Anda di halaman 1dari 12

Tugas.

3
TUGAS 3
Tujuan:
Melalui tugas ini mahasiswa diharapkan dapat menganalisis strategi yang dilakukan
oleh suatu organisasi/perusahaan.

Jenis Tugas:
Analisis strategi dari case study mengenai PT. Pos Indonesia

Ruang lingkup
Menggunakan berbagai tools yang ada dalam mata kuliah Managemen Stratejik untuk
menganalisis suatu case study

Diskripsi tugas

 Bacalah case study mengenai PT. POS Indonesia.


 Buatlah SWOT analisis (rekomendasikan strategi SO, ST, WO, dan WT)
 Identifikasi core competence dari PT. Pos Indonesia, berikan penilaian
tentang sustanability dari kompetensi tersebut.
 Berikan saran untuk pengembangan bisnis PT Pos Indonesia

Tugas ini adalah tugas individual

PT POS INDONESIA

Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan
PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang
Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan
untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya
menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Mengamati
perkembangan zaman dimana sektor pos dan telekomunikasi berkembang sangat
pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN
Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro yang sejak
ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan
giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus
Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT
Pos Indonesia (Persero).

Dengan berjalannya waktu, Pos Indonesia kini telah mampu menunjukkan kreatifitasnya
dalam pengembangan bidang perposan Indonesia dengan memanfaatkan insfrastruktur
jejaring yang dimilikinya yang mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau
100 persen kota/kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen
kelurahan/desa, dan 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Wilayah layanan
tersebut terbagi dalam 11 Regional.

Seiring dengan perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi, jejaring Pos


Indonesia sudah memiliki lebih dari 4.800 Kantorpos online, serta dilengkapi electronic
mobile pos di beberapa kota besar. Semua titik merupakan rantai yang terhubung satu
sama lain secara solid & terintegrasi. Sistem Kode Pos diciptakan untuk mempermudah
processing kiriman pos dimana tiap jengkal daerah di Indonesia mampu diidentifikasi
dengan akurat.
Ekspansi wilayah pelayanan Pos Indonesia tidak hanya meliputi wilayah Indonesia saja,
tetapi juga sudah meliputi dunia internasional dengan menjalin kerjasama badan usaha
di negara lain yang berskala internasional, seperti Western Union.

Jumlah titik layanan (Point of Sales) mencapai 58.700 titik dalam bentuk Kantorpos,
Agenpos, Mobile Postal Service, dan lain-lain. Pos Indonesia memiliki jaringan yang
dedicated, sistem distribusi yang handal, Track and Trace, layanan yang prima,
kecepatan, ketepatan, serta harga yang kompetitif. Kantorpos merupakan tempat
strategis untuk transaksi penjualan dan atau distribusi barang dan jasa.

Inovasi terus dilakukan oleh Pos Indonesia antara lain pembangunan Postshop yang
merupakan pengembangan bisnis ritel yang diimplementasikan untuk merubah image
Kantorpos konvensional menjadi Kantorpos modern dengan pola layanan one stop
shopping, yaitu Postal Services (jasa ritel) berupa layanan pengiriman surat, paket, jasa
keuangan, penjualan Postal items (meterai, prangko, produk filateli dan lain-lain),
layanan Online Shopping.

1. A. Visi, Misi, Kredo

Visi
Menjadi pilihan utama logistik dan jasa keuangan
Tagline
Kami membawa misi
Kredo
Sumber daya ada batasnya, tetapi kreativitas tak terbatas.
Motto
Tepat waktu setiap waktu.
Misi

 Memberikan solusi layanan logistik e-commerce yang kompetitif.


 Menjalankan fungsi designated operator secara profesional dan kompetitif.
 Memberikan solusi jasa layanan keuangan terintegrasi yang kompetitif dalam
rangka mendukung financial inclusion berbasis digital.
 Memberikan solusi layanan dokumentasi dan otentikasi digital yang kompetitif.

1. B. Anak Perusahaan

1) PT POS LOGISTICS INDONESIA (www.poslogistics.co.id)

Berawal dari sebuah proyek bisnis logistik di 2004, dan berkembang menjadi Strategic
Business Unit di 2007, kemudian berdasarkan Akta Notaris yang disahkan oleh Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusan No: AHU-08351.AH.0101 pada
17 Februari 2012, Pos Logistik Indonesia resmi terlahir sebagai anak perusahaan dari
PT Pos Indonesia (Persero).

Dengan posisi sebagai anak perusahaan, serta didukung dengan pekerja dan tim
profesional dalam merumuskan strategi dan positioning bisnis, maka PT Pos Logistik
Indonesia optimis dapat beroperasi secara independen untuk dapat memaksimalkan
peluang bisnis logistik di Indonesia sekaligus memanfaatkan jaringan dari Pos
Indonesia yang sudah terbangun di seluruh Indonesia, dengan 4.367 kantor cabang
dan 33.000 titik penjualan.

 Visi PT Pos Logistik: Menjadi perusahaan penyedia solusi logistik terbaik di


Indonesia. (Indonesia’s #1 Logistics Solutions Provider)
 Misi PT Pos Logistik:

Menjadi jawaban bagi tantangan logistik di Indonesia, dengan menggabungkan


kemampuan perusahaan dalam memberikan solusi melalui pendekatan nasional yang
disinergikan dengan solusi global untuk penggunaan teknologi yang tepat, sehingga
kehadiran kami tidak hanya memberikan solusi bagi pelanggan tapi juga memberikan
keuntungan kepada investor dalam meningkatkan perekonomian Indonesia.

 Values: iPOSLOG (Integrity, Professional, Orientation to


customer, Safety, Learner, Open Minded, Great Result).

Produk Utama PT Pos Logistik

1. National Transport
2. Contract Logistics
3. Freight Forwarding
4. E-Commerce (Domestic Land Trucking, Domestic Air, Domestic Ocean,
Domestic Rail, Crossdock Service)

2) PT POS PROPERTI INDONESIA (www.posproperti.co.id)

PT. Pos Properti Indonesia adalah sebuah entitas bisnis yang memiliki core business
Properti dengan berbagai Bidang Usaha Jasa. Sebagai anak Perusahaan PT Pos
Indonesia (Persero), diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak mesin
pendapatan dan memiliki nilai tambah.

Dalam upaya memanfaatkan setiap business opportunity PT Pos Properti Indonesia


berkomitment untuk berperan serta dalam menumbuhkan pariwisata di kota-kota di
Indonesia yang memiliki potensi besar khususnya di sektor industri perhotelan.
Kunjungan wisatawan manca negara maupun domestik yang semakin meningkat harus
diiringi dengan ketersediaan layanan hotel dengan tarif yang terjangkau oleh
masyarakat kelas menengah namun tetap mampu memberikan kualitas pelayanan
yang optimal. Selain kebutuhan akan layanan hotel sebagai fasilitas menginap,
kebutuhan ruang pertemuan (meeting room) juga sangat tinggi seiring dengan pesatnya
pertumbuhan bisnis khususnya di kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Selain melakukan ekspansi usaha di sektor perhotelan, PT. Pos Properti Indonesia juga
telah mempersiapkan diri untuk melakukan ekspansi di sektor bisnis konstruksi dan
properti lainnya yang saat ini masih menjadi primadona bisnis yang profitable. Usaha ini
diharapkan mampu mempercepat perkembangan usaha dalam mengoptimalkan
pemanfaatan serta memberikan nilai tambah terhadap asset/properti milik Perseroan
yang selama ini belum optimal dalam mendayagunakan, namun justru menjadi beban
perawatan dan operasional.
Melalui keberadaan dan usaha yang dijalankan oleh PT. Pos Properti Indonesia,
aset/properti tersebut dapat dijadikan sebagai profit generator sehingga PT. Pos
Properti Indonesia bisa memberikan kontribusi profit terbesar di lingkungan PT. Pos
Indonesia (Persero).

3) PT BHAKTI WASANTARA NET (BWN)/ www.wasantara.net.id

Pada tahun 1996 Pos Indonesia membentuk Divisi Teknologi dan Sistem Informasi
untuk mengelola dan mengembangkan jaringan Intranet serta bisnis Internet yang di
kenal dengan nama “Wasantara-Net”. Izin sebagai penyelenggara Internet Service
Provider (ISP) diperoleh dengan nomor: KM.33/PT 102/MPPT-1996 tanggal 7 Mei
1996, dan layanan internet mulai di kembangkan di 4 kota besar.

Dengan tujuan mengembangkan dan mengefektifkan layanan internet, PT Pos


Indonesia (Persero) bekerjasama dengan PT Quantum Aksesindo Nusantara
mendirikan PT Bhakti Wasantara Net berdasarkan akta notaris: Ivonne B Sinyal SH.
nomor 7 tanggal 2 April 2001.

Tiga Pilar Utama BWN:

 Bisnis Jaringan

Pengembangan cakupan layanan internet BWN menuju Integrated Internetworking


Services Provider dan Dekstop management, dengan membangun kemampuan
memberikan solusi menyeluruh layanan IT yang didukung ketersebaran service point
BWN di semua Kantor Pos.

 Bisnis Access Channel dan System Switching

Mengembangkan Access Channel / POS berbasis IT (Agency, Vending Machine / ATM,


EDC, Internet, Mobile, dll) serta menyediakan kebutuhan System Switching untuk
mendukung pengembangan outlet Pos).

 Bisnis IT Solutions

Mengembangkan berbagai content application services yang searah dengan


pengembangan bisnis Pos masa depan (e-logistik, e-document, e-commerce, e-
procurement,e-mail, e-finance, dll).

Komitmen BWN:
 Memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan demi tercapainya
kepuasan pelanggan.
 Senantiasa melakukan perbaikan secara berkesinambungan demi tercapainya
kualitas pelayanan dan hasil kerja.
 Mematuhi setiap peraturan dan persyaratan pemerintah ataupun klien yang
terkait dengan pekerjaan.

Visi BWN:
Menjadikan PT Bhakti Wasantara Net sebagai perusahaan yang ikut memajukan
perekonomian Indonesia hingga tingkat kecamatan melalui pemerataan pemanfaatan
teknologi informasi serta menjadi perusahaan yang profesional, tangguh dan mampu
bersaing secara global hingga bermanfaat bagi stakeholders.

Misi BWN:

 Menyediakan Total Solution bagi kebutuhan jaringan dan aplikasi teknologi


informasi PT Pos Indonesia (Persero) dengan mengutamakan kualitas layanan
dan penerapan teknologi terkini.
 Menyediakan Total Solution bagi pengembangan usaha transaksional melalui
pengembangan usaha Access Channel dan Switching dalam rangka mendukung
misi PT Pos Indonesia (Persero) dalam menyediakan layanan transaksi
keuangan serta meningkatkan pertumbuhan bisnis PT Bhakti Wasantara Net.
 Menyediakan Total Solution dengan layanan pengadaan perangkat IT (Trading)
dan Seat Management Services untuk meningkatkan kapabilitas dan pendapatan
perusahaan.
 Menyediakan Total Solution dengan mengembangkan usaha dibidang Content
Application Services.

1. C. Telat Ikuti Perkembangan Zaman, Pos Indonesia 'Fight' dengan


Kematian

Perkembangan zaman dan teknologi menjadi momok bagi PT Pos Indonesia (Persero)
karena harus mengakui bahwa lambannya menyesuaikan diri membuat manajemen
harus bertarung dengan keadaan yang tidak mudah.

Pos Indonesia memiliki dua lini bisnis yang sejak dulu sangat menguasai bahkan tidak
ada pesaingnya, yaitu bisnis kurir surat dan penyedia layanan keuangan. Direktur
Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono mengatakan puncak jatuhnya bisnis Pos
Indonesia terjadi pada tahun 2014 ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan
aturan tentang lakupandai. Lakupandai adalah layanan keuangan milik perbankan yang
tidak perlu memiliki fisik bangunan secara resmi.

"Kemudian muncul ada bank, muncul distruption, bank ini berlanjut melakukan
distruption, dengan teknlogi, dengan regulasi, yang paling berat buat Pos di jasa
layanan keuangan itu pada tahun 2014 OJK buat aturan lakupandai," kata Gilarsi saat
berbincang dengan detikFinance, di kantor pusat PT Pos di Jalan Banda, Bandung,
Senin awal pekan ini.

Banyaknya layanan jasa keuangan membuat Pos Indonesia bukan lagi sebagai pemain
satu-satunya. Sedangkan dari sisi kurir, Pos pun terlalu fokus hanya menjalani binsi
pengiriman surat dan tidak menyiapkan infrastruktur pengiriman untuk barang atau
parsel.
"Dari teknologi dan infrastruktur kita terlambat iya, bahwa ini hampir terjadi di seluruh
industri pos di dunia iya," ujar dia.

Dari ketelatan tersebut, maka 'kue' yang selama ini dikuasai Pos harus terbagi oleh
perusahaan jasa pengiriman lainnya, bahkan kepada perusahaan yang bukan benar-
benar di sektor logistik seperti Go-Jek dan Grab yang juga menawarkan layanan
pengiriman barang.

"Kegagapan itu terjadi. Nah dalam menghadapi kegagapan itu tidak bisa dipungkiri
bahwa bisnis kita suffering, kita berada dalam challenge yang luar biasa, kegagapan ini
tadi membuat kita agile di dalam berubah," ungkap dia. "BWN itu sejak didirikan sampai
2017 tidak pernah profit, 2018 paling tidak membukukan profit Rp 13 miliar, dengan
posisi buku yang sehat, ini kita lagi transformasi menjadi semacam fintech-nya Pos,"
jelas dia. Dengan jurus-jurus terbut, Gilarsi masih optimistis bahwa Pos Indonesia yang
memiliki segudang masalah masih tetap bisa eksis.

"Jadi upayanya sekarang bagaimana membesarkan anak untuk supaya capable paling
tidak mensubsidi induk. Kelihatannya ini sangat promising, ini yang membuat saya
yakin i think we can do this," ungkap dia. Saat ini, kata Gilarsi, Pos Indonesia harus
bertarung dengan kematian atau kinerja keuangannya yang terus mengalami kerugian.
Berjuang lepas dari ambang kematian dengan melakukan efisiensi biaya produksi,
hingga transformasi.

"Saya sampaikam tugas berat Pos sekarang bagaimana berkelit dari kematian ini,
karena kematian sudah di depan mata. But, bagaimana kita bisa escape, tentu dengan
super ketat di cost manajemen itu masih mampu membuat kita bertahan, tapi dengan
itu saja tidak selesai, karena kita sendiri harus bertransformasi," jelas dia.

1. D. Mimpi Punya Pesawat Logistik

Meski sedang berdarah-darah, PT Pos Indonesia (Persero) memiliki mimpi besar untuk
memiliki pesawat sendiri khusus angkutan logistik. Gilarsimengatakan untuk
mewujudkan hal itu dibutuhkan kondisi keuangan yang sehat dan perusahaan yang
sudah menghasilkan profit.
Salah satu upaya untuk mewujudkan mimpi itu adalah membuat besar anak usaha Pos
Indonesia, yaitu PT Pos Logistik Indonesia dan PT Bhakti Wasantara Net (BWN). Pos
Logistik yang tadinya hanya logistik menjadi trading, dengan menjadi trading logistik
maka kita punya kesempatan untuk mengembangkan skenario itu, bukan hanya dari
logistiknya saja tapi juga dari penyediaan barangnya juga," kata Gilarsi.

Gilarsi mengungkapkan, butuh waktu lama untuk merealisasikan Pesawat Pos


Indonesia. Kuncinya adalah bagaimana kedua anak usaha ini memiliki nilai transaksi
yang besar serta profit besar sehingga bisa membiayai segala macam bentuk
transformasi. "Mungkin sebelum 2025, paling cepat yah, kalau kita melihat betapa
suffering-nya Indonesia terhadap biaya logistik yang mahal, kita masih di atas 20-23%
dari GDP kita itu terbakar di logistik," ujar Gilarsi.
"Makanya saya masih punya dream bahwa Pos akan menjadi brainwhere
logistic nasional, Makanya kita memperkuat Pos Logistik anak usaha," tambah dia.
Meski demikian, Gilarsi mengaku fokus perseroan saat ini adalah melakukan
transformasi besar. Mulai dari sumber daya manusia (SDM), model bisnis, hingga
investasi infrastruktur Pos Indonesia ke depan.

1. E. Jurus Pos Indonesia Bertahan di Ambang Kematian

Kinerja keuangan yang terus merugi karena telat melakukan transformasi atau
menyesuaikan diri dari perubahan teknologi menjadikan Pos Indonesia harus melawan
kematian. Gilarsi mengatakan masih ada beberepa jurus agar perusahaan pelat merah
ini tetap eksis. Yang pertama adalah transformasi budaya kerja SDM (sumber daya
manusia). "Makanya tidak boleh menyerah kalau kita perlu berubah dan perlu bergerak
cepat. Ini tidak boleh mundur semangat untuk mengubah ini harus dipertahankan tidak
boleh kalah, tidak boleh menyerah," kata Gilarsi saat berbincang dengan detikFinance
di kantor Pusat PT Pos, Jalan Banda, Bandung, Senin awal pekan ini.
Yang kedua, transformasi selanjutnya, adalah dilakukan pada bisnis model, proses
bisnis, hingga investasi infrastruktur. "Bisnis model kita sudah berbeda dengan masa
lalu, di mana yang namanya Go-Jek, Grab bukan kurir tapi faktanya mereka
memberikan layanan untuk kurir industri, mereka pemain logistik," jelas dia.

Ketiga, menerapkan transparansi dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh Pos
Indonesia. Menurut Gilarsi, poin ini sulit diterapkan dan membutuhkan sinergi yang baik
antara manajemen dengan seluruh pegawai. Keempat, efisiensi biaya
produksi. Kelima adalah mentransformasi anak usaha, yakni PT Pos Logistik Indonesia
dan PT Bhakti Wasantara Net (BWN). Gilarsi menceritakan kedua anak usaha tersebut
kini sudah membukukan profit dari yang sebelumnya tidak pernah untung.

1. F. Kementerian BUMN Evaluasi Kinerja PT Pos

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih terus memantau


perkembangan PT Pos Indonesia. Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri
Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan
sedang melakukan pemeriksaan kinerja perseroan. "Kita lagi evaluasi kinerjanya (PT
Pos Indonesia)," kata Fajar di Kementerian BUMN, Selasa (12/2/2019).
Sebelumnya, serikat pekerja PT Pos Indonesia meminta jajaran direksi untuk mundur
karena dinilai melakukan ketidakadilan dalam perusahaan. Direktur Keuangan Pos
Indonesia Eddi Santosa mengatakan sejak berdiri, perusahaan sangat bergantung
dengan proyek pemerintah. Salah satunya program bantuan sosial. "Jadi ketika bansos
ditarik semua menjadi non tunai, dengan sendirinya likuiditas yang selalu ada ini ya
ditarik," tutur Eddi.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, pendapatan perusahaan dari layanan jasa


keuangan turun sejak 2016. Pada 2016, pendapatan dari layanan jasa keuangan turun
14,3% menjadi Rp 1,11 triliun. Kemudian kembali menurun pada 2017 sebesar 13,08%
menjadi Rp 971 miliar.

Selain bansos, menurut dia, Pos Indonesia kini tak lagi mendapatkan proyek dari
pemerintah berupa pengiriman berbagai barang atau dokumen Kementerian/Lembaga
secara langsung. Hal itu diklaim Eddi semakin memberatkan kinerja perusahaan.

1. G. Bansos Non Tunai Bikin Keuangan PT Pos Seret

Langkah pemerintah yang mengubah kebijakan bantuan sosial menjadi non tunai
mempengaruhi kondisi keuangan PT Pos Indonesia (Persero). Kebijakan tersebut
membuat bantuan yang semula dikirim melalui layanan jasa keuangan Pos Indonesia
kini digarap oleh perbankan.

Direktur Keuangan Pos Indonesia Eddi Santosa mengatakan sejak berdiri, perusahaan
sangat bergantung dengan proyek pemerintah. Salah satunya program bantuan sosial.
"Jadi ketika bansos ditarik semua menjadi non tunai, dengan sendirinya likuiditas yang
selalu ada ini ya ditarik," tutur Eddi, dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (8/2/2019).
Mengutip laporan keuangan perusahaan, pendapatan perusahaan dari layanan jasa
keuangan turun sejak 2016. Pada 2016, pendapatan dari layanan jasa keuangan turun
14,3% menjadi Rp 1,11 triliun. Kemudian kembali menurun pada 2017 sebesar 13,08%
menjadi Rp 971 miliar.

Selain bansos, menurut dia, Pos Indonesia kini tak lagi mendapatkan proyek dari
pemerintah berupa pengiriman berbagai barang atau dokumen Kementerian/Lembaga
secara langsung. Hal itu diklaim Eddi semakin memberatkan kinerja perusahaan. "Dulu
kiriman pemerintah seperti surat dan barang-barang banyak ke kami, lalu kartu
Program Keluarga Harapan (PKH) itu juga," terang Eddi.

Menurutnya, pendapatan dari proyek-proyek pemerintah selama ini kerap menutup


selisih yang selama ini masih ditanggung perusahaan atas biaya pengiriman barang
secara keseluruhan. Dengan demikian, keuangan Pos Indonesia dapat tetap positif.

Penetapan tarif pengiriman barang sendiri, menurut dia, dilakukan oleh pemerintah.
Pihaknya juga tak bisa sembarangan menaikkan tarif meski masih menanggung selisih.
Hal ini diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos yang
merupakan revisi dari UU Nomor 6 Tahun 1984.

Namun, ia menekankan sebenarnya hal itu tak menjadi masalah selama perusahaan
mengantongi pendapatan dari proyek pemerintah. "Tarif itu kan yang menyesuaikan
pemerintah dan memang sudah diatur secara universal, tapi selisihnya tidak dibayarkan
pemerintah. Jadi, sudah tidak dapat subsidi selisih lalu proyek pemerintah juga kami
tidak dapat langsung (lagi)," terang Eddi.

Meski demikian, Edi mengaku pihaknya sebenarnya tetap mendapatkan bantuan dari
pemerintah. Hanya saja, subsidi tak menghitung selisih tarif seperti yang dilakukan
pemerintah pada subsidi listrik maupun BBM. "Ada bantuan dari pemerintah dari ini
seperti hibah kan, beda dengan subsidi yang diberikan oleh misalnya PT Perusahaan
Listrik Negara (Persero)," jelas Eddi.
Kendati begitu, ia mengaku tak ingin berdebat lebih banyak mengenai perubahan
kebijakan bansos nontunai dan penugasan langsung proyek pemerintah. Eddi
menyadari Pos Indonesia selama ini terbiasa dengan zona nyaman sehingga terganggu
dengan perubahan kebijakan.
"Mungkin sekarang kami waktunya lebih fight," pungkas Eddi.

Informasi saja, secara keseluruhan laba bersih perusahaan pada 2017 turun 17,4
persen dari Rp426,9 miliar menjadi Rp355 miliar. Penurunan laba dipengaruhi oleh
pendapatan perusahaan yang turun menjadi hanya Rp4,32 triliun dari Rp4,45 triliun.

1. H. Penundaan Pembayaran Gaji

Baru-baru ini kabar tak sedap datang dari PT Pos Indonesia (Persero), yang mana
jajaran direksinya memutuskan untuk menunda pembayaran gaji kepada pegawainya.
Keputusan itu muncul usai pegawai melakukan aksi di depan kantor pusat Pos di
Bandung Jawa Barat.
Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono mengatakan bahwa di balik
keputusan penundaan pembayaran gaji pegawai ada pesan yang ingin disampaikan
jajaran direksi. Aksi demo pegawai, kata Gilarsi adalah sebuah sikap ketidaksantunan
di dalam berkomunikasi, bahkan aksi demo tindakan premanisme karena memaksa
kehendak dengan menyuarakan ke publik.

"Supaya didengar orang lain padahal itu matter-nya (masalahnya) internal," ujar dia.

Pos Indonesia sejak 2015 fokus melakukan transformasi secara besar-besaran mulai
dari organisasi kepegawaian hingga proses bisnisnya. Proses tersebut juga sebagai
jurus menyelamatkan Pos Indonesia dari jurang kerugian.
Transformasi yang dilakukan juga bisa menjadi modal Pos Indonesia menggaet investor
yang ingin menanamkan dananya. Hanya saja, aksi demo tersebut bertolak belakang
dengan proses transformasi.

Menurut Gilarsi, jika persoalan sebuah perusahaan berasal dari internal maka harus
diselesaikan dengan komunikasi yang sesuai aturan, bukan dengan aksi demo.
"Ketika matternya internal, ada protokol internal, bahkan yang namanya nggak ketemu
ada mediasi dengan disnaker, bahkan kalau perdebatan kita tidak satu pemahaman
dalam hubungan industri ada yang namanya PHE, merekalah yang menengahi, mereka
yang memberikan kata akhir, eh manajemen elu salah yok lakukan ini, oke. Kita siap
dan harus nurut," jelas dia.
Hanya saja, kata Gilarsi, ketika yang dimunculkan adalah gangguan itu akan
memberikan dampak pada proses investasi yang tengah dilakukan manajemen. Oleh
karena itu, Gilarsi meminta kepada seluruh 28.000 pegawai Pos Indonesia untuk
mendukung langkah transformasi perusahaan yang sedang dilakukan. Bahkan
menyelesaikan sebuah persoalan dengan aturan yang ada.

"Kan ada mekanisme itu, tidak diselesaikan dengan mekanisme pengadilan jalanan
seperti itu. Nah ini yang lebih kepada reminder, yuk kalau kita bisa selesaikan dengan
tatakrama yang lebih baik kenapa harus turun ke jalan seperti itu," ungkap dia.