Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL

DESAIN INOVATIF

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)

RSUD AWS SAMARINDA RUANG ANGSOKA

“Pengaruh Terapi Music Terhadap Tingkat Ansietas Pasien Pre

Operatif”

Oleh :

Al Della Noviana Asgar

NIM. P07220418006

PRODI PROFESI NERS JURUSAN KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES KALIMANTAN TIMUR

TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ansietas adalah suatu perasaan takut yang berasal dari eksternal atau internal

sehingga tubuh memiliki respons secara perilaku, emosional, kognitif, dan fisik (Videbeck,

2011). Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai

respon otonom (sumber tidak diketahui oleh individu) sehingga individu akan

meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi (NANDA, 2015). Ansietas adalah

kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak berdaya dan

respons emosional terhadap penilaian sesuatu. Gangguan ansietas adalah masalah psikiatri

yang paling sering terjadi di Amerika Serikat (Stuart, 2013).

Tindakan operasi baik elektif maupun kedaruratan adalah peristiwa atau

kejadian kompleks yang menegangkan hamper untuk semua pasien. Tahapan-tahapan

pada operasi harus dilakukan dengan baik dan benar, terutama pada fase preoperasi

karena tahap ini merupakan tahapan awal keperawatan perioperatif. Kesalahan ditahap ini

akan berakibat fatal pada tahap berikutnya.

Kecemasan merupakan gejala yang paling sering muncul pada tahap

preoperasi. Kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan adanya

perubahan secara fisik maupun psikologis yang akhirnya dapat meningkatkan kerja saraf

simpatis dan akan terjadi peningkatan denyut jantung, frekuensi napas, tekanan

darah, keringat dingin, merasa mulas, gangguan perkemihan, dan secara umum

mengurangi tingkat energy pada pasien sehingga merugikan pasien itu sendiri Untuk

menurunkan efek dari penggunaan obat-obatan dalam mengatasi kecemasan

diperlukan terapi komplementer atau terapi pelengkap yang dapat menangani

tingkat kecemasan. Terapi komplementer merupakan terapi holistis atau terapi

nonbiomedis, Salah satu dari terapi komplementer yang sedang banyak dikembangkan di

bidang kesehatan saat ini adalah terapi musik.


B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan umum dari desain inovatif

ini, yaitu mengidentifikasi pengaruh terapi musik terhadap tingkat ansietas

preoperatif

2. Tujuan Khusus

Berdasarkan tujuan umum di atas, maka tujuan khusus dari desain inovatif

ini, yaitu:

a. Mengidentifikasi tingkat ansietas pasien preoperative

b. Mengidentifikasi pengaruh musik terhadap tingkat ansietas preoperative


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Ansietas

1. Pengertian

Ansietas adalah suatu perasaan takut yang berasal dari eksternal atau internal

sehingga tubuh memiliki respons secara perilaku, emosional, kognitif, dan fisik

(Videbeck, 2011). Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang

samar disertai respon otonom (sumber tidak diketahui oleh individu) sehingga individu

akan meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi (NANDA, 2015). Ansietas

adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak

berdaya dan respons emosional terhadap penilaian sesuatu. Gangguan ansietas adalah

masalah psikiatri yang paling sering terjadi di Amerika Serikat (Stuart, 2013).

Gangguan ansietas dapat membuat individu mengalami gangguan pikiran atau

konsentrasi. Mereka menjauhi situasi yang dapat membuat individu tersebut khawatir

(American Psychological Assosiation, 2017).

2. Penyebab Ansietas

Penyebab Ansietas Menurut Stuart (2013) terdapat tiga faktor penyebab terjadinya

ansietas, yaitu : a) Faktor biologis/ fisiologis, berupa ancaman yang mengancam akan

kebutuhan sehari-hari seperti kekurangan makanan, minuman, perlindungan dan

keamanan. Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine, obat-obatan yang

meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gamaaminobutirat (GABA), yang berperan

penting dalam mekanisme terjadinya ansietas. Selain itu riwayat keluarga mengalami

ansietas memiliki efek sebagai faktor predisposisi ansietas. b) Faktor psikososial, yaitu

ancaman terhadap konsep diri, kehilangan benda/ orang berharga, dan perubahan

status sosial/ ekonomi. c) Faktor perkembangan, ancaman yang menghadapi sesuai

usia perkembangan, yaitu masa bayi, masa remaja dan masa dewasa. 13 Selain tiga hal

di atas, Jiwo (2012) menambahkan bahwa individu yang menderita penyakit kronik
seperti diabetes melitus, kanker, penyakit jantung dapat menyebabkan terjadinya

ansietas. Penyakit kronik dapat menimbulkan kekhawatiran akan masa depan, selain

itu biaya pengobatan dan perawatan yang dilakukan juga akan menambah beban

pikiran.

