Anda di halaman 1dari 87

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

MODUL

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


(SIG)

OLEH
Arwan Atrofu Zaman
Pelaksana Direktorat Ekstensifikasi dan Penilaian
Direktorat Jenderal Pajak

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK


INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT PERPAJAKAN
2010

1
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

KATA PENGANTAR

Modul Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) ini dibuat dan dipergunakan
sebagai salah satu bahan ajar dalam Diklat Teknis Substantif Spesialisasi
Operator Console Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Para peserta Diklat adalah pegawai yang mempunyai berbagai latar belakang
dan disiplin ilmu yang beragam sehingga perlu kiranya diberi pengetahuan serta
pemahaman mengenai Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dimana modul
ini merupakan salah satu ilmu yang harus dimiliki oleh Operator Console untuk di
implementasikan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

Bahan ajar Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) ini bertujuan untuk
menerangkan secara singkat mengenai Sistem Informasi Geografis, Scanning
Peta, Editing Peta, dan Registrasi Peta, serta Aplikasi Smartmap, sehingga para
peserta diklat mendapatkan pemahaman secara umum tentang bahan ajar ini.

Harapan Penulis agar Modul Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) ini
bermanfaat bagi peserta diklat, baik itu ketika sedang mengikuti diklat maupun
nanti ketika saat peserta telah bekerja pada instansinya masing-masing.

Apabila ada pertanyaan mengenai Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG),


peserta dapat mengirimkan email ke:

atrofu@yahoo.co.id,

atrofu@gmail.com,

arwan.zaman@pajak.go.id.

Jakarta, Maret 2010

Arwan Atrofu Zaman

060101429

2
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................... 1


Kata Pengantar .............................................................................................. 2
Daftar Isi ........................................................................................................ 3

BAGIAN 1 SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)


A. Definisi SIG ......................................................................................... 4
B. Komponen SIG ................................................................................... 4
C. Cara Mengelola Informasi Geografis .................................................. 5
D. Konsep layer data dan atribut ............................................................. 14
E. Bagan Alur Pembentukan SIG ............................................................ 15

BAGIAN 2 SCANNING PETA


A. Definisi Scanning ................................................................................ 17
B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Scanning ......................... 17
C. Tahapan pekerjaan scanning ............................................................. 18

BAGIAN 3 EDITING PETA


A. Definisi Editing .................................................................................... 25
B. Toolbar dan Fasilitas VP Studio ........................................................ 26
C. Langkah-langkah Editing Peta Blok .................................................... 29
D. Penggabungan Peta Blok ................................................................... 32

BAGIAN 4 REGISTER PETA


A. Definisi Register .................................................................................. 35
B. Tahapan Pekerjaan Registrasi/Register ............................................. 37

BAGIAN 5 APLIKASI SMARTMAP


A. Persyaratan Hardware dan Software .................................................. 44
B. Instalasi Oracle Client ......................................................................... 44
C. Instalasi Mapinfo versi 7.0 .................................................................. 56
D. Instalasi Aplikasi SmartMap ................................................................ 56
E. Menjalankan Aplikasi untuk Pertama Kali ........................................... 59
F. Troubleshooting Instalasi .................................................................... 62
G. Penjelasan Menu-menu Aplikasi SmartMap ....................................... 63
H. Proses pada Aplikasi SmartMap ......................................................... 71

3
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

BAGIAN 1
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

A. Definisi SIG
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi yang berdasar
pada data keruangan dan merepresentasikan objek di bumi. Dalam SIG
sendiri teknologi informasi merupakan perangkat yang membantu dalam
menyimpan data, memproses data, menganalisa data, mengelola data dan
menyajikan informasi. SIG merupakan sistem yang terkomputerisasi yang
menolong dalam me-maintain data tentang lingkungan dalam bidang
geografis (De Bay, 2002).

SIG selalu memiliki relasi dengan disiplin keilmuan Geografi, hal tersebut
memiliki hubungan dengan disiplin yang berkenaan dengan yang ada di
permukaan bumi, termasuk didalamnya adalah perencanaan dan
arsitekturwilayah (Longley,2001).

B. Komponen SIG
SIG terdiri dari 4 komponen, yaitu: Perangkat Keras, Perangkat Lunak, Data
dan Informasi Geografi, serta Manajemen.
1. Perangkat Keras : perangkat keras yang sering digunakan untuk SIG
adalah komputer (PC), mouse, digitizer, printer, plotter, dan scanner.

4
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

2. Perangkat Lunak : SIG juga merupakan sistem perangkat lunak yang


tersusun secara modular dimana basisdata memegang peranan kunci.
Setiap subsistem diimplementasikan dengan menggunakan perangkat
lunak yang terdiri dari beberapa modul.

3. Data dan Informasi Geografi : SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan


data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan
cara meng-importnya dari perangkat-perangkat lunak SIG yang lain
maupun secara langsung dengan cara mendijitasi data spasialnya dari
peta dan memasukkan data atributnya dari tabel-tabel dan laporan
dengan menggunakan keyboard.
4. Manajemen : suatu proyek SIG akan berhasil jika dimanage dengan baik
dan dikerjakan oleh orang-orang memiliki keahlian yang tepat pada
semua tingkatan.

C. Cara Mengelola Informasi Geografi


Secara umum proses SIG terdiri atas tiga bagian (subsistem), yaitu
subsistem masukan data (input data), subsistem manipulasi dan analisis
data, dan subsistem menyajikan data (output data).

1. Subsistem masukan data (input data)


Subsistem ini berperan untuk memasukkan data dan mengubah data asli
ke bentuk yang dapat diterima dan dipakai dalam SIG. Semua data dasar
geografi diubah dulu menjadi data digital, sebelum dimasukkan ke
komputer. Data digital memiliki kelebihan dibandingkan dengan peta
(garis, area) karena jumlah data yang disimpan lebih banyak dan

5
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

pengambilan kembali lebih cepat. Ada dua macam data dasar geografi,
yaitu data spasial dan data atribut.

a. Data atribut (deskriptis)


yaitu data yang terdapat pada ruang atau tempat, Atribut menjelaskan
suatu informasi. Data atribut diperoleh dari statistik, sensus, catatan
lapangan dan tabular (data yang disimpan dalam bentuk tabel)
lainnya. Data atribut dapat dilihat dari segi kualitas, misalnya kekuatan
pohon. Dan dapat dilihat dari segi kuantitas, misalnya jumlah pohon.

b. Data spasial (keruangan)


yaitu data yang menunjukkan ruang, lokasi atau tempat di permukaan
bumi. Data spasial berasal dari peta analog, foto udara dan
penginderaan jauh dalam bentuk cetak kertas.

Pada pemanfaatannya data spasial yang diolah dengan


menggunakan komputer (data spasial digital) menggunakan model
sebagai pendekatannya. Economic and Social Comminssion for Asia
and the Pasific (1996), mendefinisikan model data sebagai suatu set
logika atau aturan dan karakteristik dari suatu data spasial. Model
data merupakan representasi hubungan antara dunia nyata dengan
data spasial.

Terdapat dua model dalam data spasial, yaitu model data raster dan
model data vektor. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda,
selain itu dalam pemanfaatannya tergantung dari masukan data dan
hasil akhir yang akan dihasilkan. Model data tersebut merupakan
representasi dari objek-objek geografi yang terekam sehingga dapat
dikenali dan diproses oleh komputer. Chang (2002) menjabarkan
model data vektor menjadi beberapa bagian lagi (dapat dilihat pada
Gambar 1)

6
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

DATA SPASIAL

MODEL DATA VEKTOR MODEL DATA RASTER

NON-TOPOLOGI TOPOLOGI

DATA SEDERHANA DATA TINGKAT TINGGI


(SIMPLE DATA) (HIGHER-DATA LEVEL)

TIN
DYNAMIC
(TRIANGULATED REGIONS
SEGMENTATION
IRREGULAR NETWORK)

Gambar 1 : Klasifikasi Model Data Spasial

Model Data Raster


Model data raster mempunyai struktur data yang tersusun dalam
bentuk matriks atau piksel dan membentuk grid. Setiap piksel memiliki
nilai tertentu dan memiliki atribut tersendiri, termasuk nilai koordinat
yang unik. Tingkat keakurasian model ini sangat tergantung pada
ukuran piksel atau biasa disebut dengan resolusi. Model data ini
biasanya digunakan dalam remote sensing yang berbasiskan citra
satelit maupun airborne (pesawat terbang). Selain itu model ini
digunakan pula dalam membangun model ketinggian digital (DEM-
Digital Elevatin Model) dan model permukaan digital (DTM-Digital
Terrain Model).

Model raster memberikan informasi spasial terhadap permukaan di


bumi dalam bentuk gambaran yang di generalisasi. Representasi
dunia nyata disajikan sebagai elemen matriks atau piksel yang
membentuk grid yang homogen. Pada setiap piksel mewakili setiap
objek yang terekam dan ditandai dengan nilai-nilai tertentu. Secara
konseptual, model data raster merupakan model data spasial yang
paling sederhana.

7
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Sel/Piksel

Baris

Kolom

Gambar 2 : Struktur Model Data Raster

Karakteristik utama data raster adalah bahwa dalam setiap sel/piksel


mempunyai nilai. Nilai sel/piksel merepresentasikan fenomena atau
gambaran dari suatu kategori. Nilai sel/piksel dapat meiliki nilai positif
atau negatif, integer, dan floating point untuk dapat
merepresentasikan nilai cotinuous. Data raster disimpan dalam suatu
urutan nilai sel/piksel. Sebagai contoh, 80, 74, 45, 45, 34, dan
seterusnya.

Gambar 3 : Struktur Penyimpanan Model Data Raster

Luas suatu area direpresentasikan dalam setiap sel/piksel dengan


lebar dan panjang yang sama. Sebagai contoh, sebuah data raster
yang merepresentasikan ketinggian permukaan (biasa disebut
dengan DEM) dengan luasan sebesar 100 Km2, apabila terdapat 100

8
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

sel/piksel dalam raster, maka dalam setiap sel/piksel mempunyai


ukuran 1 Km2 ( 1 km x 1 km).

Gambar 4 : Ukuran Sel/Piksel

Dimensi dari setiap sel/piksel dapat ditentukan ukurannya sesuai


dengan kebutuhan. Ukuran sel/piksel menentukan bagaimana kasar
atau halusnya pola atau objek yang akan di representasikan. Semakin
kecil ukuran sel/piksel, maka akan semakin halus atau lebih detail.
Akan tetapi semakin besar jumlah sel/piksel yang digunakan maka
akan berpengaruh terhadap penyimpanan dan kecepatan proses.
Sebagai contoh apabila ukuran sel lebih besar dari lebar jalan, maka
jalan tidak akan dapat ditampilkan dalam data raster. Gambar berikut
memperlihatkan bagaimana objek poligon di representasikan dalam
raster dengan berbagai macam ukuran sel/piksel.

Gambar 5 : Poligon yang direpresentasikan dalam Berbagai Macam Ukuran


Sel/Piksel

9
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Lokasi dalam setiap sel/piksel di definisikan dalam bentuk baris dan


kolom dimana didalamnya terdapat informasi mengenai posisi.
Apabila sel memuat Sistem Koordinat Kartesian, dimana setiap baris
merupakan paralel dengan sumbu X (x-axis), dan kolom paralel
dengan sumbu Y (y-axis). Demikian pula apabila sel/piksel memuat
Sistem Koordinat UTM (Universal Transverse Mercator) dan sel/piksel
memiliki ukuran 100, maka lokasi sel/piksel tersebut pada 300, 500 E
(east) dan 5, 900, 600 N (north).

Gambar 6 : Atribut Lokasi dalam Setiap Sel/Piksel

Terkadang dibutuhkan informasi spesifik dari luasan suatu raster.


Luasan tersebut dapat didefinisikan pada koordinat bagian atas,
bawah, kanan, dan kiri dari keseluruhan raster, seperti terlihat pada
gambar dibawah ini.

10
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Gambar 7 : Informasi Luasan Data Raster

Model Data Vektor


Model data vektor merupakan model data yang paling banyak
digunakan, model ini berbasiskan pada titik (points) dengan nilai
koordinat (x,y) untuk membangun objek spasialnya. Objek yang
dibangun terbagi menjadi tiga bagian lagi yaitu berupa titik (point),
garis (line), dan area (polygon).

 Titik (point)
Titik merupakan representasi grafis yang paling sederhana pada
suatu objek. Titik tidak mempunyai dimensi tetapi dapat
ditampilkan dalam bentuk simbol baik pada peta maupun dalam
layar monitor. Contoh : Lokasi Fasilitasi Kesehatan, Lokasi
Fasilitas Kesehatan, dll.
 Garis (line)
Garis merupakan bentuk linear yang menghubungkan dua atau
lebih titik dan merepresentasikan objek dalam satu dimensi.
Contoh: Jalan, Sungai, dll.
 Area (Poligon)
Poligon merupakan representasi objek dalam dua dimensi.Contoh:
Danau, Persil Tanah, dll.

11
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Sumber data SIG


Data dasar yang dimasukkan dalam SIG diperoleh dari tiga sumber,
yaitu data lapangan (teristris), data peta, dan data penginderaan jauh.
1) Data lapangan (teristris)
Data teristris adalah data yang diperoleh secara langsung melalui
hasil pengamatan di lapangan, karena data ini tidak terekam
dengan alat penginderaan jauh. Misalnya, batas administrasi,
kepadatan penduduk, curah hujan, jenis tanah dan kemiringan
lereng.
2) Data peta
Data peta adalah data yang digunakan sebagai masukan dalam
SIG yang diperoleh dari peta, kemudian diubah ke dalam bentuk
digital. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah.

3) Data penginderaan jauh


Data ini merupakan data dalam bentuk citra dan foto udara. Citra
adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui satelit.
Sedangkan foto udara adalah gambar permukaan bumi yang
diambil melalui pesawat udara. Informasi yang terekam pada citra
penginderaan jauh yang berupa foto udara atau radar,
diinterpretasi (ditafsirkan) dahulu sebelum diubah ke dalam bentuk
digital. Sedangkan citra yang diperoleh dari satelit yang sudah
dalam bentuk digital, langsung digunakan setelah diadakan
koreksi seperlunya. Data penginderaan jauh dan data teristris
dimasukkan ke dalam SIG, kemudian disajikan ke dalam bentuk
peta, grafik, tabel, gambar, bagan, atau hasil perhitungan.

12
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

2. Subsistem manipulasi dan analisis data


Subsistem ini berfungsi menyimpan, menimbun, menarik kembali data
dasar dan menganalisa data yang telah tersimpan dalam komputer. Ada
beberapa macam analisis data, antara lain:
Analisis lebar, menghasilkan daerah tepian sungai dengan lebar tertentu
lihat gambar di bawah

Analisis lebar adalah analisis yang dapat menghasilkan gambaran


daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. Kegunaannya antara lain
untuk perencanaan pembangunan bendungan sebagai penang-gulangan
banjir.
Analisis penjumlahan aritmatika (arithmetic addition) menghasilkan
penjumlahan. Analisis ini digunakan untuk menangani peta dengan
klasifikasi, hasilnya menunjukkan peta dengan klasifikasi baru. Untuk
lebih jelas lihat gambar di bawah.

Pada gambar di atas, analisis penjumlahan peta 1 dan peta 2 dijumlahkan


menghasilkan peta 3.

13
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Analisis garis dan bidang, dapat digunakan untuk menentukan wilayah


dalam radius tertentu. Misalnya, daerah rawan banjir, daerah rawan
gempa dan daerah rawan penyakit. Untuk lebih jelasnya perhatikan
gambar di bawah ini

Pada gambar diatas, peta 1 adalah daerah aliran sungai (DAS) dan peta
2 adalah daerah yang selalu dilanda banjir. Dari kedua data itu (garis dan
bidang dilakukan analisis, menghasilkan peta 3. Peta 3 adalah daerah
rawan banjir dengan radius tertentu (digambarkan dengan lingkaran).

3. Subsistem penyajian data (output data)


Subsistem output data berfungsi menayangkan informasi geografi
sebagai hasil analisis data dalam proses SIG. Informasi tersebut
ditayangkan dalam bentuk peta, tabel, bagan, gambar, grafik dan hasil
perhitungan.

D. Konsep layer data dan atribut


Salah satu karakteristik software GIS adalah adanya sistem Layer (pelapisan)
dalam menggabungkan beberapa unsur informasi (penduduk, tempat tinggal,
jalan, persil tanah, dll). Seperti: Layer, Coverage (ArcInfo produk ESRI),
Theme (ArcView produk ESRI), Layer (AutoCAD Map produk Autodesk),
Table (MapInfo produk MapInfo Corp.), dan lain-lainya. Yang dimaksud
dengan konsep layer data adalah, representasi data spasial menjadi
sekumpulan peta thematik yang berdiri sendiri-sendiri sesuai dengan tema
masing-masing, tetapi terikat dalam suatu kesamaan lokasi. Keuntungan dari
konsep data layer adalah mudahnya proses penelusuran dan analisa spasial
serta efisiensi pengelolaan data.

14
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Pada gambar diatas menunjukkan 4 layer yang terdiri atas grid, layer jalan,
tempat tinggal, dan sungai. Peta akan terlihat berdasarkan layer yang
tersusun dimana layer yang paling atas adalah layer yang tampak diatas.

E. Bagan Alur Pembentukan SIG


Pembentukan basis data peta digital pada dasarnya adalah mengubah bahan
mentah yang berupa peta garis/kartografi menjadi peta digital yang berupa
kumpulan vector yang memuat informasi jarak, keluasan dan koordinat.
Proses pembentukan basis data peta digital adalah Scanning, Editting,
Register, dan Digitasi, Proses ini dapat dilaksanakan melalui dua macam
cara:
Digitasi off screen, dengan memanfaatkan perangkat meja digitasi dan
komputer. Meja digitasi hanya dapat dipergunakan oleh satu user dalam satu
waktu, sehingga dari segi efisiensi dan kepraktisan sangatlah kurang, tetapi
tingkat akurasinya sangat tinggi. Peta tidak mengalami perubahan dimensi
karena digitasi dilakukan langsung diatas permukaan peta.

Digitasi on screen, yaitu proses digitasi di atas layar monitor komputer.


Merupakan metode multi user dimana satu peta dapat dikerjakan oleh
banyak user dengan menggunakan beberapa buah komputer yang
dioperasikan secara bersamaan. Cara ini lebih efisien dan praktis, tetapi
tingkat akurasinya lebih rendah karena peta harus melalui proses scanning
dan editing, dimana pada kedua proses tersebut perubahan dimensi sangat
mungkin terjadi.

15
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

16
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

BAGIAN 2
SCANNING PETA

A. Definisi Scanning
Scanning adalah proses perekaman gambar/peta manual/konvensional
menjadi data raster yang selanjutnya diolah menjadi peta digital. Pekerjaan
Scanning untuk mempergunakan bahan dasar Peta blok dan peta kelurahan
yang sudah ada untuk wilayah dan telah dilakukan pendataan dengan pola
SISMIOP.

Hasil akhir pekerjaan scanning berupa file yang disebut raster disimpan
dengan nama sesuai dengan kode wilayah dari peta tersebut ditambah
dengan nomor blok peta dan huruf "rst" atau nama kelurahan tersebut dalam
format paintbrush (*.pcx) atau tagged image file format (*.tiff). Hal ini untuk
membedakan file raster dan file digital (vektor).
Contoh :
Lembar peta blok yang akan discan adalah Blok 001 Kelurahan Melawai,
Kecamatan Kebayoran Baru, Kotamadya Jakarta Selatan maka penyimpanan
file hasil scanning adalah 3171050005001rst.pcx atau melawai_01.pcx.

B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Scanning


1. Large Scanner
Large Scanner adalah Scanner dengan kemampuan merekam peta
hingga skala maksimal (A0) secara utuh.

2. SCSI Card
Pada beberapa jenis Large Scanner memerlukan interface yang
terpasang pada komputer yang digunakan untuk menghubungkan dan
mengenali scanner. Card ini biasanya sudah disertakan pada saat
pembelian scanner

17
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

3. Personal Komputer (PC)


Komputer digunakan untuk menjalankan serta memonitor proses
scanning, dan menyimpan file hasil scanning.

4. Wide Image
Wide Image merupakan salah satu merek Software aplikasi scan yang
diaktifkan untuk mengoperasikan scanner, mulai proses loading,
mengatur ketajaman kamera, model scanning, ukuran kertas yang dipakai
hingga hasil akhir file yang dikehendaki.

5. Adaptec EZ-SCSI Lite


Adaptec EZ-SCSI Lite digunakan untuk menginstal adapter bagi SCSI
Card.

C. Tahapan pekerjaan scanning


Tahapan Pekerjaan Scanning meliputi PekerjaanPersiapan, Pengenalan, dan
Proses Scanning.
1. Persiapan
Nyalakan scanner terlebih dahulu sebelum menhidupkan komputer agar
scanner dikenal oleh komputer pada waktu boot, pastikan kabel scanner
terhubung dengan komputer.

Hidupkan komputer dan dari desktop doubleclick pada icon WideImage


untuk menjalankan aplikasi scanning. Pada saat jendela Wide Image
terbuka, secara otomatis aplikasi mencari scanner yang terhubung pada
komputer (Gambar 2.1)

18
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Start up program Wide Image (Gambar 2.1)

Apabila wide image tidak dapat menemukan/mengenali scanner yang


terhubung pada komputer akan muncul pesan sebagaimana gambar 2.2.

Dialog Demo Mode(Gambar 2.2)


Jika muncul pesan sebagaimana diatas, tekanlah button re-scan bus
untuk mengulangi proses pencarian scanner. Apabila scanner tetap tidak
dikenali, cobalah restart komputer pastikan kembali koneksi kabelnya
terhubung dengan benar. Jika setelah restart, pesan yang sama muncul
kembali, cek adapter SCSI Card apakah telah terinstal secara sempurna.

19
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

2. Pengenalan
Scan toolbar Scan Panel Overview Window Detail Window

Jendela Wide Image (Gambar 2.3)

a. Scan Panel
 Scan preset : tool yang digunakan untuk menyimpan dan
mengubah setting scanner sesuai yang kita kehendaki. Bisa juga
diload standar preset seperti untuk Light Paper, Light/Dark
Blueprint, Gray Transparency, dll.
 Mode : untuk menentukan mode scanning sesuai kebutuhan:
hitam putih, grayscale, bitmap, dll.
 Resolution turbo : menentukan resolusi /jumlah pixel per inch
(dpi), mempengaruhi kualitas tampilan gambar dan besarnya file.
Biasanya 300 tapi bisa lebih atau kurang sesuai kebutuhan.
 Setting paper size : user harus mengetahui ukuran peta yang
hendak discan agar dapat menangkap keseluruhan gambar. Bisa
dipilih fixed paper size untuk peta/gambar dengan ukuran standar,
auto paper size untuk peta dengan ukuran tidak standar, paper
width only, centered paper load, dll.

20
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

 Adjustment tab Tools yang digunakan untuk melakukan


penyesuaian ketajaman gambar, con-trast, gelap/terang, gamma
curve untuk warna, blur, filter untuk menghilangkan titik-titik
hitam/bercak-bercak pada gambar, dll.

b. Scan Toolbar

: Scan to file, tombol yang digunalan untuk menjalankan


perintah scan.

: Stop, tombol untuk menghentikan proses scan maupun


prescan, file yang tersimpan adalah sepanjang gambar yang telah
discan.

: Eject, tombol untuk mengeluarkan kertas dari dalam


scanner.

: Forward, tombol yang berfungsi pada proses prescan


untuk menarik maju dan menyajikan tampilan gambar sebelum
dilakukan scan-to-file.

: Backward, tombol pada proses prescan untuk menarik


mundur kertas dan menyajikan tampilan awal dari gambar.

: Pause, tombol untuk menghentikan sementara proses scan


maupun prescan.

3. Proses Scanning
a. Ratakan ujung kertas bagian atas dan masukkan ke dalam scanner
dengan posisi permukaan gambar menghadap ke bawah. Scanner
secara otomatis akan menarik kertas segera setelah sensornya
tersentuh ujung kertas yang dimasukkan, kemudian berhenti pada
posisi stand by.

b. Tekan tombol forward ( )untuk menjalankan proses prescan.


Jendela wide Image akan menyajikan tampilan sebagaimana gambar.

21
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Proses Prescan (Gambar 2.4)


c. Wide Image secara otomatis berpindah ke Adjustment Tab dengan
menu yang relevan dengan scan model yang disetting pada Scan
Setup Tab, sehingga menu yang ditampilkan tergantung pada mode
scanning yang dipilih.
d. Pada proses prescan dengan mode B/W Treshold, scanner merubah
objek yang di tangkap oleh kamera sebagai bayangan hitam putih
(graytone level) dengan tingkatan gelap-terang antara 0 dan 255,
bayangan yang gelap ditunjukkan dengan nilai yang rendah dan
bayangan yang terang ditunjukkan dengan nilai yang lebih tinggi.
Dengan menurunkan/menaikkan nilai treshold dapat diatur kualitas
tampilan gambar yang akan disimpan dalam bentuk file.
Contoh : Untuk meningkatkan ketajaman gambar dengan objek garis
dan titik yang pudar gunakan nilai treshold yang tinggi, sehingga
warna abu-abu terlihat menjadi lebih gelap/hitam.
e. Pastikan pilihan Scan To File (default setting) telah dipilih pada menu
Scan. Tekan tombol Scan ( ), hal ini akan menghentikan semua
operasi prescanning, mengembalikan posisi kertas dari awal, dan
melaksanakan perintah scan-to-file. Muncul dialog Save As, pilih
salah satu nama file atau buat nama file baru sesuai nama
peta/gambar tersebut, pilih format file yang dikehendaki untuk gambar
yang akan discan (misal : *.tiff, *.pcx, *.jpg, dll), tekan tombol Save.

22
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Dialog Save As (Gambar 1.5)

Proses Scanning (Gambar 1.6)

f. Wide Image menjalankan proses scanning (Gambar 1.6), gambar


yang discan ditampilkan dalam dua jendela terpisah pada layar Wide

23
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Image. Proses scan dapat dipercepat dengan mematikan fungsi detail


view pada menu File-Preferences-Scan. Awasi masuknya kertas ke
dalam scanner jangan sampai terlipat, sambungan kertas yang
kurang rapat atau selotip yang terbuka karena dapat tersangkut di
dalam scanner.
g. Proses scan selesai bila seluruh image telah terekam dan bagian
akhir kertas melewati scanner dengan sempurna.
h. Tekan tombol eject ( ) untuk mengeluarkan kertas dari dalam
scanner segera setelah progress indicator pada scanner berhenti
berkedip.
i. Ulangi langkah 4, 6, 7 untuk melanjutkan pekerjaan scan untuk
lembar peta berikutnya.

24
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

BAGIAN 3
EDITTING PETA

A. Definisi Editting
Editing adalah Pekerjaan mengolah peta raster (hasil scanning) sehingga
siap untuk dilakukan registrasi titik koordinatnya

Editing data raster merupakan bagian penting dalam pekerjaan pembuatan


basis data peta digital dengan metode digitasi on screen. Peta hasil scanning
diolah sedemikian rupa melalui berbagai proses pembersihan, pemotongan,
penggabungan, dll. sampai peta siap untuk diregister. Salah satu software
pengolah data raster yang masih digunakan adalah VP Studio. Jika tidak
dapat menemukan software ini dapat juga menggunakan software lain yang
file hasil olahannya dapat dibaca aplikasi Mapinfo Professional.

Tampilan Jendela VP Studio (Gambar 3.1)

25
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Ketika melakukan editing terhadap data raster, default setting untuk warna-
warna objek yang tampak pada layar VP Studio adalah sebagai berikut :
 Warna objek untuk penggambaran raster merah
 Warna objek untuk menghapus raster biru
 Warna bercak-bercak / Speckles hijau

B. Toolbar dan Fasilitas VP Studio


Toolbar dan Fasilitas yang paling sering dipakai, antara lain :

: New, Perintah untuk membuat file baru, jika terdapat tampilan raster
dan/atau vector pada current window akan dihapus dari memori system, muncul
pesan konfirmasi dalam hal ada perubahan data yang belum disimpan. Icon
Raster dan Vector Display akan aktif.

: Open, perintah untuk membuka file. Seluruh file dengan format yang
dikenal oleh aplikasi VP Studio akan ditampilkan dalam dialog box open, antara
lain file dalam format :
 Raster : TIFF, CAL, GP4, CG4, MIL, C4, IG4, RLC, RLE, CIT, PCX, BMP,
GIF
 Vektor : DXF, DWG, VCF

: Undo, tombol ini digunakan untuk membatalkan perintah editing yang telah
dilakukan, berdasar urutan perintah paling akhir (hingga 32 X). Jika user tidak
melakukan editing, maka icon ini tidak akan aktif.

: Redo, tombol untuk mengembalikan perintah editing yang telah dibatalkan

: Redraw, sama dengan fungsi refresh pada window.

: Zoom Extend, menampilkan keseluruhan gambar secara utuh.

: Zoom Window, merubah besarnya tampilan gambar sesuai keinginan.


 Klik pertama untuk menentukan sudut pertama kotak.
 Klik kedua menentukan besarnya kotak dan merubah tampilan gambar
sebesar kotak yang dibuat.

: Zoom In, memperbesar tampilan gambar satu tingkatan pixel.

: Zoom Out, memperkecil tampilan gambar satu tingkatan pixel.

26
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

: Zoom Previous, mengembalikan tampilan gambar pada posisi zoom


sebelumnya

:Rasterize, perintah untuk mengubah semua elemen dalam gambar ke


dalam bentuk raster dan menyimpannya pada file raster yang current.

: Raster Display, tombol untuk menampilkan seluruh unsur raster pada file
yang current.

: Raster Snap, mengaktifkan fungsi snap kursor terhadap gambar raster.

: Coordinats, tools untuk memperlihatkan posisi x


dan y kursor

: Object Creation toolbars


Object Color Erase Mode
Draw Mode Control Pen Width
 Object Color : menentukan warna objek yang kita buat saat melakukan
editing raster;
 Draw Mode : memilih mode menggambar atau menambah data raster
pada gambar;
 Erase Mode : memilih mode menghapus sebagian data raster pada
gambar;
 Control Pen : menentukan lebar/besar objek garis/titik yang akan kita
buat.

: Drawing Toolbar
Toolbar yang berisi bentuk-bentuk objek untuk melakukan editing raster dengan
mode draw atau erase:
 Pixel pen : menggambar bebas (tombol kiri mouse) atau menghapus
(tombol kanan mouse) pada gambar raster;
 Line : membuat objek garis dengan dua titik;
 Polyline : membuat objek garis dengan banyak titik sudut, double click
untuk menutup garis;
 Circle : membuat objek lingkaran, lingkaran dengan titik pusat, lingkaran
dengan dua titik dan lingkaran dengan tiga titik;

27
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

 Rectangle : membuat objek area berbentuk kotak;


 Polygon : membuat objek area berbentuk bidang segi banyak, double
click untuk menutup polygon;
 Text : membuat objek text/tulisan.

: Raster File Edit, icon untuk mengaktifkan dialog editing gambar raster
secara keseluruhan, meliputi beberapa fasilitas pada menu utama Edit.
 Cut Window, memotong
sebagian gambar dari file
dengan menyeleksi area yang
ingin disimpan dan membuang
bagian yang tidak dikehendaki.
 Deskew, mengoreksi kelurusan
peta terhadap arah utara yang
kemungkinan bergeser pada
saat peta discan.
 Invert, membalikkan warna objek
gambar dengan latar
belakangnya. Gambar putih
menjadi hitam dan sebaliknya.
 Crop, menghapus seluruh data raster dari file diluar area terseleksi. Ukuran
asli file (panjang/lebar) tidak berubah.
 Horizontal Mirror, data raster dicerminkan terhadap sumbu vertical (sumbu-y).
 Vertical Mirror, data raster dicerminkan terhadap sumbu horizontal (sumbu-x).
 Rotate, terdapat dua macam cara untuk melakukan rotasi objek raster:
 Rotate Quadrantal : tools untuk memutar seluruh objek raster dalam
satuan sudut 90°, 180° dan 270° (-90°);
 Rotate Arbitary : tools untuk memutar seluruh objek raster dengan satuan
sudut yang dikehendaki.
 Speckles, tools yang digunakan untuk membersihkan „bercak-bercak/dirt‟
(titik/bagian kecil yang tidak dikehendaki). Besarnya speckles yang
diperbolehkan antara 1 sampai 128 pixel.

28
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

C. Langkah-langkah Editing Peta Blok

Dari menu File pilih sub menu Open, atau klik icon Open ( ) untuk
membuka file raster hasil scanning. Muncul dialog “open” dimana ditampilkan
seluruh file yang kompatibel dengan aplikasi VP Studio. Pilih nama file dan
tekan enter atau klik tombol open. (Gambar 2.2)

Dialog Open Table (Gambar 3.2)

Klik Icon Raster File Edit ( ). Pada dialog bar yang terbuka (gambar 2.3)
Beri tanda check ( ) pada
radio button deskew, klik
OK. Atau dari menu Raster
 Deskew.
Fungsi yang dijalankan
adalah meluruskan posisi
peta terhadap arah vertical
atau horizontalnya.
Klik salah satu ujung garis
vertical atau horizontal
pada peta, kemudian klik
ujung garis pelurusnya
Raster File Edit Dialog (Gambar 3.3)
untuk menjalankan proses
deskew. (gambar 2.4)

29
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Menentukan titik-titik ujung Deskew (Gambar 3.4)

Perhatikan posisi arah utara peta apakah sudah benar (sumbu-y positif). Jika
belum, gunakan fungsi rotate quadrantal dari menu raster atau klik icon raster

file edit ( ) kemudian pilih fungsi rotation dengan menentukan sudut


putaran 90 , 180 atau -90 .
Gunakan fungsi cut window dari menu raster atau klik icon raster file edit (

)  cut window untuk memotong dan mengambil bagian peta yang


diperlukan saja (Gambar 2.5). Hati-hati jangan sampai tulisan nama
blok/kelurahan yang bersebelahan ikut terpotong, karena keterangan tersebut
diperlukan pada tahapan pekerjaan penggabungan antar blok dan digitasi
layer text.

Klik pertama untuk menentukan sudut awal bidang gambar yang dipilih, klik
kedua untuk menentukan luas area, memproses pemotongan dan zoom
window sebesar bidang gambar tersebut.

30
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Cut Window (Gambar 3.5) Pembersihan Raster (Gambar 3.6)

Langkah berikutnya adalah membersihkan peta dari bercak-bercak (dirt) yang


ikut terscan, karena satu satu titik pada data raster dihitung sebagai satu
record dalam besaran pixel yang mempengaruhi besarnya file raster dan
kecepatan proses pada aplikasi yang membuka file tersebut, dengan kata
lain semakin besar ukuran file, kecepatan aplikasi memproses file semakin
menurun.

Pada toolbars object creation ( ) pilih erase mode( ),

icon object color ( ) berubah menjadi warna biru (warna ini dapat dirubah

sesuai keinginan), kemudian gunakan fasilitas penggambaran poligon (

)atau rectangle ( ) pada toolbar drawing untuk menutup semua bercak


atau bagian-bagian yang tidak diinginkan (Gambar 2.6). Dari menu Edit pilih

rasterize atau klik icon rasterize ( ) untuk memproses penghapusan.


Pilih export dari menu File untuk menyimpan file hasil editing ke dalam
format paintbrush (*.pcx) atau Tagged Image File Format (*.tiff). Menu save
tidak dipergunakan karena file yang disimpan memakai format VP Drawing
(*.vcf) yang tidak dapat dibaca oleh aplikasi Mapinfo Professional.
Lanjutkan membuka file berikutnya, jika muncul pesan “save changes to …”
tekan tombol “no”.

31
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

D. Penggabungan Peta Blok


Penggabungan raster diperlukan untuk peta blok yang lebih dari satu lembar,
peta dengan sambungan antar bloknya tidak bagus, peta blok tanpa
koordinat atau peta blok dengan koordinat yang kurang meyakinkan sehingga
tidak bisa dilakukan register perblok. Peta blok digabung sehingga menjadi
satu kesatuan kelurahan kemudian baru diregister, hal ini dilakukan untuk
memperkecil kesalahan pada saat register dan meningkatkan efisiensi
pekerjaan. Penggabungan raster dapat dilakukan untuk file-file dalam format
raster yang berbeda. Proses ini selalu melibatkan satu raster file (peta dasar)
dan satu raster object (peta tambahan).

Buka salah satu file sebagai peta dasar, utamakan untuk membuka file
dengan ukuran lebih besar terlebih dahulu agar proses penggabungan tidak
terlalu berat.

Metode Penggabungan Raster (Gambar 3.7)


Dari menu Raster pilih perintah Merge, VP Studio akan menampilkan dialog
import, pilih peta yang ingin digabungkan dengan peta dasar kemudian klik
“open”.

32
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Muncul dialog Adjust Object/Merge, pilih metode penggabungan yang


sesuai dengan kondisi peta. (Gambar 2.7)
 As Is, menggabungkan dua file sebagaimana tampak pada layar;
 Move, metode penggabungan dengan cara memindahkan posisi
object raster/ peta tambahan ke posisi peta dasar tanpa merubah
ukuran dan/atau rotasi dengan menggunakan satu garis/vector
penuntun;
 Fit, penggabungan dengan cara memasukkan peta tambahan ke
posisi peta dasar pada bagian yang berbatasan menggunakan dua
garis penuntun. Ukuran dan arah utara peta yang digabungkan
kemungkinan berubah menyesuaikan dengan peta dasar;
 Cut Edge, hampir sama dengan fit, dengan fungsi tambahan
memotong kedua gambar sepanjang garis melalui titik target dari dua
vektor.
Update View, memperbaharui tampilan setelah garis penuntun diletakkan.
Pilih metode “ fit ” kemudian klik “OK“

Kursor berubah bentuk menjadi bujur sangkar kecil, tentukan posisi titik awal
untuk garis penuntun pertama kemudian “klik”, tampilan zoom membesar
secara otosmatis untuk memudahkan meletakkan titik tersebut. Setelah
tampilan layar kembali seperti semula, tentukan titik tujuan dari garis
penuntun pertama.

Ulangi langkah tersebut untuk menentukan garis penuntun kedua. Garis


penuntun akan menarik peta tambahan dari titik awal ke arah titik tujuan
masing-masing sehingga tampilan pada layar akan berubah dimana peta
tambahan akan berhimpit dengan peta dasar. (Gambar 2.8)

33
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Proses Merge dengan Dua Vektor (Gambar 3.8)


Jalankan perintah Eksport dari menu File untuk menyimpan peta hasil
penggabungan.

34
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

BAGIAN 4
REGISTER PETA

A. Definisi Register
Register : Memasukkan koordinat peta berdasar titik ikatnya pada permukaan
bumi, atau Suatu proses untuk membuat suatu data menjadi mappable.

Proses register disini adalah proses “peletakan” peta hasil editing raster pada
posisi sebenarnya di permukaan bumi. Register ini dilakukan supaya setiap
peta terletak pada ukuran dan posisinya masing-masing, sehingga ketika
beberapa peta dibuka secara bersamaan, masing-masing menempati
posisinya sendiri dan tidak saling tumpang tindih.

Agar sebuah peta blok dapat disambungkan secara baik dengan lembar peta
blok disampingnya maka masing-masing lembar peta blok yang berbatasan
harus memiliki titik titik regristrasi yang masing-masing koordinatnya sama.
Sebagai persiapan masing-masing lembar peta blok perlu dilayout pada
lembar kontrol dasar mozaik peta (lembar kontrol). Tujuan dari layout lembar-
lembar peta blok ini adalah membatasi kesalahan dan menentukan arah atau
jurusan detail detail pokok dalam peta blok, peta kelurahan/desa dan peta
kecamatan. Sebelumnya lembar kontrol ini perlu disiapkan terlebih dahulu
dengan cara menggambarkan kotak-kotak grid dalam sistem UTM (WGS84)
dan menggambarkan detail-detail pokok yang dikutip dari peta-peta
berkoordinat, misalnya: peta minit (minut plan) dari TOPDAM, peta skala
besar dari BAKOSURTANAL atau peta sejenis lainnya yang dapat dipercaya
ketelitian posisi horisontalnya. Gambar detail pokok ini dibuat berskala sama
dengan skala peta blok yang akan dilayout (1:1.000 atau 1:2.500).
Selanjutnya dilakukan layout masing-masing lembar peta blok dengan
pedoman orientasi adalah detail-detail pokok yang tergambar pada lembar
kontrol.

35
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Pada garis besarnya, SIG PBB berintikan pada pekerjaan pembuatan peta
digital berkoordinat dengan posisi utara yang benar. Untuk mendapatkan
peta dengan kriteria tersebut, dapat dilakukan melalui pengukuran dengan
peralatan survai biasa (meteran dan teodolit) atau peralatan survai canggih
(Total Station) dengan dibantu peralatan GPS (Mapping/Geodetic) guna
referensi bila tidak ada titik kontrol hasil GPS sebelumnya maupun dengan
konversi peta garis yang telah ada ke peta digital, bagi KPP PRATAMA yang
telah mempunyai peta-peta garis.

Selain itu apabila peta-peta bloknya berasal dari hasil pengukuran akurat
(total station/teodolit) dengan referensi titik kontrol yang tepat (GPS) maka
dapat secara langsung diproses lebih lanjut tanpa harus melakukan lay out.
Bila digabungkan dengan data yang tidak akurat, maka peta tersebut dapat
dijadikan referensi bagi peta-peta blok yang lain.

Dua hal yang harus disiapkan sebelum dilakukan proses registrasi ini, yaitu:
1. peta raster hasil editing (dalam satuan blok, maupun kelurahan).
2. sistem proyeksi yang digunakan. Untuk sistem proyeksi digunakan
kategori Universal Tranverse Mercator (WGS 84).

36
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

B. Tahapan Pekerjaan Registrasi/Register


Buka MapInfo
Dari menu File pilih Open Table
Akan muncul kotak dialog pilihan membuka file seperti dibawah ini :

Pilih pada kotak file of type pilihan raster image dan pilih nama file yang
akan dibuka, misalnya file suka mundur.

Muncul pilihan display dan register seperti di bawah ini :

Pilihan display adalah pilihan jika kita ingin membuka file sukamundur dalam
posisi yang ditentukan secara default oleh MapInfo, tanpa keterikatan
terhadap koordinat apapun. Pilihan ini akan menjadikan peta tampil pada
layar monitor dengan titik 0,0 pada sudut kiri atas.

37
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Karena kita sekarang akan melakukan proses “peletakan” peta hasil editing
raster pada posisi sebenarnya di permukaan bumi, maka pilihlah register.
Akan muncul tampilan sebagai berikut :

Jika peta belum terlihat, klik tombol + atau tombol – untuk mengatur zoom in
dan zoom out yang diperlukan, atau geser tombol scrollbar di bawah atau di
samping peta, sampai peta terlihat jelas. Tentukan terlebih dahulu proyeksi
peta dan satuan unit pengukuran.

Dengan mengklik tombol projection, akan muncul tampilan sebagai berikut:


1. Pada bagian category, klik panah bawah dan geser pilihan pada
Universal Tranverse Mercator (WGS 84) dan

38
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

2. pada bagian category member pilih UTM Zone 49, Southern Hemisphere
(WGS84)
(Catatan: contoh kita kali ini adalah peta suatu kelurahan di Lampung,
dimana Lampung dalam sistem proyeksi UTM WGS 84 termasuk dalam
Zone 49 bagian selatan. Untuk wilayah lain disesuaikan dengan posisinya
masing-masing berdasar proyeksi ini)

Selanjutnya tentukan satuan unit pengukuran yang digunakan, yaitu meter,


dengan klik tombol unit dan mengganti pilihan degree menjadi meters.
Langkah selanjutnya adalah menentukan empat buah titik yang akan
dijadikan acuan untuk proses register. Perlu diperhatikan pula, bahwa
proses register ini tidak hanya sekedar “meletakkan” peta pada posisinya,
tetapi juga mengubah bentuk peta sedemikian hingga sesuai dengan titik-titik
koordinat yang dijadikan dasar registrasi. Tentu saja perubahan bentuk ini
terbatas, bukan berubah total melainkan mendekati. Titik-titik yang dijadikan
acuan hendaknya merupakan titik-titik yang berada di posisi bagian luar peta
atau mengelilingi bagian luar peta. Berikut ini adalah contoh proses register :

Pilih satu titik pada peta yang ditetapkan sebagai titik P1, seperti dibawah ini :

klik tombol (+) untuk zoom in gambar sampai kita yakin bahwa titik yang akan
kita tentukan bisa tepat berada di tengah grid/garis silang koordinat (tanda +)

39
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

klik kiri pada bagian tengah garis silang koordinat / tanda (+), akan muncul
tampilan sebagai berikut :

kemudian masukkan nilai titik kontrol x dan y sesuai dengan koordinat yang
terdapat di peta blok.

Setelah selesai titik yang pertama, klik tombol “New” untuk menentukan titik
yang kedua. Geser dan ubah tampilan zoom menuju ke titik kedua seperti
pada saat menentukan titik pertama, klik pada peta dan masukkan angka

40
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

koordinatnya. Lakukan hal ini pada dua titik yang lain (ingat posisi terbaik
untuk menentukan titik ikat koordinat).

Perlu pula diperhatikan, nilai error (pixels) setelah menentukan keempat titik
harus bernilai 0, jika belum, ulangi lagi proses registrasi dengan mengedit
satu atau lebih titik yang telah dipasang dengan menyorot titik yang dituju dan
klik tombol edit.
Contoh :

Setelah selesai, klik tombol OK dan tampilan kembali ke menu utama Map
Info. Proses register telah selesai. Ada dua kemungkinan yang didapat,
kemungkinan pertama gambar peta hasil register langsung bisa ditampilkan
atau kemungkinan kedua gambar peta belum terlihat pada layar MapInfo.
Jika kemungkinan kedua terjadi, maka hal ini disebabkan karena MapInfo
telah mengeset secara default besaran zoom in dan zoom out, yang
mengakibatkan peta tidak terlihat. Untuk mengatasi hal ini, lakukan langkah
berikut :

41
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Klik kanan mouse, dan akan muncul tampilan sebagai berikut :

dan pilih menu layer control, akan muncul tampilan sbb :

klik tombol display, dan akan muncul tampilan sbb :

42
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

hilangkan tanda check pada bagian zoom layering, dan akan tampil di layar
MapInfo sebagai berikut:

Dengan demikian peta telah siap untuk dilakukan digitasi.

43
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

BAGIAN 5
APLIKASI SMARTMAP

A. Persyaratan Hardware dan Software


Aplikasi SmartMap agar dapat berjalan dengan baik, minimal harus
menggunakan PC dengan spesifikasi berikut :
 Processor Intel P III 500
 RAM 128 MB
 VGA Card 32 MB
 Mouse
Operating System yang digunakan minimal Windows 98 SE, PC sudah
terinstall Mapinfo 7.0, Oracle Client dan Microsoft Office.

B. Instalasi Oracle Client


Oracle Client berfungsi untuk menghubungkan aplikasi SmartMap dengan
aplikasi i-SISMIOP. Untuk menginstall Oracle Client bisa menggunakan CD
Oracle Developer 6i atau Oracle 8i Enterprise. Direkomendasikan untuk
menggunakan CD Oracle 8i Enterprise untuk memudahkan uninstall jika
terjadi kegagalan dalam instalasi. Untuk menghindari kegagalan sebaiknya
PC yang digunakan harus diinstall dari awal (install operating system), dan
kalau sudah terinstall sebaiknya tidak diinstall program-program yang tidak
ada hubungannya dengan SmartMap, dan satu hal lagi tidak boleh ada 2
Oracle Client yang terinstall pada PC SmartMap.

a. Langkah-langkah Instalasi Oracle client dengan menggunakan CD


Oracle Develover 6i:
1. Masukkan CD Oracle Develover 6i
2. Apabila tidak bootable, maka dari windows explorer, double klik drive
CD-ROM
3. Double klik setup.exe

44
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

4. Pilih OK setelah muncul layar dibawah ini. Isikan Company Name


(bebas), sedang untuk Name dan Location, agar standard isikan
Name = Orant, Location = C:\Orant. Apabila di drive C:\ belum ada
folder Orant, maka sebaiknya dibuat terlebih dahulu.

5. Pilih Oracle Forms Developer Kemudian OK

6. Pilih Typical Kemudian OK

45
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

7. Pilih No kemudian OK

8. Pilih Yes, (bila muncul pertanyaan ini)

9. Pilih Yes, (bila muncul pertanyaan ini)

10. Pilih OK

11. Pilih Yes

46
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

b. Langkah-langkah Instalasi Oracle client dengan menggunakan CD


Oracle 8i Enterprise
1. Masukkan CD-ROM Oracle 8i Enterprise
2. Pilih Install/Deintall Products

3. Pilih Next

4. Pilih Next

47
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

5. Pilih Custom lalu tekan tombol Next

6. Hilangkan semua tanda √ kecuali pada bagian Net8 Client 8.1.6.0.0, Lalu

pilih tombol Next

7. Pilih Next

48
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

8. Pilih Install

9. Pilih Next

10. Pilih bagian No, I want to defer directory service acces configuration to
another time.

49
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

11. Pilih Next 12. Pilih Next

13. Isi Service Name dengan SISMIOP 14. Pilih tombol Next

lalu tekan tombol Next

15. Isi Host Name dengan 192.140.60.5 yaitu IP Address server SISMIOP

lalu pilih tombol Next

50
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

catatan : ada kemungkinan IP Address server_SISMIOP tidak


192.140.60.5, silahkan konfirmasi dengan OC Sismiop anda.
16. Pilih No, do not test bila anda tidak ingin melakukan tes koneksi ke basis
data SISMIOP atau pilih Yes, perform a test bila anda ingin melakukan tes

koneksi ke basis data SISMIOP

17. Bila anda memlilih No, do not test maka lanjutkan ke point 21
18. Bila anda memlilih Yes, perform a test lalu keluar tampilan seperti di
bawah ini , maka tekan tombol Change Login

19. Isi Username dengan u… (user untuk akses SISMIOP) dan masukkan
password-nya.

51
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

20. Bila telah keluar tampilan seperti di bawah ini maka tes koneksi telah
berhasil, lalu tekan tombol Next.

21. Isi Net Service Name : SIGPBB 22. Tekan tombol Next
lalu tekan tombol Next.

23. Pilih Next 24. Pilih Next

52
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

25. Pilih Finish 26. Pilih Next

27. Pilih Exit

28. Setelah selesai jangan lupa di RESTART computernya.


Keterangan :
Jika proses Instalasi menggunakan oracle 8i client dan Anda menjalankan
langkah-langkah di atas sampai selesai maka di file tnsnames.ora dalam
folder :\Oracle\Ora81\network\ADMIN akan otomatis terisi teks seperti berikut
ini :
SIGPBB =
(DESCRIPTION =
(ADDRESS_LIST =
(ADDRESS = (PROTOCOL = TCP)
(HOST = 192.140.60.5)
(PORT = 1521)))
(CONNECT_DATA = (SERVICE_NAME = sismiop)))

53
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

ini berarti Anda tidak perlu lagi melakukan setting di tnsnames.ora, Anda
bisa login di Smart Map dengan mengisi nama server SIGPBB
Namun jika anda ingin melakukan setting tnsnames.ora secara manual,
langkah-langkahnya sebagai berikut :
Buka dengan notepad file tnsnames.ora dari folder : D:\orant\NET80\ADMIN

tambahkan text dalam garis merah berikut ini ke dalam tnsnames jika belum
diisikan, lalu simpan jika sudah benar.
==============================================
SISMIOP = ======== nama server
(DESCRIPTION =
(ADDRESS_LIST =
(ADDRESS = (PROTOCOL = TCP)
(HOST = 192.140.60.5) ========= IP server sismiop
(PORT = 1521)))
(CONNECT_DATA = (SERVICE_NAME = sismiop)))
==============================================
keterangan :
yang berwarna merah hanya informasi tambahan, jangan dimasukkan di
tnsnames

54
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

nama server == nama ini terserah Anda, jika anda mengisikan kata
SISMIOP maka nanti di form login Smartmap, Nama Servernya harus Anda
isi SISMIOP.
Jika Anda isikan kata smartmap maka di form login juga harus Anda isi kata
smartmap. Demikian juga jika anda isi dengan kata lainnya
IP server sismiop == isikan angka IP server sismiop di kantor Anda

C. Instalasi Mapinfo
MapInfo berfungsi untuk menampilkan peta dalam aplikasi SmartMap, untuk
menginstallnya dengan cara memasukkan CD Mapinfoke CD-ROM drive dan
ikuti petunjuk instalasi dari CD tersebut. Jika anda masih menggunakan
aplikasi SIG PBB versi lama (bukan SmartMap) maka anda harus menginstall
DBMS MapInfo, namun jika anda hanya menggunakan SmartMap, DBMS
tidak perlu diinstall.

D. Instalasi Aplikasi SmartMap


Setelah semua aplikasi pendukung terinstall, dilanjutkan dengan instalasi
Aplikasi SmartMap. Source instalasi Aplikasi SmartMap dapat didownload
dari intranet PBB (pbbonline.pajak.go.id). Setiap update aplikasi SmartMap
akan ditaruh diintranet PBB.

Berikut ini adalah langkah-langkah instalasi aplikasi SmartMap :


Buatlah folder baru di drive C atau D untuk menyimpan master aplikasi Smart
Map. Misalnya : D:\Master Smart Map\
Silakan download Aplikasi Smart Map.zip dan Manual Smart Map.zip dari
Intranet PBB, simpan di drive D:\Master Smart Map\. kemudian Unzip /
Extract file aplikasi dan manual ke folder D:\Master Smart Map\
Untuk menginstal Aplikasi Smart Map klik setup.exe dari folder D:\Master
Smart Map\,

55
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

akan muncul tampilan berikut ini ;

klik OK, akan muncul tampilan berikut ini :

klik pada icon gambar, muncul tampilan berikut ini :

56
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

klik Continue, jika muncul pesan “Do you want to keep this file?” seperti
dibawahini, berarti file tersebut sudah ada di komputer Anda.

klik Yes, jika masih muncul klik Yes lagi. Jika muncul pesan seperti ini

klik Ignore, akan muncul pesan

klik Yes, lanjutkan proses instalasi sampai muncul pesan :

57
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

klik OK,
Proses instalasi SIGPBB versi Smart Map 1.0 telah selesai.

Catatan :
Munculnya pesan-pesan error saat intalasi seperti pada gambar di atas tidak
usah dikhawatirkan. Penyebabnya karena program Install (installer) yang
digunakan SmartMap merupakan bawaan dari Visual Basic (program untuk
pembuatan SmartMap). Kebanyakan PC sekarang sudah terinstall
Windows2000 ke atas, sehingga file yang disediakan VB sudah tersedia di
Windows bahkan ada yang lebih baru sehingga tidak masalah file bawaan VB
tidak terinstall di PC anda.

Selanjutnya setelah SmartMap berhasil diinstall, copykan peta wilayah kerja


KP PBB anda ke folder C:\Program Files\Smart Map\peta\. (atau didirektori
peta dibawah direktori SmartMap terinstall, jika SmartMap tidak diinstall di
C:\Program Files).
Contoh : misalkan wilayah kerja kantor Anda adalah Jakarta Selatan,
sedangkan kode wilayah kerja untuk Jakarta Selatan adalah 0403, maka cari
file 0403 dari peta wilayah kerja yang sudah Anda punya lalu copykan file
0403 (yang terdiri dari 5 file mapinfo) itu ke folder di atas.
Aplikasi tidak akan bisa berjalan jika file peta wilayah kerja belum anda
copykan.

58
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

E. Menjalankan Aplikasi untuk Pertama Kali


Setelah proses instalasi selesai dilaksanakan, untuk menjalankan aplikasi
pertama kali ada beberapa hal yang harus dilaksanakan.
Jalankan aplikasi SmartMap dari tombol Start, atau langsung klik
SmartMap.exe pada folder dimana SmartMap diinstall. Untuk pertama kali
akan muncul konfirmasi penggunaan program seperti gambar di bawah ini :

pilih Kantor Pusat (Direktorat PBB dan BPHTB) jika digunakan untuk Kantor
Pusat atau pilih Kantor Pelayanan PBB jika digunakan untuk Kantor
Pelayanan PBB.
Login ke basisdata Oracle.

isikan nama user, password user (seperti login di sismiop) serta nama server
sesuai dengan tnsnames yang telah dibuat.

Mengarahkan letak direktori peta, foto dan video.


Saat Smart Map dijalankan pertama kali Anda harus mengatur setting
direktori ke letak file file peta, foto dan video berada. Jika tidak diset, aplikasi
belum bisa berjalan.
Dari menu Dokumen pilih Setting Direktori, lalu browse sesuai letak file peta,
foto dan video tersimpan, jika selesai klik tombol Simpan Perubahan lalu
Keluar.

59
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Setting ini cukup dilakukan 1 kali saja, yaitu pada saat open pertama kali
setelah instalasi Smart Map. Pada saat membuka yang kedua kali dan
selanjutnya tidak perlu diset lagi, kecuali jika letak direktori Peta, Foto dan
Video diuubah, setting direktori ini juga harus diubah.
Keterangan penamaan foto dan video :
 penamaan foto harus menggunakan 21 digit angka yaitu 18 digit
NOP+001 dan format ekstensinya harus JPG.
contoh : 317101000100100010001.jpg
 penamaan video sama seperti penamaan foto dengan format ekstensi
harus MPG. contoh : 317101000100100010001.mpg

Membuka peta wilayah


Untuk membuka peta wilayah bisa dilakukan dengan 3 cara :
1. Langsung klik ke peta
Arahkan mouse pada peta dan lakukan klik langsung pada bagian peta
yang Anda ingin buka, mulai dari Propinsi, Dati II, Kecamatan sampai
Kelurahan yang dituju.
2. Seleksi Wilayah Kerja
Pada menu Dokumen, pilihlah sub menu Seleksi Wilayah Kerja, muncul
tampilan berikut ini:

60
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Lakukan double klik pada Daftar Propinsi>Dati II>Kecamatan sampai


Kelurahan yang dituju

3. Buka Peta Wilayah


Pada menu Dokumen, pilihlah sub menu Buka Peta Wilayah, muncul
form berikut ini :

Isikan kode kelurahan yang ingin dibuka, lalu tekan tombol Ok.

61
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

F. Troubleshooting Instalasi
Jika langkah-langkah instalasi di atas diikuti secara benar, sebenarnya
aplikasi SmartMap harus sudah berjalan. Namun berdasarkan laporan dari
KP PBB ada beberapa permasalahan yang sering terjadi, antara lain :
1. Gagal koneksi ke server i-SISMIOP
Setelah memasukkan user, password dan nama server muncul pesan :
Terjadi kesalahan koneksi ……. (pesan berikutnya)…..
Ini berarti SmartMap tidak bisa melakukan koneksi ke basisdata i-
SISMIOP
Jika deskripsi pesannya adalah :
a. Invalid username/password….
Artinya username dan password untuk mengakses basisdata i-
SISMIOP salah, gunakan username dan password yang selama ini
digunakan untuk mengakses SISMIOP (user yang dipakai untuk
masuk ke aplikasi SISMIOP dari Windows Terminal)
b. Could not resolve service name…..
Ini artinya nama server yang anda ketikkan tidak terdaftar pada
tnsnames.ora, cek file tnsnames.ora dan lihat langkah edit
tnsnames.ora dibagian instalasi di depan.
c. Pesan lainnya
Selain kedua pesan di atas, berarti permasalahan ada pada Oracle
Client. Langkah-langkah mengatasinya :
 Jalankan perintah ping dari PC SmartMap ke server SISMIOP, jika
tidak berhasil berarti jaringan anda ada masalah.
 Jika ping berhasil, jika anda memiliki 2 oracle client (misalnya
terinstall Oracle Developer dan Client Oracle 8i Enterprise. Anda
harus menggunakan salah satu saja tidak boleh keduanya.
Uninstall salah satu client tersebut.
 Jika ping berhasil dan anda hanya memiliki 1 oracle client (dan
anda sudah merasa benar menginstall Oracle Client),
kemungkinan PC anda sudah terinstall program-program lain
(tidak diinstall OS dari awal) yang menyebabkan Oracle Client
tidak berfungsi dengan baik. Silahkan hubungi Tim Otomasi PBB
dan BPHTB, atau kalau anda yakin melakukan sendiri, lakukan

62
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

instalasi OS PC anda dari awal (saat ini sebaiknya digunakan OS


Windows XP).

2. “Peta Indonesia tidak ditemukan !”


Pesan ini terjadi karena di folder peta tidak ditemukan peta wilayah kerja
KPPBB anda atau ditemukan tetapi nama file tidak cocok dengan kode
yang ada pada server i-SISMIOP. Untuk mengatasinya pastikan anda
mengetahui kode KP PBB yang ada pada server i-SISMIOP (Tanya OC
SISMIOP). Selanjutnya nama file yang ada didirektori peta kodenya
disesuaikan dengan kode KPPBB di server i-SISMIOP. Kemudian buka
file setting_aplikasi.mdb dengan Microsoft Access yang ada pada direktori
basisdata dimana SmartMap diinstall. Buka tabel identitasi_instansi, edit
kode KPPBB dengan kode yang benar.

G. Penjelasan Menu-menu Aplikasi SIG PBB versi SmartMap 1.0


Tampilan awal Aplikasi SIGPBB versi Smart Map adalah gambar Bola Dunia,
Peta Indonesia, tulisan SIGPBB versi Smart Map dan nama KPPBB yang
bersangkutan di pojok kiri bawah disertai dengan window dialog login ke
Oracle.

Setelah user login, Aplikasi SIGPBB versi Smart Map masuk ke level wilayah
kerja.

63
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Disini ada beberapa menu utama sebagai berikut :


A. DOKUMEN
1. Seleksi Wilayah Kerja
2. Buka Menu Wilayah
3. Setting Direktori
4. Keluar
B. INFORMASI
Rekapitulasi Perekaman Data SIN
C. BANTUAN
1. Cara Menggunakan Aplikasi
2. Tentang Program

64
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Menu Utama Level Kabupaten / Kotamadya


Di dalam jendela peta tampil kecamatan-kecamatan yang ada di wilayah
kabupaten/kota :

disini ada beberapa menu utama sebagai berikut :

A. DOKUMEN
1. Seleksi Wilayah Kerja
2. Buka Menu Wilayah
3. Setting Direktori
4. Keluar
B. INFORMASI
Rekapitulasi Perekaman Data SIN
C. BANTUAN
1. Cara Menggunakan Aplikasi
2. Tentang Program

65
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Menu Utama Level Kecamatan

Dalam jendela peta terdapat kelurahan-kelurahan dari kecamatan yang dipilih

A. DOKUMEN
1. Seleksi Wilayah Kerja
2. Buka Menu Wilayah
3. Setting Direktori
4. Keluar
B. INFORMASI
Rekapitulasi Perekaman Data SIN
C. BANTUAN
1. Cara Menggunakan Aplikasi
2. Tentang Program

66
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Menu Utama Level Kelurahan


Dalam jendela peta terbuka peta kelurahan

DOKUMEN
Buka Peta Wilayah
Menu : Dokumen => Buka Peta Wilayah
Fungsi : Meloncat ke peta wilayah lain tanpa harus menutup peta yang
masih terbuka/aktif terlebih dahulu dengan cara memasukkan kode
wilayah yang bersangkutan. Bisa ke level Kelurahan, Kecamatan
maupun Kabupaten.

Setting Direktori
Menu : Dokumen => Setting Direktori
Fungsi : Untuk mengeset letak direktori peta, foto, dan video.

Keluar
Menu : Dokumen => Keluar
Fungsi : Keluar program Smart Map

67
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

INFORMASI
Data Objek Pajak Tanpa Peta (Geocod)
Menu : Informasi => Data Objek Pajak Tanpa Peta (Geocod)
Fungsi : mencari Objek Pajak yang tidak ada di peta dan sekaligus
melakukan proses geocoding.

Cari
Menu : Informasi => Cari
Fungsi : melakukan pencarian objek

TEMATIK
Informasi Tanah
Untuk menampilkan tematik :
1. Jenis Tanah
Menu : Tematik => Informasi Tanah =>Jenis Tanah
Fungsi : menampilkan tematik jenis tanah
2. Kelas Tanah
Menu : Tematik => Informasi Tanah => Kelas Tanah
Fungsi : menampilkan tematik kelas tanah

Informasi Bangunan
Untuk menampilkan tematik :
1. Jenis Penggunaan Bangunan
Menu : Tematik => Informasi Bangunan =>Jenis Penggunaan
Bangunan
Fungsi : menampilkan tematik jenis penggunaan bangunan
2. Kelas Bangunan
Menu : Tematik => Informasi Bangunan => Kelas Bangunan
Fungsi : menampilkan tematik kelas bangunan

Zona Nilai Tanah


Menu : Tematik => Zona Nilai Tanah
Fungsi : menampilkan tematik Zona Nilai Tanah

68
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Ketetapan Per Buku


Menu : Tematik => Ketetapan Per Buku
Fungsi : menampilkan tematik Ketetapan Per Buku

Nilai Individu
Menu : Tematik => Nilai Individu
Fungsi : menampilkan tematik objek pajak yang sudah dinilai individu atau
belum

NPWP
Menu : Tematik => NPWP
Fungsi : menampilkan tematik objek pajak yang sudah ber-NPWP dan
yang belum.

PEMELIHARAAN
Pemecahan Objek Pajak
Menu : Pemeliharaan => Pemecahan OP
Fungsi : untuk melakukan pemecahan objek pajak

Penggabungan Objek Pajak


Menu : Pemeliharaan =>Penggabungan OP
Fungsi : untuk melakukan pemecahan objek pajak

69
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Toolbar dan Fungsinya

1. pilih > memilih objek


2. informasi rinci objek pajak > menampilkan informasi rinci objek pajak
3. perbesar tampilan > memperbesar tampilan peta
4. perkecil tampilan > memperkecil tampilan peta
5. geser > menggeser peta
6. peta Indonesia > kembali ke tampilan peta Indonesia
7. peta di atasnya > kembali ke peta di atasnya
8. cari > pencarian objek berdasarkan NOP, nama atau alamat
9. simpan peta ke image > menyimpan peta yang ada di window ke image
10. zoom ekstens > menampilkan peta agar masuk ke dalam window peta
11. proses geocoding per OP > untuk melakukan proses geocoding per OP

70
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

H. Proses pada Aplikasi SmartMap


Aplikasi SmartMap dibuat untuk memenuhi kebutuhan organisasi dalam
menampilkan data spasial dan data atribut SIN yang saat ini sedang
dikumpulkan oleh KP PBB di seluruh Indonesia. Disamping itu SmartMap
dibuat untuk mengatasi kelemahan SIG PBB versi lama seperti cetak massal
info rinci, pembuatan laporan-laporan yang kompleks, dll. Namun sampai
saat ini SmartMap belumlah sempurna seperti yang diinginkan. SmartMap
akan terus dilakukan perbaikan dan penambahan menu-menu untuk
memenuhi kebutuhan Direktorat PBB dan BPHTB.

Berikut ini beberapa proses yang ada pada SmartMap versi 1.0 :

1. Informasi Rinci
Informasi rinci menampilkan informasi secara rinci setiap bidang objek
pajak. Oleh karena itu informasi rinci hanya dapat ditampilkan pada peta

kelurahan. Untuk menampilkannya tekan tombol , selanjutnya klik


pada bidang yang ingin ditampilkan informasi rincinya. Akan muncul
tampilan seperti pada gambar berikut ini :

71
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Tekan tombol Bangunan, akan muncul informasi rinci bangunan berikut


ini :

72
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Tekan tombol Informasi Rinci SIN, untuk menampilkan informasi rinci


yang berkaitan dengan SIN. Untuk menampilkan Informasi Rinci seperti
pada aplikasi SIG sebelumnya tekan tombol Informasi Rinci Umum.

Contoh tampilan informasi rinci SIN:

73
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Jika ingin mencetak Info Rinci tekan tombol Cetak, akan muncul tampilan
berikut ini :

Contoh tampilan informasi rinci umum :


74
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

2. Peta Tematik
Peta tematik menampilkan peta berdasarkan tema tertentu. Peta tematik
yang bisa ditampilkan pada aplikasi ini antara lain :
a. Jenis Tanah. Menampilkan peta jenis penggunaan tanah seperti :
Tanah + Bangunan, Kavling Siap Bangun, Tanah Kosong dan
Fasilitas Umum.
b. Kelas Tanah. Menampilkan peta kelas tanah berdasarkan tahun
pajak tertentu.
c. Jenis Penggunaan Bangunan. Menampilkan peta Jenis
Penggunaan Bangunan (JPB).
d. Kelas Bangunan. Menampilkan peta kelas bangunan berdasarkan
tahun pajak tertentu.
e. Zona Nilai Tanah. Menampilkan peta Zona Nilai Tanah berdasarkan
tahun pajak tertentu.
f. Ketetapan per Buku. Menampilkan peta ketetapan per buku
berdasarkan tahun pajak tertentu.

75
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

g. Nilai Individu. Menampilkan peta bidang objek pajak yang dilakukan


penilaian secara individu dan yang tidak dilakukan penilaian individu
(penilaian standar).
h. NPWP. Menampilkan peta bidang objek pajak yang memiliki NPWP
dan tidak memiliki NPWP.

Contoh tampilan tematik kelas tanah :

3. Geocoding
Proses geocoding adalah proses validasi data SISMIOP (data atribut)
terhadap data SIG (data spasial), sehingga untuk objek pajak yang tidak
ada petanya tidak bisa dilakukan proses tertentu di SISMIOP seperti
melakukan pencetakan SPPT dan beberapa proses lainnya.

76
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Sebelum dilakukan proses geocoding, dilakukan pencarian data SISMIOP


yang tidak ada petanya dengan menekan tombol Proses. Hasil pencarian
ini dapat dicetak ke printer dengan menekan tombol Cetak. Apabila
proses Geocoding yakin akan dilakukan, bisa dilanjutkan dengan
menekan tombol Geocod dan proses geocoding akan dilakukan.

4. Pemeliharaan Basisdata SIG


Pemeliharaan basisdata SIG yang dapat dilakukan pada aplikasi ada 2
jenis yaitu : Pemecahan Bidang Objek Pajak dan Penggabungan Bidang
Objek Pajak.
a. Pemecahan Bidang Objek Pajak
Langkah-langkah melakukan pemecahan bidang objek pajak adalah
sebagai berikut :
 Lakukan klik ke menu Pemeliharaan>Pemecahan OP akan

muncul icon dan pesan “silakan pilih


bidang yang akan dipecah…”, lalu klik Ok.
 Lakukan klik pada bidang yang akan dipecah, muncul pesan
“Gambar bidang yang baru…, jika anda yakin lanjutkan dengan
pemecahan !"

77
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

 Gambar bidang yang baru dengan menggunakan icon , jika


ingin mengedit bidang yang baru dibuat gunakan icon

dan untuk menampilkan ruler klik pada icon .

 Ingin membatalkan proses pemecahan klik icon ,

 Jika sudah benar klik ikon , muncul pesan konfirmasi lalu klik
Ok dan masukkan 5 digit NOP terakhir bidang yang baru, lalu
tekan Ok, bidang sudah terpecah.

b. Penggabungan Bidang Objek Pajak


Langkah-langkah melakukan penggabungan bidang objek pajak
adalah sebagai berikut :
 Klik menu Pemeliharaan => Penggabungan OP, akan muncul
pesan “Silakan pilih bidang target …, selanjutnya tekan tombol

NOP target” dan icon


 klik bidang di dalam peta yang akan dijadikan target lalu tekan

tombol , akan muncul konfirmasi NOP target dan pesan


untuk memilih bidang yang akan digabung
 klik bidang yang akan digabung, lanjutkan dengan menekan

tombol proses penggabungan , lalu tekan tombol ya saat


muncul konfirmasi, akan muncul pesan “Penggabungan Objek
Pajak Berhasil…”.
 Jika objek yang digabung ada bangunannya akan muncul

konfirmasi tambahan nomor bangunan, klik , lalu klik pada


bangunan baru, akan muncul form untuk mengisi nomor bangunan
baru, masukkan 3 digit nomor bangunan baru.

78
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

5. Cetak Masal Info Rinci


Aplikasi Smart Map dilengkapi fasilitas untuk melakukan Cetak Masal Info
Rinci. Untuk mengaksesnya, pilih menu Informasi -> Cetak Masal Info
Rinci. Tampilannya adalah seperti gambar berikut ini :

Pilih info rinci yang akan dicetak , selanjutnya masukkan tahun pajak,
ketik range nop yang akan dicetak masal, tekan tombol Proses. Untuk
cetak info rinci SIN, bila range NOP yang dimasukkan mengandung lebih
dari 1 jenis info rinci (info rinci pribadi, info rinci non pribadi, aset negara
dan aset daerah), sebelum mencetak akan muncul form pilihan untuk
menetukan info rinci yang mana akan dicetak terlebih dahulu.
Tampilannya seperti gambar berikut :

79
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Pilih info rinci yang mana akan dicetak terlebih dahulu, selanjutnya tekan
tombol Cetak.

6. Rekapitulasi Perekaman Data SIN


Hasil perekaman data SIN yang direkam melalui aplikasi SISMIOP dapat
diketahui rekapnya melalui menu Rekapitulasi Perekaman Data SIN
(menu Informasi  Rekapitulasi Perekaman Data SIN).

80
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

Silahkan ditentukan kriteria laporan yang telah disediakan dan tekan


tombol Cetak, maka akan muncul tampilan berikut ini:

7. Cetak Laporan ke Kertas


Untuk mencetak Tampilan Info Rinci ke kertas, SmartMap menggunakan
kertas F4 (215 mm x 330 mm). Info Rinci tidak menggunakan kertas
Legal karena di pasaran sangat jarang ditemukan kertas Legal (215,9 mm
x 355,6 mm), yang banyak dijual adalah kertas F4. Terkadang sering
terjadi salah persepsi kertas F4 dianggap kertas Legal, padahal keduanya
ukurannya berbeda.
Namun permasalahannya, kebanyakan printer yang ada di pasaran tidak
menyediakan ukuran kertas F4, sehingga pada printer harus dibuat
sendiri ukuran kertas F4. Caranya tergantung pada jenis printer yang
anda gunakan (baca manual printer anda, bagaimana membuat ukuran
kertas sendiri / Custom Paper). Sementara untuk Laporan Rekapitulasi
Data SIN, menggunakan kertas A4.
Pada form Cetak, tombol Printer Setup, digunakan untuk mengganti
ukuran kertas dan memilih printer yang akan dipakai untuk mencetak.

81
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

8. Fasilitas-fasilitas Lainnya
a. Buka Peta Wilayah

Menu ini digunakan membuka peta secara langsung tanpa harus


melalui hirarki peta yang dimulai dari peta di atasnya (misal : dari
seleksi wilayah ataupun klik secara langsung pada peta). Cukup
dengan mengisi kode wilayah peta yang diinginkan, maka peta akan
segera tampil.

b. Pencarian Bidang Objek Pajak

Digunakan untuk melakukan pencarian objek pajak berdasarkan


NOP, nama atau alamat objek pajak. Untuk sementara menu ini
hanya bisa digunakan untuk mencari objek pajak dalam satu
kelurahan yang petanya sedang aktif (sedang dibuka).

82
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

LATIHAN SOAL

1. Berikut ini adalah komponen Sistem Informasi Geografis, kecuali:

a. Perangkat Keras

b. Perangkat Lunak

c. Data Masukan dan Data Keluaran

d. Manajemen

2. Secara umum proses SIG terdiri atas tiga bagian berikut, kecuali

a. subsistem masukan data (input data)

b. subsistem manipulasi dan analisis data

c. subsistem menyajikan data (output data)

d. subsistem mencetak data (printing data)

3. Pada model data vektor, yang bukan merupakan objek adalah:

a. titik (point)

b. garis (line)

c. sudut (corner)

d. area (polygon)

4. berikut ini merupakan data dasar yang dimasukkan dalam SIG, kecuali

a. data lapangan (teristris)

b. data peta

c. data SISMIOP

d. data penginderaan jauh

83
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

5. Berikut ini bermacam analisis data geografis, kecuali:

a. Analisis Penggunaan Peta

b. Analisis lebar

c. Analisis penjumlahan aritmatika

d. Analisis garis dan bidang

6. Yang tidak diperlukan dalam proses Scanning peta adalah:

a. Large Plotter

b. SCSI Card

c. Wide Image

d. Adaptec EZ-SCSI Lite

7. Berikut ini merupakan komponen wide image, kecuali:

a. Scan toolbar

b. Scan Panel

c. Preview Window

d. Detail Window

8. Yang tidak termasuk dalam menu raster file edit adalah:

a. Cut Window

b. Deskew

c. Zoom

d. Crop

84
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

9. Pada dialog Adjust Object/Merge, metode penggabungan yang tidak sesuai dengan
kondisi peta adalah:

a. As Is,

b. Combine

c. Fit

d. Cut Edge

10. Untuk menjalankan Smartmap, diperlukan instalasi perangkat lunak berikut, kecuali:

a. Oracle Server

b. Oracle client

c. Mapinfo

d. smartmap

11. Yang tidak terdapat dalam file tnsnames.ora adalah:

a. Address

b. Client

c. Port

d. Connect_data

12. Untuk membuka peta wilayah bisa dilakukan dengan cara berikut, kecuali:

a. Langsung klik ke peta

b. zoom peta wilayah

c. Seleksi Wilayah Kerja

d. Buka Peta Wilayah

85
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

13. Beberapa masalh yang sering terjadi pada smartmap adalah seperti dibawah ini,
kecuali:

a. Invalid username/password….

b. Could not resolve service name…..

c. Peta Indonesia tidak ditemukan

d. Wilayah yang anda pilih tidak ditemukan

14. Pada Menu Utama Level Kelurahan, yang tidak terdapat pada file dokumen adalah:

a. Buka Peta Wilayah

b. Setting Direktori

c. Data Objek Pajak Tanpa Peta (Geocod)

d. Keluar

15. Yang tidak terdapat dalam menu tematik adalah:

a. Zona Nilai Tanah

b. Ketetapan Per Buku

c. Nilai Individu

d. Alamat WP

86
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

KUNCI JAWABAN

1 C

2 D

3 C

4 C

5 A

6 A

7 C

8 C

9 B

10 A

11 B

12 B

13 D

14 C

15 D

87
Modul Sistem Informasi Geografis (SIG)
©arwan atrofu zaman