Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

MENGATASI KECEMASAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS

disusun oleh:
Kelompok 3

Amaliana Aliati 4006180047


Eka Yuliana 4006180004
Dede Nurjamil 4006180013
Monica Hendrayanti Putri 4006180008
Cahya Fitri 4006180023
Serly Dwi Iramayanti Supriatno 4006180055
Syamsul Arifin 4006180051
Wilda Marta Savitri 4006180033

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
STIKES DHARMA HUSADA BANDUNG
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
“MENGATASI KECEMASAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS”

Pokok Bahasan : Kecemasan


Sub Pokok Bahasan : Mengatasi Kecemasan pada Pasien dengan DM
Sasaran : Pasien dan Keluarga Pasien
Hari / Tanggal : Sabtu, 20 April 2019
Waktu : Pukul 10.00 WIB
Tempat : Kantor RW 03 Bojongawi Kaler Cisaranten Bina Harapan

A. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan masyarakat dengan diabetes melitus
dan keluarga dapat mengatasi kecemasan pada keluarga dengan penyakit DM
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 1x45 menit, masyarakat
dengan diabete melitus dan keluarga dapat menjelaskan kembali tentang :
1. Pengertian DM
2. Penyebab DM
3. Klasifikasi DM
4. Tanda dan gejala DM
5. Pengelolaan DM
6. Makanan yang di pantang dan juga yang diperbolehkan
7. Pengertian Kecemasan
8. Tingkat Kecemasan
9. Tanda dan gejala kecemasan
10. Faktor-faktor yang menimbulkan stress
11. Cara mengatasi kecemasan
12. Cara melakukan perawatan pasien dirumah
C. Sasaran
Adapun sasaran dari penyuluhan ini ditujukan untuk masyarakat dengan
diabetes melitus dan keluarga.
D. Materi
Terlampir
E. Metode
Ceramah dan Tanya Jawab
F. Media
Leaflet
G. Rencana Kegiatan
Kegiatan Waktu Respon Keluarga
1. PEMBUKAAN 5 Menit a. Menjawab salam
a. Memberi salam b. Mendengarkan
b. Memperkenalkan diri
c. Menjelaskan Tujuan
2. PELAKSANAAN 30 Menit a. Mendengarkan
a. Menjelaskan pengertian DM b. Bertanya
b. Menjelaskan penyebab DM
c. Menjelaskan klasifikasi DM
d. Menjelaskan tanda dan
gejala DM
e. Menjelaskan cara
pengelolaan DM
f. Menjelaskan makanan yang
di pantang dan juga yang
diperbolehkan
g. Menjelaskan pengertian
Kecemasan
h. Menjelaskan tingkat
Kecemasan
i. Menjelaskan tanda dan
gejala kecemasan
j. Menjelaskan faktor-faktor
yang menimbulkan stress
k. Menjelaskan cara mengatasi
kecemasan
l. Menjelaskan cara
melakukan perawatan
pasien dirumah
3. PENUTUP 10 a. Menjawab
a. Melakukan evaluasi Menit pertanyaan
b. Memberikan reinforcement b. Mendengarkan
c. Menyimpulkan kegiatan c. Menjawab salam
d. Salam penutup
H. Evaluasi
Pertanyaan :
1. Apa pengertian DM
2. Apa penyebab DM
3. Apa klasifikasi DM
4. Apa tanda dan gejala DM
5. Bagaimana pengelolaan DM
6. Makanan apa saja yang di pantang dan juga yang diperbolehkan
7. Apa pengertian Kecemasan
8. Bagaimana tingkat Kecemasan
9. Apa tanda dan gejala kecemasan
10. Apa saja faktor-faktor yang menimbulkan stress
11. Bagaimana cara mengatasi kecemasan
12. Bagaimana cara melakukan perawatan pasien dirumah
I. SUMBER
Soeparman, dkk. 1987, Ilmu Penyakit dalam, Jilid 1, edisi 2. Jakarta: UI
Press
Yong, Mohamed. Penyakit Kencing Manis. Diakses dari: http://us.geocities.
com/mauzurahm.
Anonymous. 1998. Konsensus Pengelolaan Diabete Melitus Di Indonesia.
Jakarta: Universitas Indonesia. Diakses dari: http://www.interna.fk.ui.
ac.id/ referensi/pedoman/001PD.html
Stuart, G.W & Sundeen. 1990. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada
Keperawatan Psikiatri. Jakarta.
Erwan Trisnanto. 2014. Satuan Acara Penyuluhan Ansietas. Diakses dari:
https://www. academia.edu/9729276/sap_ansietas pada tanggal 19
April 2019.
Rizki Kurniadi. 2012. Penyuluhan Kesehatan Peran Keluarga Dalam
Penanganan Pasien Gangguan Jiwa. Diakses dari: http://asuhan
keperawatanonline.blogspot.com/2012/03/penyuluhan-kesehatan-
peran-keluarga.html
KECEMASAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS

I. DIABETES MELITUS
A. PENGERTIAN
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa di
dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat menghasilkan atau
menggunakan insulin secara efektif.
Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pancreas, yang
bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang
normal. Insulin memasukkan gula kedalam sel sehingga bias
menghasilkan energy atau disimpan sebagai cadangan energi.
B. PENYEBAB
1. Keturunan
2. Usia
3. Kegemukan
4. Kurang gerak
5. Kehilangan insulin
6. Alkoholisme
7. Obat-obatan
C. TANDA DAN GEJALA
1. Sering merasa haus
2. Sering kencing terutama malam hari
3. Pandangan menjadi kabur
4. Sering merasa lelah tanpa sebab yang jelas dan mengantuk
5. Penurunan berat badan
6. Kulit terasa kering
7. Sering menderita sariawan atau infeksi (misalnya bisul) yang sulit
sembuh
8. Mati rasa atau kesemutan di kaki dan tangan
9. Mual dan muntah
D. PENGELOLAAN DM
Perawatan DM dirumah saat ini sangat dianjurkan karena
pengobatan dan perawatan DM membutuhkan waktu yang lama.
Cara Perawatan Pasien DM di Rumah adalah dengan jalan :
1. Minum obat secara teratur sesuai program
2. Diet yang tepat
3. Olahraga yang teratur
4. Kontrol GD teratur
5. Pencegahan komplikasi
E. MAKANAN YANG DIPANTANG DAN DIPERBOLEHKAN
Proporsi diet/ makanan harian yang benar bagi penderita DM :
Berdasarkan anjuran dari PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi
Indonesia) diet harian penderita DM disusun sebagai berikut:
1. Karbohidrat : 60-70 %
2. Protein : 10-15%
3. Lemak : 20-25%
Jenis Makanan yang harus dikonsumsi yang dikonsumsi oleh penderita
DM diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Jenis Makanan yang TIDAK BOLEH dikonsumsi :
a. Manisan Buah
b. Gula pasir
c. Susu Kental Manis
d. Madu
e. Abon
f. Kecap
g. Sirup
h. Es Krim
2. Jenis makanan Yang BOLEH DIMAKAN TETAPI HARUS
DIBATASI ;
a. Nasi
b. Singkong
c. Roti
d. Telur
e. Tempe
f. Tahu
g. Kacang Hijau
h. Kacang Tanah
i. Ikan
3. Jenis Makanan YANG DIANJURKAN UNTUK DIMAKAN :
a. Kol
b. Tomat
c. Kangkung
d. Bayam
e. Kacang Panjang
f. Pepaya
g. Jeruk
h. Pisang
i. Labu Siam
F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi bila penderita DM tidak dirawat dengan
baik sehingga gula darah selalu tinggi adalah :
1. Ginjal : Gagal Ginjal, Infeksi
2. Jantung : Hipertensi, Gagal Jantung
3. Mata : Glaukoma, Katarak, Retinopati
4. Syaraf : Neuropati, mati rasa
5. Kulit : Luka lama, gangren
6. Hipoglikemi
7. Ketoasidosis
Untuk mencegah komplikasi sebaiknya yang dilakukan adalah :
1. Diet dengan benar
2. Minum obat teratur
3. Kontrol gula darah teratur
4. Olahraga ( jalan kaki, senam, sepeda santai, dsb)
5. Bila saat aktifitas kemudian PUSING, KERINGAT DINGIN maka
cepat MINUM TEH MANIS
6. Mencegah kulit terluka : pakai alas kaki, lingkungan rumah tidak
licin, tangga ( undak-undakan tidak tinggi)
7. Cegah Kegemukan
Cara mencegah atau menghindari agar tidak terjadi luka pada kaki pada
penderita DM :
1. Hindari terlalu sering merendam kaki
2. Hindari penggunaan botol panas/penghangat kaki dari listrik
3. Hindari penggunaan pisau/silet untuk memotong kuku atau
menghilangkan kalus
4. hindari kaos kaki / sepatu yang terlalu sempit
5. Hindari Rokok
Tindakan yang bisa dilakukan bila kaki terluka:
1. Bila luka kecil : bersihkan dengan antiseptik, tutup luka dengan kasa
steril dan bila dalam waktu dua hari tidak sembuh segera periksa ke
dokter
2. Bila luka cukup besar/kaki mengalami kelainan segera pergi ke
dokter.
Perawatan kaki Diabetik :
1. Saat mandi bersihkan dengan sabun, bila perlu gunakan batu apung /
sikat halus
2. Keringkan dengan handuk terutama sela-sela jari
3. Periksa kaki kemungkinan adanya perubahan warna (
pucat,kemerahan ),bentuk (pecah-pecah,lepuh,kalus,luka),Suhu
(dingin,lebih panas)
4. Bila kaki kering,olesi dengan lotion
5. Potong kuku/kikir tiap 2 hari,jangan terlalu pendek. Bila kuku terlalu
keras kaki direndam dahulu dalam air hangat (37,5’C) selama 5
menit.
6. Gunakan kaos kaki yang terbuat dari katun/wol
7. Pakailah alas kaki, periksa alas kaki sebelum dipakai, mungkin ada
sesuatu didalamnya. Lepas alas kaki setiap 4-6 jam dan gerakkan
pergelangan kaki dan jari-jari kaki agar sirkulasi darah lancar
8. Lakukan senam kaki
9. Jangan biarkan luka sekcil apapun
Cara Memilih Sepatu yang baik bagi penderita DM :
1. Ukuran : Jangan terlalu sempit/ longgar kurang lebih ½ inchi lebih
panjang dari kaki
2. Bentuk : Ujung sepatu jangan runcing,tinggi tumit < 2 inchi
3. Bahan sepatu terbuat dari bahan yang lembut
4. Insole terbuat dari bahan yang tidak licin

II. KECEMASAN
A. Pengertian Kecemasan
Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan didukung oleh
situasi (Videbeck, 2008).
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas menyebar dialam
dan terkait dengan perasaan ketidakpastian dan ketidakberdayaan
perasaan isolasi, keterasingan an ketidakamanan juga hadir (Stuart, 2006)
Ansietas adalah gangguan alam perasaan (afektif) yang ditandai
dengan perasaanketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan
berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (RTA),
kepribadian masih tetap utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/
splitting of personality), perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam
batas-batas normal (NANDA, 2010).
B. Tingkat Kecemasan
Ansietas memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek
membahayakan, yang bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas
yang dialami, dan seberapa baik individu melakukan koping terhadap
ansietas. Menurut Peplau (dalam, Videbeck, 2008) ada empat tingkat
kecemasan yang dialami oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan
panik.

Gambar Rentang Respon Ansietas (Stuart & Sundeen, 1990)


1. Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda
dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat
dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar,
menyelesaikan masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan
melindungi diri sendiri. Menurut Videbeck (2008), respons dari
ansietas ringan adalah sebagai berikut :
a. Respons fisik: ketegangan otot ringan, sadar akan lingkungan,
rileks atau sedikit gelisah, penuh perhatian dan rajin
b. Respon kognitif : lapang persepsi luas, terlihat tenang, percaya
diri, perasaan gagal sedikit, waspada dan memperhatikan banyak
hal, mempertimbangkan informasi, tingkat pembelajaran
optimal
c. Respons emosional : perilaku otomatis, sedikit tidak sadar,
aktivitas menyendiri, terstimulasi dan senang
2. Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada
sesuatu yang benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau
agitasi. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas sedang
adalah sebagai berikut :
a. Respon fisik : ketegangan otot sedang, tanda-tanda vital
meningkat, pupil dilatasi, mulai berkeringat, sering mondar-
mandir, memukul tangan, suara berubah ; bergetar, nada suara
tinggi, kewaspadaan dan ketegangan menigkat, dan sering
berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri punggung
b. Respons kognitif: lapang persepsi menurun, tidak perhatian
secara selektif, fokus terhadap stimulus meningkat, rentang
perhatian menurun, penyelesaian masalah menurun,
pembelajaran terjadi dengan memfokuskan
c. Respons emosional : tidak nyaman, mudah tersinggung,
kepercayaan diri goyah, tidak sabar dan gembira
3. Ansietas berat, yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman,
memperlihatkan respons takut dan distress. Menurut Videbeck
(2008), respons dari ansietas berat adalah sebagai berikut :
a. Respons fisik : ketegangan otot berat, hiperventilasi, kontak
mata buruk, pengeluaran keringat meningkat, bicara cepat, nada
suara tinggi, tindakan tanpa tujuan dan serampangan, rahang
menegang, mengertakan gigi, mondar-mandir, berteriak, dan
meremas tangan, gemetar
b. Respons kognitif : lapang persepsi terbatas, proses berpikir
terpecah-pecah, sulit berpikir, penyelesaian masalah buruk, tidak
mampu mempertimbangkan informasi, hanya memerhatikan
ancaman, preokupasi dengan pikiran sendiri, egosentris
c. Respons emosional : sangat cemas, agitasi, takut, bingung,
merasa tidak adekuat. menarik diri, penyangkalan dan ingin
bebas
4. Panik, individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang,
karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun
meskipun dengan perintah. Menurut Videbeck (2008), respons dari
panik adalah sebagai berikut :
a. Respons fisik : flight, fight, atau freeze, ketegangan otot sangat
berat, agitasi motorik kasar, pupil dilatasi, tanda-tanda vital
meningkat kemudian menurun, tidak dapat tidur, hormon stress
dan neurotransmiter berkurang, wajah menyeringai, mulut
ternganga
b. Respons kognitif : persepsi sangat sempit. pikiran tidak logis,
terganggu, kepribadian kacau, tidak dapat menyelesaikan
masalah, fokus pada pikiran sendiri, tidak rasional, sulit
memahami stimulus eksternal, halusinasi, waham, ilusi mungkin
terjadi
c. Respon emosional : merasa terbebani, merasa tidak mampu,
tidak berdaya, lepas kendali, mengamuk, putus asa, marah,
sangat takut, mengharapkan hasil yang buruk, kaget, takut, lelah
C. Tanda dan gejala kecemasan
1. Gejala motorik, meliputi: gemetar, muka tegang, nyeri otot, nyeri
dada, letih, pegal, sakit kepala, sakit leher.
2. Gejala otonomik, berupa hiperaktivitas saraf otonomik terutama
saraf simpatis ditandai dengan gejala; palpitasi, hiperhidrosis, sesak
nafas, diare, parestesia dll.
3. Khawatir: rasa khawatir yang berlebihan terutama mengenai hal-hal
yang belum terjadi seperti mau mendapat musibah.
4. Kewaspadaan berlebihan.: kewaspadaan yang berlebihan meliputi
gejala tidur terganggu, sulit berkonsentrasi, mudah terkejut, tidak
bisa santai dll.
D. Faktor-faktor yang menimbulkan stress
1. Lingkungan yang asing
2. Kehilangan kemandirian sehingga mengalami ketergantungan dan
memerlukan bantuan orang lain
3. Berpisah dengan pasangan dan keluarga
4. Masalah biaya
5. Kurang informasi
6. Ancaman akan penyakit yang lebih parah
7. Masalah pengobatan
E. Cara mengatasi kecemasan
1. Teknik relaksasi segitiga pernapasan (Triangle Breathing):
a. Ambil napas selama 3 detik dengan lambat,
b. Tahan napas selama 3 detik
c. Keluarkan perlahan selama 3 detik melalui mulut
d. Ulangi selama 3 kali
2. Teknik guided imagery
a. Diri dalam keadaan rileks
b. Teman dan konselor membimbing anda dengan kondisi verbal
(bicara perlahan dan lembut)
c. Klien dapat terbawa ke tempat yang paling aman yang
diinginkan oleh suara hatinya.
d. Saat terbangun dari proses imagery, klien akan merasa damai,
dan akan mempunyai persepsi yang baru terhadap sesuatu yang
membebani, atau lebih siap menghadapinya.
e. Hindari kafein, alkohol dan rokok
f. Rasa cemas ternyata bisa pula dipicu oleh makanan, minuman,
serta kebiasaan yang kita konsumsi atau lakoni. Kafein, alkohol,
dan rokok disebut-sebut sebagai substansi yang bisa
meningkatkan rasa cemas seseorang.
3. Tertawa dan olahraga.
Tidak ada yang membantah kalau banyak ketawa itu
dianggap menyehatkan. Buktinya untuk mengatasi rasa cemas ini,
para pakar juga menyarankan agar kita banyak tertawa. Karena cara
tersebut ampuh mengusir emosi dengan sesuatu positif sifatnya. Tak
ubahnya dengan olahraga. 20 hingga 30 menit melakukan olahraga
bisa membantu mengurangi rasa cemas.
4. Tulislah rasa cemas dalam secarik kertas
Cara ini, menurut Bloomfield, lumayan ampuh mengurangi
emosi dan rasa sesak di dada. Karenanya, tulislah dengan jujur
ketakutan dan kecemasan yang ada dalam benak Anda, seperti "Saya
cemas karena...", "Saya nggak yakin kalau harus...', atau "Saya takut
ketika..."
5. Bersantai
Rasa cemas kerap datang akibat banyaknya pekerjaan atau
tugas lainnya. Karena itu, usahakan untuk menyisihkan waktu buat
bersenang-senang dan bersantai. Atau waktu tersebut bisa pula
digunakan untuk meditasi, membangun mimpi dan
berimajinasi. Karena kebiasaan tersebut akan membantu mengurangi
rasa cemas.
6. Dengar musik.
Berbahagialah orang yang gemar mendengarkan musik.
Karena dengan mendengarkan musik-musik favorit, akan membantu
menjalani ritme hidup anda yang menyenangkan.
F. Cara melakukan perawatan pasien dirumah
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga dan
lingkungan dalam merawat pasien di rumah antara lain :
1. Memberikan kegiatan/kesibukan dengan membuatkan jadwal sehari–
hari
2. selalu menemani dan tidak membiarkan penderita sendiri dalam
melakukan suatu kegiatan, misalnya : makan bersama, bekerja
bersama, bepergian dll.
3. meminta keluarga atau teman untuk menyapa klien, jik klien mulai
menyendiri atau berbicara sendiri
4. mengajak ikut aktif dan berperan serta dalam kegiatan masyarakat,
misalnya : pengajian, kerja bakti dll
5. berikan pujian, umpan balik atau dukungan untuk ketrampilan sosial
yang dapat dilakukan pasien
6. mengontrolkepatuhan minum obat secara benar sesuai dengan resep
dokter
7. jika klien malas minum obat, anjurkan untuk minum obat secara
halus dan emapti. Hindari tindakan paksa yang menimbulkan trauma
bagi pasien.
8. kontrol suasana lingkungan/pembicaraan yang dapat memancing
terjadinya marah
9. mengenali tanda – tanda yang muncul sebagai gejala kekambuhan
10. segera kontrol ke dokter/RS jika muncul perubahan perilaku yang
menyimpang atau obat habis.