3. Patofisiologi Ansietas

Sistem syaraf pusat menerima suatu persepsi ancaman. Persepsi ini timbul

akibat adanya rangsangan dari luar dan dalam yang berupa pengalaman masa lalu dan

faktor genetik. Kemudian rangsangan dipersepsi oleh panca indra, diteruskan dan

direspon oleh sistem syaraf pusat melibatkan jalur cortex cerebri – limbic system –

reticular activating system – hypothalamus yang memberikan impuls kepada kelenjar

hipofise untuk mensekresi mediator hormonal terhadap target organ yaitu kelenjar

adrenal yang kemudian memicu syaraf otonom melalui mediator hormonal yang lain

(Owen, 2016).

4. Tingkat Ansietas

Tingkat Ansietas Menurut Halter (2014) ada 4 klasifikasi tingkat ansietas yaitu

ansietas ringan, ansietas sedang, ansietas berat, dan panik.

a. Ansietas Ringan

Penyebab dari ansietas ringan biasanya karena pengalaman kehidupan sehari-hari

dan memungkinkan individu menjadi lebih fokus pada realitas. Individu akan

mengalami ketidaknyamanan, mudah marah, gelisah, atau adanya kebiasaan untuk

mengurangi ketegangan (seperti menggigit kuku, menekan jari-jari kaki atau

tangan). respons fisiologis yang terjadi pada ansietas ringan yaitu nadi dan

tekanan darah sedikit meningkat, adanya gangguan pada lambung, muka berkerut,

dan bibir bergetar. Respons kognitif dan afektif yang terjadi yaitu gangguan

konsentrasi, tidak dapat duduk tenang, dan suara kadang-kadang meninggi.

b. Ansietas Sedang

Pada ansietas sedang, lapang pandang individu menyemit. Selain itu individu

mengalami penurunan pendengaran, penglihatan, kurang menangkap informasi


dan menunjukkan kurangnya perhatian pada lingkungan. Terhambatnya

kemampuan untuk berpikir jernih, tapi masih ada kemampuan untuk belajar dan

memecahkan masalah meskipun tidak optimal. Respons fisiologis yang dialami

yaitu jantung berdebar, meningkatnya nadi dan respiratory rate, keringat dingin,

dan gejala somatik ringan (seperti gangguan lambung, sakit kepala, sering

berkemih). Terdengar suara sedikit bergetar. Ansietas ringan atau ansietas sedang

dapat menjadi sesuatu yang membangun karena kecemasan yang terjadi

merupakan sinyal bahwa individu tersebut membutuhkan perhatian atau kehidupan

individu tersebut dalam keadan bahaya.

c. Ansietas Berat

Semakin tinggi level ansietas, maka lapang pandang seseorang akan semakin

menurun atau menyempit. Seseorang yang mengalami ansietas berat hanya

mampu fokus pada satu hal dan mengalami kesulitan untuk memahami apa yang

terjadi. Pada level ini individu tidak memungkinkan untuk belajar dan

memecahkan masalah, bahkan bisa jadi individu tersebut linglung dan bingung.

Gejala somatik meningkat, gemetar, mengalami hiperventilasi, dan mengalami

ketakutan yang besar.

d. Panik

Panik Individu yang mengalami panik sulit untuk memahami kejadian di

lingkungan sekitar dan kehilangan rangsangan pada kenyataan. Kebiasaan yang

muncul yaitu mondarmandir, mengamuk, teriak, atau adanya penarikan dari

lingkungan sekitar. Adanya halusinasi dan persepsi sensorik yang palsu (melihat

seseorang atau objek yang tidak nyata). Tidak terkoordinasinya fisiologis dan

adanya gerakan impulsif. Pada tahap panik ini individu dapat mengalami

kelelahan. 18 Menurut Maramis (2003) gangguan panik ditandai dengan serangan

ansietas sekitar 15-30 menit per episode. Selama serangan panik, individu merasa

sangat ketakutan disertai jantung berdebar, nyeri dada, perasaan tercekik,


berkeringat, gemetar, mual, pusing, perasaan yang tidak real, dan takut mati.

Serangan panik dapat terjadi secara spontan. Frekuensinya bervariasi tiap individu.

5. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)

HARS merupakan salah satu kuesioner yang mengukur skala ansietas yang masih

digunakan sampai saat ini. Kuesioner terdiri atas 14 item. Masing-masing item

terdiri atas 0 (tidak terdapat) sampai 4 skor (terdapat). Apabila jumlah skor <17

ansietas ringan, 18-24 ansietas sedang, 25-30 ansietas berat. (Nursalam, 2013)

B. Konsep Terapi Musik

1. Definisi

Penggunaan musik sebagai terapi sebenarnya telah digunakan

manusia sejak jaman Yunani kuno dan mulai diterapkan pada masa Perang

Dunia I dan II. Terapi musik dalam bidang kedokteran dapat digunakan

untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik

mental, emosional atau spritual dengan menggunakan bunyi atau irama

tertentu (Samuel 2007). Terapi musik mempunyai tujuan untuk membantu

mengekspresikan perasaan, membantu rehabilitasi fisik, memberi pengaruh

positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi meningkatkan memori,

serta menyediakan kesempatan yang unik untuk berinteraksi dan

membangun kedekatan emosional. Terapi musik juga diharapkan dapat

membantu mengatasi stress, mencegah penyakit dan meringankan rasa

sakit (Djohan 2006).

Musik Klasik adalah sebuah musik yang dibuat dan ditampilkan oleh

orang yang terlatih secara professional melalui pendidikan musik. Musik

klasik juga merupakan suatu tradisi dalam menulis musik, yaitu ditulis

dalam bentuk notasi musik dan dimainkan sesuai dengan notasi yang

ditulis. Musik klasik adalah musik yang komposisinya lahir dari budaya
Eropa dan digolongkan melalui periodisasi tertentu (Kamus Besar Bahasa

Indonesia 2008). Macam dari musik klasik salah satunya adalah canon in d

major Pachelbel, musik klasik ini membuat suatu nuansa yang antara penuh

dengan semangat, sukacita, cinta kasih, harapan dan kepastian sehingga

menyegarkan jiwa

a. Manfaat Terapi Musik:

b. Mampu menutupi bunyi dan perasaan yang tidak menyenangkan.

c. Mampu memperlambat dan menyeimbangkan gelombang dalam

otak.

d. Mempengaruhi pernafasan.

e. Mempengaruhi denyut jantung, nadi dan tekanan darah manusia.

f. Bisa mengurangi ketegangan otot dan memperbaiki gerak dan

koordinasi tubuh.

g. Bisa mempengaruhi suhu tubuh manusia.

h. Bisa meningkatkan endorphin.

i. Bisa mengatur hormon (hubungannya dengan stres).

j. Mengubah persepsi tentang ruang dan waktu.

k. Bisa memperkuat memori dan kemampuan akademik

l. Bisa merangsang pencernaan.

m. Bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia.

n. Bisa meningkatkan penerimaaan secara tak sadar terhadap

simbolisme.

o. Bisa menimbulkan rasa aman dan sejahtera.

p. Bisa mengurangi rasa sakit

Penggunaan terapi musik telah terbukti bermanfaat bagi perkembangan

kognisi, perilaku serta kesehatan. Bahkan terapi musik juga telah digunakan
untuk menolong para korban dalam perang dunia I dan II. Dengan penggunaan

terapi musik maka para korban dilaporkan lebih cepat sembuh dan memiliki

kondisi lebih baik. Terapi musik juga mempunyai dampak lebih

berkepanjangan (long-last), berpengaruh terhadap keseluruhan kemampuan

(multiple), dan banyak laporan kemajuan kesehatan akibat intervensi terapi

musik. Terapi musik juga pernah di uji cobakan pada bayi. Bayi-bayi yang

baru lahir diletakkan dalam sebuah tempat tidur besar dan dikepala mereka

diletakkan headphone untuk mendengarkan musik, bila diperhatikan jari-jari

mereka akan bergerak seiring dengan ritme lagu yang mereka dengar. Terapi

musik dapat menyembuhkan warga Frankfurt yang menderita penyakit

keturunan yang menyakitkan dan sampai saat ini belum ada obatnya. Jaringan

ikatnya melemah hingga mengganggu organ dalam lainnya, termasuk jantung.

Sudah tiga kali mengalami serangan jantung ringan, pada mulanya musik dari

headphone selama 15 menit untuk membebaskan dari keadaan stress,

berdasarkan pantauan terhadap aktivitas ototnya. Setelah tiga minggu dirawat

dengan terapi musik, cuma 5 menit mendengarkan musik sudah bisa tenang.

Organ pendengaran pada manusia lebih baik daripada organ penglihatan. Salah

satu kemampuan dasar indera pendengaran adalah mendengar irama.

2. Cara Kerja Terapi Musik

Musik bersifat terapeutik artinya dapat menyembuhkan, salah satu

alasanya karena musik menghasilkan rangsangan ritmis yang kemudian di

tangkap melalui organ pendengaran dan diolah di dalam sistem saraf tubuh dan

kelenjar otak yang selanjutnya mereorganisasi interpretasi bunyi ke dalam

ritme internal pendengarannya. Ritme internal ini mempengaruhi metabolisme

tubuh manusia sehingga prosesnya berlangsung dengan lebih baik. Dengan

metabolisme yang lebih baik, tubuh akan mampu membangun sistem


kekebalan yang lebih baik, dan dengan sistem kekebalan yang lebih baik

menjadi lebih tangguh terhadap kemungkinan serangan penyakit (Satiadarma

2002).

Sebagian besar perubahan fisiologis tersebut terjadi akibat aktivitas dua

sistem neuroendokrin yang dikendalikan oleh hipotalamus yaitu sistem

simpatis dan sistem korteks adrenal (Prabowo & Regina 2007).

Hipotalamus juga dinamakan pusat stress otak karena fungsi gandanya

dalam keadaan darurat. Fungsi pertamanya mengaktifkan cabang simpatis dan

sistem otonom. Hipotalamus menghantarkan impuls saraf ke nukleus-nukleus

di batang otak yang mengendalikan fungsi sistem saraf otonom. Cabang

simpatis saraf otonom bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal

yang menghasilkan beberapa perubahan tubuh seperti peningkatan denyut

jantung dan peningkatan tekanan darah. Sistem simpatis juga menstimulasi

medulla adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan

norepinefrin ke dalam pembuluh darah, sehingga berdampak meningkatkan

denyut jantung dan tekanan darah, dan norepinefrin secara tidak langsung

melalui aksinya pada kelenjar hipofisis melepaskan gula dari hati. Adrenal

Corticotropin Hormon (ACTH) menstimulasi lapisan luar kelenjar adrenal

(korteks adrenal) yang menyebabkan pelepasan hormon (salah satu yang utama

adalah kortisol) yang meregulasi kadar glukosa dan mineral tertentu (Primadita

2011).

Salah satu manfaat musik sebagai terapi adalah self-mastery yaitu kemampuan

untuk mengendalikan diri. Musik mengandung vibrasi energi, vibrasi ini juga

mengaktifkan sel-sel di dalam diri seseorang, sehingga dengan aktifnya sel-sel

tersebut sistem kekebalan tubuh seseorang lebih berpeluang untuk aktif dan

meningkat fungsinya. Selain itu, musik dapat meningkatkan serotonin dan


pertumbuhan hormon yang sama baiknya dengan menurunkan hormon ACTH

(Setiadarama 2002).
BAB III

STRATEGI PERENCANAAN MASALAH

A. Jenis Intervensi

Terapi music pada pasien pre operatif

B. Tujuan

Tujuan dilakukan intervensi ini adalah untuk menurunkan tingkat ansietas pada

pasien pre operatif

C. Waktu

Terapi musik akan dilakukan pada tanggal 29 April – 02 Mei 2019

D. Setting

Terapi musik dilakukan di Ruang Angsoka, Rumah Sakit Umum Daerah Abdul

Wahab Sjahranie Samarinda

E. Media/Alat yang digunakan

1. Musik klasik

2. Handphone

3. Earphone

4. Hamilton Rating Scale For Anxiety

F. Prosedur Operasional Tindakan yang Dilakukan

1. Tahap Pra Interaksi

a) Menyiapkan alat dan bahan

b) Kontrak pasien untuk melakukan tindakan

2. Tahap Orientasi

a) Memberikan salam dan sapa nama pasien

b) Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan

c) Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien

3. Tahap Kerja
a) Melakukan pengkajian tingkat ansietas pasien menggunakan Hamilton

Rating Scale for Anxiety

b) Melakukan intervensi terapi musik

4. Tahap Terminasi

a) Melakukan evaluasi tindakan

b) Berpamitan dengan klien dan keluarga

c) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan