Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA EKSTRAK DAUN KUMIS KUCING


(Ortoshipon folium) SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN
KROMATOGRAFI KOLOM

Oleh :
Kelompok 6
Eka Safitri F.16.049
Feni Ferlina F.16.052
Khusnul Berty Indartantri F.16.059
Muhammad Maulana F.16.061
Shopa Handayani F.16.077

PROGRAM STUDI FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA
BANJARMASIN
2018
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ................................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Kompetensi Praktikum ........................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 3
A. Dasar Teori ................................................................................................ 3
BAB III METODE PRAKTIKUM .............................................................................. 6
A. Alat ............................................................................................................ 6
B. Bahan ......................................................................................................... 6
C. Prosedur Kerja ........................................................................................... 7
BAB IV HASIL PRAKTIKUM ................................................................................. 12
BAB V PEMBAHASAN ........................................................................................... 17
BAB VI KESIMPULAN ........................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 22
PERTANYAAN......................................................................................................... 23

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penggunaan tanaman sebagai obat sudah dikenal luas baik dinegara
berkembang maupun negara maju. Di Asia dan Afrika 70% - 80% populasi
masih tergantung pada obat tradisional sebagai pengobatan primer.
Penggunaan obat tradisional disebabkan kepercayaan masyarakat bahwa obat
tradisional berbahan alami, lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping.
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah contoh
dari kekayaan alam tersebut adalah banyaknya jenis spesies tanaman di
indonesia. Tanaman tersebut dapat digunakan sebagai obat tradisional.
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan
kelarutan terhadap dua cairan yang tidak saling larut dan berbeda, biasanya air
dan yang lainnya pelarut organik, Sedangkan ekstrak adalah sedian kering,
kental, atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut
cara yang cocok diluar pengaruh matahari langsung. Ekstrak kering harus
mudah di gerus menjadi serbuk. Salah satu metode ekstraksi yang dapat
digunakan untuk mengekstraksi adalah perkolasi. Perkolasi adalah cara
penyarian dilakukan untuk mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simlisia
yang telah dibasahi. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain gaya
berat kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adhesi,
daya kapiler, dan gesekan (fraksi).
Metabolit sekunder adalah golongan senyawa yang terkandung dalam
tubuh organisme yang terbentuk melalui proses metabolisme sekunder yang
disintesis dari banyak senyawa metabolit primer, seperti asam amino, asetil
koenzim A, asam mevalonat dan senyawa antara dari jalur sikimat . Beberapa
hal penting yang membedakan antara senyawa metabolit sekunder dengan
senyawa metabolit primer adalah penyebaran metabolit sekunder lebih
terbatas serta memiliki sifat dan karekteristik berbeda untuk setiap famili,
spesies bahkan organ tanaman tertentu.

1
Senyawa metabolit sekunder memiliki fungsi antara lain sebagai
pertahanan tubuh bagi tumbuhan dari serangan hama dan patogen penyebab
penyakit, sebagai atraktan hewan polinator dan sebagai hormon pengatur
pertumbuhan. Bagi manusia, senyawa metabolit sekunder digunakan sebagai
bahan obat-obatan, pewangi, fragran pada makanan dan minuman serta
senyawa yang digunakan dalam industri kosmetika.
Senyawa metabolit sekunder dapat diuji dengan melakukan uji
identifikasi senyawa kimia dengan reaksi warna, endapan atau secara
kromatografi. Agar mahasiswa mengerti bagaimana prinsip-prinsip uji
identifikasi senyawa kimia pada tanaman, maka dilakukanlah percobaan ini.

B. Kompetensi Praktikum
1. Mampu menguasai prinsip teori dan melakukan ekstraksi dengan
menggunakan metode maserasi, perkolasi, dan soxhletasi.
2. Mampu melakukan uji identifikasi senyawa kimia (metabolit sekunder)
dengan reaksi warna.
3. Mampu melakukan uji kromatografi lapis tipis senyawa kimia (metabolit
sekunder) dari suatu ekstrak.
4. Mampu melakukan uji kromatografi kolom terhadap senyawa kimia
(metabolit sekunder) dari suatu ekstrak.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Dasar Teori
Tanaman kumis kucing (Orthosipon aristatus) merupakan salah satu
tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang
cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit. Masyarakat Indonesia
menggunakan daun kumis kucing yang kering sebagai obat yang
memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik). Selain itu daun kumis kucing
juga bermanfaat untuk pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis,
albuminuria, penyakit syphillis reumatik, menurunkan kadar glukosa darah,
dan sebagai antibakteri.
Klasifikasi tanaman kumis kucing:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledon
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Orthosiphon
Spesies : Orthosipon aristatus
Kumis kucing termasuk terna tegak, pada bagian bawah berakar dibagian
buku-bukunya dan tingginya mencapai 2 meter. Batang bersegi empat agak
beralur berbulu pendek atau gundul. Helai daun berbentuk bundar atau
lonjong, lanset, bundar telur atau belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya,
urat daun sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul.
Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan yang menggunakan
fase diam dan fase gerak). Kromatografi pertama kali dikembangkan oleh
seorang ahli botani Rusia Michael Tswett pada tahun 1903 untuk memisahkan
pigmen berwarna dalam tanaman dengan cara perkolasi ekstrak petroleum eter
dalam kolom gelas yang berisi kalsium karbonat (CaCO3).
Teknik kromatografi telah berkembang dan telah digunakan untuk
memisahkan dan mengkuantifikasi berbagai macam komponen yang
kompleks, baik komponen organik maupun komponen anorganik. Pada

3
praktikum ini menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dan
kromatografi kolom (KK) untuk pemisahan senyawa flavonoid pada ekstrak
daun kumis kucing. Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh
Izmailoff dan Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk
kromatografi planar, selain kromatografi kertas dan elektroforesis.
Kromatografi lapis tipis adalah suatu tekhnik pemisahan yang telah lama
digunakan secara luas, terutama dalam analisis campuran yang rumit dari
sumber alam. Kromatografi lapis tipis lebih unggul bila sejumlah kondisi
pemisahan yang berbeda beda diperlukan untuk menangani penetapan kadar
seluruh cuplikan, karena sejumlah bejana pengembang yang berisi berbagai
sistem pelarut dapat lebih hemat dipakai, keuntungan lain, tiadanya gangguan
pelarut pada penyelidikan secara fotometri karena pelarut sebagai fase gerak
telah diuapkan. Kromatografi digunakan sebagai untuk memisahkan substansi
campuran menjadi komponen. Komponenya, misalnya senyawa flavonoid
yang terdapat pada tahu, tempe, bubuk isovlafon yang potensi bagi kesehatan
manusia, diantaranya adalah sebagai antioksidan, anti tumor, anti kolestrol,
anti kanker, dan lain-lain.
Fase diam yang digunakan pada KLT berupa lapisan yang seragam pada
permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, plat alumunium,
atau plat plastik. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang yang
akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembang
secara menaik atau karena pengaruh gravitasi pada pengembang secara
menurun (Gandjar dan Abdul,2007).
Teknik KLT sangat bermanfaat untuk analisis obat dan bahan lain dalam
aboratorium karena hanya memerlukan peralatan dan teknik pengerjaan yang
sederhana, waktu cukup singkat, jumlah zat yang diperiksa cukup kecil, dan
tidak memerlukan ruang yang besar (Harmita, 2015).
Pemisahan senyawa kimia pada kromatografi kolom terjadi
berdasarkan adsorbsi senyawa-senyawa dari suatu campuran yang memiliki
afinitas yang berbeda-beda pada permukaan fase diam atau penyerap. Fase
gerak yang dialirkan akan melarutkan dan membawa komponen-komponen
dalam campuran dengan kecepatan yang berbeda-beda sesuai dengan afinitas

4
komponen terhadap penyerap. Biasanya penggunaan kromatografi kolom
untuk memisahkan suatu campuran senyawa dalam jumlah relatif banyak,
tergantung pada diameter dan panjang kolom yang digunakan. Fase diam
yang dapat digunakan yaitu silika gel, alumunium oksida, dan sefadeks.
Kolom kromatografi dapat diisi dengan fase diam secara basah atau secara
kering.

5
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat
1. Kaca arloji
2. Timbangan analitik
3. Sendok tanduk
4. Seperangkat alat perkolasi
5. Tabung reaksi
6. Pipet
7. Gelas beker
8. Corong
9. Plat KLT
10. Kertas saring
11. Pipa kapiler
12. Chamber
13. Penangas air

B. Bahan
1. Bahan pembuatan ekstrak:
a. Daun kumis kucing
b. Etanol 95%
2. Bahan identifikasi senyawa:
a. Ekstrak kental
b. Serbuk magnesium
c. HCl pekat
d. Kloroform
e. Pereaksi Lieberman Burchard
f. Pereaksi Mayer
g. Pereaksi Dragendorff
h. Aqua dest
i. HCl 2 N
j. Asam anhidrat

6
k. H2SO4 pekat
l. FeCl3
m. Asam asetat glasial
n. SbCl3
3. Bahan Kromatografi:
a. Ekstrak kental
b. Etil asetat
c. Kloroform
d. Plat KLT
e. Chanber
f. Silica gel

C. Prosedur Kerja
1. Pembuatan Ekstrak

Timbang simplisia kumis kucing sebanyak

Masukan simplisia kedalam percolator yang telah dilapisi kertas saring di


bawahnya

Tuangkan perlahan cairan pernyari kedalam percolator yaitu alcohol 96%

Biarkan cairan penyari terendam hingga 5 cm diatas permukaan simplisia


selama 24 jam

Buka kran bagian bawah, jangan sampai larutan penyari habis dan filtrate
dimasukan ke penampungan

Lakukan hingga proses ekstraksi selesai

Uapkan hasil penyarian hingga didapat ekstrak kental

7
2. Identifikasi Senyawa Kimia
a. Alkaloid
1) Pereaksi Dragendroff

Masukan ekstrak kental sebanyak 10 tetes kedalam tabung reaksi

Menambahkan pereaksi dragendroff tetes demi tees

Terbentuk warna jingga

2) Pereaksi Mayer

Menambahkan 10 tetes ekstrak kental dalam tabung reaksi

Menambahkan pereaksi mayer tetes demi tetes

Terbentuk endapan menunjukan adanya senyawa alkaloid

b. Flavonoid
Masukan ekstrak kental sebanyak 10 tetes kedalam tabung reaksi

Menambahkan 10 tetes HCL pekat

Terbentuk warna merah jingga sampai merah menunjukan


adanya senyawa flavonoid

c. Tanin
Masukan ekstrak kental sebanyak 10 tetes kedalam tabung reaksi

Menambahkan 5 ml gelatin 10 ml 10 %

Terbentuknya endapan menunjukan adanya tanin

8
d. Glikosida
1) Uji Keller – Kliliani
Masukan ekstrak kental sebanyak 10 tetes kedalam tabung reaksi

Melarutkan ekstrak dalam 30 tetes Fecl3,5 % dalam asetat


glasial selama 1 menit

Menambahkan asam sulfat pekat 3 tetes melalui dinding tabung

Terbentuk warna coklat menunjukan gula deoksi

e. Uji Libermann Burchard


Masukan ekstrak kental sebanyak 10 tetes kedalam tabung reaksi

Mengencerkan ekstrak dalam 30 tetes methanol

Menambahkan pereaksi libermann burchard

Menambahkan pereaksi libermann burchard

Terbentuknya warna hijau menunjukan tidak hanya glikosida


jantung, semua steroid dan triterpen

f. Steroid dan triterpenoid


1) Uji Libermann Burchard

Masukan ekstrak larutkan dalam kloform sampai homogen

Menambahkan 5 tetes asam anhidrat

Menambahkan 10 tetes asam sulfat pekat melalui dinding tabung

Terbentuk cincin hijau kebiruan menunjukan adanya senyawa


steroid triterpenoid

9
2) Uji Salkowaski

Masukan ekstrak larutkan dalam klomoroform sampai homogen

Menambahkan 10 tetes asam sulfat pekat melalui dinding tabung

Terbentuk cincin kuning berubah merah setelah 2 menunjukan


adanya senyawa steroid triterpenoid
g. Triterpenoid

Menambahkan 10 tetes asam anhidrat dan dipanaskan

Terbentuk cincin kuning berubah merah setelah 2 menunjukan


adanya senyawa steroid triterpenoid
h. Saponin

Masukan ekstrak kental sebanyak 10 tetes kedalam tabung

Menambahkan 10 ml air panas, dinginkan

Kocok kuat selama 10 detik

Terebentuknya buih bertahan selama 10 menit setinggi 10 cm

Menambahkan 10 tetes HCL 2N buih tidak hilang

3. identifikasi alkaloid dengan Kromatografi lapis tipis

Menggunakan ekstrak kental secukupnya

Menyiapkan 2 buah plat KLT

Mengukur dan garis plat KL dari atas 2 cm, dari bawah 1 cm

Menotolkan ekstrak kental pada plat KLT

Memasukan plat KLT pada tabung KLT

Menunggu hingga pada plat KLT terbentuk bercak

10
Setelah berak nampak pada plat KLT, ambil plat dan amati bercak
di lampu ultra violet
Ukur nilai RF

4. Identifikasi alkaloid dengan Kromatogtafi Kolom


Memasukan silika gel atau fase diam ke dalam tabung kolom

Sebelumnya fase diam telah disuspensikan oleh pengelusi, buka


kran kolom
Mengalirkan eluen hingga silika gel mampat

Membiarkan eluen mengalir sampai batas adsorben, kemudian


tutup kran
sampel atau ekstrak dilarutkan dalam eluen, hingga kelarutan
tercapai
Kemudian sampel dipipet dan dimasukan kedalam kolom

Membuka kran dan mengatur tetesannya, cairan pengelusi


ditambahkan

Tetesan yang keluar ditampung sebagai fraksi

Tutup kran saat tetesan berwarna kuning

Amati di sinar ultra violet

11
BAB IV
HASIL PRAKTIKUM

Tabel 4.1. Hasil identifikasi metablit sekunder


No Identifikasi Hasil Gambar

Pereaksi Orange
Dragendroff mendekat
merah (+)

1. Alkaloid

Pereaksi Berwarna hijau


Mayer (-)

2. Flavonoid Coklat (-)

12
No Identifikasi Hasil Gambar

3. Tanin Endapan (+)

Dua lapisan
Uji Keller atas berwarna
Kiliani hijau bawah
berwarna
coklat (+)
4. Glikosida

Uji Coklat (-)


Libermann
Burchard

13
No Identifikasi Hasil Gambar

Uji Terbentuk
Libermann cincin
Burchard berwarna
hijau(+)
5. Steroid

Uji Terbentuk
Salkowaski warna coklat
kemerahan
dibagian bawah
(-)

6. Triterpenoid Terbentuknya
larutan kuning
(-)

14
No Identifikasi Hasil Gambar

Buih bertahan
7. Saponin selama 10
menit, dan buih
tidak hilang
(+)

Tabel 4.2. Hasil pengujian KLT dan KK

Sampel Metode Hasil Nilai Rf Gambar

Jarak rambat
pelarut
7,2 cm
KLT 0,8180
Jarak rambat
senyawa
6 cm

Ekstrak daun Jarak rambat - 0,8648 cm


kumis kucing pelarut - 0,8513 cm
7,2 cm - 0,8513 cm
Jarak rambat
senyawa:
KK - 6,4 cm
- 6,4 cm
- 6,3 cm

Tabel 4.3. Fase gerak dan fase diam yang digunakan


No. Fase diam Fase gerak/eluen

1. Plat KlT (Alumunium) Kloroform-Etil Asetat (60:40)

15
Perhitungan nilai Rf
jarak rambat senyawa dari titik awal penotolan hingga pusat bercak
𝑅𝑓 =
Jarak rambat fase gerak dari titik awal penotolan hingga garis depan

Nilai Rf KLT:
1. Nilai Rf = 6 cm/ 7,4 cm
= 0,8180
Nilai Rf KK:
1. Nilai Rf = 6,4 cm / 7,4 cm
= 0,8648 cm
2. Nilai Rf = 6,4 cm / 7,4 cm
= 0,8648 cm
3. Nilai Rf = 6,3 cm / 7,4 cm
= 0,8513 cm

16
BAB V
PEMBAHASAN

Percobaan identifikasi alkaloid pada ekstrak daun kumis kucing


menggunakan pereaksi dragendroff. Pertama ekstrak ditambah pereaksi
dragendorff, hasil dinyatakan positif bila membentuk endapan alkaloid berwarna
jingga. Hasil yang kami peroleh pada identifikasi ini adalah positif pada simplisia
kumis kucing memilki kandungan alkaloid karena menghasilkan endapan jingga.
Pereaksi dragendorff dapat mengendapkan alkaloid karena dalam senyawa
alkaloid terdapat gugus nitrogen yang memiliki satu pasang elektron bebas
menyebabkan senyawa alkaloid bersifat nukleofilik (basa). Maka dari itu,
senyawa alkaloid mampu mengikat ion logam berat (Dragendorff).
Identifikasi alkaloid pada ekstrak daun kumis kucing dengan pereaksi mayer.
Pertama ekstrak ditambah dengan pereaksi mayer dan hasilnya membentuk
endapan berwarna putih kehijauan. Pereaksi mayer bertujuan untuk mendeteksi
alkaloid dimana pereaksi ini berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi
antara atom N alkaloid dan Hg pereaksi mayer sehingga menghasilkan senyawa
kompleks merkuri yang non polar mengendap berwarna putih. Uji alkaloid dengan
pereaksi mayer ini negatif karena seharusnya identifikasi ini ditandai dengan
perubahan. Hal ini dapat terjadi karenakan ekstrak tidak kental dan saat
memasukan pereaksi volume yang dimasukkan ke dalam tabung tidak akurat.
Identifikasi tannin pada ekstrak daun kumis kucing ini dilakukan dengan cara
memasukkan ekstrak kedalam tabung reaksi setelah itu ditambah gelatin 1% yang
bertujuan untuk mengendapkan garam, karena jika ikatan tanin dan gelatin
semakin kuat endapan akan terbentuk. Hasil percobaan menunjukkan jika kumis
kucing positif mengandung tannin, hal ini ditandai dengan terbentuknya endapan
pada larutan yang menunjukan adanya senyawa tannin. Hasil ini sudah sesuai
dengan teori, karena pada daun kumis kucing memang mengandung tannin.
Identifikasi senyawa saponin pada ekstrak daun kumis kucing dilakukan
dengan penambahan air panas dan pengojokan sampai terbentuk buih. Hasil yang
diperoleh dari identifikasi saponin ini positif karena pada uji tersebut positif
karena terbentuknya buih yang tidak hilang selama 10 menit juga buih tidak

17
hilang setelah penambahan HCl 2 N. hal ini sudah sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa daun kumis kucing mengandung saponin.
Flavonoid yang memiliki cincin ketiga berupa gugus piran. Flavonoid ini
disebut flavan atau fenilbenzopiran. Turunan flavan banyak digunakan sebagai
astringen (turunan tanin). Flavonoid yang memiiliki cincin ketiga berupa gugus
piron. Flavonoid ini disebut flavon atau fenilbenzopiron. Turunan flavon adalah
jenis flavonoid yang paling banyak memiliki aktivitas farmakologi.
Pada identifikasi flavonoid ini hasil yang kami peroleh tidak sesuai teori
karena terbentuknya warna coklat, sedangkan pada teori hasil positif flavonoid
apabila terjadi perubahan warna menjadi merah jingga sampai merah. Haasil uji
ini tidak sesuai teori karena kemungkinan pada uji tersebut dalam pengerjaannya
saat penambahan volume larutan maupun pereaksi tidak akurat dan terjadinya
kontaminasi pada pipet yang berganti ganti.
Identifikasi triterpenoid pada ekstrak daun kumis kucingdilakukan dengan
menambahkan asam anhidrat dan dipanaskan. Hasil uji ini positif apabila
terbentuk cincin kuning yang berubah jadi merah setelah 2 menit. Hasil yang kami
peroleh negatif karena yang didapatkan adalah perubahan warna larutan menjadi
kuning. Hal ini dikarenakan pada uji tersebut kemungkinan di dalam pengerjaan
pada penambahan volume larutan maupun pereaksi tidak akurat dan terjadinya
kontaminasi pada pipet yang berganti ganti.
Identifikasi senyawa glikosida pada daun kumis kucing dilakukan dengan dua
pereaksi berbeda yaitu pereaksi Keller-Kiliani dan Libermann Burchard. Hasil
yang kami peroleh dari kedua uji glikosida ini yaitu positif ditandai dengan
terbentuknya warna coklat dan warna hijau. Glikosida relatif polar karenan
banyaknya satu atau lebih gula dalam molekul dengan menghidrolisa ekstrak
glikosida dalam media air.
Percobaan ini melakukan pemisahan senyawa metabolit sekunder
menggunakan pemisahan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom.
Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui cara pemisahan dengan
metode kromatografi lapis tipis (KLT) dengan menentukan senyawa alkaloid
murni. Sampel yang digunakan adalah ekstrak kental daun kumis kucing yang
sebelumnya juga telah di uji identifikasi senyawa metabolit sekunder. Fase diam

18
yang digunakan adalah plat lapis tipis (KLT) sepanjang 7 x 2 cm kemudian diberi
batas garis atas 1 cm dan batas bawah adalah 1,5 cm. Spot berfungsi tempat
meletakan sampel yang akan dipisahkan. Pembuatan batas digunakan dengan
menggunakan pensil dikarenakan bahan pensil tidak dapat bereaksi dengan pelarut
atau eluen yang digunakan. Eluen merupakan campuran dari kloroform dan etil
asetat perbandingannya 60 : 40 dalam 100 ml. Kedua pelarut ini digunakan
sebagai eluen karena etil asetat sebagai pelarut polar dan kloroform pelarut non
polar sehingga komponen yang bersifat polar dan non polar dapat dipisahkan
akibat perbedaan kelarutan dari komponen. Eluen berfungsi sebagai fase gerak
yang mengelusi sampel sehingga terjadi pemisahan.
Prinsip pemisahan noda adalah berdasarkan kepolarannya sehingga
menghasilkan kecepatan yang berbeda-beda saat terpartisi dan terjadilah
pemisahan. Untuk memisahkan noda dengan sebaik baiknya maka digunakan
kombinasi eluen non polar dengan polar. Apabila noda yang diperoleh terlalu
tinggi, maka kecepatannya dapat dikurangi dengan mengurangi kepolaran, tetapi
apabila nodanya lambat bergerak atau hanya ditempat, maka kepolaran dapat
ditambah. Pemilihan sinar UV yang digunakan yaitu UV 254 nm dan UV 366 nm,
karena kedua UV ini telah mampu mewakili kedua jenis UV dekat. Dimana UV
panjang diwakili oleh UV 366 nm dan UV pendek diwakili oleh 254 nm. Pada
UV 254 nm, noda akan berflouresensi sedangkan sampel akan tampak berwarna
gelap. Penampakan noda pada lampu UV 254 nm adalah karena adanya daya
interaksi antara sinar UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada
lempeng. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang
dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat
energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan
semula sambil melepaskan energi.
Praktikum kali ini bertujuan memisahkan senyawa alkaloid murni dari sampel
daun kumis kucing dengan menggunakan sampel daun kumis kucing
menggunakan metode kromatografi kolom. Menyiapkan kolom yang digunakan
kemudian fase diam yang digunakan adalah silika gel kemudian larutkan silika
dengan pelarut kloroform dan etil asetat perbandingan 60 : 40 terbentuk lumpuran
kemudian lumpuran dimasukkan kedalam buret yang sebelumnya sudah disumbat

19
dengan kapas dibagian ujungnya. Ketuk bagian ujung buret dan biarkan bagian
kerannya dibuka agar larutannya keluar. Sebelum ekstrak dimasukkan, terlebih
dahulu dilarutkan dengan n-heksan dan aseton perbandingan 7 : 3 hingga larut,
masukkan larutan ekstrak tersebut ke dalam kolom yang sudah disiapkan tadi
kemudian elusi dengan larutan kloroform dan etil asetat.
Pada percobaan kali ini dengan uji KLT yang kami peroleh dapat dikatan
sudah sesuai dengan teori, dengan nilai Rf sangat karakteristik untuk senyawa
tertentu pada eluen tertentu. Hal tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi
adanya perbedaan senyawa yang mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai
kepolaran yang rendah , begitu juga sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan fase
gerak bersifat polar akan tertahan kuat pada fase diam, sehingga menghasilkan
nilai Rf yang rendah.
Pada percobaan Kromatografi kolom yang menggunakan kolom sebagai alat
untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Prinsip kerjanya
adalah didasarkan pada perbedaan afinitas absorbsi komponen campuran terhadap
permukaan fase diam. Sampel yang memiliki afinitas besar terhadap absorben
akan secara selektif tertahan dan yang afinitasnya paling kecil akan mngikuti
aliran pelarut.
Pada percobaan kali ini menggunakan ekstrak kumis kucing cara
pengerjaannya hampir sama dengan KLT begitu juga dengan nilai Rf yang kami
dapatkan tidak sesuai teori, karena nilai Rf yang kami dapat berkisar 0,8,
sedangkan menurut Harbone (1987) nilai Rf yang masuk dalam kisaran 12
alkaloid yang paling umum yaitu 0,07 – 0,62. Ketidaksesuai ini terjadi
dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu kemurnian pelarut,
kejenuhan chamber, dan kepolaran eluen atau perbandingan eluen.

20
BAB VI
KESIMPULAN

Pada percobaan pembuatan ekstrak kumis kucing dengan metode perkolasi


memperoleh ekstrak cair sebanyak 500 ml. Pada percobaan identifikasi senyawa
kimia dari beberapa identifikasi metabolit sekunder dengan ekstrak kumis kucing
positif mengandung alkaloid, tanin, glikosida, steroid dan saponin.
Nilai Rf KLT dan KK yang kami dapatkan dari percobaan yang dilakukan ini
mendapatkan yaitu, nilai Rf KK yang didapat adalah uji pertama nilai Rf 0,8648,
kedua nilai Rf 0,8648, ketiga nilai Rf 0,8513 dan nilai Rf KLT 0.8180. Hasil yang
kami peroleh tidak sesuai teori, karena menurut Harbone (1987) nilai Rf yang
masuk dalam kisaran 12 alkaloid yang paling umum yaitu 0,07 – 0,62. Hal ini
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kemurnian pelarut, kejenuhan
chamber, dan kepolaran eluen atau perbandingan eluen.

21
DAFTAR PUSTAKA

Amaliah. 2012. Metabolisme Sekunder. Jakarta: Erlangga.

Gandjar, Ibnu G dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Jakarta :
Pustaka Pelajar

Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis


Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.

Hendayana, Sumar. 2006. Kimia Pemisahan Metode Kromatografi dan


Elektrolisis Modern. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

22
PERTANYAAN
1. Jelaskan prinsip penyarian metabolit sekunder dengan metode maserasi!
Jawaban: Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk
simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur
kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel
melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya
tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi
rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama
proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap
hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.
2. Jelaskan prinsip penyarian metabolit sekunder dengan metode perkolasi!
Jawaban : Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia
dimaserasi selama 3 jam, kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana
silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan
dari atas ke bawah melalui simplisia tersebut, cairan penyari akan melarutkan
zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadan jenuh. Gerakan ke
bawah disebabkan oleh karena gravitasi, kohesi, dan berat cairan di atas
dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah. Perkolat yang
diperoleh dikumpulkan, lalu dipekatkan.
3. Jelaskan prinsip penyarian metabolit sekunder dengan metode soxhletasi!
Jawaban: Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk
simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring
sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga
menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul
cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam
simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh
cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi
sirkulasi. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak
tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak
yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

23
4. Apakah fungsi senyawa metabolit sekunder bagi tumbuhan?
Jawaban : Fungsi senyawa metabolit sekunder bagi tumbuhan adalah untuk
mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan,
misalnyauntuk mengatasi hama dan penyakit, menarik pollinator dan sebagai
molekul sinyal.
5. Apakah fungsi dilakukannya uji identifikasi senyawa kimia/metabolit
sekunder?
Jawaban : Senyawa sebagai hasil metabolit sekunder atau metabolit sekunder
telah banyak digunakan sebagai zat warna, racun, aroma makanan, obat-obatan
dan sebagainya serta sangat banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang digunakan
obat-obatan yang dikenal sebagai obat tradisonal sehingga diperlukan
penelitian tentang penggunaan tumbuh-tumbuhan berkhasiat dan mengetahui
senyawa kimia yang berfubgsi sebagai obat. Senyawa-senyawa kimia yang
merupakan hasil metabolism sekunder pada tumbuhan sangat beragam dan
dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan senyawa bahan alam yaitu
terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid, dan alkaloid.
6. Bagaimana prinsip dari metode KLT ?
Jawaban: Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya
menggunakan fase diam dari bentuk platsilika dan fase geraknya disesuaikan
dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan
yang digunakan dinamakan eluen Semakin dekat kepolaran antara sampel
dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.
7. Apakah tujuan pembuatan eluen dari 2 atau lebih pelarut organik ?
Jawaban:Tujuan pembuatan eluen adalah untuk pelarut yang dipakai dalam
proses migrasi atau pergerakan dalam membawa komponen-komponen zat
sampel atau fase yang bergerak melalui fase diam dan membawa komponen-
komponen senyawa yang akan dipisahkan. Fase gerak yang digunakan dalam
KLT sering disebut dengan eluen dan juga pembuatan eluen didasarkan pada
polaritas senyawa dan biasanya merupakan campuran beberapa cairan yang
berbeda polaritarnya sehingga didapatkan perbandingan tertentu.
8. Bagaimana prinsip dari metode kromatografi kolom ?

24
Jawaban: Prinsip metode pemisahan kromatografi kolom ini memerlukan
bahan kimia yang cukup banyak sebagai fase diam dan fase gerak bergantung
pada ukuran kolom gelas. Untuk melakukan pemisahan campuran dengan
metode kromatografi kolom diperlukan waktu yang cukup lama, bisa berjam-
jam hanya untuk memisahkan satu campuran. Selain itu, hasil pemisahan
kurang jelas artinya kadang-kadang sukar mendapatkan pemisahan secara
sempurna karena pita komponen yang satu bertumpang tindih dengan
komponen lainnya. Masalah waktu yang lama disebabkan laju alir fase gerak
hanya dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi, ukuran diameter partikel yang
cukup besar membuat luas permukaan fase diam relatif kecil sehingga tempat
untuk berinteraksi antara komponen-komponen dengan fase diam menjadi
terbatas. Apabila ukuran diameter partikel diperkecil supaya luas permukaan
fase diam bertambah menyebabkan semakin lambatnya aliran fase gerak atau
fase gerak tidak mengalir sama sekali. Selain itu fase diam yang sudah terpakai
tidak dapat digunakan lagi untuk pemisahan campuran yang lain karena sukar
meregenerasi fase diam (Hendayana, 2006).
9. Bagaimana cara mendapatkan fraksi-fraksi dengan cara kromatografi kolom ?
Jawaban :Kromatografi kolom preparatif klasik berupa tabung kaca dengan
diameter antara 5 mm hingga 50 mm dengan panjang 5 cm hingga 1 m dengan
keran dan pengisi (dengan sumbat kaca atau serat kaca – untuk mencegah
hilangnya fase diam) pada bagian bawah. Dua metode yang umum digunakan
untuk preparasi kolom adalah: metode kering dan metode basah.
- Pada metode kering, kolom pertama kali diisi dengan serbuk kering fase
diam, kemudian kolom dialiri fase gerak hingga seluruh kolom terbasahi.
Mulai titik ini, fase diam tidak diperkenankan mengering.
- Pada metode basah, fase diam dibasahi dengan fase gerak hingga
menjadi bubur di luar kolom, dan kemudian dituangkan perlahan-lahan ke
dalam kolom. Pencampuran dan penuangan harus ekstra hati-hati untuk
mencegah munculnya gelembung udara. Larutan bahan organik diletakkan
di bagian atas fase diam menggunakan pipet. Lapisan ini biasanya ditutup
dengan lapisan kecil pasir atau katun atau wol kaca untuk melindungi
bentuk lapisan organik dari tuangan eluen. Eluen kemudian dialirkan

25
perlahan melalui kolom sambil membawa sampel bahan organik. Sering
kali, wadah eluen sferis atau corong pisah bersumbat yang sudah diisi eluen
diletakkan di bagian atas kolom.
Komponen-komponen tunggal tertahan oleh fase diam secara berbeda
satu sama lain pada saat mereka bergerak bersama eluen dengan laju yang
berbeda melalui kolom. Di akhir kolom, mereka terelusi satu per satu.
Selama keseluruhan proses kromatografi, eluen dikumpulkan sesuai fraksi-
fraksinya. Fraksi-fraksi dapat dikumpulkan secara otomatis oleh pengumpul
fraksi.Produktivitas kromatografi dapat ditingkatkan dengan menjalankan
beberapa kolom sekaligus.Di sini, diperlukan pengumpul multi
aliran.Komposisi aliran eluen dapat dimonitor dan masing-masing fraksi
dianalisa senyawa terlarutnya, misalnya dengan kromatografi, absorpsi
sinar UV atau fluoresensi.Senyawa berwarna (atau senyawa berfluoresensi
di bawah lampu UV) dapat terlihat di dalam kolom sebagai pita-pita
bergerak.

26