Anda di halaman 1dari 9

Materi Inisiasi I

LINGKUNGAN ORGANISASI

Lingkungan organisasi secara umum dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak berhingga dan
mencakup seluruh elemen yang terdapat di luar suatu organisasi. Dalam kenyataannya, tidak semua
elemen lingkungan tersebut berpengaruh secara langsung terhadap organisasi, karena itu definisinya
dapat lebih dipersempit. Untuk keperluan analisis, lingkungan organisasi diartikan sebagai seluruh
elemen yang terdapat di luar batas-batas organisasi, yang mempunyai potensi untuk memengaruhi
sebagian ataupun keseluruhan organisasi.

Segmen-segmen Lingkungan
Keadaan lingkungan suatu organisasi bisa dipahami melalui analisis terhadap segmen-segmennya,
yaitu bagian-bagian lingkungan yang berpengaruh terhadap perilaku maupun performansi organisasi.

Berbagai pendapat menyatakan bahwa lingkungan sebuah organisasi (perusahaan industri) terdiri dari
bermacam-macam segmen. Contoh, Kast dan Rosenzweig menggambarkan bahwa lingkungan
organisasi terdiri dari segmen-segmen budaya, teknologi, pendidikan, politik, legal, sumberdaya
natural, demografi, sosial, dan ekonomi.Contoh lain, Jackson dan Morgan mengatakan bahwa
lingkungan organisasi terdiri dari segmen-segmen struktur fisik, sosial, ekologi, legal, budaya (termasuk
agama), politik, ekonomi, psikologi, dan internasional. Berikutnya, Daft menyatakan bahwa lingkungan
organisasi mencakup segmen-segmen industri, bahan baku, tenaga kerja, keuangan, pasar, teknologi,
kondisi ekonomi, pemerintah, dan kebudayaan. Selanjutnya Daft menjelaskan elemen-elemen dari
setiap segmen dan juga kesempatan serta hambatan yang dapat ditimbulkan bagi organisasi sebagai
berikut.
1. Industri
Mencakup seluruh organisasi lain yang bergerak di sektor kegiatan yang sama dan merupakan
saingan bagi organisasi yang kita pelajari. Corak segmen ini berpengaruh terhadap ukuran
organisasi, intensitas promosi yang perlu dilakukan, jenis konsumen, serta tingkat keuntungan rata-
rata dari seluruh organisasi yang bergerak di sektor kegiatan tersebut. Banyaknya organisasi yang
bergerak di sektor kegiatan yang sama berpengaruh terhadap tingkat ketidakpastian dalam
persaingan antar organisasi. Jika saingan terdiri dari perusahaan-perusahaan besar dalam jumlah
yang terbatas, maka tingkat ketidakpastian dalam persaingan antar organisasi. Jika saingan terdiri
dari perusahaan-perusahaan besar dalam jumlah yang terbatas, maka tingkat ketidakpastian
lingkungan menjadi semakin tinggi.
2. Bahan baku
Organisasi mendapatkan bahan baku dari lingkungannya. Kerapkali, lingkungan tidak dapat
menyediakan bahan baku dalam jumlah yang cukup, atau bahan baku tersedia dengan harga yang
tinggi, sehingga berbahaya bagi organisasi. Perubahan keadaan segmen bahan baku ini
berpengaruh terhadap industri. Contohnya, kenaikan harga minyak menyebabkan industri otomotif
cenderung memproduksi mobil berukuran kecil yang hemat bahan bakar.
3. Tenaga Kerja
Organisasi perlu mendapatkan tenaga kerja dengan tingkat keahlian, kualifikasi, dan jumlah yang
cukup. Jika kebutuhan tenaga kerja ini tidak dapat dipenuhi oleh lingkungan, maka organisasi akan
menghadapi kesulitan dalam menghasilkan output. Kelangkaan ini juga menyebabkan tenaga kerja
menjadi mahal karena sulit diperoleh.
4. Keuangan
Segmen ini menggambarkan tingkat kemudahan untuk memperoleh sumber keuangan bagi
organisasi. Bursa saham, pasar modal, bank, dan perusahaan asuransi merupakan bagian
segmen keuangan ini. Tingkat suku bunga yang berlaku juga berpengaruh terhadap kemudahan
memperoleh sumber keuangan. Tersedianya sumber keuangan dengan tingkat bunga yang rendah
akan merangsang pertumbuhan organisasi secara cepat. Pertumbuhan yang lambat umumnya
terjadi apabila organisasi tidak mampu mendapatkan sumber keuangan dari dalam organisasi
sendiri. Peminjaman uang yang berlebihan dari luar juga akan menyebabkan sebagian kontrol
terhadap organisasi terpaksa diberikan kepada pihak yang memberikan pinjaman.
5. Pasar
Segmen ini menggambarkan besarnya permintaan konsumen terhadap produk ataupun jasa yang
dihasilkan oleh organisasi. Segmen pasar berpengaruh terhadap organisasi melalui besarnya
permintaan akan output organisasi. Jika pasar menjadi kecil, organisasi terpaksa mengurangi
kegiatannya. Jika permintaan bertambah, kegiatan perusahaan perlu dikembangkan agar mampu
memenuhi kebutuhan konsumen dan dapat menjaga posisinya dalam persaingan dengan
organisasi lain. Pentingnya segmen pasar ini juga mendorong perlunya dilakukan usaha untuk
menjaga konsumen agar tetap setia terhadap output yang dihasilkan organisasi.
6. Teknologi
Teknologi, yang merupakan pengetahuan dan teknik-teknik yang digunakan untuk membuat produk
ataupun jasa, berpengaruh terhadap cara pengelolaan organisasi. Tingkat teknologi yang
digunakan berpengaruh terhadap ukuran dan tingkat keahlian yang harus dimiliki dalam organisasi.
Organisasi yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi seringkali terpaksa
menghentikan kegiatannya.
7. Kondisi Ekonomi
Segmen ini menggambarkan keadaan umum dari perekonomian daerah ataupun negara dimana
suatu organisasi berada. Kondisi ekonomi ini antara lain digambarkan oleh besarnya daya beli
konsumen, bahan baku dan tenaga kerja, tingkat permintaan terhadap produk suatu sektor, dan
kapasitas produksi total dari sektor. Pengaruh kondisi ekonomi ini terasa oleh semua jenis
organisasi, baik organisasi pemerintah, perusahaan, maupun organisasi sosial yang tidak mencari
keuntungan.
8. Pemerintah
Segmen ini mencakup peraturan-peraturan dan sistem pemerintahan, serta sistem politik yang
melingkupi organisasi. Sistem politik, seperti ideologi kapitalis ataupun sosialis, berpengaruh
terhadap kebebasan organisasi dalam menjalankan usahanya.
9. Kebudayaan
Segmen ini mencakup karakteristik demografis dan sistem nilai yang berlaku pada masyarakat
dimana organisasi berada. Karakteristik demografis mencakup distribusi penduduk menurut umur,
distribusi pendapatan, tingkat pendidikan, penyebaran penduduk, dan sebagainya. Sistem nilai
merupakan komponen penting dari kebudayaan dan seringkali berpengaruh terhadap cara
pengelolaan organisasi. Perusahaan-perusahaan Jepang jarang sekali melakukan pemutusan
hubungan kerja dengan karyawannya walaupun kegiatannya sedang menurun. Hal ini terjadi
karena pekerja dianggap sebagai anggota keluarga oleh perusahaan, dan tidak dipandang sebagai
tenaga sewaan yang bisa dihentikan jika tidak lagi diperlukan.

Sembilan segmen lingkungan tersebut terdiri dari berbagai elemen yang dianggap mempunyai potensi
untuk memengaruhi organisasi. Setiap segmen mestinya diamati dan dianalisis oleh pimpinan
organisasi agar dapat ditetapkan cara pengelolaan organisasi yang sesuai untuk menghadapinya.
Perlu diperhatikan bahwa tidak semua segmen sama penting bagi organisasi. Walaupun ada kaitan
antara masing-masing segmen, tetapi biasanya ada satu atau beberapa segmen yang besar
pengaruhnya terhadap organisasi sehingga perlu mendapatkan perhatian yang khusus.

Identifikasi Elemen-elemen Lingkungan


Tidak semua orang menyetujui pendapat tentang adanya sembilan jenis segmen lingkungan seperti
yang telah diuraikan. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dan ketergantungan organisasi terhadap
lingkungannya, muncul pemikiran bahwa jenis elemen lingkungan yang berpengaruh terhadap
organisasi dan corak pengaruhnya akan berlainan, sesuai dengan perbedaan organisasi maupun
kondisi lingkungannya. Karena itu, yang lebih penting adalah menemukan cara untuk mengidentifikasi
elemen-elemen lingkungan yang dapat digunakan pada semua organisasi yang berada pada
lingkungan yang berbeda.

