Anda di halaman 1dari 29

Hakikat Evaluasi

(Peniaian, Pengukuran, dan Tes)

Oleh:
Putu Gede Widhy Adnyana
1823011023

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. I Made Ardana, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2019
ABSTRAK
Pengertian istilah tes (test), pengukuran (measurement), penilaian
(assessment) dan evaluasi (evaluation) sering disalah artikan oleh sebagian besar
orang sehingga terjadi kerancauan atau tumpang tindih (overlap) dalam
menggunakan ketiga istilah tersebut. Tes merupakan sebagai alat atau metode
yang berisi serangkaian butir pertanyaan untuk mengungkap karakteristik atau
kemampuan seseorang. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan atau proses
pengumpulan informasi tentang kinerja seseorang untuk kepentingan pembuatan
keputusan jika perlu. Pengukuran berkaitan dengan kegiatan mengukur yang pada
hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu
sedangkan evaluasi merupakan pengumpulan informasi yang dilakukan oleh
seseorang (evaluator) untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil
keputusan. Tampak bahwa keempat istilah tersebut berbeda namun sebenarnya
istilah-istilah tersebut memiliki hubungan yang hierarki yaitu penilaian mencakup
pengukuran, sedangkan evaluasi mencakup pengukuran dan penilaian.

A. PENDAHULUAN

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang Sistem


Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik adalah tenaga professional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian
dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan
tinggi. Dengan demikian, salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang
pendidik adalah kemampuan mengadakan evaluasi, baik dalam proses
pembelajaran maupun penilaian hasil belajar.
Kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajaran merupakan kemampuan
dasar yang mesti dikuasai oleh seorang pendidik maupun calon pendidik sebagai
salah satu kompetensi professionalnya. Evaluasi pembelajaran merupakan satu
kompetensi professional seorang pendidik. Kompetensi tersebut sejalan dengan
instrumen penilaian kemampuan guru, yang salah satu indikatornya adalah
melakukan evaluasi pembelajaran.
Istilah evaluasi pembelajaran sering disama artikan dengan ujian. Meskipun
saling berkaitan, akan tetapi tidak mencakup keseluruhan makna yang
sebenarnya. Ujian ulangan harian yang dilakukan guru di kelas atau bahkan ujian
akhir sekolah sekalipun, belum dapat menggambarkan esensi evaluasi
pembelajaran, terutama bila dikaitkan dengan penerapan kurikulum 2013. Sebab,

1
evaluasi pembelajaran pada dasarnya bukan hanya menilai hasil belajar, tetapi
juga proses-proses yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam keseluruhan
proses pembelajaran.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tes, pengukuran
(meaasurement), penilaian (assessment) dan evaluasi (evaluation), terlebih lagi
bagi orang-orang yang bergelut di bidang pendidikan. Namun, pada praktiknya
sering kali terjadi kerancauan atau tumpang tindih (overlap) dalam menggunakan
ketiga istilah tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai
“ Hakikat evaluasi (Pengukuran, Penilaian, dan Tes)”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan yaitu sebagai berikut.
1. Pengertian tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi.
2. Hubungan antara tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi.

C. PEMBAHASAN
1. Pengertian Tes, Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tes (test),
pengukuran (meaasurement), penilaian (assessment) dan evaluasi (evaluation),
terlebih lagi bagi orang-orang yang bergelut di bidang pendidikan. Namun, pada
praktiknya sering kali terjadi kerancauan atau tumpang tindih (overlap) dalam
menggunakan ketiga istilah tersebut. Hal tersebut mungkin dapat dipahami
mengingat ketiga istilah tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain.
1.1 Pengertian tes
Philips (1979: 1-2) menyatakan bahwa “a test is commonly defined as a
tool or instrument of measurement that is used to obtain data about a specific trait
or characteristic of an individual or a group” yang dapat diartikan bahwa suatu
tes biasanya didefinisikan sebagai alat atau instrumen pengukuran yang digunakan
untuk memperoleh data tentang sifat atau karakteristik tertentu dari individu atau
kelompok, selain itu menurut Johnson & Robert T. Johnson (2002: 62)
menyatakan “tests are given to assess student learning, to increase student

2
learning, and to guide instruction” dan Mardapi (2008: 67) menyatakan bahwa tes
adalah sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, atau sejumlah
pernyataan yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat
kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang di kenai
tes. Berdasarkan atas ketiga pengertian di atas dapat dikatakan bahwa tes
merupakan sebagai alat atau metode yang berisi serangkaian butir pertanyaan
dan/atau pernyataan untuk mengungkap karakteristik atau kemampuan seseorang.
Sebagai alat pengumpul informasi atau data, tes harus dirancang secara
khusus. Kekhususan tes terlihat dari bentuk soal tes yang digunakan, jenis
pertanyaan, rumusan pertanyaan yang diberikan, dan pola jawabannya harus
dirancang menurut kriteria yang telah ditetapkan. Demikian juga waktu yang
disediakan untuk menjawab pertanyaan serta pengadministrasian tes juga
dirancang secara khusus. Kekhususan-kekhususan tersebut berbeda antara satu tes
dengan tes yang lain. Tes ini dapat berupa pertanyaan tertulis, wawancara,
pengamatan tentang kerja fisik, dan lain-lain.
Hasil tes biasanya digunakan untuk mengetahui kemampuan belajar,
meningkatkan aktivitas belajar, dan meningkatkan kegiatan pembelajaran.
Beberapa istilah yang terkait dengan bidang kajian tes, yaitu testing, testee, dan
tester. Testing adalah waktu di mana tes dilaksanakan, atau waktu pelaksanaan
tes. Testee adalah orang yang dikenai tes, atau orang yang mengerjakan tes. Tester
adalah orang melakukan tes, atau pelaksana tes. Adapun beberapa kajian tentang
tes dibedakan menjadi 2 yaitu dari jenis tes dan bentuk tes:
a. Jenis tes
Sebagai pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu
sebagai berikut.
1. Tes Seleksi
Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan siswa baru, dimana hasil tes
digunakan untuk memilih peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian
banyak calon peserta didik yang mengikuti tes. Materi tes pada tes seleksi
merupakan materi prasyarat untuk mengikuti program pendidikan yang akan
diikuti calon peserta didik. Materi yang diujikan terdiri atas butir-butir yang

3
cukup sulit, sehingga calon-calon yang tergolong memiliki kemampuan yang
tinggi yang dimungkinkan dapat menjawab butir-butir yang diujikan.
2. Tes Awal
Tes awal sering dikenal dengan pre tes, tes jenis ini dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang
akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Tes ini dilaksanakan
sebelum materi atau bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik.
3. Tes Akhir
Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir ini dilaksanakan
dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran sudah
dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik. Materi tes akhir
bahan-bahan pelajaran yang telah diajarkan kepada peserta didik, dan soal
yang dibuat sama dengan soal tes awal. Dengan demikian jika hasil post-test
lebih baik dari pre tes maka pada umumnya dapat diartikan bahwa program
pengajaran telah berjalan dan berhasil dengan sebaik-baiknya.
4. Tes Diagnostik
Tes ini dilaksanakan untuk menentukan secara tepat jenis kesukaran yang
dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan
diketahui jenis-jenis kesukaran yang dihadapi peserta didik, maka dapat
dicarikan upaya berupa therapy yang tepat. Tes diagnostik juga bertujuan
untuk menemukan jawaban atas pertanyaan “apakah peserta didik sudah dapat
mengusai pengetahuan yang merupakan dasar atau landasan untuk dapat
menerima pengetahuan selanjutnya?” Materi yang ditanyakan dalam tes
diagnostik ditekankan pada bahan-bahan yang sulit dipahami peserta didik.
Tes ini dapat dilaksanakan secara lisan, tertulis serta tes perbuatan.
5. Tes Formatif
Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
manakah peserta didik telah memahami dan menguasai materi ajar di dalam
proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Tes
formatif dilaksanakan setelah suatu pokok bahasan selesai diberikan. Materi
tes formatif ditekankan pada bahan-bahan pelajaran yang diajarkan, butir-butir

4
soal terdiri atas butir-butir soal yang tergolong mudah maupun yang termasuk
kategori sukar.
6. Tes Sumatif
Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan
satuan program pembelajaran selesai diberikan. Tes sumatif disusun atas dasar
materi pelajaran diberikan selama satu catur wulan atau satu semester, dengan
demikian materi tes sumatif jauh lebih banyak dari pada tes formatif.
Umumnya tes sumatif dilaksanakan secara tertulis dengan tujuan agar semua
peserta didik memperoleh soal yang sama. Butir-butir soal yang diujikan
dalam tes sumatif pada umumnya lebih sulit daripada butir-butir tes formatif.
Tujuan utama tes sumatif adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan
keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran
dalam jangka waktu tertentu, sehingga dapat ditentukan: (a) kedudukan dari
masing- masing peserta didik ditengah-tengah kelompoknya, (b) dapat
tidaknya peserta didik untuk mengikuti program pengajaran berikutnya, (c)
kemajuan peserta didik untuk diinformasikan kepada pihak orang tua yang
tertuang dalam bentuk Rapor atau Surat Tanda Tamat Belajar.
7. Jenis tes menurut individu yang dites
Tes ini dibedakan menjadi; (1) tes individual yakni tes dimana saat
pelaksanaan kegiatan tes guru hanya menghadapi seorang peserta didik dan
(2) tes kelompok yakni tes dimana guru menghadapi sejumlah peserta didik.
8. Jenis tes menurut jawaban
Berdasarkan jawaban yang dikehendaki tes dibedakan menjadi; (1) tes verbal
yakni tes yang menghendaki jawaban yang tertuang dalam bentuk ungkapan
kata-kata atau kalimat baik secara lisan ataupun secara tertulis dan (2) tes yang
menghendaki jawaban peserta didik bukan berupa ungkapan atau kalimat
melainkan berupa tindakan atau tingkah laku yang melibatkan gerakan otot.
Tes ini dimaksudkan untuk mengukur tujuan-tujuan yang berkaitan dengan
aspek psikomotor.

5
b. Bentuk tes
Bentuk tes secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
Tes subyektif (esai) dan tes objektif.
1. Tes Subyektif (esai)
Tes esai adalah suatu bentuk pertanyaan yang menuntut jawaban siswa dalam
bentuk uraian dengan mempergunakan bahasa sendiri. Dalam tes bentuk esai
peserta didik dituntut untuk berpikir dan menggunakan apa yang diketahui
yang berkenaan dengan pertanyaan yang harus dijawab. Tes bentuk esai
memberi kebebasan kepada peserta didik untuk menyusun dan
mengemukakan jawabannya sendiri sehingga memungkinkan peserta didik
dapat menunjukkan kemampuannya dalam menerapkan pengetahuan untuk
menganalisis, menghubungkan dan mengevaluasi soal yang dihadapi.
2. Tes Objektif
Tes objektif adalah tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal yang
dapat dijawab oleh peserta didik dengan jalan memilih salah satu di antara
beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan atau dengan
menuliskan jawabannya dengan memilih kode-kode tertentu yang mewakili
alternatif-alternatif jawaban yang telah disediakan. Jawaban terhadap tes
objektif bersifat “pasti” yakni hanya ada satu kemungkinan jawaban yang
benar. Jika peserta didik tidak menjawab “seperti itu” maka dinyatakan salah.
Oleh karena jawabannya bersifat pasti, jawaban peserta didik yang betul
terhadap suatu butir soal, akan dinyatakan benar oleh korektor. Karena hasil
pekerjaan peserta didik jika diperiksa oleh siapa pun akan menghasilkan skor
yang sama, maka disebut tes objektif. Tes objektif dapat digolongkan menjadi:
 tes objektif bentuk benar salah (true-false test);
 tes objektif bentuk menjodohkan (matching test);
 tes objektif bentuk melengkapi (completion test);
 tes objektif bentuk isian singkat (fill-in test);
 tes objektif bentuk pilihan ganda (multiple choice test).

Dari berbagai macam tes objektif tersebut di atas, tes bentuk benar salah, isian
singkat, menjodohkan merupakan alat penilaian yang hanya menilai
kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes

6
objektif pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat
dan memahami dengan cakupan materi yang luas.
Tes objektif memiliki kelemahan-kelemahan antara lain: (1) tes objektif
pada umumnya kurang dapat mengukur atau mengungkapkan proses berpikir
yang tinggi. Lebih banyak mengungkap daya ingat atau hafalan dibandingkan
mengungkapkan tingkat ke dalam berpikir peserta didik terhadap materi yang
diujikan, (2) terbuka kemungkinan bagi peserta didik untuk bermain spekulasi,
tebak terka atau untung-untungan dalam memberikan jawaban soal.

1.1.1. Fungsi Tes


Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
 Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes
berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai
oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam
jangka waktu tertentu.
 Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes
tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang
telah ditentukan, telah dapat dicapai.
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2015:152) dalam bukunya
Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, fungsi tes dapat ditinjau dari tiga hal:
a. Fungsi untuk kelas.
b. Fungsi untuk bimbingan.
c. Fungsi untuk administrasi.
Adapun perbandingan dari ketiga fungsi tersebut adalah :
Fungsi Untuk
Fungsi Untuk Kelas Fungsi Untuk Bimbingan
Administrasi
a. Mengadakan a. Menentukan arah a. Memberi petunjuk
diagnosis terhadap pembicaraan dengan dalam
kesulitan belajar
orang tua tentang mengelompokkan
siswa.
b. Mengevaluasi celah anak-anak mereka. siswa.
antara bakat dengan b. Membantu siswa b. Penempatan siswa
pencapaian.
dalam menentukan baru.

7
Fungsi Untuk
Fungsi Untuk Kelas Fungsi Untuk Bimbingan
Administrasi
c. Menaikkan tingkat pilihan. c. Membantu siswa
prestasi. c. Membantu siswa memiliki kelompok.
d. Mengelompokkan
mencapai tujuan d. Menilai kurikulum.
siswa dalam kelas
pada waktu metode pendidikan dan e. Memperluas
kelompok. jurusan. hubungan
e. Merencanakan
d. Memberikan masyarakat (public
kegiatan proses belajar
mengajar untuk siswa kesempatan kepada relation).
secara perseorangan. pembimbing, guru, f. Menyediakan
f. Menetukan siswa
dan orang tua dalam informasi untuk
mana yang
memerlukan memahami kesulitan badan lain di luar
bimbingan khusus. anak. sekolah.
g. Menentukan tingkat
pencapaian untuk
setiap anak.

1.2 Pengukuran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, pengukuran
adalah proses, cara, perbuatan mengukur. Adapun pengertian pengukuran menurut
beberapa ahli, yaitu:
a. Menurut Cangelosi (1991), pengukuran adalah proses pengumpulan data
melalui pengamatan empiris (Djaali dan Muljono, 2008: 3).
b. Menurut Guilford (1982), pengukuran merupakan proses penetapan angka
terhadap suatu gejala menurut aturan tertentu (Sumarno, 2011).
c. Menurut Wiersma dan Jurs (1990), pengukuran adalah penilaian numerik
terhadap fakta-fakta dari objek yang hendak diukur menurut kriteria atau
satuan-satuan tertentu (Djaali dan Muljono, 2008: 3).
Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas
dasar ukuran tertentu. Misalnya, mengukur waktu dengan jam, mengukur suhu
dengan termometer, mengukur massa dengan timbangan, mengukur kecepatan
dengan spidometer, mengukur kuat arus listrik dengan ampere meter, mengukur
kemampuan siswa dengan tes, dan lain sebagainya.

8
Pengukuran dari segi caranya dibedakan menjadi dua macam, yaitu
pengukuran langsung dan pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung
merupakan proses pemberian angka atas suatu hal atau benda tertentu dilakukan
secara langsung dengan membandingkan sesuatu yang kita ukur tersebut dengan
kriteria atau pembanding tertentu. Contohnya, dalam mengukur tinggi seseorang,
caranya adalah dengan membandingkan tinggi seseorang tersebut dengan alat
pembanding yang berupa meteran. Contoh lainnya adalah untuk mengukur berat
seseorang, dilakukan dengan cara membandingkan berat badan seseorang tersebut
dengan alat pembanding yang berupa timbangan. Hasil pengukuran secara
langsung ini bersifat lebih valid dalam arti bisa mendekati kondisi yang
sesungguhnya. Sedangkan pengukuran tidak langsung adalah pengukuran yang
dilakukan dengan jalan mengukur lewat indikator-indikator atau gejala gejala
yang menggambarkan sesuatu yang diukur. Misalnya, kita ingin mengukur tingkat
kepandaian seseorang, maka kita tidak dapat secara langsung mengukur
kepandaian itu sendiri, tetapi hanya lewat gejala-gejala atau indikator-indikator
yang menunjukkan bahwa seseorang itu pandai, seperti dapat menjawab secara
tepat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hasil pengukuran tidak
langsung ini umumnya tidak akan sevalid pengukuran langsung.
Selanjutnya dari segi tujuannya, pengukuran dibedakan menjadi dua
macam (Sukiman, 2012) yaitu:
a. pengukuran bukan untuk menguji
Pengukuran bukan untuk menguji adalah pengukuran biasa seperti
pengukuran yang dilakukan oleh seorang penjahit pakaian ketika mengukur
ukuran badan kliennya yang akan menjahitkan baju kepadanya. Pengukuran
ini tujuannya hanya sekadar agar baju yang dibuatnya pas dengan ukuran
badan kliennva tersebut dan tidak diarahkan untuk melihat seberapa kekuatan
tenaga baju yang akan.
b. Pengukuran untuk menguii
Pengukuran untuk menguji adalah pengukuran yang diarahkan untuk
melihat potensi atau kemampuan yang dimiliki oleh sesuatu. Misalnya pabrik
bola lampu ketika memproduksı produk baru melakukan uji coba dengan
menyalakan produk bola lampu barunya tersebut secara terus menerus

9
kegiatan ini merupakan bentuk pengukuranyang bertujuan untuk menguji
seberapa baik kualitas produk bola lampu yang baru tersebut.

1.3 Pengertian Penilaian


Menurut beberapa ahli tentang pengertian dari penilaian yaitu :
a. Griffin dan Nix (1991: 53) menyatakan “assessment is the process of
gathering information to make informed decisions” yang dapat diartikan
sebagai “penilaian merupakan proses mengumpulkan informasi untuk
membuat keputusan yang tepat”.
b. Menurut Ashcroft dan David Palacio (1996) “Penilaian merupakan suatu
informasi yang menuntut siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui,
pahami, dan sudah bisa lakukan.
c. Menurut Craig L (2012) mengatakan “assessment is the process of making a
judgment or measurement of worth of an entity” yang dapat diartikan sebagai
“penilaian merupakan proses membuat penilaian atau pengukuran nilai suatu
entitas”.

Berdasarkan atas ketiga pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa penilaian


merupakan serangkaian kegiatan atau proses pengumpulan data/informasi tentang
kinerja seseorang untuk kepentingan pembuatan keputusan jika perlu. Kegiatan
penilaian membutuhkan informasi dari setiap individu dan atau kelompok peserta
didik serta guru. Guru dapat melakukan penilaian dengan cara mengumpulkan
catatan yang diperoleh melalui ujian, produk, observasi, portofolio, unjuk kerja
serta data hasil wawancara.

1.3.1 Tujuan dan Fungsi Penilaian


A. Tujuan Penilaian
Adapun tujuan dilakukannya penilaian dalam proses pembelajaran menurut
Nana Sudjana (2005) yaitu sebagai berikut :
1) Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui
kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata
pelajaran yang ditempuh.

10
2) Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni
seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke
arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
3) Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan
penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi
pelaksanaannya.
4) Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada
pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu, penggunaan jenis
penilaian yang tepat akan menentukan keberhasilan dalam memperoleh
informasi yang berkenaan dengan proses pembelajaran.

