Anda di halaman 1dari 23

RESUME KONSELING BERPUSAT PRIBADI

TUGAS
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Konseling Humanistik
yang dibina oleh Dr. H. M. Ramli, M. A

OLEH:
Naya Sintiawan (170111600024)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
MARET 2019
KONSELING BERPUSAT PRIBADI

A. Tokoh Teori Konseling Berpusat Pribadi


Konseling bepusat pada pribadi didirikan dan dikembangkan oleh Carl
Ransom Rogers. Ia dilahirkan di Oak Park pada tanggal 8 Januari 1902 dan meninggal
dunia di La Jolla, California. Ayahnya adalah seorang kontraktor dan insinyur teknik
sipil. Keluarganya penuh perhatian dan kasih sayang, sangat praktis dan sederhana.
Rogers anak keempat dari enam orang bersaudara. Pada tahun 1919, Rogers
memasuki Universitas Chicago. Rogers mendapat gelar sarjana muda dibidang sejarah
tahun 1924. Pada saat itu ia hanya mengikuti satu matakuliah psikologi. Dan pada
tahun 1924, Rogers menikah dan dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.
Rogers kemudian memasuki Union Theological Seminary di New York.
Meskipun kuliah-kuliahnya sangat menarik dan merangsang dirinya, akhirnya ia
pindah ke Teachers College, Universitas Kolumbia dan memperoleh gelar M. A dan
Ph. D. Masing-masing pada tahun 1928 dan tahun 1931 dalam bidang psikologi
pendidikan dan klinis. Rogers bekerja di Rochester-New York antara tahun 1928
hingga tahun 1938. Di tempat ini, ia menangani anak-anak delingkuen dan kurang
mampu yang dikirimkan oleh beberapa lembaga dan pengadilan pada Chlid Study
Departement. Selama tahun 1939-1940, ia menjadi direktur Pusat Bimbingan
Rochester. Pada tahun 1940, ia pindah ke Universitas Negeri Ohio sebagai guru besar
psikologi klinis, dan tahun 1944-1945 ia menjadi direktur layanan konseling di
universitas tersebut.
Tahun 1945-1957 ia menjadi profesor psikologi dan sekretaris eksekutif pusat
konseling di Universitas Chicago. Pada tahun 1957 ia menjadi guru besar psikologi
dan psikiatri di Universitas Wisconsin, dan tahun 1964 ia bergabung dengan Western
Behavioral Sciences Institute (WBSI). Sejak tahun 1968 ia bekerja pada Center for
Studies of the Person di La Jolla, California. Beberapa buku yang dihasilkan Rogers
adalah Counseling and Psychoterapy (1942), Client Centered Therapy (1951), On
Becoming a Person (1961), Freedom to Learn (1969), Carl Rogers on Encounter
Groups (1970), Becoming Partners: Marriage and Its Alternatives (1972), Carl
Rogers on Personal Power (1977), dan A Way of Being (1980)

B. Sejarah Perkembangan Teori Konseling Berpusat Pribadi


Pendekatan konseling berpusat pribadi dikembangkan oleh Carl Ransom
Rogers pada tahun 1940-an. Munculnya pendekatan ini didasarkan pada konsep
psikologi humanistik sebagai reaksi terhadap directive counseling dan pendekatan
psikoanalisis. Arah perkembangan pendekatan ini perlu dikaji berdasarkan periode
perkembangan yang terjadi pada masing-masing periode.
Periode pertama tahun 1940-an awalnya bernama non directive counseling
yang menekankan pada penciptaan iklim permisif (membebaskan), memusatkan pada
teknik penerimaan dan klarifikasi guna membantu konseli memahami diri sendiri dan
situasi kehidupannya. Periode kedua tahun 1950-an berganti nama dengan client
centered therapy. Rogers memandang bahwa konseling tidak hanya cukup dengan
non direktif saja tetapi juga memfokuskan pada unsur afeksi individu dengan
menghadirkan sejumlah kondisi fasilitatif yang bisa membuat perubahan terapeutik.
Kondisi fasilitastif yang dimaksudkan dengan cara memunculkan empati, kongruen
dan acceptance atau yang biasa disesbut unconditional positive regard. Client
centered juga menekankan refleksi perasaan klien dan dunia pengalaman klien
sehingga mampu mengembangkan keselarasan konsep diri dan konsep diri idealnya.
Paradigma client centered ini diaplikasikan dalam bidang pendidikan (student
centered learning) di mana kondisi konseling diperlukan bagi perubahan klien.
Pengaruh paradigma client centered kemudian meluas ke bidang lain yang diawali
dengan terbitnya karya monumental Rogers yaitu “on becoming a person” yang
memfokuskan pada kesehatan mental dan bagaimana orang berfungsi secara utuh
(fully functioning person). Sekitar tahun 1980-an dan 1990-an merupakan
pengembangan pendekatan ini secara meluas dalam bidang pendidikan, industri,
kelompok, resolusi konflik, dan pencarian perdamaian dunia. Pendekatan ini memiliki
pengaruh/aplikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Ruang lingkup
pendekatan ini semakin meluas pada pengaruh person, seperti bagaimana individu
mendapatkan, memiliki, membagi atau melepas power atau kontrol atas dirinya
sendiri dan orang lain, sehingga pendekatan ini dikenal dengan tiga istilah yang sering
digunakan yaitu person centered approach, person centered therapy, atau person
centered counseling, (Corey, 2013).
Pendekatan humanistik menekankan terhadap pengalaman konseli saat
“sekarang dan di sini” (here and now) dibandingkan fokus pada akar permasalahan
saat masa kanak-kanak (psikodinamik) maupun pencapaian pola perilaku baru di
masa yang akan datang (behaviorisme). Oleh karenanya, pendekatan ini meletakkan
konseli sebagai pusat konseling, karena konseli adalah orang yang paling tahu tentang
dirinya dan dapat menemukan tingkah laku yang pantas bagi dirinya. Pendekatan
berpusat pada pribadi mendapatkan sambutan positif dari berbagai kalangan baik
ilmuwan maupun praktisi hingga saat ini karena dirasa masih relevan untuk dipelajari
dan diterapkan.

