Anda di halaman 1dari 4

Jenis-Jenis Agen Perubahan

Berikut ini jenis-jenis agen perubahan :


a) Agen perubahan internal

Adalah staf ahli dari dalam organisasi sendiri yang secara khusus dilatih untuk
melakukan pengembangan organisasi.

Keunggulan agen perubahan internal :

(1) Memahami organisasi secara mendalam

(2) Dapat melakukan hubungan dan kepercayaan yang diperlukan dalam perubahan.

Kelemahannya :

Sering dianggap sebagai agen yang hanya melihat permasalahan dari sisi manajemen
saja.

b) Agen perubahan eksternal

Adalah individu dari organisasi luar yang diminta atau ditugasi untuk memberikan
usulan tentang perubahan

Keuntungan agen perubahan eksternal

(1) Dapat memandang permasalahan lebih obyektif.

(2) Dapat membawa gagasan baru.

(3) Pekerja lebih terbuka mengemukakan permasalahan yang dihadapi oleh organisasi.

(4) Pekerja lebih percaya pada kemampuan orang luar daripada orang dalam.

Kelemahannya :

(1) Sulit menanamkan rasa kepercayaan.


(2) Kurang pemahamannya terhadap organisasi sehingga kurang mampu melihat
permasalahan secara proporsional.

(3) Cenderung memberikan rekomendasi perubahan yang drastis.

c) Agen perubahan eksternal - internal

Adalah berusaha memadukan orang-orang dari dalam dan dari luar organisasi
dengan mengambil manfaat atau kelebihan dan mengurangi kelemahan dari agen
perubahan internal dan eksternal. Dengan memadukan antara orang luar yang
umumnya memiliki keahlian, pengalaman dan wawasan baru dengan orang dalam yang
mengetahui organisasi dan permasalahan secara mendalam sehingga perubahan yang
direkomendasi cenderung dapat diterima semua pihak.

Model yang digunakan oleh agen perubahan untuk melaksanakan perubahan menurut
Indriyo Gitosudarmo dan Nyoman Sudita (1997) adalah sebagai berikut.

1) Model kesehatan (diagnosa masalah dan merekomendasi tindakan).

2) Model dokter-pasien (merekomendasi aktivitas untuk meningkatkan prestasi).

3) Model rekayasa (agen perubahan mencetuskan ide baru untuk melakukan perubahan
misalnya merancang program imbalan baru).

4) Model proses (kerjasama antara manajemen dengan agen perubahan untuk melakukan
perubahan).

Proses Pengembangan Organisasi

Nimran (1997) mengatakan pada dasarnya pengembangan organisasi adalah suatu


pendekatan situasional atau kontingensi untuk meningkatkan efektivitas organisasi.
Meskipun teknik yang digunakan berbeda beda, prosesnya mencakup tahap-tahap sebagai
berikut.

1) Pengenalan masalah misalnya: konflik antar unit organisasi yang ada, semangat kerja
rendah, biaya operasional terus meningkat.
2) Diagnosis organisasional: manajer puncak yang mengundang para ahli pengembangan
organisasi, lalu keduanya sepakat yang akan perlunya melakukan diagnosis
organisasional, yang diikuti dengan pengumpulan informasi oleh ahli pengembangan
organisasi (konsultan).

3) Pengembangan strategi perubahan, di mana konsultan mengemukakan hasil temuannya


dan menawarkan sejumlałı alternatif, disertai dengan petunjuk untuk kemudahan
proses pengembangan.

4) Intervensi, merupakan langkah yang menyangkut suatu perubahan atas dasar


rekomendasi yang sebelumnya diperoleh melalui pengembangan strategi
pengembangan, bentuknya berupa perubahan struktur organisasi, pembentukan tim
yang bertugas untuk mendorong semangat perusahaan atau tim yang bertanggung
jawab untuk program penekanan biaya.

5) Pengukuran dan evaluasi, dilakukan setelah beberapa saat pengembangan dilaksanakan


misalnya caturwulan, semester atau setahun, tujuannya untuk mengukur efektivitas
upaya pengembangan yang telah dilaksanakan.

Kesimpulan:
Jenis-Jenis Agen Perubahan

Terdapat tiga jenis agen perubahan yaitu agen perubahan internal, agen perubahan
eksternal dan agen perubahan eksternal – internal. Keunggulan agen perubahan internal:
memahami organisasi secara mendalam, dapat melakukan hubungan dan kepercayaan yang
diperlukan dalam perubahan. Kelemahannya: sering dianggap sebagai agen yang hanya
melihat permasalahan dari sisi manajemen saja. Keuntungan agen perubahan eksternal:
dapat memandang permasalahan lebih obyektif, dapat membawa gagasan baru.
Kelemahannya: sulit menanamkan rasa kepercayaan, kurang pemahamannya terhadap
organisasi sehingga kurang mampu melihat permasalahan secara proporsional. Model yang
digunakan oleh agen perubahan untuk melaksanakan perubahan menurut Indriyo
Gitosudarmo dan Nyoman Sudita (1997) adalah sebagai berikut, model kesehatan, model
dokter-pasien, model rekayasa dan model proses

Proses Pengembangan Organisasi

Nimran (1997) mengatakan pada dasarnya pengembangan organisasi adalah suatu


pendekatan situasional atau kontingensi untuk meningkatkan efektivitas organisasi.
Meskipun teknik yang digunakan berbeda beda, prosesnya mencakup tahap-tahap sebagai
berikut, pengenalan masalah, diagnosis organisasional, pengembangan strategi perubahan .
intervensi dan pengukuran dan evaluasi