Salah satu cara untuk melakukan identifikasi ini diungkapkan dalam sebuah penelitian mengenai
karakteristik Organisasi Industri Kecil di Indonesia. Penelitian ini menggunakan uraian mengenai
proses kegiatan yang terjadi dalam operasi suatu organisasi perusahaan manufaktur untuk
mengidentifikasikan elemen-elemen lingkungan. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada suatu kegiatan
dasar atau proses operasi yang terjadi secara berulang-ulang pada suatu organisasi, dimulai dari
masuknya bahan baku ke dalam organisasi, transformasi bahan baku tersebut menjadi produk jadi,
dan akhirnya pemasaran produk jadi kepada konsumen, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.1.

Bahan baku yang digunakan diperoleh dari leveransir bahan baku, yang merupakan salah satu elemen
lingkungan. Proses transformasi memerlukan adanya peralatan, energi, teknologi, serta tenaga kerja.
Peralatan dan energi, masing-masing diperoleh dari leveransir. Teknologi yang digunakan akan sangat
dipengaruhi oleh cara permintaan pasar, yang juga merupakan salah satu elemen lingkungan.
Pemasaran produk jadi dipengaruhi oleh kondisi pasar, dimana terdapat saingan maupun konsumen,
yang keseluruhannya merupakan bagian dari lingkungan ekonomi. Keseluruhan proses ini memerlukan
adanya modal, yang cara mendapatkannya tergantung pada kondisi lingkungan keuangan. Selain itu,
organisasi juga beroperasi dalam kawasan suatu negara, sehingga pemerintah juga merupakan salah
satu dari elemen lingkungan. Dengan cara yang telah diuraikan ini diharapkan seluruh elemen
lingkungan yang berpengaruh terhadap suatu organisasi dapat diidentifikasikan secara lengkap.
Pasar :
Lingkung
Supplier an Saingan/Konsum
Peralat
an Teknologi en
/Corak

PERUSAHAAN
Peralata Teknolog
MANUFAKTUR n i

BAHAN TRANSFORMASI PRODUK PEMASARAN



BAKU Bahan Baku Produk JADI Produk Jadi
Jadi
KEGIATAN DASAR PERUSAHAAN
MANUFAKTUR

Tenaga
Energi Kerja Dana/Modal

Supplie Lingkun
Supplier r Supplier/Pasar. gan
Bahan Keuanga Pemerinta
Baku Energi Tenaga Kerja n h
Karena itu jumlah dan jenis elemen -elemen lingkungan dari setiap perusahaan juga akan berbeda,
tergantung jenis usaha dan juga dalam lingkungan seperti apa perusahaan itu berada.
LINGKUNGAN
Masyarakat ORGANISASI

Identifikasi elemen-elemen lingkungan melalui proses operasi suatu organisasi manufaktur

KETIDAKPASTIAN LINGKUNGAN
Lingkungan berpengaruh terhadap organisasi. Sifat lingkungan yang paling berpeluang untuk
membahayakan atau merugikan organisasi adalah tingkat ketidakpastian lingkungan tersebut.
Ketidakpastian (uncertainty) lingkungan menunjukkan keadaan dimana organisasi (atau pimpinannya)
tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai keadaan lingkungannya, sehingga akan
menyebabkan timbulnya kesulitan dalam memperkirakan perubahan-perubahan lingkungan yang akan
terjadi. Ketidakpastian ini menyebabkan tindakan-tindakan yang akan diambil oleh organisasi
mempunyai resiko kegagalan yang tinggi. Organisasi perlu mampu menghadapi ketidakpastian
lingkungan ini agar dapat tetap bertahan dalam lingkungannya.

Robert Duncan
Duncan menyatakan bahwa ketidakpastian lingkungan dapat dianalisis melalui dua dimensinya, yaitu
kompleksitas dan stabilitasnya. Kedua dimensi ini menentukan besarnya tingkat ketidakpastian
lingkungan yang harus dihadapi oleh organisasi.
Kompleksitas (keragaman) lingkungan menunjukkan heterogenitas atau banyaknya elemen-elemen
eksternal yang berpengaruh terhadap berfungsinya suatu organisasi. Lingkungan terdiri dari jenis
lingkungan yang sangat kompleks hingga lingkungan yang sangat sederhana, dimana hanya ada
sedikit elemen lingkungan yang berpengaruh terhadap organisasi. Suatu lingkungan dinyatakan
sebagai lingkungan yang sederhana, dimana hanya ada sedikit elemen lingkungan yang berpengaruh
Yun Iswanto: Lingkungan Organisasi

terhadap organisasi. Suatu lingkungan dinyatakan sebagai lingkungan yang sederhana, jika hanya ada
paling banyak 3 atau 4 elemen yang berpengaruh terhadap organisasi.
Stabilitas lingkungan menggambarkan kecepatan perubahan yang terjadi pada elemen-elemen
lingkungan. Lingkungan terdiri dari jenis lingkungan yang sangat stabil hingga lingkungan yang sangat
tidak stabil. Lingkungan dinyatakan sebagai stabil apabila elemen-elemennya jarang sekali mengalami
perubahan, sehingga keadaan lingkungan boleh dianggap tetap selama bertahun-tahun. Lingkungan
yang tidak stabil berubah secara drastis tanpa diduga sebelumnya, sehingga akan mengejutkan bagi
organisasi.

Dimensi kompleksitas dan dimensi stabilitas itu digunakan oleh Duncan untuk merumuskan suatu
kerangka yang dapat menggambarkan kondisi ketidakpastian lingkungan, seperti yang ditunjukkan
pada gambar 2.2. (di halaman berikut), dimana lingkungan akhirnya terbagi menjadi empat segmen
dengan tingkat ketidakpastian yang berbeda.
Pada lingkungan yang sederhana dan stabil terdapat ketidakpastian yang rendah. Hanya ada sedikit
elemen lingkungan yang harus diperhatikan dan elemen-elemen ini tidak ataupun jarang sekali
mengalami perubahan.

Lingkungan yang kompleks dan stabil mengakibatkan ketidakpastian lingkungan yang agak lebih besar
dari segmen sebelumnya. Terdapat lebih banyak elemen lingkungan yang perlu diperhatikan dan
dianalisis agar organisasi berfungsi dengan baik. Tetapi ketidakpastian yang dihadapi tidaklah luar
biasa besarnya, karena walaupun jumlahnya banyak, elemen-elemen lingkungan tersebut tidak
ataupun jarang sekali mengalami perubahan.
Lingkungan yang sederhana dan tidak stabil menunjukkan tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi lagi.
Elemen-elemen lingkungan yang perlu diperhatikan sebenarnya jumlahnya sedikit, tetapi selalu
berubah. Perubahan elemen-elemen lingkungan dianggap lebih berpengaruh terhadap besarnya
ketidakpastian jika dibandingkan dengan pengaruh dari jumlah elemen-elemen lingkungan suatu
organisasi. Karena itu segmen ini dipandang mempunyai ketidakpastian yang lebih tinggi dari segmen
lingkungan sebelumnya.
Stabil KETIDAKPASTIAN RENDAH KETIDAKPASTIAN AGAK
(Low Uncertainty) RENDAH
(Low-Moderate Uncertainty)
1. Elemen Lingkungan jumlahnya
sedikit 1. Elemen Lingkungan jumlahnya
2. Elemen Lingkungan tidak banyak
berubah atau berubah secara 2. Elemen Lingkungan tidak
Stabilitas perlahan berubah atau berubah secara
Lingkunga
KETIDAKPASTIAN AGAK KETIDAKPASTIAN TINGGI
TINGGI (High Uncertainty)
(High-Moderate
Uncertainty)
1. Elemen Lingkungan jumlahnya
1. Elemen Lingkungan jumlahnya banyak
Tidak sedikit 2. Elemen Lingkungan selalu
Stabil 2. Elemen Lingkungan selalu berubah
berubah
Sederhan Kompleksita Kompleks
s

Kerangka Ketidakpastian Lingkungan (Duncan)


Lingkungan yang kompleks dan juga tidak stabil merupakan segmen lingkungan dengan tingkat
ketidakpastian yang paling tinggi. Terdapat sejumlah besar elemen lingkungan yang selalu berubah
secara tidak terduga dan tanpa dapat dimengerti, sehingga menjadi sulit untuk dianalisis dan
menimbulkan ketidakpastian yang tinggi bagi organisasi.

Tekstur Lingkungan (Causal Texture)


Karakteristik dari elemen-elemen lingkungan berpengaruh terhadap tingkat ketidakpastian yang
dihadapi oleh suatu organisasi. Emery dan Trist menyatakan bahwa pengaruh elemen-elemen
lingkungan tersebut tidaklah tepat apabila ditinjau satu demi satu secara terpisah seperti yang
diusulkan oleh Duncan. Mereka berpendapat bahwa elemen-elemen lingkungan tersebut seharusnya
dipandang sebagai suatu kesatuan yang saling berkaitan, dan merupakan elemen-elemen yang
menentukan corak lingkungan. Emery dan Trist menamakan corak ini sebagai “Causal Texture”, untuk
memperlihatkan bagaimana elemen-elemen lingkungan yang saling berkaitan membentuk tekstur
(corak) kesempatan ataupun ancaman bagi Organisasi. Selanjutnya mereka menyatakan bahwa
terdapat empat jenis tekstur (corak) lingkungan, yaitu sebagai berikut :

1. Lingkungan Tenang-Acak (Placid-Randomized)


Merupakan jenis lingkungan yang paling sederhana. Keadaannya tenang, yang berarti elemen-
elemennya berubah secara perlahan. Kesempatan dan ancaman munculnya sangat jarang. Tetapi,
lingkungan ini bersifat acak, yaitu perubahan pada suatu elemen terjadi tanpa bisa diduga
sebelumnya dan tanpa ada kaitannya dengan elemen-elemen lainnya.
Contoh dari jenis lingkungan ini adalah lingkungan suatu apotik di sebuah kota kecil. Perubahan
jarang terjadi dan jumlah elemen yang berkaitan dengan pengusahaan apotik sangat sedikit. Apotik-
apotik itu membeli persediaan secara teratur dari sumber yang tetap. Sementara, jumlah apotik juga
selalu tetap karena peraturan pemerintah hanya mengijinkan adanya sejumlah tertentu apotik di
suatu daerah, sehingga persaingan juga polanya tetap. Konsumen juga pada dasarnya tidak sering
berubah, sesuai dengan kondisi sebuah kota berukuran kecil. Apotik tidak bisa berbuat banyak
untuk mempengaruhi ataupun mengubah lingkungannya, sementara dari lingkungan sendiri juga
jarang sekali ada peristiwa yang bisa mempengaruhi perusahaan.
Dalam kondisi lingkungan seperti ini, organisasi bisa memusatkan perhatian pada pengelolaan
sehari-hari dari usaha yang dilakukan. Lingkungan bukan merupakan masalah utama yang harus
diperhatikan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pimpinan organisasi.
2. Lingkungan Tenang-Mengelompok (Placid-Clustered)
Jenis lingkungan ini juga cukup stabil, tetapi lebih kompleks dibanding lingkungan Tenang-Acak.
Elemen-elemen lingkungan berkaitan satu-sama-lain dan dapat berubah secara bersamaan
(simultan). Karena itu, kesempatan dan ancaman dalam lingkungan semacam ini muncul dalam
bentuk kelompok, sehingga lebih membahayakan bagi organisasi.
Karena perubahan lingkungan ini sangat berbahaya, organisasi perlu mengantisipasi dan berusaha
menghindari bahaya yang diakibatkan oleh perubahan ini. Akibatnya, perencanaan dan peramalan
merupakan hal yang penting bagi organisasi, sedangkan pengelolaan sehari-hari harus dilakukan
dengan cara tertentu, sehingga selalu siap untuk menghadapi perubahan lingkungan.
Contoh dari lingkungan Tenang-Mengelompok ini adalah lingkungan suatu industri kimia. Keluhan
mengenai polusi akibat dari buangan industri dapat terjadi secara simultan, yaitu dari penduduk
sekelilingnya, pemerintah, lembaga pencinta alam, bahkan hingga mempengaruhi konsumen dan
supplier bahan. Berbagai pihak dari luar ini seringkali membentuk pengelompokan yang menuntut
pabrik memperhatikan akibat dari buangannya. Karena itu, organisasi perlu merencanakan dan
mengantisipasikan jawaban yang tepat bagi tuntutan kelompok ini.
3. Lingkungan Diganggu-Bereaksi (Disturbed-Reactive)
Pada jenis lingkungan ini perubahan tidak lagi bersifat acak. Dalam lingkungan semacam ini
tindakan suatu organisasi bisa mengganggu ketenangan lingkungan, sehingga akan mengundang
reaksi dari organisasi lainnya. Karena itu lingkungan seperti ini hanya bisa terbentuk jika terdiri dari
sejumlah organisasi besar yang masing-masing cukup kuat untuk mempengaruhi lingkungan. Selain
itu, organisasi-organisasi ini juga saling terlihat (visible) satu sama lain, sehingga tindakan setiap
organisasi bisa diamati secara jelas oleh organisasi lainnya. Lingkungan ini seringkali dinamakan
sebagai lingkungan oligopolistik.
Contoh dari lingkungan jenis ini adalah lingkungan industri rokok kretek di Indonesia, yang terdiri
dari sejumlah industri rokok kretek yang besar (misalnya Bentoel, Djarum, Gudang Garam, dan lain-
lain.). Jika suatu jenis rokok berusaha menaikkan penjualannya melalui penjualan rokok berhadiah
mobil, segera pabrik lainnya akan melakukan tindakan balasan yang serupa. Tindakan pabrik rokok
yang memulai pemberian hadiah itu mengganggu keseimbangan yang telah terjadi dalam
persaingan. Karena itu tindakan ini segera dibalas oleh pabrik rokok lainnya.
Dalam lingkungan seperti ini pimpinan organisasi harus membuat perencanaan serta keputusan
secara hati-hati dan strategis, sehingga siap untuk menghadapi reaksi dari pihak lain. Perencanaan
tidak hanya mempertimbangkan kondisi internal organisasi, tetapi harus memperhitungkan perilaku
organisasi lainnya. Organisasi juga harus mengamati secara cermat seluruh tindakan dari
organisasi lainnya. Karena itu, jenis lingkungan ini lebih kompleks dan lebih tidak stabil dari
lingkungan Tenang–Acak maupun lingkungan Tenang-Mengelompok.
4. Lingkungan Kacau (Turbulent Field)
Lingkungan ini ditandai dengan kompleksitas yang tinggi dan perubahan yang cepat. Berbagai
sektor berubah secara drastis, dengan perubahan yang saling berkaitan.
Lingkungan jenis ini biasanya memberikan akibat yang negatif bagi organisasi. Perubahan
lingkungan bisa cukup dramatis hingga mampu melenyapkan organisasi. Hal ini misalnya terjadi jika
ada perubahan teknologi yang sangat revolusioner, sehingga semua produk dengan teknologi lama
tidak bisa lagi digunakan. Peraturan pemerintah juga bisa memberikan pengaruh yang sama seperti
contoh perubahan teknologi tersebut.
Karena saling mempengaruhi, perubahan elemen-elemen lingkungan bisa memberikan akibat
negatif yang berlipat ganda kepada organisasi.
Lingkungan Kacau ini jarang terjadi, tetapi jika ada maka perencanaan menjadi tidak berarti bagi
organisasi. Perubahan-perubahan terjadi secara sangat drastis, sehingga tidak dapat
diantisipasikan oleh organisasi. Cara terbaik untuk menghadapi jenis lingkungan ini adalah
melakukan adaptasi, walaupun juga tidak pasti dapat menjamin kelangsungan hidup organisasi.

Tabel berikut memberikan keterangan tentang jenis tekstur lingkungan dan tindakan organisasi yang
sesuai untuk menghadapi setiap jenis tekstur lingkungan tersebut :
Jenis Lingkungan dan Corak Tindakan Organisasi
TEKSTUR
SIFAT LINGKUNGAN TINDAKAN ORGANISASI
LINGKUNGAN
 
Perubahan jarang terjadi, dan kalau- Konsentrasi pada operasi rutin
pun terjadi hanya melibatkan satu sehari-hari
Tenang Acak 
elemen tunggal Hanya memerlukan sedikit

Perencanaan
 
Perubahan jarang terjadi, tetapi jika Perlu peramalan dan perencanaan
terjadi berbentuk elemen-elemen untuk mengantisipasi perubahan
Tenang Mengelompok 
yang saling berkaitan Perlu menghindari perubahan ber-

kelompok
 
Lingkungan bereaksiterhadap Perlu mampu mengamati tindakan
perubah-an dalam Organisasi, dan dari Organisasi lain

Diganggu Bereaksi juga bisa sebaliknya Perlu perencanaan untuk

Organisasi berukuran besar, mengantisi-pasi tindakan
jumlahnya tidak banyak Organisasi lain
(oligopolistik), tindakannya bisa
diamati
 
Perubahan drastis sering terjadi Perlu mampu menafsirkan kondisi

Perubahan terjadi dalam bentuk Lingkungan
Kacau 
elemen-elemen yang mengelompok Perlu adaptasi agar dapat bertahan
hidup