C. Hakikat Manusia Menurut Teori Konseling Berpusat Pribadi


Menurut pendekatan Person Centered manusia dipandang sebagai insan
rasional, makhluk sosial, realistis dan berkembang. Manusia memiliki perasaan
negatif dan emosi anti social merupakan hasil dari kefrustasian atas tidak
terpenuhinya impuls –impuls dasar, ide yang berhubungan dengan hirarki kebutuhan
Maslow. Contohnya tingkah laku agresif merupakan ekspresi frustasi dari tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar tentang cinta (love) dan belonging (Thompson, et, al,
2004, p.160).
Rogers membangun teorinya ini berdasarkan penelitian dan observasi
langsung terhadap peristiwa-peristiwa nyata, dimana pada akhirnya. ia memandang
bahwa manusia pada hakekatnya adalah baik. Beberapa konsepsi Rogers tentang
hakekat manusia (human being) adalah sebagai berikut:
1. Manusia adalah mahluk yang baik dan dapat dipercaya
Rogers yakin bahwa pada dasarnya manusia pada dasarnya adalah mahluk
yang baik dan dapat dipercaya. Kata – kata seperti trustworthy, reliable,
constructive and good adalah ciri – ciri bawaan manusia. Namun demikaian,
Rogers menyadari sepenuhnya bahwa manusia seringkali bertindak yang tidak
baik bahkan dengan cara – cara yang jahat. Namun, Rogers yakin bahwa tingkah
laku yang demikian itu muncul dari pertahanan diri yang menjauhkan manusia
dari hakikatnya sendiri. Bilamana pertahanan diri ini berkurang dan manusia
menjadi lebih terbuka kepada semua pengalaman, maka ia cenderung bertindak
sebagai manusia social yang baik
2. Manusia lebih bijak dari inteleknya
Rogers yakin bahwa manusia itu lebih bijak dari inteleknya, bilmana manusia
berfungsi dengan cara yang baik dan tidak defensive maka ia akan mempercayai
reaksi organismiknya secara keseluruhan yang sering kali menghasilkan penelitian
yang lebih baik ( walaupun lebih intuitif) dari pikiran sadarnya sendiri.
3. Manusia adalah mahluk yang mengalami
Yaitu mahluk yang merasakan, memikirkan, berkehendak dan
mempertanyakan. Rogers yakin bahwa ilmu yang memadai tentang manusia harus
memperhatikan ciri ini. Ia juga meyakini bahwa inti kehidupan yang bernilai
terletak dalam mengalami ini yaitu pribadi yang terdalam (inner person).
4. Kehidupan pada saat ini, kehidupan ialah hidup sekarang
Rogers mengartikan keyakinan untuk menekan bahwa kehidupn lebih dari
sekedar tingkah laku atomistic masa lalu yang ditentukan oleh peristiwa –
peristiwa masa lalu dan nilai kehidupan terletak pada saat sekarang bukan pada
masa lalu atau beberapa saat yang akan datang yang diharapkan.
5. Manusia adalah mahluk yang bersifat subjektif
Rogers mengatakan bahwa pada dasarnya manusia hidup dalam dunia pribadi
dan subjektifnya sendiri. Jadi tingkah laku manusia hanya dapat dipahami
berdasarkan subjektifnya yaitu bagaimana individu itu memandang diri dan
lingkungannya.
6. Hubungan manusiawi yang mendalam merupakan salah satu kebutuhan yang
tepokok manusia
Pada awal tulisannya Rogers memperhatikan pentingnya “hubungan aku-
engkau”, namun akihr – akhir ini ia memberikan penekanan yang lebih besar pada
tema tersebut, sekarang ia menekan bahwa setiap individu memilki kebutuhan
untuk mengadakan hubungan komunikatif timbal balik yang mendalam, spontan
dan bebas. Penekanan ini sesuai dengan kerja kelompok pertemuan (encounter
group work) yang dikembangkan Rogers dan penekanan terhadap ketulusan dan
keaslian konselor serta pengungkapan perasaan dalam hubungan konseling.
7. Manusia memiliki kecenderungan kearah aktualisasi
Pandangan rogers mengenai tendensi aktualisasi menekankan beberapa
gagasan sebagai berikut:
a. Kecenderungan aktualisasi merupakan kekuatan pendorong yang utama bagi
organism manusia
b. Kecenderungan aktualisasi itu merupakan fungsi keseluruhan organism,
bukan beberapa bagian daripadanya
c. Tendensi aktualisasi merupakan konsepsi yang luas dan meliputi kebutuhan –
kebutuhan dan moti – motif yang biasa
d. Kehidupan adalah proses yang aktif bukan pasif. Rogers memandangan
organism sebagai pengambil inisiatif yang aktif dan berarah pada tujuan dan
ia menolak konsep kehidupan “ organism kosong”
e. Manusia memiliki kemampuan dan kecenderungan atau motivasi untuk
mengaktualisasikan dirinya

Pandangan lain tentang hakikat manusia dalam perspektif pendekatan


konseling berpusat pribadi (Thompson et.al., 2004) yaitu:

1. Memiliki worth dan dignity dalam diri sehingga layak diberikan penghargaan
(respect)
2. Memiliki kapasitas dan hal untuk mengatur dirinya sendiri dan mendapat
kesempatan membuat penilaian yang bijaksana
3. Dapat memilih nilainya sendiri
4. Dapat belajar untuk bertanggungjawab secara konstruktif
5. Memiliki kapasitas untuk mengatasi perasaan, pikiran dan tingkah lakunya
6. Memiliki potensi untuk berubah secara konstruktif dan dapat berkembang ke
arah hidup yang penuh dan memuaskan (full and satisfying life) atau aktualisasi
diri.
D. Perkembangan Perilaku Menurut Teori Konseling Berpusat Pribadi
1. Struktur Kepribadian
Rogers memandang kepribadian sebagai suatu kesatuan yang mencakup tigas
unsur pokok, yaitu organisme, medan fendomena, dan self.
a. Organisme (Organism).
Organisme merupakan salah satu aspek kepribadian yang merupakan suatu
keseluruhan individu. Sebagai suatu kebulatan diri, organisme memiliki ciri-
ciri sebagai berikut:
1) Organisme terdiri atas pikiran, perasaan, tingkah laku, dan wadah fisik
baik disadari maupun tidak.
2) Organisme mereaksi sebagai suatu kebulatan terhadap medan fenomena
dalam upaya memuaskan kebutuhan-kebutuhannya.
3) Organisme memiliki satu kebutuhan dasar untuk beraktualisasi yaitu
dorongan untuk membina, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
4) Dalam menghadapi pengalaman, organisme mungkin melambangkannya
dalam kesadaran, atau menolak dan atau mengabaikannya.
b. Medan Fenomena (Phenomenal Field).
Medan fenomena merupakan dunia pribadi setiap individu dan menjadi
sumber kerangka acuan internal dalam memandang kehidupan. Medan
fenomena terdiri dari semua hal yang dialami individu. Beberapa peristiwa ada
yang diamati secara sadar dan ada pula yang diamati secara tidak sadar.
Phenomenal Field merupakan pengalaman-pengalaman hidup yang bermakna
secara psikologis bagi individu, dapat berupa pengetahuan, pengasuhan
orangtua, dan hubungan pertemanan.
c. Self (Diri).
Self merupakan suatu konsep kepribadian yang paling pokok dalam teori
Rogers. Dalam kaitan ini, Rogers mengartikan self sebagai bagian yang
terdiferensiasi atau terpisah dari medan fenomena yang berupa serangkaian
persepsi dan nilai-nilai yang bersangkutan dengan “aku” dan “ku” (I dan me).
Dalam struktur kepribadian self, merupakan pusat berkembangnya
kepribadian. Self berkembang karena interaksi organisme dengan
lingkungannya, terutama dari introyeksi nilai-nilai orang lain. Kesadaran
tentang self akan membantu seseorang membedakan dirinya dari orang lain.
Dalam hal ini, untuk menemukan self yang sehat (the real self), maka individu
memerlukan penghargaan, kehangatan, perhatian, dan penerimaan tanpa
syarat. Akan tetapi, jika seseorang akan merasa berharga hanya bila bertingkah
laku sesuai dengan yang dikehendaki orang lain, maka yang akan terbentuk
adalah ideal self. Dalam pandangan ini, masalah muncul karena adanya
ketidaksesuaian antara ideal self dengan real self.
2. Pribadi Sehat dan Bermasalah
a. Pribadi Sehat
Rogers menyebut pribadi sehat dengan istilah “fully functioning
person” yaitu pribadi yang berfungsi secara sempurna atau penuh, untuk
menunjukkan bahwa pribadi sehat itu tidak statis melainkan berada dalam
proses yang terus menerus berkembang. Jadi pribadi yang berfungsi penuh itu
merupakan pribadi yang sedang dalam proses, yaitu pribadi yang terus
menerus bertumbuh dan berkembang.
Pribadi sehat yang diistilahkan “pribadi yang berfungsi secara penuh:
merupakan pribadi yang ideal. Pribadi ideal ini dapat dikenali dari
karakteristiknya, yaitu:
1) Keserasian (Congruence).
Keserasian antara diri dan pengalaman. Pengalaman diri dilambangkan
secara tepat dan dimasukkan ke dalam konsep diri dalam bentuk lambang
yang tepat, maka akan terjadi keserasian antara diri dan pengalaman. Jika
hal ini benar terjadi terhadap semua pengalaman diri, maka individu akan
menjadi pribadi yang berfungsi secara penuh.
2) Keterbukaan terhadap pengalaman.
Bila individu berada dalam keadaan bebas ancaman, maka ia akan terbuka
terhadap pengalamannya. Dalam pribadi hipotesis yang terbuka
sepenuhnya terhadap pengalamannya, konsep dirinya akan
disimbolisasikan dalam kesadaran yang akan serasi sepenuhnya dengan
pengalamannya.
3) Penyesuaian diri secara psikologis.
Penyesuaian diri secara psikologis yang optimal akan terjadi bilamana
konsep diri sedemikian rupa sehingga semua pengalaman dapat
diasimilasikan pada tingkat simbolik ke dalam keseluruhan struktur diri.
Jadi penyesuaian diri secara psikologis yang optimal itu sinonim dengan
keserasian diri dan pengalaman secara sempurna, atau keterbukaan
terhadap pengalaman secara sempurna.
4) Ekstensionalitas.
Seseorang yang mereaksi atau mempersepsi dengan pola atau corak
ekstensionalitas cenderung melihat pengalaman dalam istilah yang
didiferensiasi (dipilah-pilah), menyadari adanya perbedaan ruang dan
waktu, mendasarkan diri pada fakta bukan pada konsep-konsep, menilai
dengan berbagai cara, menyadari tingkat-tingkat abstraksi yang berbeda-
beda, menguji kesimpulan-kesimpulan dan abstraksi-abstraksi realita.
5) Matang, kematangan (mature, maturity).
Individu dikatakan menunjukkan tingkah laku yang matang bilamana ia
mempersepsi diri secara realistis dengan cara yang eksternal, tidak
defensif, menerima tanggung jawab sebagai seorang individu yang
berbeda dari orang-orang lain, bertanggung jawab atas tingkah lakunya
sendiri, mengevaluasi pengalaman berdasarkan bukti dari penginderaannya
sendiri, mengubah penilainnya terhadap pengalaman semata-mata
berdasarkan bukti baru, menerima orang-orang lain sebagai individu unik
yang berbeda dari dirinya sendiri, dan menghargai dirinya dan orang lain.

E. Hakikat Konseling Menurut Teori Konseling Berpusat Pribadi


Pada hakikatnya, pendekatan client centered adalah cabang khusus dari terapi
humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif
dan fenomenalnya. Konseling ini berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan
pribadi konseli dengan jalan membantu konseli dalam menemukan kesanggupan
untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client centered menaruh
kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan
menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dan klien merupakan
katalisator bagi perubahan, klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat
untuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam
yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.

Konseling berpusat pada pribadi tidak mempersoalkan bagaiaman cara agar ia


dapat memecahkan problem tertentu atau meningkatkan perubahan perilaku tertentu,
tetapi ia mempersoalkan bagaimana cara agar ia dapat menciptakan suatu hubungan
konseling yang dapat digunakan klien untuk pertumbuhan dan perkembangan
pribadinya. Dalam hubungan yang demikian, diharapkan klien nantinya akan
menemukan cara-cara yang lebih baik dalam menangani berbagai aspek kesulitan
hidupnya, dan ia dapat memecahkan masalah yang spesifik, namun konselor tidak
menetapkan pemecahan masalah tertentu atau perubahan tingkat laku tertentu sebagai
tujuan konseling.
F. Kondisi Pengubahan
1. Tujuan
Konseling person centered bertujuan membantu konseli menemukan konsep
dirinya yang lebih positif lewat komunikasi konseling, dimana konselor
mendudukkan konseli sebagai orang yang berharga , orang yang penting, dan
orang yang memiliki potensi positif dengan penerimaan tanpa syarat
(unconditional positive regard), yaitu menerima konseli apa adanya. Tujuan utama
pendekatan person centered adalah pencapaian kemandirian dan integrasi diri.
Dalam pandangan Rogers (1997) tujuan konseling bukan semata-semata
menyelesaikan masalah tetapi membantu konseli dalam proses pertumbuhannya
sehingga konseli dapat mengatasi masalah yang dialaminya sekarang dengan lebih
baik dapat mengatasi masalahnya sendiri dimasa yang akan datang (Corey, 1986,
p. 103).
Tujuan dasar pendekatan person-centered dapat terlihat dari pendapat Rogers
(1961) tentang individu yang dapat mengaktualisasi diri. Individu yang dapat
mengaktualisasi diri dapat terlihat dari karakteristik yaitu:
a. Memiliki keterbukaan terhadap pengalaman (openness to experience).
Keterbukaan terhadap pengalaman meliputi kemampuan untuk melihat
realitas tanpa terganggu untuk menyesuaikan pada self-structure yangtelah
terbentu sebelumnya. Individu menjadi lebih terbuka, yang berarti bahwa ia
menjadi lebih menyadari realitas yang ada di luar dirinya. Hal ini berarti pula
bahwa individu keyakinan yang tidak kaku, dapat terbuka terhadap
pengetahuan baru, dapat berkembang dan toleran terhadap ambiguitas.
Kemudian, individu memiliki kesadaran tentang dirinya pada saat ini dan
kapasitas untuk mengalami diri dengan cara yang lebih baik (Corey, 1986, p.
1084).
b. Kepercayaan pada diri sendiri (self-trust)
Salah satu tujuan konseling adalah membantu konseli mengembangkan
rasa percaya pada diri sendiri. Pada awal proses konseling kepercayaan diri
konseli biasanya sangat rendah sehingga tidak dapat mengambil keputusan
secara mandiri. Dengan menjadi lebih terbuka, konseli mengembangkan
kepercayaan kepada diri secara perlahan-lahan (Corey, 1986, p. 104).
c. Sumber internal evaluasi (internal source of evaluation)
Internal source of evaluation berarti individu mencari pada diri sendiri
tentang jawaban atas masalah-masalah eksistensi diri. Individu dibantu untuk
memahami diri dan mengambil keputusn secara mandiri tentang hidupnya
(Corey, 1986, p.104).
d. Keinginan yang berkelanjutan untuk berkembang (willingness to continue
growing).
Pembentukan self dalam process of becoming merupakan inti dari
tujuan pendekatan person-centered. Self bukan dipandang sebagai produk dari
proses konseling. Walaupun tujuan dari konseling adalah self yang berhasil,
yang paling penting adalah proses berkelanjutan dimasa konseli mendapatkan
pengalaman baru dan mendapatkan kesadaran diri (Corey, 1986, p.104).

