Anda di halaman 1dari 35

DEMAM BERDARAH

Disusun Oleh : Kelompok 3


Anggota :
1. Charita Salsabella
2. Haidir Ali
3. Nathalia Ramadhanti
4. Ni Nyoman Shintya Damayanti
5. Nur’aini
6. Rahayu Dwi Putri
7. Rahma Kesuma Wardani
8. Rizky Maulidina
9. Tri Utami
10. Ulfa Novliza
Dosen Pembimbing : Ns. Rizki Sri Haryanti, S. Kep., M. Epid

POLTEKKES KEMENKES JURUSAN


KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa penyusun juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan penyusun semoga makalah yang berjudul Demam Berdarah ini
dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke
depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penyusun, peyusun
yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, penyusun
sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Palembang, 27 November 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................

KATA PENGANTAR ..........................................................................................

DAFTAR ISI .......................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................

1.1 Latar Belakang...............................................................................................

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................

1.3 Tujuan ...........................................................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN ....................................................................................

2.1 Konsep Dasar................................................................................................

2.2 Asuhan Keperawatan Demam Berdarah.......................................................

BAB 3 PENUTUP ..............................................................................................

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................


3.2 Saran ............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan tanda dan gejala demam, nyeri otot, nyeri
sendi disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia (Rohim, 2004).
Sekitar 2,5 milyar (2/5 penduduk dunia) mempunyai resiko untuk terkena
infeksi virus Dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan subtropis pernah
mengalami letusan demam berdarah. Kurang dari 500.000 kasus setiap tahun
di rawat di RS dan ribuan orang meninggal (Mekadiana, 2007).
Pada bulan januari 2009, penderita DHF di Jawa Tengah sebanyak
1706 orang. Sedangkan kasus DHF yang terjadi di beberapa kota di Jawa
Tengah sampai pertengahan 2009 sebanyak 2767 orang 73 diantaranya
meninggal (Lismiyati, 2009). Sebagian pasien DHF yang tidak tertangani
dapat mengalami Dengue Syok Sindrom yang dapat menyebabkan kematian.
Hal ini dikarenakan pasien mengalami deficit volume cairan akibat
meningkatnya permeabilitas kapiler pembuluh darah sehingga darah menuju
keluar pembuluh. Sebagai akibatnya hampir 35% paien DHF yang terlambat
ditangani di RS mengalami syok hipovolemik hingga meninggal.
Saat ini angka kejadian DHF di RS semakin meningkat, tidak hanya
pada kasus anak, tetapi pada remaja dan juga dewasa. Oleh karena itu
diharapkan perawat memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang cukup dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF. Ketrampilan yang
sangat dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda
syok dan kecepatan dalam menangani pasien yang mengalamim Dengue Syok
Sindrom (DSS).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun beberapa masalah yang akan di rumuskan dalam memecahkan
masalah demam berdarah antara lain :
1. Apa yang disebut demam berdarah ?
2. Bagaimana epidemiologi dari demam berdarah ?
3. Apa itu virus dangue ?
4. Jabarkan vektor dari demam berdarah yang secara umum harus dipahami?
5. Jabarkan manifestasi klinis dari demam berdarah ?
6. Bagaimana klasifikasi derajat penyakit infeksi virus dangue ?
7. Jelaskan pemeriksaan diagnostik demam berdarah dangue ?
8. Bagaimana penatalaksaan demam berdarah ?
9. Jelaskan asuhan keperawatan demam berdarah ?

1.1 Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini anatara lain :
1. Untuk mengetahui dan memahami arti dari penyakit demam berdarah.
2. Untuk mengetahui dan memahami epidemiologi dari demam berdarah.
3. Untuk mengetahui dan memahami virus dangue.
4. Untuk mengetahui dan memahami vektor dari demam berdarah yang secara
umum harus dipahami.
5. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari demam berdarah.
6. Untuk mengetahui dan memahami klasifikasi derajat penyakit infeksi virus
dangue.
7. Untuk mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik demam berdarah
dangue.
8. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksaan demam berdarah.
9. Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan demam berdarah.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar
1. Definisi Demam Berdarah
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus
akut yang disebabkan oleh virus Dengue dan terutama menyerang anak-
anak dengan ciri- ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi
perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Penyakit
ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan mungkin juga
Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia kecuali ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut.
Masa inkubasi penyakit ini diperkirakan lebih kurang 7 hari. Penyakit
Demam Berdarah Dengue dapat menyerang semua golongan umur. Sampai
saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue lebih banyak menyerang anak-
anak tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan
kenaikan proporsi penderita Demam Berdarah Dengue pada orang dewasa.
Indonesia termasuk daerah endemik untuk penyakit Demam Berdarah
Dengue. Serangan wabah umumnya muncul sekali dalam 4 - 5 tahun.
Faktor lingkungan memainkan peranan bagi terjadinya wabah. Lingkungan
dimana terdapat banyak air tergenang dan barang-barang yang
memungkinkan air tergenang merupakan tempat ideal bagi penyakit
tersebut (Siregar, 2004).
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut
yang disebabkan oleh virus dengue serta memenuhi kriteria WHO untuk
Manifestasi simptomatik infeksi virus dengue adalah sebagai berikut :
1. Demam tidak terdiferensiasi
2. Demam dengue (dengan atau tanpa perdarahan): demam akut selama 2-
7 hari, ditandai dengan 2 atau lebih manifestasi klinis (nyeri kepala,
nyeri retroorbital, mialgia/atralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan
[petekie atau uji bendung positif], leukopenia) dan pemeriksaan serologi
dengue positif atau ditemukan pasien yang sudah dikonfirmasi
menderita demam dengue/ DBD pada lokasi dan waktu yang sama.
3. DBD (dengan atau tanpa renjatan).

2. Etiologi
Penyebab DBD ini adalah virus dengue yang terdiri dari 4
serotipe yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Penularan DBD ini
melalui cara, :
1. Manusia sebagai host virus dengue.
2. Vektor perantara : nyamuk aedes aegepty (nyamuk rumah) dan aedes
albopictus (nyamuk kebun).

3. Epidomiologi
Di Indonesia DBD telah menjadi masalah kesehatan
masyarakat selama 41 tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi
peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis
DBD, dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 32 (97%) dan 382 (77%)
kabupaten/kota pada tahun 2009. Provinsi Maluku, dari tahun 2002 sampai
tahun 2009 tidak ada laporan kasus DBD. Selain itu terjadi juga peningkatan
jumlah kasus DBD, pada tahun 1968 hanya 58 kasus menjadi 158.912 kasus
pada tahun 2009. Peningkatan dan penyebaran kasus DBD tersebut
kemungkinan disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi,
perkembangan wilayah perkotaan, perubahan iklim, perubahan kepadatan
dan distribusi penduduk serta faktor epidemiologi lainnya yang masih
memerlukan penelitian lebih lanjut. Pada tahun 2009 tampak provinsi DKI
Jakarta merupakan provinsi dengan AI DBD tertinggi (313 kasus per
100.000 penduduk), sedangkan Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi
dengan AI DBD terendah (8 kasus per 100.000 penduduk). Terdapat 11
(33%) provinsi termasuk dalam daerah risiko tinggi (AI > 55 kasus per
100.000 penduduk).
Dalam lima tahun terakhir (2005-2009) 5 provinsi dengan AI
tertinggi dapat dilihat pada. Provinsi DKI dan Kalimantan Timur selalu
berada dalam 5 provinsi AI tertinggi dengan DKI Jakarta selalu menduduki
AI yang paling tinggi setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena pengaruh
kepadatan penduduk, mobilitas penduduk yang tinggi dan sarana
transportasi yang lebih baik dibanding daerah lain, sehingga penyebaran
virus menjadi lebih mudah dan lebih luas. Berbeda dengan Kaltim yang
penduduknya tidak terlalu padat, menurut SUPAS 2005 kepadatan
penduduk Kalimantan Timur hanya 12 orang/km2 (DKI Jakarta 13.344
orang/km2). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian DBD di
Kalimantan Timur, kemungkinan adalah karena curah hujan yang tinggi
sepanjang tahun dan adanya lingkungan biologi yang menyebabkan nyamuk
lebih mudah berkembang biak (Kemenkes, 2010).

4. Patofisiologi
Nyamuk Aedes yang sudah terinfesi virus dengue, akan tetap
infektif sepanjang hidupnya dan terus menularkan kepada individu yang
rentan pada saat menggigit dan menghisap darah. Setelah masuk ke dalam
tubuh manusia, virus dengue akan menuju organ sasaran yaitu sel kuffer
hepar, endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum tulang serta
paru-paru. Beberapa penelitian menunjukkan, sel monosit dan makrofag
mempunyai peran pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan
masuknya genom virus ke dalam sel dengan bantuan organel sel dan
membentuk komponen perantara dan komponen struktur virus. Setelah
komponen struktur dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel. Infeksi ini
menimbulkan reaksi immunitas protektif terhadap serotipe virus tersebut
tetapi tidak ada cross protective terhadap serotipe virus lainnya.
Bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam
terjadinya demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue. Respon
imun yang diketahui berperan dalam pathogenesis DBD adalah :
a) Respon humoral berupa pembentukan antibody yang berparan dalam
proses netralisasi virus, sitolisis yang dimeasi komplemen dan
sitotoksisitas yang dimediasi antibody. Antibody terhadap virus dengue
berperan dalam mempercepat replikasi virus pad monosit atau
makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent enhancement
(ADE);
b) Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berepran dalam
respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T helper yaitu
TH1 akan memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin,
sedangkan TH2 memproduksi IL-4, IL-5, IL-6 dan IL-10;
c) Monosit dan makrolag berperan dalam fagositosis virus dengan
opsonisasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan
peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag;
d) Selain itu aktivitasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan
terbentuknya C3a dan C5a.
Virus penyebab demam Dengue termasuk arbovirus (arthropod–
borne viruses) yang merupakan virus kedua yang dikenal menimbulkan
penyakit pada manusia. Virus ini merupakan anggota keluarga dari
Flaviviridae (flavi = kuning) bersama-sama dengan virus demam kuning.
Morfologi virion Dengue berupa partikel sferis dengan diameter
nukleokapsid 30 nm dan ketebalan selubung 10 nm. Genomnya berupa
RNA (ribonucleic acid). Protein virus Dengue terdiri dari protein C untuk
kapsid dan core, protein M untuk membran, protein E untuk selubung dan
protein NS untuk protein non struktural.
Saat ini telah diketahui ada 4 tipe virus Dengue. Tipe-tipe virus ini
baru diketahui setelah Perang Dunia II oleh Sabin yang berhasil
mengisolasinya dari darah pasien pada epidemi di Hawai, yang disebut
sebagai tipe 1 (1952 ). Tipe 2 juga diisolasi oleh Sabin (1956 ) dari pasien
di New Guinea. Tipe 3 dan 4 diperoleh tahun 1960 dari pasien yang
mengalami DHF di Filipina pada tahun 1953.
Virus Dengue menurut Danny (1999) memiliki tiga jenis antigen
yang menunjukkan reaksi spesifik terhadap antibodi yang sesuai yaitu :
1. Antigen yang dijumpai pada semua virus dalam genus Flavivirus dan
terdapat di dalam kapsid,
2. Antigen yang khas untuk virus Dengue saja dan terdapat pada semua
tipe, 1 sampai 4, di dalam selubung,
3. Antigen yang spesifik untuk virus Dengue tipe tertentu saja, terdapat di
dalam selubung.

5. Pathway
Virus dengae terdapat pada

Nyamuk aedes aeygypty

Nyamuk aedes agypty

Mengigit manusia

Masuk ke aliran darah

Viremia

Mekanisme tubuh untuk Komplemen antigen dan Renjatan (proses

Melawan virus antibodi meningkat imunologi)

Peningkatan asam Pembebasan histamin Ke pembuluh darah dan ke

Lambung otak melalui aliran darah

Peningkatan

Anoreksia, mual, permebialitas dinding Virus berkembang di

Muntah pembuluh darah dalam darah


Kebocoran plasma Hipertermi

Gangguan

Pemenuhan

Nutrisi kurang

Dari kebutuhan Resiko

Kekurangan Plasma banyak menguap pada jaringann

Volume cairan interstitial tubuh

Perdarahan ekstra seluler Edema

Resti syok Hemoglobin turun Penekanan

syaraf

Nutrisi dan oksigen ke

Jantung menurun Gangguan rasa aman

Lemas

Intoleransi

Aktivitas

6. Manifestasi Klinis Demam Berdarah Dengue


Diagnosis DBD/DSS ditegakkan berdasarkan kriteria klinis dan
laboratorium (WHO, 2011). Manifestasi klinis :
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-
menerus selama 2-7 hari.
2. Manifestasi perdarahan, termasuk uji bendung positif, petekie, purpura,
ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan/melena.
3. Pembesaran hati
4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi (≤20
mmHg), hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan pasien
tampak gelisah.
5. Trombositopenia (≤100.000/mikroliter)
6. Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan hematokrit ≥ 20% dari nilai
dasar/ menurut standar umur dan jenis kelamin
7. Dua kriteria klinis pertama ditambah trombositopenia dan
hemokonsentrasi/ peningkatan hematokrit ≥20%.
8. Dijumpai hepatomegali sebelum terjadi perembesan plasma

9. Dijumpai tanda perembesan plasma


a. Efusi pleura (foto toraks/ultrasonografi)
b. Hipoalbuminemia
10. Pada kasus syok, hematokrit yang tinggi dan trombositopenia yang jelas,
mendukung diagnosis DSS.
11. Nilai LED rendah (<10mm/jam) saat syok membedakan DSS dari syok
sepsis.

7. Klasifikasi Derajat Penyakit Infeksi Virus Dengue


KLASIFIKASI DERAJAT PENYAKIT INFEKSI VIRUS DENGUE
(WHO, 1997)
DD/ Derajat Gejala Laboratorium
DBD
DD Demam disertai 2 atau Leucopenia,
lebih tanda; sakit trombositopenia, tidak
ditemukan bukti kebocoran
kepala, nyeri retro plasma, serologi dengue
orbital, mialgia, artalgia positif
DBD I Gejala diatas ditambah Trombositopenia
uji bendung (uji (<100.000/mikroliter),
Troniquet) positif bukti kebocoran plasma
DBD II Gejala diatas ditambah Trombositopenia
perdarahan spontan (<100.000/mikroliter),
bukti kebocoran plasma
DBD III Gejala diatas ditambah Trombositopenia
kegagalan sirkulasi (<100.000/mikroliter),
(kulit dingin dan lembab bukti kebocoran plasma
serta gelisah)
DBD IV Syok berat disertai Trombositopenia
dengan tekanan darah (<100.000/mikroliter),
dan nadi tidak terukur bukti kebocoran plasma
DBD derajat III dan IV disebut sindrom syok dengue (SSD)

8. Pemeriksaan Diagnostik Demam Berdarah Dengue


Pemeriksaan Diagnostik Demam Berdarah Dengue, :
1. Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar hemoglobin, kadar hematokrit,
jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya
limfositosis relatif disertai gambaran limfosit plasma biru (sejak hari ke 3).
Trombositopenia umumnya dijumpai pada hari ke 3-8 sejak timbulnya
demam. Hemokonsentrasi dapat mulai dijumpai mulai hari ke 3 demam.
2. Pemeriksaan Homeostatis. Pada DBD yang disertai manifestasi
perdarahan atau kecurigaan terjadinya gangguan koagulasi, dapat
dilakukan pemeriksaan hemostasis (PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau
FDP).
3. Pemeriksaan lain yang dapat dikerjakan adalah albumin, SGOT/SGPT,
ureum/ kreatinin.
4. Pemeriksaan RT-PCR . Untuk membuktikan etiologi DBD, dapat
dilakukan uji diagnostik melalui pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan
serologi atau biologi molekular. Di antara tiga jenis uji etiologi, yang
dianggap sebagai baku emas adalah metode isolasi virus. Namun, metode
ini membutuhkan tenaga laboratorium yang ahli, waktu yang lama (lebih
dari 1–2 minggu), serta biaya yang relatif mahal. Oleh karena keterbatasan
ini, seringkali yang dipilih adalah metode diagnosis molekuler dengan
deteksi materi genetik virus melalui pemeriksaan reverse transcription-
polymerase chain reaction (RT-PCR). Pemeriksaan RT-PCR memberikan
hasil yang lebih sensitif dan lebih cepat bila dibandingkan dengan isolasi
virus, tapi pemeriksaan ini juga relatif mahal serta mudah mengalami
kontaminasi yang dapat menyebabkan timbulnya hasil positif semu.
Pemeriksaan yang saat ini banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi,
yaitu dengan mendeteksi IgM dan IgG-anti dengue. Imunoserologi berupa
IgM terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3 dan
menghilang setelah 60-90 hari. Pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi
pada hari ke 14, sedangkan pada infeksi sekunder dapat terdeteksi mulai
hari ke 2.
5. ELISA. Salah satu metode pemeriksaan terbaru yang sedang berkembang
adalah pemeriksaan antigen spesifik virus Dengue, yaitu antigen
nonstructural protein 1 (NS1). Antigen NS1 diekspresikan di permukaan
sel yang terinfeksi virus Dengue. Masih terdapat perbedaan dalam
berbagai literatur mengenai berapa lama antigen NS1 dapat terdeteksi
dalam darah. Sebuah kepustakaan mencatat dengan metode ELISA,
antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari pertama sampai
hari ke 12 demam pada infeksi primer Dengue atau sampai hari ke 5 pada
infeksi sekunder Dengue. Pemeriksaan antigen NS1 dengan metode
ELISA juga dikatakan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi
(88,7% dan 100%). Oleh karena berbagai keunggulan tersebut, WHO
menyebutkan pemeriksaan deteksi antigen NS1 sebagai uji dini terbaik
untuk pelayanan primer.
6. Pemeriksaan radiologis (foto toraks PA tegak dan lateral dekubitus kanan)
dapat dilakukan untuk melihat ada tidaknya efusi pleura, terutama pada
hemitoraks kanan dan pada keadaan perembesan plasma hebat, efusi dapat
ditemukan pada kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula
dideteksi dengan USG.

9. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue


Penatalaksanaan menurut Mulya (2011) yaitu :
1. Fase Demam
Pada fase demam, dapat diberikan antipiretik + cairan rumatan / atau
cairan oral apabila anak masih mau minum, pemantauan dilakukan setiap
12-24 jam
a. Medikamentosa
 Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol
bukan aspirin.
 Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan
(misalnya antasid, anti emetik) untuk mengurangi beban
detoksifikasi obat dalam hati.
 Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati apabila terdapat
perdarahan saluran cerna kortikosteroid tidak diberikan.
 Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati.
b. Supportif
 Cairan: cairan pe oral + cairan intravena rumatan per hari + 5%
defisit
 Diberikan untuk 48 jam atau lebih
 Kecepatan cairan IV disesuaikan dengan kecepatan kehilangan
plasma, sesuai keadaan klinis, tanda vital, diuresis, dan
hematokrit
2. Fase Kritis
Pada fase kritis pemberian cairan sangat diperlukan yaitu kebutuhan
rumatan + deficit, disertai monitor keadaan klinis dan laboratorium setiap
4-6 jam.
DBD dengan syok berkepanjangan (DBD derajat IV), :
a. Cairan: 20 ml/kg cairan bolus dalam 10-15 menit, bila tekanan darah
sudah didapat cairan selanjutnya sesuai algoritma pada derajat III
b. Bila syok belum teratasi: setelah 10ml/kg pertama diulang 10 ml/kg,
dapat diberikan bersama koloid 10-30ml/kgBB secepatnya dalam 1
jam dan koreksi hasil laboratorium yang tidak normal
c. Transfusi darah segera dipertimbangkan sebagai langkah selanjutnya
(setelah review hematokrit sebelum resusitasi)
d. Monitor ketat (pemasangan katerisasi urin, katerisasi pembuluh
darah vena pusat / jalur arteri) Inotropik dapat digunakan untuk
mendukung tekanan darah
Apabila jalur intravena tidak didapatkan segera, coba cairan elektrolit per
oral bila pasien sadar atau jalur intraoseus. Jalur intraoseus dilakukan
dalam keadaan darurat atau setelah dua kali kegagalan mendapatkan jalur
vena perifer atau setelah gagal pemberian cairan melalui oral. Cairan
intraosesus harus dikerjakan secara cepat dalam 2-5 menit
3. Perdarahan hebat
a. Apabila sumber perdarahan dapat diidentifikasi, segera hentikan.
Transfusi darah segera adalah darurat tidak dapat ditunda sampai
hematokrit turun terlalu rendah. Bila darah yang hilang dapat
dihitung, harus diganti. Apabila tidak dapat diukur, 10 ml/kg darah
segar atau 5 ml/kg PRC harus diberikan dan dievaluasi.
b. Pada perdarahan saluran cerna, H2 antagonis dan penghambat pompa
proton dapat digunakan.
c. Tidak ada bukti yang mendukung penggunaan komponen darah
seperti suspense trombosit, plasma darah segar/cryoprecipitate.
Penggunaan larutan tersebut ini dapat menyebabkan kelebihan
cairan.
4. DBD ensefalopati
DBD ensefalopati dapat terjadi bersamaan dengan syok atau tidak.
a. Ensefalopati yang terjadi bersamaan dengan syok hipovolemik,
maka penilaian ensefalopati harus diulang setelah syok teratasi.
 Apabila kesadaran membaik setelah syok teratasi, maka
kesadaran menurun atau kejang disebabkan karena hipoksia
yang terjadi pada syok
 Pertahankan oksigenasi jalan napas yg adekuat dengan terapi
oksigen.

b. Jika ensefalopati terjadi pada DBD tanpa syok dan masa krisis sudah
dilewati maka,
 Cegah / turunkan peningkatan tekanan intrakranial dengan,
1) Memberikan cairan intravena minimal untuk
mempertahankan volume intravaskular, total cairan
intravena tidak boleh >80% cairan rumatan
2) Ganti ke cairan kristaloid dengan koloid segera apabila
hematokrit terus meningkat dan volume cairan intravena
dibutuhkan pada kasus dengan perembesan plasma yang
hebat.
3) Diuretik diberikan apabila ada indikasi tanda dan gejala
kelebihan cairan
4) Posisikan pasien dengan kepala lebih tinggi 30 derajat.
5) Intubasi segera untuk mencegah hiperkarbia dan melindungi
jalan napas.
6) Dipertimbangkan steroid untuk menurunkan tekanan
intrakranial, dengan pemberian deksametasone 0,15mg/kg
berat badan/dosis intravena setiap 6-8 jam.
 Menurunkan produksi amonia
1) Berikan laktulosa 5-10 ml setiap 6 jam untuk menginduksi
diare osmotik.
2) Antibiotik lokal akan mengganggu flora usus maka tidak
diperlukan pemberian
 Pertahankan gula darah 80-100 mg/dl, kecepatan infus glukosa
yang dianjurkan 4-6 mg/kg/jam.
 Perbaiki asam basa dan ketidakseimbangan elektrolit
 Vitamin K1 IV dengan dosis:umur < 1tahun: 3mg, <5 tahun:
5mg, >5 tahun:10mg.
 Anti kejang phenobarbital, dilantin, atau diazepam IV sesuai
indikasi.
 Transfusi darah, lebih baik PRC segar sesuai indikasi.
Komponen darah lain seperti suspense trombosit dan plasma
segar beku tidak diberikan karena kelebihan cairan dapat
meningkatkan tekanan intrakranial.
 Terapi antibiotik empirik apabila disertai infeksi bakterial.
 Pemberian H2 antagonis dan penghambat pompa proton untuk
mencegah perdarahan saluran cerna.
 Hindari obat yang tidak diperlukan karena sebagai besar obat
dimetabolisme di hati.
c. Hemodialisis pada kasus perburukan klinis dapat dipertimbangkan.
5. Fase Recovery
Pada fase penyembuhan diperlukan cairan rumatan atau cairan oral, serta
monitor tiap 12-24 jam. Indikasi untuk pulang. Pasien dapat dipulangkan
apabila telah terjadi perbaikan klinis sebagai berikut.
 Bebas demam minimal 24 jam tanpa menggunakan antipiretik
 Nafsu makan telah kembali
 Perbaikan klinis, tidak ada demam, tidak ada distres pernafasan,
dan nadi teratur
 Diuresis baik
 Minimum 2-3 hari setelah sembuh dari syok
 Tidak ada kegawatan napas karena efusi pleura, tidak ada asites
 Trombosit >50.000 /mm3. Pada kasus DBD tanpa komplikasi,
pada umumnya jumlah trombosit akan meningkat ke nilai normal
dalam 3-5 hari.

10. Komplikasi DBD


Menurut Widagdo (2012) komplikasi DBD adalah sebagai berikut :
1. Perdarahan
Perdarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler,
penurunan jumlah trombosit (trombositopenia) <100.000 /mm³ dan
koagulopati, trombositopenia, dihubungkan dengan meningkatnya
megakoriosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup
trombosit. Tendensi perdarahan terlihat pada uji tourniquet positif,
petechi, purpura, ekimosis, dan perdarahan saluran cerna, hematemesis
dan melena.
2. Efusi pleura
Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan
ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan dengan
adanya cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura akan terjadi
dispnea, sesak napas.
3. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang berhubungan dengan
nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan sel sel
kapiler. Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang lebih besar dan
lebih banyak dikarenakan adanya reaksi atau kompleks virus antibody.
4. Gagal sirkulasi
DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 2 – 7,
disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi
kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum,
hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi yang mengakibatkan
berkurangnya aliran balik vena (venous return), prelod, miokardium
volume sekuncup dan curah jantung, sehingga terjadi disfungsi atau
kegagalan sirkulasi dan penurunan sirkulasi jaringan.

2.2 Asuhan Keperawatan Demam Berdarah


1. Pengkajian

1. Identitas pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan
usia kurang dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama
orang tua, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.
2. Keluhan utama
Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien DHF datang ke
rumah sakit adalah panas tinggi dan pasien lemah.
3. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai
menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis. Panas turun
terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-
kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah,
anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian,
nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya
manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau
hematemasis.
4. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak biasanya
mengalami serangan ulangan DHF dengan type virus yang lain.
5. Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemumgkinan
akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan. Biasanya pada anak
mendapatkan imunisasi dasar lengkap, :
1. Usia 1 bulan : BCG
2. Usia 2-3 bulan : Hep. B I, II, III, Polio I, II,III dan DPT I, II
3. Usia 4 bulan : DPT III dan Polio III
4. Usia 9 bulan : Polio IV dan Campak.
6. Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak
dengan status gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila ada faktor
predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan
mual, muntah,dan nafsu akan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut
dan tidak disertai pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi
kurang.
7. Riwayat penyakit kelurga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain
sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa
ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
8. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
1. Pertumbuhan
Biasanya anak lahir normal atau tidak dan bagaimana kondisi
anak saat dikaji
2. Perkembangan
Biasanya difase ini lebih difokuskan ke kapan anak bisa
merangkak, berdiri, belajar berjalan, berjalan, dll.
9. Kondisi lingkungan
Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya dan lingkumgan
yang kurang bersih (seperti yang mengenang dan gantungan baju yang
di kamar).
10. Pola kebiasaan Nutrisi dan metabolisme :
Frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang, dan nafsu
makan menurun. Eliminasi BAB: kadang-kadang anak mengalami
diare atau konstipasi. Sementara DHF grade III-IV bisa terjadi melena.
Eliminasi BAK : perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit atau
banyak, sakit atau tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
Tidur dan istirahat : anak sering mengalami kurang tidur karena
mengalami sakit atau nyeri otot dan persendian sehingga kualitas dan
kuantitas tidur maupun istirahatnya kurang. Kebersihan : upaya
keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung
kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk aedes
aegypti. Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upa
untuk menjaga kesehatan.
11. Pemeriksaan fisik
Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi dari ujung rambut
sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan grade DHF, keadaan fisik
anak adalah :
a. Kesadaran : Apatis
b. Vital sign : TD : 110/70 mmHg00
c. Kepala : Bentuk mesochepal
d. Mata : simetris, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, mata
anemis
e. Telinga : simetris, bersih tidak ada serumen, tidak ada gangguan
pendengaran
f. Hidung : ada perdarahan hidung / epsitaksis
g. Mulut : mukosa mulut kering, bibir kering, dehidrasi, ada
perdarahan pada rongga mulut, terjadi perdarahan gusi.
h. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kekakuan leher
tidak ada, nyeri telan
i. Dada Inspeksi : simetris, ada penggunaan otot bantu pernafasan
Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan Perkusi : Sonor Palpasi :
taktil fremitus normal
j. Abdomen : Inspeksi : bentuk cembung, pembesaran hati
(hepatomegali) Auskultasi : bising usus 8x/menit Perkusi :
tympani Palpasi : turgor kulit elastis, nyeri tekan bagian atas
k. Ekstrimitas : sianosis, ptekie, echimosis, akral dingin, nyeri otot,
sendi tulang
l. Genetalia : bersih tidak ada kelainan di buktikan tidak terpasang
kateter
12. Sistem integumen
Adanya peteki pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul
keringat dingin dan lembab. Kuku sianosis atau tidak.
a. Kepala dan leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena
demam (flusy), mata anemis, hidung kadang mengalami
perdarahan (epistaksis) pada grade II,III, IV. Pada mulut
didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan
gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami
hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telingga (grade II,
III, IV).
b. Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang sesak. Pada
fhoto thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada
paru sebelah kanan, (efusi pleura), rales, ronchi, yang
biasanya terdapat pada grade III dan IV.
c. Abdomen
Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati
(hepatomegali) dan asites. Ekstremitas : akral dingin, serta
terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.
13. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan adanya
infeksi dengue adalah : Uji rumple leed / tourniquet positif
2. Darah, akan ditemukan adanya trombositopenia,
hemokonsentrasi, masa perdarahan memanjang, hiponatremia,
hipoproteinemia.
3. Air seni, mungkin ditemukan albuminuria ringan
4. Serologi, dikenal beberapa jenis serologi yang biasa dipakai
untuk menentukan adanya infeksi virus dengue antara lain : uji
IgG Elisa dan uji IgM Elisa
5. Isolasi virus
Identifikasi virus dengan melakukan fluorescence anti body
technique test secara langsung / tidak langsung menggunakan
conjugate (pengaturan atau penggabungan)
6. Identifikasi virus
Identifikasi virus dengan melakukan fluorescence anti body
tehnique test secara langsung atau tidak langsung dengan
menggunakan conjugate
7. Radiologi
Pada foto thorax selalu didapatkan efusi pleura terutama
disebelah hemi thorax kanan.

2. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan mekanisme tubuh untuk melawan virus, peningkatan asam lambung,
intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual, muntah dan anoreksia ditandai
dengan gangguan kebutuhan nutrisi dan berat badan tidak seimbang.
2. Resiko kekurngan volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler ditandai dengan turgor kulit kurang baik dan
haluaran urin pekat.
3. Resti syok berhubungan dengan komplemen antigen dan antibodi meningkat,
pembesaran histamin, pembebasan histamin, peningkatan permebialitas
dinding pembuluh darah, kebocoran plasma dan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya cairan intra skuler ke ekstra skuler ditandai dengan terjadi syok
hipovolemik dan tanda-tanda vital tidak dalam batas normal.
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan hemoglobin akibat perdarahan
ekstra seluler, nutrisi dan oksigen ke jantung menurun ditandai dengan
kondisi badan yang lemas.
5. Gangguan rasa aman berhubungan dengan plasma banyak menguap pada
jaringan interstitial tubuh, edema dan penekanan syaraf ditandai dengan
kondisi tubuh yang lemah.
6. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue ditandai dengan
pasien mengatakan kondisi tubuhnya kurang nyaman, suhu 40C, respirasi 28
x/mnt, dan nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba.
3. Intervensi Keperawatan

No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional Evaluasi


1. Gangguan Setelah dilakukan 1. Kaji riwayat 1. Mengidentifikasi menduga 1. Pasien tidak ada
pemenuhan perawatan selama … nutrisi, termasuk kemungkinan intervensi. tanda-tanda
nutrisi kurang x 24 jam diharapkan makanan yang 2. Mengawasi masukan malnutrisi.
dari kebutuhan tidak terjadi disukai. kalori, konsumsi makanan. 2. Pasien menunjukkan
tubuh gangguan kebutuhan 2. Observasi dan 3. Mengawasi penurunan. berat badan yang
berhubungan nutrisi, Kriteria : catat masukan 4. Makanan sedikit dapat seimbang.
dengan a. Tidak ada makanan pasien. menurunkan kelemahan
mekanisme tanda-tanda 3. Timbang BB tiap dan meningkatkan masukan
tubuh untuk malnutrisi. hari (bila juga mencegah distensi
melawan virus, b. Menunjukkan memungkinkan ). gaster.
peningkatan berat badan 4. Berikan makanan 5. Meningkatkan nafsu makan
asam lambung, yang sedikit namun dan masukan peroral.
intake nutrisi seimbang. sering dan atau 6. Menurunkan distensi dan
yang tidak iritasi gaster.
adekuat akibat makan diantara
mual, muntah waktu makan
dan anoreksia 5. Berikan dan
ditandai dengan Bantu oral
gangguan hygiene.
kebutuhan 6. Hindari makanan
nutrisi dan berat yang merangsang
badan tidak dan mengandung
seimbang. gas.
2. Resiko Setelah dilakukan 1. Observasi vital 1. Vital sign membantu 1. Kebutuhan
kekurangan perawatan selama … sign tiap 3 mengidentifikasi cairan pasien
volume cairan x 24 jam diharapkan jam/lebih sering. fluktuasi cairan terpenuhi.
berhubungan kebutuhan cairan 2. Observasi intake intravaskuler. 2. Turgor kulit
dengan terpenuhi dengan dan output. Catat 2. Penurunan haluaran urine pasien baik.
pindahnya kriteria hasil: warna urine pekat dengan diduga 3. Haluaran urin
cairan a. Turgor kulit /konsentrasi. dehidrasi. pasien tepat.
intravaskuler ke baik 3. Anjurkan untuk 3. Untuk memenuhi
ekstravaskuler minum 1500- kabutuhan cairan tubuh
ditandai dengan 2000 ml /hari. peroral.
turgor kulit b. Haluaran urin 4. Lakukan 4. Dapat meningkatkan
kurang baik dan tepat secara tindakan jumlah cairan tubuh,
haluaran urin individu. kolaborasi: untuk mencegah
pekat. Pemberian cairan terjadinya hipovolemic
intravena. syok.

3. Resti syok Setelah dilakukan 1. Monitor keadaan 1. Untuk memonitor kondisi. Tanda-tanda vital
berhubungan perawatan selama … umum pasien. 2. Perawat perlu terus pasien dalam batas
dengan x 24 jam tidak terjadi 2. Observasi vital mengobaservasi vital sign normal.
komplemen resti syok, Kriteria : sign setiap 3 jam untuk memastikan tidak
antigen dan Tanda-tanda vital atau lebih. terjadi resti syok.
antibodi dalam batas normal. 3. Jelaskan pada 3. Dengan melibatkan pasien
meningkat, pasien dan dan keluarga maka tanda-
pembesaran keluarga tanda tanda perdarahan dapat
histamin, perdarahan, dan segera diketahui dan
pembebasan segera laporkan tindakan yang cepat dan
histamin, jika terjadi tepat dapat segera
peningkatan perdarahan. diberikan.
permebialitas
dinding 4. Lakukan 4. Cairan intravena
pembuluh darah, tindakan diperlukan untuk
kebocoran kolaborasi: mengatasi kehilangan
plasma dan Pemberian cairan cairan tubuh secara hebat.
perdarahan yang intravena. 5. Untuk mengetahui tingkat
berlebihan, 5. Lakukan kebocoran pembuluh
pindahnya tindakan darah yang dialami pasien
cairan intra kolaborasi: dan untuk acuan
skuler ke ekstra pemeriksaan : melakukan tindakan lebih
skuler ditandai HB, PCV, lanjut.
dengan terjadi trombosit.
syok
hipovolemik dan
tanda-tanda vital
tidak dalam
batas normal.
4. Intoleransi Setelah dilakukan 1. Kaji keluhan 1. Untuk mengidentifikasi 1. Pasien mampu
aktifitas perawatan selama … pasien. masalah-masalah pasien. mandiri setelah
berhubungan x 24 jam tidak terjadi 2. Kaji hal-hal yang 2. Untuk mengetahui tingkat bebas demam.
dengan intoleransi aktifitas, mampu atau yang ketergantungan pasien 2. Kebutuhan aktivitas
hemoglobin Kriteria : tidak mampu dalam memenuhi sehari-hari
akibat a. Pasien mampu dilakukan oleh kebutuhannya. terpenuhi.
perdarahan mandiri setelah pasien. 3. Pemberian bantuan sangat
ekstra seluler, bebas demam. 3. Bantu pasien diperlukan oleh pasien pada
nutrisi dan b. Kebutuhan untuk memenuhi saat kondisinya lemah dan
oksigen ke aktivitas sehari- kebutuhan perawat mempunyai
jantung hari terpenuhi. aktivitasnya tanggung jawab dalam
menurun sehari-hari sesuai pemenuhan kebutuhan
ditandai dengan tingkat sehari-hari pasien tanpa
kondisi badan keterbatasan mengalami ketergantungan
yang lemas. pasien. pada perawat.
4. Letakkan barang- 4. Akan membantu pasien
barang di tempat untuk memenuhi
yang mudah kebutuhannya sendiri tanpa
bantuan orang lain.
terjangkau oleh
pasien.
5. Gangguan rasa Setelah dilakukan 1. Kaji gangguan 1. Menetapkan tingkat Pasien merasa aman
aman perawatan selama … rasa aman yang gangguan rasa aman pasien.
berhubungan x 24 jam diharapkan dialami pasien. 2. Pasien bersifat terbuka
dengan plasma tidak terjadi 2. Jalin hubungan dengan perawat.
banyak gangguan kebutuhan saling percaya 3. Sikap empati akan membuat
menguap pada nutrisi, Kriteria : dengan pasien. pasien merasa diperhatikan
jaringan Rasa aman 3. Tunjukkan sifat dengan baik.
interstitial terpenuhi. empati 4. Meringankan beban pikiran
tubuh, edema 4. Beri kesempatan pasien
dan penekanan pada pasien 5. Agar segala sesuatu yang
syaraf ditandai merasa disampaikan diajarkan pada
dengan kondisi diperhatikan pasien memberikan hasil
tubuh yang dengan baik. yang efektif.
lemah. 5. Gunakan
komunikasi
teraupetik.
6. Hipertermi Setelah dilakukan 1. Beri kompres air 1. Untuk membuka pori-pori. 1. Pasien mengatakan
berhubungan perawatan .. x 24 jam hangat. 2. Untuk mengganti cairan kondisi tubuhnya
dengan proses diharapkan suhu 2. Anjurkan pasien tubuh yang hilang akibat sudah terasa
infeksi virus tubuh pasien dapat untuk banyak evaporasi. nyaman.
denguae berkurang dengan minum 1500- 3. Memberikan rasa nyaman 2. Suhu tubuh pasien
ditandai dengan kriteria hasil: 2000 cc/hari. dan pakaian yang tipis 37C.
pasien a. Pasien 3. Anjurkan pasien mudah menyerap keringat 3. Resipirasi pasien 20
mengatakan mengatakan untuk dan tidak merangsang x/mnt.
kondisi kondisi tubuhnya menggunakan peningkatan suhu tubuh. 4. Nadi pasien 80
tubuhnya kurang nyaman. pakaian yang 4. Mendeteksi dini x/mnt.
nyaman, suhu b. Suhu 36,8- tipis dan mudah kekurangan cairan serta
40C, respirasi 37,50C menyerap mengetahui keseimbangan
28x/mnt, dan c. Respirasi 16-24 keringat. cairan dan elektrolit dalam
nadi cepat dan x/mnt 4. Observasi intake tubuh. Tanda vital
lemah sampai d. Nadi 60-100 dan output, tanda merupakan acuan untuk
tidak teraba x/mnt. vital ( suhu, nadi, mengetahui keadaan umum
tekanan darah ) pasien.
tiap 3 jam sekali. 5. Pemberian cairan sangat
penting bagi pasien dengan
5. Kolaborasi suhu tubuh yang tinggi.
pemberian cairan Obat khususnyauntuk
intravena dan menurunkan suhu tubuh
pemberian obat pasien.
sesuai program.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus akut
yang disebabkan oleh virus Dengue dan terutama menyerang anak- anak
dengan ciri- ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi perdarahan dan
bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan mungkin juga Albopictus. Kedua jenis
nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia kecuali ketinggian
lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Masa inkubasi penyakit ini
diperkirakan lebih kurang 7 hari. Penyakit Demam Berdarah Dengue dapat
menyerang semua golongan umur.

3.2 Saran
Serangan penyakit demam berdarah bisa menyarang siapa saja
terutama pada anak. Maka, diperlukan kesadaran dan peran aktif semua lapisan
masyarakat untuk menghindari demam berdarah. Disarankan untuk masyarakat
hendaknya melaksanakan 3M plus, yaitu :
1. Menguras tempat-tempat pembuangan air atau barang-barang yang
menggenang air seperti vas bunga, bak mandi, ember dan sejenisnya,
2. Penutup rapat semua penampungan air seperti ember, empang, drum dan
sejenisnya,
3. Mengubur semua barang bekas yang dapat digenangi air.
Adapun saran tambahan untuk menghindari nyamuk yang berada
dilingkungan tempat tinggal, yaitu :
1. Mengolesi tubuh dengan obat anti digigit nyamuk,
2. Mumbubuhi abate disemua tempat air,
3. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk,
4. Memasang kawat nyamuk pada ventilasi,
5. Mengusir nyamuk dengan obat nyamuk,
6. Tidak mempunyai hobi menggantungkan baju.
DAFTAR PUSTAKA

E-Book Situasi DBD. 2016. Karya Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan
RI. Di unduh tanggal 09 November 2018.
E-Buletin Demam Berdarah Dengue. 2013 karya Kementrian Kesehatan RI. Di
unduh tanggal 07 November 2018.
E-Journal Demam Berdarah Dengue : Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor
Resiko Penularan. 2010 karya Aryu Chandra. Di unduh tanggal 07 November
2018.
E-Journal Pencegahan dan Pengobatan DBD (Demam Berdarah Dengue). 2013.
Karya Sri Kusniati. Di unduh tanggal 07 November 2018.
NANDA NIC NOC., 2017., Asuhan Keperawatan berdasarkan diagnosa media.,
Media Action., Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai