Anda di halaman 1dari 24

Laporan Kasus

PITIRIASIS VERSIKOLOR

Oleh:
Dara Miranda
Yudhi Aulia

Pembimbing:
Fitria Salim

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis hanturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kesempatan dan kesehatan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas laporan
kasus ini. Salawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan ke pangkuan baginda
Rasulullah SAW yang telah mengantarkan umatnya dari alam kebodohan ke alam
penuh dengan ilmu pengetahuan.
Tugas laporan kasus ini membahas mengenai “Pitiriasis Versikolor” dan
merupakan salah satu tugas dalam menjalani Kepaniteraan Klinik Senior di
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Syiah Kuala/Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Fitria Salim, M.Sc, Sp.KK
yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam
penyusunan laporan kasus ini. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada rekan-rekan
dokter muda yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas ini. Semoga
tulisan ini memberikan manfaat bagi kita dan perkembangan ilmu kedokteran.

Banda Aceh, Januari 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................
..........................................................................................................................
i
DAFTAR ISI....................................................................................................
..........................................................................................................................
ii
DAFTAR TABEL............................................................................................
..........................................................................................................................
iii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................
..........................................................................................................................
iv
PENDAHULUAN...........................................................................................
1
LAPORAN KASUS........................................................................................
..........................................................................................................................
2
ANALISA KASUS..........................................................................................
6
TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................
9
Definisi......................................................................................................
9
Epidemiologi ............................................................................................
9
Etiologi .....................................................................................................
10
Patogenesis................................................................................................
10

3
Gambaran klinis.........................................................................................
11
Penegakan diagnosis .................................................................................
12
Diagnosa banding......................................................................................
15
Tatalaksana ...............................................................................................
16

Prognosis ..................................................................................................
17

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
18

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Diagnosis banding...............................................................................15

4
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Lesi pitiriasis versikolor pada region colli.................................... 3
Gambar 2. Pemeriksaan KOH pasien.............................................................. 4
Gambar 3. Gambaran lesi pitiriasis versikolor................................................ 12
Gambar 4. Uji provokasi skuama.................................................................... 12
Gambar 5. Pemeriksaan KOH pada Mallasezia tampak gambaran
“spaghetti and meatballs”........................................................... 14

Gambar 6. Kultur Malassezia furfur pada media kaya lipid........................... 14

5
PENDAHULUAN
Pitiriasis versikolor (PV) atau lebih dikenal dengan panu adalah infeksi jamur
superficial yang ditandai perubahan pigmen kulit akibat kolonisasi stratum korneum
oleh jamur lipofilik dimorfik dari flora normal kulit, Malassezia furfur. Karena
berbagai faktor, M.furfur akan berkembang menjadi bentuk miselium yang patogenik.
(1)

Prevalensi pitiriasis versikolor di Amerika Serikat mencapai 2-8% dari


populasi. Infeksi ini lebih sering pada daerah dengan suhu tinggi dan relatif
lembab. Prevalensi di dunia mencapai 50% di daerah panas dan lembab dan 1,1%

6
pada daerah dengan iklim dingin. Insidensi pitiriasis versikolor sama pada setiap ras,
tapi kemunculannya pada orang dengan kulit gelap lebih jelas terlihat. Tidak ada
perbedaan tingkat kejadian pada jenis kelamin. Pitiriasis versikolor lebih sering
terjadi pada remaja dan dewasa muda, yang produksi lipid pada glandula sebasea
lebih aktif. (2)
Berdasarkan beberapa data, tipe lesi bervariasi dalam bentuk, ukuran dan
gejala. Warna lesi bisa berupa hipopigmentasi, hiperpigmentasi atau eritematous.
Bentuk lesi bis berupa numular, sirsinar, popular, folikular dan konfluen.(3)
Diagnosis PV bisa ditegakkan melalui pemeriksaan kerokan kulit pada lesi,
dan jika hal ini tidak memungkinkan, bisa dilakukan pengambilan sampel
menggunakan selotip. Pemeriksaan menggunakan Wood Lamp bisa menjadi salah
satu pemeriksaan untuk membantu diagnosis dan akan menunjukkan gambaran
kuning keemasan. Anti jamur topical merupakan pilihan obat pertama untuk terapi
PV, sedangkan anti jamur sistemik direkomendasikan pada kasus sedang hingga
berat. Pada beberapa kasus, kesalahan mendiagnosis menyebabkan ketidaksesuaian
dan ketidakefektifan dalam memberikan terapi. (4)

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama : RM
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Aceh
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi
Status Perkawinan : Belum menikah

7
Alamat : Lingke
Tanggal Pemeriksaan : 28 Desember 2015
Jaminan : BPJS
Nomor CM : 1-07-57-34
Anamnesis
Keluhan Utama : Bercak merah di leher, perut, punggung.
Keluhan tambahan : Gatal
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poliklinik penyakit kulit dan
kelamin dengan keluhan bercak kemerahan di
leher, perut dan punggung disertai rasa gatal hilang
timbul sejak 3 tahun yang lalu. Awalnya bercak
kemerahan muncul pada leher kemudian tanpa
disadari oleh pasien, bercak kemerahan juga
muncul pada bagian perut dan punggung.
belakang. Pasien mengaku timbul rasa gatal
muncul saat pasien beraktivitas dan berkeringat,
terutama saat cuaca panas. Rasa gatal dirasakan
berkurang jika pasien mandi.
Riwayat penyakit dahulu : Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang
sama sebelumnya
Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan hal
yang sama
Riwayat pemakaian obat : Pasien pernah mengkonsumsi obat-obatan dari
puskesmas dan dokter spesialis, namun keluhan
tidak berkurang.
Riwayat kebiasaan sosial : Pasien merupakan seorang mahasiswi yang
beraktivitas di dalam ruangan. Kebiasan mandi
2 kali sehari. Pasien sering memakai pakaian
yang tidak menyerap keringat.
Pemeriksaan Fisik Kulit

8
Status Dermatologis
Regio : Colli
Deskripsi Lesi : Tampak makula eritematous dengan skuama halus
diatasnya, berbatas tegas tepi ireguler, jumlah multipel,
ukuran lentikuler hingga plakat, distribusi regional.

Gambar 1.Lesi pada regio colli.

Pemeriksaan Penunjang
1. Uji klinis
Pemeriksaan lampu wood menunjukkan flouresensi berwarna kuning keemasan.
2. Pemeriksaan KOH 10%
Tampak gambaran hifa dan spora menyerupai gambaran “spaghetty and
meatball”.

9
Gambar 2. Pemeriksaan KOH pada Mallasezia tampak gambaran
“spaghetti and meatballs”

Resume
Pasien datang dengan keluhan timbul kemerahan pada leher disertai rasa gatal yang
hilang timbul sejak 3 tahun lalu. Pasien mengeluh gatal bertambah ketika pasien
beraktivitas lalu berkeringat, terutama jika cuaca panas. Gatal dirasakan berkurang
jika pasien mandi. Pemeriksaan fisik kulit pada regio colli tampak makula
eritematous dengan skuama halus . Dari hasil pemeriksaan pemeriksaan lampu wood
dijumpai flouresensi berwarna kuning keemasan. Pemeriksaan menggunakan KOH
10% tampak gambaran hifa dan spora menyerupai “spaghetty and meatball”.

Diagnosis Banding
1. Pitiriasis versikolor
2. Tinea korporis
3. Dermatitis seboroik
4. Urtikaria

Diagnosis Klinis
Pitiriasis versikolor

Tatalaksana
a. Farmakoterapi
Terapi topikal

10
- Ketokonazole cream 2% (pagi dan sore)
Terapi sistemik
- Ketokonazole tab 200 mg, 1x1 selama 14 hari
b. Edukasi
- Penjelasan mengenai penyebab penyakit adalah jamur yang merupakan flora
normal di kulit manusia yang akan berubah menjadi penyakit apabila tubuh
terpapar oleh faktor resiko tertentu, sehingga pasien perlu menjauhi faktor
resiko yang ada. Faktor resiko itu antara lain pemakaian baju yang tidak
menyerap keringat, pemakaian baju yang ketat dan lembab, sehingga perlu
disampakain bahwa pasien harus hindari memakai baju yang tidak menyerap
keringat,terlalu ketat dan lembab.
- Penjelasan mengenai obat-obatan anti jamur yang memiliki sifat hepatotoksik,
sehingga pasien harus mengkonsumsi obat setelah makan dan hindari
penggunaan obat dalam jangka waktu panjang.

Prognosis
 Quo ad vitam : Dubia ad bonam
 Quo ad fungtionam : Dubia ad bonam
 Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam

ANALISA KASUS

Pasien perempuan, usia 19 tahun datang ke poliklinik penyakit kulit dan


kelamin. Dari anamnesis didapatkan keluhan bercak kemerahan disertai rasa gatal
yang hilang timbul sejak 3 tahun yang lalu. Awalnya bercak kemerahan muncul di
leher dan tanpa pasien sadari bercak kemerahan juga muncul pada perut dan
punggung. Pasien mengeluh gatal bertambah ketika pasien beraktivitas lalu
berkeringat, terutama jika cuaca panas. Rasa gatal berkurang setelah selesai mandi.
Pasien juga memiliki kebiasaan memakai pakaian yang tidak menyerap keringat. Hal
ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa PV lebih sering terjadi pada remaja
dan dewasa muda, yang produksi lipid pada glandula sebasea lebih aktif. Faktor

11
predisposisi yang ada pasien ini adalah faktor eksogen seperti kelembapan udara,
oklusi oleh pakaian, penggunaan krim atau lotion.(1,2)
Dari hasil pemeriksaan fisik di regio colli tampak makula eritematous dengan
skuama halus diatasnya, berbatas tegas tepi ireguler, jumlah multipel, ukuran
lentikuler hingga plakat, distribusi regional. Sebuah case report menunjukkan
gambaran lesi kronis berkembang menjadi lesi seperti prurigo, eritematosa,lesi
bersisik berbentuk sirsiner. Malassezia sympodialis terisolasi sebagai agen yang
menyebabkan lesi tersebut.(5)
Berdasarkan gambaran lesi ditegakkan beberapa diagnosa banding diantaranya
pitiriasis versikolor, tinea korporis, dermatitis seboroik dan urtikaria. Sesuai dengan
teori gambaran klinis yang sering dijumpai pada pitiriasis versikolor tampak bercak-
bercak putih, kecokelatan, atau merah muda, tidak gatal atau sedikit gatal saat
berkeringat, berbatas tegas atau difus, tertutup skuama halus di sekitarnya. Bentuk
dan ukuran lesi bervariasi. Bentuk folikular juga dapat ditemukan. Lesi dapat meluas,
berkonfluens, atau tersebar.(1,2)Tempat predileksinya terutama daerah yang ditutupi
pakaian, seperti dada, punggung, perut, lengan atas, paha, leher. Patch eritematosa
berkonfluens sering ditemukan pada daerah-daerah lipatan pada tubuh.(1)
Pada tinea korporis tampak lesi yang ditandai oleh satu atau lebih lingkaran,
berbatas tegas, sedikit berwarna eritematosa, kering, berskuama, patch biasanya
hipopigmentasi. Bisa juga ditemukan tepi yang meninggi dengan daerah central
clearing di tengahnya.Lesi dapat melebar untuk membentuk daerah yang lebih luas.
Tinea korporis bisa ditemukan di bagian tubuh yang tidak berambut, kecuali telapak
tangan, telapak kaki dan daerah intertriginosa.(2,6)
Dermatitis seboroik ditemukan pada daerah yang banyak mengandung
kelenjar sebasea yang aktif. Tempat predileksinya adalah di kulit kepala, telinga,
wajar, presternal, dada dan daerah intertriginosa. Lesi berupa patch atau plak berbatas
tegas dengan variasi warna merah muda, kuning, merah, coklat kemerahan, dengan
kulit yang bersquama , vesikel dan krusta kadang muncul pada kulit yang iritasi. (2)
Urtikaria adalah reaksi vaskular kulit yang ditandai oleh urtika, umumnya
dikelilingi oleh halo merah atau flare dan terkait dengan gatal parah, sensasi

12
menyengat,atau menusuk.(6) Urtikaria bisa terjadi di bagian tubuh mana pun. Tampak
bercak kemerahan yang berbatas tegas, bisa meninggi ataupun tidak, dan gatal.(6)
Pada pasien dilakukan pemeriksaan penunjang sederhana berupa lampu Wood
dan didapatkan hasil gambaran flourosensi kuning keemasan pada lesi, hal ini sesuai
dengan teori bahwa pemeriksaan dengan sinar Wood pada ptyriasis versikolor dapat
memberikan perubahan warna menjadi warna kuning keemasan.(2) Pemeriksaan
penunjang lain yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis yaitu pemeriksaan
KOH pada tampak gambaran hifa pendek, tebal dengan ukuran spora bervariasi dan
berkelompok. Gambaran helai miselium dengan spora yang banyak sering disebut
dengan “spaghetti and meatballs apperance”. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan
KOH dan ditemukan gambaran “spaghetti and meatballs apperance”. (6)
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien
didiagnosis dengan pitiriasis versikolor. Pitiriasis versikolor atau lebih dikenal dengan
tinea versikolor adalah infeksi jamur superfisial kronis yang ditandai perubahan
pigmen kulit akibat kolonisasi jamur lipofilik dimorfik pada stratum korneum dari
flora normal kulit, dikenal dengan Malassezia furfur. (1)
Pada riwayat penggunaan obat pasien pernah menggunakan obat salap dan obat
oral yang didapat dari puskesmas dan dokter spesialis, namun keluhan tidak
berkurang. Pengobatan yang didapat saat ini yaitu terapi topikal berupa ketokonazole
krim 2% (pagi dan sore) dan terapi oral berupa ketokonazole tablet 200 mg, 1x1
tablet perhari. Terapi topikal merupakan pilihan pertama untuk PV. Terapi sistemik
diperlukan untuk pasien dengan lesi yang luas, lesi yang mengalami kekambuhan,
atau pemakaian obat topikal tidak berhasil. Konsumsi ketoconazole, fluconazole, dan
itraconazole satu tablet setiap bulannya telah terbukti berhasil digunakan untuk
mencegah kekambuhan. (1,4)
Pada pasien ini juga perlu diberikan edukasi tentang penyakitnya dan efek
samping obat yang terkadang dapat menyebabkan iritasi ringan pada kulit. Hal lain
yang perlu dijelaskan adalah hindari faktor predisposisi yang ada pada pasien, salah
satunya yaitu jangan terlalu sering memakai pakaian yang tidak menyerap keringat
dan pakaian yang terlalu ketat. Prognosisnya adalah dubia ad bonam. Hal ini sesuai

13
dengan teori yang menyebutkan bahwa perjalanan penyakit ini kronik, namun
umumnya memiliki prognosis baik. Lesi dapat meluas jika tidak diobati dengan benar
dan faktor predisposisi tidak dieliminasi. Masalah yang ditakutkan adalah
menetapnya hipopigmentasi, diperlukan waktu yang cukup lama untuk repigmentasi
kembali seperti kulit normal. Hal itu bukan kegagalan terapi, sehingga penting untuk
memberikan edukasi pada pasien bahwa bercak putih tersebut akan menetap beberapa
bulan setelah terapi dan akan menghilang secara perlahan.(1,2,4)

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Pitiriasis versikolor (PV) atau lebih dikenal adalah infeksi jamur superficial
yang ditandai perubahan pigmen kulit akibat kolonisasi stratum korneum oleh jamur
lipofilik dimorfik dari flora normal kulit, Malassezia furfur.(1)
PV yang dengan lesi eritematous disebut juga pitiriasis versikolor rubra. PV yang
dengan lesi hiperpigmentasi disebut juga pitiriasis versikolor nigra.(3)
Nama lain dari pitiriasis versikolor adalah tinea versikolor, kromofitosis,
dermatomikosis, liver spots, tinea flava. (7)

Epidemiologi

14
Prevalensi pitiriasis versikolor di Amerika Serikat mencapai 2-8% dari
populasi. Infeksi ini lebih sering pada daerah dengan suhu tinggi dan relatif
lembab. Prevalensi di dunia mencapai 50% di daerah panas dan lembab dan 1,1%
pada daerah dengan iklim dingin. Insidensi pitiriasis versikolor sama pada setiap ras,
tapi kemunculannya pada orang dengan kulit gelap lebih jelas terlihat. Tidak ada
perbedaan tingkat kejadian pada jenis kelamin. Pitiriasis versikolor lebih sering
terjadi pada remaja dan dewasa muda, yang diakibatkan oleh stimulasi androgen
memicu produksi lipid pada glandula sebasea lebih aktif sehingga memudahkan
Mallassezia tumbuh dan berkembang.(2,3)
Berdasarkan penelitian Nathalia dkk di RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado
pada tahun 2012 didapatkan angka kejadian pitiriasis versikolor sebesar 50 kasus
(1,24%), laki –laki lebih banyak dari perempuan yakni 74% dan 78% dimana warna
lesi yang paling banyak ditemui adalah makula hipopigmentasi, dengan lokasi lesi
terbanyak ditemukan di badan, diikuti oleh wajah, ekstremitas atas dan ekstremitas
bawah, jenis pengobatan yang paling banyak diberikan adalah terapi kombinasi
menggunakan antijamur oral dan topikal.(8)
Sebuah penelitian menyebutkan PV ditemukan lebih sering ditemukan pada
kondisi kulit normal sebanyak 39,7%, dan sebanyak 36,2% pada kulit kering.(3)

Etiologi
Pitiriasis versikolor (PV) disebabkan oleh jamur lipofilik dimorfik dari flora
normal kulit, Malassezia furfur. Yang sebelumnya kita kenal sebagai M. fufur
sebenarnya terdiri dari beberapa spesies. Saat ini setidaknya sudah 12 spesies terpisah
dari jamur lipofilik yang dapat dijelaskan, dan hanya 8 yang dapat menginfeksi kulit
manusia. Spesies yang tergantug pada lemak adalah M. sympodialis, M. globosa, M.
restricta, M. slooffiae, M. fufur, M. obtusa, dan yang terbaru ditemukan M. dermatis,
M. japonica, M. yamotoensis, M. nana, M. carpae, dan M. equina. Ada satu lipofilik
yang tidak sepenuhnya bergantung pada lemak yaitu M. pachydermatis ini sering
ditemukan pada kulit hewan. Faktor predisposisi infeksi jamur ini terdiri dari faktor

15
endogen seperti malnutrisi, immunocompromised, penggunaan kontrasepsi oral,
hamil, luka bakar, terapi kortikosteroid, adrenalektomi, Cushing syndrome, atau
faktor eksogen seperti kelembapan udara, oklusi oleh pakaian, penggunaan krim atau
lotion, dan rawat inap.(1,7)

Patogenesis
M. furfur adalah bakteri yang dimorphic, organisme lipofilik yang tumbuh
secara invitro hanya dengan penambahan C12-C14 asam lemak seperti minyak zaitun
dan lanolin. Dibawah kondisi yang sesuai dan didukung oleh faktor predisposisi yang
disebutkan sebelumnya, bakteri mengkonversikan dari ragi saprofit ke bentuk
miselium dengan didominasi parasit, yang menyebabkan gejala klinis. Ragi yang
terdapat pada M. Furfur dapat menyaring sinar matahari dan menghalanginya masuk
ke kulit. Mayser at all menyebutkan senyawa khusus yang disentesis oleh Malassezia
adalah pityriacitrin yang dapat menyerap sinar ultraviolet.(2)
M. furfur memproduksi berbagai metabolit yang dapat menyebabkan perubahan
warna pada lesi. Hipopigmentasi terjadi akibat: (1) pitiriasitrin dan pitirialakton yang
mampu menyerap sinar UV; (2) asam azaleat, asam dekarboksilat yang menurunkan
produksi melanosit dengan menghambat enzim tirosinase; (3) malassezin yang
menginduksi apoptosis melanosit; (4) malassezindole A, aktivitasnya menghambat
kerja tirosinase dan mengganggu sintesis tirosinase; (5) keto-malassezin sebagai
inhibitor tirosinase dengan menghambat reaksi DOPA (3,4-di hidroksifenilalanin)
melanosit; (6) metabolit lain seperti indirubin, ICZ, pitiriarubin, dan triptanthrin. Lesi
hiperpigmentasi mungkin berhubungan dengan variasi respons inflamasi terhadap
infeksi. (1,2)
Munculnya lesi hiperpigmentasi atau hipopigmentasi pada infeksi PV
tergantung pada interaksi antara ragi Malassezia dengan kulit, seperti terjadi proses
lipoperoksidase, stimulus yang diberikan oleh sel inflamasi terhadap sel melanosit,
dan peningkatan ketebalan lapisan keratin kulit. Lebih spesifik, Malassezia
memetabolisme bermacam-macam asam lemak seperti arakhidonat atau asam vasenik
yang kemudian akan melepaskan asam azelaik (dicarboylic acid) sebagai salah satu

16
metabolitnya. Asam azelaik ini akan menghambat kerja tirosenase pada jalur produksi
melanin dan memiliki efek sitotoksik, sehingga menghasilkan hipopigmentasi yang
menetap pada kulit yang terkena infeksi selama beberapa bulan bahkan tahun. (2)
Penelitian Faergemann menyebutkan tingkat kekambuhan terjadi sebanyak
setelah 60% setelah satu tahun pengobatan dan 80% setelah dua tahun pengobatan.
Kekambuhan ini diduga akibat adanya ragi di dalam folikel sebasea dan dipengaruhi
beberapa faktor predisposisi yang memudahkan multiplikasi dari jamur ini (9)

Gambaran klinis
Pasien pitiriasis versikolor umumnya hanya mengeluh bercak-bercak putih,
kecokelatan, atau merah muda, tidak gatal atau sedikit gatal saat berkeringat. Pada
orang kulit putih atau terang, lesi berwarna lebih gelap dibandingkan kulit normal,
sedangkan pada orang berkulit hitam atau gelap, lesi cenderung putih. Hal ini sesuai
dengan pitiriasis yang berarti penyakit dengan skuama halus seperti tepung dan
versicolor yang berarti bermacam warna. Bentuk dan ukuran lesi bervariasi, makula
sering menyatu membentuk patch berbentuk tidak teratur warna patch bervariasi dari
hampir putih ke merah muda sampai coklat kemerahan atau coklat kekuningan. Lesi
berbentuk papul juga bisa ditemukan hingga plak hipo/ hiperpigmentasi, berbatas
tegas atau difus, tertutup skuama halus di sekitarnya. Bentuk folikular juga dapat
ditemukan. Lesi dapat meluas, berkonfluens, atau tersebar. Tempat predileksinya
terutama daerah yang ditutupi pakaian, seperti dada, punggung, perut, lengan atas,
paha, leher. Patch eritematosa berkonfluens sering ditemukan pada daerah-daerah
lipatan pada tubuh, sehingga sering sulit dibedakan dengan psoriasis, dermatitis
seboroik, erytrasma, kandidiasis. Masalah yang sering timbul berhubungan dengan
penampilan kosmetik daripada gejala apapun, karena pruritus yang timbul biasanya
ringan atau tidak ada.(1,2)

17
A B

C
Gambar 3. Lesi pitiriasis versikolor. A. D
Lesi lebih gelap karena hiperemis sekunder
terhadap respon inflamasi dan peningkatan melanosit. B. Lesi makula hipopigmentasi
seragam berbatas tegas dengan skuamma halus, bila lesi sangat besar, sulit dibedakan
dengan vitiligo. Lesi berwarna salmon berbatas tegas, penggabungan makula
menghasilkan patch yang sangat besar. D. Terlihat lesi lebih jelas dengan pembesaran.
(2)

Penegakan Diagnosis
Penegakan diagnosa Pitiriasis versikolor dapat dilakukan pemeriksaan sebagai
berikut :
1. Anamnesis
Pada anamnesis biasanya pasien akan mengeluhkan adanya bercak ataupun
perubahan dari warna kulit yang terkadang gatal. Hal yang perlu ditanyakan

18
selanjutnya adalah faktor predisposisi pada pasien, diantaranya faktor endogen dan
eksogen.(7)
2. Pemeriksaan Fisik
PV ditandai dengan lesi berupa makula hipopigmentasi, awalnya berwarna
kemerahan dengan skuama halus di atasnya. Beberapa makula biasanya akan
bergabung membentuk lesi patch ireguler. Warna patch dapat bervariasi mulai dari
putih hingga coklat kemerahan. Patch memiliki permukaan yang berkerut sehingga
bentuk ini dijadikan sebagai tanda klinis penting dalam diagnosis PV.(3) Selain itu
Balzar menyatakan bahwa coup d’ongle atau lebih dikenal dengan evoked scale sign)
hanya ditemukan pada infeksi PV, dimana terjadi perubahan struktural lapisan kulit
akibat peningkatan kerapuhan stratum korneum sehingga stratum korneum akan
mengendur jika diregang dan skuama akan terlihat. (1)

A B

Gambar 4. Evoked Scale Sign. A. Lesi PV yang tidak tampak jelas skuamanya.
B. Skuama terlihat jelas setelah peregangan (evoked scale sign positif)(1)

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan dengan lampu Wood

Pemeriksaan dengan sinar Wood dapat memberikan perubahan warna pada


seluruh daerah lesi. Daerah yang terkena infeksi akan memperlihatkan
fluoresensi warna kuning keemasan, hal ini disebabkan karena kehadiran

19
pteridin pada ambang cahaya 365 nm dan pitirialakton pada ambang cahaya
365 nm.(1)
b. Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%
Diagnosis dalam segala bentuk panu umumnya dilakukan pemeriksaan KOH.
Jamur akan terlihat jika diambil dari kerokan lesi dan ditetesi KOH 20%.
Kerokan diambil pada bagian sisik yang menutupi lesi. Pada pemeriksaan
mikroskopik didapatkan hifa pendek, tebal dengan ukuran spora bervariasi dan
berkelompok. Gambaran helai miselium dengan spora yang banyak sering
disebut dengan “spaghetti and meatballs apperance”. (6)
c. Kultur
Kultur juga bisa dilakukan untuk pemeriksaan jamur ini, namun pemeriksaan
ini jarang diperlukan, biasanya membutuhkan media yang mengandung lipid.
Kultur dilakukan pada suhu 32–34°C dan akan tumbuh koloni berwarna cream-
kekuningan dalam waktu satu minggu.(6,10)

A B

Gambar 5,6. A. Pemeriksaan KOH pada Mallasezia tampak gambaran “spaghetti


and meatballs”. (2) B. Kultur Malassezia Furfur pada media yang kaya lipid.(1)

Diagnosis Banding
Penyakit Definisi Regio Deskripsi Lesi Gambar
Pitiriasis Pitiriasis versikolor Tempat Bentuk dan ukuran lesi
versikolor (PV) atau lebih predileksinya bervariasi, makula sering
terutama menyatu membentuk patch
dikenal adalah infeksi
daerah yang berbentuk tidak teratur

20
jamur superficial yang ditutupi warna patch bervariasi dari
ditandai perubahan pakaian, hampir putih ke merah
seperti dada, muda sampai coklat
pigmen kulit akibat
punggung, kemerahan atau coklat
kolonisasi stratum perut, lengan kekuningan. Lesi berbentuk
korneum oleh jamur atas, paha, papul juga bisa ditemukan
leher.(1,2) hingga plak hipo/
lipofilik dimorfik dari
hiperpigmentasi, tertutup
flora normal kulit, skuama halus di sekitarnya.
Malassezia furfur.(2) Bentuk folikular juga dapat
ditemukan. Lesi dapat
meluas, berkonfluens, atau
tersebar.(1,2)

Tinea Tinea korporis Tempat Lesi ditandai oleh satu atau


korporis merupakan infeksi predileksinya lebih lingkaran atau patch,
dermatofita pada kulit kulit yang berbatas tegas, sedikit
yang tidak berambut, tidak berwarna eritematosa,
kecuali telapak berambut (2) kering, berskuama, biasanya
tangan, telapak kaki hipopigmentasi. Bisa juga
dan daerah ditemukan tepi yang
intertriginosa(2) meninggi dengan daerah
central clearing di
tengahnya.Lesi dapat
melebar untuk membentuk
daerah yang lebih luas.
Dalam beberapa kasus lesi
polisiklik terbentuk dan
membuat pola yang rumit.(6)

Dermatitis Dermatitis seboroik Tempat Patch atau plak berbatas


Seboroik adalah infeksi kronik predileksinya tegas dengan variasi warna
pada kulit yang dapat adalah di merah muda, kuning, merah,
menyerang anak-anak kulit kepala, coklat kemerahan, dengan
dan dewasa, dan akan telinga, kulit yang bersquama,
ditemukan pada wajah, vesikel dan krusta kadang
daerah yang banyak presternal, muncul pada kulit yang

21
mengandung kelenjar dada dan iritasi(2)
(2)
sebasea yang aktif. daerah
intertriginosa.
(2)

Urtikaria Urtikaria adalah reaksi Tempat Tampak bercak kemerahan


vaskular kulit yang predileksi yang berbatas tegas, bisa
ditandai oleh urtika, bisa dibagian meninggi ataupun tidak, dan
umumnya dikelilingi tubuh mana gatal.
oleh pun. (2)
halo merah atau flare
dan terkait dengan
gatal parah, sensasi
menyengat,atau
menusuk.(6)

Tatalaksana
1. Obat-obatan Topikal
a. Selenium sulfida 2,5% dalam bentuk lotion, dioleskan pada lesi dan
didiamkan selama 7-10 menit lalu dibilas. Pada kasus yang lebih berat dapat
digunakan 3-4 kali per minggu dan diturunkan 1-2 kali sebulan lalu
ditambahkan dosis rumatan untuk mencegah kekambuhan.(2)
b. Ketokonazole shampoo 2% dan ketokonazole cream. Ketokonazole shampoo
dioleskan pada lesi yang terkena dan didiamkan selama 5 menit lalu dibilas.
Pengobatan diulang sampai 3 hari berturut-turut. Ketokonazole krim
digunakan 1 atau 2 kali sehari selama 14 hari. (4)
c. Terbinafine krim 1% dioleskan sebanyak 2 kali sehari pada daerah yang
terkena selama 7 hari. (4)
2. Obat-obatan sistemik

22
Pengobatan sistemik diperlukan untuk pasien dengan lesi yang luas, lesi yang
mengalami kekambuhan, atau pemakaian obat topikal tidak berhasil. Obat-obatan
yang dapat diberikan antara lain: (2)
a. Ketoconazole oral dengan dosis 200 mg per hari selama 7-10 hari.
b. Itrakonazole oral dengan dosis 200-400 mg per hari selama 3-7 hari
c. Fluconazole oral dengan dosis tunggal 400 mg
3. Terapi pencegahan
Pitiriasis versikolor sering mengalami kekambuhan setelah pengobatan selesai,
pengobatan topikal diberikan dengan pengurangan frekuensi pemakaian sebagai
tindakan pencegahan. Konsumsi ketoconazole, fluconazole, dan itraconazole satu
tablet setiap bulannya telah terbukti berhasil digunakan untuk mencegah
kekambuhan.(2)

Prognosis
Perjalanan penyakit berlangsung kronik, namun umumnya memiliki prognosis
baik. Lesi dapat meluas jika tidak diobati dengan benar dan faktor predisposisi tidak
dieliminasi. Masalah lain adalah menetapnya hipopigmentasi, diperlukan waktu yang
cukup lama untuk repigmentasi kembali seperti kulit normal, sehingga penting untuk
memberikan edukasi pada pasien.(1) Gupta menyebutkan bahwa pitiriasis versicolor
mudah untuk diobati, tetapi faktor endogen dari host serta faktor lingkungan yang
tidak terkendali sangat erat hubungannya dengan kekambuhan yang terjadi. (9)

DAFTAR PUSTAKA
x
1. Tan ST, Reginata G. Uji Provokasi Skuama pada Pitiriasis Versikolor. CDK-229.
2015;42(6):p. 471-474.
2. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ.

23
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th Ed. New York: McGraw-
Hill Companies. 2012.
3. Morais PMD, Frota MZM, Cunha MDG. Clinical Aspect of Patients With
Pityriasis Versiclor Seen At A Refferal for Tropical Dermatology in Manaus
Amazonas Brazil. An Bras Dermatology. 2010;85(6):p.797-803
4. Gupta A, Foley K. Antifungal Treatment for Pityriasis Versicolor. J Fungi.
2015;1:p. 13-29.
5. Framil VM, Szeszs MW, Melhem MC, Zaitz C. Clinical Case : Pityriasis
Versicolor Circinata : Isolation of Malassezia Sympodialis-Case Report. An Bras
Dermatology. 2010;85(2):p.227-278.
6. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrew’s Diseases of the Skin Clinical
Dermatology. 11th ed. Philadelphia: WB Saunders, 2011.

7. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rook's Textbook of Dermatology.


8th ed. UK: Wiley-Blackwell; 2010.

8. Nathalia S, Niode NJ, Pandaleke HEJ. Profil Pitiriasis Versikolor di Poliklinik


Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado Periode Januari –
Desember 2012. Journal e-Clinic.2015;3(1):p.186-192.
9. Framil VM, Szeszs MW, Melhem MC, Zaitz C. New Aspect in Clinical Course
of Pityriasis Versicolor. An Bras Dermatology. 2011;86(6):p.1135-1140.

10. Richardson MD, Johnson EM. The Pocket Guide to Fungal Infection. 2nd Ed.
USA: Blackwell Publishing. 2008.

24