Tujuan konseling adalah mendorong individu mampu mengambil keputusan


yang penting bagi dirinya. Jelas disini bahwa, pekerjaan konselor bukan
menentukan keputusan atau tujuan yang harus diambil oleh konseli atau
memilih alternatif dari tindakannya. Dalam hal ini, konseli sendirilah yang harus
menentukan tujuan dari konseling itu sendiri. Keputusan – keputusan ada pada
diri konseli, dan konseli harus tau mengapa dan bagaimana ia
melakukannya. Disini peran konselor adalah membantu konseli dalam
menetapkan tujuan untuk membantu konseli memiliki kemampuan menolong diri
sendiri, sehingga dapat menghadapi situasi hidup selanjutnya dengan lebih
konstruktif.

2. Sikap, tugas dan peran konselor


a. Sikap konselor
1) Congruence of genuineness
Congruence berati bahwa konselor menampilkan diri yang sebenarnya,
asli (genuineness), terintegrasi dan otentik. Seorang konselor harus dapat
menampilkan kekongruenan atara perasaan dan pikiran yang ada di dalam
dirinya dengan perasaan, pandangan dan tingkah laku yang diekspresikan.
Konselor yang otentik menampilkan diri yang spontan dan terbuka baik
perasaan dan sikap yang ada dalam dirinya serta dapat berkomunikasi
secara jujur dengan konseli (Corey,1986).
Keaslian konselor dapat terlihat melalui respon-respon konselor yang
muncul secara alamiah, asli dan tidak dibuat-buat sehingga tidak belebihan
(Corey, 1986)
2) Unconditional Positive Regard and Acceptance (Penerimaan tanpa syarat)
Yang berarti bahwa konselor dapat berkomunikasi dengan konseli
secara mendalam dan jujur sebagai pribadi. Hal ini berarti bahwa konselor
tidak melakukan penilaian dan pehakiman terhadap perasaan, pikiran dan
tingkah laku konseli berdasarkan standart norma tertentu. (Corey, 1986)
sedangkan Acceptance adalah menunjukan penghargaan yang spontan
terhadap konseli dan menerimanya sebagai individu yang berbeda dengan
konselor. Perbedaan antara konselor dapat terjadi pada nilai-nilai, persepsi
diri, maupun pengalaman-pengalaman hidupnya. Penerimaan ini bertujuan
membangun hubungan terapiotik menjadi lebih konstruktif ( Corey, 1986)
3) Accurate Empathic Undertanding (Pemahaman yang empatik dan akurat)
Empathic atau deep understanding adalah kemampuan konselor
untuk memahami permasalahan konseli, melihat melalui sudut pandang
konseli, peka terhadap perasaan-perasaan konseli, sehingga konselor
diharpakan dapat memahami permasalahan konseli tidak hanya pada
permukaan, tetapu lebih dalam pada kondisi psikologis konseli
(Corey, 1986)
b. Tugas konselor
Peran konselor antara lain adalah sebagai berikut:
1) Fasilitator, konselor memfasilitasi konseli untuk memahami dirinya.
2) Reflektor, konselor mengklarifikasi dan merefleksi perasaan-perasaan dan
sikap-sikap konseli
3) Konselor tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses
perkembangan terapi tetapi itu dilakukan oleh klien sendiri.
4) Konselor merefleksikan perasaan-perasaan klien sedangkan arah
pembicaraan ditentukan oleh klien.
5) Konselor menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau
kenyataan yang bagaimanapun.
6) Konselor member kebebasan kepada klien untuk mengekspresikan
perasaan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.
c. Peran konselor
Menciptakan suasana konseling yang kondusif untuk eksplorasi diri
konseli. Penyembuhan berasal dari dalam diri konseli sendiri, bukan dari
teknik profesional orang yang membantu (Barnard, 1984)

3. Sikap, tugas dan peran konselor


a. Dapat mengelola kehidupannya sendiri secara lebih efektif
b. Mampu menyatakan ketakutan, kecemasan, perasaan berdosa, malu, benci,
marah dan perasaan lainnya
c. Belajar bertanggung jawab atas dirinya
d. Dapat mengeksplorasi pengalamannya dalam situasi yang lebih aman dan
terpercaya
e. Lebih bebas untuk membuat keputusan dan rasa percaya diri yang meningkat
4. Situasi hubungan
a. Kontak psikologis.
Pada pernyataan teoritisnya yang lebih awal, Rogers menggunakan kata
relationship/hubungan untuk mengemukakan pengertian kontak psikologis
antara dua pribadi. Berada dalam suatu kontak psikologis berate bahwa
konselor dan konseli memandang pengalaman mereka bersama sebagai suatu
hubungan. Agar konseling berhasil maka konselor dan konseli harus berada
dalam kontak psikologis.
b. Konseli berada pada tahap yang inkongruen (ketidakserasian.
Ia mengalami ketidakserasian antara gambaran diri dan pengalaman akutual
yang akibatnya ia mengalami kecemasan.
c. Konselor adalah orang yang kongruen dalam hubungan, sebagai fasilitator
perubahan konseli.
Konselor mengalami keharmonisan atara gambaran diri dan pengalaman
aktualnya dan dia terbuka terhadap semua pengalaman, sehingga ada
keselarasan antara tindakan dan perkatan, dan perkataan dengan perasaan. Dia
bertindak sebagaimana adanya sebagai pribadi yang unik dalam hubungan
konseling
d. Konselor memberikan penghargaan positif tidak bersyarat pada konseli.
Konselor menerima dan menghargai konseli secara positif sebagai individu
tanpa persyaratan atau pengharapan atas penghargaan dan penerimannya.
e. Empati.
Konselor memahami dunia internal konseli seolah oleh dunia internal tersebut
milik konselor dan mengkomunikasikan pemahamannya itu kepada konseli
yang bersangkutan
f. Konseli menyadari atau mengalami keserasian, penerimaan dan empati yang
dikomunikasikan konselor, meskipun pada tingkat minimal.

G. Mekanisme Pengubahan
1. Tahap-tahap Konseling Berpusat Pribadi
Menurut Rogers ( Fall, Holden, & Marquis, 2004: 181) Mengemukakan 12
tahap dalam proses konseling, yaitu sebagai berikut.
a. Konseli datang sendiri untuk meminta bantuan konseling.
b. Situasi yang membantu dibangun agar memberi kesempatan kepada konseli
untuk mengembangkan selfnya.
c. Konselor mendorong konseli untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya
secara proses.
d. Konselor menerima, mengakui, dan mengklarifikasikan perasaan-perasaan
negatifnya.
e. Apabila perasaan-perasaan negatifnya telah diekspresikan, kemudian diikuti
dengan ekspresi perasaannya yang positif, berarti dia telah mampu
mengembangkan self nya.
f. Konselor menerima dan mengakui perasaan positif konseli, sama caranya
dengan penerimaan dan pengakuannya terhadap perasaan-perasaan negative
konseli.
g. Pemahaman terhadap diri (self), merupakan dasar bagi konseli untuk mencapai
tingkat integrasi yang baru.
h. Pemahaman konseli terhadap dirinya memungkinkannya untuk dapat
mengambil keputusan dan tindakan.
i. Konseli dapat mengambil keputusan atau tindakan yang positif.
j. Konseli memiliki pemahaman diri yang lebih mendalam.
k. Berkembangnya kegiatan positif konseli, dan dia lebih percaya diri dalam
mengarahkan kegiaitan dirinya.
l. Apabila konseli merasa tidak perlu lagi terhadap bantuan konselor, berarti
proses konseling dapat diakhiri.

2. Teknik-teknik Konseling Berpusat Pribadi


Teknik pokok dalam konseling berpusat pada pribadi ialah menunjukkan
kenyataan yang berbeda dari kenyataan yang dialami konseli dengan cara
komunikasi verbal. Hal ini dilakukan dengan merefleksikan perasaan-perasaan
konseli dan menghubungkan perasaan-perasaan positif konselor kepadanya.
Corey (1995) mengatakan bahwa konselor harus memperhatikan berbagai
keterampilan interpersonal yang dibutuhkan dalam konseling. Keterampilan-
keterampilan tersebut anatar lain (Komalasari,G.,Eka,W.,& Karsih.2011)
a. Mendengar Aktif (Active Listening)
Mendengar Aktif (Active Listening) yaitu memperhatikan perkataan konseli,
sensitive terhadap kata atau kalimat yang diucapkan, intonasi dan bahasa tubuh
konseli.
b. Mengulang kembali (Restating/Paraphrasing)
Mengulang kembali (Restating/Paraphrasing) yaitu mengulang perkataan
konseli dengan kalimat yang berbeda. Dalam hal ini kemampuan memberikan
balikan kepada konseli pemahaman yang akurat tentang perasaan dan/atau
maksud pembicaraannya.
c. Memperjelas (clarifying)
Memperjelas (clarifying) adalah merespon pernyataan atau pesan konseli yang
membingungkan dan tidak jelas, dengan memfokuskan pada isu-isu utama dan
membantu individu tersebut untuk menemukan dan memperjelas perasaan-
perasaannya yang bertolak belakang.
d. Merefleksikan Perasaan (reflecing Feelings)
Merefleksikan Perasaan (reflecing Feelings) adalah kemampuan untuk
merespon terhadap esensi perkataan konseli. Merefleksikan perasaan bukan
sekedar memantulkan perasaan konseli tapi termasuk pula ekspresikannya.
Dapat menggunakan kata-kata pemandu yang bersifat dugaan. Misalnya:
sepertinya, nada-nadanya, tampaknya, rupa-rupa, agaknya dsb.

H. Penerapan dalam Konseling Kelompok


1. Tujuan konseling kelompok
Menurut Fauzan (1994) sesuai dengan konsep dasar client centered, maka
tujuan konseling kelompok dari pendekatan ini adalah:
a. Memberikan kesempatan dan kebebasan kepada individu atau konseli untuk
mengekspresikan perasaan-perasaannya, berkembanga dan terealisasi
potensinya.
b. Membantu individu untuk makin sanggup berdiri sendiri dalam mengadakan
integrasi dengan lingkungannya dan bukan pada penyembuhan tingkahlaku itu
sendiri.
c. Membantu individu dalam mengadakan perubahan dan pertumbuhan.

Perubahan sikap dari perasaan-perasaan negatif ke perasaan positif, dan pertumbuhan


yang sehat. Jadi tujuan konseling kelompok client centered adalah self-
directing dan full funciotioning dari si klien.

