Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH INSTRUMEN FARMASI

ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETER (AAS)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Instrumen Farmasi

DOSEN PENGAMPU : LILIK SULASTRI, S.Si

DISUSUN OLEH : ANNISA WIDYA SARASWATI 16010010

LUKMAN HAKIM 16010034

STEPHANY BR SEMBIRING 16010062

KELAS : B (REGULER)

SEMESTER : 4 (EMPAT)

PROGRAM STUDI : S1 FARMASI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME. bahwa kami telah menyelesaikan
tugas makalah mata kuliah Instrumen Farmasi yang mengulas mengenai Spektrofotometer
Serapan Atom (Atomic Absorption Spectroscopy).
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun
kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat kerja
sama antar rekan-rekan penyusun, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi.
Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dosen pengampu mata kuliah Instrumen Farmasi yang telah memberikan tugas dan
petunjuk, kepada kami sehingga kami termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
2. Rekan-rekan penyusun yang telah turut membantu, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai,
Amiin.

Bogor, Februari 2018

Tim Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometer
Serapan Atom adalah salah satu jenis analisa spektrokopi dimana dasar
pengukurannya adalah pengukuran serapan suatu sinar oleh suatu atom. Sinar yang
tidak diserap diteruskan dan diubah menjadi sinyal listrik yang terukur. AAS
pertama kali diperkenalkan oleh Welsh (Australia) pada tahun 1955. AAS
merupakan suatu metode yang populer untuk analisa logam, karena disamping
sederhana, ia juga sensitif dan selektif.

ATOMIC ABSORPTION SPECTROSCOPY


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berdampak pada
makin meningkatnya pengetahuan serta kemampuan dari manusia. Betapa tidak
setiap manusia lebih dituntut dan diarahkan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi
di segala bidang. Tidak ketinggalan pula ilmu kimia yang identik dengan ilmu
mikropun tidak luput dari sorotan perkembangan IPTEK ini. Belakangan ini telah
lahir IPTEK yang berpeluang mempermudah dalam keperluan analisis kimia. Salah
satu bentuk kemajuan IPTEK ini yang biasa dikenal sekarang diantaranya alat
serapan atom yang kemudian sangat mendukung dalam analisis kimia dengan
metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Para ahli kimia sudah lama
menggunakan warna sebagai suatu pembantu dalam mengidentifikasi zat kimia yang
telah dikenal bertahun-tahun yang lalu. Dewasa ini penggunaan istilah
Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh
suatu sistem kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula
pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu gelombang tertentu.
Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang
didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada
tingkat energi dasar (ground state). Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya
elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat
labil, elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi
yang berbentuk radiasi. Dalam AAS, atom bebas berinteraksi dengan berbagai
bentuk energi seperti energi panas, energi elektromagnetik, energi kimia dan energi
listrik. Interaksi ini menimbulkan proses-proses dalam atom bebas yang
menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas. Radiasi yang
dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik
untuk setiap atom bebas (Basset, 1994). Selain dengan metode serapan atom unsur-
unsur dengan energi eksitasi rendah dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala,
tetapi untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi hanya dapat dilakukan dengan
fotomeetri nyala. Untuk analisisi dengan garis spektrum resonansi antara 400-800
nm, fotometri nyala sangat berguna, sedangkan antara 200-300 nm, metode AAS
lebih baik dari fotometri nyala. Untuk analisis kualitatif, metode fotometri nyala
lebih disukai dari AAS, karena AAS memerlukan lampu katoda spesifik (hallow
cathode). Kemonokromatisan dalam AAS merupakan syarat utama. Suatu perubahan
temperatur nyala akan mengganggu proses eksitasi sehingga analisis dalam
fotometri nyala dapat bervarisasi hasilnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang diatas, kami dapat merumuskan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimanakah teori dasar serta prinsip kerja Spektrofotometer Serapan Atom
(AAS)?
2. Bagaimanakah penggunaan dan penerapan Spektrofotometer Serapan Atom
(AAS) dalam proses analis kimia?
3. Apakah sajakah gangguan-gangguan yang biasa terjadi pada metode
Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah diharapkan selain
memenuhi tugas dari dosen pengampu, juga bertujuan agar penulis maupun
pembaca dapat mengetahui lebih mendalam tentang bagaimana metode ataupun
prinsip kerja dari Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) itu sendiri, selain itu juga
diharapkan agar kita dapat melihat sejauh mana efisiensi dari penggunaan metode
ini jika dilihat dari kelebihan dan kekurangannya
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DASAR TEORI


