dibandingkan dengan
keton, begitu pula aldehid lebih mudah dioksidasi dari keton.
c. Aldehid kalau teroksidasi akan menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah aton yang
sama tetapi tidak untuk keton. Karena pada keton sering mengalami pemutusan ikatan yang
menghasilkan dua asam karboksilat dengan jumlah atom karbon mula-mula (akibat
putusnya ikatan karbon) keton siklik menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah atom
karbon yang banyak.

B. ALAT DAN BAHAN


Alat :
- Tabung reaksi - Termometer
- Beaker glass - Pompa hisap
- Erlenmeyer - Corong Buchner
- Lampu spiritus - Labu Buchner
- Kaki tiga - Batang pengaduk gelas
- Penjepit tabung
Bahan :
- Asetaldehida - Larutan natrium hidroksida 30%
- Benzaldehida - Asam sulfat pekat
- Salisilaldehida - Larutan jenuh natrium bisulfit
- Aseton - Alkohol
- Larutan encer asetaldehida - Eter
- Larutan perak nitrat (3g dalam 30 mL air) - Larutan natrium karbonat 10%
- Etil alkohol 50% - Kristal β-naftol
- Larutan NaOH (3g dalam 30 mL air) - Asam asetat glasial
- Larutan natrium hipoklorit - Larutan asam klorida encer
- Larutan ammonia encer - Asam klorida pekat
- Larutan Fehling - Larutan jenuh kalium permanganat
- Pereaksi Schiff - Kristal natrium karbonat padat
- Larutan natrium hidroksida 10% - Larutan natrium sulfit 25%
- Larutan kalium iodida 10% - m-Dinitrobenzena
- Larutan natrium nitroprusia

C. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Reduksi Larutan Perak Nitrat Amoniakal
1 mL AgNO3

- Dimasukkan 1 tetes NaOH


- Ditambah ammonia tetes demi tetes sampai tersisa sedikit endapan (larutan
mengandung [Ag(NH3)2]+)
- Dimasukkan larutan perak nitrat amoniakal ke dalam tabung reaksi lainnya
- Ditambah 6 tetes larutan asetaldehida encer ke dalam tabung A
- Ditambah 6 tetes larutan aseton ke dalam tabung B
- Dikocok dan dipanaskan, lalu diamati
2. Reduksi Larutan Fehling
Hasil
Campuran larutan Fehling A dan Fehling B (perbandingan 1: 1)

- Dimasukkan ke dalam tabung A dan tabung B masing-masing 1 mL


- Ditambah 5 tetes larutan asetaldehida ke dalam tabung A
- Ditambah 5 tetes larutan aseton ke dalam tabung B
- Dididihkan kedua tabung tersebut
- Diamati hal yang terjadi

Hasil
3. Reaksi dengan Pereaksi Schiff (Pereaksi Fuchsin Aldehida)
Pereaksi Schiff
- Disiapkan tabung A dan tabung B
- Dimasukkan 5 tetes larutan asetaldehida ke dalam tabung A
- Dimasukkan 5 tetes larutan aseton ke dalam tabung B
- Ditambahkan beberapa tetes pereaksi Schiff pada kedua tabung
- Diamati hal yang terjadi

Hasil
4. Reaksi dengan Larutan Natrium Hidroksida 10%

2-3 tetes Larutan Natrium Hidroksida 10%


- Disiapkan satu tabung reaksi
- Dimasukkan 5 tetes asetaldehida ke dalam tabung reaksi
- Dipanaskan
- Diamati hasilnya

Hasil
5. Reaksi Oksidasi oleh Kalium Permanganat Basa

0,5 mL benzaldehida atau salisilaldehida


- Ditambah 5 tetes larutan KMnO4 jenuh dan kristal Na2CO3
- Dipanaskan campuran dalam penangas air selama 10 menit
- Didinginkan campuran
- Diasamkan dengan HCl pekat
- Ditambahkan larutan Na2SO3 25% sampai endapan mangan dioksida larut
- Didinginkan dan diamati hasilnya
Hasil
6. Reaksi Iodoform
10 tetes aseton

- Ditambah 15 tetes larutan KI


- Ditambah larutan natrium hipoklorit tetes demi tetes sampai keruh
- Dicatat hasil pengamatan

Hasil
7. Reaksi Nitroprusida

5 tetes aseton
- Ditambahkan 2 tetes larutan natrium nitroprusida
- Ditambah larutan NaOH encer berlebih
- Diamati hasilnya
Hasil
D. DATA PENGAMATAN
No Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
1. Reduksi Larutan Perak Nitrat Amoniakal AgNO3 + NaOH = endapan coklat
dan larutan tidak berwarna
1 mL AgNO3
AgNO3 + NaOH + ammonia =
- Dimasukkan 1 tetes NaOH
endapan coklat dan larutan tidak
- Ditambah ammonia tetes demi tetes sampai
berwarna
tersisa sedikit endapan (larutan mengandung
[Ag(NH3)2]+) Tabung A = terbentuk cermin perak
- Dimasukkan larutan perak nitrat amoniakal
Tabung B = larutan tidak berwarna,
ke dalam tabung reaksi lainnya
- Ditambah 6 tetes larutan asetaldehida encer
ke dalam tabung A
- Ditambah 6 tetes larutan aseton ke dalam
tabung B
- Dikocok dan dipanaskan, lalu diamati
Hasil

2. Reduksi Larutan Fehling


Campuran larutan Fehling A dan Fehling B Tabung A = larutan berubah warna
(perbandingan 1: 1) menjadi hijau
- Dimasukkan ke dalam tabung A dan tabung
B masing-masing 1 mL
Tabung B = larutan berubah warna
- Ditambah 5 tetes larutan asetaldehida ke
menjadi biru kehijauan
dalam tabung A
- Ditambah 5 tetes larutan aseton ke dalam
tabung B
- Dididihkan kedua tabung tersebut
- Diamati hal yang terjadi
Hasil

3. Reaksi dengan Pereaksi Schiff (Pereaksi


Fuchsin Aldehida)
Pereaksi Schiff

- Disiapkan tabung A dan tabung B


Tabung A = larutan berwarna ungu
- Dimasukkan 5 tetes larutan asetaldehida ke
dalam tabung A Tabung B = larutan berwarna merah
- Dimasukkan 5 tetes larutan aseton ke dalam muda
tabung B
- Ditambahkan beberapa tetes pereaksi Schiff
pada kedua tabung
- Diamati hal yang terjadi

Hasil

4. Reaksi dengan Larutan Natrium Hidroksida


10%
2-3 tetes Larutan Natrium Hidroksida 10%

- Disiapkan satu tabung reaksi


- Dimasukkan 5 tetes asetaldehida ke dalam
tabung reaksi
- Dipanaskan
- Diamati hasilnya Setelah dipanaskan larutan berwarna
kuning dan berbau menyengat
Hasil

5. Reaksi Oksidasi oleh Kalium Permanganat


Basa
0,5 mL benzaldehida atau salisilaldehida
- Ditambah 5 tetes larutan KMnO4 jenuh dan KMnO4 + Na2CO3 + benzaldehida =
kristal Na2CO3 larutan kuning, endapan hitam
- Dipanaskan campuran dalam penangas air
Setelah dilakukan pemanasan =
selama 10 menit
larutan berwarna putih
- Didinginkan campuran
- Diasamkan dengan HCl pekat Ditambahkan HCl = endapan putih
- Ditambahkan larutan Na2SO3 25% sampai cepat terpisah dengan larutan tidak
endapan mangan dioksida larut berwarna
- Didinginkan dan diamati hasilnya
Ditambahkan Na2SO3 endapan larut
Hasil menjadi larutan tidak berwarna
6. Reaksi Iodoform
10 tetes aseton
- Ditambah 15 tetes larutan KI Aseton + KI = larutan tidak
- Ditambah larutan natrium hipoklorit tetes berwarna
demi tetes sampai keruh
Aseton + KI + NaOCl = endapan
- Dicatat hasil pengamatan
kuning, larutan berwarna ungu dan
Hasil berbau seperti tinta bolpoin.

7. Reaksi Nitroprusida

5 tetes aseton
- Ditambahkan 2 tetes larutan natrium Aseton + natrium nitroprusida =
nitroprusida larutan tidak berwarna
- Ditambah larutan NaOH encer berlebih
Aseton + natrium nitroprusida +
- Diamati hasilnya
NaOH = larutan berwarna merah
Hasil

E. ANALISIS PROSEDUR DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan yang pertama yang perlu dilakukan adalah membuat larutan perak
nitrat amoniakal. Langkah awal untuk membuat larutan perak nitrat amoniakal adalah
mengambil 1 mL larutan perak nitrat. Namun, pada percobaan yang kami lakukan mengambil
sebanyak 3 mL larutan perak nitrat dikarenakan akan dibagi menjadi 3 bagian yang mana 2
tabung untuk percobaan aldehida dan keton dan yang 1 tabung untuk percobaan asam
karboksilat. Setelah dilakukan pengambilan larutan tersebut kemudian ditambahkan sebanyak
1 tetes larutan NaOH. Pada penambahan diperoleh endapan coklat Ag2O seperti pada
persamaan reaksi di bawah.
2AgNO3(aq) + 2NaOH(aq) → Ag2O(s) + 2NaNO3(aq) + H2O(l)
Dilanjutkan dengan penambahan ammonia pada larutan tersebut dengan catatan setiap
penambahan dilakukan dengan hati-hati jangan sampai berlebih (38 tetes). Untuk mengatasi
agar tidak berlebih maka setiap kali dilakukan penambahan dan dikocok langsung diamati dan
sisakan endapan hanya sedikit. Awalnya pada penambahan ammonia larutan bertambah
keruh,setelah 25 tetes endapan mulai larut dan disisakan seditik endapan tersebut. Karena
sudah dirasa cukup, ditakutkan jika ditambahkan ammonia lagi akan menyebabkan kerusakan
pada larutan yang dibuat. Setelah dihentikan penambahan ammonia, maka hasil larutan
tersebut adalah perak nitrat amoniakal yang sesuai dengan persamaan reaksi berikut.
Ag2O(s) + 4NH4OH(aq) → 2[Ag(NH3)2]OH(aq) + 3H2O(l)
Langkah selanjutnya adalah membagi tiga larutan tersebut, yaitu 2 tabung untuk uji
aldehida dan keton dan 1 tabung untuk uji asam karboksilat. Tabung dengan label A
ditambahkan sebanyak 6 tetes larutan asetaldehida. Tabung dengan label B ditambahkan
sebanyak 6 tetes larutan aseton. Pada kedua tabung tersebut setelah ditambahkan dengan
larutan-larutan tersebut tidak terjadi perubahan warna, dimana kedua larutan sama-sama tidak
berwarna. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung A dan tabung B. Hasil yang
didapatkan pada pemanasan tersebut adalah tabung A menghasilkan cermin perak sementara
tabung B tidak terjadi perubahan apa-apa. Sehingga pada percobaan ini diperoleh persamaan
reaksi :
2[Ag(NH3)2]OH(aq) + CH3CHO(l) → CH3COONH4(aq) + 2Ag(s) + H2O(l) + 3NH3(aq)
[Ag(NH3)2]OH(aq) + (CH3)2CO(l) →

Percobaan yang kedua, pertama-tama yang dilakukan adalah membuat larutan


fehling dengan mencampur larutan fehling A dengan larutan fehling B. Percobaan ini disiapkan
dua tabung yang telah diberi label A untuk yang akan ditambahkan dengan 5 tetes larutan
asetaldehida dan tabung dengan label B yang akan ditambah dengan 5 tetes aseton. Setelah
ditambahkan dengan kedua larutan, larutan pada tabung A dan tabung B memiliki warna biru.
Selanjutnya kedua larutan dipanaskan. Pada percobaan ini diperoleh hasil dimana pada tabung
A mengalami perubahan dari warna biru menjadi warna hijau, sedangkan tabung B menjadi
berwarna biru kehijauan. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi reaksi pada kedua tabung.
Perubahan ini menujukkan adanya reaksi dengan larutan fehling. Urutan perubahan warna
pada reaksi ini adalah hijau – kuning – coklat – merah bata. Sehingga meskipun hanya
mencapai warna hijau sudah dianggap bereaksi dengan larutan fehling. Percobaan ini
didapatkan persamaan reaksi seperti berikut.
CH3CHO(l) + 2Cu2+(aq) + 5OH-(aq) → CH3COO-(aq) + Cu2O(s) + 3H2O(l)
(CH3)2CO(l) + 2Cu2+(aq) + 5OH-(aq) →
Percobaan ketiga langkah awal yang harus dilakukan adalah menyiapkan dua buah
tabung yang telah diberi label A dan label B. Tabung A dimasukkan larutan asetaldehida dan
tabung B dimasukkan larutan aseton sebanyak 5 tetes. Setelahnya baru ditambahkan beberapa
tetes larutan pereaksi Schiff. Percobaan ini diperoleh, tabung A mengalami perubahan menjadi
warna merah muda. Warna merah muda yang dimaksud adalah magenta (ungu kemerahan).
Secara teori aldehida sangat sensitif dengan pereaksi ini dan warna yang dihasilkan adalah
warna magenta. Namun pada keton juga terjadi perubahan warna setelah 2 menit, hal ini
kemungkinan terjadi akibat praktikan kurang teliti dalam melakukan pengamatan serta kurang
teliti dalam mengambil sampel.

Percobaan keempat, pertama-tama yang kita lakukan adalah mengambil larutan


asetaldehida sebanyak 5 tetes lalu ditambahkan dengan larutan NaOH 10% sebanyak 2-3 tetes.
Kami hanya menggunakan larutan dalam jumlah kecil karena dengan kita hanya mengamati
secara kualitatif bukan kuantitatif. Setelah penambahan tersebut baru larutan NaOH 10% dan
larutan asetaldehida dipanaskan. Hasilnya adalah larutan berwarna kuning dengan bau yang
sangat menyengat. Reaksi ini disebut dengan reaksi aldol, yaitu reaksi dimana aldehida
direaksikan dengan basa kuat sebagai katalis. Hasil yang positif ditunjukkan dengan timbulnya
warna kuning pada percobaan ini. Ion OH- pada NaOH akan melepas dan berikatan dengan
aldehid pada percobaan ini. Untuk persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.
2CH3CHO(l) + NaOH(aq) → CH3CH(OH)CH2CHO(l)

Percobaan kelima yaitu menguji aldehida dengan larutan KMnO4 bahwa terjadi
reaksi yang dinamakan reaksi oksidasi. Awalnya 0,5ml larutan benzaldehida ditambahkan
KMnO4 dan Na2CO3 Menghasilkan larutan tidak berwarna lalu dipanaskan dalam penangas air
selama 10 menit terbentuk endapan putih. Hal ini menunjukkan adanya reaksi pada aldehida.
Selanjutnya ditambah larutan HCl dan Na2SO3 endapan menghilang secara perlahan. Larutan
tidak berwarna yang dihasilkan itu adalah larutan asam benzoat. Hal ini dapat ditunjukkan
dengan persamaan reaksi berikut.

KMnO4
C6H5CHO C6H5COOH
HCl pekat
Na2SO3

Percobaan keenam, aseton ditambahkan dengan 15 tetes larutan KI, tidak terjadi
perubahan warna (tidak berwarna). Setelah ditambahkan 1 tetes NaClO diperoleh warna larutan
merah muda (magenta). Penambahan larutan NaClO terus dilakukan untuk mendapatkan
larutan yang keruh. Larutan keruh menunjukkan adanya endapan pada larutan tersebut. Alhasil
percobaan ini diperoleh endapan berwarna kuning dengan larutan berwarna merah muda
(magenta) setelah didiamkan beberapa saat agar nantinya mudah untuk diamati. Berdasarkan
teori aseton sangatlah mudah bereaksi dengan unsur halogen, sehingga banyak yang
menggunakan aseton sebagai pereaksi dalam reaksi halogenasi. Salah satu percobaan yang
terkenal adalah reaksi iodoform ini. Pada percobaan ini dapat dikatakan hasil uji positif jika
terbentuk endapan berwarna kuning. Endapan kuning tersebut diduga CHI3. Kita dapat
mengetahui dari reaksi di bawah ini.
C3H6O(l) + 3KI(aq) + 3NaClO(aq) → CHI3(s) + 2NaOH(aq) + 3KCl(aq) + C2H3O2Na(aq)
Percobaan ketujuh ini pertama-tam disiapkan 5 tetes aseton dalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan dengan 2 tetes larutan natrium nitroprusida. Pada penambahan kedua
larutan tersebut diperoleh larutan tidak berwarna. Dan ketika ditambahkan dengan NaOH encer
berlebih diperoleh larutan dengan warna merah. Percobaan natrium nitroprusida ini dinamakan
percobaan rothera, dimana biasanya digunakan untuk mengidentifikasi adanya keton dalam
urine. Hasil dikatan positif terdapat gugus keton jika terbentuk larutan berwarna merah (ada
cicin merah). Jika dari percobaan yang kami lakukan diperoleh warna merah, hal ini
menandakan bahwa percobaan kami benar sesuai dengan teori.
4C3H6O(l) + NaOH(aq)+ Na2[Fe(CN)5NO](aq) → 4C3H5O(aq) + 2H2O(l) + Na3Fe(CN)5NOH

F. KESIMPULAN
1. Aldehid jika direaksikan dengan perak nitrat amoniakal akan positif terjadi reaksi dengan
menghasilkan cermin perak sedangkan pada keton tidak dapat bereaksi.
2. Uji fehling akan positif jika terbentuk larutan dari warna biru berubah warna menjadi
hijau atau kuning atau coklat atau merah bata. Dan hasilnya, aldehida akan menghasilkan
reaksi positif pada uji fehling sementara keton tidak akan bereaksi.
3. Uji dengan pereaksi Schiff akan menghasilkan uji yang positif jika terbentuk warna
merah muda (magenta) dan yang menunjukkan reaksi tersebut adalah senyawa aldehid,
sementara aseton membutuhkan waktu untuk memperoleh warna tersebut.
4. Penambahan NaOH 10% pada larutan dengan gugus senyawa aldehid akan diperoleh
larutan berwarna kuning dengan bau yang menyengat setelah dilakukan pemanasan.
5. Reaksi senyawa aldehid dengan KMnO4 basa akan menyebabkan terjadinya reaksi
oksidasi yang ditandai dengan terbentuknya senyawa asam karboksilat yang larutannya
tidak berwarna.
6. Reaksi iodoform akan berhasil jika direaksikan dengan senyawa keton, karena senyawa
keton sangat reaktif terhadap golongan halida. Sehingga pada percobaan ini akan
dikatakan positif jika terbentuk endapan berwarna kuning yang diduga CHI3.
7. Suatu senyawa keton jika direaksikan dengan natrium nitroprusida akan didapatkan
larutan berwarna merah.
G. DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden. 1992. Kimia Organik Edisi III. Jakarta : Erlangga.
Besari, Ismail. 1982. Kimia Organik untuk Universitas. Bandung : Armico.
Hart, Harold, Leslie E Crame. David J. Hart. 1990. Kimia Organik. Terjemahan Seminar
Setiadi Achmadi. Jakarta : Erlangga.
Marfu’ah, Siti, dkk. 2017. Petunjuk Praktikum Kimia Organik I. Malang : Universitas Negeri
Malang
Damayanti, Latifah Adelina; Ikhsan, Jaslin. 2016. Augmented Chemistry Aldehida dan Keton
(Buku Pengayaan Berbasis Augmented Reality dengan Sistem Operasi Android).
Yogyakarta : Augmented Reality Media.
Ammar, Ganjar Abdillah. 2014. Laporan Praktikum Kimia Organik Percobaan 6 Aldehid dan
Keton : Sifat dan Reaksi. Bandung : Institut Teknologi Bandung.
LAMPIRAN