2. Sikap, peran, dan tugas pemimpin kelompok


a. Sikap Pemimpin Kelompok atau Konselor
Menurut Boy and Pine (1999) dalam buku Corey (2012), sikap terapis
dan perilaku adalah penentu kuat dari suasana kelompok penerima yang ada
kondusif untuk komunikasi nyata. Pendekatan kelompok yang berpusat pada
orang menekankan sikap dan keterampilan tertentu sebagai bagian penting
dari gaya fasilitator: mendengarkan secara aktif dan sensitive, cara menerima,
memahami, menghormati, merefleksikan, mengklarifikasi, meringkas, berbagi
pengalaman pribadi, merespons, bertemu, dan melibatkan orang lain
dikelompok, mengikuti arus kelompok alih-alih mencoba mengarahkan jalan
grup sedang berjalan, dan menegaskan kapasitas anggota untuk menentukan
nasib sendiri.
b. Peran Pemimpin Kelompok atau Konselor
Menurut Rogers (1986) konselor mempunyai peran diantaranya :
1) Konselor sebagai fasilitator, adalah untuk menciptakan iklim penerimaan
dan penyembuhan dalam kelompok, yang mencerminkan pentingnya
interaksi antara anggota kelompok dan kemampuan pemimpin untuk
membantu anggota dalam mengekspresikan diri
2) Menjadi teman bagi konseli, supaya konseli dapat menuju penemuan diri
3) Menurut Boy and Pine (1999) peran terapis sangat terkait untuk konseli
dan untuk apa konseling dilakukan, konselor tergantung dengan konseli
bagaimana, tujuan yang ingin dicapai konseli.
c. Tugas Pemimpin Kelompok atau Konselor
Konselor bertugas untuk membangun terapi iklim di mana anggota kelompok
akan berinteraksi secara semakin otentik dan cara jujur. Konselor mengatur
panggung dan melayani sebagai asisten yang berikan kondisi di mana
konseling ini dapat beroperasi. Karakteristik fasilitator dalam konseling
kelompok berpusat pribadi ialah :
1) Mereka memiliki kepercayaan besar pada proses kelompok dan percaya
pada kelompok dapat bergerak maju tanpa intervensi arahan mereka
2) Mereka mendengarkan dengan cermat dan sensitif untuk setiap anggota
3) Mereka melakukan semua yang mungkin untuk berkontribusi pada
penciptaan iklim yang ada aman secara psikologis untuk anggota
4) Mereka berupaya memahami dan menerima individu secara empatik dan
kelompok. Mereka tidak mendorong kelompok ke tingkat yang lebih
dalam.
5) Mereka beroperasi berdasarkan pengalaman dan perasaan mereka sendiri,
yang berarti bahwa mereka mengekspresikan reaksi di sini dan sekarang,
6) Mereka menawarkan umpan balik kepada anggota dan, jika pantas,
menantang anggota untuk menentukan perilaku mereka, mereka
menghindari menghakimi dan, sebaliknya, berbicara tentang bagaimana
mereka dipengaruhi oleh orang lain.

3. Sikap, peran, dan tugas anggota kelompok atau konseli


Agar proses konseling dapat mencapai perubahan pribadi konseli yang
diinginkan, maka diperlukan beberapa kondisi yang seharusnya ada pada konseli,
Bohart dan Tallman (2010) dalam buku Corey (2012) menekankan bahwa
keterlibatan aktif klien sangat penting untuk keberhasilan terapi. Keterlibatan ini
mencakup keterbukaan dan keinginan untuk terlibat tugas terapi, partisipasi
kooperatif, dan sikap kolaboratif. Rogers percaya anggota memiliki akal untuk
gerakan positif tanpa fasilitator mengambil peran aktif dan terarah. Anggota
kelompok yang terbiasa mengikuti otoritas, ditantang untuk mengandalkan diri
mereka sendiri untuk merumuskan tujuan dan arah. Konseli atau anggota
kelompok ditantang untuk berjuang dan untuk mengekspresikan diri mereka, dan
dari perjuangan ini mereka memiliki dasar untuk belajar caranya untuk
mempercayai diri mereka sendiri.

4. Situasi Hubungan
Pada intinya, konseling Person Centered Therapy adalah terapi hubungan.
Konsep hubungan antara konselor dan konseli dalam pendekatan ini ditegaskan
oleh pernyataan Rogers “Jika saya bisa menyajikan suatu tipe hubungan, maka
orang lain akan menemukan dalam dirinya sendiri kesanggupan menggunakan
hubungan itu untuk pertumbuhan dan perubahan, sehingga perkembangan
peribadipun akan terjadi. Agar perubahan kepribadian konstruktif dapat terjadi,
harus ada beberapa faktor dibawah ini dan harus terus ada selama beberapa waktu,
yaitu:
a. Konselor dan konseli berada dalam kontak psikologis
b. Konseli berada pada kondisi incongruence yaitu ketidakcocokan antara self
yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan
batin. Sedangkan congruence berarti situasi di mana pengalaman diri
diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral,
dan sejati.
c. Konselor memahami dunia internal konseli dan mengkomunikasikannya
kepada konseli.

Ada tiga ciri atau sikap konselor yang membentuk bagian hubungan teraputik :
a. Keselarasana atau kesejatian.
Konsep kesejatian yang dimaksud Rogers adalah bagaimana konselor tampil
nyata, utuh, autentik dan tidak palsu serta terintegrasi selama pertemuan
konseling. Konselor bersikap secara spontan dan terbuka menyatakan sikap-
sikap yang ada pada dirinya baik yang positif maupun negatif. Konselor tidak
diperkenankan terlibat secara emosional dan berbagi perasaan-perasaan secara
impulsif terhadap konseli. Hal ini dapat menghambat proses konseling.
b. Perhatian positif tak bersayarat.
Perhatian tak bersayarat itu tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian
terhadap pemikiran-pemikiran dan tingkah laku konseli sebagai hal yang buruk
atau baik. Perhatian tak bersyarat bukan sikap “Saya mau menerima
asalkan…..” melainkan “Saya menerima anda apa adanya”.
c. Pengertian empatik yang akurat.
Pada bagian ini merupakan hal yang sangat krusial, dimana konselor benar-
benar dituntut untuk menggunakan kemampuan inderanya dalam berempati
guna mengenali dan menjelajahi pengalaman subjektif dari konseli. Konsep ini
menyiratkan konselor memahami perasaan-perasaan konseli yang seakan-akan
perasaanya sendiri.

5. Tahap konseling kelompok


Berdasarkan pengalamannya dengan berbagai kelompok, Rogers (1970)
digambarkan 15 pola proses yang terjadi dalam kelompok-kelompok yang
mempekerjakan pendekatan PCT. Pola proses ini, atau tren, tidak terjadi dalam
urutan yang jelas, dan mereka mungkin berbeda dari kelompok ke kelompok.
a. Penggilingan atau berkeliaran (kebingungan di awal) di sekitar.
Kurangnya arah pemimpin pasti menghasilkan beberapa kebingungan awal,
frustrasi, dan “berkeliaran” antara satu dengan yang lain baik sebenarnya atau
secara lisan.
b. Resistensi terhadap ekspresi pribadi atau eksplorasi.
Anggota awalnya menyajikan diri satu per satu di depan kelompok public,
mereka berpikir akan diterima kelompok. Mereka takut dan tahan terhadap
mengungkapkan diri pribadi mereka.
c. Deskripsi perasaan masa lalu. Meskipun keraguan tentang kepercayaan dari
kelompok dan risiko mengekspos diri sendiri, pengungkapan perasaan pribadi
tidak dimulai-namun ragu-ragu dan mendua.
d. Ekspresi perasaan negatif.
Sebagai kelompok berlangsung, ada gerakan menuju ekspresi sini-dan-
sekarang perasaan. Seringkali ekspresi ini mengambil bentuk kritik terhadap
pemimpin kelompok, biasanya karena tidak memberikan arah yang
diperlukan.
e. Ekspresi dan eksplorasi bahan pribadi bermakna.
Jika ekspresi reaksi negatif dilihat oleh anggota sebagai diterima kelompok,
iklim kepercayaan yang mungkin akan muncul. Anggota kemudian dapat
mengambil risiko pada mengungkapkan materi pribadi.
f. Ekspresi perasaan antar langsung dalam kelompok.
Anggota cenderung untuk mengekspresikan berbagai perasaan terhadap satu
sama lain.
g. Pengembangan kapasitas penyembuhan dalam kelompok.
Berikutnya, anggota mulai spontan menjangkau satu sama lain,
mengungkapkan perawatan, dukungan, pengertian, dan perhatian. Pada tahap
ini hubungan membantu sering dibentuk dalam kelompok yang menawarkan
anggota membantu dalam memimpin kehidupan yang lebih konstruktif di luar
kelompok.
h. Penerimaan diri dan awal perubahan.
Peserta mulai menerima aspek diri bahwa mereka sebelumnya ditolak atau
terdistorsi; mereka lebih dekat dengan perasaan mereka dan akibatnya
menjadi kurang kaku dan lebih terbuka untuk berubah. Sebagai anggota
menerima kekuatan dan kelemahan mereka, mereka menjatuhkan pertahanan
mereka dan menyambut perubahan.
i. Cracking fasad.
Berikut anggota individu mulai menanggapi permintaan kelompok yang
masker dan kepura-puraan akan dijatuhkan. ini mengungkapkan dari diri yang
lebih dalam oleh beberapa anggota memvalidasi teori bahwa pertemuan
bermakna dapat terjadi ketika orang-orang berisiko mendapatkan bawah
interaksi permukaan. Pada tahap ini kelompok berusaha menuju komunikasi
yang lebih dalam.
j. Umpan Balik.
Dalam proses menerima umpan, anggota memperoleh banyak data mengenai
bagaimana orang lain mengalami mereka dan apa dampaknya terhadap orang
lain. Informasi ini sering menyebabkan wawasan baru yang membantu
mereka memutuskan aspek diri mereka sendiri bahwa mereka ingin berubah.
k. Konfrontasi.
Berikut anggota menghadapi satu sama lain dalam apa yang biasanya
merupakan proses emosional yang melibatkan umpan balik. Konfrontasi
dapat dilihat sebagai loncatan lanjut dari interaksi yang dijelaskan dalam
tahap awal.
l. Membantu hubungan luar sesi kelompok.
Pada tahap ini anggota telah mulai membuat kontak di luar kelompok. Di sini
kita melihat perpanjangan dari proses yang diuraikan dalam angka 7.
m. Dasar pertemuan.
Karena anggota datang ke dalam kontak dekat dan lebih langsung dengan satu
sama lain daripada yang umumnya terjadi di kehidupan sehari-hari, hubungan
orang-ke-orang asli terjadi.
n. Ekspresi perasaan kedekatan.
Sebagai kemajuan sesi, kehangatan meningkat dan kedekatan berkembang
dalam kelompok karena realitas ekspresi peserta dari perasaan tentang diri
mereka sendiri dan terhadap orang lain.
o. Perilaku perubahan dalam kelompok.
Sebagai anggota mengalami peningkatan kemudahan dalam mengekspresikan
perasaan mereka, perilaku mereka, tingkah laku, dan bahkan penampilan
mereka mulai berubah. Mereka cenderung untuk bertindak secara terbuka;
mereka mengungkapkan perasaan yang lebih dalam terhadap orang lain;
mereka mencapai peningkatan pemahaman dari diri mereka sendiri; dan
mereka bekerja di luar cara yang lebih efektif menjadi dengan orang lain. Jika
perubahan yang efektif, para anggota akan membawa perilaku baru mereka ke
dalam kehidupan sehari-hari mereka.

6. Teknik konseling kelompok


Walaupun konseling berpusat pribadi dalam pelaksanaannya lebih aktif konseli,
terdapat teknik-teknik yang harus dikuasai oleh konselor, yaitu:
a. Acceptance (penerimaan)
b. Respect (rasa hormat)
c. Understanding (mengerti, memahami)
d. Reassurance (menentramkan hati, meyakinkan)
e. Encouragement (dorongan)
f. Limited Questioning (pertanyaan terbatas)
g. Reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan)

Teknik konseling client-centered selain diterapkan dalam konseling


perseorangan dapat juga diterapkan dalam proses konseling kelompok. Adapun
penerapan teknik client-centered adalah sebagai berikut :

a. Mula-mula konseli dari latar belakang yang berbeda, dengan masalah yang
berbeda-beda pula (heterogen), dikumpulkan dalam satu kelompok yang
nantinya akan terbawa dalam suasana konseling.
b. Konselor memberikan instruksi pada konseli untuk mengungkapkan apa yang
menjadi masalah, apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan pada saat itu.
c. Secara bergantian konseli mengunkapkan masalahnya masing-masing.
Tentunya disini tidak hanya konselor saja yang bisa mendengarkan,
memperhatikan, menyimak, tetapi antara konseli yang satu dengan konseli
yang lainpun dapat saling mendengarkan apa saja yang disampaikan daripada
konseli yang bersangkutan. Disitulah konselor memberikan kebebesan pada
konseli untuk mengungkapkan masalahnya tanpa suatu batasan.
d. Proses interaksi antara konseli satu dengan konseli lain tentunya dengan arahan
konselor. Melalui dinamika interaksi sosial yang terjadi diantara anggota
kelompok, masalah yang dialami oleh masing-masing individu anggota
kelompok dicoba untuk dientaskan. Hal tersebut memberikan kesempatan bagi
konseli untuk berani menanggapi, membantu, menyampaikan pendapat, saran,
dari masalah yang dihadapi konseli lain.
e. Setelah itu giliran konselorlah yang memegang peranan dan mengatur proses
konseling yaitu memberikan bantuan terhadap masalah-masalah yang
disampaikan konseli dengan memilih dan memilah masalah mana yang
mendapat penyelesaian sama dan masalah mana yang perlu mendapat
penanganan secara khusus yaitu melalui konseling perseorangan.
I. HASIL-HASIL PENELITIAN

Judul Tujuan Metodologi Penelitian Hasil Penelitian


Penelitian Penelitian
Judul: Tujuan penelitian Metode: Hasil penelitian
Penggunaan untuk mengetahui Bersifat deskriptif kualitatif konseling client
Konseling Client penggunaan dengan menggunakan studi centered dapat
Centered dalam konseling client kasus. digunakan dalam
Meningkatkan centered dalam Subjek: meningkatkan konsep
Konsep Diri meningkatkan tiga siswa yang memiliki diri positif siswa. Hal
Positif konsep diri positif konsep diri positif rendah. ini dibuktikan dengan
Siswa(Studi siswa kelas X SMK Teknik pengumpulan data : adanya perubahan
Kasus Siswa Kesehatan YPIB Menggunakan metode skala ketiga subjek setelah
Kelas X). Tumijajar tahun dan wawancara. pelaksanaan konseling.
pejaran 2016/2017 Teknik Analisis: Simpulan penelitian ini
Penulis: Reduksi data, penyajian data adalah konseling client
Emma Lusiana, dan verifikasi data. centered dapat
Muswardi Rosra, digunakan dalam
Ratna Widiastuti3 meningkatkan konsep
diri positif siswa.
Tahun: 2017
Judul: Konseling Tujuan : Metode: Menunjukkan
Client-Centered Meningkatkan Diberikan intervensi berupa perubahan positif dari
untuk kembali terapi client-centered dalam subjek, yaitu
Meningkatkan kemampuan dan bentuk konseling meningkatnya
Kesadaran kesadaran subjek Subjek: kesadaran terhadap
Berobat pada dalam memenuhi Orang yang mengalami pentingnya berobat
Penderita harapan dan skizofrenia dan sedang proses untuk proses
Skizofrenia kebutuhannya rawat jalan penyembuhan subjek.
setelah rawat jalan Teknik Pengumpulan Data :
Penulis: Observasi, wawancara dan
Hardiyanti penggunaan beberapa tes
Rahmah, Nida psikologi
Hasanati Teknik Analisis:
Studi kasus untuk menguji
Tahun : 2016 efektivitas terapi yang
digunakan
Judul: Tujuan untuk Metode: ditemukan bahwa
Penerapan mengetahui teknik permisif kategori harga diri
Konseling Client- peningkatan harga Subjek: siswa pada siklus I
Centered Dengan diri siswa kelasX Siswa kelasX IIS 2 SMA adalah katagori sedang
Teknik Permisif IIS 2 SMA Negeri Negeri 2 Singaraja 7 orang (26%), kategori
untuk 2 Singaraja setelah Teknik Pengumpulan Data: rendah 16orang (59%),
Meningkatkan dilaksanakan Menggunakan kuesioner harga kategori Tinggi 4 orang
Harga Diri Siswa penerapan diri pola skala linkert dan (15%). Jika
Kelas X. Iis 2 konseling client- dianalisis secara deskriptif dibandingkan
Sma Negeri 2 centered dengan serta menggunakan buku dengankategori skor
Singaraja teknik permisif. harian. harga diri siswa pada
siklus II sebagai berikut
siswa dengan kategori
sangat tinggi 10 orang
Penulis: (37%), tinggi 17 orang
Kadek Vivien (63%). Ini
Windayani, Prof menunjukkansudah ada
Dharsana, Kd. peningkatan secara
Suranata signifikan.Jadi dapat
disimpulkan bahwa
Tahun: 2014 konselingclient-
centered dengan teknik
permisif efektif
digunakan untuk
meningkatkan harga
diri siswa kelas X IIS 2
SMA Negeri 2
Singaraja.

J. Kelemahan dan Kelebihan Konseling Berpusat Pribadi


1. Kelebihan dari konseling PCT antara lain :
a. Dirasa paling aman dari konseling yang lain
b. Konseli sangat dibebaskan
c. Tidak ada tuntutan tuntan yang berat
d. Konseli diharapkan mandiri untuk mendapatkan solusi atas masalahnya
e. Konselor hanya sebagai fasilitator yang mendengar secara aktif
f. Konseling ini dirasa paling akurat memahami karena terkadang ada aktifitas
perekaman suara konseli,
g. PCT dapat diterapkan dalam berbagai masalah konseling
h. Berfokus pada hubungan antara konseli dan konselor
i. Konseling memelurkan waktu singkat

2. Kekurangan dari konseling PCT antara lain :


a. Konseling PCT banyak disalah tafsirkan oleh konselor karena kurang kuatnya
mereka dalam berfilsafat
b. Konseling membatasi lingkup tanggapan konselor, konselor hanya mendengar
aktif saja dan konseli yang bekerja keras.
c. Konseling dianggap terlalu sederhana, mengabaikan diagnosis.
d. Konselor biasanya tidak memiliki teknik khusus karena yang difokuskan
dalam PCT adalah sikap dan hubungan konseli konselor.
e. PCT hanya bisa menangani masalah yang tampak, maksudnya yang hanya
diceriatakan konseli. Masalah yang tersirat tidak akan terselesaikan.

K. Sumber Rujukan
Aulia, U. 2016. Teknik Pendekatan Client-Centered. Online,
(http://fayabelajarkonseling.blogspot.com/p/pendekatan-client-centred.html),
diakses pada 01 Maret 2019 pukul 19:43.
Corey, Gerald. 2012. Student Manual for Theory and Practice of Counseling and
Psychotherapy. Edisi 9. USA: Brooks/Cole,Cengage Learning.
Corey, G. 2012. Theory & Practice of Group Counseling. Edisi 8th. Canada: Nelson
Education.
Corey, Gerald. 2013. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy
(9th ed.).USA: Brooks/Cole Cengange Learning.
Fadillah, R. 2014. Client Centered Counseling. (online).
http://www.academia.edu/12235356/Client_centered_konseling. Diakses pada
tanggal 10 februari pukul 20.00.
Fauzan,Lutfi., Nur, H.,& M.Ramli.2008.Teknik-teknik Komunikasi Untuk Konselor.
Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Malang, UPT Bimbingan
dan Konseling.
Fantashi, B. 2014. Person Centered Therapy. Online,
(http://bimbingandankonseling07.blogspot.com/2012/11/peson-centered-
therapy.html), diakses pada 28 Februari 2019 pukul 21:08.
Hidayat, Dede Rahmat, 2011. Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian Dalam
Konseling. Bogor:Ghalia Indonesia.
Komalasari, G. , Wahyuni, E. , Karsih.2014.Teori dan Teknik KONSELING.Jakarta
Barat.Indeks.
Ramli.M.,Nurhidayah.1991/1992.Pendekatan Konseling Berpusat Pada Pribadi.IKIP
Malang.
Ramli,M. 1992. Pendekatan Konseling Berpusat pada Pribadi. Malang: Jurusan PPB
FIP IKIP Malang.
Ramli, M. 2013. Konseling Kelompok. Malang: Universitas Negeri Malang.
Samuel T. Gadding. 2015. Konseling Profesi yang Menyeluruh. Kelebihan dan
Kelemahan Konseling PCT. Jakarta. PT Indeks Jakarta.
Sharf, Richard S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling (5thed.). USA:
Brooks/Cole Cengange Learning.
Sofyan. 2011. Konseling Individual, Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.
Surya, Muhamad. 1988. Dasar-dasar Penyuluhan Konseling, Kelemahandan
Kelebihan PCT. Jakarta. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan.
Susanti, Ayu. 2016/2017. Efektivitas Konseling Individual Dengan Pengekatan
Client-Centered Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VIII H
SMP NEGERI 3 BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2016 / 2017,(Online),
(http;//repository.radenintan.ac.id/305/1/skripsi_AYU_SUSANTI.pdf).
Yusuf, Syamsu. 2016. Konseling Individual Konsep Dasar dan Pendekatan. Bandung:
Refika Aditama.