Sejarah singkat tentang serapan atom pertama kali diamati oleh Frounhofer,
yang pada saat itu menelaah garis-garis hitam pada spektrum matahari. Sedangkan
yang memanfaatkan prinsip serapan atom pada bidang analisis adalah seorang
Australia bernama Alan Walsh di tahun 1995. Sebelum ahli kimia banyak
tergantung pada cara-cara Spektrofotometerk atau metode analis spektrografik, yang
beberapa cara ini diketahui sulit dan memakan waktu, kemudian segera digantikan
dengan Spektrofotometer Serapan Atom atau Atomic Absorption Spectroscopy
(AAS). Metode ini sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik
ini mempunyai beberapa kelebihan di bandingkan metode Spektrofotometer emisi
konvensional.
Metode AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, bergantung pada sifat
unsurnya. Seperti contohnya Natrium menyerap pada 589 nm, Uranium pada 358,5
nm sedangkan Kalium pada 766,5 nm. Cahaya pada gelombang ini mempunyai
cukup energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Dengan absorpsi
energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar
dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi. Tingkat-tingkat eksitasinya pun
bermacam-macam. Seperti unsur Na dengan nomor atom 11 mempunyai konfigurasi
elektron 1s2 2s2 2p6 3s1, tingkat dasar untuk elektron valensi 3S, artinya tidak
memiliki kelebihan energi. Elektron ini dapat tereksitasi ketingkat 3p dengan energi
2,2 eV ataupun ketingkat 4p dengan energi 3,6 eV, masing-masing sesuai dengan
panjang gelombang sebesar 589 nm dan 330 nm. Garis-garis lain yang bukan garis
resonansi dapat berupa spektrum yang berasosiasi dengan tingkat energi molekul,
biasanya berupa pita-pita lebar ataupun garis tidak berasal dari eksitasi tingkat dasar
yang disebabkan proses atomisasinya.

2.2 DEFINISI DAN FUNGSI AAS


Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang digunakan untuk
menentukan konsentrasi elemen tertentu (analit) dalam sampel yang akan dianalisis
dimana pemakaiannya sangat luas diberbagai bidang karena prosedurnya yang
selektif, spesifik, biaya analisisnya yang relatif murah serta sensitivitasnya yang
tinggi (ppm/ppb) sehingga dapat dengan mudah membuat matriks yang sesuai
dengan standar dan waktu analisisnya yang cepat.
Spektrofotometer Serapan Atom merupakan alat yang digunakan pada
metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan
pada penyerapan absorbsi oleh atom bebas. Spektrofotometer Serapan Atom pada
umumnya digunakan untuk menganalisis unsur. Spektrofotometer Absorbsi Atom
juga dikenal sistem single beam dan double beam layaknya spektrofotometer
UV/VIS.
Lima komponen dasar alat SSA :
1. Sumber Sinar, biasanya dalam bentuk “HOLLOW CATHODE” yang
mengemisikan spektrum sinar yang akan diserap oleh atom.
2. Nyala Api, merupakan sel absorpsi yang menghasilkan sampel berupa atom-
atom.
3. Monokromator, untuk mendispersikan sinar dengan panjang gelombang tertentu.
4. Detektor, untuk mengukur intensitas sinar dan memperkuat sinyal.
5. Readout, gambaran yang menunjukan pembacaan setelah diproses oleh alat
elektronik.

2.3 PRINSIP DASAR AAS


Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat
unsurnya. Spektrofotometer serapan atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang
didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada
tingkat energi dasar (ground state). Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya
elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Dalam AAS, atom
bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas, energi
elektromagnetik, energi kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan proses-
proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi
dan panas.
Proses Emisi
Adalah Proses yang terjadi karena atom menerima energi pengeksitasi dalam
bentuk energi panas dinyala, sebagaian dari energi tersebut digunakan untuk
mengeksitasi atom. Dalam eksitasi, atom mengalami perpindahan ke tingkat yang
lebih tinggi lalu pada saat atom tersebut kembali ke keadaan dasar terjadi pelepasan
energi yang berbentuk gelombang elektromagnetik berupa sinar emisi yang akan
dipancarkan ke segala arah.
Proses Absorpsi
Proses ini terjadi karena seberkas sinar dengan panjang gelombang tertentu
melewati media pengabsorpsi yang terdiri dari atom. Atom yang mengabsorpsi
energi cahaya tersebut akan berubah menjadi atom yang tereksitasi, sedangkan
energi yang tidak diserap akan ditransmisikan. Bila seberkas sinar radiasi dengan
intensitas Io dilewatkan melalui medium yang panjangnya b dan mengandung atom-
atom pada tingkat energi dasar dengan konsentrasi c, maka radiasi akan diserap
sebagian dan intensitas radiasi akan berkurang menjadi I, sehingga berlaku
persamaan :
𝑙
𝑙 = 𝑙𝑜 × 10 − 𝑎𝑏𝑐 atau 𝑇 = 𝑙𝑜 = 10 − 𝑎𝑏𝑐

Jika ˗log T = A
Maka Log l/lo = abc
Dan A = abc

2.3.1 BAGIAN DAN FUNGSI AAS


Komponen-komponen pada Spektrofotometer Serapan Atom diantaranya
(Day, 1986) :
1. Sumber Sinar Radiasi Resonansi
Sumber sinar radiasi AAS adalah Hallow Cathode Lamp (HCL) yang
akan memancarkan energi radiasi transisi elektron atom. Pemancaran
radiasi resonansi terjadi bila kedua elektroda diberi tegangan, arus
listrik yang terjadi menimbulkan ionisasi gas-gas pengisi. Ion-ion gas
yang bermuatan positif ini menembaki atom-atom yang terdapat pada
katoda yang menyebabkan tereksitasinya atom-atom tersebut. Atom-
atom yang tereksitasi ini bersifat tidak stabil dan akan kembali ke
tingkat dasar dengan melepaskan energi eksitasinya dalam bentuk
radiasi.
2. Sumber Atomisasi
Sumber Atomisasi ini dibagi menjadi dua, yaitu Sistem Nyala dan
Sistem tanpa Nyala. Namun, kebanyakan dari instrumen menggunakan
sumber atomisasi nyala dimana sampel diintroduksikan dalam bentuk
larutan dan sampel akan masuk kedalam bentuk aerosol. Aerosol ini
biasa dihasilkan oleh Nebulizer (Pengabut) yang dihubungkan ke
sumber atomisasi nyala oleh ruang penyemprot (Chamber Spray). Jenis
nyala yang digunakan secara luas untuk pengukuran analitik adalah
Nyala Udara-Asetilen karena temperatur nyalanya yang lebih rendah
mendorong terbentuknya atom netral dan dengan nyala yang kaya
bahan bakar pembentukan oksida dari banyak unsur dapat
diminimalkan sedangkan Nitrous Oksida-Asetilen dianjurkan untuk
dipakai untuk penentuan unsur-unsur yang mudah membentuk oksida
dan sulit terurai.
3. Tabung Gas
Tabung gas yang digunakan pada AAS merupakan tabung gas yang
berisi gas asetilen ada juga tabung gas yang berisi gas N₂O yang lebih
panas dari gas asetilen. Regulator pada tabung gas asetilen berfungsi
untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan dan gas yang
berada di dalam tabung. Speedometer pada bagian kanan regulator,
merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam tabung.
4. Ducting
Merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa
pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong
asap bagian luar pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh
AAS tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar.
5. Kompresor
Merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat ini
berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh
AAS pada waktu pembakaran atom. Kompresor memiliki 3 tombol
pengatur tekanan, dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan
tombol ON-OFF, speedo pada bagian tengah merupakan besar kecilnya
udara yang akan dikeluarkan atau berfungsi sebagai pengatur tekanan,
sedangkan tombol yang kanan merupakan tombol pengaturan untuk
mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan disemprotkan ke burner.
Pada bagian belakang kompresor digunakan sebagai tempat
penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS.
6. Monokromator
Setelah radiasi resonansi dari lampu katoda berongga melalui populasi
atom di dalam nyala, energi radiasi ini sebagian diserap dan sebagian
lagi diteruskan. Fraksi radiasi yang diteruskan dipisahkan dari radiasi
lainnya. Pemilihan atau pemisahan radiasi tersebut dilakukan oleh
monokromator. Monokromator berfungsi untuk memisahkan radiasi
resonansi yang telah mengalami absorpsi tersebut dari radiasi-radiasi
lainnya.
7. Detektor
Detektor berfungsi mengukur radiasi yang ditransmisikan oleh sampel
dan mengukur intensitas radiasi tersebut dalam bentuk energi listrik.
8. Rekorder
Sinyal listrik yang keluar dari detektor diterima oleh piranti yang dapat
menggambarkan secara otomatis kurva absorpsi.
9. Lampu Katoda
Lampu katoda terbagi menjadi dua macam, yaitu Lampu Katoda
Monologam digunakan untuk mengukur 1 unsur dan Lampu Katoda
Multilogam digunakan untuk pengukuran beberapa logam. Lampu
katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi
sehingga unsur logam yang akan diuji, akan mudah tereksitasi.

2.3.2 PRINSIP KERJA AAS


Seperti umumnya pada peralatan spectroscopy, analisis kuantitatif
suatu sampel berdasarkan Hukum Lambert-Beer, yaitu : A = ε b C
Keterangan : A = Absorbansi
ε = Absorptivitas Molar
b = Lebar sampel yang dilalui sinar
C = Konsentrasi zat
Rumusan hukum Lambert Beer menunjukan bahwa besarnya nilai
absorbansi berbanding lurus (linear) dengan konsentrasi. Berdasarkan
penelitian, kelinieran hukum Lamber-Beer umumnya hanya terbatas pada
nilai absorban 0,2 sampai dengan 0,8. Dalam analisis secara
Spektrofotometer teknik yang biasa dipergunakan antara lain:
1. Metode Standar Tunggal
Metode ini sangat praktis karena hanya menggunakan satu larutan
standar yang telah diketahui konsentrasinya (Cstd). Selanjutnya
absorbsi larutan standar (Asta) dan absorbsi larutan sampel (Asmp)
diukur dengan spektrometri.
2. Metode Kurva Kalibrasi
Dalam metoda kurva kalibrasi ini, dibuat seri larutan standar dengan
berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut di ukur
dengan masih AAS. Selanjutnya membuat grafik antara konsentrasi
(C) dengan absorbansi (A) yang akan merupakan garis lurus
melewati titik nol dengan slope = ɛ.B atau slope = a.b, konsentrasi
larutan sampel diukur dan di intropolasi ke dalam kurva kalibrasi atau
dimasukan ke dalam persamaan regresi linear pada kurva kalibrasi.
3. Metode Adisi Standar
Metode ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan
kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan
(matriks) sampel dan standar. Dalam metode ini dua atau lebih
sejumlah volume tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam labu
takar. Satu larutan diencerkan sampai volume tertentu kemudiaan
larutan yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah terlebih
dahulu dengan sejumlah larutan standar tertentu dan diencerkan.

2.3.3 CARA PEMAKAIAN AAS


Berikut urutan pemakaian Spektrofotometer Serapan Atom :
1. Pertama-tama, Gas dibuka terlebih dahulu. Kemudian Kompresor,
Ducting, Main Unit, dan Computer secara berurutan.
2. Dibuka program SAA (Spectrum Analyse Specialist), kemudian akan
muncul perintah “Apakah ingin mengganti lampu Katoda”, jika ingin
mengganti lampu katoda tekan Yes dan jika tidak tekan No.
3. Dipilih Yes untuk masuk ke menu Individual Command, dimasukkan
nomor lampu katoda ke dalam kotak dialog, kemudian ditekan Setup.
Soket lampu akan berputar menuju posisi paling atas supaya lampu
katoda yang baru dapat diganti atau ditambahkan dengan mudah.
4. Pada program SAS 3.0, dipilih menu Select Element and Working
Mode. Dipilih unsur yang akan dianalisis dengan menekan langsung
pada simbol unsur yang diinginkan.
5. Jika telah selesai, tekan Ok, kemudian akan muncul tampilan Conditions
Settings. Diatur parameter yang dianalisis dengan mensetting :
Fuel flow 1,2
Measurement, Consentration & 2
Number of Sample
Unit Consentration Ppm
Number of Standart 3
Standart List 1 ppm; 3 ppm; 9 ppm

6. Tekan Ok dan Setup. Ditunggu hingga selesai warming up.


7. Tekan ikon bergambar Burner (pembakar), setelah pemakar dan lampu
menyala alat siap digunakan untuk mengukur logam.
8. Pada menu measurements , pilih Measure Sample.
9. Dimasukkan blanko, didiamkan hingga garis lurus terbentuk kemudian
dipindahkan ke standar 1 ppm hingga data keluar.
10. Dimasukkan blanko untuk meluruskan kurva, diukur dengan tahapan
yang sama untu standar 3 ppm dan 9 ppm.
11. Jika data kurang baik, maka akan ada perintah untuk pengukuran ulang,
dilakukan dengan pengukuran blanko hingga kurva yang dihasilkan
turun dan lurus.
12. Dimasukkan ke sampel 1 hingga kurva naik dan belok baru dilakukan
pengukuran. Ulangi untuk sampel ke 2
13. Setelah pengukuran selesai, data dapat diperoleh dengan menekan ikon
Print atau pada baris menu dengan menekan File lalu Print
14. Apabila pengukuran telah selesai, aspirasikan air deisonisasi untuk
untuk membilas Burner selama 10 menit, api dan lampu Burner
dimatikan, program pada Computer dimatikan, lalu Main Unit AAS,
kemudian Kompresor, setelah itu Ducting dan terakhir Gas.
2.3.4 GANGGUAN PADA AAS
Berbagai faktor dapat mempengaruhi pancaran nyala suatu unsur
tertentu pada alat Spektrofotometer Serapan Atom dan menyebabkan
gangguan pada penetapan konsentrasi unsur dapat berupa :
1. Gangguan akibat pembentukan senyawa refraktori
Gangguan ini dapat diakibatkan oleh reaksi antara analit dengan
senyawa kimia, biasanya anion, yang ada dalam larutan sampel
sehingga terbentuk senyawa yang tahan panas (refractory).
2. Gangguan ionisasi
Gangguan ionisasi ini biasa terjadi pada unsur-unsur alkali tanah dan
beberapa unsur yang lain karena unsur-unsur tersebut mudah terionisasi
dalam nyala. Dalam analisis dengan AAS yang diukur adalah emisi dan
serapan atom yang tak terionisasi. Oleh sebab itu dengan adanya atom-
atom yang terionisasi dalam nyala akan mengakibatkan sinyal yang
ditangkap detektor menjadi berkurang.
3. Gangguan fisik alat
Gangguan fisik adalah semua parameter atau elemen yang dapat
mempengaruhi kecepatan sampel sampai ke nyala dan sempurnanya
atomisasi. Parameter-parameter tersebut dapat berupa kecepatan alir
gas, berubahnya viskositas sampel akibat temperatur nyala. Gangguan
ini biasanya dikompensasi dengan lebih sering membuat kalibrasi atau
standarisasi.

2.4 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN AAS


Kelebihan pada Spektrofotometer Serapan Atom adalah :
1. Memiliki selektifitas yang tinggi karena dapat menentukan beberapa unsur
sekaligus dalam suatu larutan sampel tanpa perlu pemisahan.
2. Memiliki kepekaan yang tinggi karena dapat mengukur kadar logam sehingga
konsentrasi sangat kecil.
3. Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh (preparasi
contoh sebelum pengukuran lebih sederhana, kecuali bila ada zat
pengganggu).
4. Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh.
5. Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga
persen).
6. Ketepatannya cukup baik dimana meskipun syarat yang diperlukannya
sederhana akan tetapi hasil pengukuran yang diperoleh cukup teliti sehingga
dapat menjadi dasar pembuatan kurva kalibrasi.

Sedangkan kekurangannya adalah sebagai berikut :


1. Sampel yang digunakan harus dalam bentuk larutan dan tidak mudah
menguap.
2. Dibutuhkan suatu lampu katoda berongga yang berbeda-beda untuk setiap
unsur sebagai sumber nyala.
3. Ditemukan adanya beberapa gangguan yaitu : gangguan spektral, kimia dan
fisika.

2.5 CONTOH ANALISIS MENGGUNAKAN AAS


Salah satu contoh penggunaan alat Spektrofotometer Serapan Atom ini ialah
untuk metode pengambilan sampel dan pengukuran absorbansi terhadap sampel air
dari 2 sungai yang berbeda untuk menentukan kadar Fe pada kedua sampel (Ita Tri
Wahyuni, 2012).

METODOLOGI PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
Alat Bahan
Pipet tetes Air sungai Mahakam
Corong Air sungai Karang Mumus
Botol semprot Tisu
Labu Erlenmeyer Aquadest
Kuvet Larutan induk Fe 100 ppm
Rak kuvet Kertas saring
Labu takar
Gelas ukur
Pipet gondok
Spektrofotometer Serapan Atom

B. Prosedur Percobaan
1. Pembuatan Larutan Standar
• Disaring kedua sampel air menggunakan kertas saring.
• Dibuat 5 larutan blanko Fe dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3
pmm, dan 4 ppm masing-masing sebanyak 0,5 mL, 1 mL, 1.5 mL, 2
mL ke dalam masing-masing labu takar 50 mL kemudian diencerkan
dengan aquadest. Homogenkan.
• Dituangkan masing-masing larutan blanko kedalam kuvet hingga tanda
terra.
• Diberi kertas label dan diletakkan di rak kuvet.

2. Pembuatan Larutan Pembanding


• Dimasukkan larutan sampel air sungai yang telah disaring ke dalam
kuvet berbeda sampai tanda terra.
• Diberi kertas label dan diberi label tanda serta letakkan di rak kuvet.

3. Pengukuran Serapan Atom


• Diletakkan semua sampel dalam kuvet ke alat asc.
• Beri jarak antar larutan pembanding dengan larutan standar.
• Dibuka kran Gas asitilena sedikit. Kemudian ditutup.
• Dibuka kran pembuka Gas.
• Dinyalakan Komputer.
• Dinyalakan instrumen AAS.
• Di klik Connect pada kotak dialog yang muncul dan tunggu hingga
instalasi selesai yang ditandai dengan semua item berwarna hijau,
kemudian ditekan Ok.
• Dipilih Next pada kotak dialog yang muncul.
• Diisi kotak kosong dengan elemen yang akan dianalisis.
• Dipilih Next dan program akan berjalan

HASIL DAN PERHITUNGAN


A. Hasil Pengamatan
Sampel Absorbansi
0 ppm -0,0083
1 ppm 0,0046
2 ppm 0,0166
3 ppm 0,279
4 ppm 0,0492
Air sungai Karang Mumus 0,0146
Air sungai Mahakam -0,0018

B. Perhitungan
1. Penentuan Kadar Fe Pada Air Sungai Karang Mumus
𝑦 = 𝑎𝑥 − 𝑏
𝑦 = 0,013𝑥 − 0.009
0,0146 = 0,013𝑥 − 0,009
0,0236
𝑥= = 1,8154 𝑝𝑝𝑚
0,013

2. Penentuan Kadar Fe Pada Air Sungai Mahakam


𝑦 = 𝑎𝑥 − 𝑏
𝑦 = 0,013𝑥 − 0.009
−0,0018 = 0,013𝑥 − 0,009
0,0072
𝑥= 0,013
= 0,5538 𝑝𝑝𝑚

C. Grafik

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan pada pengukuran daya serap atom terhadap
cahaya, digunakan atom Fe sebagai patokannya. Didapat nilai absorbansi semakin
meningkat seiring kenaikan konsentrasi larutan ion Fe. Hal ini dikarenakan pada
konsentrasi yang tinggi, daya serap larutan terhadap cahaya semakin tinggi pula.
Lalu pada ion Fe 0 ppm, nilai absorbansinya negatif, hal ini dikarenakan tidak
ditemukannya kandungan Fe didalamnya.
Pada percobaan pengukuran absorbansi terhadap sampel yaitu air sungai
Mahakam dan air sungai Karang Mumus sebelum diukur absorbansinya, kedua
sampel tersebut harus disaring terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk
menghilangkan padatan kasar. Berdasarkan hasil pengukuran, didapat nilai
absorbansi air sungai Mahakam lebih tinggi dibandingkan dengan air sungai Karang
Mumus. Fakta ini didukung dengan nyala api pada spektrofotometer yang lebih
besar dibandingkan sampel air sungai Karang Mumus, karena adanya pencemaran
oleh batu bara yang diangkut oleh kapal yang melewati sungai Mahakam. Nilai
absorbansi pada sampel air sungai Karang Mumus bernilai negatif karena tidak
ditemukan kandungan Fe yang berarti normalnya kadar Fe dalam air sungai (yang
digunakan untuk diolah menjadi air minum).
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan ulasan mengenai instrumen Atomic Absorption Spectrophotometry


(AAS) diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
• Spektrofotometer Serapan Atom merupakan alat yang digunakan pada metode analisis
untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan
absorbsi oleh atom bebas.
• Spektrofotometer Serapan Atom pada umumnya digunakan untuk menganalisis unsur.
• Bagian-bagian pada AAS diantaranya : Sumber Sinar Radiasi Resonansi, Sumber
Atomisasi, Tabung Gas, Ducting, Kompresor, Monokromator, Detektor, Rekorder, dan
Lampu Katoda.
• Dalam analisis secara Spektrofotometer teknik yang biasa dipergunakan antara lain :
Metode Standar Tunggal, Metode Kurva Kalibrasi dan Metode Adisi Standar.
• Urutan pemakaian Spektrofotometer Serapan Atom : Pertama-tama, Gas dibuka terlebih
dahulu. Kemudian Kompresor, Ducting, Main Unit, dan Computer secara berurutan.
Jika diperlukan, mengganti Lampu Katoda untuk unsur yang akan dianalisis.
• Ketidak akuratan pada pembacaan absorbansi suatu sampel bisa dikarenakan
terkontaminasinya sampel atau terjadi gangguan pada instrumen AAS.

SARAN

• Sebaiknya pembelajaran instrumen-instrumen kefarmasian disertai dengan praktikum


secara langsung agar mahasiswa dapat lebih memahami penggunaan instrument
tersebut.
• Perlunya disediakan instrumen kefarmasian yang memadai agar mendukung
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisa Kuantitatif Anorganik. EGC : Jakarta

Ristina, Maria. 2006. Petunjuk Praktikum Instrumen Kimia. STTN–Batan : Yogyakarta

Day, R.A. 1986. Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga : Jakarta

Underwood, A.L dan Day R.A. 2001. Analisa Kimia Kualitatif Edisi Keenam. Erlangga :
Jakarta

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-press

http://itatrie.blogspot.co.id [diakses pada 17 Februari 2018]

http://alextrisnol.wordpress.com [diakses pada 17 Ferbruari 2018]

http://eskrimsandwich.blogspot.co.id [diakses pada 17 Februari 2018]

Anda mungkin juga menyukai