Anda di halaman 1dari 20

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Peneliti Sebelumnya


Pada penelitian yang di buat oleh Wahyu Surya, Gigih Prabowo, dan Indhana
Sudiharto ini berjudul ‘Pengontrolan Kecepatan Exausht Pada Ruang Merokok
Berdasar Kendali Logika Fuzzy Berbasis Mikrokontroller AT Mega 16’
[3],pengontrolan exhaust secaraotomatis bertujuan untuk mendapatkan kondisi
udarayang stabil di dalam ruangan sehingga akan mendapatkan kondisi yang lebih
nyaman dengan.mengidentifikasi kebutuhan udara dan intensitas asaprokok.
Referensi suhu normal pada ruangan adalah270celcius sedangkan setting intensitas
asap rokokoleh sensor adalah range antara 0,009 sampai0,060% vol. Pengontrolan
kecepatan exhaustdilakukan berdasarkan metode kendali logika fuzzy.Terdapat
empat parameter yang dijadikan inputdalam fuzzy yaitu error dan delta error suhu
sertaerror dan delta error asap rokok. Outputpengontrolan yang didapatkan adalah
saat suhu danintensitas asap rokok terdeteksi maka putaran exhaustakan
menyesuaikan dengan rule base fuzzy yangtersedia untuk mendapatkan kondisi
ruangan yangkembali ke set point suhu 270° dan intensitasasap rokok 0,009% vol.
Selain itu, pada penelitian yang dibuat oleh Ferdian Agil Denny Effendy yang
berjudul “Kendali Kecepatan Kipas Pembuangan Pada Ruang Khusus Merokok
Sebagai Pembersih Dan Pengatur Sirkulasi Udara Berbasis Mikrokontroller”
dijelaskan bahwa system untuk mengatur kecepatan kipas pembuangan pada ruang
khusus merokok secara otomatis dan mengatur sirkulasi udara diruangan tersebut
dengan memberikan ionizer untuk membersihkan udara dengan ion negative. Pada
system ini menggunakan mikrokontroller AVR ATMega 8535 sebagai
pengendali.Sistem ini menggunakan sensor MQ-135 untuk mendeteksi asap rokok
yang digunakan sebagai input untuk mikrokontroller, lalu diolah untuk dijadikan
input pada blok pengaturan kecepatan kipas pembuangan dengan menggunakan
trigger berupa sinyal PWM. Dari hasil penelitian, jika ditinjau dari segi
kenyamanan, sistem yang telah dibuat ini memiliki respon waktu pembersihan lebih
cepat menggunakan ionizer, sehinggga memberikan kenyamanan. Secara umum
dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan system ini peningkatan efisiensi

5
6

energi telah tercapai dengan tingkat penghematan daya mencapai 20-30%


dibandingkan dengan tanpa pengontrolan [4].
Pada proyek akhir yang pernah dibuat oleh Tania Fatmacory, dkk. dengan
judul “Perancangan Dan Realisasi Filter Udara Untuk Asap Rokok Berbasiskan
Mikrokontroler Atmega 8535”. Pada proyek akhir ini telah dirancang sebuah
prototype dari filter udara berbasiskan mikrokontroler ATMega 8535.
Mikrokontroler mengatur integrasi antara sensor MQ135 sebagai pendeteksi asap
rokok di udara dan kipas sebagai penghirup udara kotor agar masuk ke blok
pembersih udara (blok filter). Pada blok filter, aliran udara bertemu dengan saringan
kawat dan sinar ultraviolet (UV). Untuk menjaga agar aliran udara di dalam blok
ini lancar, digunakan satu kipas lagi yang menarik udara keluar dari pembersih
udara. Kipas yang kedua ini juga diaktifkan secara otomatis oleh mikrokontroler.
Perangkat filter udara ini dapat bekerja secara otomatis untuk membersihkan
udara. Seluruh perangkat filter, kecuali bagian sensor dan blok ultraviolet, hanya
aktif jika sensor mendeteksi asap rokok di udara. Udara yang keluar dari filter
menjadi lebih bersih dan berdasarkan pengamatan terhadap output filter,
konsentrasi asap rokok menjadi lebih berkurang.

2.2 Tinjauan Teori

2.2.1 MQ-135 Air Quality


7

MQ-135 Air Quality Sensor adalah sensor yang memonitor kualitas udara
untuk mendeteksi gas amonia (NH3), natrium-(di)oksida (NOx), alkohol/ethanol
(C2H5OH), benzena (C6H6), karbondioksida (CO2), gas belerang/sulfur-hidroksida
(H2S) dan asap/gas-gas lainnya di udara.

Sensor ini melaporkan hasil deteksi kualitas udara berupa perubahan nilai
resistensi analog di pin keluarannya. Pin keluaran ini bisa disambungkan dengan
pin ADC (analog-to-digital converter) di mikrokontroler/pin analog input Arduino
Anda dengan menambahkan satu buah resistor saja (berfungsi sebagai pembagi
tegangan/voltage divider).

Gambar 2.1 MQ 135 Air Quality

Parameter Kondisi Teknis Keterangan


Circuit voltage 5V ± 0,1 AC atau DC

Heating voltage 5V ± 0,1 AC atau DC

Load resistance Bisa menyesuaikan

Heater resistance 33Ω ± 5% Suhu ruangan

Heating consumption Kurang dari 800 mW

Jangkauan pengukuran 10 – 300 ppm amonia


10 – 1000 ppm bensol
10 – 300 alkohol

Tabel 2.1 Spesifikasi MQ 135 Air Quality

2.2.2 Asap Rokok


8

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan


yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Bahan berbahaya dan racun dalam
rokok tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang yang merokok
(perokok aktif), namun juga pada orang-orang disekitarnya yang tidak merokok
(perokok pasif). Perokok pasif mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita
kanker paruparu dan penyakit jantung.

Ada dua macam asap rokok yang mengganggu kesehatan, yaitu asap utama
(main stream) dan asap sampingan (side stream). Asap utama (main stream) adalah
asap yang dihisap oleh si perokok. Asap sampingan (side stream) adalah asap yang
merupakan pembakaran dari ujung rokok yang kemudian menyebar ke udara. Asap
sampingan memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, karena tidak melalui proses
penyaringan yang cukup, dengan demikian pengisap asap sampingan memiliki
resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan kesehatan akibat rokok (Basha,
Adnil, 2004:12). Berikut Kadar dan Kategori Indeks Standar :

Gambar 2.2 Tabel kadar dan kategori indeks standar

Sumber : ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara)

Satuan Konsentrasi Asap Rokok

Satuan yang dipakai untuk mengukur konsentrasi kandungan asap rokok


yaitu PPM (Part perMillion). PPM bisa dalam volume (ppm volume) atau
massa/berat (ppm mass/weight), jika diartikan kedalam bahasa Indonesia akan
menjadi “Bagian per Sejuta Bagian” yang artinya adalah satuan konsentrasi yang
menyatakan perbandingan bagain dalam satu juta bagian yang lain. Ppm adalah
satuan konsentrasi yang dinyatakan dalam satuan mg/Kg, 1 Kg = 1.000.000 mg.
Untuk satuan yang sering dipergunakan dalam larutan adalah mg/L, dengan
9

ketentuan pelarutnya adalah air sebab dengan densitas air 1 g/mL maka 1 liter air
memiliki masa 1 Kg. Jadi satuannya akan kembali ke mg/Kg.

2.2.3 Arduino

Berikut merupakan penjabaran mengenai arduino yang berfungsi sebagai


mikrokontroler yang mengatur proses dan mengeksekusi hasil sensor serta keluaran
notifikasinya.
2.2.3.1 Pengenalan Arduino

Arduino dikatakan sebagai sebuah platform dari physical computing yang


bersifat open source. Pertama-tama perlu dipahami bahwa kata “platform” di sini
adalah sebuah pilihan kata yang tepat. Arduino tidak hanya sekedar sebuah alat
pengembangan, tetapi ia adalah kombinasi dari hardware, bahasa pemrograman dan
Integrated Development Environment (IDE) yang canggih. IDE adalah sebuah
software yang sangat berperan untuk menulis program, meng-compile menjadi
kode biner dan meng-upload ke dalam memory microcontroller. Ada banyak projek
dan alat-alat dikembangkan oleh akademisi dan profesional dengan menggunakan
Arduino, selain itu juga ada banyak modul-modul pendukung (sensor, tampilan,
penggerak dan sebagainya) yang dibuat oleh pihak lain untuk bisa disambungkan
dengan Arduino. Arduino berevolusi menjadi sebuah platform karena ia menjadi
pilihan dan acuan bagi banyak praktisi.

2.2.3.2 Jenis-jenis Papan Arduino

Saat ini ada bermacam-macam bentuk papan arduino yang disesuaikan


dengan peruntuknya seperti, Arduino USB, Arduino Serial, Arduino Mega,
Arduino Fio, Arduino Lilypad, Arduino BT, Arduino Nano, dan Arduino Mini.
Disini kami akan menggunakan Arduino USB. Menggunakan USB sebagai antar
muka pemrograman atau komunikasi komputer. Contoh:

1. Arduino Uno
2. Arduino Duemilanove
10

3. Arduino Diecimila
4. Arduino NG Rev. C
5. Arduino NG (Nuova Generazione)
6. Arduino Extreme dan Arduino Extreme v2
7. Arduino USB dan Arduino USB v2.0

Gambar 2.3 Arduino Uno

Komponen utama di dalam papan Arduino adalah sebuah microcontroller 8


bit dengan merk ATmega yang dibuat oleh perusahaan Atmel Corporation.
Berbagai papan Arduino menggunakan tipe ATmega yang berbeda-beda tergantung
dari spesifikasinya, sebagai contoh Arduino Uno menggunakan ATmega328
sedangkan Arduino Mega 2560 yang lebih canggih menggunakan ATmega2560.

Untuk memberikan gambaran mengenai apa saja yang terdapat di dalam


sebuah microcontroller, pada gambar berikut ini diperlihatkan contoh diagram blok
sederhana dari microcontroller ATmega328 (dipakai pada Arduino Uno).
11

Gambar 2.4 Blok diagram microcontroller ATmega328


Sumber: Feri Djuandi. 2011

Blok diagram microcontroller dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Universal Asynchronous Receiver/Transmitter (UART) adalah antar muka


yang digunakan untuk komunikasi serial seperti pada RS-232, RS-422 dan
RS-485.
2. 2KB RAM pada memory kerja bersifat volatile (hilang saat daya
dimatikan), digunakan oleh variable-variabel di dalam program.
3. 32KB RAM flash memory bersifat non-volatile, digunakan untuk
menyimpan program yang dimuat dari komputer. Selain program, flash
memory juga menyimpan bootloader. Bootloader adalah program inisiasi
yang ukurannya kecil, dijalankan oleh CPU saat daya dihidupkan. Setelah
bootloader selesai dijalankan, berikutnya program di dalam RAM akan
dieksekusi.
4. 1KB EEPROM bersifat non-volatile, digunakan untuk menyimpan data
yang tidak boleh hilang saat daya dimatikan. Tidak digunakan pada papan
Arduino.
5. Central Processing Unit (CPU), bagian dari microcontroller untuk
menjalankan setiap instruksi dari program.
6. Port input/output, pin-pin untuk menerima data (input) digital atau analog,
dan mengeluarkan data (output) digital atau analog.
12

2.2.3.3 Bagian-bagian Papan Arduino

Dengan mengambil contoh sebuah papan Arduino tipe USB, bagian-


bagiannya dapat dijelaskan sebagai berikut

Gambar 2.5 Papan arduino tipe USB


Sumber: Feri Djuandi. 2011

1. 14 PIN input/output digital (0-13)

Berfungsi sebagai input atau output, dapat diatur oleh program. Khusus
untuk 6 buah pin 3, 5, 6, 9, 10 dan 11, dapat juga berfungsi sebagai pin analog
output dimana tegangan output-nya dapat diatur. Nilai sebuah pin output analog
dapat diprogram antara 0 – 255, dimana hal itu mewakili nilai tegangan 0 – 5V.

2. USB

Berfungsi sebagai:

 Memuat program dari komputer ke dalam papan


 Komunikasi serial antara papan dan komputer
 Memberi daya listrik kepada papan

3. Sambungan SV1
13

Sambungan atau jumper untuk memilih sumber daya papan, apakah dari
sumber eksternal atau menggunakan USB. Sambungan ini tidak diperlukan lagi
pada papan Arduino versi terakhir karena pemilihan sumber daya eksternal
atau USB dilakukan secara otomatis.

4. Q1 – Kristal (quartz crystal oscillator)

Jika microcontroller dianggap sebagai sebuah otak, maka kristal adalah


jantung-nya karena komponen ini menghasilkan detak-detak yang dikirim
kepada microcontroller agar melakukan sebuah operasi untuk setiap detaknya.
Kristal ini dipilih yang berdetak 16 juta kali per detik (16MHz).

5. Tombol Reset S1

Untuk me-reset papan sehingga program akan mulai lagi dari awal.
Perhatikan bahwa tombol reset ini bukan untuk menghapus program atau
mengosongkan microcontroller.

6. In-Circuit Serial Programming (ICSP)

Port ICSP memungkinkan pengguna untuk memprogram microcontroller


secara langsung, tanpa melalui bootloader. Umumnya pengguna Arduino tidak
melakukan ini sehingga ICSP tidak terlalu dipakai walaupun disediakan.

7. IC 1-Microcontroller ATmega

Komponen utama dari papan Arduino, di dalamnya terdapat CPU, ROM


dan RAM.

8. X1-Sumber Daya Eksternal

Jika hendak disuplai dengan sumber daya eksternal, papan Arduino dapat
diberikan tegangan DC antara 9-12V.

9. 6 Pin Input Analog (0-5)


14

Pin ini sangat berguna untuk membaca tegangan yang dihasilkan oleh
sensor analog, seperti sensor suhu. Program dapat membaca nilai sebuah pin
input antara 0 – 1023, dimana hal itu mewakili nilai tegangan 0 – 5V.

Tanpa melakukan konfigurasi apapun, begitu sebuah papan Arduino


dikeluarkan dari kotak pembungkusnya ia dapat langsung disambungkan ke sebuah
komputer melalui kabel USB. Selain berfungsi sebagai penghubung untuk
pertukaran data, kabel USB ini juga akan mengalirkan arus DC 5 Volt kepada papan
Arduino sehingga praktis tidak diperlukan sumber daya dari luar. Saat mendapat
suplai daya, lampu LED indikator daya pada papan Arduino akan menyala
menandakan bahwa ia siap bekerja.

Pada papan Arduino Uno terdapat sebuah LED kecil yang terhubung ke pin
digital no 13. LED ini dapat digunakan sebagai output saat seorang pengguna
membuat sebuah program dan ia membutuhkan sebuah penanda dari jalannya
program tersebut. Ini adalah cara yang praktis saat pengguna melakukan uji coba.

2.2.4 XBee

Telemetri atau komunikasi data tanpa kabel (wireless) merupakan cara yang
efektif untuk komunikasi jarak jauh tanpa harus terganggu dengan jalur kabel yang
panjang. Modul telemetri pun beragam, ada yang menggunakan komunikasi serial
(seperti XBee, YS-1020, TLP-RLP 434) dan SPI (RFM01-RFM02, RFM12).
Modul telemetri juga menggunakan system modulasi yang berbeda seperti ASK,
FSK, PSK, dsb. Contoh telemetri dengan SPI telah saya bahas pada tutorial
RFM01-RFM02.

Kelebihan XBee:

 Memiliki transfer rate sekitar 250Kbps.

 Jarak/range kerja sekitar 76 meter.

 Konsumsi daya rendah.


15

 Bekerja pada frekuensi 2,4GHz

2.2.4.1 Konfigurasi Pin-pin Xbee


Berikut adalah konfigurasi pin-pin Xbee dan penjelasannya :

Gambar 2.6 Modul XBee

2.2.4.2 Tabel Konfigurasi Pin Xbee


Tabel 2.2 Konfigurasi Pin Xbee
16

2.2.4.3 Spesifikasi Xbee


Tabel 2.3 Spesifikasi Xbee
17

2.2.4.4 Pengoperasian Xbee


Modul XBee dihubungkan dengan host melalui level logika port serial
asinkron. Melalui port serial ini, modul XBee dapat berkomunikasi dengan logika
dan tegangan yang kompatibel dengan UART atau melalui level translator ke
sembarang device serial, seperti RS-232/485/422 atau USB.
Device yang mempunyai UART interface dapat langsung dihubungkan
secara langsung dengan pin-pin modul XBee.

Gambar 2.7 Diagram Sistem Aliran Data pada XBee


Data diterima oleh modul XBee melalui pin DI (pin3) sebagai sinyal serial
asinkron. Sinyal harus berada pada kondisi idle high ketika tidak ada data yang
harus ditransmisikan. Setiap byte data terdiri dari satu bit stop (high). Gambar 2.11
mengilustrasikan pola bit data serial dari XBee. Paket data 0x1F (bilangan desimal
“31”) yang ditransmisikan melalui XBee. Contoh format data adalah 8-N-1 (bits-
parity-jumlah bit stop).
18

Ketika data serial masuk melalui pin DI, maka data tersebut akan disimpan
di dalam DI buffer sampai data tersebut bisa ditransmisikan. Jika XBee tidak segera
mentransmisikan data (contohnya ketika telah menerima data RF), data serial akan
terus disimpan di DI buffer. Ketika DI buffer telah penuh, flow control hardware
dan software harus diimplementasikan untuk mencegah overflow (hilangnya data
antara host dan modul XBee). Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
mengeliminasi kebutuhan akan flow control.
 Data yang dikirim harus lebih kecil dari ukuran DI buffer.
 Gunakan baud rate yang paling rendah.
Kasus dimana DI buffer menjadi penuh dan kemungkinan overflow
terjadi jika penerimaan data melalui pin DI buffer berlangsung secara terus
menerus. Data yang berada di dalam DI buffer akan ditransmisikan melalui udara
ketika XBee tidak lagi menerima data. Ketika data RF diterima, data selanjutnya
diterima oleh DO buffer dan kemudian mengirim data tersebut ke host melalui
port serial. Ketika DO buffer mencapai kapasitas maksimalnya, data selanjutnya
yang datang ke DO buffer akan hilang. Dua kasus dimana DO buffer menjadi
penuh dan mengalami overflow.
 Jika kecepatan aliran data di-set lebih tinggi dari kecepatan data modul
XBee. Proses penerimaan data oleh XBee akan lebih cepat daripada proses
pengiriman data dari XBee ke host.
 Jika host tidak mengijinkan modul untuk mentransmisikan data keluar dari
DO buffer karena di hold oleh hardware dan software flow control.
Ada 2 mode operasi dari XBee, yaitu mode Transparent (AT) dan mode
API (Packet). Mode transparent (AT) digunakan jika diinginkan konfigurasi point-
to-point yang sederhana, dimana XBee bertindak sebagai modem serial wireless
antara komputer atau mikrokontroler dengan remote device. Mode transparent
(AT) menggunakan komunikasi serial yang sederhana. Fitur dari mode transparent
adalah sebagai berikut:
 Sederhana
 Kompatibel dengan semua peralatan yang menggunakan komunikasi serial
 Terbatas hanya untuk komunikasi point-to-point antara 2XBee
19

Mode operasi API (packet) mempunyai kemampuan yang lebih baik


namun lebih kompleks dari mode transparent. Dengan mode API, memungkinkan
untuk membuat jaringan yang terdiri dari beberapa XBee dan antar XBee yang satu
dengan lainnya dapat saling berkomunikasi secara individual. Fitur dari mode API
adalah sebagai berikut:
 I/O line passing, yaitu menerima data dari remote XBee yang berdiri sendiri
(stand-alone remote XBee)
 Memungkinkan untuk komunikasi broadcast dan komunikasi dengan lebih
dari satu XBee
 Menerima acknowledgement bahwa paket telah dikirim dengan baik
 Memungkinkan konfigurasi jarak jauh

2.2.4.5 Set Up Jaringan Xbee


Untuk men-set up jaringan XBee, digunakan software khusus yang
disediakan oleh produsen XBee (Maxstream) yaitu X-CTU. Berikut adalah
tampilan software X-CTU.

Gambar 2.8 Software X-CTU


Agar 2 buah XBee atau lebih dapat saling berkomunikasi, maka XBee
tersebut harus:
 Mempunyai channel ID (CH) yang sama
20

 Mempunyai network ID (PAN ID) yang sama


 Source ID XBee penerima harus sesuai dengan destination ID dari XBee
pengirim.

2.2.4.6 Pengalamatan (Addressing)


Pengalamatan digunakan untuk membedakan satu XBee dengan XBee
lainnya dan mencegah duplikasi paket data. Setiap modul XBee mempunyai source
address (alamat asal) untuk mencegah agar pesan non-duplikat tidak dianggap
sebagai pesan duplikat.
XBee mempunyai dua bentuk dasar pengalamatan, yaitu Broadcast dan
Unicast. Pean Broadcast adalah sebuah pesan yang akan diterima oleh semua
modul yang mempunyai PAN ID (Personal Area Network) yang sama. Pesan
Broadcast dikirim hanya sekali dan tidak diulan, sehingga tidak ada jaminan bahwa
node-node yang dikirimi akan menerima pesan tersebut. Agar XBee bisa mengirim
pesan Broadcast, set DH=0x0 dan DL=0xFFF. Dengan setingan tersebut, semua
modul XBee yang berada dalam jangkauan jaringan akan menerima pesan.
Pesan Unicast merupakan metode yang lebih handal dalam pengiriman
data. Pesan Unicast dikirim dari satu modul ke modul yang lain berdasarkan
pengalamatan modul-modul tersebut. Jika pesan diterima dengan baik, XBee
penerima akan mengirim balik sebuah acknowlegdement atau ACK. Jika XBee
pengirim tidak menerima ACK, XBee pengirim akan mengirim ulang data tersebut
(maksimal kali) sampai ACK diterima. Hal ini akan meningkatkan kemungkinan
pengiriman data sampai ke tujuan.
Ada 2 metode pengiriman data pada pesan Unicast, yaitu menggunakan
pengalamatan 16 bit dan pengalamatan 64 bit. Satu atau kedua metode tersebut
dapat digunakan untuk mengkomunikasikan XBee, akan tetapi, pengalamatan 16
bit bisa di-disable sedangkan pengalamatan 64 bit tidak bisa di-disable.
Pengalamatan 16 bit lebih cocok digunakan untuk jaringan yang kecil atau
jaringan yang mempunyai jumlah node yang tetap. Pengalamatan 16 bit
menggunakan 16 bit bilangan heksa untuk menentukan source address atau
destination address dari setiap modul XBee. Ketika membangun suatu jaringan,
setiap modul XBee harus mempunyai source address yang unik. Parameter MY
21

secara default di-set 0, maka ketika menggunakan pengalamatan 16 bit, nilai


tersebut harus diubah menjadi nomor yang unik. Karena menggunakan
pengalamatan 16 bit, maka jaringan akan mempunyai 216 atau 6556 alamat unik.
Pada pengalamatan 16 bit, destination address (DL) XBee pengirim harus sesuai
dengan source address (MY) dari XBee penerima, sedangkan parameter DH harus
di-set 0. Pengalamatan 64 bit cocok digunakan untuk jaringan yang besar dan
openended dimana modul XBee dapat ditambahkan sewaktu-waktu. Pengalamatan
64 bit mempunyai 264 atau 18,4518 alamat unik.
Nilai source address dapat ditentukan dengan membaca nilai SH dan SL
dari setiap modul XBee. Agar dapat mengirim data ke modul XBee tertentu, nilai
DH dan DL dari XBee pengirim harus di-set menjadi nilai SH dan SL dari XBee
penerima (DH=SH danDL=SL). Sementara itu. MY harus di-set 0xFFFF atau
FFFE.

2.2.4.7 XBee Shield

XBee Shield adalah modul pelepas modul port XBee yang disempurnakan,
kompatibel dengan Arduino dan IFLAT-32, dapat langsung dihubungkan dengan
papan Arduino/IFLAT-32, dan gunakan pin papan dasar untuk terhubung dengan
port serial modul xbee.

Gambar 2.9 XBee Shield


Fitur XBee Shield

 Perisai ganda kompatibel dengan Arduino atau IFlat-32 untuk


memudahkan mengalir

 3 indikator (ON / SLEEP, RSSI, ASS) * LED untuk XBee


22

 Berikan maksimal 500mAunder 3.3V

 Penuh 2.54mm keluar untuk XBee

 Switchable komunikasi dengan FTDI-USB atau Arduino dengan


HardwareSerial atau SoftwareSerial

2.2.4.8 XBee USB Adapter

Ini biaya rendah XBee USB Adapter Board datang dalam bentuk kit
sebagian dirakit dan menyediakan biaya-efektif. Solusi untuk interfacing PC atau
mikrokontroler ke modul XBee atau XBee Pro. Dengan menggunakan adaptor ini
Board Anda dapat memberikan antarmuka yang mudah ke modul XBee atau XBee
Pro dengan mengubah pin 2mm. Jarak ke breadboard sekitar 0.1"spasi. Papan
adaptor juga menyediakan sarana untuk terhubung ke kabel pluggable atau
sambungan solder dan juga menyediakan lubang pemasangan.

Gambar 2.10 XBee USB Adapter


Fitur XBee USB Adapter

 Menyediakan antarmuka yang mudah untuk mengkonfigurasi Modul XBee


melalui Port USB komputer

 4 indikator status LED untuk Power, RSSI, Associate and mode


(Tidur/mati)

 Mengkonversi XBee jarak pin 2mm ke 0,1 "jarak pin

 Menyediakan kabel pluggable atau sambungan solder yang mudah

 Termasuk lubang pemasangan


23

 Pin-out kompatibel dengan papan Adapter XBee kami yang lain

Spesifikasi

 Persyaratan daya: 3.3 V modul pass-through ke XBee

 Komunikasi: Serial pass-through ke modul XBee

 Suhu operasi: -40 sampai + 158 ° F (-40 sampai + 70 ° C)

 Dimensi PCB: 1,5 x 1,0 in (3,81 mm x 2,54 cm)

2.2.5 Sensor Photodioda

Photodioda adalah suatu jenis dioda yang resistansinya akan berubah-ubah


apabila terkena sinar cahaya yang dikirim oleh transmitter “LED”. Resistansi dari
photodioda dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang diterimanya, semakin banyak
cahaya yang diterima maka semakin kecil resistansi dari photodioda dan begitupula
sebaliknya jika semakin sedikit intensitas cahaya yang diterima oleh sensor
photodioda maka semakin besar nilai resistansinya (Bilshop, ”Dasar-dasar
Elektronika”, terj. Irzam Harmein, 2004: 32,). Sensor photodioda sama seperti
sensor LDR, mengubah besaran cahaya yang diterima sensor menjadi perubahan
konduktansi (kemampuan suatu benda menghantarkan arus listrik dari suatu
bahan). Seperti yang terlihat pada gambar 2.1 merupakan bentuk fisik dari sensor
photodioda.

Photodioda terbuat dari bahan semikonduktor. Photodioda yang sering


digunakan pada rangkaian-rangkaian elektronika adalah photodioda dengan bahan
silicon (Si) atau gallium arsenide (GaAs), dan lain-lain termasuk indium antimonide
(InSb), indium arsenide (InAs), lead selenide (PbSe), dan timah sulfide (PBS).
Bahan-bahan ini menyerap cahaya melalui karakteristik jangkauan panjang
gelombang, misalnya: 250 nm - 1100 nm untuk photodioda dengan bahan silicon,
dan 800 nm ke 2,0 μm untuk photodioda dengan bahan Gas.

Adapun spesifikasi dari photodioda yaitu seperti dibawah ini :


24

1. Ada 2 pin kaki dari photodioda yaitu pin kaki anoda dan pin kaki katoda.

2. Photodioda bekerja pada saat reverse bias.

3. Reverse voltage photodioda maksimalnya 32 volt.

Gambar 2.11 Sensor Photodioda