B. Fungsi Penilaian
Dengan mengetahui makna dari penilaian, maka dapat dikatakan bahwa
fungsi penilaian menurut Suharsimi Arikunto (2015:18-19) adalah :
1. Penilaian berfungsi selektif, artinya dengan mengadakan penilaian guru
memiliki cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya.
Penilaian itu sendiri mempunyai beberapa tujuan, antar lain :
a. Untuk memilih peserta didik yang dapat diterima di sekolah tertentu.
b. Untuk memilih peserta didik yang dapat naik ke kelas atau tingkat
berikutnya.
c. Untuk memilih peserta didik yang seharusnya mendapat beapeserta didik.
d. Untuk memilih peserta didik yang sudah berhak meninggalkan sekolah,
dan sebagainya.
2. Penilaian berfungsi diagnostik.
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi
persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan
peserta didik. Disamping itu diketahui pula sebab-sebab kelemahan itu. Jadi
dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosa
kepada peserta didik tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahui
sebab-sebab kelemahan ini, maka akan lebih mudah dicari untuk cara
mengatasinya.

11
3. Penilaian berfungsi sebagai penempatan.
Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara Barat, adalah
sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara
mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket
belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya
pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Setiap peserta didik
sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri sendiri sehingga pelajaran akan
lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi
disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat
individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendidikan yang
bersifat malayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara
kelompok.
4. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Fungsi dari penilaian dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana
suatu program berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini,
keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: guru,
metode/strategi pembelajaran, media pembelajaran, kurikulum, sarana dan
sistem administrasi.
Menurut Uno dan Satria (2012) fungsi penilaian dibagi menjadi menjadi
beberapa bagian. Pertama, fungsi penilaian pendidikan bagi guru adalah untuk
(a) mengetahui kemajuan belajar peserta didik, (b) mengetahui kedudukan
masing-masing individu peserta didik dalam kelompoknya,(c) mengetahui
kelemahan-kelemahan cara belajar-mengajar dalam proses belajar mengajar, (d)
memperbaiki proses belajar-mengajar, dan (e) menentukan kelulusan murid.
Sedangkan bagi murid, penilaian pendidikan berfungsi untuk (a) mengetahui
kemampuan dan hasil belajar, (b) memperbaiki cara belajar, dan (c)
menumbuhkan motivasi belajar. Kedua, fungsinya penilaian bagi sekolah adalah
(a) mengukur mutu hasil pendidikan,(b) mengetahui kemajuan dan kemunduran
sekolah, (c) membuat keputusan kepada peserta didik, dan (d) mengadakan
perbaikan kurikulum.
Secara lebih rinci, Purwanto dalam (Arifin, 2013) mengelompokkan fungsi
penilaian dalam kegiatan evaluasi pendidikan dan pengajaran, yakni:

12
1) Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa
setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu
tertentu.
2) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran
sebagai suatu sistem terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan
satu sama lain. Komponen-kompenen yang dimaksud adalah: tujuan, materi
atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan
sumber pelajaran, dan prosedur serta alat evaluasi.
3) Untuk keperluan Bimbingan Konseling (BK). Hasil-hasil penilaian dalam
kegiatan evaluasi yang telah dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat
dijadikan sumber informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor
sekolah atau guru pembimbing lainnya.
4) Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang
bersangkutan.

1.3.2 Ciri-Ciri Penilaian dalam Pendidikan


Ada lima ciri penilaian dalam pendidikan sebagaimana diungkapkan
Suharsimi (2015:20), yaitu:
Ciri pertama, penilaian dilakukan secara tidak langsung. Sebagai contoh
mengetahui tingkat inteligen seorang anak, akan mengukur kepandaian melalui
ukuran kemampuan menyelesaikan soal-soal. Dengan acuan bahwa tanda-tanda
anak yang inteligen adalah anak yang mempunyai:
1. Kemampuan untuk bekerja dengan bilangan.
2. Kemampuan untuk menggunakan bahasa yang baik.
3. Kemampuan untuk menanggap sesuatu yang baru (cepat mengikuti
pembicaraan orang lain).
4. Kemampuan untuk mengingat-ingat.
5. Kemampuan untuk memahami hubungan (termasuk menangkap kelucuan).
6. Kemampuan untuk berfantasi.
Namun ada penemuan yang lebih muktahir yang dikemukakan oleh David
Lazear dalam bukunya Seven Ways of Theacing tentang aspek-aspek yang
menunjukkan tingkat kecerdasaan seseorang (Lazear, 1991), yaitu :

13
1. Kemampuan verbal
2. Kemampuan mengamati
3. Kemampuan gerak kinestis-fisik
4. Kemampuan logika matematika
5. Kemampuan dalam hubungan intra-personal
6. Kemampuan dalam hubungan inter-personal
7. Kemampuan dalam musik/irama.
Selanjutnya, tingkat inteligensi dibandingkan dengan jumlah umat manusia
digambarkan sebagai berikut:
- 1 % luar biasa, mempunyai IQ antara 30 sampai 70.
- 5 % dungu, mempunyai IQ antara 70 sampai 80.
- 14 % bodoh, mempunyai IQ antara 80 sampai 90.
- 60 % normal, mempunyai IQ antara 90 sampai 110.
- 14 % pandai, mempunyai IQ antara 110 sampai 120.
- 5 % sangat pandai, mempunyai IQ antara 120 sampai 130.
- 1 % genius, mempunyai IQ lebih dari 130.

Ciri kedua dari penilaian pendidikan yaitu penggunaan ukuran kuantitatif.


Penilaian pendidikan bersifat kuantitatif artinya menggunakan symbol bilangan
sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu lalu diinterpretasikan ke bentuk
kualitatif.
Contoh : Dari hasil pengukuran, Tika mempunyai IQ 125, sedangkan IQ Tini 105.
Dengan demikian maka Tika dapat digolongkan sebagai anak yang pandai,
sedangkan Tini anak yang normal.
Ciri ketiga dari penilaian pendidikan, yaitu bahwa penilaian pendidikan
menggunakan, unit-unit untuk satuan-satuan yang tetap karena IQ 105 termasuk
anak normal. Anak lain hasil pengukuran IQ-nya 80, menurut unit ukurannya
termasuk anak dungu.
Ciri kempat dari penilaian pendidikan adalah bersifat relatif artinya tidak sama
atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain.
Contoh: hasil ulangan yang diperoleh Mianti hari Senin adalah 80. Hasil hari
Selasa 90. Tetapi hasil ulangan dari Sabtu hanya 50. Ketidak tetapan hasil

14
penilaian ini disebabkan karena banyak faktor. Mungkin pada hari Sabtu Mianti
sedang risau hatinya menghadapi malam Minggu sore harinya.
Ciri kelima dalam penilaian pendidikan adalah bahwa dalam penilaian pendidikan
itu sering terjadi kesalahan-kesalahan. Adapun sumber kesalahan dapat ditinjau
dari berbagai faktor yaitu :
a. Terletak pada alat ukurnya.
Alat yang digunakan untuk mengukur haruslah baik. Sebagai misal,
kita akan mengukur panjang meja tetapi menggunakan pita ukuran yang
terbuat dari bahan elastis, dan cara mengukurnya ditarik-tarik. Tentu saja pita
ukuran itu tidak dapat kita golongkan sebagai alat ukur yang baik karena
gambaran tentang panjangnya meja tidak dapat diketahui dengan pasti.
b. Terletak pada orang yang melakukan penilaian. Hal ini dapat berupa:
1. Kesalahan pada waktu melakukan penilaian, karena faktor subyektif
penilai telah berpengaruh pada hasil pengukuran. Tulisan jelek dan tidak
jelas, mau tidak mau sering mempengaruhi subyektifitas penilai, jika pada
waktu mengerjakan koreksi, penilai itu sendiri sedang risau. Itulah
sebabnya pendidik harus sejauh mungkin dari hal itu.
2. Kecenderungan dari penilai untuk memberikan nilai secara “murah” atau
“mahal”. Ada guru yang memberi nilai 2 (dua) untuk peserta didik yang
menjawab salah dengan alasan untuk upah menulis. Tetapi ada yang
memberikan (nol) untuk jawaban yang serupa.
3. Adanya “hallo-effect”, yakni adanya kesan menilai terhadap peserta didik.
Kesan-kesan itu dapat berasal dari guru yang lain maupun dari guru itu
sendiri pada kesempatan memegang mata pelajaran itu.
4. Adanya pengaruh hasil yang telah diperoleh terdahulu. Seorang peserta
didik pada ulangan pertama mendapat angka 10 sebanyak 12 kali. Untuk
ulangan yang ketiga belas dan seterusnya, guru sudah terpengaruh ingin
memberi angka lebih banyak dari sebenarnya pada waktu ulangan tersebut,
ia sedang mengalami nasib sial, yakni salah mengerjakan.
5. Kesalahan yang disebabkan oleh kekeliruan menjumlah angka- angka hasil
penilaian.

15
c. Terletak pada anak yang dinilai.
1. Siswa adalah manusia yang berperasaan dan bersuasana hati. Suasana hati
seseorang akan berpengaruh terhadap hasil penilain. Misalnya suasana hati
yang kalut, sedih atau tertekan memberikan hasil kurang memuaskan.
Sedang suasana hati gembira dan cerah, akan memberi hasil yang baik.
2. Keadaan fisik ketika peserta didik sedang dinilai. Kepala pusing, perut
mulas dan pipi sedang bengkak karena sakit gigi, tentu saja akan
mempengaruhi cara peserta didik memecahkan persoalan. Pikiran sangat
sukar untuk konsentrasi.
3. Nasib peserta didik kadang-kadang mempunyai peranan terhadap hasil
penilaian. Tanpa adanya sesuatu sebab fisik maupun psikis, adakalanya
seperti ada “gangguan” terhadap kelancaran mengerjakan soal-soal.
d. Terletak pada situasi dimana penilaian berlangsung.
1. Suasana yang gaduh, baik di dalam maupun di luar ruangan, akan
mengganggu konsentrasi peserta didik. Demikian pula tingkah laku
kawan-kawannya yang sedang mengerjakan soal, apakah mereka bekerja
dengan cukup serius atau nampak seperti main- main, akan mempengaruhi
diri peserta didik dalam mengerjakan soal.
2. Pengawasan terhadap penilaian, tidak menjadi rahasia lagi bahwa
pengawasan yang terlalu ketat tidak akan disenangi oleh peserta didik
yang suka melihat ke kanan dan ke kiri. Namun adakalanya, ke-adaan
sebaliknya, yaitu pengawasan yang longgar justru membuat kesal bagi
peserta didik yang mau disiplin dan percaya diri sendiri.

1.3.3 Manfaat Penilaian Pembelajaran


Menurut Endang Poerwanti (2001:7), penilaian pembelajaran bermanfaat untuk:
1) Memberi penjelasan secara lengkap tentang target pembelajaran yang dapat
dijelaskan. Sebelum pendidik melakukan penilaian terhadap siswanya terlebih
dulu harus mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan siswa, informasi yang
dibutuhkan tentang pengetahuan, keterampilan, dan performa siswa.
Pengetahuan, keterampilan dan performa siswa yang dibutuhkan dalam
pembelajaran disebut dengan target atau hasil pembelajaran.

16
2) Memilih teknik penilaian untuk kebutuhan masing-masing siswa, bila
mungkin guru dapat menggunakan beberapa indikator keberhasilan untuk
setiap taget pembelajaran. Masing masing target pembelajaran memerlukan
pemilihan teknik penilaian yang berbeda, misalnya untuk dapat melakukan
penilaian kemampuan siswa dalam pemecahan masalah dalam matematika
tentu akan sangat berbeda dengan kemampuan membaca atau mendengarkan,
dan berbeda pula untuk pemecahan masalah IPS yang memerlukan diskusi.
3) Memilih teknik penilaian untuk setiap target pembelajaran, pemilihan teknik
penilaian harus didasarkan pada kebutuhan praktis di lapangan dan efisiensi.
Teknik penilaian ini harus dapat mengungkapkan kemampuan khusus serta
untuk mengembangkan kemampuan siswa, sehingga ketika memilih teknik
penilaian harus pula dipertimbangkan manfaatnya untuk umpan balik bagi
siswa. Sebab itu, ketika melakukan interpretasi dari hasil penilaian haruslah
dengan cermat, dengan menghindari berbagai keterbatasan yang bersumber
dari subyektifitas pelaksana penilaian.

1.4 Evaluasi
Evaluasi mencakup pengukuran dan penilaian. Evaluasi memiliki
pengertian yang berbeda-menurut para ahli, yaitu :
b. Menurut Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977) dalam Sudijono
(2011) “evaluation refer to the act or process to determining the value of
something”. Dari definisi tersebut, maka istilah evaluasi ini menunjuk
kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses
untuk menentukan nilai dari sesuatu.
c. Menurut Daryanto (2008) evaluasi merupakan proses menggambarkan,
memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk memperoleh
keputusan.
d. Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1), evaluasi adalah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya
informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat
dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah
menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker

17
untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang
telah dilakukan.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi
merupakan pengumpulan informasi yang dilakukan oleh seseorang (evaluator)
untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Dengan kata
lain evaluasi adalah proses penentuan nilai atau harga dari data yang terkumpul.
Pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti tidak dapat dilakukan secara
sembarangan, oleh karenanya evaluasi harus dilakukan berdasar prinsip-prinsip
tertentu. Evaluasi harus merupakan kegiatan yang harus dilakukan terus menerus
dari setiap program, karena tanpa evaluasi sulit untuk mengetahui jika, kapan,
dimana, dan bagaimana perubahan-perubahan akan dibuat.
Evaluasi tidak hanya terbatas dalam menggambarkan pengertian untuk
menggambarkan status seseorang dibandingkan dengan anggota kelompok
lainnya. Tetapi yang lebih penting, evaluasi dilaksanakan dalam rangka
menggambarkan kemajuan yang dicapai oleh seseorang. Karena itu evaluasi harus
dipahami sebagai bagian yang integral dari penyelenggaraan sebuah program,
yang selalu berawal dari pemahaman terhadap siswa.

1.4.1 Tujuan Evaluasi


Evaluasi bertujuan untuk:
a. Pengelompokkan
Salah satu tujuan evaluasi adalah untuk pengelompokan. Pengelompokkan
ini dapat berdasarkan tingkat ketrampilan, umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan,
dan minat. Sebagai upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran, guru dapat
menempatkan siswanya ke dalam kelompok-kelompok tertentu, sesuai dengan
tingkat kemampuannya. Siswa dengan kemampuan yang tinggi tidak harus
dipaksa bertahan dengan teman sekelompoknya yang berkemampuan kurang,
demikian juga sebaliknya. Dengan dilakukannya pengukuran dan evaluasi siswa
dapat dikelompokkan pada kelompok yang tepat.
Jika siswa ditempatkan dalam kelompok yang setara tingkat
ketrampilannya, guru dapat menyusun program pelajaran secara individual.
Keuntungan lain yang diperoleh dari pengelompokkan ini adalah siswa dapat

18
berani, lebih lancar, lebih aktif ketika berlatih, karena mereka bersaing dengan
siswa lain yang berkemampuan setara. Dengan kata lain, tujuan penempatan siswa
ke dalam kelompok yang setara adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran.
b. Penilaian
Tujuan utama dari penilaian ini adalah memberikan informasi tentang
kemajuan yang dicapai dari proses pembelajaran yang dikerjakan dan posisi siswa
di dalam kelompoknya. Dengan mempertimbangkan seluruh faktor, penilaian
harus dilakukan secara objektif sehingga dapat mencerminkan kemajuan yang
diperoleh, dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
c. Motivasi
Motivasi merupakan kekuatan yang memandu seseorang untuk mencapai
hasil yang tertinggi. Apabila dilaksanakan secara tepat, evaluasi dapat merupakan
proses memotivasi yang positif. Demikian pula sebaliknya, bila dilakukan secara
sembarangan evaluasi dapat mengurangi motivasi. Motivasi yang terbesar adalah
keberhasilan. Agar siswa tetap memiliki motivasi, mereka harus mengetahui
bahwa dirinya berkembang kemampuannya. Tes-tes ketrampilan memungkinkan
siswa untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri sebagai cara untuk mengukur
kemajuannya.
d. Penelitian.
Penelitian adalah penyelidikan yang dilakukan secara sistematis untuk
meningkatkan ilmu pengetahuan. Mutu data yang dikumpulkan bergantung pada
antara lain: ketelitian dan ketepatan alat ukur, teknik pengukuran, dan kelayakan
tes.
Penentuan ini dapat digunakan untuk menentukan tingkat, membebaskan
peserta dari suatu kesatuan pelajaran, menaikkan peserta dari suatu tingkat ke
tingkat yang lebih tinggi, memberikan umpan balik untuk memperbaiki unjuk
kerja, menempatkan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok tertentu atau
menentukan suatu bentuk latihan yang khusus. Pada pokoknya, penentuan status
mencakup semua tujuan-tujuan lain pengukuran dan evaluasi.

19
1.4.2 Tipe-tipe Evaluasi
Adapun tipe-tipe evaluasi yaitu sebagai berikut:
a) Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif
 Evaluasi formatif bertujuan untuk menyempurnakan program dan
memantau kemajuan siswa. Evaluasi ini dilakukan di sela-sela program
yang sedang berlangsung, dengan tujuan agar hasilnya dapat digunakan
untuk menyempurnakan program. Pelaksanaan tes secara periodik dan
dilakukan beberapa kali, seperti tes mingguan, bulanan.
 Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan pada akhir suatu
program, misalnya akhir catur wulan, akhir semester. Nilai yang diperoleh
pada evaluasi sumatif biasanya dilaporkan dalam bentuk rapor, sementara
hasilnya dinyatakan dalam bentuk nilai tertentu atau dalam bentuk laporan
secara deskriptif.
b) Evaluasi produk dan Evaluasi Proses
Berdasarkan atas tujuan-tujuan khusus program, dapat menekankan
perhatian pada produk yang dihasilkan dari unjuk kerja fisik, proses yang
menghasilkan produk, atau keduanya. Misalnya, dalam evaluasi produk,
menentukan urutan hasil akhir dalam perlombaan lari 10 Km hanya
memerlukan catatan waktu seorang pelari yang diperlukan untuk menempuh
jarak perlombaan. Hal ini disebut evaluasi produk.
Apabila nita menaruh minat untuk memperbaiki gaya lari para pelari,
maka kita perlu menganalisa proses terjadinya gerak lari, termasuk aspek-
aspek seperti penempatan kaki pelari, ayunan lengan, panjang langkah,
kecondongan tubuh dan sebagainya. Hal ini merupakan evaluasi proses.
Untuk sebagian besar aktivitas, harus memperhatikan keduanya baik evaluasi
produk maupun proses. Beberapa aktivitas misalnya senam, lebih banyak
memberi kemungkinan untuk evaluasi proses daripada evaluasi produk.
c) Evaluasi Acuan Patokan dan Acuan Norma
Guru, merasa perlu untuk menafsirkan arti informasi atau data yang
hasil pengetesan. Misalnya pada sebuah kelas yang terdiri atas 40 orang
siswa. Siswa A memperoleh nilai 25 dalam tes kesegaran jasmani untuk butir
tes push-up. Apabila yang diterapkan evaluasi acuan norma, maka yang

20
digunakan sebagai kriteria adalah norma kelompok. Misalnya kemampuan
rata-rata 40 siswa dalam push-up adalah 20 kali, maka berdasarkan rata-rata
tersebut kemampuan siswa A dapat ditafsirkan. Ini berarti, jika dibandingkan
dengan teman-teman sekelasnya kemampuan siswa A berada di atas rata-rata

2. Hubungan antara tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi


Berdasarkan beberapa pengertian dari pengukuran, penilaian, dan evaluasi
di atas, dapat diketahui bahwa antara ketiga istilah tersebut memiliki hubungan
satu sama lainnya yaitu berupa suatu hierarki. Penilaian mencakup pengukuran,
sedangkan evaluasi mencakup pengukuran dan penilaian.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering terjebak dalam memahami istilah
antara penilaian dan evaluasi. Penilaian dan evaluasi memiliki persamaan dan
perbedaan.

2.1 Persamaan dan perbedaan penilaian dan evaluasi


Persamaan penilain dan evaluasi adalah kedua istilah tersebut sama-sama
memiliki pengertian menilai atau menentukan nilai sesuatu yang bersifat
kualitatif. Sedangkan, perbedaan kedua istilah tersebut tergantung pada otoritas
atau kamus yang digunakan acuan, assessment/penilaian dan evaluasi mungkin
diperlakukan sebagai sinonim atau bisa sebagai konsep yang jelas perbedaannya.
Perbedaan penilaian dan evaluasi menurut Rustaman (2003)
mengungkapkan bahwa penilaian lebih ditekankan pada penilaian proses.
Sementara itu pada evaluasi lebih ditekankan pada hasil belajar. Apabila dilihat
dari sisi keberpihakannya, penilaian lebih berpihak kepada kepentingan siswa.
Siswa dalam hal ini menggunakan penilaian untuk merefleksikan kekuatan,
kelemahan dan perbaikan belajar. Sementara itu evaluasi lebih berpihak kepada
kepentingan evaluator.
Sedangkan menurut Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa terdapat
perbedaan antara evaluasi dengan penilaian. Evaluasi merupakan penilaian
program pendidikan secara menyeluruh. Evaluasi pendidikan lebih bersifat makro,
meluas, dan menyeluruh. Sementara itu penilaian merupakan penilaian dalam

21
scope yang lebih sempit (mikro) bila dibandingkan dengan evaluasi. Penilaian
hanya menyangkut kompetensi siswa dan perbaikan program pembelajaran.
Dalam hal mengapa dan bagaimana pengukuran dilakukan, tabel berikut
(Apple & Krumsieg, 1998) membandingkan dan membedakan penilaian dan
evaluasi pada beberapa dimensi penting, yaitu sebagai berikut.

Secara umum, penilaian dan evaluasi lebih bersifat kualitatif.

2.2 Perbedaan tes, pengukuran dan evaluasi


Tes, pengukuran, dan evaluasi dalam pendidikan berperan dalam seleksi,
penempatan, diagnosa, remedial, umpan balik, memotivasi dan membimbing.
Baik tes maupun pengukuran keduanya terkait dan menjadi bagian istilah
evaluasi. Meski begitu, terdapat perbedaan makna antara mengukur dan
mengevaluasi. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran
tertentu. Dengan demikian pengukuran bersifat kuantitatif. Sementara itu evaluasi
adalah pengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk.
Dengan demikian pengambilan keputusan tersebut lebih bersifat kualitatif
(Arikunto, 2015; Zainul & Nasution, 2001).
Setiap butir pertanyaan atau tugas dalam tes harus selalu direncanakan dan
mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar (Jacobs & Chase, 1992).

22
Sementara itu tugas ataupun pertanyaan dalam kegiatan pengukuran tidak selalu
memiliki jawaban atau cara pengerjaan yang benar atau salah karena pengukuran
dapat dilakukan melalui alat ukur non-tes.

2.3 Hubungan tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi


Menurut Zainul & Nasution (2001) Hubungan antara tes, pengukuran, dan
evaluasi adalah sebagai berikut. Evaluasi belajar baru dapat dilakukan dengan
baik dan benar apabila menggunakan informasi yang diperoleh melalui
pengukuran yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya. Akan tetapi tentu saja
tes hanya merupakan salah satu alat ukur yang dapat digunakan karena informasi
tentang hasil belajar tersebut dapat pula diperoleh tidak melalui tes, misalnya
menggunakan alat ukur non-tes seperti observasi, wawancara, dan lain-lain.
Zainul dan Nasution (2001) menyatakan bahwa guru mengukur berbagai
kemampuan siswa. Apabila guru melangkah lebih jauh dalam meng-
interpretasikan skor sebagai hasil pengukuran tersebut dengan menggunakan
standar tertentu untuk menentukan nilai atas dasar pertimbangan tertentu, maka
kegiatan guru tersebut telah melangkah lebih jauh menjadi evaluasi.
Gabel (1993) mengungkapkan bahwa evaluasi merupakan proses
pemberian penilaian terhadap data atau hasil yang diperoleh melalui penilaian.
Hubungan antara penilaian, evaluasi, pengukuran, dan tes dalam hal ini
dikemukakan pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram hubungan antara (1) tes, (2) pengukuran, (3) penilain,
(4) evaluasi

23
Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa penilaian merupakan bagian
dari evaluasi. Apabila kita membicarakan tentang evaluasi, maka penilaian sudah
termasuk di dalamnya. Untuk lebih memperjelas hubungan antara tes,
pengukuran, dan evaluasi, pada Tabel di bawah ini. Diberikan contoh tes, non-tes,
pengukuran, dan evaluasi dalam praktek pembelajaran sehari-hari.
Tabel 2. Contoh Hubungan antara
tes, non-tes, pengukuran, dan evaluasi
Tes Pengukuran Evaluasi
Soal: Seperangkat Soal/ Bu Yoan menghitung berapa Bu Yoan menilai bahwa
tugas untuk mengamati jumlah kesalahan Fani dalam kemampuan Fani dalam
obyek menggunakan menggunakan mikroskop (ia menggunakan mikroskop
mikroskop dengan menghitung terjadi 3 masih kurang
prosedur yang benar kesalahan dari 5 tugas)
Soal: 25 soal pilihan ganda Pak Rama menghitung Pak Rama memutuskan
tentang gentika bahwa Adit hanya dapat bahwa Adit perlu
menjawab 5 soal dari 25 soal mendapatkan remedial
tes biologi
Non – tes Pengukuran Evaluasi
Pak Danu menyaksikan Pak Danu memutuskan
Ajeng membuang sampah di untuk menegur dan
Soal/Tugas: Tidak ada (-) wastafel lab sebanyak empat mengajari Ajeng tentang
kali cara membuang limbah
praktikum
Soal/Tugas : Siswa ditugasi Bu Rita membandingkan Bu Rita menilai bahwa
oleh Bu Rita untuk laporan praktikum yang kemampuan Hafis sangat
menyusun laporan pasca dibuat Hafis dengan standar baik dalam menyusun
kegiatan praktikum fisika kriteria dan menghitung total laporan praktikum yang
skor yang diperoleh. ideal
Diperoleh skor maksimal 85

24
D. PENUTUP
1. Simpulan
Adapun simpulan yang dapat diberikan penulis dari penulisan artikel ini
yaitu sebagai berikut.
Pengertian tes merupakan sebagai alat atau metode yang berisi
serangkaian butir pertanyaan dan/atau pernyataan untuk mengungkap karakteristik
atau kemampuan seseorang. Tes dibedakan menjadi 2 yaitu dari jenis tes dan
bentuk tes. Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
(1)Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik, (2)Sebagai alat pengukur
keberhasilan program pengajaran.
Pengertian Pengukuran pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu
dengan atau atas dasar ukuran tertentu. Pengukuran dari segi caranya dibedakan
menjadi dua macam, yaitu pengukuran langsung dan pengukuran tidak langsung.
Dari segi tujuannya, pengukuran dibedakan menjadi dua macam (Sukiman, 2012)
yaitu: (a) pengukuran bukan untuk menguji, (b) Pengukuran untuk menguii.
Pengertian penilaian merupakan serangkaian kegiatan atau proses
pengumpulan data/informasi tentang kinerja seseorang untuk kepentingan
pembuatan keputusan jika perlu. Adapun tujuan dilakukannya penilaian adalah (1)
Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa, (2) mengetahui keberhasilan
proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, (3) menentukan tindak lanjut hasil
penilaian, (4) memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak
sekolah. Fungsi penilaian menurut Suharsimi Arikunto yaitu : (1) Penilaian
berfungsi selektif, (2) Penilaian berfungsi diagnostic, (3) penilaian berfungsi
sebagai penempatan, (4) penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan. Ada
lima ciri penilaian dalam pendidikan, yaitu (1) penilaian dilakukan secara tidak
langsung, (2) penilaian pendidikan yaitu penggunaan ukuran kuantitatif (3)
penilaian pendidikan, yaitu bahwa penilaian pendidikan menggunakan unit-unit
untuk satuan-satuan yang tetap, (4) penilaian pendidikan adalah bersifat relative,
(5) penilaian pendidikan adalah bahwa dalam penilaian pendidikan itu sering
terjadi kesalahan-kesalahan. Manfaat penilaian pembelajaran bermanfaat untuk:
(1)Memberi penjelasan secara lengkap tentang target pembelajaran yang dapat
dijelaskan, (2) memilih teknik penilaian untuk kebutuhan masing-masing siswa

25
(3) memilih teknik penilaian untuk setiap target pembelajaran, pemilihan teknik
penilaian harus didasarkan pada kebutuhan praktis di lapangan dan efisiensi.
Pengertian evaluasi merupakan pengumpulan informasi yang dilakukan
oleh seseorang (evaluator) untuk menentukan alternatif yang tepat dalam
mengambil keputusan. Evaluasi bertujuan untuk : (a) Pengelompokkan, (b)
penilaian, (c) motivasi, (d) penelitian. Adapun tipe-tipe evaluasi yaitu sebagai
berikut: (1) Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif, (2) evaluasi produk dan
Evaluasi Proses, (3) evaluasi Acuan Patokan dan Acuan Norma.
Berdasarkan beberapa pengertian dari pengukuran, penilaian, dan evaluasi
di atas, dapat diketahui bahwa antara ketiga istilah tersebut memiliki hubungan
satu sama lainnya yaitu berupa suatu hierarki. Penilaian mencakup pengukuran,
sedangkan evaluasi mencakup pengukuran dan penilaian.

2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan makalah ini yaitu
dengan mengetahui apa itu pengertian dari tes, pengukuran, penilain dan evaluasi
diharapkan bisa membantu memberikan pengetahuan kepada calon calon guru
agar bisa memahami apa itu pengertian dari tes, pengukuran, penilaian dan
evaluasi agar dalam kehidupan sehari-hari tidak ada kerancauan atau tumpang
tindih (overlap) lagi dari istilah-istilah tersebut.

26
E. DAFTAR PUSTAKA

Apple, D.K, & Krumsieg K. 1998. Process education teaching institute handbook.
Corvalis, OR: Pacific Crest Software.
Ardana, I Made. 2019. Test, Assessment, Evaluation and Measurementin
Education (powerpoint slide). Diakses dari : Perkuliahan Umum Undiksha.
Arifin, Zainal. 2013. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik dan Prosedur.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Arikunto. Suharsimi. 2015. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2 . Jakarta:
Bumi Aksara.
Ashcroft, Kate & David Palacio. 1996. Researching into assessment and
evaluating in colleges and universities. London: Kogan Pagge Limited.
Asrul, dkk. 2015. Evaluasi Pembelajaran. Bandung:Citapustaka Media.
Craig L. Scanlan. 2012. Assessment, Evaluation, Testing and Grading. Tersedia:
https://www.scribd.com/document/89761181/Assessment-Evaluation-
Testing-and-Grading (diakses pada 1 Maret 2019).
Djaali & Pudji Muljono. 2008. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta:
PT. Grasindo.
Ebel, R. L. 1979. Essential of educational measurement. New Jerseey: Prentice-
Hall, Inc.
Gabel, D.L. 1993. Handbook of Research on Science Teaching and Learning.
New York: Maccmillan Company
Griffin, Patrix., & Nix, Peter. 1991. Educational assesment and reporting.
Sydney: Harcout Brace javanovich, Publisher.
Jacobs & Chase. 1992. Developing and Using test Effectively. San Fransisco:
Jossey-Bass Publishers
Johnson, David W. & Johnson, Roger T. 2002. Meaningful assessment: a
manageable and cooperative process. Boston: Allyn and Bacon.
Lazear, David. 1991. Seven Ways of Teaching, The Artistry of Teaching with
Multiple Intelligences. Australia: Hawker Brownlow Edcation.
Mardapi, D. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta:
Mitra Cendikia.
Phillips, Allen D. 1979. Measurement and Evaluation in physical Education.
Canada: John Whiley & Sons, Inc.
Poerwanti, E. 2001. Evaluasi pembelajaran. Modul Akta mengajar. UMM Press.
Rustaman,N. (2003). Penilaian Pendidikan IPA. Makalah penataran guru-guru
NTT di Jurusan pendidikan Biologi
Sudijono, A. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Sukiman. 2012. Pengembangan Sistem Evaluasi. Yogyakarta: Insan Madani.
Uno, Hamzah dan Satria. 2010. Assessment Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi
Askara.
Yulaelawati, E. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Pakar Raya Jakarta.
Zainul & Nasution. 2001. Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti.