Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM METODE PEMISAHAN KIMIA

PERCOBAAN III

TETAPAN DISTRIBUSI (KD) IOD PADA EKSTRAKSI CAIR-CAIR

OLEH :

NAMA : NURUL HASANA AKMAR

STAMBUK : F1C1 17 024

KELOMPOK : X (SEPULUH)

ASISTEN : SAMUEL MANGRURA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbagai jenis bahan terdapat di alam memiliki jenis, bentuk dan

komposisi yang beragam. Dalam pemanfaatanya, manusia dapat mengambil

seluruh zat dari bahan tersebut atau dapat mengambil beberapa zat yang

dibutuhkannya saja dari suatu bahan. Untuk dapat mengambil atau memperoleh

zat tersebut dapat dilakukan dengan berbagai proses, salah satunya yaitu ekstraksi.

Ekstraksi adalah proses pemisahan satu atau lebih komponenn dari suatu

campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) berdasarkan prinsip beda

kelarutanProses ekstraksi terdiri dari dua langkah, langkah pertama adalah

pencampuran antara umpan dengan solven, pada langkah ini tejadi perpindahan

massa solut dari fasa diluen ke fasa solven. Bila dilaksanakan pada waktu yang

sangat lama maka kecepatan perpindahan massa solut dari fasa diluen ke fasa

solven dan sebaliknya sama atau kecepatan perpindahan massa solut netto sama

dengan nol. Keadaan ini disebut dengan keseimbangan (Petmawati dkk., 2017).

Proses ekstraksi dapat dibedakan menurut bentuk campurannya menjadi

dua jenis, yaitu padat-cair dan cair-cair. Zat yang diekstraksi dalam ekstraksi

padat-cair yaitu berbentuk padatan. Sedangkan pada ekstraksi cai-cair, zat yang

diekstraksi merupakan bentuk cairan. Ekstraksi cair-cair inilah yang biasa disebut

ekstraksi pelarut.

Ekstraksi cair dapat juga disebut ekstraksi pelarut. Prinsip metode ini

didasarkan pada zat terlarut dengan perbandingan tertentu antar dua pelarut yang

tidak saling bercampur seperti eter, kloroform, karbontetra klorida, dan karbon
disulfida. Ekstraksi cair-cair sangat berguna untuk memisahkan analit yang dituju

dari penganggu dengan cara melakukan partisi sampel antardua pelarut yang tidak

saling campur. Ekstraksi cair-cair ditentukan oleh distribusi Nerst atau hukum

partisi. Perbandingan konsentrasi pada keadaan setimbang didalam dua fase

disebut dengan koefisien distribusi atau koefisien partisi (KD). Berdasarkan latar

belakang di atas maka dilakukan percobaan tetapan distribusi (KD) iod pada

ekstraksi cair-cair.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam percobaaan tetapan distribusi (KD) iod pada

ekstraksi cair-cair yaitu bagaimana menentukan nilai KD iod untuk system

organik/iod.

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaaan tetapan distribusi (KD) iod

pada ekstraksi cair-cair yaitu untuk menentukan nilai KD iod untuk system

organik/iod.

D. Manfaat

Manfaat yang akan diperoleh dalam percobaaan tetapan distribusi (KD) iod

pada ekstraksi cair-cair yaitu dapat menentukan nilai KD iod untuk system

organik/iod.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Ekstraksi merupakan langkah utama dalam penelitian pengambilan

komponen yang larut dari bahan atau campuran seperti pengambilan senyawa

pektin pada albedo durian. Teknik ekstraksi yang digunakan selama ini yaitu

maserasi, soxhlet, dan hidrodistilasi yang pada umumnya berdasarkan pada

pemilihan dan penggunaan sejumlah besar volume pelarut yang tepat disertai

dengan pemanfaatan suhu dan pengadukan. Teknik tersebut membutuhkan banyak

waktu dan volume yang besar serta hasil yang sedikit (Susanti dkk., 2017)

Ekstraksi cair-cair melibatkan teknik penggunaan corong pemisah untuk

beberapa ekstraksi sampel dengan pelarut organik pilihan dengan tujuan untuk

mencapainya pemulihan yang baik dari analit yang diinginkan. Tekniknya

membutuhkan pengocok sampel cairan yang kuat dengan organik pelarut dalam

sepotong gelas berbentuk corong untuk pasangan menit, diikuti oleh pemisahan

lapisan organik (ekstrak) dari fase berair (Adeniji dkk., 2017).

Hukum distribusi Nerst, bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling

bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka

akan terjadi pembagian kelarutan. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut

organik dan pelarut air. Dalam praktek solut akan terdistribusi dengan sendirinya

ke dalam dua pelarut tersebut setelah dikocok dan dibiarkan terpisah.

Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap, dan

merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. T etapan tersebut disebut tetapan

distribusi atau koefisien distribusi. Koefisien distribusi dinyatakan dengan rumus

sebagai berikut:
C2 Co
Kd = C1 atau Kd = Ca

dimana Kd = koefisien distribusi dan C1,C2, Co, dan Ca masing-masing adalah

konsentrasi solut pada pelarut 1, 2, organik, dan air (Purwani, 2014).

Kelarutan adalah salah satu parameter penting untuk mencapai konsentrasi

yang diinginkan. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Zat Terlarut

dalam cairan yaitu temperature, struktur molekul zat terlarut, sifat pelarut,

karakteristik kristal, ukuran partikel padatan, pH, formasi kompleks, zat pelarut,

dan polaritas. Polaritas zat terlarut dan pelarut molekul akan mempengaruhi

kelarutan. Prinsip ‘like dissolves like’ 'berarti molekul terlarut non-polar akan

larut dalam pelarut non-polar dan molekul terlarut polar akan larut dalam pelarut

polar (Deshmukh dkk., 2017).

Iodium adalah elemen nonlogam dan mikronutrien penting yang

diperlukan tubuh dalam jumlah renik. Kekurangan iodium dapat mengakibatkan

kerusakan otak, keterlambatan mental, kretinisme dan gondok endemik. Selain

sebagai suplemen makanan, iodium juga dapat ditambahkan kedalam obat-obatan

sebagai multivitamin dan antiseptik. Sekitar 75% iodium di dalam tubuh manusia,

ditemukan dalam kelenjar tiroid dan digunakan untuk mensintesis hormon

tiroksin. Horrnon ini sangat penting bagi pertumbuhan, pengaturan fungsi otot

saraf, dan untuk menjaga fungsi reproduksi. Sebagai komoditi pangan potensial,

garam beriodium dapat dibuat dengan memfortifikasi iodium (KIO3) sebagai

sumber iodium, dengan persentase konsumsi iodium adalah 90% berasal dari

makanan dan hanya 10% dari air (Subhan, 2014).


Kloroform adalah senyawa organik dengan rumus molekul CHCl3 yang

tidak berwarna, berbau manis, cairan padat, dan sifat-sifat fisik kloroformnya

adalah massa molar sebesar 119,38 g/mol, kerapatannya sebesar 1,483 g/cm3, titik

leleh -63,5°C, serta titik didih sebesar 61,2 °C.

Gambar struktur kloroform (Al-Hamdani dkk., 2014).


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Percobaan tetapan distribusi (KD) iod pada ekstraksi cair-cair pada hari

Selasa tanggal 23April 2019 pukul 13.00-15.30 WITA yang bertempat di

Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaaan tetapan distribusi (KD) iod pada

ekstraksi cair-cair adalah corong pisah 50 mL atau 100 mL, gelas piala 100 mL,

gelas ukur 50 mL, pipet ukur 25 mL, Erlenmeyer, buret asam 50 mL, timbangan

analitik, statif dan klem.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaaan tetapan distribusi (KD) iod

pada ekstraksi cair-cair adalah padatan iod, Na2S2O3 0,01 M, H2SO4 2 M,larutan

kanji 0,2 %, kloroform (CHCl3), aluminium foil, tisu dan akuades.


C. Prosedur Kerja

0,125 g padatan iod

- Dilarutkan dalam 50 ml akuades


- dipindahkan ke dalam corong pisah
sebanyak 25 mL

25 mL larutan iod dalam corong pisah

- ditambahkan 5 mL kloroform lalu dikocok


beberapa menit hingga terbentuk 2 fasa
- didiamkan beberapa saat
- dikeluarkan lapisana irnya

Lapisan air Lapisan organik

- ditambah 4 mL H2SO4
- ditambah 1 ml larutan kanji 0,2%
- dititrasi dengan Na2S2O3 0,01 M
- dihitung gram iod dalam air
- dihitung KD iodnya

Hasik Pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HasilPengamatan

1. Table Hasil Pengamatan

No Perlakuan HasilPengamatan
1. 25 ml larutan Iod + 5 mL Terbentuk 2 lapisan :
kloroform, dikocok, dan - Lapisan bening pelarut air dan
didiamkan - Lapisan merah pelarut organik
2. Pelarut air diasamkan dengan 4 Tidak terjadi perubahan warna yang
mL H2SO4 2 M + 1 mL larutan diinginkan
kanji, dititrasi dengan NO2S2O3
0,01 M dengan Volume yang
terpakai 3 mL

2. Analisis Data

1. Reaksi

2I2 + 2Na2S2O3 4NaI + NaS4O6

2. Perhitungan

Dik : Wo Iod = 0,125 gram

Volume air = 50 mL

Volume CHCl3 = 5 mL

Volume Na2S2O3 = 3 mL

Dit : KDIod = ……..?


Penyelesaian :

 Gram iod yang terlarut dalam pelarut air (Wa)

50 g
Wa = 25 g x V Na2S2O3 x M Na2S2O3 x BM I2

= 2 x 0,003L x 0,01 mol/L x 254 gr/mol

= 0,01524 gram

 Gram iod yang terlarut dalam pelarut organik (Worg)

Worg = Wo - Wa

= 0,125 gram – 0,01524 gram

= 0,10976gram

Wa/Vair
 KD =
(Wo-Wa)/S

0,01524 g⁄50 mL
=
0,10976 g⁄3 mL

= 0,00833

B. Pembahasan

Ekstraksi merupakan metode pemisahan mirip distilasi. Metode ekstraksi

pada awalnya didasarkan pada perbedaan kelarutan komponen-komponen yang

akan dipisahkan pada beberapa jenis pelarut. Proses ekstraksi untuk definisi

pemisahan kimia merupakan cara memisahkan zat terlarut melalui dua buah

pelarut (biasanya cair) yang dapat melarutkan zat tersebut namun kedua pelarut ini

tidak dapat saling melarutkan (immiscible) ( Wonorahardjo, 2018). Percobaan ini

menggunakan teknik ekstraksi cair-cair dengan tujuan untuk menentukan nilai KD

iod pada system organik.


Percobaan ini dilakukan beberapa perlakuan. Perlakuan pertama, larutan

iod dicampur dengan kloroform dimasukkan ke dalam corong pisah dan dikocok

selama beberapa menit agar iod dapat terdistribusi dengan sempurna baik kedalam

air maupun dalam kloroform dan terbentuk dua fasa. Hal ini telah sesuai dengan

Hukum Nernst yang mengatakan bahwa jika dalam dua pelarut yang tidak saling

bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut, maka

akan terjadi pembagian kelarutan yaitu sebagian terdistribusi dalam fasa organik

dan sebagiannya terdistribusi lagi kedalam fasa air.

Larutan kemudian didiamkan dan dibiarkan terpisah hingga membentuk

dua lapisan dalam corong pisah. Lapisan atas adalah lapisan air dan lapisan bawah

adalah kloroform. Dua lapisan ini terbentuk karena adanya perbedaan sifat

kepolarannya yakni air bersifat polar sedangkan pelarut organik yaitu kloroform

bersifat nonpolar. Lapisan kloroform berada pada bagian bawah karena massa

jenis air lebih rendah dari kloroform yaitu 0,1 g/mL sedangkan massa jenis

kloroform 1,489 g/mL. Salah satu faktor yang mempengaruhi koefisisen distribusi

yaitu konsentarsi zat terlarut dalam pelarut. Selanjutnya, lapisan pada tiap-tiap

corong di keluarkan dengan cara pada lapisan kloroform dikeluarkan dibawah dan

pada lapisan air dikeluarkan diatas mulut corong dan di tempatkan dalam

Erlenmeyer yang berbeda. Metode ini merupakan salah satu metode pemisahan

sederhana yang dilakukan berdasarkan dengan perbedaan kepolaran dan massa

jenis, dimana prinsip kerjanya yaitu pengocokan, pendiaman, dan pemisahan

larutan.
Selanjutnya, larutan tersebut diasamkan dengan H2SO4, dan larutan kanji.

Larutan kanji tersebut berfungsi sebagai indikator, lalu larutan tersebut secepatnya

dititrasidengan Na2S2O3. Adapun volume larutan Na2S2O3 yang digunakan pada

saat proses titrasi yaitu 3 mL. Adapun nilai KD yang diperoleh yaitu 0,00833.

Larutan iod adalah larutan yang bersifat semipolar dan akan terdisistribusi lebih

banyak kedalam pelarut nonpolar karena iod bersifat semipolar yang cenderung

larut kedalam pelarut nonpolar dibandingkan polar (Svehla, 1985).


DAFTAR PUSTAKA

Adeniji, A. O., O.O. Okoh dan A. I. Okoh, 2017, Analytical Methods for the
Determination of the Distribution of Total Petroleum Hydrocarbons in the
Water and Sediment of Aquatic Systems, Hindawi Journal of Chemistry,
doi.org/10.1155/2017/5178937.

Deshkmukh, A. S.,Kundan J. T. dan Vijay R. M., 2017, Solubility Enhancement


Techniques for Poorly Water-Soluble Drugs, International Journal of
Pharmaceutical Sciences and Nanotechnology, 10 (3).

Mtewa, A. G., Serawit D., Felicien M. K., Amanjot A. dan Duncan C. S., 2018,
General Extraction, Isolation and Characterization Techniques in Drug
Discovery: A Review, International Journal of Sciences: Basic and
Applied Research (IJSBAR), 38 (1).

Sathya M., Elumalai S. dan Muthuraman G., 2015, Sensitive and Selective
Method for Liquid-Liquid Extraction of Cationic Dye From Aqueous
Solution, International Journal of Recent Scientific Research, 6 (3).

Wonorahardjo, S.,2018, Metode-MetodePemisahan Kimia, Indeks : Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai