Anda di halaman 1dari 13

ANTI DEPRESSAN

1. Amitriptyline

Bentuk sediaan : Tablet


Dosis sediaan : 25 mg

Indikasi
digunakan pada keadaan ansietas dan depresi

Dosis
Dosis awal 3-4 kali sehari 1 tablet, kemudian ditingkatkan sampai 6 tablet dalam dosis terbagi.
Dosis tidak boleh melebihi 12 tablet dalam sehari.
Peringatan dan perhatian :
 Penghentian pengobatan sebaiknya secara bertahap
 Sebaiknya tidak menjalankan kendaraaan atau mesin
 Tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui dan anak dibawah 16 tahun
 Hati-hati pada pasien penderita gangguan hati, hipertiroid dan glaukoma

Kontraindikasi
 Jangan diberikan pada penderita skizofrenia
 Penderita yang peka dengan antidepressant trisiklik
 Penderita dengan riwayat aritmia, infark jantung, kelainan jantung bawaaan

Efek samping
Rasa kering dimulut, sembelit, retensi urin, sedasi, leucopenia, nausea, postural hipotensi, tremor,
skin rash.

Interaksi Obat
Senyawa ini ber interaksi dengan klonidin dan guanetidin.

Cara penyimpanan
Simpan di tempat sejuk dan kering.

2. Maprotiline HCl

Bentuk Sediaan : Tablet salut selaput


Dosis Sediaan : 50 mg

Indikasi :
Pengobatan depresi endogen.

Posologi/Dosis :
Dewasa : Dosis lazim 25-75 mg/hari sebagai dosis tunggal atau terbagi tiga.
Untuk depresi sedang sampai berat, dosis dimulai 75 mg/hari, jika perlu dapat dinaikkan perlahan
sampai 150 mg/hari.
Pasien harus dikontrol pada awal pengobatan dan dosis disesuaikan setelah 1 – 2 minggu
pemberian tergantung respon penderita.
Tidak dianjurkan penggunaan pada anak-anak.
Pasien usia lanjut atau penderita yang sensitif terhadap obat ini sebaiknya menggunakan dosis
rendah dan dapat dinaikkan secara bertahap (mulai 10 mg 3 kali sehari atau 30 mg dosis tunggal)
setelah 1 – 2 minggu dosis dapat ditingkatkan bertahap sampai 25 mg 3 kali sehari atau 75 mg
dosis tunggal tergantung respon penderita.
Selama terapi dengan Maprotiline pasien harus berada dibawah pengawasan dokter.
Jadwal pemberian obat harus ditentukan secara individual dan disesuaikan dengan keadaan dan
respon pasien, misalnya dengan meningkatkna dosis malam hari dan pada waktu yang sama
menurunkan dosis siang hari atau sebagai alternatif dengan hanya memberikan obat sekali sehari.
Dosis total 150 mg/hari tidak boleh dilampaui.

Efek Samping :
- System saraf pusat. Neurologis : kadang-kadang atau sering : pusing, sakit kepala; jarang :
konvulsi, gangguan ekstrapiramidal (misalnya tremor, akathisia, mioklonus), ataksia; kasus
yang berdiri sendiri atau jarang terjadi : disartria, kelemahan, parestesia (mati rasa, seperti
ditusuk-tusuk). Psikiatrik, kadang-kadang atau sering: kelelahan sementara, sedasi di siang
hari, perasaan mengantuk; jarang : gangguan tidur, agitasi, cemas, kasus-kasus yang berdiri
sendiri: mimpi buruk, gelisah, keadaan bingung, delirium, halusinasi, hipomania, mania.
- Efek antikolinergik : Kadang-kadang atau sering : mulut kering; jarang : penglihatan kabur;
jarang atau kadang-kadang : retensi urin; kasus stomatitis yang berdiri sendiri. Peningkatan
insiden karies gigi, pernah dilaporkan pada pasien yang mendapat terapi dengan antidepresan
untuk jangka waktu lama; oleh karena itu, selama terapi jangka panjang sebaiknya dilakukan
pemeriksaan gigi secara teratur.
- Kulit : Kadang-kadang : reaksi kulit (ruam, urtikaria), kadang-kadang dengan demam; kasus
yang berdiri sendiri: vaskulitis kulit, gatal, purpura, fotosensitivitas, edema. Lain-lain:
Kadang-kadang atau sering : berkeringat, kadang-kadang kenaikan berat badan; jarang :
gangguan seksual; kasus-kasus yang berdiri sendiri : kemerahan di kulit, rambut rontok atau
alopesia.
- Hati : peningkatan kadar transaminase serum, hepatitis dengan atau tanpa jaundice.
- Darah : leucopenia, agranulositosis, eosinophilia.
- Alat indera : gangguan indera pengecap, tinnitus.
- Saluran pencernaan : mual, muntah (kadang-kadang), konstipasi.
- Sistem kardiovaskuler : hipotensi postural, takikardia, aritmia, hipertensi, syncope.
- Saluran pernapasan : alveolitis alergik dengan atau tanpa eosinophilia.
- Sistem endokrin : pembesaran payudara, galactorea.
- Ruam kulit : serangan dapat terjadi baik pada penderita epilepsi atau yang sudah pernah
mengalami penyakit epilepsi.
- Pasien usia lanjut biasanya sangat sensitif terhadap efek samping anti kolinergik, neurologis,
psikiatris atau kardiovaskuler.

Interaksi obat :

- Karena Maprotiline dapat mengurangi atau menghilangkan efek antihipertensi penghambat


neuron adrenergik seperti Guanetidine atau Bethanidine, dan dapat meningkatkan efek
sedative pusat dari Reserpine atau Methyldopa, untuk terapi hipertensi sebaiknya dipakai obat
antihipertensi dengan sifat yang berbeda (misalnya diuretik, vasodilator atau penghambat beta
yang tidak mengalami biotransformasi yang nyata) dan tekanan darah pasien harus dipantau.
- Pemberian Maprotiline bersama-sama dengan Phenytoin dapat meningkatkan konsentrasi
Phenytoin di dalam serum dan menyebabkan timbulnya efek samping obat yang terakhir
disebut. Kalau perlu, dosis obat-obat tersebut harus disesuaikan.
- Pemberian Maprotiline bersama-sama dengan penghambat beta yang mengalami
biotransformasi yang nyata (misalnya propanolol), dapat meningkatkan konsentrasi
Maprotiline di dalam plasma. Pada permulaan dan akhir pengobatan seperti ini dosis
Maprotiline harus disesuaikan dan/atau konsentrasi di dalam plasma diukur.
- Meskipun belum pernah dilaporkan terjadi pada pemberian Maprotiline, diketahui bahwa
pemberian Cimetidine bersama-sama dengan antidepresan trisiklik, misalnya Imipramine,
dapat meningkatkan konsentrasi obat yang terakhir disebut di dalam serum dan dapat
menyebabkan timbulnya efek samping (misalnya kekeringan mulut yang sangat hebat,
gangguan penglihatan).
- Hindari penggunaan obat bersama dengan obat golongan MAO. Bila perlu penggunaan
Maprotiline setelah pemberian obat penghambat MAO, sebaiknya dilakukan dengan jangka
waktu yang cukup (minimal 14 hari).
- Methylphedinate dan obat-obat nemoleptik dapat meningkatkan konsentrasi Maprotiline dari
plasma.
- Hati-hati pemberian pada pasien yang mendapat terapi obat simpatomimetik karena dapat
meningkatkan efek samping kardiovaskuler dan golongan obat-obat simpatomimetik.
- Maprotilini dapat meningkatkan efek dari Alkohol, obat-obat antidepresan susunan saraf
pusat serta obat antikolinergik misalnya : Atropine, Hipesidene, dan Levodopa.
- Obat-obat penginduksi enzim hepatik dapat mempercepat metabolism Maprotiline sehingga
memperlemah efek antidepresinya.

Cara penyimpanan :

Simpan di bawah suhu 30o C, terlindung dari cahaya. Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.

3. Sertaline HCl

Bentuk Sediaan : Kaplet salut selaput


Dosis Sediaan : 50 mg

Indikasi :
Pengobatan gejala – gejala penyakit depresi pada pasien dengan atau tanpa riwayat mania.

Dosis :
- Dosis awal 50 mg dan dosis terapi lazim adalah 50 mg sehari. Dosis dapat ditingkatkan lagi,
bila perlu sampai 150 mg atau maksimal 200 mg sehari di atas periode 1 minggu. Penderita
harus diberi dosis efektif serendah mungkin, dosis 150 mg atau lebih tidak boleh diberikan
selama lebih dari 8 minggu.
- Penggunaan pada pasien lanjut usia sama dengan dosis dewasa.

Efek Samping :

- Mulut kering, mual, diare / faeces lunak, hambatan ejakulasi, tremor, bertambahnya keringat
dan dyspepsia.
- Insomnia, dizziness
- Efek samping yang jarang : hypertension, hypotension, tachycardia, ataxia, abnormal
coordination, hyperesthesia, migraine, dysphagia, artalgia, emotional lability,
dysmenorrheal, bronchospasm, dyspnea, dysuria, peripheral edema.
- Pemberian Sertaline dalam kombinasi dengan obat-obat CNS lainnya
- Penggunaan bersama alcohol tidak dianjurkan, meskipun tidak ada interaksi dengan alcohol
- Kemungkinan interaksi dengan obat-obat lain yang ikatan proteinnya tinggi harus
diperhatikan.

Penyimpanan :

Simpan pada suhu di bawah 30oC

4. Escitalopran Oksalat

Bentuk sediaan : Tablet


Dosis sediaan : 10 mg

Indikasi
 Pengobatan episode depresi utama.
 Pengobatan gangguan panik dengan atau tampa agorabhobia.

Dosis

Dosis aman harian di atas 20 mg belum terbukti. ELXION diberikan sebagai dosis harian dan
dapat diberikan dengan atau tampa makanan.

 Episode depresi utama


Dosis yang biasa adalah 10 mg sekali sehari. Tergantung respon pada masing-masing
pasien, dosis, dapat ditingkatkan sampai maksimal 20 mg sehari. Biasanya 2-4 minggu,
diperlukan untuk pendapatkan respon antidepresian. Setelah gejala reda, diperlukan
pengobatan selama minimal 6 bulan untuk konsolidasi respon.
 Gangguan panik dengan atau tampa agoraphobia

Dosis awal 5 mg sekali sehari direkomendasikan untuk minggu pertama sebelum


meningkatkan dosis sampai 10 mg perhari. Dosis dapat ditinkatkan lebih lanjut, sampai
maksimum 20 mg per hari, tergantung respon pada masing-masing pasien, efektipitas
maksimum tercapai setelah sekitar 3 bulan. Pengobatan berlangsung beberapa bulan.

Pasien lanjut usia ( > 65 tahun) :

Perawatan awal dengan setengah dosis, biasanya dianjurkan dan dosis maksimum yang
lebih rendah perlu dipertimbangkan.

Anak-anak dan remaja(< 18 tahun) :

Tidak direkomendasikan, karena keamanan dan kemanjuran belum diteliti dalam populasi
ini.

 Penrunan fungsi ginjal


Penyesuaian dosis tidak diperlukan pada pasien dengan gangguan ginjal ringan atau
sedang. Perhatian dianjurkan pada pasien dengan pungsi ginjal sangat berkurang (CLCR
kurang dari 30 ml/ menit).
 Penurunan fungsi hati
Dosis awal 5 mg per hari selama dua minggu pertama pengobatan dianjurkan.
Tergantung respon pada masing-masing pasien, dosis dapat ditingkatkan sampai 10 mg.
perhatian dan hati-hati pada pemberian dosis titrasi pada pasien dengan pungsi hati yang
menurun.
 Perhatian pengobatan
Ketika menghentikan pengobatan dengan elxion dosis harus dikurangi secara bertahap
selama satu ata dua minggu untuk menghindari gejala penghentian yang memugkinkan.

Efek samping
Penyakit kuning, hipotensi postural dan depresi pernafasan, dyscrasias darah, dystonia akut,
akathisia, tardive dyskinesia, gangguan penglihatan.
Mengantuk, hipotensi ortostatik jarang terjadi.
Dosis besar menyebabkan reaksi ekstrapiramidal (kekakuan otot leher, tremor, kesulitan bicara)
dan leokopeni.

Interaksi Obat

Interaksi dengan produk obat lainnya dan bentuk-bentuk interaksi farmakodinamik

 Kombinasi kontra indikasi:


Non-selektif MAOLs
Kasus reaksi serius telah dilaporkan pada pasien yang menerima SSRI dalam kombinasi
dengan non-selektif monoamine oxidase inhibitor (MAOI), dan pada pasien yang baru
saja menghentikan pengobatan SSRI yang telah memulai pengobatan MAOI. Dalam
beberapa kasus, pasien mengalami sindoron sorotain.
Escitalopram dikontraindikasikan dalam kombinasi dengan non-selektif MAOIs.
Escitalopran dapat dimulai 14 hari setelah menghentikan pengobatan MAOI irreversible
dan setidaknya satu hari setelah menghentikan pengobatan dengan MAOI reversible
(RIMA) moclobemide, setidaknya 7 hari harus dilalui setelah menghentikan pengobatan
escitlopran, sebelum memulai MAOI non-selektif.
 Kombinasi yang tidak disarankan :
Reversible, selektif inhibitor MAO-A (moklobemide)
Karena resiko sendrom serotonin, kombinasi escitalopram dengan inhibitor MAO-A tidak
dianjurkan. Jika kombinasi terbukti diperlukan, harus dimulai pada minimum dosis yang
disarankan dan pemantauan klinis sangat dianjurkan.
 Kombinasi yang membutuhkan tindakan prhatian untuk digunakan:
Selegiline
Dalam kombinasi dengan selegiline (irreversible MAO-B inhibitor), perlu diperhatikan
karena resiko mengembangkan sindrom sorotain. Dosis selegiline hingga 10 mg/hari
telah aman diberikan bersama dengan citalopram resemat
 Produk obat serotonegrik
Pemberian bersamaan dengan produk obat serotonegrik (missal tramadol, sumatriptan
dan triptans lainnya) dapat menyebabkan sindrom seretoin.
 Produk obat menurunkan ambang kejang
SSRI dapat menrunkan ambang kejang, perhatian dianjurkan bila bersamaan
menggunakan produk obat lain yang dapat menurunkan ambang kejang (misalnya
antidepresan (terisiklik, SSRI) neuroleptik (fenotiazin, thioxanthenes, butyrophenones)
meflokuine, bupropion, dan tramadol).
 Lithium triptofn
Ketika SSRI diberikan bersama-sama dengan lithium atau triptofan efeknya ditingkatkan,
oleh karena itu menggunaan bersamaan SSRI dengan produk obat ini harus dilakukan
hati-hati.
 St John’s wort
Seiring penggunan SSRI dan obat herbal yang mengandung St john Wort (hyperycum
perforatum) dapat menyebabkan peningkatan insiden reaksi yang merugikan.
 Pendarahan

Perubahan efek angti-koagulan dapat terjadi ketika escitalopram dikombinasikan dengan


antikoagulan oral. Pasien yang menerima terapi antikoagulan oral harus mendapatkan
pemantauan ketat koagulasi ketika escitalopran dimulai atau dihentikan.

 Alcohol
Tidak ada interaksi farmakodinamik atau farakokinetik diharapkan antara escitalopran
dan alkohol. Namun, seperti produk obat-obatan psikotropika lainnya, kombinasi dengan
alcohol tidak dianjurkan.
 Kehamilan

Escitalopran oksalat sebaiknya tidak digunakan selama kehamilan kecuali jelas


diperlukan dan hanya setelah pertimbangan hati-hati dari rasio risiko/mamfaat.

 Laktasi
Diharapkan bahwa escitalopran akan dieksresikan kedalam air susu ibu dan, menyusui
tidak dianjurkan selama perawatan.

Efek yang tidak diinginkan

Efek samping paling sering selama minggu pertama atau kedua pengobatan dan biasanya
menurun dalam intensitas dan frekuensi dengan pengobatan lanjut.

Setelah pemberian berkepanjangan penghentian mendadak SSR dapat menghasilkan gejala


penghetian pada beberapa pasien.

Metabolism dan gangguan nutrisi : nafsu makan menurun

Gangguan kejiwaan : libido menurun, anorgasmia (perempuan).


Gangguan sistem saraf : insomnia, mengantuk, pusing, ganguan rasa, gangguan tidur.

Pernapasan, dada dan gangguan mediastium : sinusitis dan menguap

Gangguaan saluran cerna : mual, diare dan sembelit.

Kulit dan gangguan jaringan subkutan : brkeringan meningkat

Gangguan sistem reproduksi dan payudara : gangguan ejkulasi, inpotensi

Gangguan umum dan kondisi pada saat pemberian : kelelahan dan demam

Efek samping berikut berlaku untuk kelas terapi SSR

Gangguan metabolisme dan nutrisi : hiponatrimia dan sekresi ADH

Gangguan kejiwaan : halusinasi, mania, kebingungan, agitasi, kecemasan, depersonalisasi,


serangan panic, gugup

Gangguan sistem syaraf : kejang, tremor, gangguan gerak, dan sindrom sorotinin

Gangguan mata : penglihatan yang abnormal

Gangguan pembuluh darah : hipotensi postural

Gangguan saluran cerna : mual, muntah, mulut kering, diare dan anoreksia

Gangguan hepatobiliary : uji fungsi hati abnormal

Kulit dan gangguan jaringan subkutan : ruam, ekimosis, pruritus, agioedema dan berkeringat

Musculoskeletal dan gangguan jaringan ikat : arthagia dan mialgia

Ginjal dan gangguan saluran kencing : retensi urin

Gangguan sistem produksi dan payudara : glaktorea, istilah disfungsi seksual termasuk impotensi,
gangguan ejakulasi dan anorgasmia.

Gangguan umum dan kondisi pada saat pemberian : insomnia, pusing, kelelahan, mengantuk, dan
reaksi anafilaksis.

Overdosis

Toksisitas

Pada saat 190 mg escitalopram yang di berikan tidak terdapat gejala serius yang dilaporkan.

 Gejala
Gejala overdosis dengan citalopram resemat (> 600 mg): pusing, tremor, agitasi,
mengantuk, tidak sadar, kejang, takkikardia, perubahan EKG dengan perubahan DT-T,
perluasan kompleks, QRS, interval QT yang berkepanjangan , aritmia, depresi
pernapasan, muntah, rhabdomyolysis, osidosis metabolic, hipokalemia. Hal ini
diantisipasi bahwa overdosis dengan escitalopran akan menghasilkan gejala yang sama.
 Penggobatan

Tidak ada antidotum khusus. Membuka dan memelihara jalan napas, memastikan
oksigensi yang memadai dan fungsi pernafasan. Bilas lambung harus dilakukan sesegera
mungkin setelah konsumsi oral. Penggunan arang aktif harus dipertimbangkan. Tanda-
tanda monitoring jantung dan tanda vital diperlukan untuk pemantauan dari gejala awal.

Tindakan pencegahan khusus untuk penyimpanan

Tidak ada pencegahan khusus untuk penyimpanan.

5. Fluoxetine HCL

Bentuk sediaan : Kapsul


Dosis sediaan : 20 mg

Indikasi
Antidepresi

Dosis

Dewasa:

- Dosis awal : 20mg/hari dianjurkan diberikan pada pagi hari, dosis 20 mg/ hari dapat
diberikan 1-2 kali sehari (pagi dan malam hari). Dosis maksimum 80mg/hari.
- Pengobatan pada depresi akut membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan
pengobatan farmakologi yang dilakukan secara terus menerus.
- Untuk pengobatan jangka panjang dapat diberikan dosis yang lebih rendah.
- Pada penderita kerusakan fungsi hati dan ginjal, dosis sebaiknya dikurangi, atau interval
waktu pemberian dapat diperpanjangkan.

Anak – anak :

- Pemakaian fluoxetine pada anak – anak tidak dianjurkan

Efek samping
- Astenia, demam , mual, muntah, sakit kepala, gelisah, kantuk, radang faring, ruam kulit
dan atau biduran.
- Mulut kering, diare, gangguan pencernaan, gangguan tidur.
- Pernah dilaporkan terjadi penurunan denyut nadi, lambatnya denyut jantung, reaksi
ekstrapiramidal dan akatisia.
Interaksi Obat
- Menghamdat Monoamine Oksidase
- Hati – hati penggunaan Fluoksetin bersama dengan obat – obat CNS termasuk Lithium.
Kasus keracunan Lithium pernah dilaporkan dan pada penggunaan Lithium kadar dalam
darah harus dimonitor.
- Fluoxetine terkait pada protein plasma dan dapat mengubah kadar obat lain yang juga
mudah terkait dalam protein plasma. Pada uji secara umum, setelah obserpasi pada uji
klinis tidak ada injeksi obat antara Fluoxetine dan Chlorothiazide, Ethanol, Secobarbital,
Tolbutamide dan Warfarin.
- Potensi Floxetine akan hilang dengan adanya Alcohol.
- Penggunaan bersamaan dengan Trytophan dapat mengebabkan agitasi dan kegesisahan.
- Penggunaan bersamaan dengan Diazepam dapat memperpanjang waktu paruh Diazepam.
- Penggunaan pada penggunaan Diabetes mellitus dapat memperngaruhi kadar glukosa
dalam darah sehingga dosis insulin atau Sulfonylurea yang dipakai bersamaan harus
disesuaikan.

Cara penyimpanan
Simpan di bawah suhu 30˚C, terlindung dari cahaya.
Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
ANTI CEMAS/ANTI ANSIETES

6. Clonazepam

Bentuk sediaan : Tablet


Dosis sediaan : 2 mg

Indikasi
Clonazepam digunakan sebagai obat tunggal atau sebagai obat tambahan pada pengobatan
sindrom “Lennox Gastaut” (“typical dan atypical absence”) dan pada serangan
mioklonikdanakinetik. Clonazepam juga dapat digunakan pada pasien dengan “absenceseizures”
(“petit mal”) yang tidak memberikan respon terhadap pemberian Suksinimida.

Dosis
Dosis awal :
 Bayi dan anak < 10 tahun (BB sampai 30 kg) : 0.01-0.03 mg/kg tiap hari.
 Anak > 10 tahun (BB lebihdari 30 kg) dan orang dewasa : 1-2 mg per hari.
Dosis pemeliharaan :
 Bayi dan anak < 10 tahun (BB sampai 30 kg) : 0.05-0.1 mg/kg per hari.
 Anak umur 10-16 tahun (BB lebihdari 30 kg) : 1.5-3 mg per hari.
 Dewasa : 2-4 mg per hari.
Bila dosis pemeliharaan telah tercapai, dosis paling besar diberikan pada sore hari. Dosis
pemeliharaan sebaiknya dicapai setelah pengobatan selama 1-3 minggu. Pada bayi sebaiknya
diberikan sediaan tetes/drops untuk mendapatkan dosis optimal.
Dosis terapi maksimal dalam sehari yaitu 20 mg.

Efek samping
 Kelelahan, mengantuk, letih, pusing, kepala terasa ringan dan ataksida.
 Depresi pernafasan dapat terjadi, terutama bila clonazepam diberikan secara intravena.
 Menyebabkan peningkatan produksi air liur dan sekresi bronkus.
 Gejala “withdrawal” dapat terjadi setelah penggunaan jangka Panjang, terutama jika
dosis per hari dikurangi dengan cepat.

InteraksiObat
 Pengobatan bersama-sama dengan Phenytoin atau Pirimidon dapat meningkatkan
konsentrasi serum dari kedua obat ini.
 Kombinasi Clonazepam dengan Asam valproic dapat menyebabkan status epilepsi petit
mal.
 Pemberian bersama-sama dengan Barbiturat, Hidantoin atau Carbamazepin dapat
mempercepat biotranformasi Clonazepam tanpa mempengaruh ikatan proteinnya.
 Pemberian bersama obat antikonvulsi lain, anastetik, hipnotik dapat menyebabkan efek
obat saling menguatkan.
Cara penyimpanan
Simpan di bawahsuhu 30˚C, terlindung dari cahaya.
Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

7. Lorazepam

Bentuk sediaan : Tablet


Dosis sediaan : 2 mg

Indikasi
Pengobatan jangka pendek gejala-gejala ansietas yang berhubungan dengan gejala depresi.
Ansietas atau ketegangan yang disebabkan kehidupan sehari-hari, biasanya tidak memerlukan
pengobatan ansiolitik.

Dosis
Untuk hasil optimal, dosis, cara pemberian dan lamanya pengobatan harus disesuaikan dengan
respon individual.
 Dewasa : 2-6 mg sehari dalam dosis terbagi. Dosis besar diberikan sebelum tidur, tetapi dosis
sehari bervariasi 1-10 mg.
 Ansietas :Awal 2-3 mg sehari diberikan dalam dosis terbagi 2-3 kali sehari
 Insomnia yang berhubungan dengan ansietas atau stress dalam keadaan sementara diberikan
dosis tunggal 2-4 mg, biasanya diberikan sebelum tidur.
 Untuk pasien tua dan pasien lemah : dosis awal 1-2 mg sehari dalam dosis terbagi. Jika
diperlukan, dosis dapat dinaikkan secara bertahap untuk menghindari efek samping.

Efek samping
Biasanya terjadi pada pemulaan terapi da umumnya hilang pada terapi lanjutan atau pengurangan
dosis. Efek samping yang paling sering terjadi adalah sedasi diikuti dengan pusing, perasaan
lemah, dan ketidak seimbangan. Efek samping yang lebih jarang terjadi dilaporkan termasuk
disorientasi, depresi, mual, sakit kepala, gangguan tidur, agitasi, gejala dermatologi, gangguan
fungsi penglihatan, penurunan tekanan darah, amnesia dan gangguan ingatan yang bersifat
sementara. Kejadian sedasi dan ketidak seimbangan makin besar dengan meningkatnya umur.

Interaksi Obat
Golongan benzodiazepine menimbulkan efek deprei CNS tambahan jika diberikan Bersama
dengan obat lain yang menghasilkan depresi CNS pula seperti golongan barbiturate atau alkohol.

Cara penyimpanan
Simpan di bawah suhu 30˚C, terlindung dari cahaya.
Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
8. Clobazam

Bentuk sediaan : Tablet


Dosis sediaan : 10 mg

Indikasi
Pengobatan jangka pendek pada ansietas berat dan psikoneurotik yang disertai ansietas.

Dosis dan cara pemberian:


Dewasa
20 mg sehari dalam dosis terbagi atau dosis tunggal diberikan malam hari. Jika perlu dapat
dinaikkan sampai 30 mg sehari.
Untuk kasus berat, dosis dapat diberikan sampai 6 tablet sehari.

Usia lanjut
10 – 15 mg sehari dalam dosis terbagi.

Anak ≥3 tahun
½ - 1 tablet sehari dalam dosis terbagi.

Efek samping
-Mulut dan tenggorokan kering, disuria, retensi urin, disartria, ataksia, vertigo, pusing, depresi
mental, gangguan saluran cerna, takikardia, palpitasi.
-Kegagalan pernapasan dan hipotensi tidak/jarang terjadi pada dosis terapi, tetapi dapat terjadi
pada dosis tinggi.
-Pemberian overdosis dapat menyebabkan depresi system saraf pusat dan koma.
-Gangguan pernapasan, keletihan, konstipasi, hilang nafsu makan,
mual, mengantuk, dan bingung.
- Reaksi kulit seperti erupsi, urtikaria.
-Penggunaan jangka panjang aatau dosis tinggi dapat menyebabkan abnomarlitas yang resversibel
seperti gangguan bicara, gangguan fungsi motorik, gangguan penglihatan (penglihatan ganda,
nistagmus) dan meningkatkan berat badan.
-Berkurangnya libido.

Interaksi Obat
-Pemberian bersama clobazam dengan depesan system saraf pusat (termasuk antikonvulsan dan
alkohol) akan meningkatkan efek depresi system saraf pusat.
-Pemberian bersama clobazam dengan cimetidine dapat mengurangi klirens plasma clobazam,
sehingga meningkatkan waktu paruh dan konsentrasi clobazam.

Cara penyimpanan
Simpan pada di bawah suhu 30˚C, terlindung dari cahaya.
9. Alprazolam

Bentuk sediaan : Tablet


Dosis sediaan : 0,5 mg,1 mg

Indikasi
Pengobatan jangka pendek, ansietas sedang atau berat dan ansietas yang berhubungan dengan
depresi.

Dosis:
- Dewasa : 0,25 – 0,5 mg 3 kali sehari. Jika perlu dosis dapat dinaikkan dengan interval 3- 4
hari hingga maksimum 4 mg sehari dalam dosis terbagi.
-Untuk pasien lanjut usia, debil dan gangguan fungsi hati berat 0,25 mg 2- 3 kali
sehari,ditingkatkan bertahap jika perlu.

Efek samping
-Mengantuk, kelemahan ototataksia, amnesia, depresi, light-
headedness, bingung,
Halusinasi, penglihatan kabur.
-Jarang terjadi :nyeri kepala, insomnia, reaksi paradoksikal, tremor, hipotensi, gangguan
gastrointestinal, ruam, perubahan libido, menstruasi tidak teratur, retensi urin, diskrasia darah
dan ikterus.

Interaksi Obat
-Efek ditingkatkan oleh depresan susunan syaraf pusat, alcohol,barbiturate.
-Ekskresi dihambat oleh Cimetidine.

Cara penyimpanan
Simpan pada suhu 30˚C.